World Without You
characters ©Masashi Kishimoto
story ©pipoooy12
warning: typo, OOC, and many more
enjoy!
.
.
'I found it much more agreeable to be lost in the company of others.'
- Bull, Miraculous Journey of Edward Tulane
.
.
"Kau harus menangkisnya begini." Sasuke menggenggam kepalan tanganku, lalu berpura pura memelintir sikutku. "Seperti ini. Cobalah."
Ruang latihan khusus para penjaga sepi, hanya ada aku, Sasuke, dan satu orang yang sedang berlatih memanah. Aku mencobanya, ketika kepalan tangan Sasuke mendekat, aku menangkisnya, lalu memelintirnya. Persis seperti yang ia contohkan. Namun ia berhasil mengelak dan membanting tubuhku pelan ke matras.
"Ow." Keluhku.
Aku bangkit, membenahi rambut rambutku yang jatuh dari ikatannya. "Bertarung ternyata sulit sekali.. Selama ini kupikir hanya memukul wajah seseorang dan membuatnya berdarah akan membuat kita menang."
Sasuke hanya tersenyum, sebuah senyum yang aneh. "Apa kau ingin aku membuat wajahmu berdarah?" Mata hitamnya berubah merah.
Denging emergency alarm memekakkan kupingku.
"-Na, Nona!" Seseorang mengguncang guncang tubuhku, aku terbangun dengan dada yang sesak dan nafas keras yang memburu. Jantungku bergemuruh. Peluh membasahi seluruh tubuhku. Baju abu abuku kotor, basah, dan robek dibeberapa bagian.
Sasuke dengan mata merah itu ternyata hanyalah mimpi.
Tong besar ada dimana mana, berjejer, dan bertumpuk. Entah apa isinya. Ruangan ini gelap, cahaya hanya masuk dari sebuah jendela bulat bertralis besi dipojok kanan. Lantai kayu, dinding kayu. Getaran pelan setiap beberapa detik. "Dimana ini?" Suaraku lemah, berapa lama aku berada di tempat ini?
Orang yang tadi membangunkanku menatapku sedih. Ia memiliki keriput di ujung matanya, dan beberapa helai uban. Usianya pasti berada dikisaran 40 tahun. "Kita berada di kapal perang Amerika, nona. Mereka menyekap kita, mereka akan membunuh kita sebentar lagi.." Orang orang disekelilingku mengeluarkan suara seperti menangis, tangisan tertahan. Kuperhatikan sekelilingku ditengah tengah minimnya sumber penerangan.
Kebanyakan dari mereka yang tertangkap berpakaian abu abu tua, atau kuning, atau merah. Para pengajar tua dan seniman jalanan. Tak punya senjata, tak tahu cara berontak, tak tahu cara kabur. Apa lagi dari atas sebuah kapal yang sedang berlayar ditengah tengah samudra. Aku tertawa dalam hatiku, pintar. Pintar sekali.
Tapi aku bukan salah satu dari mereka, aku berbeda. Aku adalah sebuah warna yang terjebak dalam keabu abuan yang semu. Walau kecil dan terlihat lemah, paling tidak aku bisa menembakan peluru. Aku mencoba bangkit. Rasa nyeri yang teramat sangat langsung saja menyerang pahaku.
Terkejut, aku berteriak. Peluru. Ada peluru bersarang dipahaku.
Aku teringat pada Kyuubi. Aku teringat pada penyerangan itu. Suara desingan peluru itu, masih segar dikupingku.
"What's wrong?!" Pintu terbuka, aku berjuang setengah mati untuk membuka mataku ditengah tengah serbuan cahaya yang membutakan dari arah sana. Kulihat bayangan 2 orang tentara bertubuh tinggi, masing masing membawa senjata laras panjang. Seorang lain tiba tiba muncul dari belakang dan masuk, berjalan lurus menuju ke tempatku. Langkah 3 orang. Aku menutup rapat mataku, tak sanggup melihat apapun. Kurasakan sebuah tangan menekan pahaku yang terluka.
Aku menjerit.
Tanganku meraih tangan tersebut spontan, menepisnya, memaksa tubuhku menjauh darinya.
"Hei. Hei. Tenanglah." Ia menahan pergelangan tanganku keras. Ia berbahasa jepang. Ia berbahasa jepang.
"What's wrong with her? Is her injured leg get worsen?" Seorang tentara amerika dibelakangnya berbisik. Aku mengerti, aku mengerti apa yang mereka katakan. Aku menghabiskan banyak waktuku untuk membaca kamus bahasa. Pria yang menahan tanganku mengangguk, ia menjawab, "Yes. She is. I think we should take her to the infirmary and take out the bullets." Mata coklat mudanya menatapku serius, lalu beralih ke lukaku. Beberapa helai rambut ikal merah bata jatuh dari tatanan rambut kelimisnya.
Aku dapat merasakan tubuhku melayang, menjauh dari lantai kayu. Jantungku ingin meledak rasanya. Diantara semua cara yang ada untuk membawa seorang tawanan, mengapa ia memilih untuk menggendongku?
Bahkan aku dapat mencium wangi kayu cendana bercampur sinar matahari menguar dari tubuhnya.
"Siapa namamu, Miss?" Ia bertanya, sedikit berbisik. Jika aku meninju wajahnya sekarang, aku akan kembali menjadi tawanan dan tidak bisa berbuat apa apa karena kakiku terluka. Padahal aku ingin sekali membuat lebam biru di pipi itu. Jika aku menerima bantuannya, maka aku adalah pengkhianat.
Apa yang harus kulakukan?
"A-aku.." Langit biru bersih menyapa pengelihatanku. Angin laut menyentuh kulit wajahku lembut. Aku Hinata, Hyuuga Hinata. "Eleven."
Berontak. Ya, aku harus berontak.
"Eleven?" Ia tertawa kecil, "Your name is too long. What about I call you Elf instead? It's Eleven in germany."
Aku mengangguk. "You.. can call me anything."
Ia sedikit terkejut. Mata coklatnya membulat. "Kau mengerti bahasa kami, huh. Awesome. Tak perlu takut padaku, aku takkan menyakitimu, Elf." Ia tersenyum. "Kau pasti tawanan yang ditangkap dari serangan ke sekolah. Kau sudah memilih pekerjaanmu?"
Apa? Apa dia pikir aku akan memberi tahukan segalanya? Apa dia sudah gila? Dia menyuruhku tenang ketika aku berada diantara mereka yang sudah menyerang kotaku dan menembakku? Kuharap kakiku tidak terluka, jadi aku bisa menendang alat kelaminnya sekuat tenaga lalu kabur dari sini.
"Aku sudah memilihnya." Aku menjawabnya pelan.
"Apa pilihanmu?" Ia menatapku penuh rasa ingin tahu. Mata coklat mudanya sungguh indah, membuai dan menghanyutkan dalam kehangatan. Tapi tidak untukku. Setiap melihatnya, aku teringat akan tidurku yang terganggu oleh emergency alarm, dan aku masih kesal. Kesal, apalagi mengingat kini aku mungkin tak lagi berada di Jepang.
Tapi dia mungkin bisa membantuku jika aku memberi kesan bersahabat padanya, mungkin dia bisa menaikan derajatku, dari tawanan menjadi kepercayaan.
Mungkin.
"Tebaklah jika kau bisa."
Sudah kukatakan padamu bukan? Aku ingin menjadi seorang gadis pemberani. Karena mereka akan selalu jadi cantik bahkan tanpa penggambaran fisik. Menjadi berani, adalah satu satunya jalan pintas untuk sampai ke tujuan ketika semua pilihan dan harapan dalam hidupmu mulai berguguran satu per satu.
Ia tersenyum, "Menarik sekali." Lalu berbelok, menuruni tangga, membuat mataku buta sekali lagi. Kali ini karena terlalu gelap.
Aku akan menjadi gadis pemberani, bukan gadis nekat. Aku akan memperhitungkan setiap langkahku dengan baik sebelum benar benar memijak. Aku akan membuat rencana sebelum berontak.
"Kau bisa berbahasa inggris, dan kau tidak mengalami trauma yang berarti pada musuhmu. Menarik sekali. Apa kau tidak membenciku? Biar bagaimanapun.. Aku telah menyerang kotamu."
Benci?
Aku ingin sekali membunuhnya, ia, dan teman teman Amerikanya itu.
Tapi aku harus memikirkan suatu cara yang elegan. Skenario yang baik akan menghasilkan pertunjukan yang baik.
Teman tentaranya membukakan pintu menuju kesuatu ruangan untuknya, ia masuk dengan tubuhku dalam lengannya. Ketika ia menurunkan aku, wajahnya sangat dekat dengan wajahku. Aku bisa melihat bulu matanya yang lentik. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Tenggorokankanku terasa sangat kering.
Ia menyampaikan beberapa kalimat perintah pada seorang kakek berpakaian dokter, lalu berpaling padaku sekali lagi. Berlutut untuk menyamakan tingginya dengan aku yang duduk dikasur. "Kau bisa memanggilku Sasori. Aku akan melihat kondisimu lagi ketika aku selesai dengan pekerjaanku. Bersantailah." Tangannya mengusap kepalaku ringan. Hampir saja aku menjerit.
"Tu-tunggu dulu." Aku menahan tangannya. Aku tahu aku tidak cantik, dan pakaianku lusuh. Tapi aku tahu pasti masih ada keajaiban didunia ini, sebagai hadiah atas sebuah keberanian.
"Terima kasih, Sasori." Aku memaksakan sebuah senyum dibibirku.
"My pleasure." Jawabnya sambil mencium punggung tanganku.
Ia menutup pintu ruangan tersebut, meninggalkan aku bersama sang dokter. Dokter tua itu hanya tersenyum, ditangannya ada gunting, pinset, dan alkohol.
Kapas dan kassa dimeja sebelahku. Pisau bedah juga.
"So, how is it?" Ia mencoba menekan lukaku lagi, seperti yang dilakukan si rambut bata itu. Aku mengelak. "I-It's painful. Don't to-touch it."
"Oh. You can speak english! How smart! What's your name, then?" Ia mengusapkan kapas beralkohol pada lukaku, aku meringis.
Hinata? Eleven? "Elf. My name is Elf." Jawabku. Itulah nama baruku disini. Aku harus mengingatnya mulai sekarang.
Mulutku tertutup rapat. Dokter itu menyuntik aku dengan obat bius, dan mengeluarkan peluru dari pahaku dengan teliti. Aku menahan semua ringisanku hingga ia selesai.
Harusnya hari ini aku menjalankan ujian terakhirku, harusnya hari ini adalah hari pertama dalam hidupku, dimana aku bisa memilih sendiri pakaian yang akan kupakai dan bekerja mengumpulkan poin untuk menyewa, paling tidak, sebuah apartment. Aku rindu semua ocehan Pink, aku rindu melihat para penjaga berlari menuju ke tebing buatan dan mulai memanjat tanpa sebab. Aku rindu Nine. Sasuke. Tangan hangatnya masih terasa dipunggungku, tatapan onyxnya masih melekat di memoriku.
Aku ingin tidur tanpa diganggu oleh emergency alarm.
Terakhir, setelah selesai menjahit luka tembakku, Dokter memberikanku pakaian dan meninggalkanku sendiri untuk mengganti baju lusuhku dengan itu.
Aku melepas bajuku, menggantinya dengan dress katun yang sang dokter berikan. Perlahan, aku mencoba berdiri. Kakiku seakan hilang entah kemana. Aku tak dapat merasakan apapun.
Kulirik pisau bedah yang berjajar. Hanya satu yang kelihatan habis dipakai. Aku yakin ia takkan sadar kalau salah satu pisaunya hilang.
Tak lama, setelah aku selesai menyelipkan pisau itu dibalik saku rok dari dressku, Dokter masuk bersama Sasori.
Bukannya kakiku yang terasa sakit, tapi malah perutku. Rasanya seperti diaduk dengan sendok kayu besar. Apa yang akan terjadi jika aku muntah diwajahnya?
Ia tersenyum, "Merasa lebih baik?" Tanyanya.
Ia tinggi, dan tegap. Mungkin usianya sama seperti Sasuke, atau bahkan lebih muda. Pakaiannya bukan pakaian tentara, aku baru sadar. Ia memakai semacam kemeja krem, dan celana jeans tua yang sudah muali robek disana sini. Sungguh sangat kasual. Diantara tentara tentara bersenjata, dan orang orang angkatan laut, berpakaian begitu kasual dan selalu dikawal. Siapa dia sebenarnya?
Kapten? Pengamat? Penerjemah? Apa?
Ia pintar, terlihat jelas dimatanya. Hanya saja senyumnya sedikit mengerikan. Masalahnya, ia sering tersenyum.
Aku membalas senyumannya itu, "Jauh lebih baik."
Tentu saja, paling tidak, kini aku punya pisau di sakuku. Aku sudah lebih baik. "Terima kasih atas pertolonganmu, Sas.." Aku memberikan isyarat padanya untuk menyebutkan namanya sekali lagi, karena aku hanya ingat Sasuke.
"Sasori. Sebenarnya aku punya banyak nama lain, tapi kau bisa memanggilku Sasori dan mempelajari nama yang lainnya nanti." Ia mengusap tengkuknya sambil menatap lantai. Lihatlah siapa yang menipu siapa disini.
"Um." Aku mengangguk. "Sasori. Karena semuanya sudah selesai, a-aku akan kembali keruangan tadi dan.."
"Tidak, tidak Elf. Kau takkan kembali keruangan tadi. Kau ikut denganku." Ia memotong kata kataku cepat, meraih tanganku yang bertumpu pada meja untuk tetap berdiri. "Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan bersamamu."
Sekali lagi, ia mencium punggung tanganku. Ingatkan aku untuk mencuci tanganku dengan desinfektan nanti.
"Bicarakan? Pada tawanan seperti aku?" Aku menaikan alisku.
Ia mengangguk, "Aku tahu kau pasti punya keinginan untuk kembali ke tempat asalmu, walaupun kau tak menunjukannya padaku. Karena itulah aku ingin membuat sebuah perjanjian denganmu." Hanya mataku yang salah, atau memang pupil mata coklatnya berubah merah?
Aku punya firasat buruk tentang ini.
Seakan denging emergency alarm itu terdengar lagi dikupingku.
.
.
.
World Without You
.
.
.
Dia gadis yang keras kepala, sungguh.
Berkali kali aku berusaha memancingnya untuk membuka informasi tentang sistem pendidikan Jepang, namun ia selalu berhasil mengelak.
Caranya sungguh sangat pintar.
"Aku tak begitu mengerti bagaimana mereka mengatur semuanya.." Ia menyunggingkan sebuah senyum, "Kau sendiri, mengapa kau terlihat begitu berbeda dibanding awak kapal dan tentara lainnya?"
Bagus, ia malah membalikkan pertanyaan padaku.
Mata lavendernya sangat lembut, tubuhnya juga takidak terlalu besar untuk ukuran seorang gadis berusia 17 tahun. Suaranya kadang terdengar lemah, tapi ia berusaha membuatnya selalu terdengar keras. Gadis yang menarik.
Aku tersenyum, "Tidakkah kau menyadarinya sejak awal?" Tanyaku.
"Jabatanku lebih tinggi dibandingkan mereka."
"Benarkah? Tapi kau terlihat muda, dan.. um.. Apa jabatanmu?"
"Rahasia." Aku mengedipkan sebelah mataku, menggodanya.
Wajahnya tak memerah, tidak tergoda.
"Semuanya rahasia disini." Ia tersenyum meledek.
"Baiklah baiklah, biarku beritahukan umurku padamu." Aku memainkan helaian rambut indigonya. "Umurku 31 tahun, Missie."
Ia menatapku dengan tatapan jijik, aku tahu hal itu. Walaupun ia berpura pura menurut dan ramah, tapi ia punya maksud lain dibalik semua senyum itu. Sama sepertiku.
Aku mulai merasa dia bukanlah pengajar. Dia memiliki aura seperti.. Seperti anak itu. Anak yang melarikan diri setelah injeksinya selesai. Hm, siapa namanya ya?
"Kau tahu, elf, kau mengingatkanku pada seseorang.." Aku mendekatkan wajahku padanya, "Seseorang yang sangat ingin kubunuh."
Aku lalu membukakan pintu ruanganku untuknya.
T
B
C
