UPS SORRY
Chapter 7 Broken Heart
Seungyoon Side
Hallo, Hallo, ini chapter 7 terima kasih para pembaca sekalian dan para pereview sekalian maaf tidak menyebut nama kalian satu persatu (DASAR AUTHOR MALAS!) Salam perdamaian , maaf jika ceritanya semakin ngawur, salah ketik, atau salah lainnya semoga kalian tetap senang membaca cerita dari saya, sekian dan terima kasih bye, bye…..
¶¶¶
Akibat perkataan Mino yang mengontaminasi itu, Seungyoon dibuat tidak bisa tidur semalaman. Bahkan dirinya membuat pengingat di ponselnya untuk menyelidiki Kim Jinwoo sepulang sekolah.
"Ya ampun aku terdengar seperti stalker." Ucap Seungyoon merasa sangat berdosa.
Dengan langkah gontai Seungyoon berjalan memasuki halaman sekolah, Taehyun ingin berangkat siang dengan nyonya Nam yang akan berbelanja kebutuhan toko. Dan sekarang di sinilah seorang Kang Seungyoon, sendirian di halaman sekolah.
Biasanya dia akan menyukai kesendirian ini namun sekarang rasanya sedikit aneh. Sendiri dan sepi tak senikmat dulu. Seungyoon menoleh ke kanan dan ke kiri. Suasana benar-benar sunyi tidak ada teriakkan meminta tolong atau semacamnya, mungkinkah Mino sudah mendapat pencerahan?
"Untuk apa aku memikirkan dia?" gumam Seungyoon pada dirinya sendiri.
"Seungyoon!" sebuah panggilan menghentikan langkah kedua kaki Seungyoon, iapun menoleh dan mendapati seorang Kim Jinwoo berlari untuk menghampirinya. Namun, Seungyoon juga melihat orang lain di belakang Jinwoo. Song Minho, dia masuk ke halaman sekolah dengan mobil mewahnya seperti biasa.
"Kau sudah sembuh?" Jinwoo bertanya dengan nada ramah dan cerianya seperti biasa.
"Iya Hyung."
"Astaga! Kenapa tanganmu diperban?"
"Memar," balas Seungyoon pelan. Ia biarkan Jinwoo menggenggam dan memeriksa tangannya kemudian ia juga membiarkan Jinwoo merangkul pundaknya.
"Hanya ijin satu hari, aku yakin kau bisa mengejar pelajaran kemarin dengan mudah." Ucap Jinwoo kepada Seungyoon, dan si lawan bicara hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan.
Ada perasaan aneh yang kini Seungyoon rasakan, ganjalan. Ucapan Mino tentang Jinwoo terus terngiang rasanya sangat sulit untuk memandang Jinwoo seperti biasa tanpa terpikir oleh ucapan Mino.
"Aku harus bergegas ke kelas, kita ketemu di kantin ya Kang Seungyoon!" seru Jinwoo kemudian melambaikan tangannya dengan senyum lebar yang terlihat permanen menghiasi wajahnya.
"Selamat pagi." Sapa Mino datar.
"Pagi." Balas Seungyoon seadanya. Kemudian Mino berlalu begitu saja Seungyoon merasa ada yang aneh namun sekali lagi dirinya tidak mampu menyebutkan keanehan seperti apa yang sekarang ia rasakan.
"Kau datang lebih siang?" Seungyoon tidak tahu bagaimana kedua kakinya bergerak mendekati Mino dan mulutnya tiba-tiba mengeluarkan pertanyaan seolah-olah dirinya dan Song Minho adalah teman dekat.
"Hmm, aku malas bangun pagi."
"Oh, oh ya terima kasih untuk semua kebaikanmu Song Minho."
"Kau sudah cukup berterimakasih." Ucap Mino sebelum sekali lagi berjalan mendahului Seungyoon, kali ini Seungyoon membiarkan Mino pergi sepertinya dia memang tidak ingin berbicara dengan dirinya hari ini.
¶¶¶
"Seungyoon, Seungyoon, aku punya game baru mau lihat?"
"Tidak."
"Kau kenapa sih, dari tadi hanya diam saja. Saat jam istirahat kau juga memilih tetap di kelas. Masih sakit?"
"Tidak. Aku hanya lelah, itu saja."
"Baiklah, aku percaya. Apa ini ada hubungannya dengan hmmmmppphh!" Seungyoon langsung membekap mulut Taehyun sebelum anak itu kelepasan bicara.
"Di sini banyak telinga yang mendengar," geram Seungyoon pelan.
Taehyun mengangguk dan bersamaan dengan itu Seungyoon melepaskan bekapan tangannya dari mulut Taehyun. "Maaf," bisik Taehyun tulus.
¶¶¶
Seungyoon berulang kali mengemukakan pendapat untuk dirinya sendiri supaya mengurungkan niat gilanya. Namun, gagal. Rupanya ucapan Mino sudah begitu besar mempengaruhinya. Saat bel tanda pelajaran usai, Seungyoon langsung melesat, menjadi orang pertama yang meninggalkan kelas.
Ia pergi ke kelas Kim Jinwoo, bersembunyi di tempat yang tepat menunggu Kim Jinwoo. Dan saat orang yang ia tunggu keluar, Seungyoon langsung berjalan mengikutinya. Seungyoon mengerutkan dahinya, tidak ada yang aneh, Jinwoo berjalan keluar seperti murid-murid yang lain, tidak ada orang misterius di sekitar Jinwoo, tidak mungkin seorang Kim Jinwoo menjadi pemimpin berandalan.
"Aku tidak tahan lagi," ucap Seungyoon pada dirinya sendiri. "Hyung!"
"Oh! Kang Seungyoon, mau berjalan bersama denganku sampai halte bus?"
Seungyoon hanya mengangguk dan bergegas mendekati Jinwoo. "Temanmu di mana?"
"Dia pulang duluan dengan ibunya."
"Kau tidak ikut dengannya?"
"Aku tidak mau merepotkan. Mereka sudah cukup banyak membantuku."
"Kau benar-benar anak baik."
"Terima kasih Hyung, jangan memujiku terlalu berlebihan aku merasa tidak enak."
"Kau ini!" pekik Jinwoo dengan nada menggoda dan diiringi dengan pukulan pada lengan kanan Seungyoon. "Aku kesal sekali saat mendengar anak baik sepertimu diserang oleh empat laki-laki tidak dikenal."
Seungyoon menelan ludah dengan kasar, empat laki-laki? Darimana Kim Jinwoo mengetahui bahwa kejadian malam itu dilakukan oleh empat laki-laki. Informasi itu hanya dirinya dan polisi yang mengetahui bahkan keluarga Nam sekalipun tidak tahu detailnya.
"Kau kenapa Seungyoon?"
"Tidak Hyung aku teringat harus mampir ke tempat lain."
"Oh, sayang sekali sampai jumpa besok. Sebentar lagi libur musim panas kita jadi jarang bertemu." Ucap Jinwoo ramah.
"Ya, sayang sekali." Balas Seungyoon berusaha agar terdengar normal.
"Hyung."
"Ya?"
"Jangan menyimpan dendam, itu tidak baik." ucap Seungyoon, ia lihat kedua mata Jinwoo membulat sempurna namun Seungyoon hanya tersenyum lebar, melambaikan tangannya, dan berbalik pergi.
Seungyoon menghela nafas berat dan menundukkan kepalanya, kedua matanya terasa perih, dadanyapun nyeri. "Ahh sakit, aku sudah patah hati. Konyol sekali." Gumamnya pelan. Seungyoon melihat Mino berdiri tidak jauh darinya, memandangi dirinya, Seungyoon hanya memutar kedua bola matanya dengan jengah, berharap Mino tidak melihat semua kejadian tadi dan menjadikannya sebagai bahan olokan seperti kebiasaan Taehyun, cukup Taehyun saja yang menyebalkan tidak perlu anggota tambahan.
"Seungyoon!" entah mengapa Mino berteriak panik, Seungyoon bermaksud menoleh untuk melihat apa yang terjadi saat tangan seseorang membekap mulutnya. Semua terjadi terlalu cepat saat tubuh Seungyoon di lempar masuk ke dalam mobil hingga punggung dan belakang kepalanya membentur bagian pintu dan jendela mobil dengan keras.
Seungyoon memicingkan sebelah matanya menahan nyeri. Setelah dirinya mampu mengendalikan rasa sakit, di dalam mobil terdapat lima orang dengan wajah yang ia kenal. Empat orang yang menyerangnya di toko dan Kim Jinwoo yang sekarang duduk di hadapannya.
"Kau pikir bisa pergi dengan mudah setelah menceramahiku dengan ceramah busuk seperti tadi, Kang Seungyoon." Ucap Jinwoo dengan nada ramahnya yang kini terdengar mengerikan.
"Hyung."
"Aku benar-benar menggagumimu Kang Seungyoon, sayang, kau memilih teman yang salah sehingga kita bersebrangan. Sungguh aku tidak ingin menyakitimu, tapi tidak ada pilihan lain kecuali menyingkirkanmu."
Kedua bola mata Seungyoon membulat sempurna, menyingkirkan. "Apa salahku Hyung?"
"Sudah aku katakan bahwa kita berada di pihak yang bersebrangan. Semua musuh harus dihancurkan kau tahu itu kan."
"Kenapa kau sangat membenci Mino Hyung? Kenapa keluargamu berperang dengan keluarga Mino?"
"Perang? Bukan perang Seungyoon, itu kosakata yang terlalu kasar. Bagaimana jika kita menyebutnya bersaing? Ya, bersaing terdengar lebih bersahabat." Ucap Jinwoo kemudian diselingi oleh senyum lebar mengerikannya.
Selanjutnya Seungyoon hanya bisa pasrah kemanapun Jinwoo dan keempat laki-laki lainnya hendak membawanya, sebab kabur juga tidak memungkinkan, berada di dalam mobil yang tertutup rapat dengan empat laki-laki berotot mengepungmu.
Mobil yang membawa Seungyoon memasuki kawasan pabrik lama yang tidak lagi digunakan. "Keluarkan dia!" bentak Jinwoo memerintah.
Jinwoo berjalan paling depan sepertinya dia sangat mengetahui tempat ini, dengan langkah-langkah santai tubuh rampingnya menembus semak ilalang. Seungyoon tidak sempat mengamati keadaan sekeliling karena dua pria suruhan Jinwoo menariknya dengan kasar. Tentu saja tubuh Seungyoon tidak sebanding dengan mereka.
Jinwoo membuka pintu salah satu bangunan tua. "Masukkan dia."
Demi apapun di dunia ini, Seungyoon ingin berteriak bahwa dirinya bukanlah sampah yang bisa dilempar ke segala arah. Sekarang tubuh Seungyoon tersungkur ke atas lantai beton berdebu setelah salah satu laki-laki suruhan Jinwoo melempar tubuhnya dengan kuat.
"Beri dia pelajaran, aku akan mengurus Mino."
"Apa yang kau inginkan Hyung?!" pekik Seungyoon.
"Yang aku inginkan—sederhana saja, aku hanya ingin melihat Mino memohon dan berlutut di hadapanku, memintaku untuk membebaskanmu, dan menuruti semua perintahku."
"Aku mengagumimu Hyung, di tahun pertama aku melihatmu berbeda dari anak-anak kaya sombong itu. Hyung sangat ramah dan penyabar, Hyung juga sangat pintar. Kenapa sekarang berbeda Hyung? Kenapa Hyung berubah menjadi pengecut?"
PLAAAKK! Sebuah tamparan keras mendarat pada pipi kanan Seungyoon. "Jangan pernah membuka mulutmu lagi di hadapanku Kang Seungyoon. Bereskan dia, aku pergi sebentar."
Seungyoon mengamati lantai beton berdebu tebal, dirinya sudah pasrah dengan apapun yang akan terjadi. Mengharapkan kedatangan Mino sepertinya mustahil, bahkan jauh di dalam dirinya dia ingin Mino tidak datang dan terlibat masalah dengan Jinwoo.
Seungyoon tidak pernah menyangka seorang Kim Jinwoo bisa melakukan tindakan di luar perkiraannya. Salah seorang laki-laki itu berjalan mendekat, mengulurkan tangannya. Terkejut, Seungyoon langsung mengangkat wajahnya.
"Aku akan membawamu keluar dari sini, anggap saja sebagai balas budi karena kau mencegah kami masuk penjara."
Seungyoon membuka mulutnya namun tidak ada satupun kata yang bisa dia ucapkan. "Cepat, sebelum Jinwoo kembali." Seungyoon menggenggam uluran tangan itu sambil berharap semoga hal ini bukanlah permainan.
Seungyoon berjalan di belakang laki-laki yang membelot menawarkan bantuan kepada dirinya. Keduanya memasuki hutan, membuat Seungyoon dilanda kepanikan namun dia masih berusaha untuk mengendalikan dirinya. Laki-laki itu berhenti dan berbalik menatap Seungyoon.
"Dari sini kau bisa melihat jalan kan?"
Seungyoon menoleh ke kiri dari tempatnya berdiri dia bisa melihat jalanan beraspal mulus. Iapun mengangguk pelan.
"Ikuti jalan itu sampai ke kota, ingat jangan keluar dari hutan pertahankan posisimu. Jangan sampai Jinwoo atau mungkin pengawal Jinwoo yang akan datang nanti melihatmu. Mengerti?"
"Ya."
"Ingat ucapanku baik-baik. Aku pergi sekarang."
"Tunggu! Terima kasih banyak, kalau boleh tahu siapa namamu?"
Laki-laki dihadapannya itu hanya menyungging seulas senyuman. "Kau tidak perlu tahu siapa namaku, berhati-hatilah, semoga beruntung."
Seungyoon meneruskan perjalanannya dia sangat berhati-hati dan tidak keluar dari perlindungan pepohonan. Dia selalu berhenti dan bersembunyi di balik batang pohon saat mendengar deru mesin mobil untuk memastikan bahwa siapapun di dalam mobil itu bukanlah Kim Jinwoo.
Seungyoon mempercepat larinya keluar dari hutan saat dia melihat mobil balap berwarna merah, tidak salah lagi mobil itu milik Mino. Dan dia datang seorang diri ke sarang singa. Seungyoon melompati parit kemudian menyeberang jalan dan berlari sekuat tenaga di belakang mobil Mino. Sungguh, pemandangan yang mustahil.
"Mino berhenti! Berhenti!" teriaknya sekuat tenaga sampai tenggorokkannya terasa panas dan kering. Kedua kakinya terasa lemas, tenaganya habis, Seungyoonpun jatuh berlutut ke atas aspal yang ke keras.
"Aku mohon berhentilah, mereka berbahaya, Kim Jinwoo berbahaya." Gumam Seungyoon di sela-sela nafasnya yang tersengal.
Seungyoon menghembuskan nafas lega saat dilihatnya mobil yang sudah jauh di depannya itu berhenti, kemudian bergerak mundur dengan cepat dan berhenti tepat di hadapannya.
"Seungyoon!" pekik si pemilik mobil dengan panik menghampiri Seungyoon yang masih berlutut di atas aspal.
"Kita—hahahah—harus pergi dari sini—Jinwoo memanggil pengawalnya untuk—memberimu pelajaran." Seungyoon mencoba menjelaskan dengan susah payah karena nafasnya yang belum normal kembali.
"Aku tidak peduli, aku harus membalas dendam." Ucap Mino penuh dengan kemarahan.
Seungyoon menahan lengan Mino dengan sisa-sisa tenaganya. "Pergi." Ucap Seungyoon tegas dan memandang tajam kedua mata kelam Mino.
"Baiklah, jika itu yang kau inginkan." Ucap Mino pada akhirnya menyerah.
¶¶¶
Mino dengan sangat serius memfokuskan seluruh perhatiannya pada jalanan yang mereka lewati, raut wajahnya dipenuhi dengan kemarahan.
"Haaah…," desah Seungyoon mencoba mencairkan suasana. "Aku benar-benar patah hati, apa kau tahu itu?"
Mino masih diam membisu. "Apa kau pernah patah hati? Aku belum pernah merasakannya, ternyata rasanya sungguh menyebalkan." Seungyoon mengucapkan setiap kalimatnya dengan jujur.
Hari ini dirinya benar-benar patah hati, orang yang selama ini ia cintai dan kagumi, ternyata di sangat berbeda dengan apa yang ia pikirkan. Kim Jinwoo sudah mengecewakannya.
"Cintaku sia-sia," gerutu Seungyoon lirih.
Tidak ada reaksi dari Mino, Seungyoon mendecih pelan kemudian memutuskan untuk menutup mulutnya. Hari ini adalah hari menyebalkan yang sangat sempurna, terima kasih untuk semua bintang, warna, dan hari keberuntungan atau apapun yang tidak memihaknya.
"Mino. Aku hanya ingin pulang kenapa ke sungai Han?"
"Keluar." Ucap Mino tegas.
"Apalagi sih? Apa marahnya bisa ditunda, seharusnya aku yang marah sejak kenal dengan dia aku terseret ke dalam masalah-masalah rumit." Gerutu Seungyoon sambil menyeret kedua kakinya keluar dari mobil mewah Mino.
Langit mulai gelap, Seungyoon menaikkan kerah kemeja seragamnya untuk menghalau angin yang terasa dingin.
"Kau patah hati kan sekarang?"
"Ya—ya." Ucap Seungyoon terbata, karena terkejut. Siapa yang tidak terkejut sepanjang perjalanan tanpa percakapan kemudian membuka percakapan dengan kalimat yang cukup mengejutkan.
"Aku juga pernah patah hati, dan rasanya sangat menyakitkan."
Seungyoon mengerutkan dahinya. Mino patah hati? Hal yang mengejutkan. Mino duduk di atas kap mesin mobilnya, melipat kedua tangannya di depan dada, dan menerawang ke arah sungai Han yang luas.
"Aku membuang semua rasa sakit ini di sini, jadi buang juga rasa sakitmu di sungai Han."
Seungyoon hanya memijit batang hidungnya, terlalu filosofis, baiklah dirinya memang tergolong cerdas namun untuk suatu ungkapan metafora dirinya sangat bodoh. "Bagaimana caranya membuang rasa sakit hati di sungai Han?"
"Banyak pasangan yang mengungkapkan cinta mereka di tepi sungai Han."
"Tunggu, itu tidak menjawab pertanyaanku Song Minho."
Mino berdiri, berjalan mendekati Seungyoon yang masih berusaha keras untuk memecahkan kalimat metafora Mino yang membingungkan. "Kau tahu cara membuang sakit hati adalah membuka hatimu untuk cinta yang lain."
"Oh, kalau itu aku sedikit mengerti. Membuka untuk cinta yang baru? Bagaimana caranya aku sedang tidak mencintai siapa-siapa sekarang."
"Buka hatimu untukku Kang Seungyoon, aku akan menyembuhkan lukamu."
"A—apa?! Ah— kau pasti mai-main, sudahlah antar aku pulang di sini dingin."
"Aku mencintaimu Kang Seungyoon, aku tidak peduli bagaimana tanggapanmu. Aku sudah mengatakannya jadi tidak akan ada penyesalan di masa depan."
Seungyoon hanya mengerjapkan-ngerajapkan kedua kelopak matanya, bingung harus memberi jawaban seperti apa. Jantungnya memang berdetak dua kali lebih cepat, namun apakah itu cukup untuk menyimpulkan bahwa dirinya menyukai tidak—mencintai Song Minho?
"Kang Seungyoon…,"
"Ini terlalu cepat." Potong Seungyoon. "Aku tidak bisa menjawabnya sekarang, maksudku—ini terlalu membingungkan."
Mino menatap kedua mata Seungyoon memberi isyarat pada pemuda di hadapannya itu untuk melanjutkan apapun yang ingin ia ungkapkan.
"Kau membenciku di awal, ini hanya permainan, kemudian aku memintamu mengakhiri semua permainan ini, lalu semua kejadian-kejadian buruk yang terjadi padaku, kemudian pernyataan cintamu. Membuat otakku penuh, sungguh aku tidak bisa berpikir jernih sekarang." Seungyoon mengakhiri kalimatnya dengan hembusan nafas lega.
"Aku tidak menuntut jawabanmu sekarang, aku hanya memintamu untuk membuka hatimu dan memberiku kesempatan. Apa hal itu juga tidak bisa kau lakukan?"
Seungyoon mengigiti bibir bawahnya, bingung harus menghadapi situasi ini dengan cara apa. Pada akhirnya yang bisa ia lakukan adalah mengulurkan tangan kanannya. "Kita bisa mulai berteman."
"Berteman?" Mino menatap tangan kanan Seungyoon yang terulur dengan heran.
"Ya, berteman, bukankah setiap hubungan yang lebih serius dimulai dengan pertemanan? Kita bisa saling mengenal dan selanjutnya—entahlah, aku tidak ingin menerka-nerka masa depan, terlalu membebani. Selanjutnya kita jalani saja."
Mino tersenyum simpul kemudian menyambut uluran tangan Seungyoon. "Mari berteman mulai saat ini."
"Semoga kita bisa berteman baik." Balas Seungyoon, tersenyum lebar kepada Mino. dan senyum lebar itu benar-benar menular, Minopun tersenyum lebar hal yang selama ini sangat jarang ia lakukan.
Jabat tangan itupun berakhir dan keduanya duduk di atas kap mesin mobil Mino, keduanya duduk mengamati sungai Han yang luas.
"Sebagai teman apa aku bisa melindungimu?"
"Melindungiku dari apa?"
"Kau tahu banyak orang yang membenciku, mungkin mereka mengincarmu Jinwoo buktinya."
"Oh. Bukankah teman memang seharusnya seperti itu? tapi kau tidak perlu membebani pikiranmu dengan hal yang bukan-bukan. Anggap saja Jinwoo hanya nasib sialku."
"Tapi—aku akan merasa sangat bersalah jika sesuatu yang buruk terjadi padamu, dan itu karena aku."
Seungyoon tidak membalas pandangannya menerawang jauh, dilindungi, selama ini dia tidak pernah membiarkan siapapun membuat dirinya terlihat lemah. "Aku—akan berusaha untuk melindungi diriku sendiri."
Mino melirik Seungyoon dari ekor matanya, jika dirinya bisa lebih dekat dengan Seungyoon mungkinkah Seungyoon meruntuhkan dinding pembatasnya. "Aku benci hujan lebat."
"Aku tahu." Balas Seungyoon, tentu saja kejadian di mobil itu tidak mudah hilang dari ingatannya.
"Apa kau ingin tahu alasan kenapa aku membenci hujan lebat?"
"Hmm—mungkin lain kali saat kau siap menceritakannya."
"Aku siap menceritakannya sekarang."
Seungyoon menoleh, menatap Mino tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Mino mengangguk pelan untuk meyakinkan Seungyoon bahwa apa yang dia dengar adalah tepat. "Tapi, apa kau bersedia menceritakan ketakutan terbesarmu padaku?"
"Apa maksudmu dengan ketakutan terbesarku?" Seungyoon mengerutkan dahinya.
"Kau tahu—kau sudah membangun dinding yang begitu kokoh, mengurungmu, dan melindungimu."
Seungyoon memutar kedua bola matanya, jengah. "Ayolah jangan bermetafora lagi, aku benar-benar tidak paham. Katakan dengan jelas."
Mino tersenyum miring. "Dasar tidak sabaran. Baiklah, begini kau—tidak suka mendapat bantuan dan perhatian orang lain. Aku yakin ada alasannya…,"
"Aku yakin alasannya sudah kau ketahui," potong Seungyoon. "Kau tahu jika keluargaku terbelit hutang dan melunasinya, aku yakin orang-orangmu sudah memberitahukan permasalahnnya.
"Kau terdengar marah."
"Aku tidak marah."
"Kau terdengar marah." Ucap Mino bersikeras.
"Baiklah—sedikit." Desah Seungyoon sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku berbincang dengan ibu Taehyun saat mengantarmu pulang."
Seungyoon menundukkan wajahnya, mengingat saat itu Mino yang menggendongnya ke kamar, entah mengapa wajahnya terasa panas sekarang.
"Beliau mengganggapmu seperti putranya sendiri, tidak ingin menerima uang sewamu, tapi kau bersikeras untuk membayar uang sewa dan bekerja sambilan di toko keluarga Nam. Apa kau pernah berpikir bahwa orang-orang yang peduli padamu, menolongmu dengan tulus."
"Aku tidak butuh itu." ucap Seungyoon tegas. "Aku ingin berdiri dengan kedua kakiku. Aku tidak mau bergantung pada orang lain."
Mino menatap wajah Seungyoon dengan serius. "Karena bantuan orang lain hanya akan melemahkanmu," sambung Seungyoon. "Seseorang yang membantumu dan peduli terhadapmu, mereka memiliki alasan untuk menjatuhkanmu."
"Aku juga pernah beranggapan seperti itu sebelumnya."
"Apa sekarang kau berubah?"
"Ya."
"Bagaimana bisa?"
"Karena dirimu."
"Aku?" Seungyoon menoleh melempar tatapan tidak percaya.
"Sesuatu yang buruk di masa lalu sudah membuatku menjadi orang lain. Lalu kau datang dan tiba-tiba pikiran untuk selalu bersamamu dan melindungimu muncul dengan kuat."
Seungyoon menelan ludahnya dengan kasar, mendengar pengakuan seorang Song Minho untuk yang kesekian kalinya di hari yang, tidak pernah sekalipun terbersit di dalam pikirannya, bahkan bermimpipun tidak pernah. "Hanya karena aku? Itu—terdengar mustahil." Jawab Seungyoon berusaha keras untuk tetap berpikir rasional dan mengabaikan perasaan hangat yang kini menyelimutinya.
"Berdiri tegak dengan kakimu sendiri memang bukan hal yang buruk. Tapi—mengetahui bahwa orang lain mencintaimu dan peduli padamu aku rasa itu lebih baik lagi."
"Bagaimana kau bisa berkata seperti itu?"
"Saat kau mengetahui ada orang lain yang mencintaimu dan peduli padamu, lalu kau membalas cinta mereka, kau hanya ingin mereka bahagia, tersenyum, melindungi mereka dari hal-hal buruk. Membuatmu menjadi manusia seutuhnya karena kau tidak hanya hidup untuk dirimu sendiri."
"Hah, kau membuatku terharu darimana kau bisa mendapat kalimat bijaksana seperti itu? Apa jangan-jangan berandal sekolah itu hanya kedokmu semata?"
Mino tersenyum simpul sembari mengamati wajah Seungyoon yang masih tampak kesal. "Kau belum meruntuhkan dinding yang mengurungmu Kang Seungyoon."
Mino mendesah pelan. "Di dunia ini siapa orang yang paling kau cintai?"
"Ibuku." Jawab Seungyoon dengan cepat.
"Ibumu. Lalu apa yang ingin kau persembahkan untuk ibumu?"
"Kehidupan yang lebih baik dari yang kami miliki sekarang. Tentu saja."
"Apa kau akan melakukan apapun untuk kebahagiaan ibumu?"
"Tentu."
"Apa kau pernah berpikir bahwa ibumu juga menginginkan hal yang sama untukmu?"
Seungyoon mengerutkan dahinya. "Kapan terakhir kali kau menghubungi ibumu?"
Seungyoon hanya mendesah pelan. "Kapan terakhir kau pulang?"
Seungyoon kembali mendesah. "Kapan terakhir kali kau mengeluh pada ibumu? Mengatakan Ibu aku tidak sanggup tinggal di Seoul lagi, aku ingin pulang, atau semacamnya. Kapan terakhir kali kau membagi bebanmu untuk orang lain?"
"Aku—aku—ah sudahlah kenapa membebaniku dengan pertanyaan-pertanyaan menyebalkan seperti itu!" dengus Seungyoon.
"Aku yakin kau menahan semua perasaanmu karena kau ingin ibumu berpikir bahwa kau baik-baik saja, benarkan?"
"Hmm."
"Itu maksudku saat kau memiliki seseorang yang berharga kau hanya ingin memastikan seseorang yang berharga itu selalu merasa bahagia, kau akan melakukan apapun untuk hal itu. dan itu membuatmu menjadi lebih kuat. Alasan untuk hidup demi orang lain lebih kuat dibandingkan kau harus hidup untuk dirimu sendiri Kang Seungyoon. Percayalah semakin banyak orang yang kau cintai maka kau akan semakin kuat.
Kalimat panjang lebar yang baru Mino selesaikan, terdengar seperti ratusan lebah yang terbang bersamaan di dalam kepala Seungyoon. "Bisakah kita akhiri pelajaran filosofi ini sekarang juga?" Seungyoon melempar tatapan memohon kepada Mino.
"Disakiti oleh orang yang kau cintai itu sangat menyakitkan, tapi menutup hatimu dari semua cinta yang ditawarkan padamu, itu sangat egois."
Seungyoon mendesah pelan. "Aku akan menyelesaikan ini dirumah, pelajaran filosofi ini bisakan dijadikan tugas rumah?"
"Baiklah, pelajaran filosofi ini bisa kau jadikan tugas rumah. Aku antar kau pulang udara semakin dingin."
Seungyoon tidak membalas dia langsung berdiri dan masuk ke dalam mobil lebih dulu. Ia langsung memakai sabuk pengaman dan melihat keluar jendela, tidak ingin melirih atau bahan menoleh kepada Mino.
"Seungyoon." Panggil Mino di tengah perjalanan.
"Hmm." Balas Seungyoon malas.
"Apa kau mau mendengar cerita, perjalanan kita masih cukup jauh."
"Itu karena kau membawa mobilnya terlalu lambat." Balas Seungyoon mulai jengkel.
"Aku sengaja karena ingin bercerita padamu."
"Mau cerita apa?" Seungyoon menoleh ke arah Mino tiba-tiba merasa tertarik dengan cerita yang Mino janjikan.
"Mau mendengarnya?" Seungyoon mengangguk patuh.
"Cerita ini tokohnya adalah hati."
"Hati? Hati seperti apa? Hati organ?"
"Bukan, hati yang bisa merasakan, bagaimana menjelaskannya ya—sedikit rumit."
"Aku bisa paham kok." Balas Seungyoon.
"Benarkah?" Mino bertanya dengan tujuan sedikit menggoda Seungyoon.
"Kalau filosofi sederhana seperti hati, aku bisa mengerti."
"Baiklah, kalau begitu kita mulai ceritanya. Ada sebuah hati yang terluka namun hati itu terbungkus oleh plastik yang tebal, dibekukan, dan disimpan di dalam lemari besi."
"Lama kelamaan hati itu pasti busuk," ucap Seungyoon menimpali cerita Mino.
"Tidak juga, jika ada sesuatu yang mampu menghangatkan dan menyembuhkan hati itu maka semuanya akan baik-baik saja."
"Apa ada sesuatu yang mampu?"
"Ada, banyak sekali. Namun hati itu menolak."
"Kenapa menolak? Bodoh sekali! Kalau dia membusuk bagaimana?"
"Itu pilihan hati itu, jika dia tidak mau membuka pintu lemari besinya maka hati itu akan membusuk di sana dalam kesendirian."
"Apa pintu lemari besinya hanya bisa dibuka dari dalam?" Seungyoon menatap Mino dengan kedua mata membulat sempurna, tertarik dengan cerita yang sebenarnya Mino gunakan sebagai pengganti diri Seungyoon.
"Iya, pintunya hanya bisa dibuka dari dalam."
"Lalu, kenapa hati itu tidak mau membuka pintunya? Padahal ada tawaran lebih baik dari luar yang sudah menunggunya."
"Karena dia pernah terluka, dan luka itu sangat sakit. Luka itu ia dapat dari luar jadi menutup diri dalam kebekuan dianggapnya lebih baik daripada kemungkinan mendapatkan luka baru."
"Tapi luka yang disimpan tidak akan sembuh, obatnya harus dicari di luar. Memang kemungkinan untuk terluka kembali masih ada, tapi jika hati itu membuka dirinya setiap luka pasti akan ada obatnya bukan?"
Mino mengangguk pelan sementara pandangannya masih terfokus pada jalanan yang ia lewati. "Hati itu hanya terlalu takut untuk mencoba membuka diri."
"Kenapa dia…," Seungyoon tidak melanjutkan ucapannya, otaknya memutar kembali semua cerita Mino. "Hati itu—aku?" tanyanya pelan.
"Bukan, hati itu adalah hati manusia yang terlalu takut untuk mencoba kembali dan terlalu takut untuk terluka kembali."
"Aku tidak menyimpan hatiku di dalam lemari besi," gumam Seungyoon.
"Kau menyimpannya di dalam lemari es." Balas Mino.
"Kau!" pekik Seungyoon kesal merasa terhina, hatinya di simpan di lemari es? Memangnya hati miliknya itu sejenis jeroan hewan?!
"Kau menyimpan hatimu di lemari es agar aku bisa membuka dan menghangatnya kembali."
Seungyoon menautkan kedua alisnya, mendengus kasar, kemudian merebahkan tubuhnya pada kursi penumpang yang ia duduki. "Terserah apa katamu!"
Mino hanya tersenyum simpul menanggapi kekesalan yang ditujukan padanya itu. Ia yakin mampu mencairkan hati seorang Kang Seungyoon, sama seperti yang telah dia lakukan kepada dirinya. Pelan-pelan saja, tidak perlu terburu-buru. Semua akan berjalan dengan baik.
¶¶¶
"Seungyoon," panggil Mino pelan mencoba membangunkan Seungyoon yang tengah tertidur lelap. Terbersit rasa bersalah di dalam dirinya sebab kejadian buruk terus menimpa Seungyoon semenjak mereka dekat. "Kang Seungyoon," sekali lagi Mino berusaha membangunkan kali ini sambil menyentuh pelan lengan kiri Seungyoon.
"Ahhh," desah Mino mulai putus asa untuk membangunkan Seungyoon. "Apa aku gendong saja ya? Tapi tidak enak dengan keluarga Nam. Aish! Anak ini kalau tidur susah sekali dibangunkan."
Mino sudah berniat untuk melaksankan rencananya, menggendong Seungyoon. Saat dirinya melihat tubuh Seungyoon mulai bergerak, dan kedua matanya terbuka. Seungyoon terlihat bingung namun hal itu hanya berlangsung selama beberapa detik saja. "Kita sudah sampai?"
"Ya."
"Jam berapa sekarang?"
"Delapan malam."
"Syukurlah." Seungyoon bergegas membuka pintu mobil yang kebetulan tidak dikunci.
"Sampai besok Kang Seungyoon. Besok kau mulai menjadi guru privatku."
"Benarkah mulai besok?!" pekik Seungyoon tidak percaya.
"Ya, sampai libur musim panas berakhir nanti."
"Hmmm." Gumam Seungyoon sebelum melangkah keluar dari mobil.
Tanpa ucapan terima kasih, ucapan selamat malam atau apapun seorang Kang Seungyoon melenggang pergi membuat si pemilik mobil sekaligus orang yang menyatakan perasaannya, hanya melempar tatapan heran.
Seungyoon melangkahkan kakinya mendekati kediaman keluarga Nam, namun dia menghentikan langkah kakinya teringat sesuatu. Ia berbalik dan mendapati mobil Mino sudah melaju. "Selamat malam," gumamnya pelan kemudian kembali melangkah.
"Seungyoon! Apa kau baik-baik saja?!"
"Ya, aku baik-baik saja. Memang ada apa?"
Ibu Taehyun bergegas menghampiri Seungyoon yang masih berdiri di depan pintu. Memeluknya erat. "Aku cemas sekali sebab beberapa anak di sekolahmu, melihat kau dipaksa masuk ke dalam sebuah mobil. Seungyoon, syukurlah kau baik-baik saja."
Seungyoon membalas pelukan ibu Taehyun, kedua matanya menatap wajah-wajah cemas yang kini menatapnya. Taehyun, nenek Taehyun, dan adik laki-laki Taehyun. Dan tanpa sadar Seungyoon tersenyum.
"Disakiti oleh orang yang kau cintai itu sangat menyakitkan, tapi menutup hatimu dari semua cinta yang ditawarkan padamu, itu sangat egois." Dan entah mengapa kalimat yang Mino ucapkan tadi muncul di benaknya.
"Terima kasih," gumam Seungyoon pelan. "Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku." Sambungnya.
"Sekarang mandilah, kami menunggumu di meja makan." Ucapan ibu Taehyun terdengar begitu indah dan menghangatkan hati Seungyoon. Mungkin yang dikatakan Mino benar, sekarang saatnya hati yang beku itu membuka pintu lemari besinya.
TBC…..
