There is a love I reminisce,
Like a seed
I've never sown.
Or lips that I'm yet to kiss,
and eyes
not met my own.
Hands that wrap around my wrists,
and arms
that feel like home.
I wonder how it is I miss,
these things
I've never known.
Yifan duduk bersandar di kursi penumpang pesawat yang sudah pesan. Kini ia akan berangkat ke Spanyol untuk urusan bisnis sekalian ia menjernihkan pikiran nya dengan berlibur. Ia akan mendatangi pertemuan dengan para CEO kelas dunia. Sungguh suatu kebanggaan baginya.
Penerbangan sudah ditempuh selama dua jam. Yifan tentunya merasa sangat bosan hanya duduk bersandar dan mendengar kan lagu dari headset nya. Ia pun teringat pada sesuatu. Yifan mengambil tas selempang nya dan mengambil sebuah toples. Ya, toples yang akhir akhir ini menjadi sahabatnya. Toples yang kadang membuat nya tesenyum, bahkan menangis pilu. Dibukanya toples itu dan ia baca gulungan kertas itu perlahan. Tak lupa memisahkan kertas kertas yang sudah ia baca ke sebuah plastik bening yang selalu ia siapkan.
3 Mei 20xx
Yifan memang menyebalkan! Dia benar benar lupa akan hari ulangtahun ku! Bahkan hari ini masih tidak ingat. Apa kau benar benar melupakan ulangtahun ku atau memang sengaja dan pura pura kupa? Ughh menyebalkan
6 Mei 20xx
Yifan akhirnya mengingat ulang tahun ku setelah Chanyeol berkata blak blakan di depan kami. Ia meminta maaf walaupun hanya seadanya. Apa yang terjadi pada nya?
29 Oktober 20xx
Minggu depan adalah hari ulang tahun Yifan! Aku sudah membelikan nya Parfum. Memang ini terlalu cepat namun tak apa. Yang penting ia suka dengan harum nya!
20 November 20xx
Hubungan ku dan Yifan sudah kandas. Sungguh aku sangat sedih mengetahui bahwa Yifan lebih memilih cinta pertama nya yang dulu ia gilai ketimbang diriku yang selalu ada dan bersedia untuk nya? Tidak kah kau sadari disini aku mencintai mu dan menerimamu apa adanya , Yifan?
27 November 20xx
Apa pria itu sudah gila ingin mengenalkan ku dengan gadis yang ia sebut cinta pertama itu? Dan dengan lebih gila nya aku mengiyakan ajakan nya? Luka ku semakin perih bagaikan disiram air garam.
14 Februari 20xx
Aku baru menemukan toples ini di gudang rumah ku di New York. Sudah beberapa tahun aku tidak menulis di gulungan kertas ini. Semua ini membuatku begitu merindukan Yifan. Aku belum sempat mengirimi nya surat, yaa karena aku baru sebentar di sini dan belum ada hal penting yang terjadi. Dan aku ingat ini adalah hari Valentine! Happy Valentine Yifan!
Aku persembahkan lirik lagu ini untuk mu.
Yo no naci sino para quereros;
Mi alma os ha cortado a su dedida;
Por hábito del alma misma os quiero.
Escrito está en mi alma vuestro gesto;
Yo lo leo tan solo que aun de vos
Me guardo enesto.
Quanto tengo confiesso yo deveros;
Por vos naci, por vos tengo la vida,
Y por vos é de morir y por vos muero.
I was born to love only you;
My soul has formed you to its measure;
I want you as a garment for my soul.
Your very image is written on my soul;
Such indescribable intimacy
I hide even from you.
All that I have, I owe to you;
For you I was born, for you I live,
For you I must die, and for you
I give my last breath.
~ Garcilaso de la Vega (1503-1536)
Aku sangat ingin mendengarkan lagu ini bersama mu. Di tempat impian ku yaitu di Spanyol. Bukanya itu indah? Semoga hal ini bisa terkabul!
Yifan tersenyum melihat gulungan kertas paling besar berwarna Pink itu. Matanya berkaca kaca. Tentunya ia menahan air mata nya. Andaikan Ia masih bersama Zitao, andaikan ia membaca surat itu lebih awal, andaikan ia tidak merusak ini semua dan masih bersama Zitao mungkin sekarang ia akan membawa Zitao ke Spanyol dan berlibur bersamanya. Mewujudkan apa yang gadis itu cita citakan.
.
.
.
.
.
.
.
Sudah 4 hari Yifan berada di Spanyol. 3 hari sudah ia menghabiskan waktu nya dengan berbagai pertemuan bersama para CEO. Hari ini adalah jadwal nya mengelilingi Spanyol seorang diri. Tentu saja ia berani . Destinasi pertama yang ia kunjungi adalah Granada. Kota indah yang menyegarkan mata. Situs yang pertama ia kunjungi adalah Alhambra. Situs penuh sejarah dimulai dari kekaisaran muslim hingga kristiani. Bangunan megah dengan arsitektur rumit bernuansa romantic . Tentunya Yifan, yang mencintai Seni sangat terpukau dengan segala ukiran di bangunan ini.
Tujuan selanjutnya adalah Ibu Kota Andalusia yaitu Sevilla. Termasuk Kota terbesar di Spanyol yang memiliki banyak penduduk. Walaupun terkesan padat, Yifan tidak mengurungkan niat nya untuk mengunjungi Sevilla.
Setelah beberapa jam mengendarai mobil sewaan nya, Yifan akhirnya sampai di jantung Kota Sevilla . Saat ini keadaan kota terlihat lenggang. Tidak terlalu ramai sehingga Yifan bisa sedikit bersantai saat mengemudi. Ia sudah lelah mengemudi.
Namun, karena tidak focus, ia tidak sengaja menyerempet seorang pejalan kaki. Yifan yang kaget menepikan mobil nya dan menghampiri sang pejalan kaki yang terjatuh.
"I'm sorry sir, I didn'd see you" ujar Yifan yang membungkuk untuk meminta maaf dan membantu pria yang diserempetnya untuk berdiri.
"Yeah no problem, it was my fault for not cautious"
"No, it was my fault. Let me take you to the hospital. Your knees and arm are bleeding."
"No you don't need to do that sir I'm okay"
"Let me take you, because I feel really bad right now"
"well okay I'll go to the hospital with you"
Yifan pun mengantarkan pejalan kaki tersebut ke rumah sakit terdekat. Lalu membawa nya ke UGD. Selama luka lukanya diobati, Yifan mengurus administrasi pria itu. Tak lupa juga membayar nya.
Setelah hamper satu jam menunggu, pejalan kaki itu keluar dengan perban rapih yang sudah terpasang di lengan dan dengkul nya.
"Is it still hurt?" Yifan langsung menghampiri pria itu.
"No, it's better than before. Thank you very much" Pria itu membungkuk
"You're welcome, do you want me to take you home?"
"You don't need to do that . My son is on his way here."
"Okay sir, nice too meet you!" Mereka pun berjabat tangan lau berpisah. Yifan yang merasa lega kembali duduk di bangku rumah sakit. Ia merenggangkan tubuh nya sebentar. Baru saja tiba di Sevilla, ia sudah mendapatkan masalah. Untung saja pejalan kaki tadi tidak marah dan menuntut yang tidak tidak.
.
.
.
Yifan mengedarkan pandangan nya ke seluruh penjuru rumah sakit . Suasana saat itu memang tergolong sepi. Tidak banyak pasien yang terlihat.
Yifan melihat ke ujung lorong dimana ia berada. Ia melihat seorang anak laki-laki sedang mendorong kursi roda nya. Yang membuat Yifan tertarik, anak itu memiliki wajah Asia Timur yang sangat kental.
Melihat anak itu mendorong dengan susah payah karena tingginya yang tak mampu melewati kursi roda itu, Yifan menghampirinya.
"Ada yang bisa kubantu?" tawar Yifan dengan bahasa Cina. Bocah itu menoleh kaget melihat Yifan.
"Eh ? paman bisa bahasa Cina?" Bola mata nya yang melebar karena kaget, terlihat menggemaskan bagi Yifan.
"Ya, aku orang Cina tapi tinggal di Korea" Yifan mensejajarkan tubuh tinggi nya dengan sang bocah.
"Lalu paman sedang apa di sini?"
"Liburan. Jadi ada sesuatu yang bisa kubantu? Kau sepertinya kesusahan membawa kursi roda ini"
"Ibu ku akan segera pulang dari sini. Namun kami hanya berdua. Jadi ia menyuruh ku untuk mengambilkan ini"
"Baiklah aku akan membantu mu. Kau mau naik di kursi roda atau berjalan?" Yifan pun mengambil alih kursi roda tersebut.
"Naik saja! Aku belum pernah mencoba nya hehehe" Yifan pun mendudukan anak itu. Lalu berjalan memasuki lift. Seperti yang diarahkan bocah tersebut.
Di dalam lift ia mengajak bocah itu untuk berbicara.
"Jadi nama mu siapa? Dan berapa Umurmu?" Tanya Yifan pada bocah yang sekarang sedang asyik memainkan jemari nya.
"Namaku Kevin dan umurku 6 tahun. Paman sendiri?"
"Nama ku Yifan. Kau tak perlu tahu umurku karna pasti nya aku sudah tua haha"
"Tidak kok paman terlihat muda dan tampan seperti pria idaman ibuku haha"
Yifan hanya tertawa mendengar nya.
Lift pun berhenti di lantai 7. Yifan keluar dari sana sambil mendorong kursi roda nya dengan arahan dari Kevin.
"Ibu mu memang nya sakit apa?" Tanya Yifan ketika mereka sudah mendekati kamar tujuan nya.
"aku tidak tahu. Kemarin keadaan nya lemah. Yang kutahu hanya dia memiliki penyakit jantung" Yifan hanya mengangguk paham.
Sesampai nya di depan kamar yang dituju, Kevin berdiri dan membuka pintu nya.
"Mom Kevin datang! Paman ini membantu ku membawa kursi roda" Seru anak itu ketika memasuki kamar ibu nya.
Yifan terus mendorong kursi roda nya masuk. Ia dapat melihat sesosok wanita yang duduk di satu satu nya ranjang di kamar itu. Wanita itu sedang memakan apel. Yifan tidak dapat melihat jelas wajab nya karena dari samping dan rambut hitam legam nya menutupi setengah wajah nya.
"berterimakasih lah pada paman itu , sayang" Wanita itu masih setia mengunyah apel merah darah yang menggiurkan itu. Sedangkan Kevin berlari menuju Yifan.
"Terimakasih paman Yifan!" seru Kevin.
Wanita itu tiba tiba saja menoleh hingga helaian rambut nya tersibak. Apel merah di genggaman nya terjatuh dan menggelinding menjauhi tubuh nya.
Yifan tak kalah terkejutnya dengan wanita itu.
"Zitao….."
.
.
.
.
.
TBC
Halo semua! Maaf nih lama update nya soalnya aku lagi sibuk dengan segala urusan irl ku. Ehehehe maaf juga kalo mungkin kependekan. Ini lama karena kemarin aku udh ngetik 2 chapter tapi menurut ku kurang oke. Jadi nya ku ulang lagi hehe. Maaf yaa. Makasih banget buat semua yang masih ngikutin. Maaf juga kalo misalnya mulai bosan. Maaf juga kalo ada typo.
Kemarin aku ngerasain sesuatu yang sedih yg bikin aku inget sama Taoris. Entah lah apapun yg berbau Taoris gak pernah berjalan lencar di aku. Entah itu RP, FF, real taoris nya, dll. Kadang sedih ultimate otp ku skrg kaya gini. Duh kujadi baper.
Yaudah , sekian dari ku
Kritik dan saran serta review dari kalian sangat membantu loh hehe.
Terimakasih
-Usami Machiko-
