Title : Seonsaengnim is My Umma

Author : Parkyoonhra

Cast : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Jung Changmin, and others

Genre : Family

Chapter : 7/?

Warning : Yaoi, MalexMale, Typos, Don't like Don't read

.

Happy Reading and Enjoy!

.

Chapter 7

Jaejoong terbangun pagi-pagi buta dan menyadari bahwa Changmin masih tertidur dalam pelukannya. Ia mencium pipi tembam milik murid kesayangannya itu dan membuat Changmin menggeliat dalam tidurnya. Changmin semakin mempererat pelukan tangan munggilnya pada tubuh Jaejoong untuk mencari kehangatan dari sosok seonsaengnim-nya itu. Jaejoong terkikik memperhatikan wajah tidur Changmin yang sangat imut. Jaejoong mengusap helaian rambut Changmin pelan.

"Eugh … umma,"

Jaejoong sedikit terkejut mendengar igauan Changmin dalam tidurnya. Apakah namja cilik itu barusan memanggilnya dengan sebutan 'umma'? Entahlah, Jaejoong merasakan getaran aneh di dalam dadanya saat Changmin memanggilnya begitu. Jadi, Jaejoong memutuskan untuk turun dari ranjang rumah sakit Changmin dan berencana untuk pulang ke rumahnya.

"Kau akan pergi?" suara bass nan serak khas seseorang yang baru bangun tidur mengagetkan Jaejoong.

Jaejoong mengalihkan pandangannya ke arah Yunho yang masih dengan rambut acak-acakan dan wajah mengantuk. Jaejoong mengutuk dirinya sendiri karena tanpa sadar terpesona oleh seorang Jung Yunho yang bahkan masih berpenampilan berantakan!

"A-aku harus kembali ke rumahku dan bersiap pergi mengajar di TK," jawab Jaejoong sedikit ragu. Ia merasa sedikit terintimidasi dengan tatapan tajam yang dilayangkan Yunho padanya.

Yunho merasa sangat kesal mendengar jawaban namja cantik yang kini sibuk merapikan barang-barangnya, "Changmin akan menangis saat terbangun dan tidak menemukan dirimu di sisinya."

"Aku akan kembali sebelum Changmin bangun. Aku janji hanya sebentar. Aku harus mengambil beberapa perlengkapan mengajarku di rumah, membersihkan diri, dan aku akan kembali membawakan makanan yang kujanjikan pada Changmin kemarin," jawab Jaejoong tanpa memandang Yunho karena kini dirinya tengah disibukkan menata rambutnya yang berantakan.

Yunho terlihat tidak puas mendengar jawaban Jaejoong. Namja tampan itu bangkit dari sofa tempatnya tidur semalam dan mendekati tempat Jaejoong berdiri di depan cermin.

"Jaejoong-ah," panggil Yunho.

Jaejoong terkejut saat menyadari suara Yunho yang sangat dekat darinya. Ia membalikkan tubuhnya dan menemukan Yunho yang hanya berjarak kurang dari tiga meter darinya dan tengah menatapnya serius.

"N-ne?"

"Berhentilah mengajar."

"Eh?"

"Berhentilah mengajar di TK dan rawatlah Changmin. Aku akan membayarmu 10 kali lipat daripada gajimu di TK," ujar Yunho tanpa keraguan sedikit pun.

"MWO?" sontak hal ini membuat namja cantik kita terkejut bukan main. Apakah barusan Yunho menawarinya sebuah pekerjaan? Atau memaksanya menerima sebuah pekerjaan?

"Changmin menyukaimu bahkan memintamu menjadi umma-nya. Kalau kau tidak mau menjadi umma-nya, kau bisa membantuku merawat Changmin. Aku akan membayarmu. Tapi kau harus keluar dari pekerjaanmu yang sekarang."

Jaejoong mencoba mencerna penjelasan Yunho. Kemudian ia tertawa miris.

"Dengarkan aku, Jung Yuunho. Mungkin memang gajiku sebagai guru TK tidak seberapa. Tapi aku mencintai pekerjaan ini. Aku menyukai anak-anak dan aku senang mengajari mereka. Jadi aku tidak akan melepaskan pekerjaan ini walaupun kau membayarku 100 kali lipat."

Yunho mengerutkan alisnya.

"Lalu, aku menyayangi Changmin karena ia salah satu murid kesayanganku. Jadi kau tidak perlu membayarku karena aku akan merawatnya dengan senang hati."

Sejujurnya Jaejoong merasa sekit tersinggung dengan ucapan Yunho, tapi ia berusaha bersabar.

Jaejoong mengambil tas miliknya dan berjalan menjauhi Yunho kearah pintu keluar, "Aku akan kembali dalam dua jam."

BLAM

Pintu ruang rawat Changmin tertutup seiring kepergian Jaejoong. Sedangkan Yunho mengusap kasar wajahnya sedikit frustasi.

^_^ Seonsaengnim is My Umma ^_^

"Kau berkata seperti itu? Astaga, hyung. Kau merendahkan harga dirinya!" suara Yoochun memarahi Yunho dari seberang sambungan telepon.

"Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku ingin ia hanya fokus merawat Changmin," jawab Yunho membela dirinya.

"Tapi kau sudah melukai perasaannya, hyung."

"Benarkah?"

Yoochun rasanya ingin memukul kepala Yunho, "Tentu saja!"

"Lalu aku harus bagaimana, Yoochun-ah? Aku hanya tidak ingin Changmin bersedih, ia sangat menginginkan keberadaan seonsaengnim-nya."

Yoochun sangat tidak mengerti jalan pikiran seorang Jung Yunho. Tempo hari hyung-nya menelepon dirinya dan mengatakan bahwa ia jatuh hati pada guru baru keponakannya dan bahkan sudah menciumnya. Lalu, hyung-nya menumpahkan kemarahannya pada guru baru Changmin atas menghilangnya anak itu. Dan sekarang Yunho malah membuat hubungan keduanya semakin berantakan.

"Akui saja, hyung. Kau juga menginginkannya."

DEG. Perkataan Yoochun sontak membuat jantung Yunho berdetak lebih cepat.

"Satu-satunya cara agar Jaejoong-sshi selalu berada di sisi Changmin tentu saja menjadikannya umma Changmin. Kau harus menjadikan ia sebagai istrimu, hyung. Bukan hanya Changmin yang membutuhkan keberadaan Jaejoong-sshi di sisinya, tapi kau juga membutuhkannya, hyung."

Keduanya terdiam dan terlarut dalam pikiran masing-masing

Yoochun melanjutkan, "Kau harus membuatnya jatuh hati padamu, kau harus membuatnya mencintaimu dan tidak bisa berpaling darimu."

"Ya! Kau berbicara seperti itu seolah-olah itu hal yang mudah untuk dilakukan. Saranmu sama sekali tidak membantu."

Yunho bisa mendengar Yoochun tertawa di seberang line, "Kau akan sangat berterima kasih pada saranku yang luar biasa suatu saat nanti, hyung."

Yunho menutup sambungan telepon antara dirinya dan Yoochun. Duda beranak satu itu menghela napas memikirkan perkataan sahabatnya barusan. Harus Yunho akui, ia memang tidak bisa mengingkari lagi bahwa hatinya menginginkan Jaejoong, guru baru anaknya. Yunho ingin terus berada di sisi Jaejoong dan tidak boleh ada yang diperhatikan namja cantik itu selain dirinya, oke ia akan berbagi Jaejoong dengan Changmin, anaknya, tapi tidak dengan orang lain. Astaga, belum apa-apa saja ia sudah sebegini posesif, eoh?

Yunho melihat Changmin menggeliat dalam tidurnya dan tak lama kemudian manik musang milik namja cilik itu mulai terlihat. Changmin mengucek matanya dan mulai mencari keberadaan seonsaengnim yang semalam tidur bersamanya. Changmin sudah terbangun dan Jaejoong belum kembali sesuai janjinya! Yunho mulai khawatir anaknya akan menangis.

"Ceoncaengnim eodiga?" tanya Changmin saat tidak menemukan Jaejoong dalam kamar rawatnya.

Yunho mengusap kepala Changmin, merapikan helaian rambut anaknya yang sedikit berantakan dan mencium pipi tembam milik Changmin, "Seonsaengnim sedang pergi keluar sebentar. Changmin ingin makan sesuatu?" Yunho berusaha mengalihkan perhatian anaknya dari sang guru.

Changmin menggeleng, "Min mau ceoncaengnim~"

Air mata Changmin mulai menggenang di pelupuk matanya dan Yunho hanya bisa pasrah saat hangmin mulai menangis. Yunho memeluk tubuh mungil anaknya yang bergetar karena menangis.

"Uljima, ne. Seonsangnim akan segera kembali, sekarang Changmin mandi dulu, oke?" bujuk Yunho.

"Chilleo!" Changmin memukul tubuh Yunho untuk melampiaskan rasa kesalnya dan mengakibatkan selang infuse pada tangan kanannya tertarik. Tangis Changmin semakin hebat saat ia merasakan sakit pada tangannya yang mulai berdarah.

"Appo … hiks,"

Yunho segera memanggil dokter.

^_^ Seonsaengnim is My Umma ^_^

Changmin sudah tenang dengan tambahan perban yang membalut tangan kanannya dan tangan kiri yang menggenggam lollipop besar yang diberikan oleh dokter tadi. Changmin mengetuk-ngetukkan lollipop miliknya ke meja yang berisi sarapannya. Sepertinya namja cilik itu masih kesal karena wajahnya terlihat murung dan tidak bersemangat walaupun sudah tersaji makanan di hadapannya.

TUK TUK TUK

"Kau bisa merusak permenmu kalau terus mengetuknya ke meja, Changmin-ah," ujar Yunho.

"Bialin," jawab Changmin cuek tanpa menghentikan intensitas ketukan permennya.

Changmin sangat menyukai lollipop seperti makanan enak lainnya, tapi sekarang suasana hatinya sangat tidak baik jadi ia lebih memilih menghancurkan permen miliknya daripada memakannya.

"Arraseo, sekarang makan sarapanmu," Yunho mendesah frustasi saat Changmin terus mengelak dari suapannya.

"Ceoncaengnim kapan datang?" tanya Changmin penuh harap.

"Appa tidak tahu," jawaban Yunho yang semakin membuat Changmin beringas menghancurkan permennya.

"Permisi," suara halus nan lembut yang berasal dari pintu kamar Changmin mengalihkan perhatian duo Jung dalam kamar itu.

"Ceoncaengnim~" raut wajah CHangmin berubah gembira saat melihat kedatangan namja cantik favoritnya.

Changmin merentangkan tangannya pertanda ingin dipeluk, Jaejoong terkekeh melihatnya dan segera memeluk Jung Junior itu, "Kau sudah terbangun? Bagaimana tidurmu, hm?"

"Min mimpi makan macakan ceoncaengnim yang enak telus pas Min bangun ceoncaengnim udah gak ada."

"Bearkah? Mianhae, aku tadi pulang untuk membuatkanmu sarapan. Kau belum sarapan, aniya?"

Changmin menggeleng imut.

"Apa tadi kau menangis?" tanya Jaejoong karena ia bisa melihat wajah Changmin yang sembab.

"Ani."

"Anak pintar," puji Jaejoong sambil mengelus rambut Changmin.

Yunho hanya bisa mendengus mendengar jawaban anaknya. Dasar penjilat!

"Kau mau makan ini?" tunjuk Jaejoong pada makanan khas rumah sakit yang masih utuh di hadapan Changmin.

"Aniyo. Min maunya itu," Changmin menunjuk kotak makanan yang di bawa oleh Jaejoong. Tentu saja Changmin lebih memilih masakan Jaejoong daripada bubur rumah sakit yang hambar.

"Arraseo," Jaejoong menyingkirkan makanan rumah sakit ke meja terdekat dan mulai menata makanan buatannya untuk Changmin yang sudah terlonjak kegirangan di ranjangnya.

Yunho terus memperhatikan Jaejoong yang sibuk menata masakannya di hadapan Changmin. saat mata keduanya tidak sengaja bertemu, Jaejoong segera mengalihkan pandangannya.

"Ini. Kau belum sarapan juga, bukan? Aku membuatkannya untukmu," Jaejoong menyodorkan satu kotak makanan untuk Yunho tanpa menatap namja tampan itu.

Jaejoong membuatkan sarapan untuknya? Astaga, Yunho sangat senang!

"Jaejoong-ah, aku … aku minta maaf. Kau tahu? Mengenai perkataanku tadi pagi sebelum kau pergi …,"

"Gwenchana, Yun."

Yunho bisa merasakan ribuan kupu-kupu bertebangan dalam perutnya saat melihat Jaejoong tersenyum kepadanya. Yunho harus menahan dirinya untuk tidak memeluk Jaejoong saking gemasnya dengan makhluk sesempurna Kim Jaejoong.

Jaejoong menyuapi Changmin dan sesekali mengajak anaknya bercanda. Changmin tidak berhenti mengoceh tentang banyak hal dan Jaejoong selalu menanggapi cerita anaknya yang random ditambah dengan senyum malaikatnya, Yunho yakin Changmin merasa sangat senang. Yunho memakan makanan buatan Jaejoong yang sangat enak sambil memperhatikan keduanya. Benar-benar seperti sebuah refleksi gambaran antara ibu dan anak.

Sepertinya kata sempurna masih belum cukup menggambarkan seorang Kim Jaejoong. Jaejoong sangat indah menurut Yunho. dengan rambut pirangnya yang sepanjang bahu, wajahnya yang cantik, senyuman yang menawan serta kulitnya yang putih membuat semua orang berpikir bahwa ia seorang yeoja. Jika Jaejoong dan Changmin berjalan berdua pastinya banyak yang mengira bahwa keduanya merupakan pasangan ibu dan anak. Jika mereka berjalan bertiga, apakah akan terlihat seperti sebuah keluarga bahagia? Rasanya Yunho ingin mewujudkan hal itu menjadi kenyataan.

"Apa yang terjadi dengan taganmu, Changmin-ah?" tanya Jaejoong yang terlihat khawatir dengan keadaan tangan Changmin yang terbalut perban baru.

Changmin ikut memperhatikan tangan kanannya, ia mengangkat tangannya sedikit dan berkata dengan tampang polosnya, "Tadi beldalah."

Jaejoong mengambil tangan Changmin dan mengelusnya pelan, "Kenapa bisa berdarah?"

"Dia menarik selang infusnya hingga jarumnya menggores tangannya. Tadi ia mengamuk karena tidak menemukanmu saat ia terbangun," Yunho menjawab pertanyaan Jaejoong.

"Benarkah?" Jaejoong bertanya pada Changmin yang mengangguk meng-iya-kan.

"Kau tidak boleh melakukannya lagi, arra? Apakah masih sakit?" tanya Jaejoong khawatir.

"Cangat cakit."

Jaejoong meniup-niup tangan Changmin, mengelusnya pelan dan menciumnya, "Masih sakit?"

"Cedikit," jawab Changmin sambil menyengir dan memperlihatkan deretan gigi susunya yang rapi.

Yunho hanya bisa memutar bola matanya bosan melihat tingkah anaknya.

"Baiklah, seonsaengnim harus pergi sekarang."

"Andwe/andwe," Changmin dan Yunho sama-sama berteriak saat mendengar Jaejoong akan pergi membuat Jaejoong bingung dengan kekompakan ayah dan anak itu.

"Ceoncaengnim jangan pelgi ya~" Changmin memeluk lengan Jaejoong mencegah namja cantik yang ingin pergi itu.

"Seonsaengnim harus mengajar, Minnie-ah."

Yunho terdiam. Sebenarnya ia tidak rela Jaejoong harus pergi, tapi ia tidak ingin perbincangan seperti tadi pagi terulang kembali.

Jaejoong mengeluarkan beberapa macam buku cerita dan buku bergambar dari dalam tasnya dengan sedikit kesusahan karena Changmin sama sekali tidak melepaskan pelukannya pada lengan Jaejoong.

"Selama seonsaengnim pergi, Minnie bisa membaca buku cerita ini, ne. Karena tangan Minnie terluka, kau bisa meminta bantuan appa untuk membantumu mewarnai buku bergambar yang ini, otte?" tawar Jaejoong.

Changmin terlihat sedikit tertarik dengan buku cerita bergambar yang ditawarkan Jaejoong. Changmin melihat buku-buku itu dengan sudut matanya sedangkan tangannya enggan untuk melepaskan lengan Jaejoong. Jaejoong terkekeh melihat kekeraskepalaan Changmin. Bagaimanapun ia hanya seorang anak berusia lima tahun, bukan?

"Nanti sepulang sekolah, seonsaengnim akan mengajak Kyuhyun kesini. Minnie mau?" Jaejoong mengeluarkan senjata terakhirnya dalam membujuk Changmin.

"Kyunie?"

"Ne. Changmin tidak merindukan Kyuhyun? Padahal Kyuhyun sangat ingin bertemu Changmin."

"Min mau ketemu Kyu juga!"

"Kalau begitu, seonsaengnim akan pergi ke TK dan menjemput Kyuhyun agar kalian berdua bisa bertemu, oke?"

Yunho sangat kagum dengan cara Jaejoong dalam membujuk Changmin. Terkadang Yunho merasa sangat frustasi dengan tingkah anaknya, tapi Jaejoong bisa meyakinkan Changmin dengan kesabaran tingkat tinggi seperti itu. Luar biasa.

Jaejoong mencium pucuk kepala Changmin sayang sebelum mengambil tas miliknya dan bertatapan dengan Yunho.

"Aku akan mengantarmu," Yunho sendiri tidak yakin apakah kalimat barusan benar-benar keluar dari mulutnya. Keduanya sama-sama terkejut.

"Tidak usah, Yunho-ah." tolak Jaejoong.

Entahlah, Yunho hanya ingin lebih lama bersama namja cantik itu, "Kau akan terlambat jika naik bis."

"Kau benar. Aku akan mencari taksi. Kau kan harus menjaga Changmin."

Jaejoong benar. Yunho lemas saat Jaejoong berlalu menuju pintu keluar. Tapi tiba-tiba …

"Changmin-ah~ hyung-mu yang paling tampan datang~"

Yoochun masuk ke dalam kamar perawatan Changmin seperti seorang penyelamat bagi Yunho.

"Chun, kau jaga Changmin sebentar ya, aku akan mengantar Jaejoong," ujar Yunho sambil menarik tangan Jaejoong sebelum namja cantik itu mengeluarkan kalimat penolakan lainnya.

Tapi sepertinya Changmin tidak setuju dengan keputusan appa-nya, "Min gak mau belduaan cama ahjucchi jidat lebal ini."

"Ya! Apa kau masih akan berkata seperti itu setelah melihat apa yang kubawa, eoh?" Yoochun mengangkat sebuah mainan robot dan beberapa bungkus cokelat di tangannya membuat Changmin tersenyum sumringah dan segera mengangkat tangannya tinggi-tinggi seperti siap menerima pemberian Yoochun.

Tapi Yoochun tidak segera memberikan barang bawaannya pada Changmin, "Tadi kau bilang apa, Changmin-ah?"

"Min mau kok dicini cama Chun hyung yang tampan," Changmin akan melakukan apapun demi mainan robot dan cokelat-cokelatnya. Hahaha.

Yunho tersenyum. Yoochun memang selalu bisa menjinakkan anaknya. Jaejoong yang masih sedikit bingung hanya pasrah saat Yunho kembali menarik pergelangan tangannya.

Melihat tubuh Yunho dari belakang dan hanya berjarak beberapa centi di depannya membuat Jaejoong semakin menyadari ketampanan dan kharisma seorang Jung Yunho. Jaejoong semakin menundukkan kepalanya, menyembunyikan semburat pink yang menjalar hingga ke wajahnya.

"Gwenchana?" tanya Yunho yang sudah duduk di balik stir kemudi mobilnya dengan Jaejoong yang duduk di sampingnya. Yunho sedikit khawatir karena sedari tadi Jaejoong terus menunduk. Apakah namja cantik itu marah karena ia sedikit memaksa Jaejoong untuk diantar?

"Nan gwenchana. Tapi, apa tidak apa-apa kau meninggalkan Changmin untuk mengantarku?"

Yunho tersenyum, "Dia akan baik-baik saja. Sudah ada Yoochun yang akan menjaganya."

Keheningan menyelimuti keduanya saat Yunho mulai mengendarai mobil miliknya. Jaejoong sibuk menenangkan detak jantungnya yang menggila hanya karena berduaan dengan seorang Jung Yunho. Sedangkan Yunho bingung merangkai kata-kata dalam pikirannya.

"Kau menyukainya?" tanya Jaejoong tiba-tiba.

"Eh?" Yunho melirik Jaejoong dengan pandangan bertanya. Tapi namja cantik itu masih menundukkan kepalanya sambil memainkan jemarinya yang saling bertautan.

"Apa kau menyukai makanan buatanku?" tanya Jaejoong malu-malu. Yunho bisa melihat wajah Jaejoong yang merona.

Yunho terkekeh kecil. "Tentu saja. Makanan terenak yang pernah kurasakan seumur hidupku. Pantas saja Changmin sangat tergila-gila dengan masakanmu."

Jaejoong yakin wajahnya sekarang sudah semerah kepiting rebus.

"Seandainya aku bisa merasakannya setiap hari," gumam Yunho pelan.

"Eh?"

"Eopseo."

Jaejoong seperti mendengar Yunho mengatakan sesuatu. Tapi ia tidak jelas mendengarnya jadi ia diam saja saat Yunho berkata tidak ada apa-apa.

"Jaejoong-ah, menurutmu Changmin bagaimana? Kau gurunya, kurasa kau memiliki penilaian sendiri terhadap anak itu."

"Changmin anak yang pintar," Jaejoong melihat keadaan jalan dari kaca depan mobil Yunho seperti sambil membayangkan wajah tersenyum murid kesayangannya itu, "aku sendiri sering terkejut dengan tingkat kecerdasannya yang lebih unggul daripada teman-teman seusianya. Ia juga sangat manis dan lucu. Tingkahnya membuat semua orang tersenyum dan ingin terus memeluknya. Ia sangat riang dan ceria apalagi aku sangat senang karena ia sangat menyukai masakanku."

Yunho memperhatikan Jaejoong yang tertawa kecil saat menceritakan tentang anaknya.

"Kau menyayanginya?" tanya Yunho.

"Tentu saja," jawab Jaejoong penuh kepastian.

"Kalau begitu, menurutmu aku bagaimana?"

"Eh?" Jaejoong yang bingung menatap wajah tampan Yunho.

Yunho balas menatap Jaejoong, "Menurutmu aku orang yang seperti apa?"

Jaejoong segera mengalihkan pandangannya saat Yunho tersenyum kearahnya, "K-kau sangat tampan. Seorang ayah yang sangat baik untuk Changmin. Kau sangat perhatian, lembut dan penuh kasih sayang."

Tanpa sadar Jaejoong malah terus memuji Yunho.

"Apa kau menyukaiku?" goda Yunho.

"Eh?" Jaejoong terus dibuat terkejut dengan pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh Yunho.

Yunho tersenyum sendiri mendengar pemikiran Jaejoong mengenai dirinya membuatnya sangat senang. Hahaha.

"N-ne. aku meyukaimu," rasanya Jaejoong ingin menceburkan dirinya ke dasar sungai amazon. Kenapa ia berkata hal sememalukan itu di hadapan Yunho? Yunho pasti akan berpikiran aneh tentang dirinya.

Yunho segera menepikan mobilnya ke pinggir jalan dan menatap Jaejoong tidak percaya. Jaejoong yang ditatap seperti itu malah menutup matanya erat dan menundukkan wajahnya. Namja cantik itu menggigit bibirnya resah.

"Jaejoong-ah," panggil Yunho sambil memgang dagu Jaejoong dan mengangkat kepala namja cantik itu.

Jaejoong membelalakan matanya saat merasakan sensasi aneh yang pernah menyerang bibirnya juga. Yunho menciumnya! Lagi!

Yunho melepas pagutan bibir keduanya dan berkata sambil tersenyum, "Aku juga menyukaimu," kemudian ia melanjutkan sesi ciuman mereka.

Jaejoong tidak bisa berpikir lagi, hisapan Yunho pada bibirnya seolah menghisap akal sehatnya pula. Jadi Jaejoong memilih untuk mengalungkan tangannya pada leher Yunho dan menikmati sensasi memabukkan yang Yunho berikan padanya…

"Aku akan menjemputmu nanti," ucap Yunho sebelum meninggalkan Jaejoong yang sudah sampai di depan pagar TK tempatnya mengajar.

Jaejoong masih berdiri di tempatnya berdiri bahkan setelah mobil Yunho tak terlihat lagi. Apa-apan tadi itu? Apakah Jaejoong baru saja menyatakan perasaannya pada Yunho? Dan apakah tadi Yunho membalas perasaannya? Lalu apakah sekarang mereka … kau tahu? Berpacaran?

Jaejoong geli sendiri dengan pemikirannya. Kau pikir Jaejoong siapa? Remaja belasan tahun yang dimabuk asmara?

Sepertinya begitu … :D

.

.

.

TBC

I'm back, guys~ saya baru selese ujian bbrp hari yg lalu dan seketika saya kehilangan ide buat ngelanjutin ff saya, jadi saya hrs berpikir keras memikirkan kelanjutannya :D semoga gak ada yg marah krn apdet yg super lama ini ya … saya jg mau ngucapin makasih yg udah ngedoain saya dan ujian saya kemarin. Gomawo, chingudeul~ terus saya mau ngucapin makasih juga buat semua yg masih nungguin kelanjutan ff ini…

jadi gimana menurut kalian chapter ini? Kalo ada yg krg berkenan bilang aja ya biar bisa jadi koreksi utk saya kedepannya. Thaks all~

.

Special Thanks to:

Dipa Woon, hanasukie, 3kjj, Lady Ze, Clein cassie, queen harkyu, gwansim84, Summer Cassie, Yuu si fujoshi, diya1013, nunoel31, riska0122, Angel Muaffi, princesssparkyu, matokeke, akiramia44, ifa. , vampireyunjae, dhian930715ELF, YunHolic, lanarava6223, ChwangKyuh EviLBerry, Desty Cassie, toki4102, gdtop, nin nina, Taeminho597, Niiraa, Hanazono Myori Aikawa, yoon HyunWoon, .9, Nee-chan CassieBigeast, BlaueFEE, RaraRyanFujoshiSN, Casshipper Jung, DeLoAniMan U-know, zhe, danactebh, FiAndYJ, Hana - Kara, yeYeWooKIM97, Vic89, .5, .549, Jaylyn Rui, anastasya regiana, YeChun, Cho Sungkyu, KJhwang, BlacknightSkyeye Yue- Hime, Yjboo, haruko2277, lovgravanime14, hyejeong342, magnaeris, bebe fujo, Mily1909, saltybear, chibiechan01, KJhwang, Ovie Ovi, xena hwang, chantycassie, nanajunsu, CuteCat88, chindrella cindy, ayyaLaksita, Anik0405, Ria, Elzha luv changminnie, WineMing, Nila Arieswari, ajid yunjae, min, fuyu cassiopeia, lee sunri hyun, jaena, wenn12, Dennis Park, shendylopyunjae, diyas, momochan, jiy, pumpkinsparkyumin, JungKimCaca, okoyunjae, DBSJYJ, Vivi, nickeYJcassie, yume mitai, hongkihanna, Haeri Chu, marsyashim, Jung Unn Soo, hye jin park, lee yuno, Star Litz, uknowsay, ParkDoMyon Zi Tao, , maichannie26, Jenny, starlight, , guests, and para siders~