Jihoon baru selesai mandi ketika ia mendengar suara dering ponselnya dari atas ranjang. Jihoon yang tengah sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk, meraih ponselnya dan menerima telepon yang masuk. Jihoon mengaktifkan loudspeaker agar ia tetap bisa mengeringkan rambutnya.
"Halo." Kata Jihoon.
"LEE JIHOON!" terdengar suara Wonwoo ditelepon.
"Jangan berteriak ditelepon, Won!" seru Jihoon.
Terdengar kekehan Wonwoo, Jihoon hanya mendengus.
"Maaf." Kata Wonwoo kemudian.
"Ada apa telepon malam-malam?" tanya Jihoon.
"Aku merindukanmu, Ji." Balas Wonwoo, membuat Jihoon menghentikan kegiatannya lalu mengernyitkan dahi.
Terbentur apa kepala Wonwoo sampai mengatakan hal itu. Jihoon bergidik jijik.
"Menjijikkan, Won." Kata Jihoon.
"Sial!" seru Wonwoo. "Aku serius tahu!"
Jihoon terkekeh. Ia tahu Wonwoo hanya mau bercanda dengannya, mengingat sudah beberapa hari ini mereka tidak mengobrol karena Wonwoo mengikuti acara MT dari kampusnya di luar kota hingga ia dan Wonwoo tak bisa mengobrol untuk sementara waktu.
"Apa kabar?" tanya Jihoon.
"Baik." Balas Wonwoo. "Hei! Besok aku pulang, jemput aku di stasiun, oke?"
"Oh jadi acara MT-mu sudah selesai? Baiklah aku akan jemput, tapi dengan bayaran setimpal."
"Ya ampun, Ji." Kata Wonwoo. "Aku ini temanmu! Masih perhitungan juga?"
Jihoon terkekeh lagi. Ia melempar handuk yang tadi dipakainya untuk mengeringkan rambut ke kursi yang tak jauh dari ranjangnya berada lalu mengambil ponselnya sementara ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
"Aku bercanda, Won." Katanya. "Jam berapa kau pulang?"
"Dari sini aku berangkat pukul 8 pagi, mungkin aku akan sampai Seoul pukul 1 atau setengah 2 siang." Jawab Wonwoo.
"Baiklah aku akan jemput besok siang."
"Oke, sampai jumpa besok siang!" seru Wonwoo.
"Hm.." balas Jihoon.
Kemudian sambungan telepon diputus begitu saja oleh Wonwoo, membuat Jihoon mengernyitkan dahi. Lalu sesaat kemudian ia terkekeh pelan karena ia baru sadar kalau Wonwoo menelepon hanya untuk meminta Jihoon menjemputnya di stasiun. Sambil menggelengkan kepalanya, Jihoon menonaktifkan ponselnya lalu meletakkan ponsel tersebut diatas meja nakas lalu ia tidur.
~oOo~
Bukan Jihoon jika tak suka berlama-lama di tempat tidur. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 8 pagi dan Jihoon sama sekali tak ada niat untuk sekadar membuka matanya, sementara ia punya mata kuliah jam 10 pagi nanti. Seungcheol sudah mencoba membangunkan Jihoon jam setengah 8 tadi, tapi berakhir dengan teriakan maha dahsyat Jihoon yang mengusirnya keluar dari kamar. Dan setelahnya Seungcheol tidak mau lagi kembali ke kamar Jihoon. Biar saja dia terlambat.
Seungcheol tengah memakan sarapan sambil berkirim pesan dengan kekasihnya ketika ia mendengar suara bel rumahnya. Seungcheol bangkit dari kursi dan berjalan menuju pintu depan. Ia mengintip dari celah di pintu dan tak lama kemudian ia membuka pintu.
"Soonyoung." Sapa Seungcheol.
"Pagi, hyung." Soonyoung menyapa balik.
"Ada apa pagi-pagi datang kemari? Ini bahkan masih terlalu pagi untuk menemui Jihoon." Tanya Seungcheol seraya menyuruh Soonyoung masuk.
Soonyoung terkekeh seraya melangkahkan kakinya masuk. Benar memang kata Seungcheol, kalau ini masih terlalu pagi untuk menemui Jihoon, karena tidak mungkin Jihoon sudah bangun di jam seperti ini.
"Tapi nyatanya aku memang kemari mau menemuinya." Balas Soonyoung.
"Dia memaksamu menjemputnya, kan? Yah, maafkan dia ya kadang memang suka menyebalkan." Kata Seungcheol seraya berjalan menuju ruang makan untuk melanjutkan sarapannya.
Soonyoung mengekor Seungcheol ke ruang makan lalu duduk berhadapan dengan Seungcheol.
"Ayo sarapan bersama. Kau bisa tunggu Jihoon bangkit dari tidur panjangnya sambil makan." Kata Seungcheol lagi yang dibalas anggukan oleh Soonyoung.
Kemudian Soonyoung bangkit dari kursi dan pergi mengambil dua lembar roti dan mengoleskan selai cokelat kacang diatas kedua lembar roti tersebut. Lalu ia membuka lemari es dan mengambil sekotak besar susu cokelat kemudian menuangkannya dalam gelas, baru setelahnya ia kembali duduk di tempatnya semula.
Soonyoung memakan sarapannya sambil mengobrol dengan Seungcheol yang juga tengah menyantap sarapan paginya. Tak jarang mereka tertawa keras ditengah obrolan karena topik obrolan mereka yang memang lucu. Tapi agaknya suara tawa mereka membuat tuan putri Jihoon terbangun dari tidurnya.
"Hyung! Bisa tidak jangan berisik?! Aku mengantuk!" Jihoon berteriak dari dalam kamarnya di lantai dua.
"Kalau kau terbangun, bangun saja sekalian! Ini sudah hampir setengah 9, kau tidak kuliah?!" balas Seungcheol dengan berteriak juga.
Kemudian tak terdengar balasan apa-apa dari Jihoon. Mungkin anak itu sedang menggerutu kesal karena paginya dirusak, ditambah dengan kenyataan kalau dia punya mata kuliah pagi hari ini.
Setelahnya Seungcheol dan Soonyoung kembali mengobrol.
"Aku tak habis pikir dengan Jihoon." Kata Seungcheol. "Dia suka sekali tidur. Sepupuku itu sebenarnya koala atau manusia?"
Soonyoung yang mendengar gerutuan Seungcheol hanya terkekeh sambil mengunyah sarapannya. Bukan rahasia lagi kalau Jihoon itu suka tidur. Bahkan kalau hari libur ia bisa tidur sampai 10 jam sehari. Entah apakah kepalanya tak pening tidur selama itu, tapi tampaknya Jihoon baik-baik saja.
"Menurutmu, Jihoon itu sebenarnya koala atau manusia, Soon?" Soonyoung tersentak ketika tiba-tiba Seungcheol mengalihkan pandangan padanya.
Soonyoung terbatuk sebentar sebelum menjawab, "Dia manusia kok, hyung." Jawab Soonyoung.
Seungcheol mendengus sebelum menghabiskan air dalam gelasnya. Setelahnya pria berusia 28 tahun itu berdiri dari kursi seraya mengambil kunci mobil dari atas meja.
"Karena sudah ada kau yang mengantar koala itu, aku akan pergi kerja sekarang." Kata Seungcheol seraya menepuk pelan pundak Soonyoung.
Soonyoung hanya menganggukkan kepalanya. Ia mengantar Seungcheol sampai pintu depan, dan setelah Seungcheol pergi, ia kembali masuk ke dalam untuk menunggu Jihoon yang entah belum turun juga. Soonyoung curiga kalau Jihoon kembali tidur, jadi pemuda itu memutuskan untuk naik ke lantai dua menuju kamar Jihoon.
Soonyoung mengetuk sekali pintu kamar Jihoon, tak ada sahutan. Soonyoung kembali mengetuk pintu, tapi masih tak ada sahutan dari dalam. Akhirnya Soonyoung pun memutuskan untuk masuk saja kedalam, takut-takut kecurigaannya─kalau Jihoon kembali tidur─benar terjadi.
Tapi begitu Soonyoung masuk, kamar itu kosong. Tapi samar-samar terdengar suara shower dari dalam kamar mandi.
"Mungkin Jihoon sedang mandi." Batin Soonyoung.
Soonyoung mendekat ke pintu kamar mandi dan mengetuknya.
"Siapa?" terdengar suara Jihoon dari dalam.
"Aku." Balas Soonyoung.
"Eh? Soon? Itu kau?"
"Iya."
"Tu-tunggu sebenar, ya. Aku akan cepat. Tunggu saja dibawah." Kata Jihoon.
"Baiklah. Jangan lama-lama, kau ada kuliah jam 10 nanti."
Kemudian Soonyoung pergi keluar dari kamar Jihoon dan kembali turun ke lantai satu, memutuskan untuk menunggu Jihoon di ruang tengah sambil menonton televisi.
~oOo~
Soonyoung menyetir mobilnya dengan sedikit menggerutu karena Jihoon yang lama bersiap-siap. Kekasihnya itu baru keluar dari kamarnya 45 menit sebelum jam 10, membuat Soonyoung terpaksa menyetir mobilnya dengan kecepatan 2 kali lebih cepat dari biasanya agar kekasihnya ini tidak terlambat masuk kelas.
Sementara Jihoon, ia tahu ia salah karena terlalu lama mendekam di dalam kamar. Itu juga ia lakukan tak sengaja. Selain dia lupa Soonyoung akan menjemputnya, ia juga bodoh dengan menghabiskan 15 menit untuk memilih pakaian, padahal dia hanya akan pergi ke kampus seperti biasa. Entahlah, sejak pacaran dengan Soonyoung ia jadi begini.
Jihoon terus melirik Soonyoung yang tengah menyetir mobilnya. Wajah Soonyoung benar-benar tampak kesal, membuat Jihoon merasa sangat bersalah. Walaupun tak bicara apa-apa, atau marah pada Jihoon, tapi Jihoon bisa melihat kalau Soonyoung kesal hanya dari raut wajahnya.
"Soon.." panggil Jihoon.
"Hm?" balas Soonyoung dengan um...dingin?
"Kau marah?" tanya Jihoon takut-takut.
Soonyoung menghela nafas panjang sebelum menjawab, "Tidak."
Jihoon menundukkan kepalanya. Ia tahu kalau kekasihnya ini marah padanya, hanya tak mau jujur saja. Jadi daripada ia semakin membuat Soonyoung marah, Jihoon tak bicara lagi. Ia kenal baik Soonyoung, jadi dia tahu bagaimana Soonyoung ketika marah.
Sepanjang perjalanan menuju kampus, Jihoon dan Soonyoung tak bicara apa-apa lagi setelah pembicaraan singkat tadi. Jihoon terlalu takut mengajak Soonyoung bicara, dan Soonyoung sendiri juga tampaknya tak ada niat untuk mengajak Jihoon bicara.
Dalam waktu 25 menit mereka sampai di kampus. Soonyoung menghentikan mobilnya di depan gedung fakultas Jihoon.
"Terima kasih sudah mengantarku." Kata Jihoon seraya melepas seatbeltnya.
Ketika Jihoon hendak membuka pintu mobil, sebelah tangannya digenggam oleh Soonyoung. Mau tak mau Jihoon pun menoleh kearah Soonyoung.
"A-ada apa?" tanya Jihoon.
"Maaf, kau pasti tak nyaman sejak kita pergi tadi, kan? Kau pasti berpikir aku marah padamu." kata Soonyoung.
Jihoon menunduk ketika mendengar Soonyoung membicarakan hal tersebut. Tentu saja ia tak nyaman. Siapa juga yang nyaman ketika kekasihnya marah dan mendiamkannya seperti tadi?
"Hei, aku tak marah padamu. Sungguh." Kata Soonyoung seraya mengangkat dagu Jihoon agar menatapnya.
Jihoon menatap kedua netra Soonyoung dengan ragu, tapi pemuda itu menyunggingkan senyumannya, membuat Jihoon mau tak mau ikut tersenyum walaupun samar.
"Ya, aku memang agak kesal padamu tadi. Tapi, sekarang sudah tidak." Kata Soonyoung lagi. "Jadi, jangan sedih lagi."
Jihoon berusaha menetralkan ekspresi wajahnya dan menahan senyum, "Si-siapa yang sedih?" kata Jihoon. "Aku cuma tak nyaman kau mendiamkanku seperti tadi."
Jawaban Jihoon membuat Soonyoung gemas. Senyumannya semakin lebar dan ia mengusak pelan puncak kepala Jihoon.
"Ya...ya, maafkan aku ya." Kata Soonyoung. "Sudah sana masuk! Nanti kau terlambat, aku yang kena marah."
Jihoon mencebikkan bibirnya, "Tadi memangnya siapa yang menahanku pergi?"
"Nanti aku jemput." Kata Soonyoung. "Hubungi aku ketika kau selesai."
Jihoon hanya mengangguk untuk membalas ucapan Soonyoung. Kemudian ia turun dari mobil Soonyoung dan berjalan memasuki gedung fakultasnya dengan sedikit cepat. Wajahnya sudah memanas dan jantungnya sudah bekerja diluar batas. Padahal ini masih terlalu pagi untuk spot jantung.
~oOo~
Jihoon menyelesaikan semua kelasnya pukul 3 sore tepat. Dan selama kelas terakhirnya berlangsung, ponselnya terus bergetar, membuatnya harus menahan perasaan ingin membanting ponselnya ke lantai dingin kelasnya.
Jihoon akhirnya duduk di kantin untuk sekadar melihat siapa yang sudah menghubunginya sepanjang kelas tadi.
Jeon Wonwoo (20 missed calls)
Jihoon mendengus kesal ketika melihat siapa yang menghubunginya seperti orang gila tadi. Dengan rasa kesal yang hampir mencapai ubun-ubun, Jihoon menghubungi Wonwoo kembali.
"Halo? Jihoon?"
"Jeon Wonwoo!" seru Jihoon dengan kesal.
"Hei! Kenapa kau marah?"
"Harusnya aku tanya padamu! Kenapa meneleponku seperti orang kesetanan? Aku sedang ada kelas kau tahu?!"
"Maaf...maaf, aku hanya mau tanya, apa kau jadi menjemputku di stasiun? Aku sudah sampai sejak 15 menit lalu."
Jihoon menghela nafas. Ia masih ingat percakapannya semalam dengan Wonwoo yang dia bilang mau menjemputnya di stasiun hari ini, dan Jihoon berencana untuk langsung pergi ke stasiun setelah seluruh kelasnya hari ini selesai, tapi Wonwoo malah membuatnya kesal.
"Aku akan menjemputmu." Jawab Jihoon.
"Baiklah, aku akan menunggumu. Cepat datang, aku sudah mati bosan disini!"
"Iya! Iya! Berisik!"
Kemudian Jihoon memutus sambungan teleponnya dengan Wonwoo lalu mengetik pesan untuk Soonyoung, memberitahu ia sudah selesai, yang dibalas tunggu sebentar aku akan kesana. Jihoon memutuskan untuk menunggu Soonyoung di kantin sambil meminum jus jeruk dingin yang ia pesan.
Jihoon tengah meminum jus jeruk pesanannya sambil memainkan ponselnya ketika ia mendengar seseorang memanggilnya. Jihoon membalikkan tubuh dan mendapati sosok Seokmin berjalan cepat kearahnya lalu duduk di hadapannya. Pemuda itu menyunggingkan senyum cerahnya seperti biasa.
"Ada apa?" tanya Jihoon.
"Hyung sendirian?" Seokmin balik bertanya.
Jihoon mengangguk.
"Sudah selesai kelas?"
Jihoon kembali mengangguk.
"Kalau begitu hyung bisa ikut aku?"
Jihoon mengernyitkan dahi, "Kemana?"
"Perpustakaan." Jawab Seokmin. "Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan, sekaligus aku mau minta tolong untuk membantuku mengerjakan tugas sejarah musik." Sambung pemuda itu dengan senyum yang tak pudar sama sekali.
Jihoon menghela nafasnya.
"Maaf Seokmin-ah, hari ini aku ha-"
"Ji?" Jihoon berhenti bicara ketika ia mendengar suara Soonyoung dibelakangnya.
Jihoon sontak membalikkan tubuh dan benar saja, Soonyoung sudah berdiri dibelakangnya. Pemuda itu meletakkan kedua tangannya pada pundak Jihoon.
"Ayo pulang." Soonyoung kembali bicara. Tapi matanya tak mengarah pada Jihoon, melainkan pemuda yang duduk dihadapan Jihoon.
"I-iya, ayo." Balas Jihoon seraya bangkit dari tempat duduk.
Soonyoung kemudian mengapit jemari Jihoon dan menggenggamnya erat. Matanya masih belum menatap Jihoon dan tetap menatap Seokmin dengan tatapan tajam.
"Seokmin-ah, maaf aku pergi dulu. Mungkin aku bisa membantumu lain waktu. Maaf." Kata Jihoon sebelum ia ditarik pergi dari sana oleh Soonyoung.
Seokmin menatap kepergian Jihoon dan Soonyoung dengan tatapan jengkel. Ia menggebrak meja kantin cukup keras sebelum pergi dari kantin menuju ruang kelasnya.
"Itu Lee Seokmin kan?" tanya Soonyoung ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil Soonyoung.
Jihoon menatap Soonyoung yang juga tengah menatapnya, "I-iya, dia Lee Seokmin." Balas Jihoon.
Soonyoung mengalihkan pandangannya, "Dia dekat denganmu, Ji?"
"Ya, cukup dekat." Jawab Jihoon santai, tanpa tahu kalau raut wajah kekasihnya sudah mengeras.
"Tapi aku tak suka dia, Ji." Kata Soonyoung seraya menyalakan mesin mobilnya.
Jihoon yang tadinya tengah membalas pesan Wonwoo langsung menoleh kearah Soonyoung yang duduk dibalik kemudi mobil.
"Kenapa memangnya? Dia baik padaku." Kata Jihoon.
Soonyoung menghela nafas, "Entahlah." Balas Soonyoung. "Hanya tak suka saja."
Jihoon kemudian meraih sebelah tangan Soonyoung yang sudah berada diatas kemudi mobil dan menggenggamnya, membuat pemilik tangan tersebut menoleh dan menatap Jihoon lekat-lekat.
"Aku tak menganggapnya lebih dari teman, Soon." Kata Jihoon.
"Aku percaya padamu, Ji." Balas Soonyoung. "Tapi aku tak percaya dia. Bisa saja dia menyukaimu lebih dari teman, kan?"
Jihoon mengulum senyum. Ia suka ketika Soonyoung cemburu padanya, tapi di sisi lain ia agak tak nyaman karena Soonyoung cemburu pada juniornya sendiri yang bahkan tak Jihoon anggap lebih dari itu.
"Kalau begitu kau cukup percaya padaku saja." Kata Jihoon seraya melepas tangan Soonyoung.
Soonyoung menatap Jihoon sebentar sebelum mengalihkan pandangannya pada jalan. Lalu tak lama kemudian Soonyoung menyunggingkan senyumnya, membuat Jihoon mau tak mau ikut tersenyum.
"Ah! Soonyoung-ah!" panggil Jihoon ketika mereka sudah memasuki jalan raya.
Soonyoung hanya menjawab dengan gumaman.
"Bisa pergi ke stasiun Seoul?" tanya Jihoon.
"Mau apa kesana, Ji?" Soonyoung balik bertanya.
"Menjemput seseorang."
Soonyoung mengernyitkan dahi, "Siapa?"
"Wonwoo."
~oOo~
"Kau tahu sudah berapa lama aku menunggu?" Wonwoo menggerutu seraya menenteng tas ranselnya.
"Bukannya berterima kasih sudah dijemput." Balas Jihoon.
"Ya..ya..terima kasih." Kata Wonwoo seraya mengekor Jihoon yang berjalan menuju pintu keluar stasiun.
Tak jauh dari pintu masuk stasiun, Wonwoo bisa melihat sebuah mobil sedan berwarna silver terparkir disana. Dan ketara sekali kalau Jihoon berjalan menuju mobil tersebut. Tidak mungkin Jihoon yang menyetir mobil itu sendiri, tapi kalau bukan Jihoon yang menyetir, berarti Jihoon kemari bersama seseorang, bukan?
Wonwoo mempercepat langkahnya hingga bersebelahan dengan Jihoon.
"Hei, kau kemari dengan seseorang?" tanya Wonwoo.
Jihoon melirik Wonwoo sekilas lalu menganggukkan kepalanya.
"Siapa?" tanya Wonwoo.
"Banyak tanya." Balas Jihoon seraya berjalan menuju pintu penumpang bagian depan mobil tersebut.
Wonwoo masih berusaha meminta jawaban jelas dari Jihoon dengan menatap pemuda mungil itu. Sementara si pemilik mobil merasa aneh karena kedua penumpang yang ditunggunya tak kunjung masuk kedalam mobil. Ia pun akhirnya keluar dari mobil.
"Loh? Kwon Soonyoung?" Itu sapaan pertama yang Soonyoung dapat dari Wonwoo ketika ia keluar dari mobilnya.
"Hai, Won." Balas Soonyoung.
"Ini mobilmu?" tanya Wonwoo.
"Mobil Ayahku. Bukankah kau pernah pergi dengan mobil ini juga? Denganku dan Jihoon juga?"
Wonwoo tampak mengingat-ingat kapan ia pernah pergi dengan mobil sedan milik Ayah Soonyoung.
"Sudah kalau tak ingat tidak perlu diingat." Kata Soonyoung. "Cepat masuk! Aku lapar!"
Kemudian Soonyoung segera kembali masuk ke mobilnya diikuti Jihoon, tak memberikan Wonwoo untuk membalas ucapannya. Sementara Wonwoo, sambil bersungut ia ikut masuk ke mobil Soonyoung, ke kursi penumpang di bagian belakang.
Tepat setelah Wonwoo masuk, Soonyoung langsung menyalakan mesin mobilnya lalu membawa mobil itu pergi dari depan stasiun menuju kedai makanan langganannya.
Sepanjang perjalanan Wonwoo tampak seru menceritakan kegiatan MT yang diikutinya selama seminggu ini pada Jihoon walaupun pemuda mungil itu menanggapi tak lebih dari gumaman dan jawaban singkat. Sementara Soonyoung lebih suka menjadi pendengar keduanya sambil fokus menyetir.
"Baiklah Won, kau bisa hentikan ini sebentar? Kita sudah sampai." Kata Soonyoung seraya membuka seatbelt nya.
Wonwoo mengintip lewat kaca mobil, lalu ia ikut keluar dari mobil setelah Jihoon dan Soonyoung. Pemuda emo itu mengekor Jihoon dan Soonyoung yang berjalan lebih dulu memasuki sebuah kedai makanan yang terbilang cukup sederhana.
Hari itu kedai tersebut tak terlalu ramai, hanya ada beberapa pelanggan yang setengahnya sudah selesai makan. Soonyoung mengambil tempat di pojok dekat dengan pintu dapur. Wonwoo duduk di kursi sebelah Jihoon yang mengambil duduk berhadapan dengan Soonyoung.
"Omong-omong kau sengaja ikut atau kau dipaksa Jihoon untuk mengantarnya?" Wonwoo bertanya pada Soonyoung ketika pelayan yang menulis pesanan mereka sudah berlalu dari meja mereka.
Soonyoung yang tengah memainkan ponselnya menoleh kearah Wonwoo, "Aku mengantar Jihoon. Tidak dipaksa." Jawab Soonyoung.
"Kau yakin tak dipaksa oleh anak ini?" tanya Wonwoo lagi sambil menunjuk Jihoon disebelahnya.
Soonyoung menggelengkan kepalanya.
Kemudian Wonwoo mengalihkan pandangannya pada pemuda yang duduk disampingnya, "Lalu seminggu aku pergi ada kabar apa, Ji?"
Jihoon menatap Wonwoo sambil mengernyitkan dahi, "Kabar apa?" tanya Jihoon balik.
Wonwoo tidak menjawab, ia hanya menunjuk Soonyoung yang duduk dihadapan mereka dengan dagunya. Jihoon yang tak mengerti hanya menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu. Wonwoo menepuk dahinya pelan, menyayangkan kenapa Jihoon polos sekali.
Wonwoo kemudian mendekatkan kepalanya pada telinga Jihoon dan berbisik,
"Hubunganmu dengan Soonyoung, sudah sampai mana?" bisik Wonwoo kemudian Wonwoo kembali menjauhkan kepalanya dari telinga Jihoon.
Yang ditanya tidak langsung menjawab. Lebih tepatnya Jihoon bingung harus menjelaskan pada Wonwoo seperti apa. Pasalnya Jihoon sama sekali tidak bercerita apa-apa soal Soonyoung selama seminggu Wonwoo pergi, padahal Wonwoo rutin menelepon Jihoon tiap malam sebelum Jihoon pergi tidur.
Jihoon yang tidak langsung menjawab pertanyaannya membuat Wonwoo mengernyitkan dahi curiga. Jangan-jangan ada sesuatu yang tidak Jihoon ceritakan padanya.
"Ada yang tidak kau ceritakan padaku, Ji?" tanya Wonwoo, tanpa berbisik, membuat Soonyoung yang duduk dihadapan mereka ikut menoleh kearah Wonwoo.
Jihoon menoleh kearah Wonwoo yang tengah menatapnya tajam.
"Aku akan ceritakan nanti, Won." Itu saja yang jawaban terbaik yang muncul di kepala Jihoon.
"Kenapa tidak ce-"
Ucapan Wonwoo harus terhenti karena pesanan mereka sudah datang, membuat Jihoon mau tak mau harus bernafas lega.
"Kita makan saja dulu, Won. Nanti akan kuceritakan." Kata Jihoon lagi, membuat Wonwoo mendengus kesal.
"Kalau begitu aku menginap di tempatmu." Balas Wonwoo kesal.
"Tidak mau pulang kerumah?" tanya Jihoon.
"Aku akan pulang setelah ini, tapi nanti malam aku akan datang ke rumahmu."
Jihoon menggelengkan kepalanya. Kalau sudah begini, mau dilarang dengan alasan apapun Wonwoo akan tetap datang ke rumahnya.
~oOo~
Malam harinya, sekitar pukul 8 malam, Wonwoo benar-benar datang ke rumah Jihoon, mengatakan akan menginap semalam demi mendengarkan cerita yang belum diceritakan Jihoon padanya. Jihoon hanya bisa menghela nafas pasrah ketika Wonwoo dengan seenaknya masuk ke kamarnya, meletakkan tas ransel berisi pakaian di sofa kamarnya lalu merebahkan tubuh di ranjangnya. Dan saat itu Jihoon baru saja selesai mandi.
"Kau serius mau menginap dirumahku, Won?" tanya Jihoon memastikan.
Wonwoo mengangguk, membuat Jihoon kembali menghela nafas pasrah.
"Dan aku tak akan pulang sebelum kau menceritakan semuanya." Kata Wonwoo. "Tega sekali kau! Padahal tiap malam aku menyempatkan meneleponmu karena mau mendengarkanmu bercerita. Sial! Aku jadi ragu kau benar temanmu atau bukan."
Jihoon yang tengah menghadap cermin sambil mengeringkan rambut dengan handuk, hanya menggelengkan kepalanya. Baru saja datang sudah berisik.
Dan tepat ketika Jihoon selesai mengeringkan rambutnya, ponsel Jihoon berdering, menandakan ada pesan masuk. Kebetulan ponselnya ada diatas ranjang dan Wonwoo dengan jahil meraih ponsel Jihoon dan membaca pesan masuk itu seenaknya.
From : Soonyoungie~
Hei, Ji maaf besok aku tidak bisa menjemputmu. Ibuku memaksaku mengantarnya ke rumah bibi.
Tapi aku akan tetap mengatarmu pulang seperti biasa.
Ah ya, tak perlu dijawab, kau pasti lelah.
Selamat tidur~
Bagi Wonwoo isi pesan ini biasa saja. Karena memang Soonyoung sudah biasa mengantar-jemput Jihoon walaupun kadang dilakukan secara terpaksa. Tapi yang membuat Wonwoo mengerutkan dahi adalah emotikon hati diakhir pesan.
Wonwoo melirik Jihoon yang masih sibuk bercermin. Sementara Jihoon, ia menoleh ketika merasa diperhatikan.
"Ada apa?" tanya Jihoon.
Wonwoo tak menjawab, ia hanya menyodorkan ponsel Jihoon pada pemiliknya yang diterima Jihoon sambil memasang wajah bingung. Kemudian Jihoon mengalihkan pandangannya pada layar ponselnya yang masih menyala. Disana terpampang jelas pesan dari Soonyoung yang Jihoon yakin dibuka dan dibaca seenaknya oleh Wonwoo.
Setelah membaca pesan Soonyoung tersebut, Jihoon meletakkan ponselnya diatas nakas lalu matanya menatap Wonwoo yang masih setia merebahkan tubuh di ranjang Jihoon.
Perlahan, Jihoon menaiki ranjangnya dan duduk disamping Wonwoo yang tengah rebahan.
"Jadi, apa aku harus cerita sekarang?" tanya Jihoon.
"Biar aku tebak." Balas Wonwoo. "Kalian berkencan?"
Jihoon mengulum senyum, "Aku tak akan bohong, Won." Kata Jihoon. "Iya, kami berkencan. Aku dan Soonyoung."
"Sejak kapan?" tanya Wonwoo sambil merubah posisi rebahannya menyamping, menghadap Jihoon.
"Hm...coba kuingat.." gumam Jihoon. "5 hari yang lalu? Kurasa.."
Wonwoo kemudian menghela nafas panjang seraya mengalihkan pandangannya dari Jihoon kearah langit-langit kamar Jihoon. Kedua tangannya ia jadikan bantal untuk kepalanya.
"Lihat! Tega sekali kau tidak memberitahuku soal itu. Padahal aku dengan senang hati meneleponmu tiap malam, Ji." Kata Wonwoo.
Jihoon mengambil salah satu bantal tidurnya dan mengarahkannya pada wajah Wonwoo,
"Sudah jangan memasang wajah sok sedih!" seru Jihoon. "Memangnya apa untungnya aku dan Soonyoung berkencan untukmu?"
Wonwoo memeluk bantal tidur Jihoon yang tadi mengenai wajahnya, "Banyak!" seru Wonwoo. "Salah satunya aku bisa minta kalian mentraktirku makan."
"Ingat tadi sore kau sudah ditraktir makan oleh Soonyoung." Balas Jihoon.
"Ah! Kalau aku tahu ini lebih awal aku kan bisa memeras isi dompetnya sekaligus." Kata Wonwoo.
Jihoon terkekeh pelan, "Dasar brengsek." Umpat Jihoon.
Wonwoo ikut terkekeh mendengar umpatan Jihoon padanya, "Ya, aku memang brengsek akhir-akhir ini. Terima kasih pujiannya."
Kemudian sisa malam mereka dihabiskan dengan bercerita seperti biasa. Walaupun di dominasi oleh Wonwoo, tapi Jihoon senang bisa mendengarkan sahabatnya bercerita sepanjang malam hingga keduanya kalah oleh rasa kantuk masing-masing. Dan sesi cerita malam itu berakhir sekitar pukul setengah 2 dini hari dengan Jihoon yang lebih dulu tertidur ditengah Wonwoo yang asyik bercerita, kemudian setelah sadar kalau temannya sudah tidur ditengah cerita, Wonwoo akhirnya ikut memejamkan matanya dan tidur.
TBC
Author's Note(s) :
1. Hai aku balik lagi dengan chapter baru. Dan aku juga bawa kabar kalau aku kayaknya bakalan update agak lama deh chapter selanjutnya. Kenapa? Soalnya aku bakalan UTS dua minggu lagi. Ditambah tugas yang bejibun kayak dosa. Iya jadi sulit buat update. Kalo curi-curi waktu buat ngetik mungkin bisa, tapi buat update enggak dulu deh. Nanti ya setelah UTS dan tugas-tugas kuliah itu sudah menguap, aku baru update lagi. Maaf sebelumnya. Maklumin namanya juga mahasiswa.
2. Chapter ini gak seru buat aku wkwkw (padahal aku yang ketik sendiri). Soalnya isinya cuma gini doang. Di chapter selanjutnya baru ceritanya greget. Semoga kalian mau nunggu chapter selanjutnya update ya.
3. Disini kayaknya kalian udah bisa nerka deh karakter Seokmin dan apa faedahnya dia di ff ini wkwk. Kenapa aku pake Seokmin? Karena Seungcheol udah aku jadiin sepupu Jihoon jadi gak bisa aku pake buat jadi orang ketiga diantara hubungan unyu Soonhoon. Bisa sih pake Mingyu, tapi dihati aku Mingyu cuma punya Wonwoo. Hehe :) Jadi pake Seokmin aja, soalnya Jisoonya juga udah sama Seungcheol.
4. Aku masih gak tau mau bikin Wonwoo taken sama Mingyu apa enggak. Kasih pendapat tolong.
Seperti biasa ya, tolong tinggalkan review buat menyemangati author yang sedang stress karena banyak tugas dan mau uts. Dan aku juga mau promosi lagi ff aku yang baru itu My Lovely . Kalian baca juga dong wkwk.
Ingat jangan lupa kasih review~
Thankseu~~
