Chapter 7
*To Be A Parents?*
"Ibu mengundang kita untuk makan malam dirumah utama nanti, aku mohon kau tidak menolaknya." Sakura berhenti mengelilingi ruangan suaminya itu, menatap sang pria yang mengeluarkan suara tadi.
"Baiklah Sasuke, aku jelas tidak akan menolak permintaan ibu. Dan juga, aku ingin memberi oleh-oleh untuk keluarga dirumah utama."
Sasuke mengangguk setelah mendengar jawaban dari istrinya, dan fokus nya kembali berpindah pada sumpit yang ada ditangan. Dari pantauan Sasuke sendiri, dia tidak bisa melihat bagaimana jati diri Sakura yang sebenarnya.
Sampai saat ini pun, Sasuke masih tidak mengerti suasana hati istrinya itu. Kadang-kadang, Sakura tampak nyaman dengan statusnya, tapi kadang kala Sakura seperti terlihat menghindarinya.
"Aku selesai." Sakura berjalan mendekat kearah meja Sasuke, dan merapikan sisa makan siang suaminya tadi.
"Baiklah, sampai jumpa nanti. Sasuke."
"Hn."
Perempuan itu dengan segera melangkah keluar ruangan Sasuke, dan berpamitan sebentar dengan Hinata. Dia melangkah keluar gedung itu dan berlari kecil menuju tempat parkir.
Suasana makan malam dirumah besar itu sangat nyaman dan hangat bagi Sakura, padahal dia hanya anggota baru ditengah-tengah mereka.
Candaan dari tetua rumah, kakek Madara, tambah membuat suasana itu ceria. Walaupun yang menjengkelkan dari ini adalah dia dan Sasuke menjadi bahan tertawaan. Sudah tak terhitung berapa kali mereka menyembungikan wajah memerah tersebut, tapi tetap saja candaan itu tak berhenti.
"Sudah, sudah. Jangan menggoda anak dan menantu ku seperti itu ayah, lihat lah wajah mereka, seperti terbakar." Ucap Mikoto sambil menyembungikan tawanya dibalik tangan yang menutup mulutnya itu.
Sasuke menatap jengkel keluarganya, bisa-bisanya mereka memojokkan dirinya dan Sakura dalam situasi aneh ini. Membuat dia menyesal telah menyetujui undangan ibunya itu.
Dia memang merasakan hawa aneh saat dia melangkah memasuki rumah ini, dan inilah jawabannya, dia dikerjai habis-habisan. 'makan malam? Omong kosong! Bahkan sedari tadi tidak ada makanan yang bisa lancar masuk ke pencernaan ku.' Bathinnya menjengkel, melampiaskan amarahnya pada Beefsteak itu dan memakannya secara kasar.
"Tak apa Mikoto, melihat mereka memerah itu benar-benar lucu. Membuat ku menginginkan sesuatu, kapan kalian akan memberikan ku cicit eh, Sasuke Sakura?"
"Uhuk!" sepotong daging tadi sukses berhenti berjalan ditengah tenggorokan Sasuke.
Melihat keadaan Sasuke, Sakura lansung memberikan suaminya itu segelas air putih. Perempuan itu mencoba bersikap tenang, yang kenyataannya ialah wajah itu memerah sempurna dengan jantung yang berdetak tak normal. Sangat kencang.
Pertanyaan dari Madara membuat mereka terdiam, tidak dapat menjawab apapun. Kalau mereka sampai tau apa yang terjadi sebenarnya dengan dirinya dan Sasuke, pasti mereka tidak akan berani meminta macam-macam. Itu memang benar, tapi apakah dia dan Sasuke tega menghilangkan keceriaan ini yang berganti dengan kekecewaan? Perempuan itu menggeleng kepala sendiri. Tidak, dia tidak sanggup. Tapi, apa yang harus dia lakukan sekarang?
"Benar yang dikatakan kakek mu Sakura-chan, jadi kapan kau dan Sasuke-kun akan memberikan kami cucu? Sudah lama ibu menginginkan cucu dari kalian berdua, terutama darimu Sasuke."
Sakura tidak tau harus menjawab apa pada ibu mertuanya itu, yang dapat dia lakukan adalah melirik suaminya dengan artian meminta tolong.
"Ehem, begini ibu, kakek, kami belum berencana hal itu dalam waktu dekat ini. Bahkan, aku dan Sakura saja belum melaksanakan wisuda. Mungkin, itu akan aku pikirkan saat kami sudah sama-sama bekerja nanti."
Sakura terdiam, baru kali ini dia mendengar Sasuke berkata sepanjang itu. Sudah kebeberapa kali Sasuke tidak bersikap seperti dirinya dirumah ini. Sikap yang tenang, berwibawa, dan dingin itu menghilang ntah kemana. Sebuah kesimpulan ada dikepala Sakura, jika Sasuke bersama keluarga, sikapnya berbeda.
"Ya, apa yang dikatakan Sasuke-kun itu benar ibu. Aku meminta maaf kepada ibu dan kakek, karena tidak dapat mewujudkan keinginan kalian dalam waktu dekat ini."
Sekarang, Sasuke lah yang terdiam. Bukan karena senyuman indah Sakura itu, tapi ini karena suara lembut yang memanggil namanya dengan embel-embel 'kun' dibelakang.
Ntah kenapa, panggilan Sakura padanya tadi membuat hatinya terasa disiram mata air yang jernih dan sejuk. Membuat hatinya tenang, merasa namanya menjadi paling indah didunia ini. merasa kalau itu benar, merasa kalau Sakura harus memanggilnya seperti itu mulai sekarang.
"Baiklah, ibu akan menantikannya. Tapi, jangan lama-lama ya?"
"Sudahlah ibu, lebih baik kita melanjutkan makan malamnya sekarang."
Sinar matahari yang masuk ke kamar itu membuat salah satu penghuninya terjaga, siapa lagi kalau bukan nyonya muda Uchiha.
Sakura mengerjapkan matanya, mencoba membuat matanya menyesuaikan diri dengan cahaya diruangan itu. Dan setelah matanya terjaga sempurna, pemandangan yang dia lihat adalah wajah suaminya yang sangat polos dan tampan. Membuat semburat merah mewarnai pipinya di pagi hari ini, ditambah dengan tangan Sasuke yang sukses melingkar dipinggang nya.
Apakah ada yang bertanya mengapa itu bisa terjadi? Jawabannya adalah mereka kembali berdebat tadi malam. Dengan topik yang sama, siapa yang tidur dimana.
Sakura tidak bisa membiarkan Sasuke tidur disofa seperti di Venezia dan Roma kemaren, makanya dia bersikeras agar dirinya saja yang tidur disofa. Tapi dengan cepat Sasuke menariknya ke tempat tidur dan santainya berkata, "Tidak ada yang tidur disofa Sakura, atau kau mau aku yang membawa mu ke tempat tidur?"
Tidak ada pilihan lain bukan? Mendengar Sasuke berbicara seperti itu saja membuat jantungnya melompat-lompat, apalagi membayangkan Sasuke akan membawanya ke tempat tidur dengan ala Bridal Style. Ini memang melanggar prinsipnya, tapi tidak ada pilihan lain selain itu.
Sakura bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi, dia butuh menenangkan jantungnya yang berdetak tak normal dari kemarin. Dia butuh rendaman air hangat.
Perempuan itu keluar setelah berkutat setengah jam didalam kamar mandi. Sekarang dia tampak lebih fresh, bercahaya, dan anggun. Tipikal wanita Uchiha. Dia melangkah pelan ketempat dimana Sasuke masih tertidur lelap, memandang wajah Sasuke yang sialnya sangat tampan itu.
"Sasuke, bangun. Sebentar lagi sarapan." Bukannya bangun dari tempat tidur, Sasuke malah menarik istrinya kedekapannya.
"Hn, pagi." Ucapnya santai sambil mengecup singkat bibir perempuan yang ada didepannya itu, yang berhasil membuat Sakura bangkit dari duduk dengan tidak menatap wajah Sasuke. Wajahnya sungguh memerah sempurna.
"Kenapa diam saja Sakura?" tanya pria itu dengan wajah innocent nya, membuat posisi Sakura merasa terpojok disini.
"Pa-pagi, Sa-Sasuke." Sakura merasa kalau dia seperti Hinata yang kemaren, gagap.
"Baiklah, aku akan bersiap. Kau tunggu aku sebentar, kita akan pergi bersama keruang makan."
Pria itu bangkit sambil tertawa kecil melihat kelakuan istrinya, benar-benar lucu dan menggemaskan. Dia juga tidak tau kenapa ide gila mengecup Sakura itu muncul. Setelah mendengar suara merdu Sakura tadi, dia merasa dia harus melakukan itu dan terjadilah.
Lagipula, semalam adalah tidurnya yang paling nyaman dan nyenyak. Seolah-olah beban yang ada dipundaknya hilang dengan adanya Sakura disampingnya, dan itu harus menjadi kebiasaan mulai dari sekarang. Harus.
"Kenapa kalian lama sekali? Apa terjadi sesuatu tadi malam?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Itachi setelah melihat adik dan adik iparnya itu.
Lihat lah mereka, seperti pasangan yang paling bahagia didunia ini. Wajah Sakura yang bersemu, rupa Sasuke yang bersinar-sinar tidak kelam seperti biasa, apalagi tangan mereka berdua yang terpaut erat.
Lagipula, siapa juga yang mau memisahkan mereka berdua dirumah ini. Dan, dengan adanya pertanyaan dari Itachi tadi menambah semburat merah di wajah Sakura.
"Jangan meganggu kami, Nii-san." Nah, Sasuke kembali seperti biasa, dingin dan datar.
Itachi hanya menganggkat bahu dan kembali ke tempat duduknya, yaitu disamping istri tercinta, Konan. Pasangan mudah Uchiha itu mengambil tempat didepan Itachi dan Konan. Mereka masih berusaha menormalkan jantung masing-masing, berdoa agar semburat merah itu tidak lagi muncul.
Selama sarapan itu berlansung, tidak ada yang berbicara satupun. Dan selama itulah Sakura memerhatikan Sasuke secara diam-diam. Ketenangannya, berwibawanya Sasuke, dan ketampanannya itu membuat perempuan Cherry itu kagum. Ntah kenapa dan sejak kapan dirinya suka sekali memerhatikan suaminya itu, tidak melihat wajah Sasuke sekali dalam sehari saja membuat dirinya sesak. Seperti penyakit yang tidak akan sembuh kalau tidak diobati.
Begitu juga dengan Sasuke, dia tidak bisa beraktivitas normal kalau tidak ada Sakura. Sepertinya, Sasuke sudah menggantungkan seluruh hidupnya pada Sakura.
"Seperti yang kalian tau, Itachi mendapat telfon dari perusahaan yang ada di Amerika. Bahwa, mereka memerlukannya disana." Semua pasang mata dimeja makan itu menatap Fugaku, sang kepala keluarga. Baritonenya terdengar begitu jelas diantara mereka.
"Itu benar, apa yang dikatakan ayah memang benar. Aku akan berada lima hari disana, jadi untuk itu aku memutuskan membawa Konan dalam perjalanan ku kali ini." Sasuke merasa ada yang tidak beres dari perkataan Itachi. Kalau Itachi dan Konan pergi, bagaimana dengan anak mereka? Si kembar? Haruki dan Hana?
"Lalu, bagaimana dengan si kembar Itachi-nii? Apakah mereka akan ikut?"
Sasuke melirik Sakura, ntah kenapa muncul senyum tipis diwajahnya. Mereka sepemikiran, dan itu berarti mereka memang benar-benar berjodoh.
"Tidak Sakura, mereka masih dalam masa sekolah. Jadi untuk itu, aku menitipkan mereka padamu dan Sasuke, tolong dijaga ya?"
Sasuke menatap Itachi tajam, menjaga bagaimana? Itachi hanya akan menambah pekerjaannya saja. Dia tidak bisa membayangkan akan menjaga mini Itachi dan Konan yang berumur tujuh tahun itu. Hana masih bisa diterima, dia gadis kecil yang manis dan sopan. Tidak seperti Haruki, mini Itachi yang benar-benar membuatnya kesal dengan pertanyaan anehnya yang membingungkan.
"Apa maksud mu Nii-san? Meninggalkan mereka berdua yang jelas-jelas anakmu dan pergi bersama Nee-san?" Itachi menghela napas, berbicara dengan Sasuke memang seperti ini, perlu kesabaran.
Sebenarnya, Itachi tidak perlu mengajak Konan untuk pergi bersamanya ke Amerika. Tapi, karena demi rencana ibunya, Mikoto, yang ingin mendekatkan Sasuke dengan Sakura itulah membuatnya menyetujui rencana ini. Menjadikan si kembarnya sebagai perantara kedekatan mereka. Tapi biarlah, demi kebahagiaan Sasuke.
"Tolonglah Sasuke, lagipula anakku bersama dirimu dan Sakura. Aku yakin kalian akan menjaga mereka dengan baik, aku sangat percaya kepada kalian berdua."
Sakura menatap kedua kakak beradik itu. Dia tidak masalah jika harus mengurus si kembar selama lima hari. Dia malah menyukai anak-anak. Lagipula ini permintaan kakak iparnya, mana mungkin dia akan menolak.
"Baiklah Itachi-nii, si kembar aman bersama kami. Benar begitu kan, Sasuke-kun?" hah... Sakura lagi dengan panggilan itu, dia benar-benar kalah telak.
"Hn."
"Terima kasih Sakura, Sasuke. Terima kasih banyak." Konan melirik Itachi, sepertinya rencana mereka berjalan mulus.
Sasuke berada dijalan menuju sebuah sekolah dasar termewah di Jepang. Sekolah dimana si kembar Uchiha itu menuntut ilmu.
Itachi sudah berkali-kali menghubunginya, untuk tidak lupa menjemput anaknya itu. Dan karena permintaan konyol Itachi, dia dan Sakura akan tinggal dirumah utama keluarga Uchiha dalam lima hari ini. Tapi setidaknya, ada kebahagian dibalik semua ini. Dia bisa dengan leluasa mendekap Sakura setiap malam. Lagi-lagi, senyuman itu muncul diwajahnya.
"Haruki, Hana, ayo." Ucapnya saat melihat kedua bocah itu digerbang sekolah.
"JII-SAN!" mereka berlari kecil kearah Sasuke.
"Ayo naik, kita akan menjemput Baa-san setelah itu." Sasuke memang teringat akan janjinya pada Sakura. Akan menjemput istrinya itu dikampus setelah ia menjemput si kembar.
Dia melajukan mobilnya setelah melihat Haruki dan Hana meloncat ke bangku belakang. Mulai melajukan mobilnya menuju kampus mereka. Suasana diluar kampus memang cukup sepi, mungkin karena selebihnya dalam kegiatan belajar sekarang.
Dia melihat Sakura duduk dibangku itu, tempat dimana dia melihat Sakura pertama kali dengan terpana.
"Sakura Baa-san!"
Karena terlalu asik memerhatikan Sakura, dia sampai tidak menyadari si kembar telah turun dari mobil dan berlari kearah istrinya itu. Yang disambut oleh pelukan dari Sakura sendiri. Benar-benar pemandangan yang menenangkan hati.
Dia melihat gambaran keluarga miliknya sendiri disana. Dia masih memerhatikan Sakura yang berjalan dengan menggandeng dua bocah itu sambil tertawa bersama. Hal itu membuat hati dan perasaan Sasuke menghangat seketika.
"Sasuke, kita harus makan siang. Mereka lapar." Ucap Sakura setelah sampai didepan suaminya itu.
"Hn, baiklah."
"Nah, ayo anak-anak, saatnya kita makan!"
"Ayoo!"
Sasuke masih memandang mereka. Sakura yang tersenyum sambil duduk disebelahnya dengan bocah berumur tujuh tahun dibelakang mereka. Baiklah, saatnya menjadi orang tua...
.
.
.
.
.
*TBC*
chapter tujuh is up!^^
maafkan saya karena update nya lama bangettt, sungguh kehidupan didunia nyata ini tidak bisa diabaikan, update ini pun masih curi-curi waktu disela kesibukan saya didunia nyata, dan untuk chap ini saya sekali lagi memohon maaf kepada teman-teman semua karena gak bisa balas review satu-satu lagi. semuanya di kejar deadline, dan dua cerita saya lagi mungkin akan menyusul beberapa waktu kemudian, jadi mohon sabar sodara-sodara semua^^#berojigi
oiya, saya mempunyai rencana akan memindahkan cerita ini ke wattpad, karena mengingat waktu mengetik saya dileppy menipis. dan so pasti, nama character nya juga akan berubah kecuali judul, jalan cerita, percakapan, dan lain-lain. karena diwattpad untuk mengupdate cerita bisa melalui smartphone, tentu saja itu akan mempermudah dan mempersingkat waktu saya untuk tidak membuka leppy dulu sebelum update story, tapi tentu saja dengan mempertimbangkan pendapat teman-teman semua;;) so, keluarkan pendapat kalian guys!^^
Akhir kata, mohon maaf apabila typo bermunculan karena saya tidak sempat mengedit^^ and mind to review?::)
Sign, TaySky1998
