Title : A New Life

Chapter 7 : Job part II

Author : Initial D

Cast :
- Wu Yifan a.k.a Kris [22]
- Zhang Yixing a.k.a Lay [21]
- Huang Zitao [20]
- Kim Minseok [18]
- Jung Daeryong [23]
- Jung Soryong [23]
- and others

Supporting cast :

- Oh Sehun a.k.a Shixun [19]

Rating : K+ to the M

Genre : Action, Family, Romance, Crime [not sure]

Warning : YAOI fanfiction, boy's love, typo merajalela(?), OOC, don't bash, don't like don't read..

Don't CTRL+A - CTRL+ C - CTRL+V ..

Plagiarism is not healthy..

author note : finally update! and don't forget to review this story

- HAPPY READING -

Chapter 7

- Room Number 15

- 21:15 pm

"Hey, hey, Oh Sehun," itu Zitao. Dengan tidak tergesa pemuda Huang itu mengguncang bahu lebar Sehun perlahan. "Bangunlah, ini sudah waktunya bekerja," lanjutnya.

"Hng?" Sehun masih setengah sadar rupanya. "Beri aku waktu lima menit lagi Panda," pintanya. Zitao menyerah. Sejak lima belas menit lalu pemuda Korea itu selalu meminta waktu tambahan untuk terlelap lebih lama. Okay, Zitao mengalah. Dengan pergerakan santai, pemuda berkebangsaan China itu mendudukkan tubuh tingginya di ranjang miliknya.

Ia lebih memilih mengeringkan tubuh bagian atasnya yang masih terasa basah usai mandi tadi dibanding membangunkan partner in crimenya yang terkadang menyulitkan. Dengan handuk yang menggantung di leher jenjangnya, Zitao tergerak merogoh tas ransel yang ia bawa. Meraih sebatang rokok sebelum meletakkan di antara bibirnya, kemudian menyulutnya dengan dengan korek api gas yang ia temukan di dashboard mobil yang mengantarnya sampai ke Nanjing. Yeah, that old car.

"Oh Sehun," Zitao kembali bersuara setelah setengah batang rokoknya hampir habis.

"Yea, yea, aku bangun," Sehun akhirnya merespon meski terdengar malas. Dengan hati-hati ia bangkit dari posisi berbaringnya sebelum terduduk menghadap Zitao. "Apa sudah waktunya?" Tanya pemuda itu.

"Uh'huh," Zitao menghembuskan napas beserta asap rokoknya perlahan. "Cepat mandi sebelum kita menghabisi orang itu," titahnya datar.

"Baiklah, aku akan selesai lima belas menit lagi," dengan kalimat itu pun Sehun akhirnya berlalu meninggalkan kamar yang mereka sewa.

.

- 21:55 pm

Zitao dan Sehun telah siap melaksanakan tugas mereka. Keduanya kini telah berada di parking area penginapan tempat Zitao memarkirkan mobilnya. Antara Sehun dan Zitao telah sepakat jika mereka berdua akan pergi menemui target mereka dengan mobil yang Sehun bawa. Efisiensi pikir mereka.

"Hey, Edi," ah, mereka mulai memakai fake identity mereka. "Apa yang kau lakukan huh? Aku parkir di belakang gedung," ucap Sehun datar ketika Zitao melangkah mendekati mobilnya.

"Ya, ya, aku tahu, bersabarlah. Aku ingin meninggalkan sesuatu,"

"Sesuatu?" Kedua alis seorang Oh Sehun bertaut. "Apa mak—"

BOOOOOM

Mobil yang dikendarai Zitao meledak seketika.

"Hey! What the hell are you doing huh?!" Sehun tidak percaya dengan apa yang dilakukan pemuda Huang itu. Bagaimana tidak? Pasalnya Zitao tiba-tiba membakar mobilnya dengan cara melemparkan handuk yang tadi ia pakai yang sebelumnya telah ia beri sedikit bensin kemudian menyulutnya dengan api.

Gila pikir Sehun.

"Kau ingin bunuh diri huh?" Tanya Sehun membulatkan matanya ketika Zitao telah berada di sebelahnya. "Kau bodoh atau apa? Kau bisa saja terbunuh jika kau tidak cepat lari tadi,"

"Haha. Semua sudah kuperhitungkan Shixun. Lebih baik tutup mulutmu, dan segera ke mobilmu." Tanpa membuang waktu pemuda Korea itu segera berlari ke bagian belakang gedung dengan Zitao yang mengekor tak jauh dengannya.

.

PIP

Sehun segera berlari ke pintu kemudi setelah yakin jika mobil tunggangannya telah terbuka secara otomatis. Sementara Zitao terhenti sesaat dalam langkahnya.

"Sialan kau Oh Sehun," monolognya geram sebelum melanjutkan langkahnya ke pintu penumpang.

BLAM

Keduanya telah berada di dalam mobil yang Sehun bawa. Pemuda Oh di sana segera memasang safety beltnya disusul dengan Zitao. Sehun dengan segera menyalakan mesin mobilnya sebelum bertolak menuju tempat yang mereka incar.

Sehun tengah terfokus pada lalu lalu lintas di hadapannya sementara Zitao menatap wajah tampannya datar.

"Berhenti menatapku," ucap Sehun terkekeh pelan. Sementara Zitao menyeringai samar. Ia segera menatap lurus ke arah depan.

"Sialan kau Oh Sehun," umpat Zitao disusul kekehannya. "Aku rela menukarkan Nissan Skyline yang aku dapat dengan mobil tua itu sementara kau—" Zitao kembali menatapnya.

"Sementara aku?"

"Sementara kau menggunakan Porsche dalam tugas ini. Sialan kau bocah," Sehun tertawa mendengarnya. "Diam kau Oh Sehun, suara tawamu membuat telingaku sakit," keluh Zitao hiperbolis. "I hate you,"

"Wow, love me too Zitao," okay, pemuda Huang itu lebih memilih diam kali ini. Ia tahu jika pembicaraan mereka tak akan pernah usai dan berakhir pada pertengkaran kekanakan pada akhirnya. Oleh karena itu ia lebih memilih bungkam.

"Hey, Zitao," buka Sehun. "Kau iri aku memakai Porsche?"

Jujur, sebenarnya ia tidak iri. Namun ia hanya menyesal setelah menukar Nissan Skyline silver itu dengan mobil tua yang serba standar yang telah diberikan padanya. Setidaknya jika ia menggunakan Skyline itu, ia mungkin akan tiba di Nanjing lebih awal dibanding dengan mobil tuanya.

"Shut up Oh Sehun,"

.

- 22:30 pm

Setelah menempuh perjalan lebih dari tiga puluh menit, kedua pemuda tampan itu akhirnya tiba di sebuah pub yang menurut informasi dari atasan mereka jika tempat itu merupakan tempat yang dimiliki oleh target.

Dengan alasan keamanan, Sehun akhirnya memarkirkan mobilnya seratus lima puluh meter dari pintu utama pub. Tepatnya di sisi jalan utama untuk mempermudah mobilisasi mereka.

"Ah iya," buka Sehun sebelum melepas safety beltnya. "Ada yang perlu kau ketahui Zitao. Pub itu menggunakan tema role-play. Atau intinya, kau harus menyiapkan sebuah password untuk di pintu masuk sana dan username untuk masuk. Dan itu berlaku untuk seterusnya. kau mengerti?"

"Uh'huh. Apa usernamemu?" Tanya Zitao melepas safety belt yang ia gunakan.

"Aku?" Sehun menunjuk dirinya sendiri. "I'm the Angel of Death,"

"Wohoo, I'm scared," celoteh Zitao sebelum terkekeh. "Okay, and I am a—" pemuda Huang itu masih terlihat berpikir. "Bloody Weapon,"

"Hey, bukankah kau jarang menggunakan senjata?" Kedua alis Sehun bertaut. Ya, tidak salah. Zitao memang jarang menggunakan senjata karena ia terbiasa melawan dengan tangan kosong. Dan tas yang selalu ia bawa juga bukan berisi senjata, melainkan sekotak rokok, makanan ringan, dan obat-obatan penyembuh luka. Namun dalam tugas ini, ia membawa sebilah pisau lipat, nunchuck dan senapan laras pendek beserta magasin tentunya.

"Uh'huh, and I am the weapon Oh Sehun," ucap Zitao menyeringai.

"Okay, dan ingat. Jangan bawa benda apapun untuk melawan di tempat itu, sebab jika kau tertangkap tangan membawa benda membahayakan— BANG! Kau akan langsung berususan dengan petugas pengaman yang ia punya,"

"Oh yeah," Zitao menjilat bibir atasnya. "Let's do this."

Tanpa membuang waktu, kedua pemuda tampan itu segera melangkah menuju gedung bertuliskan 'PARADISE' di dinding bangunannya.

.

Zitao dan Sehun telah berada di depan pintu masuk gedung, dan sesuai penjelasan pemuda Oh itu, telah ada dua orang penjaga dengan pakaian dan kaca mata yang seluruhnya berwarna hitam.

"Ini kali pertama Anda mendatangi tempat ini Tuan?" Tanya salah satu penjaga di sana pada Zitao. Sebut saja ia penjaga A.

"Ya," jawab Zitao tenang.

"Baiklah, tolong katakan username Anda beserta password untuk masuk ke tempat ini," titah penjaga A.

"Usernameku Bloody Weapon, passwordku, 'Will Kill You'"

"Okay, username dan password diterima," ucap penjaga A. Selanjutnya Sehun.

"The Angel of Death, pass, 'It's Showtime'" ucap Sehun disertai seringai tipis.

"Username dan password diterima,"

Tanpa curiga, keduanya diperbolehkan masuk ke dalam gedung itu.

"Upstairs," ucap Sehun. Zitao mengangguk dalam responnya.

"Wow, penjagaan lagi huh?" Tanya Zitao berbisik pada pemuda Korea itu.

"Mungkin penjaga di sini bagian konfirmasi user and pass dari bawah sana. Sekadar meyakinkan bahwa kita terdaftar di club ini," okay, Zitao mengerti.

Kini mereka semakin dekat dengan target yang mereka incar. Keduanya hanya tinggal melewati pintu masuk dengan tiga pejaga itu kemudian, yeah di situlah target mereka.

"Username and password," ucap salah satu penjaga. Katakan saja ia penjaga X.

"Bloody Weapon, 'Will Kill You'"

"Pass," respon penjaga X. Zitao memasuki club/pub itu tenang. Aroma alkohol, nikotin, keringat, dan parfum bercampur menjadi satu. Damn. Ia merasa sedikit mual karenanya.

"The Angel of Death, 'It's Showtime'" Sehun berucap tanpa diminta. Menghemat waktu pikirnya.

"Pass,"

Setelah keduanya memasuki club, mereka saling bertukar pandang.

"Di mana orang itu?" Tanya Zitao melirik sekitar. Dengan sekali lirik, Sehun dapat menemukan tempat orang itu diduga biasa menghabiskan waktunya.

"VIP," jawabnya. "Bergeraklah mendekati ruang VIP di sudut ruangan ini. VIP room itu adalah tempat tertutup sehingga jika kita menghabisinya di sana, semua orang yang berada di luar VIP room tidak akan mengetahuinya,"

"Got it,"

"Go," keduanya kemudian berpisah. Mereka bergerak ke arah yang saling berlawanan satu sama lain.

Dengan pergerakan yang tenang, Zitao menerobos kerumunan orang yang tengah bergerak menggeliat mengikuti alunan musik hati-hati, berusaha untuk tidak membuat gelagat yang mencurigakan di sana.

Pemuda Huang itu kini telah berada tak jauh dari pintu masuk VIP room yang tengah dijaga oleh seorang penjaga dengan pakaian yang terlihat terlalu formal untuk dipakai di sebuah club yang menurutnya murahan itu. Oh, dan di sana Sehun telah bersiap melancarkan aksinya.

"Permisi," buka Sehun mencoba mengajak penjaga berpakaian formal itu masuk ke dalam perangkapnya. "Ini kali pertamaku datang ke club ini, bisakah kau antarkan aku ke toilet?" Pinta Sehun dengan aksen Mandarinnya yang kental. Penjaga itu menatapnya sesaat sebelum tersenyum kemudian mengangguk.

"Baik," penjaga itu akhirnya melangkah ke arah sebuah lorong gelap dan sepi di belakang Sehun dengan ia yang mengekor mengikuti langkahnya. Sementara Sehun membawa penjaga itu menjauh dari VIP room, Zitao segera melancarkan aksinya. Dengan cepat ia memasuki ruangan itu kemudian mengunci pintunya tanpa sepengetahuan siapapun yang berada di ruangan. Oh, dan tak lupa ia menyembunyikan kuncinya dalam saku belakang celananya.

"Hello Gentlemen," buka Zitao menyeringai.

.

Sehun's Side

Sehun beserta penjaga itu telah memasuki lorong menuju toilet. Mereka hanya perlu berbelok ke kiri kemudian sampailah di toilet nan sepi di sana. Dengan hati-hati, Sehun hendak membungkam bibir beserta hidung sang penjaga dengan sapu tangan yang telah diberi obat bius sebelum akhirnya penjaga itu lebih dulu berbalik menghadapnya.

"Tolong," ucap penjaga itu. Kedua matanya yang berbinar menatap iris Sehun penuh harap. "Tolong keluarkan aku dari sini," pintanya. "Aku korban dari Han Kuo. Aku sanderanya. Tolong aku Tuan, aku mohon,"

Sehun terdiam. Bagaimana bisa dalam situasi seperti ini ia terlibat dalam misi penyelamatan?

"Kau berbohong padaku?" Tanya Sehun datar.

"Tidak! Aku sungguh tidak berbohong! Han Kuo memaksaku untuk menjadi sanderanya."

Seketika, sekelebat ide muncul di otak pemuda Oh itu.

"Siapa namamu?" Tanya Sehun akhirnya.

"Luhan. Xi Luhan." Jawab penjaga itu tergesa. Ia sungguh ingin bebas.

"Bersembunyilah di salah satu bilik toilet. Jangan sampai seseorang mengetahui persembunyianmu, setelah urusanku selesai, aku akan memberitahumu," titah Sehun akhirnya. Luhan setuju, ia mengangguk antusias sebelum berlari menuju salah satu bilik kemudian menguncinya dari dalam.

Tanpa pikir panjang Sehun segera kembali ke pintu VIP room kemudian berdiri di depannya. Ia berpura-pura menjadi penjaga rupanya.

.

Zitao's Side

"Hello Gentlemen," buka Zitao menyeringai.

Semua orang yang berada di dalam sana tercengang. Bagaimana bisa orang asing bisa masuk ke dalam ruangan VIP pikir mereka.

"Apa yang kau inginkan?" Tanya salah seorang yang berada di sana dengan seorang wanita di pangkuannya.

"Han Kuo," ucap Zitao datar.

"Kau menginginkanku?" Seseorang yang diduga adalah Han Kuo angkat bicara. Zitao menyeringai melihatnya. Target buruannya telah berada di hadapannya. Sesuai password yang Sehun pakai—

"It's showtime," dan secepat kilat, Zitao segera melesatkan sebilah pisau lipat ke arah Han Kuo.

JLEB

Tepat mengenai lehernya.

"WAAAAA!" Beberapa wanita yang berada di ruangan itu berteriak takut dan segera berlari ke arah pintu belakang.

"Shit." Beberapa orang lelaki yang berada di dalam sana mengangkat senapannya sementara sebagian lain mengeluarkan pisau mereka. Sebelum para anggota Han Kuo sempat menembaknya, Zitao terlebih dahulu memuntahkan peluru dari senapan laras pendeknya yang ia sembunyikan ke arah dada kiri mereka.

"Ugh!" satu persatu para lelaki yang mengangkat senapan itu akhirnya tewas meregang nyawa. Setelah melirik sekitar, Zitao memperkirakan ada tiga anggota Han Kuo yang mengeluarkan pisaunya. Oh, bahkan ada yang mengeluarkan pisau daging di dalam sana.

"Damn it." Umpat Zitao kesal ketika ia mencoba mengarahkan senapannya ke salah satu lelaki di sana. Namun sial, pelurunya habis. Tanpa pikir panjang ia segera menyimpan senapannya di bagian belakang celana yang ia pakai sebelum—

JLEB

Sebuah pisau daging menancap di dinding yang tepat berada di belakangnya.

"Fuck, hampir saja," mau atau tidak, akhirnya Zitao bergerak. Dengan perlahan ia meraih pisau daging itu sebelum melawan satu persatu anggota Han Kuo yang menantangnya menggunakan pisau.

TRANG

Zitao menangkis sebuah tusukan yang di arahkan padanya dengan pisau besar itu. Bak pertarungan menggunakan pedang, Zitao dan anggota Han Kuo saling menangkis serangan satu sama lain menggunakan pisau yang ada di tangan mereka masing-masing.

TRANG TRANG

Zitao bosan mendengar suara benturan pisau dengan pisau hingga pada akhirnya ia melayangkan tendangannya ke perut sang lawan sebelum akhirnya lelaki yang menjadi lawannya jatuh ke belakang. Tersisa dua anggota Han Kuo.

CRASH

"Fuck," sebuah serangan berhasil mengenainya. Serangan dari sisi kanannya sungguh tiba-tiba hingga akhirnya berhasil menggores wajahnya yang tampan. Darah segar mengalir dari pipi kanannya. "Shit," tanpa pikir panjang Zitao membuang pisau daging yang ada di genggamannya sebelum akhirnya ia menangkap tangan sang lawan, mengunci pergerakannya dan mencoba membawa pisau yang ada di genggaman sang lawan ke arah perutnya sendiri sehingga membuat lawannya seakan-akan membunuh dirinya sendiri.

JLEB

Zitao lengah. Pisau daging yang sempat ia buang kini menancap di bahu kirinya. Pelakunya tentu si pembawa pisau daging tadi.

"What the fuck are you trying to do huh?" Zitao melepas pisau yang menancap itu cepat sebelum akhirnya ia menghunuskan pisau besar itu ke perut sang lawan. Seketika lelaki yang ia serang tergeletak tak bernyawa.

Dengan darah yang kembali mengalir dari bahunya, Zitao kemudian melangkah mendekati Han Kuo yang telah meregang nyawa.

"It's lil bit easy, but—"

JLEB

Sebuah tusukan kembali diterima Zitao. Kali ini tusukan yang ia dapat berasal dari lelaki yang sebelumnya terkena tendangannya namun belum terbunuh saat itu.

"Sial, aku melupakanmu," umpat Zitao. Pemuda Huang itu segera meraih pisau yang kembali menancap di tempat yang sama sebelum akhirnya ia berbalik kemudian menikam lelaki di hadapannya.

"Ugh," darah segar keluar dari mulut lelaki itu.

"Sial. Bisakah kau tidak menusukku di tempat yang sama huh?" omel Zitao seraya menggenggam bahu kirinya. Ia merasakan sesuatu yang basah dari sana. "Bleeding," keluhnya. Ia masih meneruskan langkahnya hingga terhenti di depan mayat Han Kuo si pengedar narkoba terbesar kedua di Shanghai dan pertama di Nanjing. Ia menatap mayat lelaki itu sesaat sebelum meraih kembali pisau miliknya.

Dengan langkah yang sedikit berat, Zitao mulai melangkah menuju pintu masuk VIP room.

.

"Shixun," bisik Zitao terengah seraya menahan sakit. "Mission complete," lanjutnya. Sehun yang berjaga di depan VIP room mengangguk mendengarnya. "Ayo pergi," ucap Zitao dalam langkahnya.

"Tunggu," cegah Sehun tiba-tiba. "Ikut aku," titah pemuda itu. Tanpa berkomentar, Zitao mengekor mengikuti langkah Sehun menuju lorong.

"Luhan. Xi Luhan, ini aku. Kau bisa keluar sekarang," ucap Sehun di pintu masuk toilet.

KLAK

Dengan hati-hati Luhan keluar dari persembunyiannya. Jujur, Zitao tidak mengerti dengan apa yang terjadi antara Sehun dan pemuda bernama Xi Luhan itu. Yang ia tahu adalah Sehun tidak pernah memperkenalkan pemuda itu sebelumnya. Tapi tunggu, pemuda itu seperti penjaga berpakaian formal yang ia lihat tadi, namun sudahlah, ia tidak peduli. Yang ia pikirkan sekarang adalah kondisinya. Kondisi lukanya tepatnya.

"Shixun," buka Zitao parau. "Bawa aku keluar dari sini," pintanya lemah. Darah yang keluar dari luka di bahunya sungguh membuatnya merasa pening.

"Edi? Kau terluka?" Tanya Sehun heran. Ini sungguh tak biasa terjadi pada ZItao.

"Uh'huh," respon Zitao lemah.

"Luhan," panggil Sehun tiba-tiba. "Bisakah kau membawa kami keluar melalui pintu rahasia atau semacamnya untuk menghindari para penjaga?" Tanya Sehun cepat.

"Tentu, ikut aku," kedua pemuda itu segera berlari keluar toilet dan mengikuti langkah Luhan yang memimpin di depannya.

To be continued..

Hello guys :"" finally I can update this fic hohoho

terima kasih untuk yang sudah mau menunggu fic ini update hiks aku terharu :""

HAHAHAHA

pokoknya thank you yang sudah mau menunggu dan support fic ini kay, love you guys~~

see you next chapter!