SEMUSIM
Saat ini kita bertegur sapa,menjalin sebuah hubungan karena bertemunya satu rasa yang sama.
Tapi, jika semua hal itu terjadi pada satu musim saja, jika suatu hari berganti musim yang lain akankah tetap terpaut pada perasaan yang sama?
Disclaimer: A Naruto belong to Masashi Kishimoto
PERINGATAN!
AU, typo(s), OOC (bacaan hanya diperuntukkan usia diatas 17tahun)
Main Chara : Naruto X Hinata
-oooOooo-
"Maaf..."
"Untuk apa?" Naruto membelai rambut Hinata dengan lembut.
"A-ku tidak tahu jika kau menyelamatkanku." Ucap Hinata dengan memalingkan wajahnya, Naruto tersenyum.
"Bukan masalah kok, tapi tamparan itu membuatku kapok." Naruto menyodorkan air kelapa yang masih utuh dikelapanya."Minumlah."
"Aku tidak suka menggunakakan sedotan."
"Tunggu.." Naruto pergi lagi mengambilkan gelas wine dari sebuah stand."Ini..."
Setelah air kelapa hijau itu dituangkan kegelas, barulah Hinata meneguknya.
Rasa sejuk pada sekujur tubuhnya membuatnya bisa merasa lebih baik.
Naruto duduk disamping Hinata, merangkulnya, dan entah mengapa Hinata tidak menolak.
"Hei..." Naruto membuka suara.
"Hmm?" Hinata tidak berani menatap Naruto, seolah dia tahu jika ia melakukan itu akan terjadi hal yang tidak sewajarnya.
"Bicaralah.."Bisiknya.
"Dok..."
"Sebutlah namaku.."
"..." Hinata bungkam.
"Kau tahu, kau itu suka realistis dibanding realita." Naruto menengadah menatap langit.
"Apa bedanya?"
Naruto tidak menjawab, hanya menyeringai.
-ooo-
Malam itu adalah pertemuan mereka di gedung Akatsuki company.
Hinata mengenakan gaun ungu dengan bunga disamping dadanya. Rambutnya ia biarkan tergerai.
Berjalan menggandeng tangan Naruto yang mengenakan tuxedo hitam dengan dasi kupu-kupu. Mereka banyak dilirik tamu lain, sehingga ketika dipintu masuk, Hinata enggan.
"Ayolah.."
"A-aku tidak bisa,dok.." Hinata mundur."Baiknya aku menunggu diluar."
"Seorang tamu harus menghargai undangannya dong, percuma datang."
Suara cempreng itu berasal dari Deidara yang berjalan kearah mereka, membukakan pintunya. "Silakan masuk."
Hinata ragu, ia mencengkram erat lengan Naruto.
"Tenanglah.." Bisik Naruto.
Ternyata didalam tidak hanya sebuah pertemuan biasa namun juga pesta. Sungguh ramai.
"Sayangnya Yahiko dan Konan sibuk dengan syuting mereka."Hidan mendadak muncul d samping Hinata.
"Dia pacarmu?"
"E-eer..i-"
"Aku terapisnya Kak Nagato." Hinata segera menjawab.
"Oooh, Tadi Nagato meneleponku, kukira kalian takkan datang."
"Kami pasti datang kok. Ngomong-ngomong, kok ngadain pesta?"
"Ini memang pesta, perayaan Akatsuki Company yang ke lima tahun." Ujar Deidara. "Kalian duduklah, akan kupesankan minum."
Sementar itu, Hidan, Naruto dan Hinata menuju kursi kosong, sepasang mata mengawasi mereka dari balik keramaian.
"Naruto, kau yang datang?" Laki-laki berambut panjang menghampiri.
"Itachi? Apa Sasuke juga ikut?"
Laki-laki Uchiha itu menggeleng. "Mereka masih diOtogakure, menikmati bulan madunya entah sampai berapa lama." Itachi duduk disamping Naruto."Dia cantik juga." Bisiknya.
Muka Naruto memerah."Diam kau." Balas Naruto.
Hinata melihat sekeliling ruangan yang luas itu, baru kali ini ia pergi kepesta seperti itu, biasanya hanya sekedar duduk biasa.
"Kalian tidak berdansa?" Tanya Deidara yang membawa beberapa gelas berisi minuman berwarna.
"Aku tidak bisa berdansa." Jujur Hinata.
"Haaa?" Hidan melengo.
"Kalau begitu, biarkan aku yang mengajarimu berdansa." Tiba-tiba seorang pria berrambut putih berjongkok dihadapan Hinata.
"A-aa-aku.."
"Hei dia pasanganku, jangan sembarangan kau menggodanya." Naruto berdiri hendak memberi sebuah salam.
"Hanya ingin berkenalan dengannya." Dengan nekat, pria itu menarik tangan Hinata memaksa ketempat dansa.
"Cih." Naruto mencibir ketika mereka mulai berdansa.
"Aku baru melihat Toneri seagresif itu terhadap wanita." Sebuah suara permpuan mengalihkan perhatian mereka.
"Sarah?" Panggil Itachi.
"Maaf.." Perempuan itu mendekati Naruto."Maukah kau menemaniku berdansa?" Matanya amat tajam menusuk.
"Kurasa, iya."
Naruto merangkul pinggang Sarah dan lengan Sarah dibahu Naruto.
"Jadi, sejak kapan kalian pacaran?" Sarah membuka suara.
"Kami tidak pacaran."
"Tapi kau menyukainya kan?" Naruto terdiam, matanya mencari-cari Hinata dikeramaian.
Naruto menatap tajam Toneri yang menyeringai menatapnya.
"Entahlah.. Terlalu rumit untuk dijelaskan."
"Terkadang untuk memastikan sebuah hubungan, kau yang harus memulainya." Sarah menatap Naruto dan tersenyum ketika mata Naruto menatapnya tajam. "Well, kau tahu, perempuan itu butuh kepastian. Kau mau seperti saat ini?"
"Bisakah kita ganti topik?"
"Nagato menceritakan semuanya padaku."
"Karena itu kau mengajakku berdansa?"
Lagu sebentar lagi akan berhenti namun mereka masih tetap berdansa.
Sarah mengusap bahu Naruto, menatap lembut pria itu. Lalu berjarak setelah lagu berhenti.
Naruto segera berlari keluar, muak melihat Hinata yang masih hanyut dalam pelukan pria asing itu.
"Maaf.. Aku rasa aku lelah." Hinata melepaskan tangannya.
"Baiklah.. Mungkin nanti kita bisa lanjutkan pembicaraan ini. Dan kalau kau butuh, hubungi aku dinomor yang ada dikartu namaku."
"Oke. Terimakasih, Toneri." Hinata melirik, mencari-cari Naruto. Dia menghampiri Hidan,Itachi dan Deidara tapi mereka sama sekali tidak mengetahuinya.
Kau dimana Naruto? Hinata beranjak keluar berniat menunggunya dimobil, tapi apa yang dia lihat sangat mengejutkan hatinya.
Naruto sedang dipeluk oleh seseorang dari belakang.
Seorang gadis berambut pirang.
Lalu seorang wanita berambut merah menghampiri Hinata.
"Hinata?" Sapanya
Naruto segera melihat sumber suara, melepaskan pelukan wanita itu dan kearah Hinata.
"Sarah?" Tanya Naruto.
"Maaf mengganggu." Hinata segera masuk kedalam mobil.
"Apa yang kau lakukan?" Naruto menatap geram.
"Aku mencari Shion karena ingin ku kenalkan pada Sasori, tapi ternyata dia malah memelukmu."
Naruto tertegun dan segera masuk kegedung menemui Itachi meminta izin pulang.
"Acaranya belum selesai, Naruto." Sahut Deidara.
"Suasanaku sedang buruk. Maaf." Naruto segera menuju kemobilnya.
"..." Keduanya hening ketika Naruto memasuki mobil.
Kendaraan beroda empat itu berlaju perlahan, kebisuan menyelimuti mereka, udara dingin menyentuh kulit. Bahkan menusuk.
Hinata hendak mengecilkan suhu AC tapi tangang mereka bentrok karena Naruto juga berniat sama menyentuh tombol pengaturan AC.
"Ah, maaf.." Naruto menarik tangannya.
Hinata melirik, lalu dia menekan tombol pengurangan suhu.
Perjalanan yang awalnya terasa cepat, kini malah sebaliknya, sangat lambat. Terlalu lambat untuk jalan yang mulus dan kecepatan yang diatas rata-rata.
-oOo-
Esok paginya ketika Naruto akan kedapur untuk sarapan, ia mendapati koper Hinata didepan pintu kamarnya.
"Apa yang kau lakukan? Kau mau kemana?" Tanya Naruto.
"Aku rasa aku sudah cukup, tugasku disini sudah selesai." Hinata membereskan kamarnya.
"Kau ini..."Naruto mendekatinya,memeluknya erat.
"Dok.. Lepaskan.."Hinata tak punya tenaga ketika pelukan Naruto semakin erat. Ada rasa senang,sedih dan kecewa bercampur padu dihatinya. "Kau harusnya menghargai pacarmu."Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya. Naruto menatap Hinata, mengangkat sebelah alisnya 'pacar?' Hinata membuang muka,ia benar-benar tidak berani menatap Naruto.
"Gadis yang semalam kau cumbui itu." Hinata menggigit bibir bawahnya menahan rasa yang mengkoyak hatinya.
"Maksudmu Shion? Dia saudara Kak Yahiko. Dia mengejutkanku karena kami sudah lama tak bertemu."Naruto menangkup pipi Hinata, dan pada akhirnya Hinata menyerah untuk menatap sepasang mata biru itu. "Kau tahu.. Aku cemburu melihatmu dengan yang lain.."Hinata merasakan pipinya memanas. "Kenapa kau tak bisa menyadarinya, Hinata?"
"Dok-"
"Tidak, jangan selalu bersembunyi dariku." Tangan besar Naruto mengelus pipi Hinata yang merona dan Naruto menciumnya lagi. Hinata pasrah, terlalu lelah untuk melawan. Saat bibir mereka bertaut, Naruto merasakan pipi Hinata lembab. Gadis itu menangis.
Segera melepaskannya.
"Hinata.." Namun yang dipanggil hanya terdiam,dan hanya memeluknya. "Jangan pergi.."Lirih Naruto ketika mengecup keningnya. Hinata mengangguk dalam pelukan Naruto, tenaganya benar-benar seperti terkuras begitu saja.
Memejamkan mata, menghirup wangi pria itu, membuatnya cukup merasa aman. Entah sampai kapan ia akan bertahan. Tapi setidaknya saat ini dia bisa merasakan bahagia.
"Besok kita akan ketempat Deidara, dia sedang mempersiapkan proyek petasan baru lho.." Naruto mengelus rambut Hinata, menenangkannya. "Sekalian kita ketempat Sasori." Hinata diam cukup lama hingga akhirnya dia mengangguk.
"Dan kopermu itu! Jangan kau munculkan lagi didepanku!"
"A-aku akan membereskannya.." Ada lingkaran hitam disekeliling mata Hinata, dan Naruto tahu, bahwa semalaman Hinata tidak tidur, sama halnya dengan dirinya yang semalaman kesal namun rasa kantuknya sangat kuat menghampirinya.
"Jika ada hal yang mengganggu pikiranmu, katakanlah padaku.."
Hinata menggeleng. "Tidak perlu, hanya salah pahamku saja."
"Kau tahu.. Aku-peduli-padamu." Naruto membisikkan kata itu ditelinga Hinata dan gadis itu andai kulitnya belum merona pasti sudah terbakar.
Naruto tahu pasti, dia sudah jatuh cinta pada Hinata. Gadis yang keras kepala dan sok mandiri itu mempunyadi daya tarik tersendiri baginya.
Wajahnya yang anggun nilai tambah, serta kepandaiannya dalam mengurus rumah.
Wanita ideal.
Tapi ia tidak cukup berani mengatakan 'aku cinta padamu' secara langsung. Bagaimana kalau dia menolaknya mentah-mentah? Pasti sakit hatinya dua kali lipat.
Cepat atau lambat dia pasti mengatakannya, hanya saja, kapan?
-oOo-
Usai dari tempat Deidara, mereka ketempat Sasori si master puppet atau si proyek Mannequin.
Dirumahnya banyak sekali jenis-jenis boneka dari yang model kain sampai kayu yang persis manusia.
"Seni itu abadi. Meski kau telah tiada, maka jiwamu selalu ada ditiap karyamu." Sasori menarik benang dilengan bonekanya.
"Kata Deidara, seni itu itu sesaat seperti ledakan." Naruto memandangi reaksi tangan boneka.
"Bodoh, seni itu hal yang indah dan untuk selamanya."
Oke, Naruto kau membuatnya naik pitam.
"Ini punya siapa?" Hinata menyentuh alat penyulam.
"Punya nenekku, dia sudah meninggal setahun yang lalu." Sasori melirik Hinata.
"Kalau kau mau, ambillah. Disini tidak dipakai dan hanya mengingatkanku padanya." Sasori memasangkan tangan itu pada bonekanya.
Menyulam apa dimusim panas?
-oOo-
Bersambung~
Mungkin ada yang bisa nebak alur dichapter depan? Wkwkwk
Well, saya akan aplod secepat mungkin, dimaklum karena moody :D
Saya itu sangat suka bikin cerita yang rumit, walau pada akhirnya keteter sendiri -_-
'On progress new Fict'
Termakasih telah menyempatkan membaca dan mereviewnya, sampai jumpa~
Salam NaruHina Lovers :D
