Fate [Chapter 07]

"Aku punya satu permintaan. Kau mau mengabulkannya?" Tanya Shun.

"Tumben sekali. Tapi kalau onii-chan memintaku untuk berubah ke diriku yang lama, aku akan menolaknya," jawab Yukiteru sambil menoleh sekilas ke arah kakaknya

"Tidak. Aku tidak akan memaksakanmu untuk hal itu."

"Lalu apa?" Tanya Yukiteru sambil mengangkat satu alisnya.

"Ah... itu..."

Yukiteru hanya terdiam, bermaksud untuk menunggu kakaknya itu berbicara sampai selesai.

"Besok hari libur kan?"

"Ya," jawab Yukiteru dengan cepat.

"Besok aku ada pertandingan. Yu-chan bisa datang untuk mendukungku?" Tanya Shun

Yukiteru terdiam beberapa saat. "Lagi sakit begini masih mau ikut pertandingan?"

"Kalau ada Yu-chan buat mendukung, pasti sakitnya langsung hilang," jawab Shun sambil mengacukan jempolnya dan tersenyum.

"Aku tidak bisa. Besok aku mau belajar seharian."

"Aku mohon. Ini pertandingan pertamaku di SMA. Jadi aku agak gugup," ucap Shun sambil menatap melas pada Yukiteru.

"Oh, onii-chan sudah masuk SMA. Aku lupa soal itu," ucap Yukiteru sambil memegang dagunya sendiri dengan satu tangannya

"Jangan bilang kau tidak pernah menyadari kalau seragamku sudah berbeda dari yang lalu?"

Saat itu Yukiteru langsung menoleh ke arah seragam yang tergeletak sembarangan itu.

"Kalau itu aku sadar. Kukira sekolahmu ganti model seragam. Taunya itu seragam SMA," jawab Yukiteru dengan datar dan santainya.

"Jahatnya Yu-chan. Kalau begitu, kau harus datang, ok?" Bujuk Shun sambil menggenggam tangan Yukiteru dengan kedua tangannya.

'Baka! Kenapa juga aku harus datang? Aku sudah keluar dari dunia basket. Tidak. Lebih tepatnya aku diusir dari dunia basket. Kenapa aku harus menonton pertandingan basket itu? Tidak penting.'

"Tidak," jawab Yukiteru sambil memaksa kakaknya itu untuk melepaskan tangannya.

"Aku mohon. Kali ini saja Yu-chan mau datang," ucap Shun tanpa mau melepaskan genggamannya.

"Istirahatlah. Panasmu makin tinggi," jawab Yukiteru sambil menarik tangannya sendiri yang digenggam Shun hingga lepas.

Shun hanya terdiam melihat gadis berambut hitam itu.

"Wakatta," ucap laki-laki itu sambil memejamkan matanya.

Yukiteru hanya terdiam. Ia memutuskan untuk mengambil beberapa bukunya dan cemilan tadi. Lalu membawanya keluar dari kamarnya. Ia terus berjalan hingga masuk ke dalam kamar kakaknya itu.

.

.

.

Saat makan malam. Seperti biasa Yukiteru hanya terdiam dan sibuk sendiri dengan makanannya.

"Di mana Shun? Tumben sekali dia tidak ikut makan malam," ucap sang ibu dengan cemas.

"Dia ada di kamarku," jawab Yukiteru dengan datar setelah ia menelan makanan yang ada di dalam mulutnya.

"Di kamarmu?" Respon sang kepala keluarga sambil mengerutkan dahinya.

"Dia sedang sakit," ucap Yukiteru sambil mengangkat kedua bahunya.

"Kenapa tidak bilang dari tadi? Kalau begitu kaa-san akan antar makanan dulu untuknya," ucap wanita itu sambil menyudahi acara makannya lalu beranjak dari kursinya.

Yukiteru dan ayahnya hanya terdiam, melihat ibunya itu yang mulai sibuk sendiri. Setelah ibunya itu keluar dari ruang makan, Yukiteru hanya menghela nafasnya.

Saat itu acara makan malam pun kembali berlanjut walaupun meja makan saat ini hanya diisi oleh dua orang.

"Ohya, Yuki, bagaimana hubunganmu dengan Seijuro?"

Yukiteru langsung terdiam saat mendengar pertanyaan dadakan yanh dilontarkan oleh ayahnya itu.

"Biasa saja," jawab Yukiteru dengan datar.

"Baguslah kalau masih baik-baik saja."

"Tou-san masih bekerja sama dengan perusahaan Akashi?" Tanya Yukiteru sambil menggenggam erat sendok makannya.

"Ya, memangnya kenapa? Kerja sama ini jadi terjalin dengan sangat baik karena kau dan Seijuro. Tou-san sangat berterima kasih denganmu," jawab sang ayah sambil tersenyum lembut pada putrinya itu.

'Aku dan Seijuro?'

Yukiteru terdiam beberapa saat.

"Ne, tou-san."

"Hn?" Sahut sang ayah dengan santai.

"Apa aku ini merepotkan orang lain?"

Pria itu langsung mengerutkan dahinya saat mendengar pertanyaan putrinya itu. Sedangkan Yukiteru hanya terus diam tertunduk, menunggu jawaban dari ayahnya.

"Tidak. Tentu saja tidak," jawab pria itu dengan cepat.

"Apa aku ini orang yang tidak dibutuhkan?" Tanya Yukiteru yang sukses membuat ayahnya itu semakin kebingungan.

"Yuki, kau ini bicara apa?" Tanya balik sang ayah merasa bingung pada putrinya itu.

Yukiteru langsung mengedipkan matanya dengan cepat.

"Gomene, tou-san. Ah, aku sudah selesai makan. Kalau begitu, aku mau istirahat di kamar. Tou-san juga sebaiknya istirahat," ucap Yukiteru dengan datar dan cepat. Saat itu juga Yukiteru beranjak dari kursinya dan berjalan keluar ruang makan.

Sepanjang jalan menuju kamarnya, Yukiteru hanya terdiam.

"Shun, jangan seperti anak kecil. Kau harus makan sekarang. Panasmu semakin tinggi. Kau harus segera minum obatnya."

Saat itu Yukiteru berdiri terdiam di depan pintu kamarnya dan mendengar suara cemas ibunya itu. Spontan ia langsung memasuki kamarnya.

"Yuki?" Panggil sang ibu tanpa bisa menghilangkan ekspresi cemasnya

Yukiteru hanya terdiam, melihat kakaknya yang saat ini terbaring di tempat tidurnya.

"Ada apa?" Tanya Yukiteru sambil menoleh pada ibunya.

"Yuki, apa kau bisa membujuk Shun? Dari tadi ia tidak mau makan. Padahal kaa-san sudah membujuknya."

Yukiteru terdiam beberapa saat.

"Baiklah. Aku akan membujuknya," jawab Yukiteru dengan datar.

"Kaa-san beri waktu kalian berdua. Tolong ya, Yuki," kata sang ibu untuk terakhir kalinya sebelum ia berjalan keluar dari kamar Yukiteru.

Saa itu Yukiteru menghela nafasnya. Lalu ia mengambil posisi duduk di tepi ranjangnya.

"Tidak biasanya kau seperti ini," ucap Yukiteru dengan datar, sambil melihat kakaknya.

Mana bisa Yukiteru menahan dirinya untuk saat ini. Ia tidak akan bisa menjadi Yukiteru yang baru untuk saat ini. Bagaimanapun juga sebenarnya ia juga cemas melihat kakaknya itu.

Bisa dilihat kakaknya yang terlihat semakin memucat. Bibirnya yang kering. Mukanya yang memerah karena suhu panasnya. Badannya yang terus mengigil, walaupun sudah memakai selimut tebal hingga menutupi lehernya.

Shun hanya terdiam dan berusaha untuk tidur, walaupun tidak bisa karena kondisi tubuhnya yang saat ini membuatnya kurang nyaman.

"Baiklah. Besok aku akan datang di pertandingan onii-chan. Tapi dengan syarat kalau besok onii-chan sudah sembuh," ucap Yukiteru setelah ia menghela nafas panjang.

Saat itu Shun hanya merespon adiknya dengan anggukan pelan dan senyuman.

"Sekarang onii-chan harus makan," titah Yukiteru sambil mengambil semangkuk bubur yang sepertinya tadi dibawakan oleh ibu mereka.

Saat itu Shun langsung mengambil posisi duduk, walaupun sedikit sulit karena kondisi tubuhnya saat ini. Setelah Shun mengambil posisi duduk yang benar-benar nyaman menurutnya, Yukiteru langsung memberikan mangkuk itu pada kakaknya.

"Yu-chan tidak berminat untuk menyuapiku?" Tanya Shun sambil menyeringai.

"Kau bukan anak kecil," jawab Yukiteru dengan datar.

Shun hanya merespon Yukiteru dengan tawaan pelan. Lalu ia menyuap bubur itu ke dalam mulutnya sendiri. Sedangkan Yukiteru hanya terus terdiam, memerhatikan kakaknya yang makan dengan lahap.

Beberapa saat kemudian, mangkuk itu telah kosong.

"Apa buburnya seenak itu hingga kau memakannya dengan cepat?" Tanya Yukiteru sambil meletakkan mangkuk kosong itu ke atas meja kecil samping tempat tidurnya.

"Yah, mau bagaimana lagi. Aku harus cepat-cepat istirahat. Ada pertandingan yang menantiku besok," jawab Shun, lalu ia langsung meminum obatnya.

Yukiteru langsung terdiam.

'Aku iri dengan kehidupanmu.'

"Yu-chan?"

"Hn?"

"Temani aku setidaknya sampai aku tidur," ucap Shun yang sukses membuat dahi Yukiteru mengerut.

"Hari ini permintaanmu banyak sekali," kata Yukiteru setelah ia menghela nafas dengan panjang.

"Tidak apa kan sesekali aku seperti ini?" Tanya Shun sambil tersenyum tipis.

"Baiklah. Kali ini saja," jawab Yukiteru

Saat itu Shun langsung membaringkan badannya kembali.

"Na, Yu-chan, kau benar-benar berhenti dari basket sekarang?"

Yukiteru langsung terdiam beberapa saat. "Bukannya sudah terlihat jelas dari akhir semester kelas 2? Aku keluar dari team."

"Kenapa?"

"Kau tidak perlu tahu," jawab Yukiteru dengan cepat.

"Tapi kalau Yu-chan sampai seperti ini, kurasa aku harus tahu," respon Shun sama cepatnya juga.

Spontan Yukiteru langsung mengalihkan pandangannya. "Sebaiknya onii-chan istirahat."

Shun hanya terdiam. Perlahan ia memejamkan matanya hingga beberapa saat kemudian ia tertidur pulas.

.

.

.

Esok paginya.

"Ah, segarnya. Kalau begini aku pasti bisa ikut pertandingan."

Shun langsung mengambil posisi duduk dan mencoba untuk meregangkan otot-ototnya, tapi satu tangannya terasa sedikit tertahan. Saat itu juga ia baru menyadari kalau ada yang menggenggam tangannya.

"Yu-chan?" Respon Shun sedikit terkejut saat melihat adiknya itu masih tertidur dengan posisi duduk di lantai dan kepalanya terbaring di atas tepi tempat tidur.

"Huh?" Perlahan Yukiteru membuka matanya dan melihat ke arah kakaknya.

"Yu-chan kalau kau mau tidur di sini, kau bisa tidur di sampingku, tidak perlu tidur seperti itu," ucap Shun sambil mengangkat adiknya itu ke atas tempat tidur. Yah, hal itu sangat mudah dilakukan Shun berhubung saat ini Yukiteru masih setengah sadar.

Yukiteru hanya terdiam. Saat itu ia memegang dahi dan leher kakaknya.

"Syukurlah onii-chan sudah lebih baik," ucap Yukiteru dengan suara sangat pelan. Matanya yang setengah tertutup, terlihat sekali kalau ia masih mengantuk sampai sekarang.

Shun hanya terdiam, ia menepuk pelan ujung kepala Yukiteru berkali-kali. Saat itu juga Yukiteru mendapat kesadarannya. Spontan ia langsung beranjak dari tempat tidur.

"Ada apa?" Tanya Shun sambil mengerutkan dahinya.

"Tidak," jawab Yukiteru sambil mengalihkan pandangannya dengan cepat.

Shun terdiam beberapa saat. "Arigatou, Yu-chan."

"Heh? Untuk apa?" Tanya Yukiteru sambil mengangkat satu alisnya.

"Kau sudah mau menemaniku semalaman," jawab Shun sambil tersenyum.

"Ti-tidak. Ak-aku hanya ketiduran di sini. Itu saja. Bukan berarti aku memang berniat menemanimu semalaman," jawab Yukiteru sambil membalikkan badannya.

"Sudahlah. Akui saja. Aku senang kalau Yu-chan memang berniat menemaniku," ucap Shun sambil beranjak dari tempat tidur.

"Tch. Sudahlah. Sebaiknya kau siap-siap sekarang. Nanti kau ada pertandingan kan?" Ujar Yukiteru sambil sedikit mendorong kakaknya itu untuk keluar dari kamarnya.

"Kau juga siap-siap. Kau akan nonton aksiku nanti kan?"

"Iya-iya, nanti aku perginya nyusul," jawab Yukiteru dengan nada malas.

"Untuk memastikan kalau kau benar-benar akan datang, kau harus ikut berangkat bersamaku," ucap Shun sambil menyentil dahi Yukiteru.

"Tch. Terserah kau saja," respon Yukiteru sambil menutup pintu kamarnya saat kakaknya itu sudah sepenuhnya keluar dari kamarnya.

.

.

.

Teriknya matahari saat ini seakan-akan membakar ujung kepala Yukiteru. Sekarang ia sedang berdiri di depan gedung di mana pertandingan akan dilaksanakan bersama kakaknya yang sibuk mengotak-atik HP nya.

"Yu-chan tunggu sebentar di sini. Aku mau pergi sebentar," ucap Shun dengan cepat sambil melangkahkan kakinya.

Belum sempat Yukiteru mengucapkan satu katapun, kakaknya itu sudah pergi jauh dari posisinya berdiri saat ini.

"Tch. Menyusahkan. Apa dia tidak mengerti sekarang ini panas sekali?" Gumam Yukiteru sambil menutup kepalanya dengan kedua tangannya.

Beberapa saat Yukiteru terus berdiri, rasanya saat ini ia benar-benar terbakar oleh teriknya matahari. Ia sendiri bingung ada apa dengan cuaca sekarang hingga membuatnya tersiksa karena kepanasan. Ia juga bingung kenapa kakaknya masih kuat mengenakan jaket seragam team basketnya itu di tengah hari yang panas ini.

Karena tak ada hal yang bisa dilakukan oleh Yukiteru saat ini, akhirnya ia hanya memerhatikan sekitarnya. Yah, memang terlihat banyak orang-orang di sekitar sana yang tidak bertahan lama-lama berdiri di sekitar ini dan mencari tempat yang lebih teduh. Itu lah yang muncul di benak Yukiteru saat ini, ia ingin sekali berpindah dari posisinya saat ini. Setidaknya ia ingin masuk ke dalam gedung yang ada tepat di belakangnya saat ini.

Ketika ia benar-benar ingin menjalankan niatnya itu, kakinya langsung mendadak menjadi kaku. Yah sepertinya wajar saja. Saat ini Yukiteru melihat wajah-wajah familiar yang selama ini memang selalu ia hindari. Kiseki no Sedai.

Yukiteru melihat Akashi dan yang lainnya sedang berjalan keluar dari pintu gedung itu. Kebetulan sekali, para Kisedai itu menyadari adanya keberadaan Yukiteru karena saat ini mereka semua sedang berdiri berhadap-hadapan dengan gadis itu.

Spontan Yukiteru langsung membalikkan badannya dan berjalan menjauh dari sana.

"Kalian duluan saja," ucap Akashi sambil berjalan menyusul Yukiteru.

Yang lainnya hanya terdiam dan menuruti kata-kata Akashi.

Saat itu Akashi terus berjalan mengikuti Yukiteru. Gadis itu tentu saja menyadari keberadaan laki-laki berambut merah itu.

'Untuk apa dia mengikutiku? Kenapa dia hanya diam saja? Kenapa dia tidak memanggil namaku atau memintaku untuk berhenti. Tch. Apa yang kupikirkan? Ini bukan film. Mungkin saja ia juga berniat menuju ke arah yang sama denganku. Eh, tapi sekarang kan aku berjalan tanpa tujuan. Jadi kenapa dia mengikutiku?'

Yukiteru menarik nafasnya dalam-dalam. "Kenapa kau mengikutiku?" Tanya Yukiteru sambil terus berjalan.

"Kenapa kau ada di sini?" Tanya balik Akashi yang sepertinya tidak peduli dengan pertanyaan Yukiteru tadi.

"Ah... memangnya ada yang salah dengan hal itu? Ini tempat umum. Siapa saja boleh berada di sini," jawab Yukiteru berusaha untuk tetap datar.

"Berhentilah berjalan," titah Akashi dengan datarnya.

"Aku tidak menerima perintah dari- Ah!"

Sontak Yukiteru sedikit terkaget saat ia merasa baju belakangnya tertarik. Hampir saja ia akan jatuh ke belakang kalau tidak ada yang menahannya. Ia merasa saat ini seperti ada yang memeluknya dari belakang.

"Apa-apaan kau ini?!" Bentak Yukiteru dengan spontan.

"Hal ini cukup efektif untuk menghentikanmu," ucap Akashi dengan datar, dan tepat di telinga kanan Yukiteru.

"Sei-"

Saat itu suara Yukiteru terputus begitu saja. Pita suaranya seakan-akan tertahan.

"Hn?" Sahut Akashi menunggu kelanjutan kalimat Yukiteru.

"Akashi-san, ini tempat umum," ucap Yukiteru dengan cepat sambil mencoba melepaskan kedua tangan Akashi yang melingkar di pinggangnya.

'Akashi-san?'

Saat itu juga Akashi langsung melepaskan 'pelukan'nya itu pada Yukiteru.

Yukiteru merasa mulai dilepaskan oleh Akashi. Entahlah perasaannya saat ini sedikit kecewa. Ia pun enggan membalikkan badannya menghadap ke arah laki-laki yang masih berdiri di belakangnya saat ini.

Di saat yang bersamaan Yukiteru merasa ada sesuatu di atas kepalanya saat ini, yang membuat kepalanya merasa lebih teduh. Ia baru menyadari kalau ada sebuah jaket yang menutupi kepalanya saat ini.

"Ini?" Respon Yukiteru sambil menghadap ke arah Akashi. Ia tahu sekali kalau jaket itu adalah milik Akashi.

Dan sepertinya jaket itu sukses membuat dada Yukiteru terasa perih kembali. Mengingat sebenarnya ia juga memiliki jaket ini. Ya, jaket kebanggaan milik team basket Teiko.

"Harusnya kau tidak berdiri terlalu lama di bawah terik matahari," ucap Akashi yang sukses membuat mata Yukiteru membulat tidak percaya. Walaupun nada datar masih mendominasi dalam Akashi, tapi isi kalimat Akashi itu lah yang membuat Yukiteru sedikit senang.

"Bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Yukiteru dengan ragu.

"Mukamu merah. Ujung kepalamu juga terasa panas," jawab Akashi dengan cepat dan datar.

"Sebaiknya kau masuk. Setidaknya suhu di dalam membuatmu lebih baik," ucap Akashi sambil membalikkan badannya dan memulai melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana.

"Tunggu!"

Akashi meresponnya dengan menoleh sedikit ke belakangnya.

"Kenapa kau melakukan hal ini? Kau tidak perlu bersusah payah untuk peduli denganku lagi. Aku bukan bagian dari team mu lagi sekarang," ucap Yukiteru sambil memegang jaket Akashi yang saat ini ada di atas kepalanya, seperti melindungi kepalanya itu dari teriknya sinar matahari saat ini.

'Kalimat itu?!'

Akashi terdiam beberapa saat.

"Aku memang tidak peduli. Aku hanya ingin meletakkan jaket ku itu di atas kepalamu. Aku tidak membutuhkan jaket di hari yang panas seperti ini," jawab Akashi dengan seringaian yang akhir-akhir ini menjadi ciri khas nya.

Yukiteru langsung mencengkram kuat jaket yang ada di atas kepalanya itu. Tanpa berpikir panjang, ia langsung melemparkan jaket itu ke arah Akashi.

"KALAU KAU TIDAK MEMBUTUHKANNYA, KAU BISA MEMBUANG JAKET ITU!" Bentak Yukiteru tak tertahankan. Saat itu ia langsung berlari dari sana.

'Baka! Apa yang kuharapkan darinya? Dia bukan Seijuro yang dulu.'

Yukiteru terus berlari memasuki gedung tersebut. Memang ia merasa suhu di dalam gedung ini terasa lebih dingin dari di luar tadi. Ia berlari tanpa tahu arah, kepalanya pun tertunduk, air mata seperti tidak bisa ia bendung lagi. Berkali-kali ia menabrak orang yang berada di jalur yang ia lewati.

"Yu-chan?"

Saat mendengar suara tersebut, Yukiteru langsung menghentikan langkah kakinya. Lalu ia membalikkan badannya ke asal suara tersebut. Ia melihat kakaknya yang berdiri tak jauh di belakangnya bersama teman-temannya. Ada beberapa laki-laki di sana dan satu perempuan. Semua laki-laki itu mengenakan jaket yang sama. Di jaket itu terdapat tulisan 'Seirin'.

"Onii-chan?" Sahut Yukiteru sambil mengusap pipinya sendiri yang terasa basah.

"Ini adiknya Izuki?" Tanya seorang laki-laki berkacamata yang berdiri tepat di samping Shun.

"Ya, namanya Yukiteru. Izuki Yukiteru," jawab Shun sambil tersenyum semangat saat mengenalkan adiknya itu di depan teman-teman se-team nya.

"Sepertinya aku pernah melihatmu," ucap seorang laki-laki lainnya yang memiliki tinggi badan yang jauh berbeda dengan Yukiteru.

Yukiteru terdiam beberapa saat, menatap laki-laki tersebut. "Kiyoshi Teppei, benar?"

"Heh? Bagaimana kau bisa tahu aku?" Tanya laki-laki yang namanya disebutkan Yukiteru tadi. Wajahnya terlihat sedikit terkejut dan bingung.

"Kau cukup terkenal," jawab Yukiteru dengan datar sambil mengangkat kedua bahunya.

Saat ini giliran Kiyoshi yang terdiam dan terus menatap Yukiteru. Ia merasa seperti pernah melihat gadis itu sebelumnya.

"Izuki, ada yang ingin kutanyakan," ucap Kiyoshi akhirnya kembali buka suara. Yang lainnya hanya terdiam, karena penasaran dengan apa yang dipikirkan Kiyoshi saat ini.

"Apa?" Sahut Shun dengan cepat.

"Adikmu.. pemain basket?" Tanya Kiyoshi sambil terus mencoba mengingat-ngingat.

"Ya," jawab Shun dengan cepat.

"Onii-chan!" Bentak Yukiteru dengan spontan saat mendengar jawaban kakaknya itu.

"Apa? Kau memang pemain basket kan?" Tanya Shun sambil mengangkat kedua bahunya.

"Sudah kuduga, aku memang pernah melihatmu sebelumnya. Kau pemain basket dari Teiko kan? Kau juga cukup terkenal karena, yah mungkin kau tahu sendiri alasannya apa," ujar Kiyoshi

Yukiteru hanya terdiam. Tidak ada satu katapun yang terucap dari mulut Yukiteru saat itu.

"Eh... gomen. Adikku memang seperti ini kalau di depan orang yang belum terlalu ia kenal," ucap Shun diselingi tawa pelan, sambil menggaruk tengkuk lehernya sendiri.

"Ohya, gomen. Aku Aida Riko, pelatih team ini. Yoroshiku ne," ujar perempuan berambut cokelat pendek itu sambil mengulurkan tangannya ke depan Yukiteru.

"Yoroshiku," jawab Yukiteru sambil menjabat tangan singkat Aida.

"Aku Hyuga Junpei, captain team ini. Yoroshiku, Yukiteru," ujar laki-laki berkacamata itu.

Saat itu Shun langsung menatap sang captain dan menyipitkan matanya. "Baru saja bertemu, tapi sudah berani memanggil nama kecilnya. Kira-kira ada apa ini?"

"Bukan itu maksudnya! Di sini ada dua Izuki. Akan jadi membingungkan kalau dua-duanya dipanggil Izuki," jawab Hyuga dengan cepat.

"Team kalian memang cuma segini?" Tanya Yukiteru tiba-tiba saja dan itu melenceng dari topik saat ini.

"Oh itu. Ya, memangnya kenapa?" Jawab Aida sekaligus bertanya balik pada Yukiteru.

"Kalau dilihat lagi, jumlah kalian ada 7 orang. Satu pelatih. Lima orang pasti pemain inti. Berarti kalian cuma memiliki satu pemain cadangan?" Ucap Yukiteru sambil mengerutkan dahinya.

"Ya. Bagaimanapun juga kami berbeda dengan Teiko, yang memiliki anggota yang sangat banyak. Kami juga dari sekolah yang masih baru. Karena itu jumlah anggota team kami hanya sedikit. Tapi itu tidak menutup kemungkinan untuk tetap bisa bermain di pertandingan kan?" Jawab sang captain berkacamata itu.

Yukiteru terdiam beberapa saat. "Souka."

"Sebaiknya kita bersiap-siap sekarang untuk pertandingan nanti," ucap Aida sambil melihat ke arah jam tangannya.

"Baiklah. Aku pergi dulu. Yu-chan pastikan kau melihat semua aksiku nanti di pertandingan," kata Shun sambil berjalan bersama yang lainnya, menjauh dari posisi Yukiteru saat ini.

Yukiteru mengepalkan tangannya dengan erat. Entah kenapa saat ini ia merasa deja vu dengan situasi tadi. Spontan ia teringat waktu ia masih SD, saat ia dikenalkan teman-teman se-team kakaknya hingga akhirnya ia memutuskan untuk bermain basket.

'Tch. Apa onii-chan sengaja membuat hal ini supaya aku kembali ke basket?'

.

.

.

Sorakan dari banyak penonton dan suara bola yang terus memantul di dalam satu ruangan yang besar seperti berkumpul menjadi satu.

Yukiteru hanya terdiam, melihat pertandingan itu. Beruntung karena ia mendapat kursi yang paling depan, jadi ia bisa melihat pertandingan itu secara jelas. Rasa rindu seperti bergejolak dalam dirinya. Seakan-akan dia ingin memegang bola basket itu dan berlari dengan bebas di lapangan sana. Tapi apa daya. Sekarang ia bukan lagi pemain basket. Ia hanya bisa menjadi penonton.

'Kau kakak yang jahat. Kau menyuruhku untuk melihat pemandangan yang tidak ingin kulihat. Kau tahu, aku jadi benar-benar iri denganmu. Kau memiliki teman team yang baik. Kerja sama kalian sangat bagus. Senyuman mengisi team kalian.'

Yukiteru menundukkan kepalanya dan menggelengkan kepalanya dengan cepat. Lalu ia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Saat ia kembali mengangkat kepalanya, ia melihat seorang gadis berambut pink dan laki-laki berambut biru muda berdiri tak jauh dari posisinya duduk saat ini.

"Tetsuya, Satsuki," panggil Yukiteru dengan spontan sambil menghampiri kedua orang yang dipanggilnya.

"Yu-chan?" Sahut Satsuki sambil tersenyum tipis.

"Yuki ke sini mau menonton kakakmu tanding, kan?" Ucap Kuroko sambil terus memerhatikan lapangan.

Yukiteru hanya menganggukkan kepalanya.

"Yu-chan punya kakak? Aku baru tahu. Kakaknya Yu-chan yang mana?" Tanya Satsuki, bisa didengar suaranya saat ini seperti berusaha keras untuk tetap bersemangat.

"Yang itu. Dia dari team Seirin," jawab Yukiteru sambil menunjuk kakaknya itu.

Laki-laki berambut hitam itu menyadari kalau sedang ditunjuk oleh adiknya. Spontan ia melambaikan kedua tangannya ke atas dan tersenyum lebar.

Di saat itu juga temannya yang berkacamata langsung memukul kepalanya. Yah, bisa ditebak maksud dari captain team Seirin itu adalah untuk mengembalikan konsentrasi kakak dari Yukiteru itu.

"Oh, yang itu ya. Mirip juga ya dengan Yu-chan," ucap Satsuki

"Tidak. Dia tidak mirip denganku," jawab Yukiteru sambil memijit pelipisnya, tertekan dan malu melihat tingkah kakaknya tadi.

"Ohya, aku bisa menitipkanmu sesuatu?" Tanya Kuroko dengan datar.

"Apa?" Tanya balik Yukiteru tidak kalah datarnya juga.

"Tolong kembalikan ini pada pemiliknya," jawab Kuroko sambil menyerahkan sebuah buku tanda pengenal siswa.

"Wakatta," ucap Yukiteru sambil menerimanya dan melihat nama pemilik barang tersebut.

'Hyuga Junpei? Itu captain team Seirin kan? Kenapa ini bisa ada di tangan Tetsuya?' Batin Yukiteru merasa bingung.

"Kalau begitu, kami pergi dulu," ucap Kuroko untuk terakhir kalinya sebelum ia dan Satsuki pergi dari sana.

Yukiteru memutuskan untuk kembali ke tempat duduknya dan menyaksikan sisa pertandingan ini.

.

.

.

Yukiteru terdiam. Ia terus berjalan tanpa tujuan, membiarkan kakinya sendiri yang membimbing dirinya.

"Ah, itu dia. Yu-chan!"

Saat mendengar suara tersebut Yukiteru langsung menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke asal suara tersebut. Yukiteru melihat kakaknya serta rombongan team kakaknya itu berjalan menuju ke arahnya.

"Susah juga mencari Yu-chan. Kau kemana saja? Setelah pertandinganku, kau mendadak hilang dari kursimu," ucap Shun.

"Yang penting aku sudah menonton pertandinganmu," jawab Yukiteru sambil mengalihkan pandangannya dari Shun.

"Ohya, ini," ucap Yukiteru dengan spontan sambil mengeluarkan barang yang dititipkan oleh Kuroko tadi. Lalu ia memberikan barang itu pada laki-laki berkacamata yang berdiri di belakang kakaknya.

"Ah! Arigatou. Aku sudah mencari ini kemana-mana. Di mana kau mendapatkannya?" Ucap laki-laki yang memiliki nama Hyuga Junpei itu.

"Ada seseorang yang memberikan ini padaku," jawab Yukiteru dengan datar.

"Souka. Hontou nii arigatou," respon Hyuga sambil menerima benda yang diberikan Yukiteru.

"Na, Yu-chan, bagaimana pertandingan tadi? Teamku menang," ujar Shun dengan semangat sambil merangkul bahu adiknya itu dengan satu tangan.

Yukiteru terdiam beberapa saat. Tangannya langsung terkepal dengan sangat kuat.

"Ak-aku benci team kalian! Kerja sama kalian, cara bermain kalian, sikap kepedulian kalian antar satu tim saat pertandingan. Semua yang ada dalam team kalian membuatku muak!" Ucap Yukiteru dengan penuh penekanan di setiap kata-katanya.

Saat itu juga Yukiteru memutuskan untuk lari dari sana. Shun hanya terdiam, mencoba mencerna apa yang dikatakan Yukiteru tadi.

"Gomenasai," ucap Shun sambil membungkukkan badannya di depan teman-temannya. Lalu ia memutuskan untuk mengejar adiknya.

"Ada apa dengan mereka?" Tanya Hyuga yang sepenuhnya tidak mengerti.

"Entahlah. Mungkin masalah keluarga," jawab gadis yang memiliki nama Aida Riko itu.

.

.

.

"Yu-chan!"

"YU-CHAN!"

"YUKI!"

"YUKITERU!"

Spontan Yukiteru langsung menghentikan langkah kakinya.

"Apa?" Sahutnya tanpa membalikkan badannya ke arah kakaknya yang saat ini berdiri di belakangnya.

"Omonganmu tadi keterlaluan. Memangnya apa yang salah sampai kau seperti itu?" Ucap Shun sambil membalikkan badan Yukiteru dengan paksa ke hadapannya.

"KAU YANG SALAH! Harusnya dari awal kau tidak memintaku untuk menonton pertandinganmu!" Bentak Yukiteru sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.

"Memangnya kenapa? Sebenarnya ada apa denganmu?! Aku tidak mengerti," respon Shun sambil menatap kesal sekaligus cemas pada adiknya ini. Kedua tangannya saat ini memegang kedua bahu Yukiteru dengan erat

Yukiteru terdiam beberapa saat. Dilihat darimanapun juga ia bisa mengetahui seberapa besar cemas Shun padanya selama ini.

"Ne, onii-chan," panggil Yukiteru dengan suara pelan, sambil menundukkan kepalanya.

"Ya?" Sahut Shun dengan cepat.

"Kuberitahu kau satu hal. Team seperti itu tidak akan bertahan lama. Memang awalnya akan terasa sangat menyenangkan berada dalam team seperti itu. Tapi suatu saat nanti mereka semua pasti akan berpisah dan mencari jalan mereka sendiri," ucap Yukiteru dengan suara pelan dan datar.

Shun langsung mengerutkan dahinya. Ia tidak mengerti kenapa adiknya ini mengatakan hal tersebut. Saat itu juga Yukiteru memutuskan untuk kembali melangkahkan kakinya, meninggalkan kakaknya seorang diri.

.

.

.

Malam hari di kediaman keluarga Izuki. Semua anggota keluarganya sedang berkumpul di satu ruangan, di mana ruangan tersebut terdapat meja makan yang cukup besar untuk seluruh anggota keluarga mereka dan dipenuhi oleh makanan yang lebih dari cukup.

"Shun, bagaimana pertandinganmu hari ini?" Tanya sang ayah sambil menatap anak sulungnya.

"Teamku menang," jawab Shun dengan lesu.

Dahi ayahnya langsung mengerut. "Kalau teammu menang, kenapa kau terlihat tidak semangat?"

"Ah, itu.. aku masih tidak enak badan," jawab Shun sambil tersenyum tipis.

"Ohya, Yuki, kau sudah menentukan ingin lanjut sekolah di mana?" Tanya wanita yang duduk di dekat sang kepala keluarga.

"Kaa-san, ini masih awal semester."

"Yah, tapi tetap saja. Mungkin kau sudah punya rencana. Jadi kaa-san akan segera membuat persiapan untukmu," jawab sang ibu sambil tersenyum pada putrinya.

Yukiteru terdiam beberapa saat.

"Ne, kaa-san, tou-san."

"Ada apa sayang?" Tanya ibunya itu dengan suara lembut.

"Aku ingin melanjutkan sekolahku di luar negeri."

"UHUK UHUK UHUK."

Spontan Shun langsung mengambil gelas yang berisi air di depannya dan meminumnya.

"Shun, kau baik-baik saja?" Tanya ibunya dengan sedikit panik.

"Ya, aku hanya tersedak," jawab Shun sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal dan tertawa pelan.

"Permintaan Yuki, mungkin tou-san akan setuju," ucap sang kepala keluarga buka suara.

"Ya, kaa-san juga setuju. Sekolah di luar negeri banyak memiliki murid dengan IQ yang setara dengan IQ Yuki saat ini. Jadi mungkin kalau di sana, Yuki akan merasa persaingan pendidikan yang sebenarnya dengan serius," ucap sang ibu sambil tersenyum.

"Aku tidak setuju!"

Saat itu semuanya langsung terdiam saat mendengar suara bentakan itu.

"Aku tidak meminta persetujuanmu," ucap Yukiteru sambil mengerutkan dahinya.

"Tapi aku juga memiliki hak sebagai kakakmu. Aku tidak setuju Yu-chan sekolah di luar negeri," jawab Shun sambil menggenggam erat sendoknya saat ini.

"Kenapa?" Tanya sang ayah sambil mengangkat satu alisnya.

"Kalau Yu-chan bersekolah di luar negeri, pasti dia akan tinggal di sendiri di sana. Bagaimana dia makan nanti? Tidak mungkin kan, kalau tiap hari dia membeli makanan jadi terus? Bagaimana kalau dia tiba-tiba sakit? Di sana tidak ada yang menjaganya," jawab Shun yang sukses membuat yang lainnya terdiam.

BRAK!

"AKU BUKAN ANAK KECIL LAGI!" Bentak Yukiteru sambil berdiri, setelah ia sukses mengebrak meja yang ada di depannya dengan kedua tangannya.

"Tapi Yu-chan-"

"Berhentilah memperlakukanku seperti anak kecil," ucap Yukiteru dengan penuh penekanan. Lalu ia memutuskan untuk keluar dari ruang makan.

"Gomenasai," ucap Shun sambil menundukkan kepalanya.

"Shun, sebenarnya perkataanmu tadi tidak salah. Ada benarnya juga. Mungkin kaa-san akan memikirkan keputusan kaa-san tadi," ucap sang ibu sambil menatap lembut putranya.

Saat itu acara makan malam terus dilanjutkan tanpa adanya Yukiteru. Setelah selesai, Shun memutuskan untuk berjalan menuju kamar adiknya itu dengan membawa dua cangkir di kedua tangannya. Saat ia masuk ke dalam kamar tersebut, ia melihat adiknya itu sedang jongkok di pojokan kamar tersebut.

"Yu-chan?" Panggil Shun dengan suara pelan.

Tidak ada respon apapun dari orang yang namanya dipanggil itu.

Shun langsung duduk di samping posisi Yukiteru jongkok saat ini dan memberi adiknya itu satu cangkir yang ia pegang.

"Ini mumpung masih hangat," ucap Shun sambil tersenyum tipis.

Yukiteru hanya terdiam melihat cangkir tersebut.

"Aku tahu kau pasti tergoda dengan cokelat panas plus marshmallow ini. Ambil lah. Aku memang sengaja membuatkannya untukmu," ucap Shun lagi sambil terus menunggu tangan Yukiteru yang mulai tergerak untuk menerima cangkir yang ia pegang.

Yukiteru hanya terdiam. Setelah ia menerima cangkir tersebut, ia langsung meminum minuman tersebut dengan perlahan.

"Gomen, Yu-chan. Selama ini, aku terus menganggapmu sebagai anak kecil. Padahal sebenarnya yang anak kecil adalah aku, sampai aku sendiri memperlakukanmu sebagai anak kecil juga," kata Shun sambil tersenyum miris. Tatapannya tertuju pada isi cangkir yang ia pegang saat ini.

"Kenapa baru sadar sekarang? Baka onii-chan," ucap Yukiteru dengan datar.

Shun langsung meresponnya dengan tawa pelan. "Benar juga. Aku ini bodoh."

Yukiteru hanya terdiam melihat respon kakaknya itu. Perhatiannya saat ini sudah sepenuhnya teralih ke secangkir cokelat panas yang ia pegang saat ini.

"Yu-chan?"

"Hn?"

"Kau benar-benar yakin mau lanjut sekolah di luar negeri?" Tanya Shun sambil terus menatap adiknya itu.

"Ya."

"Kenapa? Aku tahu kau ini orang yang jarang mau serius dengan pendidikan. Tapi akhir-akhir ini kau terus menerus mengisi semua waktumu dengan belajar dan sekarang kau memutuskan untuk lanjut sekolah di luar negeri. Apa itu tidak terasa aneh untuk seorang Yukiteru? Biasanya kau selalu memprioritaskan basket," kata Shun setelah ia meneguk cukup banyak cokelat panas yang ada di cangkirnya.

"Sudah kubilang, aku sudah keluar dari basket," jawab Yukiteru sambil mengepalkan tangannya dengan erat.

"Tidak. Kau hanya keluar dari team basket Teiko. Bukan berarti kau harus benar-benar berhenti bermain basket secara total."

Yukiteru terdiam beberapa saat. "Kenapa kau bilang seperti itu? Bukannya harusnya kau senang kalau aku berhenti bermain basket? Itu artinya kau tidak perlu capek-capek lagi mengingatkanku untuk jangan memaksakan diri atau lain sebagainya."

"Aku tidak pernah bilang seperti itu. Aku nggak mau Yu-chan berhenti dari basket. Tapi aku juga nggak mau Yu-chan jadi sakit karena basket," ujar Shun setelah ia menghela nafas.

"Menyusahkan."

"Tadi tou-san bilang, dia cukup senang dengan kau yang sekarang, karena kau mulai fokus dengan pendidikanmu. Tapi dia juga cemas melihat kau yang sekarang. Kau yang sekarang tidak bersemangat seperti dulu. Dia terus menanyakan padaku, apa yang terjadi padamu. Susah juga menjelaskan hal itu pada tou-san, aku sendiri pun tidak tahu apa-apa."

Yukiteru terdiam beberapa saat.

"Tidak ada kejadian yang begitu spesial. Hanya ada kejadian biasa yang sulit dilupakan," ucap Yukiteru sambil mencengkram kuat cangkir yang ia pegang.

"Kau masih belum mau menceritakannya padaku?" Tanya Shun sambil menatap adiknya itu.

Yukiteru menarik nafasnya dalam-dalam. "Tidak apa. Aku bisa mengatasinya sendiri."

"Kalau dilihat dari situasimu saat ini, sepertinya aku sudah bisa menebaknya apa masalahmu saat ini. Aku hanya ingin menunggu kau menceritakannya sendiri dengan lebih jelas padaku."

Yukiteru hanya merespon kakaknya itu dengan mengerutkan dahinya.

"Aku tidak mempermasalahkan soal kau mau sekolah di mana. Itu adalah kebebasanmu sendiri dalam menentukan pilihan hidupmu. Tapi kalau ditebak dari masalahmu saat ini-"

Shun terdiam beberapa saat, seperti sengaja membiarkan kalimatnya itu menggantung. Ia meneguk habis sisa cokelat panasnya itu.

"Sangat disayangkan kalau kau sekolah di luar negeri hanya karena ingin lari dari masalahmu itu."

Saat itu mata Yukiteru membulat sekilas.

'Bagaimana dia bisa tahu? Memang niatku melanjutkan sekolah di luar negeri hanya dengan tujuan supaya aku tidak perlu bersusah payah lagi bertatap muka dengan Seijuro dan yang lainnya.'

"Sebaiknya pikirkan lagi dengan matang. Lagipula kau tidak perlu terburu-buru ambil keputusan seperti itu. Kau masih memiliki waktu kurang dari setahun sampai kelulusanmu di SMP," ujar Shun sambil mengambil cangkir Yukiteru yang sudah kosong dan berdiri dari sana.

"Sudah malam, sebaiknya kau tidur sekarang," ucap laki-laki berambut hitam itu sambil terus berdiri terdiam, menunggu adiknya itu benar-benar terbaring di tempat tidurnya.

"Oyasumi, Yu-chan," ucap Shun untuk terakhir kalinya sebelum ia mematikan lampu kamar Yukiteru dan berjalan keluar dari sana.

Tapi saat itu mata Yukiteru terus terjaga. Ia tidak tahu kenapa. Tatapannya saat ini terarah pada lampu tidurnya yang menyala.

'Sebenarnya apa yang kupermasalahkan? Kenapa terlihat jadi sangat rumit? Baka!'

Yukiteru memukul kepalanya berkali-kali. Beberapa saat ia mencoba untuk tidur. Tapi tidak bisa karena terus kepikiran dengan semua hal. Tentang Akashi Seijuro, teman-temannya yang saat ini semuanya sudah berubah, perkataan kakaknya tadi, nasib kelanjutan pendidikannya, dan team Seirin.

Team Seirin?

Sampai saat ini kepala Yukiteru terisi dengan pertandingan yang ia tonton tadi siang. Yah, lebih tepatnya permainan Seirin lah yang terus memancing kedua matanya untuk terus menonton pertandingan tersebut. Seakan-akan saat itu dia seperti melihat team Teiko yang dulu. Itu lah yang membuatnya kesal pada team kakaknya itu.

'Tch. Aku harus bagaimana sekarang? Hidupku seperti buntu sekarang. Aku tidak tahu pihak mana yang salah sekarang. Dan untuk apa aku seperti ini? Membingungkan.'

.

.

.

Matahari mulai terbit dari ufuk timur dan mata Yukiteru masih saja terjaga. Yah sejak tadi malam ia terus tidak bisa tidur. Akhirnya ia memutuskan untuk bersiap-siap untuk sekolah.

Tak membutuhkan waktu yang cukup lama, Yukiteru sudah siap untuk sekolah. Saat ini ia memutuskan untuk berjalan menuju ruang makan.

Saat ia masuk ke dalam ruang makan, ia melihat sudah ada ayah dan ibu nya yang mengisi meja makan. Seperti biasa, ayahnya sedang sibuk membaca koran paginya dan ibunya sedang sibuk menuangkan teh ke dalam cangkir yang ada di dekat ayahnya.

"Ohayou," ucap Yukiteru dengan datar, sambil duduk di kursi meja makan.

"Ohayou, Yuki," sahut ibunya sambil tersenyum.

Klek!

Saat itu pintu ruang makan kembali terbuka dan seorang laki-laki berambut hitam masuk ke dalam ruangan tersebut.

"Ohayou, Shun," ujar sang ibu

"Ohayou," sahut Shun sambil duduk di kursi.

"Yuki."

Panggilan sang kepala keluarga itu sukses membuat badan Yukiteru menegang sekilas. Gadis itu hanya merespon panggilan ayahnya dengan menatapnya.

"Tou-san ingin bertanya, kau yakin ingin lanjut sekolah di luar negeri?"

Yukiteru terdiam beberapa saat.

"Itu masih kupikirkan dulu," jawab Yukiteru berusaha untuk datar.

"Souka," respon sang ayah, lalu ia meneguk teh yang ada di cangkirnya.

Sarapan terus berlanjut dengan suasana yang tenang. Tidak, ini terlalu tenang. Mungkin bisa dibilang ini adalah suasana sunyi. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat memecahkan kesunyian yang menyelimuti saat ini.

"Terima kasih atas sarapannya. Aku berangkat," ujar Yukiteru sambil beranjak dari kursinya dan berjalan keluar dari ruang makan.

Selama berjalan menuju pintu depan rumahnya, Yukiteru hanya terdiam. Hingga ia baru menyadari kalau saat ini kakaknya tengah berjalan di sampingnya.

"Pulang sekolah nanti, datanglah ke sekolahku," ujar Shun.

Yukiteru terdiam beberapa saat. "Aku tidak tahu letak sekolahmu. Aku juga sibuk, masih banyak bahan yang harus kupelajari."

"Nanti aku akan menjemputmu. Lalu kau bisa stress kalo belajar terus. Aku meminta kau datang ke sekolahku, dengan tujuan supaya kau minta maaf dengan teman-temanku," ucap Shun sambil mengepalkan tangannya.

"Untuk apa?"

"Masih saja bertanya untuk apa?! Kata-katamu kemarin keterlaluan. Kau memang adikku. Tapi kalau kau berani mengata-ngatai teamku, aku tidak akan segan untuk berbuat kasar padamu," jawab Shun dengan penuh penekanan dan nada yang tinggi. Tatapannya saat ini tajam dan dingin hingga sukses membuat Yukiteru membeku.

Wajar saja, Yukiteru tidak pernah melihat kakaknya semarah ini. Tapi ia sendiri memutuskan untuk tetap tenang.

"Kukira kau tidak akan mengungkitnya lagi. Kenapa kau tidak meminta hal itu saat kemarin sore atau malamnya? Atau kau baru mengumpulkan nyali untuk mengatakannya dan mengeluarkan eskpresi seperti itu di depanku?" Ucap Yukiteru dengan datar dan tak kalah dingin dengan kakaknya.

Brugh!

Yukiteru sedikit terkaget saat tubuhnya terdorong oleh kakaknya hingga punggungnya menabrak dinding di belakangnya.

"Yuki, apa yang merasukimu?! Kenapa-"

Shun hanya menundukkan kepalanya di depan Yukiteru. Satu tangannya yang memegang pundak kanan adiknya itu sedikit gemetar.

'Tch. Aku memang bodoh. Lemah di depan adikku sendiri. Kakak macam apa aku ini? Sampai tidak bisa merubahnya kembali ke dirinya yang dulu.'

Yukiteru terdiam beberapa saat.

"Ini, berikan saja ini pada teman-temanmu," ucap Yukiteru dengan datar sambil mengeluarkan sebuah amplop putih dari tas nya dan memberikannya pada kakaknya.

"Apa ini?" Tanya Shun sambil menerima amplop itu dan mengerutkan dahinya.

"Surat permintaan maafku pada teman-temanmu," jawab Yukiteru sambil kembali melanjutkan jalannya.

"Yuki," panggil Shun dengan cepat sambil menyusul Yukiteru.

"Kenapa kau tidak meminta maaf secara langsung?" Tanya Shun sambil mencengkram lengan Yukiteru, bermaksud untuk menahannya pergi

Kepala Yukiteru langsung tertunduk. "Aku tidak mau! Aku tidak mau bertemu dengan teammu!"

"Kenapa? Memangnya mereka berbuat salah padamu?"

Yukiteru kembali terdiam beberapa saat. Ia mengepalkan tangannya dengan kuat lalu menarik nafasnya dalam-dalam.

'Masalah ini akan jadi rumit kalau onii-chan terus-terusan seperti ini.'

"Iie. Kau yang tidak tahu apa-apa, sebaiknya jangan banyak tanya. Berhentilah mengobrak-abrik kehidupanku! Kau hanya penganggu yang selalu bertindak tanpa mengetahui situasi orang lain! Tindakan dan kata-katamu itu selalu membuatku semakin kebingungan dengan masalahku sekarang! Kuperingatkan, mulai sekarang berhentilah menganggu hidupku!" Bentak Yukiteru dengan cepat, setelah itu ia langsung berlari dari sana.

Shun hanya terdiam. Tubuhnya terasa lemas saat mendengar kata-kata adiknya itu.

.

.

.

Di kelas, Yukiteru hanya duduk terdiam di kursinya yang terletak di paling pojok ruangan kelas dekat jendela. Pandangannya terus ke arah luar jendela. Tatapannya kosong.

'Apa yang kukatakan tadi? Padahal saat ini onii-chan lah satu-satunya yang tidak berubah. Kenapa aku mengatakan hal tadi? Kenapa?!' Batin Yukiteru merasa tusukan kembali muncul di dalam dirinya.

"Izuki?"

Puk!

Yukiteru sedikit menegang saat ia merasa ada yang menepuk bahunya. Ia melihat ada seorang wanita yang rambutnya tersanggul rapih dan di tangannya ada sebuah buku pelajaran, berdiri di sampingnya.

"Hai, sensei?" Sahut Yukiteru berusaha untuk datar.

"Kau baik-baik saja? Kau terlihat kurang sehat," tanya sang guru itu merasa sedikit khawatir melihat Yukiteru yang wajahnya sedikit pucat.

"Gomenasai, sensei," jawab Yukiteru dengan suara pelan. Yah, mungkin itu bisa menjadi alibi untuk saat ini supaya ia tidak melanjutkan pelajaran.

"Tsukimi, tolong antarkan Izuki ke UKS," titah sang guru dengan lembut pada salah satu muridnya.

"Sensei, biar saya yang mengantarnya."

Spontan semua pasang mata yang ada di kelas itu langsung mengarah pada si pemilik suara tersebut. Seorang laki-laki berambut merah berdiri dari kursinya yang terletak paling depan, lalu ia berjalan ke belakang menuju kursi Yukiteru.

"Oh, baiklah kalau begitu. Tolong ya, Akashi," ucap guru tersebut sambil tersenyum tipis.

Saat itu Yukiteru langsung beranjak dari kursinya dan berjalan keluar kelas bersama Akashi.

"Ada apa?" Tanya Yukiteru memutuskan untuk buka suara.

"Maksudmu?" Tanya balik Akashi

"Pasti kau punya alasan kan? Kenapa kau tiba-tiba mengacukan diri tadi?"

"Tidak ada. Aku hanya bosan di kelas," jawab Akashi sambil menyeringai.

Yukiteru hanya terdiam. Ia menarik nafasnya dalam-dalam dan mengehembuskannya dengan perlahan. Yah, mungkin itu adalah salah satu caranya untuk membiasakan diri pada Akashi yang saat ini.

Sesampainya di UKS, Yukiteru terus terdiam. Ia memutuskan untuk langsung membaringkan dirinya di ranjang yang kosong. Kepalanya memang terasa sangat berat dan pusing. Yah, sepertinya hal itu cukup wajar, berhubung kemarin malam Yukiteru tidak tidur sama sekali. Belum lagi ditambah tekanan batinnya saat ini, memang membuatnya seperti orang sakit.

Sebelum Yukiteru memejamkan matanya, ia melihat ke sekitarnya. Sepi. Tidak ada seorangpun. Bahkan penjaga UKS pun tidak ada. Dan yang lebih menyakitkannya lagi, ia baru menyadari kalau di sana juga tidak ada sosok laki-laki berambut merah yang tadi mengantarnya kemari.

Akhirnya, Yukiteru memutuskan untuk memejamkan matanya. Tak lama kemudian, ia langsung tertidur pulas.

Satu jam.

Dua jam.

Tiga jam.

Empat jam kemudian.

Suara bel jam makan siang berbunyi.

Mata Yukiteru langsung terbuka saat mendengar suara bel tersebut. Ia melihat ke sekitarnya. Ia masih berada di UKS. Ia merasa ada sesuatu yang hangat menempel di dahinya. Spontan ia langsung memegang dahinya sendiri, bisa ditebak kalau di dahinya tertempel kompresan.

'Aku demam juga?'

"Kau sudah bangun?"

Suara seorang wanita itu sontak membuat Yukiteru sedikit terkaget. Ternyata itu adalah suara penjaga UKS ini.

"Izuki Yukiteru, benar?" Tanya lagi wanita itu.

"Ya," jawab Yukiteru dengan datar. Saat itu ia mendengar suara langkah kaki yang menggunakan high heels menuju ke arahnya.

"Ne, Akashi itu benar-benar pacarmu ya?" Tanya wanita penjaga UKS itu sambil tersenyum tipis pada Yukiteru.

Yukiteru terdiam beberapa saat. Jujur saja, ia bingung jawaban apa yang harus ia berikan saat ini. Iya atau tidak?

"Sensei, jangan bertanya yang aneh-aneh," jawab Yukiteru sambil memalingkan mukanya dari wanita yang saat ini berdiri di samping ranjang yang Yukiteru gunakan sekarang.

"Ah, gomenasai. Habisnya tadi dia terlihat serius sekali merawatmu. Kompres ini juga dia yang memasangkannya untukmu," ucap wanita ini sambil menyentuh kompres yang saat ini bersuhu hangat di dahi Yukiteru.

Klek!

Mendengar suara pintu terbuka itu, Yukiteru dan wanita penjaga UKS itu langsung mengarah ke pintu yang terbuka saat ini. Badan Yukiteru sedikit menegang saat melihat siapa yang berdiri di depan pintu saat ini.

"Akashi-san?" Panggil Yukiteru dengan spontan. Ia langsung mengambil posisi duduk.

"Sensei, bisa tinggalkan kami berdua?" Tanya Akashi dengan nada datar sambil berjalan masuk ke dalam ruang UKS.

"Baiklah. Tapi jangan berbuat yang aneh-aneh ya di UKS ku ini," jawab wanita itu sambil menyeringai pada Akashi. Ia mengambil barang-barangnya yang ada di atas mejanya. Lalu berjalan keluar dari ruangan.

Yukiteru hanya terdiam, menatap Akashi. Dahinya langsung mengerut saat Akashi memberikannya satu roti yang masih terbungkus rapih dan spot drink.

"Makanlah, setelah itu minum obat. Kau juga bisa pulang bersamaku nanti," ucap Akashi dengan datar. Tangannya bergerak melepaskan kompresan yang digunakan Yukiteru saat ini. Lalu ia memegang dahi, pipi dan leher gadis itu.

Plak!

Dengan keras, Yukiteru menepis tangan laki-laki itu.

"Kenapa? Kenapa kau bersikap seperti ini? Kenapa kau selalu membuatku bingung? Kenapa?!" Bentak Yukiteru tanpa sanggup menatap mata Akashi.

"Jangan tanya hal itu," jawab Akashi dengan nada datar yang mendominasinya.

"Kalau kau tidak mau ditanya seperti itu, berhentilah membuatku salah paham!"

Saat itu Yukiteru langsung beranjak dari ranjang dan menggunakan sepatu dalam sekolah nya. Lalu Yukiteru langsung berjalan menuju pintu UKS.

"Ohya, ada satu hal yang ingin kukatakan," ujar Yukiteru sambil berdiri terdiam.

"Hn?"

"Sebaiknya-"

Yukiteru menarik nafasnya dalam-dalam. Tangannya mencengkram knop pintu UKS dengan sangat kuat. Kepalanya terus tertunduk.

"Kita hentikan saja perjodohannya."

Saat itu Yukiteru langsung berjalan keluar dari ruangan UKS, tanpa menunggu respon dari laki-laki tersebut.

'Sial. Lagi-lagi aku membuat hidupku semakin rumit.'

Brugh!

Spontan Yukiteru langsung mengangkat kepalanya. Ia melihat seorang laki-laki berambut biru muda berdiri di depannya.

"Gomene, Tetsuya," ucap Yukiteru dengan suara pelan.

"A-ano, Yuki. Ada yang ingin kubicarakan, mau makan siang bersamaku?" Tanya Kuroko dengan suara ragu.

Yukiteru mengerutkan dahinya, melihat sikap Kuroko saat ini yang sepertinya sudah kembali ke dirinya yang dulu. Yukiteru menyetujui ajakan Kuroko hanya dengan menganggukkan kepalanya. Setelah itu, mereka berdua langsung berjalan menuju cafetaria.

"Yuki sedang sakit?" Tanya Kuroko dengan suara pelan dan ragu.

"Sedikit. Baru saja tadi dari UKS," jawab Yukiteru dengan datar.

"Souka," respon Kuroko sambil mengangguk mengerti.

Setelah mereka membeli dan mengambil makanan mereka dengan sebuah nampan. Mereka langsung duduk di tempat yang kosong di cafetaria itu.

"Jadi, apa yang mau kau bicarakan?" Tanya Yukiteru dengan datar.

"Aku keluar dari team."

Yukiteru langsung terdiam dan menatap Kuroko yang saat ini duduk di seberangnya.

"Kenapa?" Tanya Yukiteru dengan cepat.

"Aku tidak bisa berada di team yang sudah menyakiti temanku. Temanku berhenti dari basket karena hal itu," ucap Kuroko. Bisa dilihat kepalan tangannya begitu kuat di atas meja nya.

Yukiteru tidak bisa berbicara apapun untuk situasi saat ini. Dia tidak tahu harus memberi saran apa pada laki-laki yang ada di depannya ini.

"Tapi bukan berarti aku berniat untuk berhenti dari basket," ucap Kuroko sambil mengeluarkan sebuah barang berukuran kecil dan berwarna hitam dari saku jas nya.

Yukiteru ingat betul benda itu seperti tidak asing baginya, ia sering melihat Kuroko memakai itu di pergelangan tangannya setiap saat ia akan bermain basket.

"Ini pemberian temanku. Dia bilang kalau aku tidak boleh berhenti dari basket," ucap Kuroko sambil tersenyum tipis saat melihat barang yang ada digenggamannya saat ini.

"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya Yukiteru dengan datar.

"Aku berniat melanjutkan sekolahku di SMA kakakmu. Aku ingin bergabung dalam team basketnya. Saat melihat pertandingannya waktu itu, memang awalnya aku merasa iri pada mereka. Tapi entah kenapa, sekarang aku merasa ingin menjadi bagian dari mereka," jawab Kuroko yang sukses membuat mata Yukiteru membulat kaget.

Yukiteru tidak tahu harus mengatakan apa. Seakan-akan isi kepalanya saat ini begitu kosong.

"Yuki, pulang sekolah nanti aku berniat melihat-lihat sekolahnya. Kau mau menemaniku?" Ajak Kuroko sambil tersenyum tipis pada Yukiteru.

"Kenapa aku yang kau ajak? Aku sendiri tidak tahu letak sekolah kakakku di mana," Tanya Yukiteru sambil mengerutkan dahinya.

"Kalau letaknya aku sudah tahu. Aku cuma tidak berani masuk sendirian ke sana. Kalau bersamamu kurasa akan jadi terasa lebih nyaman, kau kan punya kakak yang bersekolah di sana," jawab Kuroko, lalu ia memulai acara makan siangnya

Yukiteru menghela nafasnya dengan panjang. "Baiklah. Aku hanya akan mengantarmu sampai kau bertemu kakakku. Setelah itu aku akan pulang."

"Heh? Kau tidak mau ikut melihat sekolahnya?" Tanya Kuroko sambil sedikit memajukan badannya ke arah Yukiteru.

"Aku tidak berminat lanjut sekolah di sana," jawab Yukiteru dengan datar sambil memakan makanan yang ada di depannya.

Kuroko langsung terdiam beberapa saat. "Kukira kau akan satu sekolah dengan kakakmu."

"Aku bukan anak kecil yang terus membuntuti kakaknya," jawab Yukiteru dengan cepat

"Souka," respon Kuroko dengan datar lalu melanjutkan acara makan siangnya.

"Ikut aku!"

Suara itu cukup pelan, namun terdengar cukup jelas bagi Yukiteru. Saat itu juga ia sedikit terkaget, ia merasa ada yang menarik lengan kanannya ke belakang. Spontan gadis berambut hitam itu langsung menoleh ke belakangnya.

"Akashi-san?" Respon Yukiteru berusaha untuk tetap dalam kondisi datar.

"Akashi-san?" Gumam Kuroko, merasa ada yang janggal dari panggilan Yukiteru untuk Akashi tadi.

"Ikut aku!" Titah Akashi mengulangi dengan nada suara yang sama.

"Apa maksudmu? Kau tidak lihat kalau aku sedang makan?" Ucap Yukiteru dengan suara pelan, mencoba untuk tidak menarik perhatian banyak orang yang ada di cafetaria saat ini.

"Jangan membuatku mengulanginya lagi."

Tatapan dingin dan seringaian Akashi seakan-akan mampu meruntuhkan pertahanan Yukiteru untuk menjauh dari laki-laki yang satu ini dengan mudahnya.

"Gomen, Tetsuya. Aku pergi dulu," ujar Yukiteru dengan datar sambil beranjak dari kursinya dan pergi mengikuti Akashi.

Yukiteru terus berjalan mengikuti laki-laki berambut merah yang berjalan di depannya saat ini. Ia terus menatap punggung laki-laki itu.

Dan tanpa Yukiteru sadari, ia sudah berada di dalam ruang lab sekolahnya yang saat ini hanya diisi oleh dirinya dan Akashi.

"Apa maumu?" Tanya Yukiteru dengan datar.

"Siapa yang mengizinkanmu berduaan dengan orang lain?" Tanya balik Akashi tanpa menatap Yukiteru. Dirinya itu seperti sedang sibuk berjalan di antara meja-meja panjang yang ada di ruang lab tersebut. Sesekali tangannya menyentuh peralatan kerja yang tersedia di atas meja.

"Tidak ada. Kau juga tidak punya hak apapun sekarang ini. Tinggal meminta kedua orang tua kita untuk menghentikan perjodohan ini. Dan dengan begitu, kita akan resmi menjadi 'orang asing' lagi," jawab Yukiteru dengan datar. Kedua tangannya terkepal dengan sangat kuat.

"Jangan beraninya kau melakukan hal itu," titah Akashi masih dengan suara datar dan tenang. Walaupun saat ini tatapannya sudah tertuju pada Yukiteru yang masih saja berdiri terdiam di dekat pintu lab.

"Kenapa? Aku tidak menerima perintah darimu," respon Yukiteru sambil mengangkat satu alisnya.

Saat itu Akashi terdiam beberapa saat sambil terus menatap gadis yang berdiri tak jauh darinya. Lalu ia mulai kembali berjalan menuju ke arah Yukiteru berdiri saat ini.

Spontan Yukiteru langsung melangkah mundur saat Akashi berada tepat di depannya dengan jarak yang cukup dekat.

"Kubilang jangan! Turuti saja!" Bentak Akashi sambil menggenggam lengan kanan Yukiteru.

Spontan Yukiteru terkaget. Matanya langsung membulat.

'Kata-kata dan tatapannya terasa begitu dingin dan kasar. Tapi...'

...

..

.

'Kenapa genggamannya sangat lemas?'

'Kenapa tangannya gemetaran?'

'Ada apa dengannya?'

.

.

.

Yukiteru terus mengikuti sisa jam pelajaran dengan terdiam. Tatapannya begitu kosong, meskipun kepalanya terus menghadap keluar jendela. Ia juga tidak takut ketinggalan pelajaran, karena pelajaran yang dibahas saat ini sudah ia pelajari sebelumnya di rumah.

'Sebenarnya ada apa dengannya? Aku tidak mengerti.'

Yukiteru mengalihkan pandangannya ke arah depan. Bisa ia lihat Akashi yang duduk di paling depan barisan sebelahnya itu sedang serius memperhatikan pelajaran.

Hingga akhirnya bel pulang sekolah pun berbunyi. Guru dan para murid mulai berhamburan keluar kelas. Termasuk Yukiteru.

"Yuki?"

Saat mendengar suara panggilan tersebut. Spontan Yukiteru langsung berhenti berjalan. Ia melihat seorang laki-laki berambut biru berdiri di sampingnya. Sontak Yukiteru sedikit terkaget.

"Tetsuya?" Respon Yukiteru sambil selangkah mundur karena kaget.

"Biasanya kau langsung menyadari keberadaanku. Kenapa sekarang tidak?"

"Gomen," jawab Yukiteru dengan suara pelan dan datar.

"Ayo," ajak Kuroko sambil kembali berjalan.

Yukiteru pun kembali berjalan. Selama ia berjalan keluar sekolahnya bersama Kuroko. Ia hanya terus terdiam. Mengingat Akashi yang tadi, sepertinya itu sukses membuatnya kembali jadi bimbang.

"Kau ada masalah dengan Akashi-kun?" Tanya Kuroko yang sebenarnya dari tadi terus memerhatikan Yukiteru.

Spontan Yukiteru langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak. Memangnya kenapa?"

"Kau memanggil Akashi-kun bukan dengan nama kecilnya lagi."

Yukiteru terdiam beberapa saat. "Oh itu. Memangnya ada yang salah dengan hal itu?"

Kuroko menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Iie. Hanya saja itu terasa aneh."

"Ya, terasa aneh. Mungkin karena kita sudah lama tidak kontak. Jadi kurang bisa saling mengerti lagi," ucap Yukiteru dengan nada datar yang mendominasinya.

"Souka," respon Kuroko sambil tersenyum miris.

Saat itu mereka berdua terus berjalan. Suasananya begitu sunyi dan tidak ada dari mereka pun yang memang berniat memecahkan kesunyian yang ada di antara mereka.

Hingga akhirnya mereka sampai di depan gerbang sebuah sekolah. Bisa dilihat kalau di sana masih ramai dengan murid-murid sekolah tersebut.

"Jadi apa rencanamu sekarang?" Tanya Yukiteru yang berdiri terdiam, melihat ke sekitarnya.

"Masuk ke sana," jawab Kuroko dengan santai dan datarnya.

"Maksudmu, kita masuk ke sana dan jalan dengan santainya keliling sekolah itu dengan seragam yang sudah jelas berbeda dari mereka semua?" Tanya Yukiteru untuk memastikan

"Ya begitulah rencanaku," jawab Kuroko sambil mengangkat kedua bahunya.

"Kau gila?! Kita akan jadi pusat perhatian kalau masuk ke sana. Aku tidak mau. Aku tunggu di sini saja," ucap Yukiteru sambil melipat kedua lengannya di depan dadanya.

"Tapi aku takut kalau masuk sendirian."

"Kalau begitu tidak usah masuk."

"Tapi aku ingin masuk."

"Ahh.. mendokusai," respon Yukiteru sedikit geram sambil mengambil smartphone nya dari saku rok nya.

"Apa kau punya rencana lain?" Tanya Kuroko dengan ragu.

"Ya. Aku akan telepon kakakku untuk ke sini, dan membawamu keliling sekolah ini. Lalu aku akan pulang," jawab Yukiteru sambil mengotak-atik smartphone nya dan mendekatkannya ke telinganya.

Beberapa saat Yukiteru terdiam, menunggu kakaknya itu mengangkat teleponnya.

"Tch. Nggak diangkat," respon Yukiteru saat mendengar kotak suara.

"Jadi kau mau menemaniku ke sana sekarang?" Tanya Kuroko sambil tersenyum tipis.

Yukiteru menghela nafasnya dengan berat. "Ok."

Akhirnya mereka berdua memasuki wilayah sekolah yang menurut mereka cukup asing. Seperti yang sudah diduga oleh Yukiteru, saat ini mereka menjadi pusat perhatian murid-murid di sekolah itu.

"Sekolah ini lumayan bagus ya?" Ujar Kuroko dengan santainya.

"Di saat seperti ini masih bisa santai?" Gumam Yukiteru

"Yuki, sepertinya ini gedung olahraganya," ucap Kuriko sambil menunjuk sebuah gedung yang berdiri kokoh di dekat posisi mereka saat ini.

Yukiteru hanya terdiam dan memerhatikan gedung yang ditunjuk Kuroko. Dari sana bisa terdengar suara gemuruh, yah mungkin bisa dibilang juga suara yang cukup berisik hingga terdengar sampai keluar gedung.

"Ayo kita lihat isinya," ajak Kuroko sambil berjalan menuju gedung itu.

'Apa sebegitu semangatnya kah dia? Apa dia tidak ingat kalau sekarang ini kita hanya seperti murid asing yang nyasar di sekolah ini?' batin Yukiteru.

Yukiteru hanya terus berjalan mengikuti Kuroko hingga masuk ke dalam sebuah ruangan yang besar. Saat ini ruangan itu sedang digunakan sebagai tempat latihan untuk para anggota team basket sekolah tersebut.

"Izuki?" Panggil seorang perempuan berambut cokelat pendek sambil melangkahkan kakinya mendekati Yukiteru.

"Gomen, aku tidak bermaksud mengganggu. Ada temanku yang tertarik dengan team kalian dan dia memintaku untuk menemaninya ke sini," ujar Yukiteru dengan cepat, berusaha untuk tidak membuat pelatih team Seirin itu salah paham dengan keberadaannya sekarang.

"Temanmu tertarik pada team kami?! Di mana orangnya?" Tanya Aida dengan cepat sambil melihat ke sekitarnya dengan cepat.

"Aku di sini," ucap Kuroko yang saat ini berdiri di depan Aida.

Pelatih itu hanya terdiam beberapa saat. Tidak ada respon apapun yang keluar darinya. Ekspresi dan tubuhnya yang menjadi kaku menunjukkan kalau ia sangat kaget saat ini.

"Gomen. Dia memang seperti ini. Jarang ada orang yang bisa menyadari keberadaannya," ucap Yukiteru mencoba membuat pelatih muda itu tenang.

"Ah, Izuki," panggil seorang laki-laki berkacamata sambil berlari kecil ke arah Yukiteru, Kuroko dan Aida.

Yukiteru hanya merespon panggilan tersebut dengan menatap orang yang memanggilnya tersebut.

"Kau ke sini untuk memberi kabar soal kakakmu?" Tanya laki-laki yang dipastikan memiliki nama Hyuga Junpei.

Dahi Yukiteru langsung mengerut. Lalu ia melihat ke sekitar lapangan. Baru ia sadari kalau kakaknya tidak ada di sana.

"Memangnya ada apa dengan onii-chan?" Tanya Yukiteru dengan datar, walaupun terselip pula rasa kebingungannya.

"Kau tidak tahu? Hari ini kakakmu tidak masuk sekolah kan?" Tanya balik Hyuga sambil mengerutkan dahinya.

'Onii-chan tidak masuk sekolah? Seingatku tadi dia baik-baik saja. Apa karena ucapanku tadi pagi, dia jadi shock lalu sakit?' Batin Yukiteru mulai men-drama.

"Tadi pagi dia terlihat baik-baik saja. Kurasa dia mendadak sakit lalu tidak jadi pergi sekolah," jawab Yukiteru bingung mau menjawab apalagi. Untung saja saat ini ia masih bisa mempertahankan mode datarnya.

"Begitu ya. Habisnya aku merasa aneh. Tidak biasanya kakakmu seperti itu. Biasanya dia selalu memberi kabar pada kami kalau terjadi sesuatu. Aku sudah mencoba untuk menghubunginya, tapi tidak diangkat," ucap Hyuga yang sukses membuat batin Yukiteru semakin cemas.

"Coba kuhubungi dia sekarang," respon Yukiteru sambil mengambil smartphone nya lalu mulai menghubungi kakaknya itu.

Tapi hasilnya nihil. Tidak ada yang mengangkat teleponnya itu. Lalu Yukiteru memutuskan untuk menghubungi rumahnya sendiri.

"Moshi-moshi?"

"Kasumi, ini aku, Yukiteru," ucap Yukiteru dengan cepat, ia sudah bisa menebak lawan bicaranya saat ini siapa.

"Ojou-sama, ada apa?"

"Onii-chan. Apa dia ada di rumah?" Tanya Yukiteru sambil menggenggam erat smartphone nya itu, berharap jawab 'iya' yang diterima olehnya.

"Tidak ada. Bukannya hari ini Shun-sama sekolah seperti biasa? Tadi pagi dia langsung pergi setelah ojou-sama pergi seperti biasanya. Apa ada masalah?"

"Ah, iie iie. Arigatou," ucap Yukiteru sambil menutup teleponnya.

"Bagaimana?" Tanya Hyuga dengan spontan.

"Onii-chan tidak ada di rumah. Dan yang lebih buruknya lagi, orang rumahku taunya kalau onii-chan sekolah seperti biasanya," jawan Yukiteru sambil menundukkan kepalanya dengan lemas.

"Lalu kemana dia?" Tanya Aida yang mulai terlihat khawatir.

"Aku tidak tahu. Aku akan mencarinya," jawab Yukiteru sambil membalikkan badannya dan berjalan cepat keluar dari ruangan tersebut. Kuroko hanya terdiam sambil berjalan mengikuti Yukiteru.

"Tunggu! Kami ikut!" Ucap Aida setengah berteriak dan itu sukses membuat langkah kaki Yukiteru dan Kuroko terhenti.

"Tidak apa. Aku akan mencarinya sendiri. Kalian juga harus latihan kan?"

"Tidak apa. Kami juga tidak bisa latihan dengan tenang kalau salah satu anggota team kita hilang. Ya, kan?" Ucap sang captain Seirin itu.

"Ya!" Jawab anggota Seirin yang lainnya dengan kompak.

"Jadi bagaimana? Mencarinya akan jadi lebih mudah kalau seperti ini kan?" Tanya Aida sambil tersenyum pada Yukiteru.

'Kau memiliki team yang sangat bagus. Mereka semua peduli padamu. Aku iri padamu, onii-chan.'

"Baiklah," jawab Yukiteru sambil tersenyum tipis.

"Yuki, aku juga ikut," ucap Kuroko yang sukses membuat Yukiteru mengerutkan dahinya.

"Aku punya waktu luang yang cukup banyak. Kurasa tidak ada salahnya kalau kalau kugunakan waktu luangku saat ini untuk membantumu?" Ucap Kuroko lagi sambil tersenyum pada Yukiteru.

Yukiteru menundukkan kepalanya. Mencoba untuk menahan agar senyumannya tidak keluar begitu saja.

"Arigatou, Tetsuya. Arigatou, minna," ucap Yukiteru dengan suara pelan.

"Nah, ayo kita cari bocah ilang itu sekarang," ucap sang captain Seirin itu.

Yukiteru hanya menganggukkan kepalanya lalu kembali melangkahkan kakinya dan keluar dari ruangan itu.


TO BE CONTINUED


Halooooo~ akhirnya kita bertemu lagi di chapter 7 ini. Gomen kalo late update. Huehehe. Berhubung author nya baru aja abis liburan /yaay.

Gomen juga kalau cerita ini kayanya makin drama dan nggak jelas. Author juga sebenernya labil nulisnya mau kaya gimana. Idenya author mulai bercabang banyak abisnya(?)

Sekedar info dan menebar kebahagian, besok tepatnya 20 juni author ulang tahun :3 /ga penting plis. Semoga kalian mau berbaik hati memaafkan author karena late update yang chapter ini ya :"v /apa ini. Semoga yang review fic ini juga makin banyak XD /ngarep. Maap kalau ini belok dari topik :"

Saran dan kritik diterima author dengan tangan terbuka. Sampai jumpa di chapter selanjutnya 'v')7


Reply review:

Uchiharuno Sierra : gomene di chapter ini author late update :"v hahahaha. Itu dia. Yuki nya masih labil buat milih sekolah. Dia harus berguru dulu ke author biar nggak jadi labil lagi XD /alah authornya sendiri juga labil.

bubletea : huehehehe. Semoga rasa penasarannya sedikit terobati ya di chapter ini dan arigatou udah mau nungguin chapter baru cerita ini :'3

Bakashi : iya ya. Akashi emang kejam *v*)b /dihajar akashi /lalu ikut pundung di pojokan (?) Permintaannya udah dibahas di chapter ini. Semoga nggak terlalu merasa diphpin ya :"v

Guest : iya tuh. Toge nya toge nya mereka /itu tega plis. Chapter lanjutannya udah ada nih. Maap udah nunggu lama ya :"v *bungkuk badan berkali2* arigatou buat suntikan semangat nya 'v')9

yuka akimura : hahaha. Sama dong author juga penasaran 'v')b /kan situ yang nulis thor-_- Nggak tau nih. Akashi mungkin sedang mengalami cobaan hidup yang berat :"v iya, yuki nya mah itu mencoba untuk setrong aja(?) /seketika diamuk akashi + yuki. Huehehe authornya kan jomblo, jadi sengaja memisahkan mereka lagi biar jadi jomblo sama kaya author XD /plak. Huehehe alesannya tunggu aja ya, jangan sekarang. Ntar disangka spoiler lagi :v /dihajar lagi. Arigatou udah suka ama fic ini dan suntikan semangatnya. Author jadi terharu TvT (p.s. : gomen kalo susah ngebaca balesan review ini, authornya terlalu niat bales)