Disclaimer : I don't own Bleach….. Bleach belong to Tite Kubo-Sensei, Om Bleach untukku aja ya…! ^_^
My Marriage ?
Chapter 7 : Hurt
Aku baru terbangun dari mimpi buruk, matahari sudah terlalu tinggi menggantung di langit, dan kepalaku berat bukan main. Aku tidak menyangka akan bermimpi seburuk itu, ciuman yang tidak seharusnya dengan Ichigo di depan Kakak Byakuya, dan untung hanya mimpi, coba kenyataan, aku pasti sudah pingsan berulang kali.
"Sudah bangun Rukia?" aku menoleh kearah datangnya suara, Ichigo duduk disisi tempat tidurku.
"Aku baru bermimpi tentangmu Ichigo," sahutku sambil menyeringai menertawakan mimpiku. Tapi bibirku perih saat tertarik kesamping, aku merabanya, ternyata bagian bawah bibirku lecet.
Lecet? Kenapa?
"Mimpi tentang apa?" Ichigo berbisik dan aku mendapati bibirnya juga lecet.
"Ki... kita ciuman…"
"Itu bukan mimpi!" Ichigo mendorong kepalaku kesamping, menunjukkan betapa bodohnya aku. Oh Tuhan, tidak! Jadi bukan mimpi, aku dan Ichigo.
"Dasar Kepala Aneh, Bodoh! Apa yang kau lakukan padaku semalam?" aku berteriak hingga suaraku menggema keseisi rumah, segera saja kuraih kerah kaosnya dan mengguncangnya hebat.
"Ukh…, Rukia.. a-aku tidak bisa napas," aku tidak memperdulikannya dan terus mengguncangnya kesal.
"Siapa yang mengizinkanmu menyentuhku hah? Beraninya kau menciumku didepan banyak orang, apalagi didepan Kakak Byakuya, kau mau menggali kuburanmu sendiri Kepala Aneh!"
Wajah Ichigo makin merah berusaha mencari oksigen agar masuk ke paru-parunya, tapi tetap saja wajahnya ceria, dia sudah tidak waras.
"Tenang dulu Rukia, aku jelaskan," Ichigo meraih tanganku dan menariknya turun dengan susah payah.
Dia batuk berkali-kali, mengatur napasnya agar kembali normal, membuatku yang sudah marah semakin marah karena dia sengaja mengulur waktu.
"Jadi begini, Byakuya minta maaf karena memberikanmu cocktail yang ternyata dicampur vodka, kau collapse dan aku yang jadi korban disini karena kau jatuh menimpaku, tapi kau malah marah-marah kepadaku,"
Aku mencoba mengingat kembali urutan kejadian semalam dalam benakku, memang Kakak memberikan minuman kepadaku, lalu aku jatuh menimpa Ichigo, tapi saat aku hendak bangun Ichigo malah…
"Tapi kau yang menarikku lagi dan menciumku kan?" aku kembali merenggut kerah kaosnya.
"Yang itu bonus," jawabnya cengengesan.
"Ichigo!" aku mengangkat tangan dan hendak menjitak kepalanya, tapi dia menyatukan telapak tangannya, memohon ampun.
"Tidak akan ku maafkan!" aku meraih bantal disisiku, langsung saja aku memukuli Ichigo tanpa ampun, ku lampiaskan seluruh kemarahanku, Ichigo menghindar sekenanya, akhirnya kami bukan bertengkar malah tertawa bersama karena kami saling serang menggunakan bantal, benar-benar seperti anak kecil.
Waktu berlalu terlalu cepat, sudah lewat satu bulan sejak kejadian itu, dan selama itu pula aku hanya memiliki waktu tatap muka yang singkat dengan Ichigo. Karena terkadang hari liburpun kami harus mengurus pekerjaan kami, hatiku kosong…. Walaupun Ichigo masih sangat perhatian…
Setiap kali aku bangun tidur, pasti sarapan sudah tersedia di counter pantry seperti biasanya, setiap malam dia akan mengirim pesan bahwa ia pulang malam, dan tidak perlu di tungg aku hanya akan menjawab dengan satu kata singkat "Ya". Lukaku sudah sembuh, lebih cepat sembuh karena aku memaksa diriku agar mengganti perban sendiri, dan setiap kali mengganti perban rasanya masih terasa jelas lembutnya tangan Ichigo saat membelai rambutku waktu itu.
Tapi sesungguhnya dalam hatiku, aku tidak ingin seperti ini, kemana Ichigo yang biasanya selalu ada disisiku ?
"Rukia, kau bengong." Desis Ulquiorra sambil mengetukkan pulpennya dimeja.
"Ah.. iya." aku tersadar, menegakkan tubuh dan melihat screen laptop yang kosong, apa yang sedang aku kerjakan sebenarnya ?
"Kau masih mengingat kejadian di pesta itu?" Ulquiorra mendorong kepalaku pelan.
"Jangan dorong-dorong!" aku memprotesnya yang sudah sembarangan mendorong kepalaku, tapi mengingat kejadian itu, berapa kalipun tetap membuatku malu sendiri.
"Kau salah membuat laporan, makanya jangan banyak bengong."
"Aku tau!" tanpa ku sadari nada suaraku jauh lebih tinggi dari yang aku harapkan. Mataku tertuju pada layar laptop, memperhatikan tumpukan kertas di meja, dan langsung sadar apa yang hendak aku kerjakan, aku mulai mengetik, angka 50 juta aku ketik 80 juta kesalahan fatal yang dapat menyebabkan kami rugi sebesar 30 juta.
"Kau berkelakuan aneh belakangan ini."
Aku tidak menanggapinya.
"Ajak Ichigo bertemu jika kau memang sebegitu rindu padanya."
"Jangan asal bicara,lama-lama kau seperti paranormal, sok tau menebak isi hati orang!" protesku
"Terserah, aku hanya memberi saran." ucapnya sambil menatap layar laptopnya dengan malas, dia bertopang dagu, khas seorang Ulquiorra Schiffer dalam menghadapi pekerjaannya.
Orang ini makin menyebalkan, ditambah lagi aku lebih banyak menghabiskan waktuku bersamanya dari pada bersama Ichigo.
Beruntungnya aku, karena hari ini pekerjaan lebih cepat selesai dan saat aku selesai dengan si Gunung Es waktu menunjukkan sudah hampir jam 7, dan dia langsung pamit pergi, dia bilang ada urusan ditempat lain. Terserah, apa perduliku dengan urusannya.
Tapi… pulang lebih cepat, apa yang mau aku lakukan dirumah ? aku tidak mungkin nonton tv hingga waktu tidur…, seketika aku teringat Ichigo.
"Ajak Ichigo bertemu jika kau memang sebegitu rindu padanya "
Ucapan Ulquiorra terngiang ditelingaku. Apakah tidak apa-apa aku meneleponnya dan mengajaknya … makan malam mungkin, lalu kenapa aku jadi malu sendiri berpikiran untuk mengajak Ichigo bertemu, dia kan suamiku, biar aja…. Lagi pula aku juga perlu menjenguk keadaan dia selama dikantor.
Aku meneleponnya, dua kali nada tunggu dan dia baru menjawabnya.
"Hai Rukia!" suaranya sangat ceria.
"Ichigo, kau sudah makan malam?" ucapku langsung pada tujuan.
"Umm… belum."
"Aku juga belum" jawabku kaku, aduh Rukia… langsung saja.
"Kalau begitu kita makan malam bersama ? Aku akan menjemputmu, kau dimana ?"
"Aku sudah selesai dengan Gunung Es, kau tidak usah menjemputku, aku ke kantormu saja." ucapku ragu.
Hening sejenak, mungkin dia heran dengan sikapku yang seperti ini.
"Baiklah, aku akan siap-siap, aku dan Inoue masih membahas masalah pekerjaan, tapi aku akan meminta dia pulang lebih cepat hari ini."
"Oh..." mulutku membulat lambat, jadi sekarang dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama Inoue…
"Aku tunggu ya," jawabnya, dan aku mengakhiri sambungan telepon.
Dadaku berdegub kencang saat mengingat apa yang telah aku lakukan, aku bukan diriku, mengajak Ichigo makan malam… Tapi aku senang, aku akan bertemu dengan Ichigo
Sesampainya di kantor Ichigo, ternyata sudah sama sepinya dengan kantorku, dan dari parkiran terlihat jelas hanya lampu di lantai lima yang menyala, tempat ruangan Ichigo berada.
Aku memasuki lift, satu demi satu lantai terlewati, membuat jantungku berdegub makin tidak enak. Pintu lift terbuka di lantai lima, aku keluar dan berbelok kearah koridor yang sepi, ruangan Ichigo ada di ujung setelah belokan kedua.
Langkahku terasa lebih ringan, ini harusnya menjadi makan malam pertama kami, kami tidak pernah makan malam bersama seperti ini, aku berbelok ke koridor menuju ruangan Ichigo, namun kakiku reflek berhenti dan menarik diri bersembunyi dibalik dinding.
Hatiku berdetak tak menentu, kenapa…?
Aku mencuri pandang dari tempatku berada sekarang, dan melihat Ichigo sedang berdiri didepan ruangannya sementara Inoue berdiri dihadapannya dengan jarak yang luar biasa dekat, dekat karena tangan Inoue tengah mengalung di leher Ichigo, dan… bibir mereka bersentuhan.
Selama beberapa saat aku melihat kejadian itu, meyakinkan diri bahwa mataku tidak sedang keliru mengenali mereka, yang satu berambut orange dan yang satu berambut cokelat, itu memang mereka.
Aku kembali memalingkan wajah, menolak melihat mereka, karena tiba-tiba hatiku berdenyut sakit, menjalar hingga keseluruh tubuhku, membuat kakiku gemetar…. Kenapa mereka berciuman ?
Perih…, rasanya jauh lebih perih dari luka apapun yang pernah aku rasakan sebelumnya. Ichigo menyentuh pinggul Inoue dengan tangannya,sementara Inoue mengalungkan lengannya penuh kepasrahan padanya... I-ICHIGO BODOH!
Aku bergegas menuju lift, turun menuju parkiran setengah berlari. Jantungku makin berdetak tak karuan.
"Rukia,"
Kenapa disaat seperti ini harus bertemu dengan Ulquiorra, sungguh aku ingin mengamuk, jangan menambah kegamangan dalam hatiku.
Langkahku terhenti dan menatap aspal yang ku jejak. Gemuruh dihatiku makin menyesakkan hati, jangan menangis Rukia... jangan…
"Aku berencana bertemu dengan Mr. Kurosaki untuk membica-"
Ucapan Ulquiorra tehenti, salah satu tangannya meraih bahuku, dan tangannya yang bebas meraih daguku, mendongakkan wajahku.
"Ku kira Ichigo sedang tidak ingin kau ganggu sekarang," jawabku dengan suara dingin.
Aku mengatupkan kedua tanganku, menekan jariku dengan terlalu kuat hingga tanganku gemetaran.
"Apa yang sudah kau lihat?"
Seketika aku tersentak, bagaimana dia bisa tau aku telah melihat sesuatu?
Mengingat bagaimana Ichigo dan Inoue disana… bersentuhan sangat intens…seketika tangisku pecah, hilang sudah pertahanan dalam diriku.
Kenapa…. Hanya itu yang mampu aku katakan pada diriku…
Bukankah kau bilang kau mencintaiku Ichigo, lalu kenapa kau menyentuh wanita lain ?
Rasa terbakar dan sakit dalam hatiku tak tertahankan, kenapa aku bisa semarah ini ? dan kenapa aku malah lari, jika aku tidak terima dengan apa yang dilakukan Ichigo dan Inoue seharusnya aku marah-marah dan memaki mereka, tapi kenapa aku malah menangis seperti ini….
Aku salah…., seharusnya dari awal aku tidak usah berharap seperti ini…., Ichigo tidak berada di dekatku selama satu bulan, dan selama itu dia bersama Inoue, bukankah memang wajar jika mereka jadi dekat, tapi… Ichigo… Ichigo…
"Kenapa menangis ?" dia bertanya dengan nada datarnya, aku tidak menjawabnya hanya mengeratkan genggaman tanganku.
"Mereka berciuman, dan itu membuatku muak. Kenapa aku merasa marah seperti ini, kenapa?" kataku marah, tapi air mataku tidak juga mau berhenti karena apa yang aku rasakan saat ini jauh lebih membuatku hilang akal, sesak hingga sulit bernapas.
"Ulquiorra." aku menyebut namanya "Jawab aku." aku mendongakkan wajahku dan menatap mata emeraldnya, dia menunggu lanjutan kalimatku.
"Kau sebut apa rasa sakit dalam hatiku saat ini?" kataku tanpa intonasi dan penekanan dalam suaraku.
"Cemburu karena cinta." jawabnya langsung.
Aku tersentak, seluruh tubuhku seperti baru terbangun, mataku terbelalak, menghentikan detak jantungku selama beberapa saat, membuat air mataku tidak menetes lagi, dan seketika aku sangat marah pada diriku sendiri, memaki diriku sendiri….
Bukankah kau pernah bersumpah Rukia, tidak akan pernah mencintai…., kau langgar sumpah mu, dan inilah yang kau dapatkan... Sakit.. Bodoh…. Bodoh… kau sangat BODOH Rukia…..
Aku berlari menuju mobilku, aku harus menghilangkan rasa sakit ini secepatnya atau aku akan terjatuh dalam lubang hitam dalam diriku.
Aku mendorong tuas disisiku, dan menggas mobilku secepat aku mampu, meninggalkan Ulquiorra yang berdiri kaku di parkiran.
Air mataku tidak juga mau berhenti…, kesedihan dan rasa kehilangan itu kembali memenuhi hatiku…, aku tidak ingin merasakannya untuk yang kedua kalinya… tidak ingin…..
Aku terus menggas mobilku, memacu mobil dikecepatan 150km/jam, tidak sekalipun menginjak rem saat berbelok, membiarkan siapapun meneriakiku yang sudah mengancam nyawa mereka karena mobilku yang hampir menyenggol mereka, tidak perduli dengan klakson kendaraan lain yang aku dahului.
Aku sampai di rumah, parkir sembarangan, langsung menuju pantry, meneguk air sebanyak perutku mampu menahan, berusaha keras menenangkan diri.
Tapi walau bagaimanapun tanganku gemetaran membuat botol hampir melesat jatuh karena tanganku yang licin.
"Cemburu karena cinta."
Ucapan Ulquiorra terulang dalam benakku.
Ichigo, dan Inoue… bayangan mereka yang sedang berciuman membuatku mual.
Aku menyalakan televisi, membiarkan tas dan kunci mobilku tertinggal di counter pantry, aku harus mengalihkan perhatianku, mengalihkan rasa sakit ini, jika tidak aku akan digrogoti hingga tidak mampu bertahan… aku tidak ingin terpuruk untuk kedua kalinya, kumohon… kuatkanlah hatiku…
Mataku tertuju pada layar televisi yang menayangkan acara komedi situasi, tentang cinta dua dunia yang tidak mungkin tercapai, aku meringis melihatnya, tayangan yang sangat tepat disaat aku sedang merasa kesedihan seperti ini.
Seketika aku tertawa pedih menertawakan diriku sendiri. Betapa menyedihkannya diriku. Bukankah aku sudah cukup memiliki banyak luka, tidak perlu menambahnya lagi dengan rasa sakit ini. Kebahagiaan yang hanya dapat aku bayangkan, kebahagiaan yang seolah menggantung dipelupuk mataku membias hilang berganti dengan kesedihan yang luar biasa menyesakkan.
Ichigo…, katakan bahwa ini hanya mimpi. Rasa sakit yang mendera ini bukanlah karena aku mencintaimu, bukan karena kecewa menyadari bahwa aku jatuh cinta dan patah hati disaat yang sama. Bukan karena melihat betapa mudahnya perasaanmu padaku menguap seiring waktu.
Tanganku mengepal kelewat erat hingga jemariku memutih.
Aku tidak akan jatuh cinta, karena aku yang seperti ini memang tidak pernah dan tidak boleh bermimpi kebahagiaan yang tidak mungkin. Rukia yang hanya seorang rendah dari jalan, tidak ada cinta untukku, tidak ada. Aku sudah meyakinkan diriku karena aku takut untuk terluka telah bermimpi terlalu tinggi, lalu kenapa sekarang aku mencintai seseorang.
Aku seharusnya menjadi Rukia yang memiliki tembok setinggi langit untuk membatasi hatiku dari perasaan yang tidak akan membuat aku bahagia.
Aku memeluk diriku erat.
Bersandar pada sofa, membiarkan diriku terus menangis, aku tidak mampu menahan diri lagi, biarkan saja jika air mata ini mau terus mengalir sampai kering.
Cinta bukanlah hal indah yang aku bayangkan dalam hidupku, karena hidupku hanya dipenuhi ketetapan hati untuk tetap berdiri tegak diatas bumi, aku harus berusaha lebih keras dari siapapun, aku harus lebih tegar dari siapapun, karena aku sendirian!
"Tidak akan ada kebahagiaan untuk aku, kau atau kita semua disini Rukia, maka dari itu jangan berharap dan memimpikan hal yang jauh dari jangkauanmu."
Seseorang dari masa laluku kembali berbisik dalam hatiku.
Kebahagiaan dan kesedihan adalah hal yang samar dalam hidupku, karena hati ini sudah terlalu banyak menelan kepahitan pekat dan kebahagiaan semu, aku tidak ingin merasa kehilangan lagi, sungguh menyakitkan.
Semua bercampur dalam benakku, rasa sakit, perih dan terluka. Seketika air mataku berhenti, berganti dengan tatapan kosong melihat layar televisi yang sudah berganti dengan garis – garis berwarna menandakan acara telah usai. Seperti rasa ini, harus cepat aku selesaikan karena Ichigo akhirnya menyadari bahwa Inoue selalu berusaha mengejarnya, dan aku satu-satunya orang yang sakit hati, serta harus mundur teratur dari drama memuakkan ini.
Hatiku kebas dan mati rasa. Selalu seperti ini setiap kali aku menguatkan diri, tidak ada lagi kesedihan, semua mengambang dalam hatiku. Tidak sedih, tidak senang, tapi juga tidak tenang.
"Rukia." Ichigo berdiri didekat sofa, aku tidak menyadarinya masuk rumah.
Aku mendongakkan wajah, melihat matanya langsung, ada pancaran cemas dan lega diwajahnya.
Bagaimana aku harus bersikap padamu sekarang Ichigo?
To Be Continue…
A/N : Mina-san… Gomen, aku sedih juga sebenarnya saat membayangkan apa yang dirasakan Rukia, jangan marah padaku ya karena telah membuat Rukia menangis.
Tapi aku tetap berterima kasih pada para Readers yang selalu mereview fic ini, karena semakin memotivasiku…
Sampai jumpa di chap selanjutnya, aku tetap tunggu lho review, kritik, masukan dan sarannya yang membangun. (Jembatan kali membangun !, digeplak Ichigo!) ^o^
