Title : Pregxperiment

Pair : SiChul, KyuMin, DongHae

Length : 7/?

Author's Note : Segala hal yang tidak mungkin dalam fic ini hanyalah karangan author semata, jadi jangan terlalu dipikirin. Chapter 7 is up! Gimana chapter 6 kemarin? Semoga seru ya :) Sebelumnya author mau minta maaf karena update-nya mulai lelet, padahal rencananya mau update setiap hari. Tapi karena libur kuliah author udah kelar, jadi waktu buat tulis fic dan update di ffn mulai berkurang. Tapi semoga readers semua masih berkenan memberikan reviewnya untuk author ya :)

Happy Reading


Chapter 7

.

.

Namja cantik yang semakin cantik di usia kandungannya yang memasuki tujuh bulan itu terlihat begitu sibuk di dapur. Tubuhnya yang tidak lagi ramping terlihat mondar mandir kesana kemari mengambil beberapa barang yang ia butuhkan. Baju terusan berbentuk seperti kemeja selutut itu tidak lagi menutup sampai lututnya, perutnya yang begitu besar membuat semua pakaian yang ia pakai tertarik ke atas, sehingga kemeja terusan itu hanya mampu menutupi seperempat paha mulusnya saja.

Cahaya terang dari lampu dapur menerawang kemeja putih yang ia pakai, membuat mata telanjang dapat melihat dengan jelas tidak ada potongan kain lain yang menutupi bagian intimnya. Dadanya yang sudah begitu besar serta penisnya terlihat samar-samar tertutupi kemeja putih tersebut.

Heechul memang mulai jarang mengenakan celana dalam, perutnya yang sudah begitu besar membuat dirinya kesulitan saat memakai potongan kain kecil itu. Meminta bantuan kekasihnya? Hey, hal itu sama saja membuat dirinya tidak bisa beranjak dari tempat tidur seharian penuh! Kekasihnya yang memang sudah mesum semakin menjadi-jadi tingkat kemesumannya semenjak ia meminta Siwon menyentuhnya hari itu.

Heechul masih sibuk mengaduk adonan yang ada di mangkuk besar. Rencananya namja itu ingin membuat kue manis untuk menemani siang hari ini. Heechul hampir saja menjatuhkan sebotol penuh coklat bubuk yang akan ia tuang ketika sepasang tangan melingkar pada perutnya dengan tiba-tiba.

"OMO! Ya! Siwon-ah, kau membuatku terkejut!" kaget Heechul saat ia menyadari pelaku yang membuatnya terkejut ternyata kekasihnya sendiri.

"Hehehe.. Mian chagi.. Sedang apa, hm?" tanya Siwon seraya mengeratkan pelukan tangannya pada perut Heechul, meskipun tidak bisa terlalu erat karena lingkar perut Heechul sudah benar-benar besar.

"Membuat kue untuk cemilan babies, Daddy" jawab Heechul manis.

Siwon tidak mengajukan pertanyaan lagi, ia hanya terus mengamati kekasihnya yang sibuk memasukan ini-itu yang tidak ia mengerti. Bibir jahilnya sesekali mengecup leher jenjang kekasihnya yang terekspos karena Heechul menggulung rambutnya asal. Heechul beberapa kali mengendikan kepalanya merasa risih pada kelakuan kekasihnya, namun tentu saja hal itu tidak berhasil menghentikan kegiatan favorit Siwon.

Heechul berusaha kembali fokus pada adonan di hadapannya meskipun ia merasakan tangan Siwon sudah mengelus paha dalamnya dengan mudah.

"Issh, Wonnie kalau kau hanya menggangguku sebaiknya kau pergi kerja saja sana. Hush hush" usir Heechul sambil mengibas-ngibaskan tangannya menyuruh kekasihnya itu untuk pergi. Hari ini memang bukan hari libur, tapi Siwon sengaja meliburkan dirinya untuk menemani kekasih tercintanya.

"Kau berani mengusirku, hm?" tanya Siwon berbisik lirih pada telinga Heechul.

"Tentu saja- OMO! Apa yang kau lakuk- ohhh" suara Heechul terhenti ketika merasakan Siwon memaksa memasukkan suatu benda ke dalam lubang sempit miliknya dan benda tersebut bergetar di dalam sana. Seperti vibrator tapi dengan sensasi yang berbeda.

"Oohhh Wonnieh ini apaaa?" tanya Heechul disela-sela rintihan nikmatnya. Namja hamil itu segera berbalik menghadap Siwon. Ia menumpukan kedua tangannya pada meja marmer di belakangnya ketika benda di dalamnya semakin bergetar hebat tepat ketika Siwon menekan sebuah tombol pada remote control yang ada di tangannya.

"Ini permainan baru, sayang. Kita buat aturan mudah saja, seharian penuh lubangmu harus terisi dengan vibrator itu, aku bebas mengendalikan kecepatan vibrator itu sementara kau bebas mengeluarkan hasratmu dimana saja. Bukankah sekarang kau sudah tidak pernah lagi memakai dalaman? Itu lebih memudahkanmu untuk menuntaskan hasratmu, kan?" ucap Siwon sambil menggesekkan tangannya pada penis Heechul yang tertutup kemeja yang dipakainya itu.

"Ohh tapi Wonnh aku tidak mungkin nghh memakai v-vibrator ini se-seharian nghh penuhh" ucap Heechul terbata. Dirinya memohon agar Siwon mengeluarkan vibrator yang menancap di dalam lubangnya. Sialnya lagi dia sendiri tidak bisa merasakan ujung vibrator itu karena seluruh benda tersebut sudah tenggelam di dalam lubang miliknya.

"Kenapa tidak mungkin, sayang? Sudahlah, lanjutkan membuat kue untuk babies. Mereka pasti sudah tidak sabar ingin mencicipi kue buatanmu" jawab Siwon santai seraya menurunkan kecepatan vibrator tersebut.

Siwon memutar tubuh Heechul hingga kembali menghadap meja marmer, sedangkan dirinya kembali memeluk Heechul dari belakang. Tangan besarnya mengusap-usap perut Heechul, merasakan gerakan dari dua makhluk disana yang begitu aktif. Memasuki usia tujuh bulan, kedua bayi mereka memang lebih aktif. Bahkan terkadang Heechul tidak bisa tidur karena kedua bayi mereka terus bergerak di dalam perutnya, tendangan mereka sudah lumayan kencang, cukup memberikan rasa sakit pada Heechul.

"Ughh.. Wonniehh" suara Heechul terdengar memelas. Ia membalikkan wajahnya menghadap Siwon, memberikan tatapan kitten eyes andalannya.

"Kenapa hm? Bukankah sudah kuturunkan getarannya?" tanya Siwon seraya menekan kedua puting Heechul dari luar kemeja. Heechul memejamkan matanya erat serta menggigit bibir bawahnya gelisah. Bagaimana ia bisa kembali berkonsentrasi pada kue yang akan ia buat, kakinya saja sudah mulai bergetar. Vibrator yang bergetar begitu pelan membuatnya lebih lama untuk mencapai orgasme-nya, ditambah lagi Siwon sama sekali tidak membantu membuat dirinya terangsang.

Tapi meminta Siwon untuk menambah getaran vibrator sama saja dengan membunuh dirinya sendiri. Dengan terpaksa namja cantik itu kembali melanjutkan kegiatannya, berusaha melupakan getaran pelan di dalam lubangnya.

.


.

"Chagi, kau tidak iri dengan Sungmin atau Heechul hyung?" tanya Donghae pada Eunhyuk. Keduanya sedang berada di ruangan Eunhyuk, pekerjaan yang tidak terlalu banyak membuat Donghae menyempatkan dirinya mengunjungi ruangan Eunhyuk.

"Iri? Maksudmu? Iri dengan kehamilan mereka?" tanya Eunhyuk merasa bingung dengan pertanyaan kekasihnya.

"Ne. Sekarang mereka sedang menanti kelahiran anak pertama mereka. Bahkan Heechul hyung akan mendapatkan anak kembar. Kau tidak iri dengan kebahagiaan yang mereka rasakan?" tanya Donghae lagi. Namja itu memang sengaja memancing Eunhyuk agar kekasihnya mau melakukan penanaman rahim seperti Heechul dan Sungmin. Siapa yang tidak bahagia jika akan diberikan seorang anak untuk pelengkap kebahagiaan mereka. Begitu pula dengan Donghae, ia memang begitu menyukai anak-anak. Namun sepertinya Eunhyuk tidak berniat memberikan apa yang ia inginkan.

"Aku sudah cukup bahagia. Jika yang kau maksud mendapatkan kebahagiaan dengan merasakan kesakitan selama berbulan-bulan lamanya, aku tidak akan mau. Ingat, seluruh yang kita lakukan sampai saat ini hanyalah bagian dari eksperimen kita" ucap Eunhyuk acuh.

Namja dengan gummy-smile itu membuka file yang ia letakkan di meja, berpura-pura sibuk membaca file tersebut yang sebenarnya sudah ia pahami betul isinya. Mengacuhkan Donghae yang masih memandang dirinya, bersikukuh pada keinginan terbesar dalam hidupnya.

"Kenapa?" tanya Donghae tiba-tiba. Suara Donghae membuat Eunhyuk mengalihkan perhatiannya pada Donghae. Kedua alisnya bertaut seakan bingung dengan satu kata yang baru saja keluar dari mulut kekasihnya.

"Kenapa? Kenapa kau tidak pernah mengerti apa yang kuinginkan?" tanya Donghae dingin. Pandangan matanya yang biasa terasa menyejukkan kini menjadi begitu tajam.

"Apa maksudmu tidak pernah mengerti yang kau inginkan?! Kau yang tidak mengerti keinginanku! Yang kau pikirkan hanya kebahagiaanmu dengan memiliki anak, kau tidak memikirkan seberapa besar rasa sakit yang akan kulalui nanti! Kau yang tidak mengerti, Donghae-ya!" jawab Eunhyuk sengit. Deru nafasnya memburu, menandakan dirinya tengah dikuasai emosi.

"Selama ini aku selalu menurutimu! Kau bilang kau belum siap karena takut eksperimen ini tidak berhasil. Kau bilang kau takut semuanya akan terbuang sia-sia. Aku menuruti perkataanmu! Tapi sekarang, saat semuanya sudah jelas. Saat eksperimen ini sudah dinyatakan berhasil! Saat mereka berhasil hamil. Tapi kau tetap tidak mau menurutiku! Siapa yang tidak mengerti siapa Eunhyuk-ah?!" teriak Donghae akhirnya.

Pria itu sudah memendam keinginannya begitu lama. Ia pikir dengan melakukan eksperimen ini ia akan mendapatkan darah dagingnya sendiri, buah cintanya dengan kekasih yang begitu ia cintai. Tapi ternyata semua tidak seperti yang ia inginkan.

"KAU! KAU YANG TIDAK MENGERTI AKU! AKU TIDAK PERNAH INGIN HAMIL! SEMUANYA TERLALU KONYOL! AKU NAMJA! DARI AWAL AKU SUDAH TIDAK SETUJU DENGAN EKSPERIMEN BODOH INI! KALIAN YANG MEMAKSAKU! KAU YANG MEMAKSAKU!" teriak Eunhyuk murka.

Donghae tertegun mendengar pengakuan kekasihnya. Pengakuan yang selama ini tidak pernah ia ketahui. Jadi ini sebabnya mengapa Eunhyuk tidak pernah mau jika ia menyuruhnya untuk melakukan penanaman rahim itu.

"Mereka juga namja Eunhyuk-ah. Heechul hyung dan Sungmin juga seorang namja. Sama seperti kita" ucap Donghae tak habis pikir.

"Mereka namja bodoh yang dengan mudahnya mengorbankan segala hal bahkan nyawa mereka sendiri demi kebahagiaan yang belum tentu mereka dapatkan. Terlebih Sungmin. Dengan bodohnya ia menuruti permintaan Kyuhyun yang saat itu baru dikenalnya" jawab Eunhyuk dingin.

Donghae kembali tertegun mendengar penuturan kekasihnya. Ia tidak pernah menyangka Eunhyuk menganggap semua yang mereka lakukan, segala yang telah mereka korbankan hanyalah kebodohan belaka.

Donghae mengangkat wajahnya, menatap Eunhyuk dalam, memberikan senyuman miris yang terpampang pada wajah tampannya.

"Aku mengerti sekarang. Aku mengerti apa yang kau inginkan, Eunhyuk-ah" ucap Donghae pelan. Namja tampan itu beranjak dari tempatnya, melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.

"Kau mau kemana, Donghae-ya?" tanya Eunhyuk saat melihat Donghae berjalan menuju pintu. Donghae tidak menjawab, ia tetap berjalan menuju pintu. Pintu tersebut terbuka dengan sendirinya saat Donghae berada tepat di depan pintu itu.

"Kau mau kemana?!" tanya Eunhyuk kesal karena tidak mendapatkan jawaban dari kekasihnya.

"Aku akan mencari seseorang" ucap Donghae yang tidak dimengerti Eunhyuk.

"Seseorang? Siapa?" tanya Eunhyuk penasaran.

"Siapa saja yang bisa memberiku seorang anak. Siapa saja yang bersedia mengorbankan segala hal demi kebahagiaanku. Siapa saja yang menganggap eksperimen ini bukanlah ekperimen bodoh, Eunhyuk-ssi" ucap Donghae tanpa membalikkan tubuhnya menghadap Eunhyuk.

Namja itu segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Eunhyuk. Meninggalkan kekasihnya yang masih tertegun mendengar ucapannya barusan.

"Eunhyuk-ssi? Apa artinya kita berpisah Donghae-ya?" tanya Eunhyuk berbisik. Tentu saja ia tidak mendapatkan jawaban, Donghae telah meninggalkan dirinya seorang diri. Membuatnya merasa dingin. Hampa. Membuat dirinya menyadari apa yang baru saja terjadi.

"Donghae-ya, mian" bisik Eunhyuk lirih. Tubuhnya merosot hingga duduk bersimpuh di lantai yang terasa begitu dingin, isakan pilu perlahan memenuhi ruangan sunyi ini. Membuat siapa saja yang mendengarnya dapat merasakan penyesalan di dalamnya.

.


.

"Ugh Wonnie hahhh ahhh cukup shh aku lelah nghh" suara Heechul terdengar begitu lirih. Tenaganya sudah terkuras dalam setengah hari ini. Dirinya hanya duduk bersandar pada sofa, tangan kanannya mencengkram erat terusan bagian bawahnya yang sudah terlihat lembab. Sementara tangan kirinya mencengkram erat lengan kanan Siwon yang duduk di sebelahnya.

"Aku tidak akan berhenti sebelum kau keluar disini, dear" ucap Siwon lembut namun terdengar kejam bagi Heechul. Siwon menekan tombol merah pada remote control yang digenggamnya, bersamaan dengan itu vibrator yang masih menancap dalam lubang Heechul bergetar dengan kecepatan maksimal. Begitu cepat hingga tubuh Heechul tersentak berulang kali, membuat nafasnya menjadi terputus-putus kelelahan.

"Ugghh Wonniehhh please ohhh hentikann uhhh ahhhh"

Tangan Heechul semakin mencengkram erat lengan kekar Siwon, menandakan gelombang orgasme akan segera tiba untuk ke sembilan kalinya. Heechul mengumpulkan kekuatannya, mencoba mengangkat tubuh beratnya agar bangkit dari sofa. Setidaknya ia harus segera beranjak ke kamar mandi untuk mengeluarkan cairan orgasme-nya sebelum cairan itu mengotori sofa dan ruang tengah ini.

"Eghhhh wonnie ohhh bantu ak-khuu ughhh" pinta Heechul yang masih berusaha berdiri.

Siwon segera membantu Heechul, kedua tangannya menarik tubuh Heechul hingga berdiri. Siwon melepaskan tangannya pada tubuh Heechul ketika kekasihnya akan berjalan ke kamar mandi. Siwon kembali mengambil remote control yang ia letakkan di sofa, menekan tombol bertuliskan angka '3' yang berarti menambah kecepatan hingga tiga kali lipat.

Heechul yang baru saja berjalan dua langkah hampir saja terjatuh ketika merasakan getaran yang lebih kencang menghujam lubangnya. Ia segera bersandar pada dinding, perlahan tubuhnya merosot hingga duduk di lantai.

"Ugggh Wonnieee ahhhh ahhhh ughhh"

Siwon menghampiri Heechul yang terduduk di lantai, memperhatikan kekasihnya yang duduk dengan kaki terbuka lebar. Baju yang dipakai Heechul telah basah karena peluh, membuat matanya dapat melihat dengan jelas tubuh kekasihnya yang begitu menggoda.

"Berdiri, dear" ucap Siwon pada Heechul yang memejamkan matanya erat. Tangannya masih mencengkram bagian bawah dari terusan tersebut, kepalanya menggeleng samar, memberitahu Siwon bahwa dirinya tidak mampu lagi berdiri.

"Kakiku ahhh lemas nghhhh" bisik Heechul ditengah desahannya. Siwon segera membantu Heechul berdiri, menarik tubuh kekasihnya dan menyandarkannya pada dinding. Siwon menahan tubuh Heechul dengan tangan kirinya, sementara tangannya sudah menyusup ke selangkangan Heechul yang sangat basah, ia masukkan dua jarinya ke dalam liang Heechul dan mendorong vibrator itu lebih dalam. Sangat dalam hingga menekan kuat titik kenikmatan Heechul.

"AHHHH Wonnieh OOHHHH" teriak Heechul nikmat ketika vibrator itu terdorong lebih dalam. Kepalanya menengadah ke atas dan dadanya ia busungkan ketika kenikmatan itu ia rasakan.

Siwon masih terus mendorong vibrator itu, sementara tangan kirinya merayap pada puting kanan Heechul yang mencuat dari balik pakaiannya. Siwon mulai menjepit puting Heechul di antara ibu jari dan jari telunjuknya. Menjepitnya keras dengan cepat dan menariknya berulang kali, membuat Heechul kembali merasakan gelombang orgasme-nya datang berkali-kali lipat lebih cepat.

"ahhh ooohhh wooniiehh nghhh ughhh shhh aahhh"

Tubuh Heechul bergelinjang hingga kepalanya beberapa kali terbentur dengan dinding, dadanya semakin membusung seiring dengan semakin cepatnya Siwon menarik-narik puting kanannya. Pinggulnya terus bergerak tak karuan saat getaran vibrator semakin terasa kencang.

Heechul berusaha merapatkan kedua kakinya, meredam getaran vibrator di dalam lubangnya sekaligus agar cairan orgasmenya tidak menyembur sembarangan. Tapi apa daya, perut besarnya serta penisnya yang sudah mengacung tinggi membuatnya tidak bisa merapatkan kakinya. Ditambah lagi kakinya sudah sangat lemas dan bergetar hingga ia tidak sanggup menggerakkan kedua kakinya.

Dengan terpaksa Heechul menekan penisnya dengan tangan kirinya, mendorong penis yang sudah mengacung keras ke arah bawah meskipun ia merasakan rasa ngilu ketika memaksa penisnya yang membengkak itu.

Heechul menumpukan tangan kanannya pada lengan kekar Siwon, kakinya semakin bergetar ketika orgasmenya hampir tiba, ia merasa perut bagian bawahnya begitu mengejang. Heechul mendaratkan dahinya pada dada kekar Siwon, membuat perut buncitnya menempel dengan perut Siwon meskipun tangan Siwon masih aktif menarik-narik putingnya yang sudah membengkak dan merah.

"Ahh Akkhu s-sampai ugh AAAAGGGGGGGGHHHHHHHHHH" teriak Heechul ketika cairan orgasme ke sembilannya keluar, mengalir di antara kedua kakinya yang lemas.

Siwon berhenti menarik puting Heechul dan mengeluarkan vibrator dari dalam lubang Heechul, seketika itu tubuh Heechul benar-benar melemas hingga hampir jatuh ke lantai namun Siwon lebih dulu menangkap tubuhnya.

"Dear" panggil Siwon sambil menepuk pelan pipi Heechul, membuat Heechul membuka kedua mata sayunya yang terasa begitu berat.

"Wonnie" bisik Heechul pelan. Heechul kembali menutup matanya kemudian membukanya pelan dan menatap Siwon dengan sayu.

"Selesaikan dengan cepat, Wonnie. Aku lelah" bisik Heechul menyadari Siwon ingin memasukinya.

Siwon mengangguk dan segera membuka seluruh pakaian yang masih menutupi tubuhnya. Ia mempersiapkan penis besarnya di depan lubang Heechul dan mulai mendorongnya masuk ke dalam lubang Heechul. Heechul yang memang sudah sangat kelelahan tidak memberi respon apapun, ia hanya memeluk Siwon dan menyandarkan kepalanya pada bahu Siwon.

Siwon mendorong penisnya hingga masuk seluruhnya, kemudian dengan cepat ia mengeluar-masukan batangnya dari lubang Heechul. Heechul sendiri sudah terkulai lemas di bahu Siwon. Matanya terpejam erat, kedua tangannya tidak lagi memeluk tubuh Siwon, melainkan hanya terkulai di samping tubuhnya. Siwon masih terus mengeluar-masukan batangnya dengan kencang, berusaha menuntaskan hasratnya secepat mungkin tanpa menyadari keadaan kekasihnya.

"ugh dear hh aku sampai ahhh OOOHHHHHHH" lenguhan panjang Siwon bersamaan dengan menyemburnya cairan hangat ke dalam lubang Heechul. Siwon masih mengatur nafasnya yang terputus-putus serta menikmati sisa orgasmenya.

"Dear" panggil Siwon setelah beberapa saat Heechul masih tidak mengeluarkan suara. Merasa Heechul tidak memberikan respon, Siwon segera merenggangkan pelukan mereka. Seketika itu tubuh Heechul terjatuh lemas dari pelukannya, namun dengan cepat Siwon menangkapnya.

"Dear, Chullie-ya. Kau jangan membuatku takut" ucap Siwon panik seraya menepuk pelan pipi Heechul. Perlahan cairan merah pekat mengalir dari lubang hidung Heechul, membuat Siwon membelalakan matanya. Terkejut melihat cairan merah pekat itu terus mengalir tanpa henti melewati philtrum kekasihnya, begitu kontras dengan wajah Heechul yang sudah pucat pasi.

.


.

Sungmin menelungkupkan wajahnya pada meja kerjanya, menumpukan kepalanya pada lipatan tangannya sendiri. Namja yang sedang hamil muda itu merasa lelah meskipun tidak ada pekerjaan berat yang ia lakukan hari ini. Kepalanya begitu pusing hingga melihat seisi ruangannya berputar membuat dirinya merasa ingin muntah. Sungmin memejamkan matanya, mencoba mengusir pusing yang terus mengganggunya. Kehamilannya begitu sulit, tidak seperti Heechul yang begitu santai di awal kehamilan.

Sekarang pukul 1 siang, lewat satu jam dari waktunya makan siang. Dan dirinya belum menyantap makanan apapun sejak pagi tadi. Hanya kue kering dan the manis yang masuk ke perutnya. Sungmin memang tidak mengalami muntah-muntah, tapi ia menjadi begitu pemilih dalam hal makanan. Membuatnya kesulitan mengatur asupan gizi yang masuk ke dalam tubuhnya, yang nantinya akan dicerna oleh bayi di dalam kandungannya.

Suara pintu yang bergeser membuatnya menyadari seseorang masuk ke dalam ruangannya. Alih-alih melihat siapa yang masuk, Sungmin justru lebih memilih menenggelamkan wajahnya lebih dalam pada tumpuan tangannya sendiri. Terlalu lelah untuk mengangkat kepalanya yang terasa begitu berat.

"Sungminie, kau tidur?" tanya seseorang yang begitu dikenalnya bersamaan dengan usapan lembut pada kepalanya.

Sungmin memaksa mengangkat kepalanya dan melihat Kyuhyun yang berdiri di sampingnya. Dengan cepat ia melingkarkan kedua tangannya pada pinggang kekasihnya, menyandarkan kepalanya yang terasa berat pada tubuh Kyuhyun. Kyuhyun berbalas memeluk kekasihnya meskipun kesulitan karena posisi mereka yang berlawanan -duduk dan berdiri- tapi tangannya tetap mengelus lembut kepala Sungmin.

"Kau belum makan siang, kan?" tanya Kyuhyun masih terus mengusap kepala Sungmin, tangan lainnya memijat lembut bahu Sungmin yang terasa kaku.

Sungmin tidak menjawab sepatah katapun, namun Kyuhyun dapat merasakan gelengan samar dari kepala Sungmin yang menempel di perutnya.

"Kajja, kita makan dulu. Aku sudah membawakan makanan untukmu" ucap Kyuhyun sembari menunjuk dua kotak makan yang ia pesan dari cafetaria.

Sungmin melihat kotak makan tersebut sejenak, tersadar bahwa dirinya merasa sangat lapar namun ia yakin setelah melihat isi kotak makan tersebut rasa laparnya akan lenyap begitu saja.

Sungmin mencoba bangkit berdiri, namun kembali jatuh terduduk karena tubuhnya begitu lemas. Sungmin mencoba bangkit lagi, kali ini dengan bantuan Kyuhyun. Kekasihnya itu memapah dirinya berjalan menuju sofa di pojok ruangan, Kyuhyun mendudukan Sungmin pada sofa tersebut dan kembali berjalan mengambil kotak makan yang ia tinggalkan di meja kerja Sungmin.

"Cha, makanlah" ucap Kyuhyun sambil menyodorkan sebuah kotak makan pada Sungmin. Sungmin menerimanya dengan malas, dibukanya penutup kotak makan tersebut lalu mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.

Kyuhyun ikut memakan makanannya sendiri. Menyuapkan sesendok nasi dengan potongan daging ke dalam mulutnya. Setelah beberapa suapan, kegiatannya terhenti ketika menyadari Sungmin tidak lagi melanjutkan makannnya. Kotak makan kekasihnya sudah tergeletak di atas meja dengan isinya yang masih penuh -hanya berkurang sedikit.

Kyuhyun ikut meletakkan tempat makannya di atas meja, kemudian menarik tubuh Sungmin masuk ke dalam pelukannya.

"Kenapa tidak dimakan, hm?" tanya Kyuhyun lembut sembari mengusap lengan Sungmin.

"Aku tidak nafsu" jawab Sungmin lirih. Namja manis itu lebih memilih menyamankan kepalanya pada leher Kyuhyun.

"Tapi bayi kita butuh makanan, sayang. Setelah selesai makan kita pulang saja. Sekarang cepat habiskan makananmu" ucap Kyuhyun.

Kyuhyun mengambil tempat makan Sungmin, ia mulai menyuapi Sungmin dengan nasi dan potongan-potongan daging yang ada di dalam kotak makan tersebut.

"Kau tidak makan?" tanya Sungmin setelah beberapa saat Kyuhyun hanya sibuk menyuapi dirinya. Pria itu melupakan makanannya yang masih tergeletak di atas meja.

"Setelah makananmu habis aku akan melanjutkan makanku" jawab Kyuhyun kembali menyuapi Sungmin.

"Kalau begitu biar aku yang menyuapimu, Kyu" ucap Sungmin setelah menelan makanan yang ada di mulutnya. Ia mengambil kotak makan Kyuhyun dan mulai menyuapi Kyuhyun.

.


.

Donghae kembali ke apartemennya. Apartemen miliknya dan Eunhyuk. Setelah bertengkar dengan Eunhyuk tadi, ia memutuskan untuk pulang. Pikirannya terlalu penat untuk bekerja, lagipula pekerjaan mereka tidak banyak.

Donghae mengambil koper besar yang ada di sudut kamar, kemudian memasukkan semua pakaian miliknya ke dalam koper tersebut. Ya, ia memutuskan untuk keluar dari apartemen ini. Ia tidak ingin lagi bersama Eunhyuk. Tidak pernah menyangka kekasih yang begitu dicintainya menganggap keinginannya hanya sebuah kekonyolan semata.

Donghae menutup kopernya yang telah terisi penuh, kemudian menarik koper tersebut keluar dari apartemennya. Sebelum benar-benar menginggalkan apartemen tersebut, Donghae menyempatkan diri mengunjungi ruang administrasi. Ia menyerahkan surat kepemilikan apartemen miliknya dan mengubahnya menjadi atas kepemilikan Eunhyuk.

Apartemen ini memang miliknya, ia beli atas namanya. Namun ia juga tidak mungkin mengusir Eunhyuk begitu saja, lebih baik ia yang keluar dari apartemen itu. Terlalu banyak kenangan yang tertinggal disana, kenangan manisnya bersama Eunhyuk.

Donghae kembali menyeret kopernya menuju basement, memasukkan kopernya ke dalam mobil kemudian ia mengendarai mobilnya keluar apartemen. Membeli apartemen baru membutuhkan proses yang cukup panjang, jadi mungkin ia akan menginap di hotel untuk beberapa hari ini.

Sesaat setelah mobil Donghae meninggalkan gedung apartemen, sebuah taxi masuk ke dalam area tersebut. Taxi tersebut berhenti di depan pintu utama apartemen, seorang namja turun dari dalam taxi. Eunhyuk. Matanya masih terlihat sembab, namun ia tetap berjalan masuk ke dalam apartemen. Berjalan menuju lift dan berusaha mengabaikan tatapan orang yang memandang aneh ke arahnya.

Eunhyuk sampai di apartemen miliknya, miliknya dan Donghae. Ia masuk ke dalam kamarnya dan duduk lesu di atas tempat tidur. Mengusap wajahnya kasar, berusaha menghilangkan rasa sesak yang menyeruak di dalam dada.

Eunhyuk bangkit berdiri, berjalan menuju sebuah pintu bercat putih. Eunhyuk menekan sebuah tombol di samping pintu, membuat pintu tersebut bergeser dan menampilkan ruangan di dalamnya. Walk in closet. Eunhyuk beranjak ke dalamnya, mengambil sepotong pakaian dari sana. Hingga ia menyadari ada yang berbeda dari ruangan ini. Beberapa rak yang seharusnya berisi pakaian milik Donghae terlihat kosong, tidak tertinggal apapun. Eunhyuk segera beranjak keluar, memperhatikan seisi kamar yang baru disadarinya terasa lebih lenggang.

Seluruh barang milik Donghae tidak ada, hanya tertinggal barang miliknya sendiri. Seakan selama ini ia hanya tinggal seorang diri. Satu-satunya hal yang meyakinkan Donghae ada hanyalah sebuah foto yang tergantung di dinding, foto berisikan figur dirinya dan Donghae ketika mereka berlibur di Jeju.

"hiks Donghae-ya kau hiks b-benar-benar pergi hiks" suara Eunhyuk terdengar lirih. Matanya kembali memanas, isakan memilukan kembali terdengar. Pakaian yang ia genggam terjatuh begitu saja, dengan cepat langkahnya membawa Eunhyuk menuju bingkai foto di dinding. Eunhyuk meraihnya, kemudian memeluknya erat, seakan memeluk kekasihnya. Kekasih yang telah meninggalkan dirinya seorang diri karena kesalahan yang ia perbuat.

"hiks Donghae-ya mian hiks mian hiks"

Eunhyuk masih memeluk erat foto tersebut, tubuhnya merosot jatuh, duduk bersimpuh pada lantai yang dingin. Isakan pilu bercampur permintaan maaf terdengar mengisi seluruh penjuru apartemen. Eunhyuk masih terus menangis, hingga akhirnya kelelahan. Tubuhnya yang lemas jatuh di atas lantai, berbaring miring pada lantai yang dingin, air matanya masih mengalir meskipun suaranya telah hilang.

Matanya perlahan terpejam, namun kedua tangannya masih memeluk erat bingkai foto tersebut.

"mian Donghae-ya mian" bisik Eunhyuk sebelum kegelapan menelan kesadarannya. Satu tangannya terkulai lemas, melepaskan pelukannya pada bingkai foto tersebut.

.


.

TBC

Author lagi kebingungan buat bikin nama anak kembarnya SiChul, jadi maukah kalian menyumbangkan nama buat dua bayi lucu mereka? Nanti nama yang menurut author paling OK akan jadi nama bayi SiChul. Untuk yang minta moment-moment KyuMin dan EunHae, author bakalan kasih di side story dari Prexperiment. Tapi tunggu fic yang ini tamat dulu,ya. Karena seluruh moment mereka yang terselip dalam fic ini akan digabung dengan fic mereka nantinya, jadi yang mau fic khusus dua couple itu harus tetap baca moment-moment mereka di sini supaya tau jalan ceritanya nanti :)