Always There
Chapter Seven
Pairing: Yunho x Jaejoong(YunJae)
Warning: YAOI, BL(BOYS LOVE), Typo, Tidak sesuai EYD dll.
Rate: T-M
No Bash! No Copas!
.
.
.
Terlambat, semua sudah terjadi..
Relakanlah dia untuk seseorang yang selama ini menunggunya dengan setia
Untuk seseorang yang mencintainya jauh sebelum kau mengenalnya
Tak selamanya, kau mendapatkan apa yang kau inginkan
Terkadang kau harus menerima apa yang telah terjadi tanpa dapat mengelak
'Dia sudah menikah, dia mengkhiantaiku, dia mengingkari janjinya, dia tidak mencintaiku'
Itulah yang selalu mendominasi pikiranmu saat kau merasakan pahitnya cinta saat ia tak berpihak padamu
Aku tahu kau merasa seperti itu
Tapi tak tahukah kau, yang dirasakan Yunho lebih menyakitkan dari itu
Ia harus melihat istrinya dengan orang lain
Ia harus menahan sakit di relung hatinya saat kau berkujung ke apartementnya
Cinta yang berawal dengan menyakiti orang lain tidak akan berakhir dengan sempurna
Dan kau lihat kan Sam? Sekarang semua berbalik padamu..
.
Always There
.
"Bisa kau jelaskan?" Sam mengulang perkataanya sekali lagi saat melihat Jaejoong tak meresponnya. Namja cantik itu masih setia bungkam dan mencoba untuk tidak melihat ke arah mata Sam.
Jaejoong sudah menekankan pada dirinya sendiri kalau ia bisa melakukan ini. Ia hanya harus memutuskan hubungan dengan Sam dan memulai awal yang baru dengan Yunho. Tapi entah kenapa, jika ia melihat mata itu, hatinya mulai goyah.
"Apa lagi yang perlu dijelaskan?" Jawab Jaejoong akhirnya. Ia memalingkan muka cantiknya ke samping seraya melipat tangan di dada.
"K-kau dan dia, apa yang-" Ucap Sam sengaja menggantungkan ucapannya.
"Seperti yang kau lihat. Semua sudah menjadi seperti ini." Kata Jaejoong. Ia menautkan kedua alisnya dan menatap ke arah mata Sam.
Jaejoong dapat melihat pancaran kecewa menguar dari mata namja didepannya itu. Hatinya jadi tak menentu saat ini. Tapi ia tidak bisa, tidak bisa seperti ini terus. Ia harus memilih antara dua lelaki yang mencintainya. Dan Yunho adalah jawaban yang paling tepat.
"Kenapa?" Lirih Sam pelan.
"Maaf Sam, aku tidak bermaksud menyakitimu. Tapi inilah kenyataannya. Aku sudah menikah dan aku sadar aku tidak boleh bersikap seperti ini terus-menerus. Aku hanya ingin pernikahanku berjalan dengan baik. Kami akan memulai lembar kehidupan rumah tangga yang baru." Ucap Jaejoong memberi pengertian.
Sontak hal itu membuat Sam terlampau amat kecewa. Mereka sudah berjalan sejauh ini, dan sekarang Jaejoong ingin mengakhirinya? Tidak. Sam tidak ingin seperti itu. Ia harus melakukan berbagai macam cara agar namja cantik itu tidak berpaling pada orang lain.
"Bagaimana denganku? Kenapa kau seperti ini Jae? Aku masih sangat menyukaimu" Ucap Sam dengan memasang wajah sendunya. Sedikit perasaan bersalah merayap memenuhi hati Jaejoong. Ia terlihat sangat plin plan sekali dalam menjalin hubungan.
"Sammy~ Bukankah kau memiliki segalanya? Kau bisa mendapat namja atau yeoja lain yang lebih baik dari aku. Seiring waktu, kau juga pasti bisa melupakanku." Jaejoong mengusap bahu namja inggris itu pelan. Melihat mata sendu itu membuatnya semakin bimbang. Ia terus memalingkan mukanya, menghindari kontak mata dengan Sam yang nantinya bisa membuatnya berubah pikiran.
"Jongie" Sam tangan Jaejoong erat yang membuat doe eyes itu menatapnya.
"Maaf" lirih Jaejoong berusaha melepaskan tautan tangan mereka. Namun Sam lebih cepat darinya. Ia masih belum rela melepaskan tautan tangan yang entah kapan bisa dirasakannya lagi jika keadaan menjadi seperti ini.
"Apa kau yakin? Namja itu miskin Jae. Berasal dari kalangan rendah, dia tidak pantas bersanding denganmu!" Ucap Sam. Dalam hati, Jaejoong menggeram marah. Ia tidak ingin siapapun menghina dan merendahkan suaminya. Terlebih namja yang akan segera menjadi mantan kekasihnya.
Dengan kasar, Jaejoong melepaskan tautan tangan mereka hingga membuat Sam kaget atas perubahan sikap Jaejoong yang drastis. Ia menatap bingung Jaejoong yang memasang wajah dinginnya.
"Kau tidak boleh menghinanya seperti itu Samuel-ssi. Yunho memang tidak sesempurna dirimu, tapi dengan kondisinya yang seperti itu, ia justru ingin membuatku bahagia. Apa cinta harus selalu memandang material? Atau fisik? Mungkin untukmu yang hidupnya dipenuhi kemewahan selalu berpikir begitu." Ujar Jaejoong datar tapi terkesan tegas.
"Bukan begitu Jae sayang. Aku hanya memperingatkanmu agar mempertimbangkan hal ini baik-baik. Kau luluh hanya karena ia menolongmu waktu itu? Astaga Jae, itu sudah hal yang biasa. Kenapa pikiranmu kolot sekali?" Ucap Sam seraya berdecak sebal. Hal itu sontak makin membuat Jaejoong geram dengan namja didepannya ini. Ia ingin segera pergi dari sini dan menemui Yunho-Nya.
"Ya, pikiranku memang kolot! Asal kau tahu saja, ia tidak menolongku saat itu saja, tapi setiap saat ia selalu berusaha membuatku nyaman, sekalipun aku selalu menolak dan membentaknya. Aku rasa keputusanku sangat tepat. Setidaknya aku tidak memilih untuk melanjutkan hubungan dengan namja sombong yang hanya memandang orang lain dari derajatnya!" Jaejoong menyeringai puas saat kata demi kata itu meluncur dari mulutnya. Ia tersenyum puas saat melihat ekspresi kaget sekaligus marah terpampang jelas di muka tirus namja inggris itu.
"Kau munafik Kim Jaejoong! Dulu siapa yang bilang tak akan jatuh cinta pada namja miskin itu? Siapa yang bilang tak sudi menikah dengannya? Siapa HAH?! Jawab pertanyaanku!" Sam mencengkram kuat kedua bahu Jaejoong hingga membuat namja cantik itu meringis. Matanya berkilat marah, menuntut Jaejoong agar segera menjawabnya.
"Lepasshh! Ini sakit kau tau tidak! Dasar gila, psycho! Lepaskan aku!" Jaejoong berteriak kalap seraya mencoba melepaskan diri dari kungkungan Sam yang sedang diliputi amarah.
"Tidakh! Jangan harap aku melepaskanmu sebelum kau menjawabku!" Ucap Sam keras, tak mau kalah tegas.
"Samuel-ssi, Begini saja kau sudah marah hanya karena tadi aku membentakmu?! Apa kau tau seberapa sering aku membentak dan menghina Yunho?! Apa kau tahu?!" Jaejoong berucap datar seraya memasang wajah yang tak kalah dingin.
Dan seketika itu pula, cengkraman Sam mulai mengendur. Nafasnya naik turun teratur, mencoba menstabilkan kemarahan yang sempat meledak-ledak tadi.
"Bukan begitu Jae. Maaf, aku tidak terkontrol hingga tadi tanpa sadar menyakitimu. Aku menyukaimu Jae. Sudah berulang kali kukatakan padamu. Kumohon mengertilah." Ucap Sam lembut. Jaejoong berdecih pelan mendengarnya. Matanya menatap Sam sinis.
"Aku sama sekali tidak ingin mengerti perasaan konyolmu padaku. Kurasa hubungan kita harus diakhiri segera. Aku tidak ingin berlama-lama dengan orang yang tidak bisa mengontrol emosinya dan menyakiti orang lain"
"Jae-"
"Sudahlah. Kau tak perlu bicara lagi. Maaf, tapi mulai sekarang tolong jangan coba menemuiku lagi. Aku pergi sekarang, Yunho menungguku." Ucap Jaejoong memutus perkataan Sam dan berlalu dari tempat itu.
"Arghhhh!" Sam berteriak kesal melihatnya. Ia menendang bebatuan dan kerikil tempatnya berpijak. Emosinya meluap-luap mendengar ucapan namja cantik itu yang seakan menohok hatinya.
Sam mengepalkan tangannya kuat, menahan amarahnya. Matanya dipenuhi tekad yang menggebu-gebu, ia berkata, "kau akan menjadi milikku Kim Jaejoong! Lihat saja nanti"
.
.
.
"Ayolah Hyung, ceritakan padaku, jeball~" Ucap Changmin merengek.
"Apa yang perlu kuceritakan min-ah? Kan kau sudah lihat sendiri."
"Tapi bagaimana bisa? Hyung pakai ramuan cinta apa eoh sehingga membuat hyungku bertekuk lutut seperti itu." Ujar Changmin. Sedari tadi ia terus menuntut Yunho untuk menceritakan apa yang terjadi pada pasangan Yunjae.
"Haha Minnie, kau ada - ada saja. Tentu saja aku memikatnya dengan aura ketampanan diriku." Jawab Yunho dengan percaya diri seraya menepuk kedua dada bidangnya.
"Aishhhh! Narsis sekali eoh." Ujar Changmin merajuk kesal.
"Awww, appo hyung." Ringis minnie chang saat Yunho mencubit pipinya gemas. Mukanya terlihat lucu saat merajuk seperti tadi. Yah tidak beda jauh lah dengan hyung sepupunya itu.
"Tapi hyung, apa hyung yakin Jaejoong sudah berubah? Maksudku, aku bukan meragukan cinta kalian berdua, tapi ini terlalu tiba-tiba. Setelah kupikir-pikir, yah walaupun aku juga senang kalian bersama, tapi ini agak sedikit aneh." Ucap Changmin serius. Ia melihat wajah Yunho yang sedikit bingung, namun kemudian senyum tulus itu terpantri di muka tampannya.
"Aku yakin Min. Aku akan mencoba percaya padanya. Aku sangat mencintainya lebih dari yang dia tahu." Changmin tersenyum mendengar jawaban tulus hyung iparnya. Ia begitu mengangumi hyungnya itu yang selalu tabah menghadapi sikap kasar sepupunya, hingga sekarang kesempatan baik itu menghapiri dirinya.
"Itu baru hyungku. Eoh? Bukankah itu jaejoong hyung? Kenapa mukanya seperti itu?" Ujar Changmin seraya melihat ke arah belakang. Jaejoong jalan terburu-buru menuju ke arah mereka.
"Ada apa Jae?" Tanya Yunho khawatir. Begitu halnya dengan Changmin yang memandang hyungnya dengan bingung. Apalagi ia tak melihat Sam.
"Ani. Yunnie, ayo kita pulang." Jawab jaejoong.
"Apa terjadi sesuatu? Mana Sam?" Tanya Changmin. Muka Jaejoong langsung terlihat kesal saat mendengar nama Sam meluncur dari bibir dongsaengnya itu.
"Aku sudah tak ada hubungan apapun dengannya. Jadi berhenti mengungkit masalah namja itu." Ucap Jaejoong datar.
"Jinjja? Sebuah tindakan yang bagus hyung." Ucap Changmin senang. Ia menampilkan smirknya bertanda ia sangat setuju jika hubungan keduannya berakhir.
"Arra. Yunnie, ayo kita pulang. Min, kau mau ikut?" Tanya Jaejoong.
"Ani. Aku bawa mobil sendiri."
"Kalau begitu, aku dan Jaejoong duluan. Bye" Yunho dan Jaejoong melambaikan tanganya pada Changmin dan segera masuk ke dalam mobil.
"Aish, aku lapar." Gerutu Changmin.
.
.
.
Hari selanjutnya, mereka tetap menjalani rutinitas masing-masing. Jaejoong sudah mulai menjalani syutting film seperti biasa. Hanya saja, ia merasa terganggu karena Sam selalu berada di sekitarnya. Namja itu rupanya masih belum terus menyerah dan terus mengejarnya kemanapun ia pergi. Apalagi situasi sepertinya menguntungkan bagi namja inggris itu. Mereka banyak terlibat pekerjaan berdua.
Meskipun sudah berkali-kali Jaejoong menolaknya, namja itu tetap gigih mendapatkan hatinya kembali. Ia bersikeras Jaejoong menjadi miliknya sekali lagi.
Hal itu tentu saja membuat Jaejoong muak. Ia sudah bahagia dengan pilihannya sekarang. Setiap pulang, Yunho pasti menyambutnya dengan senyuman tulus. Jika ada kesempatan, ia akan memasakan suaminya makanan, lalu makan bersama. Tak ada hal yang lebih membahagiakan dari itu.
Sam masih suka memberikannya barang-barang mahal yang ia inginkan. Atau sesekali mendatangi apartementnya, membuat Jaejoong tidak enak pada Yunho. Walaupun suaminya itu berkata kalau ia baik-baik saja, tapi Jaejoong tahu kalau hati namja itu sedih.
Ia merasa sangat bersalah padanya. Jaejoong sudah berjanji untuk tidak menyakiti namja itu lagi. Tapi apa yang ia perbuat sekarang telah menyakiti hati Yunho. Apa yang bisa ia lakukan? Ditambah dengan kehadiran Sam yang sangat mengusiknya. Kenapa Sam tidak mengerti kalau hubungan keduannya sudah berakhir?
.
.
.
Berbeda dengan Jaejoong yang masih merasa sedikit terganggu dengan kehadiran Sam, Yunho justru merasa sangat bahagia dengan kondisi seperti sekarang. Penantiannya selama ini tak berujung sia-sia. Meski terlihat terlalu tiba-tiba, tapi ia percaya pada Jaejoong. Semua pasti butuh proses. Yunho tidak akan membiarkan kondisi sekarang berlalu.
Ia akan benar-benar membuat namja cantik itu jatuh hati padanya. Yah ia akan berusaha sebaik mungkin. Senyum indah selalu terpampang di wajah tampannya saat ia bekerja. Terkadang, Yunho ingin terlonjak senang saat Jaejoong menelponnya.
"Chun, apa kau tak lihat perubahan sikap Yunho belakangan ini? Lihat dia seperti-" Carrie menggantungkan ucapannya. Ia bingung melihat tingkah Yunho yang sering senyum-senyum sendiri akhir-akhir ini.
"Orang gila." Ucap Yoochun menyambung kalimat Carrie. Gadis cantik mengangguk-anggukan kepalanya pertanda setuju.
"Lihat dia sekarang. Ia senyum sendiri sambil memandangi ponselnya. Aneh." Guman Yoochun.
"Aku setuju denganmu. Sepertinya ia sedang bahagia, iya kan?"
"Tapi bahagia kenapa? Ah sudahlah aku mau ganti baju dulu." Yoochun berlalu dari hadapan Carrie dan masuk ke ruang ganti.
"Apa sesuatu hal yang bahagia terjadi padamu?" Tanya Carrie langsung. Sekalian ia membantu pekerjaan Yunho yang sedang mengepel lantai dan membereskan meja.
"Ani, kenapa memangnya?" Tanya Yunho bingung.
"Kau terlihat sangat bahagia setiap hari. Datang lebih awal dan bahkan kau senyum-senyum sendiri saat bekerja." Jawab Carrie. Yunho tertawa pelan mendengarnya.
"Tentu saja. Jam berapa sekarang?"
"Jam 11 lewat, wae?" Ucap Carrie bingung.
"Hampir tengah malam?! Astaga! Aku harus pulang sekarang'' Yunho langsung bergegas masuk ke ruang ganti, mengganti pakaiannya, dan keluar beberapa menit kemudian, beranjak untuk pulang.
"Yak! Ini tugasmu eoh! Kau tak boleh pulang dulu!" Carrie mendengus kesal ke arah Yunho.
"Mian ne Carrie. Tolong kerjakan untukku hari ini saja Oke. Aku pulangg." Tanpa menunggu jawaban dari Carrie, Yunho segera melesat keluar dari caffe itu.
"Ya aish! Menyusahkan saja!" Gerutu Carrie. Tak berapa lama, Yoochun keluar dari dalam.
"Carrie? Kenapa kau yang mengepel lantai? Yunho terburu-buru sekali tadi. Kukira ia sudah selesai dengan pekerjaannya." Ucap Yoochun.
"Selesai dari mana? Ia malah menyuruhku melakukan sisanya. Ayo cepat bantu aku." Ucap Carrie kesal.
"Arraso."
.
.
.
Yunho memasuki apartementnya dengan perlahan. Ia melihat alas kaki Jaejoong di dekat pintu, menandakan bahwa istrinya itu sudah pulang. Ia mengambil handuk dan pakaiannya kemudian masuk ke kemar mandi.
Ketika waktu hampir menunjukan pukul 12, Yunho masuk ke kamar tidur. Ia melihat Jaejoong sedang berbaring di ranjang dan membelakanginya. Sepertinya ia belum tidur.
"Jae?" panggil Yunho seraya mengelus pinggang Jaejoong lembut.
"Yunnie." Jaejoong berujar manja sebelum ia memeluk namja di depannya erat. Yunho tersenyum singkat kemudian membaringkan tubuh mereka berdua kembali ke ranjang.
Yunho menyerngit bingung saat tercium bau alkohol dari tubuh Jaejoong. Ia melihat Jaejoong yang menatapnya sayu.
"Kau minum Jae? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Yunho sedikit cemas.
"Aku hanya minum sedikit Yun. Aku masih sadar."
"Bukan begitu sayang. Kau tak biasanya minum. Apa Sam masih mengganggumu?" Suara lembut Yunho memberi ketenangan tersendiri dalam diri Jaejoong. Namja cantik itu makin melesakan wajahnya ke dada bidang Yunho.
"Ya"
Jaejoong sedikit menggesekan badannya untuk mencari posisi nyaman di pelukan Yunho. Tanpa disadarinya, hal itu justru membuat Yunho agak sedikit menegang. Ia yang melihat Jaejoong tak terpengaruh sama sekali menjadi bimbang.
Yunho mencium kening jaejoong dan menatapnya lama. Seakan menimbang-nimbang, apakah sekarang waktu yang tepat untuk melakukannya.
"Jae?" Ucap Yunho agak ragu.
"Hmm?"
"Apa kau keberatan jika kita melakukannya?" Tanya Yunho hati-hati.
"Melakukan apa?" Tanya Jaejoong bingung. Tapi sedetik kemudian ia sadar apa yang Yunho maksud.
"Aku takut Yun. Orang bilang rasanya sangat sakit." Lirih Jaejoong pelan.
"Pada awalnya memang terasa sakit, tapi aku janji akan melakukannya dengan lembut. Aku tak ingin menyakitimu. Ini yang pertama bagimu dan juga yang pertama bagiku." Ucap Yunho lembut seraya mengusap punggung Jaejoong.
Jaejoong merasa bingung. Ia sangat takut untuk pertama kalinya. Tapi disisi lain, sekarang memang sudah waktu yang tepat. Setelah enam bulan Yunho bersabar untuknya. Rasanya tidak adil bagi Yunho jika ia berkata tidak.
"Pelan-pelan oke? Aku akan berteriak jika kau kasar." Jawab Jaejoong.
"Aku janji." Ucap Yunho lembut. Perlahan ia melepaskan pelukannya pada pinggang Jaejoong kemudian menatap Jaejoong lama memberikan kekuatan pada namja cantik itu.
Yunho membalikan posisinya menjadi di atas Jaejoong. Bisa ia lihat muka Jaejoong memerah karena malu dan takut. Wajar jika ia merasa seperti itu. Ini yang pertama kalinya. Sejujurnya, Yunho juga merasa gugup.
Yunho menundukan kepalanya, mencium seluruh permukaan wajah Jaejoong lembut baru terakhir mencium bibirnya. Ia melakukanya dengan sangat pelan dan hati-hati, takut tindakannya dapat melukai istrinya.
Jaejoong merasa menjadi namja beruntung sedunia karena suaminya melakukannya karena murni karena cinta. Di semua tindakannya, namja tampan itu selalu meyakinkan Jaejoong dan mengatakan kalau ia mencintainya.
Setelah Jaejoong siap, Yunho mulai menanggalkan pakaian yang melekat di tubuhnya dan di tubuh istrinya. Ia begitu mengangumi karya Tuhan saat melihat tubuh polos istrinya yang terbaring pasrah di depannya. Muka Jaejoong memerah karena malu saat menyadari Yunho menatapnya lama.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku malu." Setiap perkataan yang meluncur dari bibir cherry itu semakin membuat mukanya merona.
Yunho tersenyum maklum kemudian mencium bibir Jaejoong kilat.
"Jangan malu sayang. Kau sangat cantik. Tubuhmu terpahat secara sempurna. Apa kau tak menyadarinya?" Ucap Yunho. Jaejoong diam saja karena tak tahu harus berkata apa, menunggu apa yang akan Yunho lakukan selanjutnya.
"Aku mencintaimu Jongie. Aku akan mulai sekarang."
Yunho mulai menciumi seluruh tubuh Jaejoong yang sekarang sudah menjadi candu baginya. Menyesap wangi vanilla yang menguar dari tubuh namja cantik itu sungguh keberuntungan baginya.
Ia terus menyusuri setiap jengkal tubuh putih susu. Mencium nya dengan penuh sayang dan selalu mengucap cinta pada namja cantik-NYA yang sekarang hanya bisa menutup mata seraya menikmati apa yang dilakukan suaminya ditubuhnya.
Yunho memeluk tubuh polos Jaejoong sebelum menyatukan tubuh mereka berdua.
"Yunnie, aku takut. Lakukan pelan-pelan" lirih Jaejoong pasrah.
"Tentu chagi. Aku kan sudah bilang padamu, aku mencintaimu, aku tak akan menyakitimu." Jaejoong mengangguk mendengarnya.
Dengan sangat pelan dan hati-hati, Yunho mulai menyatukan tubuh mereka berdua. Ketika Jaejoong menjerit karena sakit, Yunho menghentikan sebentar usahanya, mengusap punggung polos Jaejoong dan menciumnya untuk memberikan ketenangan.
Perlahan, akhirnya tubuh mereka menyatu sepenuhnya. Yunho berdiam sebentar, menunggu Jaejoong terbiasa. Ia menghapus sisa air mata di doe eyes itu saat kesakitan. Sedikit perasaan bersalah menyusup hatinya saat melihat Jaejoong menangis. Tapi ia yakin, saat nanti Jaejoong akan terbiasa.
Yunho mulai menggerakannya ketika melihat Jaejoong agak sedikit tenang. Ia tersenyum puas saat mendengar desahan namja cantik itu yang telah menggantikan ringisan rasa sakit. Terlihat Jaejoong mulai menikmatinya.
Tubuh keduannya melebur menjadi satu membuat suasana panas di kamar itu sangat ketara. Mereka tenggelam dalam gairah yang menghasilkan kenikmatan bagi keduanya.
Ketika Yunho dan Jaejoong sudah mencapai puncaknya, tubuh polos mereka saling berpelukan erat. Kegiatan tadi sangat menguras tenaga, tapi Jaejoong senang telah melakukan tugasnya sebagai istri.
"Yunnie, aku lelah." Lirih Jaejoong dengan mata redupnya.
"Tidurlah sayang, aku akan memelukmu." Ucap Yunho seraya mememeluk Jaejoong. Ia menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh polos keduannya kemudian mencium kening Jaejoong untuk ciuman selamat malam.
.
.
.
.
Keesokan harinya, Yunho dan Jaejoong terbangun ketika hari sudah beranjak siang. Mungkin mereka terlalu kelelahan karena aktivitas mereka kemarin malam.
Jaejoong dan Yunho terburu-buru bergegas ke tempat kerja mereka masing-masing. Bahkan tadi mereka mandi berdua. Tapi eits mereka hanya mandi dan tidak melakukan apapun. Tanpa sarapan atau merapikan tempat tidur, mereka berdua langsung melesat ke tempat tujuan mereka.
Jaejoong memakirkan mobil Lexus nya di perkarangan dan segera menghampiri Changmin yang sudah berada di lokasi. Ia juga melihat Sam yang sedang berbicara dengan seseorang. 'Huh lagi-lagi namja itu' batin Jae lesu.
"Hyung, kau terlambat 30 menit." Ucap Changmin sarkratis.
"Aku tahu Min-ah. Hyung terlambat bangun tadi.'' Ucap Jaejoong dengan nada 'agak' bersalah.
"Apa aku perlu membangunkan hyung setiap hari agar hyung tidak telat?" Tanya Changmin, tapi sesaat kemudian ia menyadari sesuatu dan berkata, "oh iya aku lupa kalau sekarang kalian sudah tidur bersama" ledeknya.
"Eumm it-itu baru kemarin." Ungkap Jaejoong jujur dengan wajah yang merona.
"Jinjja? Jadi hyung telat karena kelelahan abis bercinta toh.. Arraseo adik tampanmu ini mengerti." Goda Changmin.
Mereka berdua tidak sadar jika Sam sedang menguping pembicaraan mereka. Namja itu menggeram marah. Usahanya saat ini seperti tak ada hasil. Seharusnya ia yang pertama kali menyentuh Jaejoong. Bukan namja miskin itu. Harusnya hanya dia yang boleh mendekati Jaejoong. Karena Jaejoong.. Miliknya. Dan itu mutlak tertulis di hati dan pikirannya.
"Berhenti menggodaku Minnie-ah." Ucap Jaejoong kesal.
"Ani~ wajahmu itu sangat menggemaskan hyung tahu. Hmm akhirnya hyungku yang dulu kembali lagi."
"Aku memang selalu begini Changmin-ah." Ucap Jaejoong bingung.
"Neee arasseo jongie Hyung. Tetaplah seperti ini. Ngomong-ngomong, hyung tau Kevin Michaelis kan?"
"Aku tau. Adiknya Sam kan? Wae?" Tanya Jaejoong. Ia mengambil tempat duduk di sebelah Changmin seraya memakan snacknya.
"Dia akan menggelar pesta pertunanganya minggu depan." Ujar Changmin sambil mencomoti snack kentang hyungnya.
"Mwo? Bukankah ia belum punya pacar? Sam yang bilang padaku waktu itu."
"Aku tak tahu hyung. Sepertinya ia juga dijodohkan orangtuannya. Aku pernah melihat wanita itu sekali. Dia adalah perempuan berdarah campuran Inggris-Korea yang cantik sekali." Jelas Changmin. Ia memberikan undangan pertunangan itu pada Jaejoong.
"Apa ini? Ah aku juga diundang?" Tanya Jaejoong seraya melihat undanganya.
"Tentu saja. Banyak artis ataupun penyanyi terkenal yang akan datang. Keluarga Michaelis juga merupakan pengusaha terkaya di Korea, apalagi hyung tahu sendiri kan, Sam seorang aktor."
"Arraso.. Apa nanti Sam juga akan datang?" Tanya Jaejoong cemas. Ia sudah berusaha untuk menghidari Sam selama ini. Jaejoong sudah tidak ingin bertemu namja itu lagi. Takut Sam malah akan semakin berharap padanya.
"Pasti Hyung. Dia kakaknya. Mana mungkin tidak datang."
"Yaish! Padahal aku ingin menghindarinya. Eothokhe min?" Tanya Jaejoong.
"Kau tenang saja Jongie hyung ku yang cantik, aku akan menemanimu selama disana." Ucap Changmin.
"Baguslah, aku tenang kalau begitu. Setidaknya kau bisa mengusirnya pergi kalau dia mencoba mendekatiku." Ujar Jaejoong seraya menghela nafas lega.
"Aku pasti akan menghajarnya Hyung. Ngomong-ngomong, setelah aku lihat jadwal hyung, Hari ini adalah hari terakhir Hyung syutting drama ini bersama Sam. Setelahnya hyung masih ada jadwal menyanyi di tempat lain. Semangat ya Jongie hyung, terakhir kau melihat mukanya." Changmin memberi semangat kepada Jaejoong dan menyuruhnya segera melakukan 'adegan' agar drama ini bisa cepat terselesaikan.
"Gomawo Changmin-ah. Hyung pergi dulu."
.
.
.
"Cha, ayo kita lihat Jung Jaejoong. Cih bahkan marganya pun sudah diganti. Dasar pasangan GAY menjijikan!" Geram Seungyun seraya memandangi foto-foto kemesraan pasangan YunJae yang berada di layar komputernya.
Selama ini, Seunhyun sengaja menyuruh orang kepercayaannya untuk menguntit kemana Jaejoong pergi. Bukan karena selama ini Seunhyun menyukai namja cantik itu. Ya, tentu saja bukan.
Ia menyuruh orang mengambil foto Yunho saat bekerja sebagai kuli, saat bekerja sebagai pelayan di moonlight Cafe dan saat mereka sedang berduaan. Itu semua akan digunakannya untuk menyerang Jaejoong nanti. Tentu saja, ia melakukan semua ini untuk menghancurkan Jaejoong. Seunghyun ingin segera menyingkirkan namja itu dari dunia entertaiment.
Membuat namja itu malu setengah mati adalah keinginan terbesarnya. Namja sombong itu harus mendapatkan ganjaran karena sudah berani menghinanya.
Ia menampilkan seringaian meremehkan sekali lagi saat melihat foto Jaejoong dengan muka angkuh. Liat saja nanti, namja cantik ini akan segera lengser dari popularitasnya sebagai aktor dan penyanyi.
Seunghyun menyandarkan tubuhnya ke kursi, sedikit mengistirahatkan badannya sebelum nanti ia akan pergi ke lokasi syuttingnya. Ia mengambil ponsel dari laci dan menyambungkan dengan seseorang.
"Kau sudah melakukan tugasmu kan?" Ucap Seunghyun entah pada siapa di sambungan teleponnya itu.
"Tentu tuan. Saya akan mengirimkannya minggu depan."
Seunghyun tersenyum puas mendengarnya. Tak salah memperkerjakan orang ini. Ia dapat bekerja dengan cepat dan benar. Bahkan ia bisa mendapat foto Yunjae dalam apartement sekalipun.
"Bagus. Terus kau pantau mereka berdua. Segera laporkan padaku jika terjadi sesuatu. PIP" Seunghyun segera mematikan sambungan telepon dan memasukan ponselnya ke dalam saku jasnya.
Jangan tanya kenapa ia bisa tahu hubungan Yunjae yang bahkan sudah ditutup dengan sangat rapat oleh Jaejoong. Ia adalah namja serba bisa yang dapat melakukan apapun.
Dari awal, ia memang sudah curiga saat seringkali melihat Yunho dan Jaejoong bersama. Walaupun tidak terlalu mencolok, Ia tahu kalau mereka berdua bukan hanya sekedar fans atau kerabat.
Ia pun menyuruh seseorang untuk menguntit Jaejoong kemanapun ia pergi. Dan ternyata Gotcha! Ia berhasil menemukan kebenaran yang semakin membuatnya puas. Apalagi setelah ia tahu jika namja yang dinikahi Jaejoong itu miskin. Hal itu menjadi sasaran empuk baginya untuk segera menghancurkan Jaejoong.
Dalam hati terdalamnya, ia sangat membenci namja angkuh itu. Sejak Jaejoong semakin terkenal, popularitasnya perlahan mulai menurun. Meskipun pekerjaan tetap banyak yang datang kepadanya, tapi tetap saja ia merasa kesal saat ada seseorang yang lebih terkenal dari pada dirinya. Apalagi orang itu Jaejoong.
Seunhyun mendengus kesal. Memang ada orang yang suka terhadap Jaejoong? Sikap sombong yang terkesan jual mahal itu membuat sebagian artis tidak ingin melihatnya. Termasuk dirinya, tentu saja.
Seunhyun menyesap kopi hitamnya perlahan, kemudian bangkit mengambil kunci mobil di atas meja nakas, dan segera pergi ke lokasi kerjanya.
.
.
"Hyung tidak lupa acara hari ini kan?" Tanya Changmin entah sudah keberapa kalinya.
"Tentu Changmin-ah. Kenapa kau menanyakan hal itu terus menerus? Aku tak akan lupa." Ujar Jaejoong malas seraya memutar bola matanya.
"Hehe aku hanya takut kalau hyung lupa." Ucap Changmin cengengesan.
"Aku sudah menyiapkan pakaian yang akan hyung pakai nanti di Van. Kita juga harus bersiap-siap Hyung."
"Arra. Tapi ini baru jam setengah empat Changmin-ah. Acara pertunangan itu baru dimulai pukul enam sore nanti. Apa kau lupa?"
"Aku tahu Hyung. Tapi mengingat dimana lokasi kita sekarang, bukankah kita memang harus pergi lebih awal? Sangat tidak lucu bila kita telat nantinya." Ucap Changmin mengingatkan.
Mereka berdua sedang berada di lepas pantai yang berada cukup jauh dari Seoul. Jaejoong baru saja menyelesaikan sesi pembuatan single terbarunya beberapa menit yang lalu.
"Baiklah. Kau tunggu disini. Aku akan berganti pakaian dulu." Ucap Jaejoong kemudian pergi.
Jaejoong keluar dari ruang ganti dengan kemeja putih bergaris dan Jas biru muda yang melekat dibadannya. Ia terlihat sangat sensual dan cocok.
Ketika Jaejoong hendak kembali menghampiri Changmin, tiba-tiba Sam muncul di hadapannya.
Jaejoong menghela nafas lelah melihatnya. Rupanya namja bangsawan keturunan inggris itu masih belum menyerah.
"Jae" Ucap Sam pelan.
"Ada apa Sam? Apa kau tak bosan mengikutiku terus? Hubungan kita sudah berakhir cukup lama. Harusnya kau sadar akan hal itu." Ucap Jaejoong tegas tanpa melirik Sam sedikitpun.
"Aku tak bosan dan tak akan pernah bosan. Aku sangat mencintaimu Jae, kumohon mengertilah."
"Tidak, tidak. Aku tidak ingin mengerti. Aku mencintai suamiku Sam. Kumohon setidaknya kau harus sadar kalau hubungan kita sudah berakhir. Jangan selalu mengikutiku, itu menggangguku."
Kata-kata yang terus terucap dari bibir cherry itu semakin meremukkan hatinya. Jaejoong berhasil membuat wajah namja tampan itu berubah menjadi sendu. Ia tidak tahu harus pakai cara apalagi untuk membuat hati Jaejoong luluh.
"Jae dengar-"
"Hari ini bahkan pesta pertunangan adikmu, dan kau masih bisa berada disini?" Ucap Jaejoong datar.
"Aku datang kesini untuk menjemputmu." Sela Sam cepat. Menarik nafas lelah kemudian berkata lagi,
"Kuharap kau bisa datang bersamaku. Jangan menolak ku kali ini." Ucap Sam dengan nada sedikit memohon.
"Tidak, ia akan pergi bersamaku." Jaejoong dan Sam sontak mengalihkan pandangannya saat mendengar orang lain berbicara.
"Changmin-ah."
"Kau tidak akan datang kesana bersamanya, karena aku yang akan mengantarkannya. Silakan pergi dan jangan pernah datang lagi." Ucap Changmin sinis. Ia segera meraih tangan Jaejoong dan mengajak namja cantik itu segera pergi dari tempat itu.
"Tapi ak- Hey! Tunggu dulu!" Sam mengerang frustasi saat Changmin dan Jaejoong menghilang dari pandangannya. Huft! Lagi-lagi ia gagal!
.
.
.
.
Yunho berjalan pulang sambil sedikit bersenandung dengan riang. Senyum indah terukir di bibir hatinya. Ia dapat pulang siang hari ini. Berhubung beberapa karyawan yang sempat cuti sudah kembali, pekerjaanya tidak terlalu banyak. Dan ia sudah menyelesaikannya tadi siang.
Yunho memasuki apartementnya dan menyalakan lampu. Ia tidak melihat alas kaki Jaejoong di dekat pintu. Huft, berarti istrinya itu belum pulang. Yah tentu saja. Sekarang bahkan baru jam empat sore.
Ting Tong
Ia segera meletakkan tasnya di atas sofa dan berlari kecil menghampiri pintu. Saat Yunho membukanya, ia tidak melihat siapapun diluar. Tapi sesaat, ia melihat kotak bewarna merah mengkhilap di depan bawah pintu apartementnya.
Yunho mengambilnya dan masuk ke dalam apartement dengan wajah bingun. Ia mendudukan dirinya disofa, kemudian dibukannya kotak itu.
Sebuah Jas mahal lengkap dengan dasi dan celana katun hitam membuat Yunho kaget. Siapa yang mengirimnya kesini? Bingungnya dalam hati. Yunho melihat secarik kertas di dalamnya.
Yunnie~
Aku sudah menyiapkan Jas ini untukmu yang akan kau kenakan saat menghadiri pesta pertunangan Kevin
Setelah kupikir, inilah waktunya yang tepat untuk memberitahu hubungan kita kepada publik
Jangan menelepon ku dulu ya, aku ingin mendengar suaramu nanti
Baiklah Yunnie, jangan lupa untuk tampil setampan mungkin nanti. Aku memberikanmu undangannya juga.
Bye Yunnie~
Saranghae nae bear
- Your Lovely Wife, Jung Jaejoong
Heum? Yunho terkaget bercampur senang saat membaca pesan dari Jaejoong. Semua ini seolah tiba-tiba. Ia tahu benar Jaejoong masih enggan 'go public' dengannya. Tapi kenapa justru namja cantik itu menyuruhnya datang ke sebuah pesta pertunangan?
Yunho yakin bahwa pesta itu akan diadakan sangat mewah dan dihadiri para bangsawan kalangan atas. Dari Inggris maupun dari Korea. Hal ini tentu saja tidak cocok dengan dirinya yang sederhana. Tapi seakan tahu jalan pikirannya, Jaejoong justru membelikannya setelan Jas mahal seperti ini.
Apa Jaejoong benar-benar yakin? Ia sedikit banyak merasa cemas akan hal itu. Takut pengakuan mereka memperburuk popularitas Jaejoong.
Jika benar Jaejoong sudah sangat yakin, ia pun juga akan sama seperti istrinya. Yunho tersenyum sekilas kemudian menyentuh Jas mahal itu.
"Baiklah, aku akan bersiap-siap."
.
.
.
TBC
Apa chingu uda bisa nebak rencana Seunghyun buat mempermalukan Jae? Pasti bisa kan ya hehehe
Aku berusaha sebaik mungkin untuk nulis disetiap chapternya. Ku harap juga semua reader suka waktu membacanya.
Terlebih lagi chapter ini, entah kenapa aku susah banget dapet feel buat nulis. Tapi akhirnya sekarang ku post juga.
Jangan lupa reviewnya... Review kalian menjadi penyemangat supaya bisa nge-post cepet hehe ;)
Special Thx to Jaena, exindira, YunHolic, teukiangle, RaraRyanFujoshiSN, hlyjs, Hana - Kara, Zimalaca-ELF, danactebh, ryeo ryeong, akiramia44, iche . cassiopeiajaejoong, verlova-yjs, My beauty jeje, Park Tam-ma, Andini010196, starlight, lalaKim, Guest, yunjae heart, redyna90, uknowme2303, vianashim, Joice Ang
Salam Yunjae Shipper
Last, Review Plisss~~~^^
