Seluruh anggota Kiseki kini dikepung oleh para anak buah milik Kurama, wanita-wanita tersebut yang nyatanya NPC menyerang mereka bertubi-tubi dengan selendang-selendang sutra yang terlihat halus namun sekuat baja tersebut.

Ryouta menghindari serangan tersebut dengan terbang keudara menggunakan sepasang sayap transparan seperti capung, diikuti Kazunari yang terbang dengan sepasang sayap putih seperti burung merpati, tapi tampaknya tindakan mereka tidak berpengaruh sama sekali karena nyatanya, anak buah sang Kurama juga bisa terbang melayang dan selendang mereka bisa memanjang dan kini berhasil melilit kaki mereka dan menghentikan pergerakan mereka.

Ryouta dan Kazunari dengan cepat mengayunkan tangan mereka membentuk gesture mantra penyerang yang sayangnya kalah cepat dengan lilitan selendang yang datang dan memisahkan tangan mereka kesisi yang berbeda. Kini mereka berdua tak bisa bergerak dan tampak tak berdaya karena gerakan mereka telah dihentikan

Kazunari menggeram kesal, dia melemparkan pandangannya kebawah berharap kekasihnya - Midorima - , tidak senasib dengannya , yang ternyata salah hampir semua temannya telah dihentikan gerakannya oleh musuh kecuali Kaptennya yang masih menyerang musuh dan Tsheyka yang dilindungi tameng sihir milik perinya

Seijuurou kembali menembakan petir kearah musuh dengan daya serang yang kuat, berhasil menghancurkan musuh yang berada disekitarnya, namun anak buah dari Kurama masih kembali bermunculan sedangkan energy miliknya sudah hampir mencapai batas, disisi lain Tsheyka tampak sibuk merapalkan mantra dibawah naungan perlindungan perinya

Seijuurou sudah sampai dimana titik ketidakberdayaannya, dengan levelnya yang masih belum cukup tinggi dengan melawan musuh yang tidak ada henti bermunculan, dan cukup merepotkan karena membatasi ruang geraknya bukan saja karena jumlah mereka, tapi bagaimana para NPC itu melakukan serangan terus menerus secara bergantian, berusaha melilitnya sama seperti anak buahnya sekarang

Seijuurou yang diserang dari berbagai sudut akhrnya terlilit oleh selendang yang kini menghentikan gerakan kedua tangannya, disusul kakinya. dari sudut matanya dia melihat Tsheyka masih melakukan aktifitas yang sama dari beberapa menit yang lalu, sedangkan peri pelindungnya sudah mulai kehabisan energy, Dilihat dari tameng sinar tersebut yang mulai berkelip-kelip tanda hampir kehabisan daya

Satu serangan kuat dari sebuah selendang menghancurkan tameng tersebut seperti kaca, dan sang peri pelindung jatuh terkulai tak berdaya ditelapak tangan sang penyihir yang kini menatap datar sekitar

Satu kata yang terlontar dari sang icy blue, merubah situasi dengan cepat.

"Lepas!"

Musuh-musuh mereka mendadak jatuh seperti daun yang gugur dan menghilang – terhapus seperti program rusak kembali bersatu dengan database game, tak lama kemudian lilitan selendang yang mengikat para Kiseki lenyap juga melepaskan mereka semua. Belum sempat mereka mengutarakan ketakjuban mereka pada sang icy blue, gadis tersebut jatuh terkulai tak berdaya, tak sadarkan diri karena energinya yang kini tersisa tak lebih dari 0,2%

.

.

.


Disclaimer :: Tadatoshi Fujimaki

Warning :: Shonen Ai/Yaoi,Gender Bender, Rated T, OOC, Alur mungkin Kecepatan dan jalan ceritanya klise?, penulisan kata juga tidak sesuai dengan bahasa Indonesia yang benar , dan mungkin masih banyak kesalahan lainnya

Genre :: Romance, Friendship, Fantasy.

Pairing :: Kuroko x Akashi, n masih banyak Pairing lainnya


.

.

Game 7 (AoKi)

Daiki mengelus helaian rambut icy blue milik Tsheyka dengan lembut, gadis itu masih tak sadarkan diri. Mengembalikan energinya dengan tertidur – tidak log out maupun log in, tapi kesadaran gadis itu masih ada hanya tak sanggup membuka kelopak mata

Tak jauh berbeda dengan sang penyihir, perinya pun bernasib sama, tak bergerak dan tak berdaya mirip seperti Thinker bell yang sekarat saat meminum racun dari Kapten Hook.

Daiki menatap lekat-lekat sang peri, bergenyit bingung karena sang sepupu jatuh hati pada sebuah NPC mungil yang suka nangkring duduk dan terdiam diatas pundak milik icy blue. Memang benar Peri ini memiliki rambut silver lembut seperti benang laba-laba yang berkilauan, lalu kulit putih berkilau seperti persolen, tapi memang ada NPC Peri yang tak sempurna!

Daiki mengalihkan perhatiannya ketempat lain, tidak mau berlarut-larut memikirkan kegilaan Taiga, dan matanya menatap Satsuki yang sudah diselamatkan tampak terduduk sambil memeluk lututnya erat, menangis dengan intonasi seduan yang konstan dan mengiris. Tidak ingin bertatap muka dengan semua teman se-teamnya. Hal itu dapat dimaklumi

Siapa yang tak akan bertingkah seperti itu jika, Kekasih-mu.. hn maksudnya replica kekasihmu ditebas dan dibunuh didepan mata oleh temanmu? Jadi begitulah perasaan Satsuki sekarang. Jadi lebih baik tinggalkan dia untuk menenangkan diri, dan menyadari kalo kekasihnya masih hidup dan bernyawa diluar sana

Mata Daiki kembali menelusuri sekitar dan beradu pandang dengan mata citrine yang menyorotkan emosi tak terbaca, sebelum pemilik manic citrine tersebut memalingkan muka menghilangkan kontak mata mereka. rasa sesak sesaat menghantam Daiki karena penolakan kecil tersebut, dan dia kembali meringis kecil, memasukan tangannya kedalam kantong celana dan meremas pelan kotak kecil yang berada didalam kantong tersebut

Kali ini Daiki menatap sang Kapten, pria bersurai scarlet tersebut, tampak menatap Tsheyka yang tertidur diatas pangkuan Daiki, mengepalkan tangannya dengan kuat berusaha menahan sesuatu. sorot mata dari manic hetercomenya terbaca dengan jelas oleh Daiki, sorot yang sama yang sering dia pancarkan 'ingin menyentuh, tapi tak bisa menyentuh'

Seijuurou yang kini dihadapannya tampak seperti buku terbuka, pikirannya mudah terbaca oleh Daiki. Terlalu mudah, hingga tak bisa tidak menimbulkan seringaian diwajah pemuda tan tersebut

Ingin menyentuh, tapi tak memiliki hak untuk menyentuh… kesadaran jika dia tak bisa untuk menginginkan sekali lagi sesuatu yang dimiliki oleh Daiki. Ryouta yang Seijuurou tahu merupakan orang yang disukai oleh Daiki, tapi kini menjadi tunangannya. Tsheyka yang merupakan tunangan Daiki, yang mungkin kini menjadi orang yang berharga bagi Daiki. dia tak bisa untuk bersikap egois kali ini, menggunakan kekuasaannya untuk menjadikan gadis tersebut miliknya.

Mungkin ini adalah suatu hal yang pantas diterimanya, cukup satu kali keegoisan keluarganya menuntunnya untuk membuat hubungannya dan Daiki memburuk, tidak dengan keegoisannya kali ini yang menginginkan cinta dari gadis milik Daiki

Seijuurou berjalan menjauhi Daiki dan Tsheyka, mungkin ini yang dimaksud oleh sepupunya tersebut, Dia memilih Ryouta, karena tidak percaya cinta dan lihatlah dia saat cupid benar-benar memanah dirinya membuat dirinya menyesal dan ingin memutar ulang segalanya ketempat seharusnya. Seakan-akan ucapan sepupunya menjadi nyata

Nyata? Tunggu… Seijuurou tahu jika keluarga Aka memiliki kemampuan menerka kejadian masa depan tapi tidak seekstrim ini, dan hal ini dilakukan kekeluarga Aka yang lain! Ada sesuatu yang dilewarkan dirinya pasti

Ah, kenyataan jika Tsheyka dan Yukiko saling mengenal, bahkan dia tidak mengetahui alasan kenapa Tsheyka ikut bermain game ini, entah hanya kebetulan semata atau memang direncana? Tapi untuk apa, Yukiko merencanakan sesuatu jika pada kenyataannya gadis itu tahu jika Tsheyka merupakan tunangan Daiki.. dan jelas dia ini seorang Gay, tapi dia mulai mempertanyakan orientasinya kembali karena tertarik pada Tsheyka yang perempuan. Pasti ada sesuatu yang dia lewatkan dan di abaikan

Pertanyaannya sekarang, haruskan dia melabrak Yukiko? Tidak melabrak maupun menayakan langsung gadis itu tidak akan menemukan titik temu apapun, jika benar ada maksud tersembunyi dari Yukiko, dia harus mencari sendiri sesuatu yang dia lewatkan. Hn, mungkin dia harus melakukan tindakan ekstrim. Mungkin saatnya meminta orang tersebut melakukan pekerjaannya…

.

.

.

.

.

.

.


Real World:: Kise POV

Aku mematikan Nerve Gear milikku, mengedipkan mata berkali-kali untuk membiasakan cahaya yang muncul. Dengan gerakan pelan aku meregangkan otot-ototku yang kaku dan melangkahkan kakiku menuju cermin, menatap refleksi diriku yang berekspresi datar, tidak cukup datar karena pancaran emosi dimataku

Meringis pelan karena belenggu keluarga Kise mengikatku, aku masih berharap ada dimana kesempatan Akashi membatalkan perjodohan ini, karena aku tak memiliki kemampuan untuk membatalkannya. Menentang keluarga Akashi berarti kehancuran, dan itu mutlak tak tergoyahkan

Bingung ingin melakukan hal apa, aku kembali menghempaskan tubuhku kekasur dan menggeliat malas disana. Hari ini, dalam The Highest Crown, terlalu banyak kejadian yang mengejutkan. Kurokocchi yang merona, padahal wajah malaikat itu lebih sering datar dan berkali-kali menyentuh bibirnya. Lalu Akashicchi yang mengeluarkan aura dingin dan menjaga jarak. Aku menyimpulkan pasti ada kejadian yang berhubungan dengan – pipi merona – bibir – dan menjaga jarak = ciuman! – apakah berarti orientasi Akashhichi sudah kembali normal dan ada lampu hijau baginya untuk Akashi yang membatalkan pertunangan?

Lalu kejadian pernyataan tak terduga dari orang yang mengaku sepupu Aominecchi kepada Kurokocchi, bukan hal itu saja yang mengejutkan melainkan respon Aominecchi yang justru tidak merespon apa-apa, justru mengulum senyum saat melihat ekspesi geram dari Akashicchi – hal yang sangat tidak wajar!

Demi semua majalah yang mencetak gambar dirinya, ada sesuatu yang tak beres disini!. Bisakah dia mengambil kesimpulan jika Kaptennya yang merupakan tunangannya menyukai tunangan dari orang yang disukainya? Bisakah dia menyimpulkan Aominecchi yang tidak cemburu kepada sepupunya berarti tidak mencintai Tsheyka. Bolehkah dia berharap?

Aku rasa ada sesuatu yang harus kupastikan disini. aku sudah tahu, jika aku tidak ada dihati Akashicchi dan itu melegakan. kini bolehkan aku mencari tahu posisiku dihati Aominecchi?

Dengan rasa yang berdebar-debar, aku kembali membangunkan tubuhku dan bergegas mandi, aku akan pergi untuk memastikan segalanya, sudah waktunya aku berhenti dan bertopang mengikuti alur takdir, saatnya membuat terobosan. Apapun hasil akhirnya!

.

.

.

.

.


Author POV

Ryouta meremas tangannya yang mulai berkeringat dingin, padahal saat dirumah hatinya sudah kuat untuk menerima segala konsekuensi tapi kenapa saat ini dia mulai goyah? Baru saja Ryouta ingin memutar badannya dan berjalan menjauhi kediaman Aomine, pintu itu terbuka menampilkan sosok tinggi berkulit tan yang sangat dikenalinya

"Kise!" ada nada terkejut dari suara Daiki

"hay…" kata Ryouta lemah

"Ada apa?" tanya Daiki

"ano… bolehkah Aku masuk dulu?" tanya Ryouta, ekspresi Daiki langsung sedikit memucat tapi langsung kembali normal dan mempersilahkan pemuda itu masuk dan mengikutinya kekamar

Ryouta duduk diatas sofa kamar Daiki, sambil memainkan tangannya, dia masih bingung harus memulai pembicaraan darimana, dan untungnya dia masih ada waktu berfikir karena Daiki sedang kebawah mengambilkan minuman dan beberapa cemilan untuk dirinya

Suara pintu yang terbuka mengembalikan focus Ryouta kedunia nyata, dia menatap Daiki yang sedang membawa nampan berisi minuman dingin dan dua potong cake keju menimbulkan sedikit tonjolan pada otot bisep milik pemuda tan tersebut, salah satu bagian tubuh Daiki yang sangat disukai Ryouta, dan kali ini Ryouta berusaha menahan pipinya yang ingin merona

"jadi, Kise. Ada apa kau berkunjung kerumahku dimalam hari seperti ini?"

"hn, ano… aku" Ryouta mengigit bibir bawahnya gugup, tidak sadar jika tindakannya menimbulkan percikan api dikedua mata sapphire milik Daiki

"aku hanya ingin menayakan sesuatu yang mengganjal pikiranku saja ssu" kata Ryouta, membuat Daiki bergenyit bingung

"dan apakah itu?" tanya Daiki, menatap lekat wajah Ryouta dan melukisnya dalam pikirannya. Wajah Ryouta yang gugup dan canggung – sangat manis

"ini mengenai kejadian di The Highest Crown. Kenapa kau tidak marah saat tunanganmu didekati pria lain yang jelas mendeklarasikan pernyataan cinta padanya ssu?"

"apakah hanya itu yang ingin kau tanyakan, Atau ada yang lainnya?" Daiki berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati Ryouta.

Sial! Dia tidak tahan melihat ekspresi canggung dan gugup serta rona diwajah cantik Ryouta. Kenyataan bahwa Seijuurou tak menyimpan perasaan lebih pada pemuda cantik dihadapannya, sudah cukup untuk melepaskan segala belenggu yang menahan dirinya

"Adakah yang lain Kise?" Daiki kini duduk diatas meja, berhadapan dengan Ryouta dan menopang dagu Ryouta dengan kedua jarinya untuk menatapnya

"A-a-aominecchi" semburat merah kini semakin jelas terlihat, kedua bola mata berwarna citrine itu terbelalak sempurna – terkejut saat sebuah sentuhan tegas, kasar sekaligus lembut menyentuh bibirnya

Daiki melumat bibir Ryouta dengan rakus, merasakan tekstur lembut bibir pemuda pirang tersebut dan mencecap rasa dengan lidahnya, menggoda dan menuntut, menimbulkan desahan-desahan yang makin membakar libido sang navy

"aaah, A-a-aomine-cchi"

Daiki mengigit bibir bawah Ryouta, menuntut akses lebih untuk merasakan tekstur dalam mulut tersebut, Ryouta membuka bibirnya sekaligus terpekik terkejut saat Daiki mendorongnya pelan hingga terbaring telentang diatas sofa, untuk sesaat kontak fisik mereka terlepas

Ryouta merasakan pikirannya blank, dia hanya ingin merasakan Daiki dibibirnya, diatas tubuhnya, merasakan panas tubuh mereka berbaur saling memanaskan

"Aominecchi" lirih Ryouta, sambil mengulurkan kedua tangannya berusaha meraih Daiki yang masih berdiri dengan lututnya menatap intens Ryouta, mengamati wajah pemuda pirang tersebut yang merona indah, dengan mata sayu dan nafas teputus-putus

Mendesis tertahan, Daiki merayap diatas tubuh Ryouta, kembali memanggut bibir pemuda tersebut lebih buas dan kasar, melesakan lidahnya mencecap rasa dan mengabsen deretan gigi Ryouta, menyentuh dinding mulut atas Ryouta dengan sensual dan menggoda lidah milik pemuda tersebut

Deru nafas mereka berdua kini memburu, Ryouta sudah melupakan tujuan awalnya kesini dan mendapatkan jawaban tanpa perlu menanyakan. Daiki menyukainya – Daiki menginginkannya, dan kini pemuda tan tersebut sedang menggerayangi tubuhnya berusaha membuka kaos yang menutupi badannya

"Aniki, bisakah kau membantuku…" sebuah suara mengintrupsi kegiatan mereka, membuat kedua tubuh yang melekat tadi terpisah dengan paksa, menyisakan saliva dibibir Ryouta dan Daiki.

Dengan nafas yang masih terputus-putus, Ryouta berdiri menyusul Daiki yang sudah berdiri menatap kesal pemuda didepan pintu kamarnya

Tetsuya yang memang tidak tahu apa yang sedang dilakukan kakaknya karena terhalang kepala sofa yang menghadapnya, langsung melotot tak percaya dan merona saat melihat Ryouta berdiri dengan penampilan berantakan dan wajah memerah. Tidak perlu IQ tinggi untuk menebak hal apa yang mereka lakukan dan akan mereka lakukan andai dia tidak masuk. Pantas kini kakaknya menatapnya dengan pandangan mematikan yang jarang diperlihatkan tersebut

"A-ano… ka-kami bisa jelaskan" kata Ryouta gugup dan menunduk sebelum mengadahkan kepalanya menatap pemuda didepannya "Ku-Kurokochi?!"

Mata Tetsuya membulat sempurna, sial keterkejutannya membuatnya melupakan jika dia sedang menggunakan wujud aslinya, dan tampaknya sang Navy juga melupakan kenyataan tersebut, akibat kegiatan panasnya dan Ryouta beberapa waktu lalu

Daiki dan Tetsuya hanya bisa terdiam menunggu reaksi Ryouta selanjutnya.

"ah, aku bisa jelaskan ini semua Kurokocchi…" Ryouta berkata gugup belum menyadari keganjalan didepannya, pikirannya kalut dia lupa mengenai fakta, bagaimana perasaan Tsheyka kepada Daiki, dia melupakan fakta penting tersebut.

Ryouta menatap Tetsuya dengan lekat, dia kembali menyadari sesuatu. bukankah Tsheyka tinggal di Hokaido? Dan… Tsheyka memiliki rambut pendek dan memakai pakaian cowok?

"Kurokocchi, kenapa kau terlihat seperti anak laki-laki? Ah, bukan aku bilang kau tidak manis dan cantik sebagai perempuan ssu! Kau terlihat tomboy…dan tetap manis kok"

Kedua alis Tetsuya berkedut kesal, tidakkah Ryouta menyadari bahwa dia ini adalah anak laki-laki? Dan apa tadi - tetap cantik dan manis sebagai perempuan!

Daiki terkikik disamping Ryouta, yang kini menatap Daiki dengan bingung dan polos. Apa yang lucu disini?

"berhentilah tertawa Aniki!" kata Tetsuya datar dan dingin

"Aniki?" beo Ryouta

"oh, sudah kubilang lebih baiki kau terlahir sebagai perempuan Tetsu"

"urusai!" bentak Tetsuya, sambil mengembungkan pipinya

"terlahir sebagai perempuan? Tetsu?" beo Ryouta lagi….

"tunggu, ada yang bisa jelaskan aku sesuatu disini?" tanya Ryouta yang kini linglung, otaknya sepertinya gagal mendeskripsikan situasi disini

Tetsuya kembali memasang ekspresi datarnya "Aniki, jelaskan"

"heh, kenapa aku? Inikan ceritamu otoutou!" Tetsuya melemparkan tatapan tajam ke Daiki, yang dibalas helaaan nafas pasrah dari sang navy

Mereka duduk disofa kamar Daiki, Tetsuya duduk disebrang seorang diri, tidak ingin duduk diatas sofa yang tadi habis menjadi saksi bisu AoKi, Ryouta bersemu merah saat melihat delikan Tetsuya kearah sofa tersebut, dan Aomine mendadak canggung

"Jadi ceritakan" kata Tetsuya, seperti orang yang meminta penjelasan. Membuat Daiki dan Ryouta sweatdrop ditempat, bukankah harusnya Ryouta yang berkata seperti itu?!

"sejujurnya Kise" kata Daiki yang tiba-tiba terhenti, bingung menjelaskan darimana

"-Aku mencintaimu" intrupsi Tetsuya dengan nada datar "tidak. itu tidak ada di naskah"

Daiki menatap sengit adiknya, sejak kapan mahluk serupa malaikat tersebut menjadi begitu menyebalkan? Hah, dia lupa sudah dari dulu…

"jadi…" kata Ryouta

"ehem, sebenarnya gadis bernama Tsheyka itu tidak pernah ada, well… maksudku dia itu sebuah tubuh programming yang kebetulan digunakan adikku yang sebenarnya laki-laki"

"tunggu! Jadi kau ini laki-laki dan adiknya Aominecchi?" tanya Ryouta menatap sosok manis berambut icy blue yang memiliki kulit seputih salju dan tubuh mungil

"tidak mirip ssu! Kau anak angkat ya Aominecchi?"

Kedutan kecil muncul didahi Daiki, dan seulas senyum simpul muncul dibibir Tetsuya. Hah, kenapa reaksi setiap orang sama?

"dan bukankah di The Highest, tidak bisa mengubah gender?"

"ya, itulah kehebatan Nerve gear LE, oleh karena itu aku membuat Tetsu menjadi tunanganku, karena aku tidak memiliki adik perempuan seusianya dan lagipula aku tidak ingin dikira kalo adikku melakukan transgender, walaupun gendernya pun tidak meyakinkan sebagai laki-laki" ucap Daiki yang langsung mendapatkan hadiah lemparan asbak dikepalanya

Tetsuya mendengus angkuh, sedangkan Ryouta terkikik geli.

"jadi sia-sia aku cemburu selama ini ssu!" gumam Ryouta yang didengar oleh Daiki

Daiki menyeringai jahil dan langsung menggengam kedua tangan Ryouta, mencodongkan tubuhnya kearah pemuda tersebut "tidak ada yang sia-sia, Kise"

Sebuah bantal terlempar dan mengenai punggung Daiki "jangan berbuat mesum didepanku, aniki"

"cih, kau menyebalkan Tetsu"

"Terimakasih. Lagipula Aniki, kau lupa pemuda yang tangannya kau genggam itu adalah tunangannya Akashi-kun" kata Tetsuya datar. Membuat Daiki melepaskan pegangan tangannya dan kembali keposisi duduk yang benar

"cih, kau tidak bisa membiarkan aku dan Kise bahagia apa tanpa mengingatkanku kepada iblis merah tersebut. Dasar kau iblis biru!"

"tidak, kau tidak bisa. Selama Kise masih merupakan tunangan Akashi-kun, aku menentang hubungan kalian. Itu membahayakan… lagipula mana ada hal yang bisa membuat Akashi-kun membatalkan pertunangannya dengan Kise-kun. Jadi lebih baik kalian tidak usah memulai sesuatu sejak awal"

"wow Tetsu, itu kalimat terpanjang yang kau ucapkan." Gumam Daiki

"heh, siapa bilang tidak ada hal yang bisa membuat Akashi membatalkan perjodohan ini" Daiki menyeringai lebar membuat bulu kuduk Tetsuya meremang

'kenapa aku merasakan hal yang tidak enak' batin Tetsuya

"ah, aku ingat masih harus mengerjakan PR-ku. Jaa" pamit Tetsuya yang langsung meninggalkan kamar Daiki

"heh, emang ada?" tanya Ryouta setelah Tetsuya pergi

"apa?"

"cara agar membatalkan pertunanganku dengan Akashicchi"

"ada. Tetsuya caranya" Daiki kembali menyeringai dan mencium punggung tangan Ryouta

Ryouta tampak berfikir, sebelum dia mendapatkan gambaran mengenai maksud dari Daiki "Heeee! Itu kejam ssu. Memberikan malaikat kepada Iblis seperti Akashi"

"ck, dari awal Tetsuya itu bukan malaikat hanya berwajah malaikat. Lagipula aku butuh pernyataan dari tindakan si Akari itu mengubah Tetsu menjadi perempuan. memang Nerve Gear LE dapat mengubah gender pemain sekalipun digames yang melarang perubahan gender sekalipun , tapi dari cerita Tetsu dulu, Akari memaksanya menjadi perempuan. Dan tadi Tetsu juga bercerita kalo Akari mengubah dia menjadi perempuan untuk meredam rasa cemburu kakaknya kepada kita semua. Tapi jika memang benar begitu, kenapa tidak dari awal Akari menjelaskan seperti itu kepada Tetsu daripada memaksanya? Ada hal yang aneh disini"

"eh, sejak kapan Aominecchi pintar ssu?"

Daiki mendelik sebal ke Ryouta, kenapa orang disekitarnya menyebalkan semua? Bahkan orang yang dicintainya juga.

Dengan gemas Daiki mengacak surai pirang Ryouta membuat Ryouta menggerutu kesal, yang langsung dihadiahi ciuman dipipi oleh Daiki yang kini membuat wajah Ryouta kembali bersemu merah

.

.

.

.

.


Real World:: Yukiko room

Yukiko berjalan mondar-mandir menglilingi kamarnya, sesekali dia menatap keluar jendela menunggu siluet berambut merah berjalan menelusuri taman dari Mansion utama menuju Paviliun tempat tinggalnya. Tapi, nihil hal yang ditakutinya tak kunjung terjadi padahal dia sudah menyiapkan koper mini, selendang, topi dan kacamata hitam serta kunci mobil terbangnya andai hal itu terjadi. Ini lebih mengerikan, seperti akan ada badai yang akan terjadi

Berusaha menenangkan diri dan berharap Seijuurou tidak melakukan tindakan yang tidak terfikir olehnya, Yukiko berjalan mendekati sofa dan duduk disana. Suara panggilan masuk mengalihkan tatapannya, dahinya berkerut bingung saat mendapati nama Daiki tertera disana

Menekan sebuah tombol, Yukiko mengalihkan panggilan video tersebut kelayar lebar dihadapannya dan langsung memperlihatkan sosok Daiki serta Ryouta disana

"hay, Daiki-kun, Ryouta-kun. Ada apa?"

"langsung keintinya saja. Apa yang sedang kau rencanakan Akari?"

"heh, kenapa kau berpikir aku merencanakan sesuatu?" Yukiko memelintir rambut disamping kanannya. Daiki menyipit curiga menatap Yukiko seperti melasernya

"jangan berusaha mengintimidasi-ku itu tak berguna" kata Yukiko dingin

"lagipula sepertinya segala sesuatu berjalan seperti perhitunganku" Yukiko menatap layar tersebut sambil tersenyum culas saat melihat tanda kemerahan dileher Ryouta

Daiki yang menyadari arah pandangan Yukiko langsung melihat kearah leher Ryouta yang kini dipenuhi kiss mark darinya

"rencana-mu berhubungan dengan kiss mark yang kububuhkan ke Ryouta?" ucapan Daiki tersebut membuat Yukiko tersenyum lebar dan Ryouta kelabakan menutupi tanda yang diciptakan Daiki tersebut

"hampir seperti itu~" kata Yukiko dengan nada sing n song "tapi, inti rencana ku ini, ada dua pemeran utama yang tak boleh mengetahuinya. Toh kalian tahu atau tidak sebenarnya tidak masalah sekarang, karena pencapaian pertama ku berhasil tanpa perlu campur tangan"

"Tetsuya-kun" Yukiko mengangkat pion Ratu hitam dari papan catur didepannya dengan tangan kanan

"dan Seijirou-kun" Yukiko mengangkat pion Raja merah dengan tangan kirinya "mereka berdua tidak boleh tahu dengan rencana yang kulakukan, karena itu letak menariknya"

"jadi apa rencana-mu? Aku tak akan memberi tahu Tetsu selama itu tidak berbahaya baginya"

"tenang ini tidak berbahaya. Aku sedang bermain menjadi cupid dan rencananya adalah, membuat kalian bersatu dan membuat Seijuurou membatalkan pertunangan kalian"

"hah!" teriak Daiki dan Ryouta serempak

"ta-tapi kenapa?" tanya Ryouta

"cih, permintaan Kakak ipar. Nee-sama itu terlalu mencemaskan kisah percintaan kalian yang tak pernah maju justru mengalami kemunduran sejak pertunanganmu dengan Seijuurou-kun. Jadi dengan otak ku ini aku merencanakan segalanya. Yah, dengan menumbalkan Tetsuya-kun sebenarnya… tapi, siapa yang sangka hanya dari sebuah ide implusif ku ini semuanya berjalan lancar"

"cih, kenapa menggunakan Tetsu… apa kau sengaja?" tanya Daiki

"hey, itu kebetulan. Lagipula aku tak pernah merencanakan Tetsuya-kun berperang menjadi tunanganmu"

Daiki langsung merona dan nyengir sambil garuk-garuk kepala, yah… itu adalah tindakan implusifnya sebagai kakak yang posesive

Ryouta mulai sadar jika Daiki itu sebagai kakak saja sudah posesive, apalagi kekasih? Hn, dan tambahkan juga bahwa Daiki itu benar-benar mesum, belum resmi dia terbebas dari Seijuurou saja, lehernya sudah di kiss mark. Apalagi jika sudah? Membayangkannya Ryouta bergidik dan merona merah.. mungkin tidak ada satu inchipun badannya yang tak dibubuhi tanda itu!

"lalu kenapa kau mengubah Tetsuya menjadi perempuan? Bukankah lebih baik tetap menjadi laki-laki" tanya Daiki, tidak sadar jika wajah Ryouta disebelahnya memerah seperti kepiting

Yukiko sedikit bergenyit bingung melihat ekspresi Ryouta, apa tangan Daiki melakukan sesuatu dibawah sana yang tak dapat dilihat Yukiko dari layar? Yukiko menggelengkan kepalanya pelan - Bukan saatnya dia berubah menjadi fujoshi, lebih baik dia menjawab pertanyaan Daiki

"pernah mendengar kalimat, cinta tak memandang gender, agama, dan ras? Anggap saja aku sedang menjadikan Seijirou-kun kelinci percobaan"

Daiki terbelalak takjub, gila! Orang yang gak sayang nyawa mana yang menjadikan Seijirou sebagai kelinci percobaan ataupun bahan riset penelitian kecuali Akari Yukiko!

Berusaha menepis kekaguman dari kegilaan Yukiko, Daiki kembali bertanya

"jadi, apa langkahmu selanjutnya?"

Yukiko tersenyum simpul, kali ini tangan kanannya mengangkat sebuah kertas undangan yang didominasi warna emas

"undangan?" ucap Daiki

"bukan undangan biasa, undangan untuk mempererat tali kekeluargaan Keluarga besar dan rekan bisnis keluarga Akashi. Dan ini merupakan Pesta topeng. Keluargamu diundang, dan kuyakin Ayah-mu akan pulang dari perjalanan Dinasnya untuk menghadiri undangan dari rekan bisnis terbaik miliknya. Iya-kan Daiki-kun?"

"ah, tentu saja" Daiki tersenyum

"ini pertemuan seluruh keluarga. Ayah - Ibu mu , Kau dan adik-adik mu tidak mungkin, tidak datang"

"hn, tapi setahuku tadinya itu bukan Pesta topeng" ujar Daiki

"ah, Aku pintar merayu Kakek untuk mengubah sedikit tema acaranya" Yukiko tersenyum malas

"lalu apa yang akan kau lakukan dipesta tersebut Akari?"

"tidak ada, biarkan semua berjalan sesuai alur kecuali jika sebuah dorongan diperlukan"

"kalo begitu, aku tidak sabar menunggu hari Pesta topeng tersebut Akari."

"Akupun begitu Daiki" selesai mengucapkan kalimat tersebut Yukiko mematikan panggilannya

"jadi kau berhasil membuat Kakek mengubah Pesta ini menjadi Pesta topeng?" kata Satsuki yang duduk dikasur Queen milik Yukiko

"tentu, apa yang tidak bisa untuk seorang Akari Yukiko" Yukiko berjalan menuju meja riasnya

"heh, kau yakin… untuk membuat kedua orang itu bertemu disana? Ini bukan dalam Game, yang jika terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan, kau tidak bisa membuat Te-chan menghilang"

"hn, yang terjadi maka terjadilah. Seperti kata Shintarou-kun, manusia mengusulkan, Tuhan yang menentukan"

Satsuki merebahkan dirinya dikasur, yah… terserah Yukiko sajalah. Toh dia hanya pengamat

"lalu, sebelum Pesta topeng tersebut ada yang harus diselesaikan" Yukiko memakai topeng harlequin separuh wajah yang ada dimejanya

"Kagami Taiga" desis Yukiko kesal. Dia berharap besok, masalah ini dapat diselesaikan dengan mudah oleh para GoM, bukan saatnya persaing cinta hadir….

Yukiko tidak pernah suka ada situasi diluar kendalinya, bagaimanapun dia merupakan seorang Aka!

.

.

Love is such a sweet illusion

Can't seem to stop my imagination

What I need to cure my situation?

But I can't deny on firstly the dream keep temptation

In the world that keeps on changing

Don't know why my heart isn't aching

Can't handle it no more everyday is sure

There can be no turning back

God only knows

My mind are so free

(Ost. The World God Only Knows)

.

.

To be continued!


Hello, Sagi disini! # muncul dengan tidak berdosanya

Sagi tahu, sagi makin jam karet untuk nulis fict ini… makanya Sagi seneng banget masih ada yang mau baca :')

Sagi gak tahu, makin susah aja dapet inspirasi, ah… tidak bukan inspirasi tampaknya, Sagi mulai susah menulisnya menjadi kata-kata,, chapter ini udah 3x Sagi tulis dan delete karena saat Sagi baca… rasanya jelek banget, atau kalo alurnya kaya gini makin lama ceritanya… kenapa rasanya penulisan katanya monoton, kenapa adegannya jelek banget! Kenapa dan banyak kenapa lainnya saat bikin chapter ini .

Ditambah kemarin Sagi ujian, lalu demi mencari inspirasi malah marathon anime – seperti anime 07Ghost, Haikyuu, Free, lalu Uta no Prince-sama season 1&2, sekarang masih nonton season 2'a …

Pas curhat sama Mizukinokawaii mengenai WB Sagi, beberapa menit kemudian muncul inspirasi untuk bikin perpindahan POV, sedikit berimprovisasi karena tersendat dibagian itu… makanya ada sedikit Kise POV hahahhhaha…. Mengenai POV untuk chara lainnya belum terfikir… dan Sagi merasa akan mempercepat alur cerita ini… jadi kalo kecepatan sorry ya ^^

Dan by the way, chapter diatas masih bener ya rating-nya ,, ciuman kaya gitu masih T –lah XD ,, saya gak berencana bikin fict ini jadi rated M ,, setidaknya belum .lol. dan sekarang cover BGL Sagi pasang foto'a Yukiko, well sebenarnya nemu di google chara yang mirip dengan gambaran Yukiko dibenak Sagi, gak tahu itu dari anime apaan :')

Diusahakan chapter selanjutnya, akan ada pertemua Akashi dan Kuroko didunia nyata! Tapi gak janji gak jam karet lagi, hehehehhe….

Jaa na~ minna!