Batas
Shiroi Kage's Project
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Mature
.
.
.
ItaFemNaru
.
.
.
Kau tahu batas ?
Sebuah garis pemisah ?
Bagiku batas lebih dari itu,
Batas adalah keegoisan yang menghancurkanku secara perlahan
.
.
.
Bab VII [Pihak Ketiga]
"Apa kau tahu?"
Itachi mengaduk kopi yang diseduhnya. Sedangkan pandangannya terfokus pada sosok perempuan bersurai pirang yang saat ini sedang asik bermain game virtual reality.
"Tidak."
Itachi mendengus. Bahkan Itachi belum sempat mengatakan apa yang akan dia tanyakan. Tapi jawaban ketus Naruko membuat urat kesabarannya langsung diuji ketahanannya.
"Aku ini lebih tua darimu, sopanlah sedikit. Dasar bocah."
Itachi berjalan menghampiri Naruko. Mendudukkan dirinya diatas sofa yang ada di ruang keluarga dengan membawa kopi yang tadi diseduhnya.
"Maaf, jadi kau mau tanya apa tadi?"
Itachi menyuput kopi hitamnya. Pundaknya bersandar di bantalan sofa. Sementara onyxnya memantau apa saja yang di kerjakan Naruko. Entah game apa yang dia mainkan sekarang. Tapi melihat ekspresi serius Naruko membuat Itachi menarik sudut bibirnya.
"Ah lupakan. Tidak terlalu penting, lanjutkan saja kesibukanmu."
Naruto tersentak. Tubuh kecilnya oleng kearah Itachi akibat gagal mempertahankan keseimbangan tubuhnya.
"Sial!"
Naruto melepaskan kotak game virtual box yang tadi digunakannya. Nafasnya terdengar tidak beraturan.
"Apa yang kau mainkan sebenarnya?"
Tanya Itachi heran. Keduanya sama sekali tidak sadar dengan posisi mereka saat ini. Lihat saja bagaimana Itachi merengkuh proktektif pinggang ramping Naruto yang duduk di pangkuannya. Sementara si pirang masih saja merengut kesal entah karena apa.
"Kupikir zombie itu benar akan membunuhku."
Itachi terkekeh mendengar gerutuan Naruko. Ada saat-saat tertentu dimana Naruko bisa terlihat begitu menggemaskan, dan kali ini mungkin salah satunya.
"Jadi kau takut? Bukankah sebentar lagi kau juga akan mati?"
Hening.
Naruko memandang lurus kedua onyx hitam Itachi. Ada getaran asing yang dirasakannya. Onyx hitam itu seperti black hole yang menghisapnya masuk kedalam pesonanya. Sekali dia masuk, dia tidak akan menemukan jalan keluarnya. Selamanya tersesat didalam pesonanya.
"Kau mau aku mati?"
Akhirnya suaranya berhasil keluar. Walaupun terdengar serak.
"Aku hanya ingin kalian bahagia."
Naruto tersenyum miris. Tangan kanannya terulur membingkai rahang tegas Itachi. Memaksa sulung Uchiha itu untuk balik memandang kedua sapphirenya.
"Bagaimana kalau aku bilang aku tidak bahagia saat melihat Naruto bahagia."
Itachi sadar ini kesalahannya yang dengan lancangnya membahas masalah kematian Naruko yang hanya menghitung hari. Tapi semua sudah terjadi, ucapannya tidak akan kembali bisa ditariknya. Karena itu jugalah ucapan adalah senjata yang paling tajam untuk menghancurkan hidup seseorang.
"Aku akan membuat Naruto bahagia."
Bibir Naruto berkedut ngilu saat lengkungan senyum itu terpaksa harus dia tunjukkan. Aku –tidak– baik-baik saja.
"Aku titip Naruto padamu."
.
.
.
.
.
Ting tong
"Ya sebentar!"
Laki-laki bersurai merah itu segera memakai kaos putih yang diambilnya asal dari tumpukan baju diatas kasur.
"Naruto?"
Si pirang langsung masuk kedalam apartemen Gaara, tanpa menunggu untuk dipersilahkan oleh si tuan rumah. Sementara Gaara sendiri berjalan menuju dapur untuk menyiapkan ramen instan yang akan dia suguhkan untuk Naruko. Dengan segelas jus jeruk mungkin.
"Kau datang sendiri?"
Naruko mengangguk. Ekspresi lelah terlihat jelas dari wajah cantiknya.
"Aku Naruko."
Prang
Gaara langsung memungut pecahan gelas yang tidak sengaja dia jatuhkan. Manik hijaunya melirik kearah si pirang yang masih tetap pada posisinya. Meringkuk diatas sofa ruang tamu apartemennya.
"Apa yang terjadi?"
Setelah memastikan tidak ada pecahan gelas yang tersisa, Gaara datang menghampiri Naruko. Kedua tangannya membawa cup ramen dan segelas jus jeruk kemudian meletakkannya diatas meja ruang tamu.
"Makanlah. Badanmu semakin kurus. Apa kau tidak makan dengan baik?"
Naruto menggeleng. Kemudian mengangguk.
"Apa aku perlu menyuapimu?"
Naruto langsung menyantap ramen instan yang di suguhkan Gaara untuknya. Tidak lama cup ramennya sudah habis tidak tersisa.
"Minumlah."
Naruto mengangguk dan menghabiskan jus jeruk yang di sodorkan Gaara dalam sekali tegukan.
"Aku akan mendengarkanmu saat kau sudah siap untuk menceritakannya."
.
.
.
.
.
Sementara itu, di kediaman Uchiha. Itachi terlihat gusar. Lembaran kertas yang bertumpuk di meja kerjanya semakin membuat kepalanya berdenyut nyeri.
"Apa aku sudah keterlaluan?"
Pertanyaan itu mengudara. Tidak tahu ditujukan kepada siapa. Karena hanya dia sendiri di ruangan itu. Ditemani keheningan yang mencekam.
'Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau – pip!'
Itachi membanting ponsel pintarnya. Raut mukanya terlihat kusut. Rambut sudah dalam kondisi berantakan. Terlihat jelas guratan kekhawatiran di kedua onyx malamnya.
"Aku tidak mungkin menyukainya kan?"
Satu pertanyaan lagi dia lontarkan.
'Aku akan menginap di tempat Gaara.'
Ucapan Naruko kembali terngiang di kepalanya. Berputar tanpa henti seperti kaset rusak.
"Apa aku harus menyusulnya?"
.
.
.
.
.
"Gaara. Apa yang harus aku lakukan?"
Gaara menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Keningnya berkerut dalam, setelah mendengat cerita Naruko otaknya langsung bekerja ekstra mencari jalan keluar untuk masalah yang dihadapi sahabat pirangnya.
"Aku sama sekali tidak menyangka hidupmu serumit ini."
Naruko mendelik tidak suka. Apa sekarang panda jadi-jadian ini sedang mengomentari kehidupannya. Tapi setidaknya ucapan Gaara sudah membuatnya lupa dengan kekecewaannya beberapa saat yang lalu.
"Aku anggap itu pujian."
Gaara menggeleng.
"Aku tidak berniat memujimu."
Switch
Perempatan imaginer muncul di kening Naruko. Ingatkan Naruko untuk tidak menghantamkan kepala Gaara ke dinding terdekat.
"Boleh aku menciummu?"
Uhuk
Naruko tersedak salivanya sendiri. Menatap horror kearah Gaara yang kini mulai mendekatkan wajahnya.
"Apa maks –"
Cup
Gaara menarik pinggang Naruko untuk lebih merapat kearahnya. Bibirnya menari diatas bibir Naruko, melumat lembut bibir mungil Naruko. Mengecap tiap inchi permukaan bibir Naruko. Lembut. Gaara suka tekstur lembut bibir Naruko yang secara tidak sadar membuat Gaara ingin terus memperdalam ciumannya.
'Hmmp'
Naruko mengalungkan kedua tangannya dileher Gaara. Ikut terbawa suasana.
Plop
Benang saliva itu menjadi sakti ikatan semu diantara keduanya.
"Apa kau masih memikirkan Itachi-san?"
Naruko mendongak. Menatap langsung kedua manik hijau Gaara yang entah sejak kapan terlihat begitu menarik di matanya.
"T-tidak."
Gaara tersenyum lembut.
"Biarkan Naruto bahagia bersama Itachi."
Naruko mengangguk kaku. Ya, dia tidak boleh goyah. Ingat tujuan utamanya saat ini adalah membuat Naruto bahagia. Dia harus memastikan setiap jalan yang akan dilalui Naruto bersih dari duri-duri penghalang.
"Boleh aku menginap?"
.
.
.
.
.
"Bocah, dimana kau sekarang?"
Naruko menjauhkan ponsel pintarnya. Telinga berdengung setelah mendengar bentakan Itachi dari ujung telephone.
"Aku menginap di tempat Gaara. Aku sudah berpamitan tadi. Dasar pak tua pikun!"
Itachi mendengus kesal.
"Kau perempuan, kenapa menginap di tempat teman laki-lakimu?"
Naruko merotasi bola sapphirenya. Astaga, dia juga tidak akan segila itu untuk melakukan one night stand dengan sahabatnya sendiri. Walaupun mereka sempat saling melumat sebelumnya. Tapi itu tidak termasuk hitungan kan? Hei, Gaara tidak akan menanamkan sperma di rahim Naruto. Naruko jamin itu.
"Tubuh Naruto akan pulang dalam keadaan utuh. Kau tenang saja."
Pip
Naruko segera mematikan sambungan telephonenya.
"Pulanglah. Itachi-san pasti mengkhawatirkanmu."
Naruko menggeleng. Tiba-tiba tangannya terulur membuka kancing bajunya, membuat Gaara langsung memalingkan wajahnya.
"Gantilah baju di kamar mandi. Aku juga laki-laki kalau kau lupa."
Naruto terkekeh. Seringai jahil tercetak jelas diwajah cantiknya.
"Wajahmu memerah. Ah lucunya~"
.
.
.
.
.
Pagi kembali datang. Naruko merogoh saku celananya saat getaran dari ponsel pintarnya tidak juga berhenti.
"M-moshi mo-"
"Kau baru bangun? Tidak ada hal buruk yang terjadi kan? Gaara tidak melakukan apapun kan?"
Naruko menjauhkan ponsel pintarnya dari telinga. Melihat siapa gerangan yang menelphone pagi-pagi buta seperti ini.
'Itachi-nii XD'.
Cih, Naruto dan selera kekanakannya memang tidak berubah.
"Tenang saja aku masih virgin kok."
Uhuk
Gaara yang sedang meminum air mineral di dapur tersedak ketika mendengar penuturan frontal Naruko. Bagaimana bisa seorang perempuan membicarakan hal tabu seperti itu dengan laki-laki dewasa yang saat ini berstatus kekasihnya.
"Dia hanya merabaku saja, tidak sampai ke menu utama. Ah tangannya sangat hangat. Kau harus mencobanya nii-san."
Blush
Wajah Gaara memerah mendengar penuturan polos Naruko.
Pluk
"Berhenti membual. Aku tidak melakukan apapu. Itachi-san! Si pirang itu berbohong!"
Teriak Gaara dari arah dapur.
"Apanya yang tidak melakukan apapun. Kau menciumku kemarin. Jangan bilang kau lupa?"
Ctak
Gaara hampir saja memotong jari tangannya sendiri.
"Itu karena kau bilang kau bingung apa kau benar menyukai Itachi-san atau tidak. Makanya aku menciummu untuk membantumu memastikannya!"
Hening
Bruk
Ponsel pintar Naruko terhempas begitu saja. Diujung sana Itachi juga ikut terdiam di tempat. Bola jade Gaara membola. Astaga apa yang sudah kukatakan!
"N-naru, maaf aku tidak bermaksud."
Naruto menggeleng.
"Kurasa itu bukan rasa suka. Aku bahkan sudah tidak memikirkannya lagi sekarang. Kurasa terapi ciumanmu berhasil. Lain kali ayo kita coba lagi."
Tes
Naruko tertawa hambar. Air matanya mengalir tanpa perlawanan. Membawa harapan yang sejak awal tidak pernah sampai di tujuan.
"A-aku hiks tidak menyukainya hiks tidak suka hiks."
Yang mereka tidak tahu. Itachi masih bisa mendengar dengan jelas semuanya dari ponsel pintarnya. Hatinya berdenyut ngilu.
"Naruto, apa yang harus aku lakukan sekarang?"
'Apa kau tahu? hal yang paling menyakitkan dari melepaskan? yaitu saat kau sadar. Hanya kau yangmerasa kehilangan.'
TBC
