.

1004

(Sacrifice)

.

Aerolee

.

Warning!

(Typo everywhere, EYD Failed)

Alur ga nyambung

acak-acakan

.

BoyxBoy | Yaoi | Angst, Tragedy, Hurt, Romance | PG-15

.

Baekhyun, Jungkook, Daehyun, Junhong, Taehyung, and other.

.

Dont Like?

.

Dont read!

.

Dont Plagiarize please!

.

Semua cast milik agensi masing2, orang tua masing2 dan juga milik Tuhan.

Tapi fanfic ini asli milik saya, jika ada kesamaan alur, kata-kata, cast atau sebagainya, itu hanya unsur ketidak sengajaan.

.

Enjoy!

.

.

.

.

"Jika memang ini yang terbaik, aku rela mengorbankan nyawaku untuk menjagamu tetap hidup,"

.

.

.

"Hyung, apa perlu aku menelfon Albert sekarang?"

Kini Baekhyun dan Taehyung tengah menyantap sarapan pagi mereka disebuah café langganan Baekhyun. Berhubung Taehyung juga adalah orang baru di London, jadi Taehyung menurut saja.

"Tidak perlu. Itu hanya materi dasar, kau bisa mencarinya dirumah... kurasa aku masih menyimpan buku materi dasar,"

Baekhyun melirik Taehyung sekilas lalu kembali menyantap sarapannya, ia bisa mendengar hembusan nafas panjang Taehyung. Baekhyun tersenyum kecil, Taehyung benar-benar butuh didikan ekstra darinya.

"Jangan menekuk wajahmu seperti itu, Tae. Itu hanya materi dasar ayolah," Ucap Baekhyun lagi. Kini ia menatap Taehyung dengan kedua tangan diatas meja, menopang dagunya.

Taehyung kembali berdesah lesu, buku tebal dengan bahasa yang bahkan sangat asing baginya berhasil membuatnya pusing hingga keubun-ubun. Yang benar saja, ia baru saja pindah dari Korea ke London, bahkan ia belum genap seminggu menetap disini. Dan Albert yang notabend-nya sebagai guru sekaligus dosen untuk Taehyung memberinya tugas dan tuntutan yang menggunung.

Oh, Taehyung ingin berteriak sekarang...

"Hyung~ bantu aku,"

Taehyung menatap Baekhyun lesu, bibirnya ia kerucutkan dan kedua tangannya ia tangkupkan kedepan. Melihat itu Baekhyun tidak bisa menahan tawanya. Sungguh Taehyung begitu lucu sekarang.

"Kau ingin mendapat bantuan apa dariku? Mendapatkan hati adikku? Ah, dengan senang hati, tapi kerjakan tugasmu itu sendiri dan selesaikanlah,"

"Hyung~"

Baekhyun kembali tertawa.

Kini wajah Taehyung sudah memerah, bahkan kini Taehyung semakin mengerucutkan bibirnya dan pipinya ia gembungkan layaknya anak belasan tahun. Baekhyun berhasil membuat Taehyung salah tingkah sekarang, bagaimana ia bisa fokus jika gurunya sendiri terus-terusan menggodanya seperti ini? Lama-lama Taehyung pusing juga.

"Bagaimana?" Tanya Baekhyun, alisnya ia naik turunkan. Menunggu jawaban dari Taehyung.

"Kau ini hyung, bukannya membantuku," rajuk Taehyung.

Baekhyun terkekeh, lalu mengetuk kening Taehyung dengan sendok. Taehyung sedikit berjengit dibuatnya.

"Hei bocah, kerjakan itu dengan usahamu sendiri. Aku akan membantumu mencari referensi, selebihnya kau harus lakukannya sendiri. Mengerti?"

Taehyung mengangguk lesu. Buku tebal yang mulanya terbuka dihadapannya sekarang ia tutup dengan sedikit keras lalu ia masukkan kedalam tas ranselnya. Kembali menyantap sarapannya dengan jengkel.

"Jadi dia sepupumu?"

Taehyung mendongak, menatap Baekhyun dengan satu alisnya ia naikan. "Siapa?"

"Daehyun,"

Taehyung berdeham, kembali menyendokan pasta kedalam mulutnya kemudian meneguk air mineral sedikit.

"Hanya sepupu jauh, tapi dia sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Kenapa?"

"Tidak, hanya bertanya,"

"Benarkah?"

Baekhyun memutar bola mata malas, "Lalu apa lagi?"

Taehyung tertawa, "Siapa tahu kau menyukainya?" Goda Taehyung. Kedua alisnya ia naik terunkan seraya tersenyum lebar hingga deretan gigi putihnya terlihat.

"Menyukai orang kasar, tak punya sopan santun dan keras kepala seperti dia? Hell, kau bercanda Tae? Sepupumu itu butuh didikan," Protes Baekhyun.

Taehyung yang mendengarnya sedikit tersedak, kemudia tertawa keras. Sungguh, apa yang dikatakan Baekhyun memang benar. Sepupunya itu memang suka seenaknya sendiri dan kasar. Bagaimana seorang Daehyun bisa bertolak belakang dengan Taehyung yang sedikit lebih kalem? Walaupun saudara jauh bukankah Taehyung dan Daehyun hampir memiliki kemiripan dalm bidang wajah? Err- sifat juga, mungkin saja—

"Daehyun hyung adalah seorang pekerja keras. Tidak, ya walaupun kebanyakan malas dan juga seenaknya sendiri sih. Tapi percayalah hyung, Daehyun hyung adalah orang yang bertanggung jawab. Dan juga sebenarnya dia adalah orang yang asik, seandainya sifat kakunya dihilangkan sih,"

"Aku juga tidak terlalu perduli dengannya," Ujar Baekhyun santai.

Taehyung yang melihat itu sedikit tercengang. Salah satu alisnya terangkat keatas, ada apa dengan Baekhyun? Aneh sekali, moodnya mudah berubah-ubah. Benar-benar mirip dengan adiknya— Jungkook.

Ah, kenapa Taehyung malah memikirkan Jungkook? Benar kata Daehyun, sekali-sekali ia butuh liburan, otaknya kini benar-benar lelah. Hingga terus-terusan berpikiran yang tidak-tidak. Sungguh, Taehyung butuh istirahat sekarang.

"Cepat selesaikan sarapanmu, lalu segera kembali kerumah sakit,"—

.

.

.

.

.

"Are you okay, Ronald Cristof?"

"huh?"

Albert melipat kedua tangannya seraya menatap Baekhyun yang tengah salah tingkah ketika tertangkap basah tengah melamun olehnya, Albert membuang napas berat. Kini ia tengah kesal sekarang. Bagaimana tidak? 2 jam ia didiamkan oleh orang yang bernama Ronald dihadapannya kini.

Okay, 2 jam bruh!

Mengingat Ronald yang tiba-tiba menelfonnya dan mengajaknya pergi ke café dihari libur, dan sekarang malah dia didiamkan seperti ini? Kalau saja Ronald bukan sahabatnya, mungkin Albert akan memangsa dan mencakar Ronald hidup-hidup sekarang.

Ngomong-ngomong, Ronald tidak seperti biasanya. Ronald yang Albert kenal selama ini tidak pernah melamun sekalipun memasang sorot mata sayu seperti itu. dan ini kali pertama Albert melihat Ronald yang tengah dalam mood yang kurang baik.

"Apa ada masalah?"

"Huh? Tidak ada," Jawab Baekhyun singkat.

Bohong. Albert tahu Ronald tengah berbohong, dari sorot matanya yang gugup. Albert yakin, sahabatnya itu tidak sedang baik-baik saja. Bukannya sok tahu, Albert memang hafal bagaimana sifat Ronald. Memang benar Ronald adalah orang yang berkepribadian yang susah ditebak, dan Ronald memang pintar untuk menyembunyikannya dari semua orang. Namun, tidak dengan Albert. Apa gunanya ia belajar tentang ini jika tidak bisa membaca kepribadian seseorang?

"Ceritakaan saja, apa gunanya sahabat jika bukan untuk tempat bercerita?" Tukas Albert.

Toh, tidak ada salahnya bukan jika ia meminta Ronald untuk bercerita? Siapa tahu ia bisa memberi solusi kepadanya? Dan jika Ronald terus-terusan seperti ini, bukankah akan berpengaruh dengan pekerjaannya?

"Bukan hal yang penting, lupakan saja,"

"Baiklah, anggaplah aku adalah kau. Dan kau adalah pasien yang setiap hari kau tangani."

Baekhyun mendongak, menatap Albert yang tengah menatapnya dengan bersungguh-sungguh. Tunggu dulu, menjadi pasien yang setiap hari ia tangani?

Albert mendengus lalu berdiri, matanya masih tertuju pada Ronald. Kedua tangannya ia masukkan kedalam mantel tebalnya. Ronald masih terdiam, kepalanya tertunduk menatap secangkir kopi yang mulai mendingin.

Sebenarnya Baekhyun hanya merasa sedikit lelah, bukannya lelah dalam hal fisik. Namun, entahlah Baekhyun juga bingung apa yang tengah terjadi dengan pikirannya. Apa yang ditawarkan Daehyun masih terngiang dalam otaknya, terlebih ia sudah menyetujui apa yang jaksa itu mau.

Di satu sisi, ada hal yang harus ia lakukan di Korea. Dan disisi lain, terlalu berat untuk meninggalkan Jungkook dan Taehyung yang masih membutuhkannya. Terlebih Daehyun membuatnya semakin bingung dengan apa yang diucapkannya semalam melalui telfon, pria bernama Daehyun itu menawarkan jasanya untuk membantu Baekhyun mencari orang yang dicarinya. Hitung-hitung sebagai balas budi, katanya.

Cukup lama Albert menunggu. Namun, Baekhyun masih tetap diam dan melamunkan hal-hal yang entah tidak diketahuinya.

"Kau tidak bisa menemukan solusinya sendirian. Tidak peduli kau adalah seorang psikiater, kau tetap manusia yang butuh solusi orang lain tentang perasaanmu. Bagaimanapun perasaan diri sendiri dan perasaan orang-orang yang kau tangani adalah hal yang berbeda. Byun Baekhyun,"

Deg.

Byun Baekhyun?

Albert memanggil nama itu lagi.

Baekhyun mendongak dengan cepat, menatap Albert dengan tatapan tak percaya. Albert masih mengingat nama itu? dan mengatakannya lagi. Hal itu bertanda bahwa Albert benar-benar serius, dan terlebih apa yang dikatakan Albert memang benar. Perasaannya dengan perasaan orang lain adalah hal yang berbeda.

"Kau melupakannya Baekhyun-ah, aku mengenalmu lebih dari 10 tahun. Dan kau masih belum mempercayaiku? Kau melupakan hal penting dalam dirimu,"

"Kau benar, aku melupakan hal yang penting,"

"Kau harus belajar mempercayai seseorang, selain Jungkook dan kedu—ketiga orang tuamu. Aku sama sepertimu, memiliki masa lalu yang kelam. Tapi aku tahu, hidupku tidak berhenti sampai disini,"

"Albert kau—"

"Aku berbicara kali ini adalah sebagai sahabatmu dan juga orang yang mencintaimu"

"Aku lebih menyukaimu sebagai Albert, bukan sebagai Park Chanyeol"—

.

.

.

.

.

Daehyun menatap layar ponsel dengan kesal lalu melemparnya kesembarang arah. Bagaimana tidak kesal? Hari ini adalah tepat 2 minggu ia berada di London, dan sampai saat ini Ronald belum memberi kabar kepadanya.

Bukan hanya itu saja, ini benar-benar sudah melewati deadline! Suho hanya memberikan waktu kepadanya seminggu dan sudah berulang kali ia menegosiasikan hal ini dengan Suho lima hari yang lalu, dan beruntung Suho masih memberi kesempatan dengan menambah waktu tiga hari. Lagi-lagi melanggar deadline lagi.

Tidak mungkin Daehyun menegosiasikan hal ini dengan Suho, bagaimana tidak? Membayangkan apa yang akan Suho katakan saja sudah membuat Daehyun pusing bukan main, apalagi berdebat dengannya disaat seperti ini. Benar-benar menyusahkan.

Daehyun harus menghubungi Baekhyun sekarang, ia tidak bisa menunggu lebih lama. Ia sudah menanggung resiko dari amarah Suho, dan ia tidak bisa menambah resiko lebih dari itu.

Sudah saatnya membawa Baekhyun secara paksa.

"Daehyun bodoh! Apa kau tuli? Ponselmu berdering terus sejak 15 menit yang lalu. Cepat angkat, terlalu berisik!" Grutu Junhong dari balik ruang tengah.

Dengan kesal Daehyun mengambil ponselnya lalu menggeser flip dengan kasar sebelum meletakkannya disamping telinga.

"Apa!"

"Apa kau tidak diajarkan tata krama?"

Tunggu dulu, suara ini...

Damn it!

Kenapa kau begitu bodoh Jung Daehyun?

"Sorry, Mr. Ronald. I don't know if you're calling," Jawab Daehyun seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Lagi-lagi canggung.

"Lupakan,"

Hening. Hanya suara hembusan napas yang terdengar pada sambungan. Baik Daehyun maupun Baekhyun mereka sama-sama terdiam, entah apa yang mereka pikirkan.

"Ada perlu apa?" Daehyun membuka suara, memecahkan keheningan diantara mereka. Daehyun semakin mengerutkan dahinya ketika indra pendengarannya mendengar dengusan kasar dari ujung sana.

Sedangkan disisi lain, Baekhyun tengah berbaring diatas ranjang king sizenya dengan selimut hampir menutupi seluruh tubuhnya. Ia tengah menimbang-nimbang apa yang harus ia katakan dan apa yang harus ia putuskan, apa yang dikatakan Albert siang tadi membuatnya semakin memantapkan keputusannya.

Namun disisi lain, Baekhyun masih belum bisa meninggalkan Jungkook sendirian disini. Bahkan jika Baekhyun membawa Jungkook ikut ke Korea bukanlah suatu hal yang bagus. Jadi Baekhyun sudah membulatkan tekatnya untuk...

Menerima tawaran Daehyun serta menerima permintaan Suho.

Baekhyun berbalik menghadap pintu, menarik napas dalam sebelum kembali berucap, "Aku menerimanya. Kita bisa berangkat ke Korea lusa,"

Daehyun yang mendengar itu, tidak bisa untuk tidak tersenyum. Sungguh, akhirnya ia bisa pulang ke Korea sekarang. "Baiklah, aku akan mempersiapkan keperluannya. Selamat malam, beristirahatlah,"

"Siapa?"

"Ah? Itu, Ronald— ah, tidak. Byun Baekhyun,"

Junghong mengangkat salah satu alisnya, menatap aneh kearah Daehyun yang tengah menggaruk tengkuknya seraya tersenyum kikuk. Ada apa dengan anak itu? dan Oh! Sejak kapan Daehyun memanggil dokter muda itu dengan nama Baekhyun?

Junhong mendengus kasar, sedetik kemudian menghempaskan tubuhnya tepat disamping Daehyun. Mencomot beberapa kripik lalu memakannya.

"Bagaimana? Ini sudah melewati deadline."

Daehyun mendesah kecil, melirik Junhong sekilas dan ikut mencomot beberapa kripik. "Terkadang usaha untuk memaksa memang sangat dibutuhkan," Daehyun menjawab dengan suara lirih dan raut wajah yang sulit diartikan.

Junhong menoleh, menatap Daehyun dengan kening berkerut. "Apa maksudmu? Kau itu bodoh dalam hal membuat suatu kata-kata kiasan, jadi langsung to the point saja!" Cibir Junhong blak-blakan.

Daehyun kembali menghela napas panjang. "Bersiaplah, kita kembali ke Korea lusa,"

"Lusa? Jadi.."

"Benar, dia menerimanya."

.

.

.

.

.

Jungkook menoleh, melirik keluar jendela sekilas sebelum menghempaskan tubuhnya diatas sofa berukuran kingsize yang terletak diruang tamu. Sudah hampir pukul 9 malam dan belum ada tanda-tanda kehidupan didalam apartemen.

Ia baru saja beberapa menit berada didalam apartemen bernuansa putih tulang itu, namun tidak ada tanda-tanda kehidupan selain dirinya yang hidup disana. Tidak biasanya ruangan itu terasa sepi, dan ayolah ini baru jam 9 malam.

Ia mendesah dan meneguk air mineral yang dibawanya dari dapur dengan sekali teguk. Sungguh, hari ini benar-benar hari yang melelahkan. Bagaimana tidak? Jadwal praktek yang seharusnya diadakan minggu depan mendadak harus diadakan hari ini. Dan Jungkook sama sekali belum mempersiapkan apapun.

Dan juga ia harus pulang dengan berjalan kaki, jangan tanya kenapa. Karena yah, manusia bernama Kim Taehyung itu tiba-tiba memberinya pesan singkat dan meminta maaf karena tidak bisa menjemputnya. Dan lagi ia harus menambah jam eksta dan pulang lebih malam dari biasanya. Jungkook yang malang—

"Oh, kau sudah pulang?" Suara Baekhyun terdengar dari belakangnya.

Jungkook menoleh dan sedikit memutar tubuhnya agar dapat melihat kakaknya itu dan menyapanya. "Dapat kau lihat sendiri, dan ini adalah pertama kalinya aku pulang selarut ini. Menyebalkan," Sahut Jungkook sedikit menggerutu.

Baekhyun dapat melihat ekspresi kesal dari wajah Jungkook, benar-benar lucu. Sedetik kemudian ia terkekeh dan ikut menemani Jungkook duduk ditengah ruangan bercat putih itu.

"Tunggu, dimana Taehyung?"

"Jangan tanya kepadaku, aku tidak tahu."

"Apa kalian bertengkar?"

"Tidak,"

Alis Baekhyun terangkat. "lalu?"

Jungkook berdecak sebal, menatap Baekhyun sebelum menjawab. "Jangan tanya kepadaku. Telfon saja jika kau menghawatirkan bocah sialan itu,"

Baekhyun tertegun. Sedetik kemudian ia tersenyum, mengacak-acak surai kecoklatan milik Jungkook sebelum kembali pergi dan menghilang dibalik dinding dapur. Sedangkan Jungkook hanya berdecak sebal sembari mengeluarkan isi tasnya dengan cara brutal.

Mungkin saat ini mood pemuda bernama Jungkook itu sedang tidak baik, dan Baekhyun tahu itu. Adiknya memang seperti itu, jika harinya berjalan tidak baik maka seharian penuh ia akan menggerutu dan melakukan hal-hal dengan cara seenaknya. Namun itu tidak terlalu mengganggu, jika Jungkook menemukan orang yang tepat untuk meluapkan emosinya. Pasti moodnya akan kembali seperti semula, dan Baekhyun yakin dengan hal itu.

Jungkook masih sibuk dengan acara-mengeluarkan semua isi tasnya- dengan brutal. Sesekali ia menggumamkan bahkan mengumpati hal-hal yang menurutnya menjengkelkan, termasuk Kim Taehyung. Orang yang membuat harinya semakin berantakan, karenanya Jungkook harus pulang dengan berjalan kaki bahkan dicuaca dingin seperti ini. Menyebalkan.

Baekhyun muncul dari arah dapur, kedua tangannya sedang menggenggam nampan berisi dua cangkir kopi. Tentu saja untuk dirinya dan Jungkook. Senyum diwajahnya masih terpatri sejak kepergiannya kedapur beberapa menit lalu.

Ia butuh berbicara dengan Jungkook. Yah lebih tepatnya meminta izin, mungkin?—

"Kookie," Sapa Baekhyun setelah meletakkan nampan diatas meja dan menyamankan dirinya duduk disamping Jungkook yang masih berkutat dengan barang-barangnya.

"Hmm."

"Aku akan ke Korea lusa, mungkin 1 bulan lamanya."

Saat itu juga Jungkook menghentikan aktifitasnya, menoleh menatap Baekhyun yang tengah menatapnya dengan hangat. "Hyung, jangan bilang kau—"

"Aku menerima mereka, dan aku akan mencoba mencari mereka disana. Kau tetap disini, dan Taehyung akan menemanimu disini," Potong Baekhyun cepat, tangannya terangkat mengelus surai Jungkook. Sorot matanya masih menatap Jungkook dengan hangat.

Tidak. Entah mengapa kini Jungkook merasa takut, ia tahu kakaknya tidak pernah mengetahui seluk beluk negeri ginseng itu. walaupun mereka dilahirkan disana, tetapi sejak kecil hingga sekarang mereka dibesarkan disini. Tentu saja budaya disini dengan disana sangatlah berbeda.

Ia takut, jika Baekhyun bertemu dengan komplotan yang membunuh orang tuanya dan juga ayah dari kakaknya dan mereka melakukan hal yang sama. Sungguh, Jungkook sangat takut jika hal itu terjadi. Bodoh memang, namun entah feelingnya berkata demikian.

"Tolong jangan pergi hyung, tetaplah disini." Lirih Jungkook.

Baekhyun menggeleng seraya tersenyum. "Aku harus melakukannya. Jangan khawatir, aku akan kembali dengan segera."

"Biarkan aku ikut bersamamu,"

"Tidak, terlalu berbahaya untukmu Jungkook-ah,"

"Tapi—"

"Tidak, percayalah padaku,"

.

.

.

.

.

"Kau yakin akan pergi kesana?"—

Albert menggeser sebuah koper besar, mengangkat beberapa buah tas belanja berisikan buah-buahan dan berjalan kesana kemari meletakkan beberapa hasil belanjaannya.

Sudah dua hari sejak hari dimana Baekhyun memutuskan untuk ikut dengan Daehyun. Dan kini hari dimana ia akan berangkat, namun Albert dan Taehyung masih sibuk berkeliaran membeli hal-hal yang entah untuk apa itu.

Sudah berulang kali Baekhyun menolak tawaran Albert untuk membantunya menyiapkan barang-barang, namun dasarnya Albert keras kepala ia tetap bersikukuh membantu Baekhyun. Apa gunanya sahabat jika tidak saling membantu, katanya.

"Bisakah kalian berhenti mondar-mandir seperti itu? Hey! Aku hanya pergi untuk sebulan, jangan berlebihan" Ujar Baekhyun jengkel. Bagaimana tidak? Dia hanya pergi untuk sebulan dan mereka malah membuatnya pusing dengan hal-hal yang menurutnya sangat tidak berguna.

Albert berkacak pinggang, "Ini semua demi kebaikanmu," Tukasnya.

Baekhyun memutar bola mata malas, "Kau berlebihan,"

"Hanya sekali, lain kali tidak akan."

"Terserah,"

Baekhyun beralih memasukkan beberapa pakaian kedalam koper, lalu menutupnya dan meletakkannya disamping sofa. Ia hanya membawa beberapa helai pakaian, beberapa obat-obatan dan tentunya hal-hal yang penting menurutnya.

Terkadang Baekhyun berpikir, bagaimana suasana kampung halamannya itu sekarang? apa kakek dan neneknya masih hidup? Entahlah ia tidak bisa membayangkan lebih dari itu.

"Hyung, bawalah aku bersamamu," Suara Jungkook berhasil membuat Baekhyun berhenti mengemasi barang-barangnya.

Kini Jungkook tengah berdiri diambang pintu kamarnya dengan bersender diantara engsel pintu. Menatap Baekhyun sayu dengan kedua tangannya ia lipat di depan dada. Ternyata ia belum mengizinkan kakaknya itu pergi sendirian—

Baekhyun tersenyum, beranjak dari tempatnya dan menghampiri Jungkook. "Tidak, kau tetap disini." Ucapnya saat ia tepat dihadapan Jungkook.

Mengerti jika adik kecilnya itu akan mengeluarkan rentetan kata, cepat-cepat Baekhyun menggenggam kedua tangan adiknya itu dan menatapnya dengan hangat. "Kau percaya denganku 'kan, Kookie?"

"Albert dan Taehyung akan menemanimu disini, kau tidak perlu khawatir. Bukankah aku kesana bersama kedua orang suruhan hakim-Kim? Jadi, tidak akan ada masalah," Lanjutnya.

Jungkook yang awalnya ingin mengeluarkan kata protes, namun sedetik kemudian diurungkannya niatnya itu. Benar juga, Baekhyun pergi bersama kedua orang suruhan hakim-Kim. Keselamatan Baekhyun pasti akan terjamin, namun...

Pikirannya masih tertuju pada komplotan yang tengah mengincar flashdisk itu..

Tidak.

Orang itu pasti tahu jika mereka berdua masih hidup, dan mungkin mereka sudah menyiapkan sebuah jebakan disana.

Berlebihan memang, tapi tidak ada yang tidak mungkin terjadi bukan?

Bagaimanapun sia-sia juga ia memohon kepada kakaknya itu untuk tetap tinggal, ia tahu kakaknya itu tidak akan mengubah keputusannya. Bahkan jika adiknya sendiri yang meminta, dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuat kakaknya itu mengubah keputusannya.

Apa boleh buat? Ia harus mengalah kali ini, dan mulai mempercayai kakaknya itu. Percaya jika semuanya akan baik-baik saja dan berjalan dengan lancar. Mungkin untuk saat ini—

"Baiklah, sebanyak apapun aku membujukmu. Kau tidak akan pernah mengubah keptusanmu, aku benar bukan hyung?" Jungkook tersenyum, sedetik kemudian memeluk Baekhyun dengan erat.

Baekhyun awalnya terkejut dengan sikap tiba-tiba adiknya itu, namun sedetik kemudian ia tersenyum dan membalas pelukan Jungkook. Adiknya memang keras kepala seperti dirinya, namun tidak akan pernah menang dalam adu argumen dengannya.

Dirasa cukup lama, Baekhyun melepas pelukannya. Menepuk kedua pundak adiknya itu lalu terkekeh, "Kau sudah bisa melakukannya bukan? Aku tahu, bakatmu itu dibidang yang ekstrim. Kau bisa menggunakannya pada saatnya nanti,"

"Kurasa," Lirih Jungkook

Baekhyun menggeleng, "Aku yakin kau bisa,"

"Akan kuusahakan,"

"Gunakan itu disaat yang tepat, aku mempercayaimu, Jeon Jungkook."

.

.

.

.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Mereka sudah berada dibandara sejak 15 menit yang lalu, tak terkecuali Junhong dan Daehyun yang sudah menunggu sejak 30 menit yang lalu.

"Jaga dirimu baik-baik Jungkook-ah, hyung akan sangat merindukanmu," Baekhyun memeluk Jungkook sebentar, menatap adiknya dengan sayang dan tersenyum.

Kemudian beralih pada Taehyung yang tengah tersenyum, kemudian memeluknya "Jaga adikku baik-baik, ini perintah dariku. Jika terjadi sesuatu dengan adikku, jangan harap kau akan lulus 3 bulan kedepan. Kau mengerti,Kim Taehyung?"

Taehyung yang mendengar itu sedikit terkekeh lalu mengangguk mengiyakan, "Percayakan padaku hyung, adikmu aman bersamaku," Ujarnya.

Baekhyun tersenyum, kemudian beralih menatap Albert. "Jaga dirimu, jangan terlalu membebani muridku,"

"Kau bisa percayakan itu padaku," Jawab Albert meyakinkan.

"Tuan Ronald? Kita harus segera cek-in," Suara berat Daehyun berhasil menghentikan acara perpisahan kedua kakak beradik itu.

Baekhyun mengangguk, lalu segera menghampiri Daehyun.

"Sudah puas dengan dramanya?" Daehyun melirik Baekhyun sekilas kemudian kembali menatap display keberangkatan.

"Kau memang butuh didikan tata krama," Sahut Baekhyun saat ia sudah berdiri tepat disamping jaksa bernama Daehyun itu, sedangkan Daehyun hanya memutar bola mata dan mencibir.

Sementara Baekhyun dan Daehyun sedang berbincang, Junhong hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan sesekali terkekeh melihat atasannya itu mengeluarkan kata-kata kramatnya karena jengkel.

Daehyun membuang napas dari mulutnya, "Baiklah, kau menang. Oh ayolah! Kita sudah hampir terlambat," Ia berbalik ke kanan dan bersiap melangkah sebelum sebuah tangan menggenggam lengannya.

Daehyun berbalik, salah satu alisnya terangkat. "Ada apa?"

Baekhyun melepaskan cengkramannya, lalu sebelah tangannya terangkat menunjuk kesuatu tempat. "Aku ingin pergi kesana sebentar, boleh?"

Daehyun semakin mengerutkan dahinya, sedetik kemudian ia mengangkat kedua bahunya dan mengikuti arah pandang Baekhyun. Tunggu dulu—

Bukankah itu—

Tugu yang berisikan nama-nama korban 15 tahun silam...

Seakan mengerti isi pikiran Daehyun, dengan cepat Baekhyun kembali bersuara "Aku hanya ingin menengok kedua orangtuaku,"

"Baiklah,"

"Kalian pergilah, biar aku yang membawa barang-barang kedalam," Tukas Junhong.

Daehyun mengangguk kemudian mulai berjalan mengikuti Baekhyun yang sudah pergi duluan kearah tugu.

Tempat itu tidak pernah berubah, masih sama seperti pertama kali Daehyun melangkahkan kakinya di London. Namun ada yang berbeda, terdapat berbagai karangan bunga bahkan lilin yang mengelilingi tugu berukuran besar itu.

Daehyun tidak tahu pasti apa maksud dengan karangan bunga dan lilin itu, sebelum ia melihat Baekhyun menyalakan sebuah lilin kemudian meletakkannya disamping lilin lainnya dan mulai memejamkan matanya. Berdoa?

"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Daehyun setelah melihat Baekhyun menyelesaikan kegiatannya.

Baekhyun menatap Daehyun beberapa detik, lalu kembali memandang tugu dengan ratusan nama itu. "Hari ini tepat dimana peristiwa itu terjadi, aku melakukan hal sama seperti yang orang-orang lakukan. Mendoakan para korban dan mengenangnya."

"Kau bisa melihat namaku disana, lucu jika aku mendoakan diriku sendiri," Lanjutnya.

Melihat tempat ini dan nama kedua orang tuanya yang tertulis disana membuat Baekhyun kembali merasakan bagaimana potongan-potongan tubuh manusia dengan cepatnya terpental kesana kemari, pecahan kaca memenuhi bandara, dan bau darah menyeruak kepenjuru ruangan.

Beruntung ia mengalami hal memilukan seperti itu saat ia baru berumur 8 tahun, dimana ia belum bisa mengingat dengan jelas bagaimana kronologi itu terjadi. Tapi, suasana dan jeritan para korban hingga sekarang masih terngiang dipikirannya.

Dan saat itu juga Baekhyun membulatkan tekadnya untuk mencari dan membalaskan dendam ketiga orang tuanya.

Sedangkan Daehyun menatap Baekhyun dengan sorot mata yang susah diartikan. Ia belum pernah melihat sorot mata sayu pria dihadapannya kini. Selama ini ia hanya tahu Baekhyun yang pemarah, cerewet, sinis, dingin dan angkuh. Bukan Baekhyun yang tengah mencoba menahan air matanya jatuh saat mengenang masa lalunya.

Ternyata orang sedingin dan seangkuh Baekhyun juga memiliki masa lalu yang kelam, pikirnya.

Daehyun mendengus perlahan, "Baiklah, sudah waktunya. Junhong sudah menunggu disana. Ayo"

Baekhyun mengangguk, kemudian berjalan dengan mengekor pada Daehyun tepat dibelakangnya. Baekhyun berniat menanyakan sesuatu kepada Daehyun sebelum tubuhnya terasa berat dan ...

Brukk!

Menghantam sesuatu. Oh! Atau mungkin seseorang.

Kini Baekhyun tengah terduduk dilantai dengan punggungnya yang membentur lantai terlebih dahulu. Sesekali ia meringis merasakan perih pada punggungnya serta kakinya yang berat entah seperti tertimpa sesuatu.

"Oh! Maafkan aku, kau tidak apa-apa?"

Suara berat seseorang berhasil membuat Baekhyun mendongak dan sedikit menatap orang itu dengan mata menyipit.

Orang ini? Aku seperti pernah melihatnya...


To be Continued..


.

Silahkan protes setelah ini, updatenya ngaret banget ya? iyadong pasti.g

Gatau ah mau ngomong apa, pokoknya ini Al ngetiknya rada setengah hati/? gara-gara ini disempetin nulis disela-sela tugas yang menggunung.

Jadi apa daya, seperti inilah jadinya~~

Sebagai permintaan maaf karna updatenya lama, Al disini ngga cuma update aja. Kalau mau lho ya kalau mau, ini Al udah buatin trailer untuk fanfic ini. tujuannya sih cuma mau mempermudah penggambaran aja gitu, kan ini konfliknya rumit tuh. yang masih bingung bisa langsung liat trailernya, syukur-syukur kalau langsung ngerti hehe .g

Link - watch?v=kIVgk0PKjRE / Check profil ;;)

Ini bagi yang mau lihat aja loh ya haha, kalau gamau yaudah sih gapapa. Sebenernya cuma iseng nyoba buat trailer ._. Ohya, kritik & sarannya sangat dibutuhkan ya~~

Yosh!

Thanks yang udah ngereview, follow dan ngefav sampai chap kemarin, lovelove diudara ya;; Semua review dibalas lewat PM ya~

Yang sider, Al tunggu di kolom review;)

Okay.

Akhir kata,

Mind to Review?