Sudah satu tahun semenjak tangisan bayi laki-laki itu menggema di rumahnya. Waktu telah lama berselang namun terasa bergulir dengan cepat. Banyak hal terjadi dan berubah, berotasi, berpindah. Semua dilewati Joonmyeon dengan keringat dan air mata yang tak kunjung ada habisnya. Bukan ia tidak menyukai keberadaan Jong In. Sebaliknya, dia merasa sangat bersyukur karena kehadiran malaikat kecil itu membuat hidupnya jauh dari kata hampa.

Ulang tahun Jong In ia lewatkan begitu saja. Bukan tanpa alasan, yang lagi-lagi kali ini adalah karena urusan pekerjannya. Jong In melewatkan hari bertambahnya umurnya dengan sang nenek yang sangat menyayanginya. Dan dia tidak protes. Bahkan menangispun tidak. Sepertinya di sudah tumbuh menjadi anak yang lebih tegar dan berani.

"Hari ini dia riang sekali. Tapi dia terlalu sering melihat pintu dan semua itu pasti karena Jong In merindukanmu." Ujar Nyonya Kim yang setia menunggui cucunya yang baru saja tertidur. Tepat sebelum Joonmyeon pulang.

"Maaf merepotkan ibu."

"Aih! Jangan sungkan begitu. Walau sudah tua, ibu lebih hebat merawat bayi dari pada kamu. Sudah ya. Jaga Jong In. Ibu harus pulang dan mengurus bayi besar di rumah."

Joonmyeon menggelakkan tawanya. Ayahnya pasti berulah lagi.

Seperginya sang ibu, Joonmyeon duduk di samping Jong In kecil. Ia mengelap keringat yang menetes di dahi bayinya dengan penuh kasih sayang.

"Appa menyayangimu."

.

Benang Merah

Warning! Semi-Incest, GS! Kyungsoo, Elder! Jong In, Parent! Joonmyeon x Yixing.

Rated: T+

Summary: Benar, kenapa kita harus lahir dari keluarga yang membingungkan seperti ini? Tidak adakah keluarga lain yang bisa melahirkan kita sebagai manusia yang normal. Paling tidak aku!

.

Chapter 7

.

Happy Reading

.

Lampu taman yang remang-remang tak membuat Kyungsoo gentar dengan langkahnya. Belum lagi saat merasakan perlindungan yang mengalir dari tangan kanan yang kini tengah digenggam oleh tangan namja lain. Kulit kasar dan kehangatan tubuh namja itu Kyungsoo rasakan menjalar keseluruh tubuhnya. Hingga meski angin malam bertiup kencang, mengibarkan gaun ungunya, rasa dingin tidak banyak terasa.

Bangku taman ber-cat putih gading seakan melambai-lambai pada mereka. Sang namja menarik yeoja yang bertubuh lebih kecil darinya itu untuk duduk disana.

"Penampilanmu bagus." Suara bass namja itu membuat Kyungsoo bersemu merah. Ia menundukkan wajahnya yang terasa panas.

"Terima kasih. Ini karena Jong In banyak membantuku."

Chanyeol mengangguk kecil sembari mengalihkan pandangan kedepan. Dimana hanya ada jalan raya yang terhalang oleh pagar pembatas sebagai pemandangannya. Tapi ia merasa apa yang dia lihat saat ini lebih bagus daripada leher jenjang dan tulang selangka yang menggoda iman. Sadar dengan apa yang dia pikirkan, Chanyeol menggeleng keras.

Beberapa saat yang lalu saat Kyungsoo baru saja turun dari panggung bersama kakaknya, ia langsung disambut oleh anggota pengurus kesiswaan yang bersorak girang. Ia tidak pernah menyangka akan disambut oleh orang lain semeriah ini. Tanpa sadar ia berharap terlalu tinggi dan akhirnya menyadari bahwa sorakan itu lebih banyak ditujukan untuk Jong In.

Rasa sedih yang dirasakannya bisa ia bendung. Ia menyeret kakinya menjauh hingga akhirnya berpapasan dengan Chanyeol, atau memang namja itu sengaja menghampirinya.

Sekarang mereka berdua, di tempat yang gelap dan tidak ada seorangpun selain mereka. Berbeda jauh dengan gedung olahraga yang dipenuhi musik dan tawa. Namun entah kenapa Kyungsoo merasa lebih nyaman. Benar, karena ada seseorang yang disukainya di sampingnya.

"Bagaimana kalau kita pulang?"

Kyungsoo sedikit tersentak dengan pertanyaan atau lebih tepatnya tawaran itu. Baru beberapa menit ia sampai disana, haruskah ia segera angkat kaki?

"Ah maaf mengajakmu pulang seenaknya sendiri. Kau pasti masih ingin berkumpul dengan teman-temanmu 'kan?"

"Ani! Aniya. Aku tidak punya urusan lagi disini. Ayo kita pulang, oppa."

Chanyeol menanggapinya dengan senyum manis. Puas pada sesuatu yang baru didengarnya.

.

Malam semakin larut. Tapi Jong In masih harus banyak berusaha untuk keluar dari tempat itu. Beberapa orang dari mereka terus bergelanyut manja padanya, sebagian lagi menatap memuja, dan sebagian lagi terus berusaha mengajaknya pergi ke klub malam untuk menghabiskan malam mereka dalam keadaan melayang. Namun mata ngantuk Jong In tak kenal menyisir satu persatu orang di dalam ruangan besar itu guna menemukan satu orang, adiknya, Do Kyungsoo. Tidak banyak orang yang datang menggunakan gaun ungu seperti yeoja itu namun entah kenapa rasanya begitu sulit untuk menemukannya.

Hingga satu persatu dari orang-orang itu memutuskan untuk pulang, Jong In masih tidak menemukan Kyungsoo. Bahkan ia sudah mengelilingi taman belakang dua kali tapi hasilnya tetap nihil.

"Jonghyun, kau lihat Kyungsoo?"

Kebetulan ia menemukan Jonghyun yang sibuk memberesi alat-alat musik di panggung. Namja itu terlihat sedikit berfikir sebelum akhirnya menggeleng. "Tidak. Tapi tadi setelah tampil, dia pergi dengan laki-laki tinggi. Tapi aku tidak pernah melihat laki-laki itu sebelumnya."

Laki-laki tinggi. Hanya ada satu nama di otak Jong In sekarang. Kakaknya. "Kau tahu dimana Soojung songsaengnim? Krystal saem!"

"Hei bung santailah sedikit! Kenapa kau jadi seperti dikejar maling begini?"

"Ini menyangkut hidup mati adikku!"

Jonghyun tau apa yang sedang dikatakan Jong In itu hanya hiperbola. Ia tahu seberapa sister complexnya Jong In. "Aku tidak melihatnya datang. Mungkin memang tidak datang."

Jong In mendesah frustasi. Ia berjalan pergi sembari menggulung lengan kemeja putihnya hingga siku. Jasnya? Sudah ia tanggalkan sejak tadi dan kini tersampir manis di bahunya.

"Gomawo!"

"Ye~"

.

Apartemen di tengah kota yang sederhana. Dengan kaca super besar yang menghadapkan orang-orang di dalamnya pada lampu-lampu Seoul bak bintang-bintang di langit. Aroma kopi yang menguar ke setiap sudut ruangan memenuhi penciuman Kyungsoo. Bagai candu yang mengikat kuat raganya. Punggung sempit yeoja itu bersandar pada sofa di belakangnya. Sejenak menikmati kenyamanannya.

"Kopi…"

Kyungsoo tersadar dari lamunan. Ia menemukan Chanyeol sudah duduk disebelahnya dengan secangkir kopi yang mengepulkan asap dan sekaleng bir dingin. Menarik mata siapapun untuk melihat dan segera meneguknya sedikit demi sedikit.

"Gomawo oppa."

Dari sudut matanya, Kyungsoo mendapati Chanyeol tersenyum kecil. Dan ia sadari, senyuman kecil ikut mengembang pula di bibirnya sendiri.

"Enak?" Kyungsoo menanggapi pertanyaan Chanyeol dengan anggukan antusias. Yeoja itu tidak bisa menolak rasa kopi yang dibuatkan Chanyeol –seseorang yang dia sukai- yang mungkin saja menyelipkan sebuah cinta kecil di dalamnya. Yah, sebuah harapan kecil yang sangat dia harapkan.

"Hari ini kau cantik sekali Kyungsoo-ya."

"O-oppa…" rasa panas menjalar di pipi Kyungsoo. Yeoja itu merasa kepanasan tiba-tiba karena pujian Chanyeol. Akhirnya, dia pun tidak bisa menyembunyikan kegugupan yang sejak tadi disembunyikannya.

"Hahaha… jangan malu begitu. Aku ini kan oppamu."

"Tapi tetap saja malu! Ah… tapi Krystal songsaengnim pasti lebih cantik kan oppa? Oh iya kenapa kau tidak bersamanya tadi?"

Jelas raut wajah Chanyeol berubah setelah Kyungsoo menyebut nama Krystal. Namun ia tidak tahu alasan mengapa oppanya berubah murung. Ia juga tidak berani menerka-nerka.

"Dia tidak datang hari ini. Kami bertengkar."

Jantung Kyungsoo berdetak cepat. Adrenalin memacu diri yang kini diujung harapan.

"K-kenapa? Oppa kan sebentar lagi akan menikah dengannya. Oppa tidak boleh bertengkar dengan dia." Tapi Kyungsoo berhasil menahan semua ego yang menghantui.

Chanyeol tersenyum miring mendengarnya. Padahal namja itu tahu Kyungsoo dan Jong In tidak menyukai hubungannya dengan Krystal terlebih yeoja di hadapannya. Ia sampai tidak bisa membayangkan seberapa kesalnya hati Kyungsoo saat ini karena terpaksa berakting hanya untuk membuatnya senang. Tapi dia tidak membutuhkan seseorang yang seperti itu sekarang. Perlakuan Kyungsoo malah membuatnya semakin merasa dibohongi.

"Sudahlah Kyungsoo, lagipula sebenarnya kau senang aku bertengkar dengan dia kan?"

Binggo!

Chanyeol menyeringai dalam hati saat melihat mata bulat Kyungsoo semakin lebar. Dia sudah memprediksi akan terjadi hal yang seperti ini kalau memang Kyungsoo sedang memaksakan dirinya tadi.

"Bukan begitu! Aku hanya… tidak suka melihat Chanyeol oppa sedih."

Jantung Kyungsoo berdebar kencang sekali saat ini. Seakan-akan ingin memompa semua darah yang ada ke wajahnya yang sudah terlalu merah. Dia ingin membuat jantungnya lebih tenang. Tapi Chanyeol tengah menatap matanya begitu dalam. Menyelami kedua matanya yang gelap seperti seorang pemuja yang ulung. Energinya seperti diserap habis hanya dengan tatapan yang tidak jelas artinya itu.

Hati yang berantakan, udara dingin, suasana sepi dan seorang gadis cantik di depan mata. Siapa lagi laki-laki yang bisa berfikir waras di dunia ini jika dihadapkan dengan momen semacam ini? Rasanya tidak ada. Dan Chanyeol bukanlah pengecualian. Namja itu menenggak habis bir di tangan setelah merasa bahwa Kyungsoo terlanjur hanyut dalam tatapannya. Dia merasa tidak memiliki alasan untuk melangkah mundur. Lagi pula, ia sadar jika Kyungsoo tertarik padanya dan mungkin yeoja itu memiliki keinginan terpendam untuk merasakannya. Sama seperti hal menggebu di dalam hatinya -sebagai seorang laki-laki- saat ini.

"Jika dibandingkan dengan yeoja tukang selingkuh itu, sebenarnya kau terlihat jauh lebih baik Kyungsoo-ya…"

Perselingkuhan mungkin menjadi salah satu ketakutan besar bagi setiap orang yang sudah memiliki pasangan di dunia ini. Manusia tidaklah sempurna namun mereka terus mencari yang lebih baik dari sebelumnya dan tidak pernah puas dengan apa yang mereka dapatkan. Begitulah, awal dari sebuah perselingkuhan. Dan mungkin saja yang sedang dialami Chanyeol saat ini adalah hal itu. Krystal yang berselingkuh dengan laki-laki lain.

Udara terasa semakin panas, bahkan terkesan mencekik leher saat Chanyeol mendekatkan tubuhnya. Memperpendek jarak diantara mereka yang sejak awal bahkan telah saling menempelkan bahu. Lalu tebak apa yang terjadi jika bukan Kyungsoo yang menutup mata sementara Chanyeol berperan sebagai laki-laki yang baik, perlahan merengkuh kepala yeoja itu dan mencium bibirnya. Sejak pertama kali bertemu Kyungsoo, yang terlintas dalam benak Chanyeol tentang yeoja itu adalah bibirnya yang menawan. Sekarang ia sudah merasakannya. Membuktikan bahwa bibir itu bukan hanya menawan, tapi juga memabukkan.

.

Jong In tidak peduli dengan tanggung jawabnya sebagai panitia prom night yang mengharuskannya tinggal di sana lebih lama. Paling tidak sampai seluruh barang-barang disingkirkan dari gedung olahraga. Dalam otaknya hanya ada Kyungsoo. Dimana yeoja itu? Sedang apa? Apakah dia baik-baik saja? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepalanya hingga beberapa kali menciptakan geraman marah di bibirnya.

Motor yang dia kendarai melaju cepat menuju apartemen Chanyeol. Dulu dia pernah bersumpah untuk tidak pernah menginjakkan kaki di sana. Namun, sekarang semuanya berbeda. Satu-satunya alasan adalah karena Kyungsoo ada di sana. Dan Jong In tidak suka Kyungsoo berdekatan dengan Chanyeol. Maka dari itu ia menarik gas motornya lebih kuat lagi.

Saat motornya sudah berhenti tepat di baseman sebuah apartemen yang menjulang tinggi, Jong In langsung melompat dari benda itu lalu berlari masuk kedalam apartemen. Berusaha mencari dimana letak kediaman kakak tirinya itu.

Beberapa penguni apartemen yang kebetulan ada di luar menatapnya. Seperti menyelidik tentang siapa dia dan apa maunya. Hingga seorang laki-laki paruh baya mendekatinya. "Kau mencari sesuatu?"

Jong In terkesiap. Ia memandang gugup pria itu sebelum akhirnya membungkuk dalam. "Aku mencari apartemen milik Park Chanyeol. Uuuh… yang kutahu dia tinggal di lantai 11 tapi tidak tahu nomor berapa."

"Ah… dokter tampan itu. Dia tinggal di apartemen nomor 15."

"Khamsahamnida." Setelah membungkuk lagi, Jong In cepat-cepat masuk kedalam lift lalu menekan tombol bernomor 11.

Ia tidak tahu mengapa pikiran-pikiran buruk tentang kemungkinan Kyungsoo tidak aman di sekitar Chanyeol selalu menghantuinya selama ini. Ia juga tidak tahu mengapa kakinya memaksanya untuk lebih cepat lagi sampai di sana lalu tangannya akan menarik Kyungsoo pulang ke rumah.

Ia mendapati kamar bernomor 15 tidak terkunci dengan rapat. Begitu bodohnya orang didalam, dan begitu beruntungnya Jong In saat ini. Tapi namja itu tetap berusaha untuk bersikap sopan. Ia menekan bel di samping pintu beberapa kali. Hampir 5 menit namun tak kunjung ada orang yang keluar dari tempat itu. Ia jadi sedikit ragu. Jangan-jangan ia salah tempat.

"Chanhhh…"

Lirih sekali. Jong In yang tadinya ingin menyerah dan berbalik menahan tubuhnya. Ia kembali menatap pintu yang sejak tadi di tunggunya seseorang keluar dari balik benda itu. Dengan mata yang memicing, ia memberanikan diri membuka pintu yang memang tak kerkunci itu.

Udara dingin dalam ruangan itu menusuk kulit Jong In hanya beberapa detik setelah namja itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam sana. Aroma kopi masih tercium harum diantara bau pengharum ruangan yang mendominasi. Namja itu melewati sebuah dapur begitu masuk ke dalam apartemen milik Chanyeol lalu disuguhi ruang tengah yang berisi sebuah sofa panjang dengan LCD TV yang menempel di tembok seberangnya. Dihadapannya, ia dapat melihat pemandangan kota Seoul yang indah dari sebuah kaca super besar yang sengaja terpasang di sana. Di siang hari, pemandangan di balik kaca itu pastilah sangat indah sekaligus jelas. Namun apa yang Jong In lihat dari kaca itu saat ini bukan hanya pemandangan kota Seoul yang mengagumkan. Namun juga refleksi sesosok gadis yang tengah terduduk pasrah bersama dengan seorang namja yang mencumbu mesra leher jenjangnya.

Jong In terpaku di tempat. Tepat di atasnya, ruang tidur Chanyeol yang tanpa tembok, ia melihat Kyungsoo tengah menjadi seorang ratu di ranjang namja yang seharusnya menjadi kakaknya. Ia tidak bergerak. Bahkan saat mata bulat yeoja itu juga menatapnya lewat cara yang sama. Melalui refleksi tubuh Jong In yang terpatri pada kaca hitam di seberang sana.

Kyungsoo membeku. Jong In tiba-tiba muncul di bawah sana dan ia sama sekali tidak memprediksi akan terjadi hal seperti ini. Ia melihat kakaknya itu hanya diam sambil terus melihatnya dengan tajam seakan menyalurkan seluruh kemarahannya. Kekalutan muncul. Chanyeol masih setia dengan tubuhnya yang nyaris telanjang, dia tak sedang dalam keadaan sadar. Sementara kakaknya berdiri disana dengan tatapan marah dan kecewa. Sesuatu dalam hati Kyungsoo bergetar melihat ketidakberdayaan Jong In itu.

"Kyunghh…"

Desahan pendek dari Chanyeol yang diikuti dengan jambakan kecil di rambutnya membuat Kyungsoo mau tak mau mengalihkan pandangan dari kaca hitam yang memperlihatkan sosok Jong In. beberapa saat kemudian, lewat ekor matanya, Kyungsoo melihat Jong In berjalan keluar apartemen itu. Tanpa menegurnya, tanpa menyelamatkannya. Hati Kyungsoo semakin sakit. Selama ini Jong In menjaganya dengan baik. Namun sekarang,… ia merasa dilupakan. Ditinggalkan.

.

Yixing menyibukkan diri di dapur demi membuat beberapa cangkir teh untuk para tamunya. Bukan tidak mungkin dia memerintahkan Bae Ahjumma –Asisten rumah tangga barunya- untuk melakukan hal itu. Namun Yixing merasa tubuhnya semakin kaku jika tidak digunakan. Belum lagi Joonmyeon yang selalu saja mencegahnya bekerja sejak tahu bahwa ia sedang hamil. Tubuhnya benar-benar terasa seperti bersarang laba-laba.

"Maaf menunggu. Silahkan diminum dulu Oh sajangnim, Nyonya Oh."

Yixing melemparkan senyum terbaiknya setelah menyajikan cangkir teh di depan kedua tamunya lalu duduk di sebelah Joonmyeon yang sejak tadi sepertinya sudah menunggunya.

"Terimakasih banyak Nyonya Zhang. Kau baik sekali."

Yixing hanya tersenyum mendengar pujian dari Nyonya Oh itu.

"Jadi bagaimana dengan perusahaan akhir-akhir ini? Kudengar sedikit bermasalah. Harga sahammu turun ke angka terendah minggu ini."

Kembali Joonmyeon membicarakan masalah perusahaan pada Oh Chilhyun yang saat ini hanya bisa menggeleng pelan. Melihatnya, Joonmyeon tidak bisa melakukan apa-apa. Sebagai relasi sekaligus rival dalam urusan bisnis, ia tidak bisa banyak membantu temannya itu. Sedikit banyak ia merasa bersalah.

"Aku takut kami akan 'selesai' dalam waktu dekat. Anakku juga sama sekali belum bisa dipercaya. Dia masih sangat muda untuk memimpin perusahaan sementara aku semakin lemah seperti ini." Chilhyun sangat putus asa menceritakan kehidupan yang sedang di jalaninya sekarang. Sementara sang istri hanya bisa mengeluskan dadanya.

"Apa tidak ada cara lain untuk menyelamatkan perusahaan kalian?"

Yixing tidak tahu apa-apa mengenai perusahaan. Namun ia tetap bersimpati pada perusahaan keluarga Oh saat ini. Dari apa yang dia dengar dari Joonmyeon, perusahaan mereka adalah menyedia bahan baku untuk perusahaan milik Joonmyeon.

"Maka dari itulah kami ingin meminta bantuan dari kalian berdua selaku relasi kami."

.

Chanyeol rubuh di sampingnya. Kyungsoo yang sedari tadi menutup mata hanya bisa bernapas lega. Sejak kepergian Jong In, ia tidak bisa berhenti memikirkan namja itu sampai-sampai perlakuan Chanyeol padanya pun terasa sangat hambar. Bahkan cenderung tak diperhatikannya.

Bau alkohol menguar dari napas pendek Chanyeol yang mulai teratur. Pertanda bahwa namja itu mulai terlelap. Ia tidak melakukan apapun. Hingga saat ini Kyungsoo masih seperti sebelumnya. Seorang gadis, dan sejujurnya Kyungsoo sangat mensyukuri hal itu. Toh jika Chanyeol bangun nanti dia tidak akan ingat dengan apa yang sudah ia lakukan padanya. Dan akhirnya Kyungsoo hanya akan mendapatkan luka baru dari ketidaktahuan Chanyeol itu.

Kyungsoo menarik selimut di bawah kakinya. Menutupi tubuhnya dan Chanyeol yang telanjang walau mereka tidak sempat melakukan bagian inti. Ia berbaring menyamping, menghindari Chanyeol dan lebih memilih memandang kaca besar yang tadi telah menjadi saksi bisu kedatangan Jong In.

Namja itu kembali berkeliaran dalam pikiran Kyungsoo. Mulai dari sikap baiknya sejak mereka berada di kelas 1, dimana mereka hanyalah remaja yang tidak sengaja duduk bersebelahan dan saling berbagi susu. Lalu kenyataan membawa mereka pada takdir yang sangat membingungkan. Terjebak dalam keluarga yang sangat berantakan. Dan dipaksa menyandang status sebagai kakak beradik. Namun sikap baiknya tidak pernah berubah. Jong In tetap Jong In yang selalu peduli padanya dan selalu berusaha untuk menjaganya.

Peristiwa dimana ia hampir saja bunuh diri kembali terputar dalam otaknya. Dan di sana, ada sosok Jong In. Satu-satunya orang yang meyakinkannya bahwa dunia ini tidak seburuk yang selama ini ia pikirkan. Dan Jong In membuktikan bahwa keberadaannya adalah bukti bahwa dunia ini, benar-benar indah.

Kyungsoo menangis dalam diam. Mengingat betapa berharganya ia untuk Jong In. Namun sekarang, bahkan ia sudah tidak mau menegurnya lagi. Seharusnya ia berjalan dengan langkah lebar mendekati mereka, lalu menghajar Chanyeol dan menariknya pergi. Hal itu lebih baik dari pada ia harus pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Perlahan mata bulatnya tertutup. Mengikuti jejak sang kakak tiri yang sudah terlelap, terbang ke alam mimpi.

.

Sejak dulu Jong In memegang beban berat sebagai penerus perusahaan Joonmyeon suatu saat nanti. Meski sang ayah tidak pernah mengatakan bahwa ia harus meneruskan perusahaan property itu, namun ia memiliki kesadaran diri yang tinggi untuk mengetahui dimana posisinya saat ini. Sebagai satu-satunya anak laki-laki di keluarga Kim.

Maka dari itu dia membuang jauh-jauh keinginannya untuk menjadi seorang dokter. Iya, dokter. Pekerjaan yang sebenarnya sangat bagus dan dihormati orang-orang korea kebanyakan. Bahkan ia bisa masuk ke fakultas kedokteran Universitas Seoul dengan mudah bermodal nilai sekolahnya yang selalu memuaskan. Tapi sekali lagi dia sadar diri. Menjadi presedir pun bukan sesuatu yang buruk. Begitu pikirnya.

Sementara itu Kyungsoo memilih untuk melanjutkan sekolahnya ke fakultas keperawatan. Alasannya mudah, karena dia terlalu bodoh untuk menjadi dokter dan terlalu pintar hanya untuk menjadi seorang pasien. Alasan bodoh. Tapi sejujurnya dia memang tidak punya alasan kuat kenapa ia memilih menggantungkan masa depannya dengan dunia keperawatan.

Untuk beberapa alasan, kedua kakak beradik tak sedarah itu kembali mengenyam pendidikan di tempat yang sama. Sebuah universitas yang tidak jauh berbeda dengan Universitas Seoul dalam hal akademik.

"Menyebalkan. Senior-senior centil itu tidak berhenti menggodaku!"

Kyungsoo menggerutu sebal setelah Jong In memberikan helm padanya. Tanpa berperasaan, yeoja itu langsung duduk di belakang Jong In hingga sang kakak harus ekstra sigap mengatur keseimbangan tubuhnya. Jika tidak, mereka bisa jatuh dari motor dengan konyolnya.

"Sudahlah, sebagai junior kau harus lebih sabar."

Jong In memakai helmnya sendiri lalu menghidupkan mesin motornya. Ia mengabaikan saja gerutuan Kyungsoo di belakang.

Motor hitam itu keluar dari area kampus dengan gagah. Melaju melewati beberapa senior yang sibuk membenahi barang-barang masa orientasi di pintu gerbang dengan sombongnya. Kyungsoo tersenyum miring melihat beberapa senior yang tadi meledeknya tertegun begitu melihat dengan siapa ia saat ini. Murid terpintar seuniversitas di angkatannya.

Jong In berhenti saat lampu lalu lintas berubah merah. Seoul sore itu cukup lengang. Mungkin udara panas membuat sebagian orang memilih untuk berdiam diri di rumah. Dan jika Jong In boleh memilih, ia ingin sekali mengikuti orang-orang itu.

"Jong In antarkan aku ke departemen store. Aku harus cari baju untuk pernikahan Chanyeol oppa."

Jong In membuka penutup helmnya. Ia sontak menoleh kebelakang dan menatap adiknya tak percaya. Sekarang sudah sangat sore dan acara ospek tadi sangat melelahkan, dari mana gadis itu mendapat kekuatannya kembali hingga sesemangat ini? Namun Jong In tidak mengatakan apa-apa karena lampu sudah terlebih dahulu berubah hijau.

.

Jong In hanya mengikuti Kyungsoo yang sejak tadi berputar-putar bersama penjaga toko mencari gaun yang sesuai untuknya. Sudah 2 jam mereka lewatkan begitu saja. Penjaga toko yang sejak tadi melayani mereka pun terlihat mulai jengah jadi ia mencari alasan untuk pergi meninggalkan mereka. Pergi ke kamar mandi. Kyungsoo yang tidak peka terhadap kejengahan sang penjaga toko hanya tersenyum saat ia memohon ijin. Membuat Jong In meringis karena ketidakpekaan adiknya itu.

Kyungsoo kembali memilih pakaiannya seorang diri. Beberapa kali ia mengambil gaun namun akhirnya dia kembalikan lagi ketempatnya.

"Kau belum bosan ya? Ini sudah lewat jam makan malam dan appa sudah berkali-kali menghubungiku."

Jong In mendekati Kyungsoo yang kini menatap tak percaya jam tangannya.

"Ah! Bagaimana ini? Kalau tidak beli sekarang tidak akan ada waktu lagi. Tugas ospek selanjutnya pasti semakin banyak. Tinggal besok saja yang tidak ada tugas. Jong In bantu aku…"

Kyungsoo merengek seperti anak kecil.

"Aku tidak tahu apa-apa tentang gaun. Kenapa kau tidak pilih satu lalu pergi?"

"Nanti kalau asal pilih aku jadi terlihat jelek. Kau mau aku jelek di mata tamu Chanyeol oppa?"

Jong In diam saja setelahnya. Ia memandang ke arah lain sementara Kyungsoo kembali berkutat dengan gaun-gaun cantik yang tergantung rapi.

"Tapi kau tidak pernah jelek dimataku."

"Jong In kau bicara apa?"

Terkesiap dengan pertanyaan Kyungsoo, Jong In menyadari bahwa ia telah menyuarakan pikirannya.

"Kalian terlihat asyik sekali memilih baju."

Kyungsoo dan Jong In memutuskan kontak mata mereka karena suara lain tiba-tiba mengintrupsi. Disebelah mereka, seorang namja tinggi serta berkulit putih berdiri dengan senyuman ramah. Kedua kakak beradik itu saling berpandangan beberapa saat. Saling menanyakan satu sama lain apakah orang yang kini mereka tatapan tahu siapa namja asing itu.

"Jong In, aku duduk di sebelahmu tadi. Masa kau tidak ingat?" Namja itu terlihat kecewa.

"Hah? Ini temanmu? Kau bilang kau tidak tahu."

"Ah sebenarnya tadi aku agak mengantuk jadi tidak sadar siapa saja orang di sekitarku." Jong In tetawa lebar. "Jadi siapa namamu?"

"Oh Sehun. Panggil saja Sehun."

.

.

TBC

.

A/N Chapter 7! Maaf menunggu lama. Maklum sudah kelas 3 jadi susah cari waktu untuk ngetik. Mohon pengertiannya. Dan semoga kalian suka dengan cerita ini.

Thanks to:

Kyungri, bubble, NopwillineKaiSoo, Mislah, dodyoleu, kaisoomin, SehunGotik, kim fany, , chocohazelnut07, anoncikiciw

Juga para pembaca yang gak bisa aku sebut satu persatu. Karena gak tau siapa aja. Hahaha…

Semoga kalian masih sudi membaca FF ini lagi.

Are You Like It? ^^