Pagi yang tidak begitu cerah Haechan rasakan hari ini. Dia dengan langkah pelan menggerakkan kakinya menuju kelas. Haechan hanya sendiri karena Jaemin bilang padanya untuk berangkat lebih dulu. Sesampainya di kelas Haechan meletakkan tasnya dan membaringkan kepalanya di meja. Dia merasa tidak bersemangat sekolah hari ini.
"Aku adalah Mr. Lion"
Haechan tidak tahu harus bereaksi apa sekarang. Dia terkejut tentu saja sudah pasti. Tapi dia lebih merasa penasaran kenapa Mark melakukan semua itu padanya. Apa yang membuat laki-laki itu bersusah payah memberikan surat padanya? Padahal dia sendiri sangat sibuk.
"Kenapa? Kenapa kau melakukannya? Dan kenapa kau mengakui semuanya kepadaku?"
"Aku melakukannya karena ingin dekat denganmu. Aku tidak tahu harus bagaimana untuk mendekatimu. Karena aku suka menulis ya aku memberimu surat. Aku sempat berpikir memberi surat padamu itu adalah hal yang bodoh. Aku menginti untuk memastikan apa kau membaca suratnya dan aku terkejut ternyata kau membacanya. Padahal banyak surat yang diberikan untukmu"
Mark tersenyum kepada Haechan. Tangannya bergerak menyentuh wajah manis Haechan. Selama ini Mark menahan dirinya setiap kali berdekatan dengan Haechan.
"Aku memberitahumu semuanya karena aku tidak ingin kau salah paham nanti dan akan marah besar padaku. Aku ingin mengungkapkan semuanya sudah lama tapi terus saja ada pengganggu. Namun sekarang hanya kita berdua saja"
Pipi Haechan merona mendengar kata berdua saja yang keluar dari mulut Mark. Haechan merasa seperti berada dalam sebuah cerita romantis yang pernah dia baca.
"Untuk apa aku marah padamu Mark. Tidak ada yang melarang untuk memberikan surat kepada orang lain. Aku suka dengan suratmu itu"
Haechan menggelengkan kepalanya. Otaknya terus memikirkan kejadian akhir pekan kemarin. Haechan terus membayangkan Mark yang tersenyum manis kepadanya.
"Kenapa denganmu?"
Haechan menoleh dan melihat Jaemin yang baru saja datang. Jaemin terlihat berbeda hari ini. Wajah itu tidak seceria biasanya dan matanya nampak sayu dengan lingkaran hitam menghiasinya. Penampilan Jaemin yang berantakan tidak jauh beda dengan Haechan. Kedua orang itu sama-sama terlihat menakutkan.
"Seharusnya aku yang bertanya denganmu kenapa. Kau terlihat buruk"
"Hanya kurang tidur. Bangunkan aku jika seongsengnim datang"
Jaemin meletakkan tasnya di atas meja dan membaringkan kepalanya. Tasnya dia buat jadi bantal biar tidak terasa sakit.
Haechan menatap lekat sahabatnya itu. Tidak biasanya Jaemin seperti ini. Sejak di karnaval Jaemin sedikit berubah jadi tertutup. Apa juga terjadi sesuatu pada Jaemin saat Haechan meninggalkannya berdua sama Jeno?
"Pagi Chan"
Baru saja Haechan memikirkannya maka Jeno datang ke dalam kelas. Sungguh panjang umur si Jeno ini. Jeno meletakkan tasnya dan duduk dibangkunya yang berada dibelakang Haechan dan Jaemin.
"Kenapa dengan Jaemin?"
Jeno menatap lekat punggung sempit Jaemin. Tidak biasanya anak itu tidur begitu saja di kelas. Apalagi ini masih pagi.
"Dia bilang kurang tidur"
"Kau juga sepertinya sama dengannya"
Jeno menunjuk mata Haechan yang terhiaskan lingkaran hitam. Sudah seperti panda saja dan Haechan itu lumayan bulat loh jadi persis seperti panda. Hanya saja kulitnya itu lebih gelap.
"Apa yang kau tertawakan Jeno?"
Haechan mengernyit melihat Jeno yang tiba-tiba saja tertawa tanpa ada alasan yang jelas. Haechan melirik ke seluruh kelas tetapi tidak menemukan sesuatu yang menggelikan.
"Aku pikir kau sudah mirip panda Chan. Hanya saja kulitmu itu lebih gelap"
"JENO"
Jeno menutup telingnya mendengar teriakan melengking Haechan. Telinganya bisa saja robek mendengar suara Haechan yang cempreng begitu keras memenuhi kelas.
BRAK
"Kalian berdua itu berisik. Tidak bisakah aku dapat ketenangan sedikit saja"
Jaemin melotot tajam pada Haechan dan Jeno yang mengganggu waktu tidurnya. Jaemin hanya ingin mereka berdua itu sedikit lebih tenang biar dia bisa tidur dengan nyaman.
"Jika mau tidur bukan di sini tempatnya Na Jaemin. Pergi ke ruang kesehatan sana ada tempat tidur biar nyaman. Lagi pula ini masih pagi dan kau sudah mengantuk. Kau bergadang ya tadi malam?"
Haechan tidak akan berani melawan Jaemin yang sedang dalam mode senggol bacoknya itu. Berbeda dengan Jeno yang tidak tahu situasi berbahaya gimana pun akan tetap melawan Jaemin.
"Aku tidak bisa tidur itu karenamu ya sialan"
Jaemin beranjak dari bangkunya dan keluar kelas. Mungkin anak itu mau ke ruang kesehatan buat tidur di sana dengan nyaman tanpa ada gangguan sedikit pun. Meninggalkan Haechan dan Jeno yang termenung mendengar ucapannya barusan.
"Jadi apa yang terjadi padamu dan sahabatku Lee Jeno?"
Jeno mau kabur dari kelas tapi Haechan lebih cepat mencegat tangannya dan menggenggam dengan erat pergelangan tangannya. Wajah Haechan terhiaskan senyum manis yang menyebalkan.
Mark mengetuk-ngetuk jarinya pada keyboard laptopnya. Tidak peduli di layar sudah menampilkan ketikan aneh di sana. Mark sedang tidak berada di dunianya sekarang. Laki-laki itu sedang melamunkan seseorang.
"Mark"
Panggilan dari editornya sendiri Taeyong tidak Mark tanggapi. Mark terlalu larut dalam lamunannya.
"MARK LEE"
Mark otomatis menutup telinganya mendengar teriakan Taeyong. Dia menatap Taeyong dengan wajah polosnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Apa yang kau pikirkan Mark? Coba lihat layar laptopmu yang penuh dengan kalimat abtrak"
Mark melihat layat laptopnya dan benar saja kalimat aneh yang tidak bisa dibaca tertera di sana. Mark segera menghapusnya dan mencoba fokus buat lanjutan naskahnya.
"Ada yang menggangu pikiranmu ya?"
Taeyong menyentuh pundak Mark dan tersenyum pada adik sepupunya itu. Taeyong akhir-akhir ini sering sekali melihat Mark yang kurang fokus. Taeyong mencemaskan adik sepupunya itu. Mark sudah seperti adik kandungnya sendiri bagi Taeyong. Mungkin juga sedikit lebih sayang pada Mark dibanding dengan Jeno.
"Tidak hyung. Aku hanya..."
"Jangan bohong Mark"
Mark menundukkan wajahnya. Mark memang sedang terganggu pikirannya. Semua itu berkat seorang anak manis bernama Lee Haechan lah yang telah mengganggu Mark.
"Ceritakan semuanya padaku Mark. Aku akan mencoba membantumu. Kau menganggapku sebagai hyung kan?"
Mark tersenyum tipis mendengarnya. Taeyong memang orang yang selalu mengerti keadaannya seperti orang tuanya. Beruntung Jeno bisa memiliki kakak seperti Taeyong.
"Bagaimana cara menembak seseorang hyung?"
"Eh"
Taeyong terkejut mendengarnya. Dia pikir Mark ada masalah dengan nilai di sekolah atau apapun itu yang tidak bersangkutan dengan orang yang disuka. Tetapi tebakannya itu salah ternyata.
"Kau menyukai seseorang?"
Mark menganggukkan kepalanya. Dia menoleh pada Taeyong dan menceritakan semuanya pada laki-laki itu.
"Aku jadi penasaran bagaimana Lee Haechan itu? Dia sudah membuat dongsaengku ini tidak bisa fokus dengan pekerjaannya"
Mark menampik tangan Taeyong yang mengacak rambutnya seperti anak kecil. Mark tidak suka diperlakukan seperti anak kecil. Meski orang tuanya sekali pun.
"Hyung aku serius"
"Baik-baik aku mengerti. Tapi aku tidak pernah menembak seseorang. Mereka yang datang sendiri padaku"
Mark mendengus kesal mendengarnya. Kenapa banyak yang suka sama Taeyong ya padahal susah kayak singa aja. Mark kasihan sama kekasih Taeyong si Jaehyun yang sangat mengenaskan berpacaran dengan Taeyong.
"Tidak ada gunanya aku bercerita dengan hyung"
"Jangan marah begitu. Kau coba saja cara seperti yang ada di novelmu. Bukankah itu bagus?"
Taeyong bingung dengan adik sepupunya itu. Padahal banyak adegan romantis pada novel yang dia buat tetapi masih bingung cara menembak seseorang.
"Mengatakannya mudah hyung. Tapi melakukanya itu sulit. Ekspektasi kita itu tidak sama dengan realitanya"
"Kau belum mencobanya Mark. Bagaimana kau tahu dengan hasilnya nanti?"
Mark hanya menganggukkan kepalanya dengan lesu. Taeyong membawa Mark ke dalam pelukannya dan mengelus kepala Mark dengan lembut.
"Semangatlah dongasengku"
"Terima kasih hyung"
Mark membalas pelukan hangat Taeyong. Sangat nyaman saat laki-laki itu memeluknya. Untung ada Taeyong yang bisa mendengarkan semua keluh kesahnya.
"Mommy"
Mark tiba-tiba saja menggangu waktu santai kedua orang tuanya yang sedang asik menonton televisi. Remaja tampan itu memeluk ibunya yang sedang asik menonton drama.
"Ada apa sayang? Kamu menggangu mommy menonton"
Ibu Mark menyingkirkan kepala Mark yang menutupi pandangannya. Jagoan besarnya itu tetap saja memeluk ibunya dengan erat.
"Mommy, gimana dulu daddy menembak mommy?"
"Eh"
Tidak hanya ibunya Mark saja yang terkejut. Ayahnya juga sama terkejutnya mendengar pertanyaan anak laki-lakinya itu.
"Kenapa bertanya begitu?"
"Memangnya aku tidak boleh tahu daddy"
Mark menikmati usapan lembut oleh ayahnya di kepalanya. Mark sangat senang bisa bermanja-manja dengan kedua orang tuanya. Mereka bertiga itu sama-sama sibuk jadi waktu buat bersantai itu gak banyak.
"Mommy sih mau aja bilang sayang. Tapi sebenarnya itu bukan daddy yang menembak duluan. Daddymu itu terlalu pemalu mengungkapinnya dulu"
Mark mengerjapkan matanya dan menatap ayahnya penuh selidik. Selama ini dia dibohongi oleh ayahnya yang bilang kalau ayahnya itu yang menembak ibunya.
"Jangan diungkapin sayang! Malu"
"Daddy payah"
Ayah Mark mendengus kesal mendengar ejekan anaknya. Untung saja di sana ada ibunya Mark, kalau gak ya kepala Mark sudah dijitak sama ayahnya.
"Terus mommy gimana mengungkapinnya?"
Mark masih penasaran sama hubungan kedua orang tuanya. Kalau baguskan bisa Mark contoh buat menembak Haechan.
"Mommy langsung bilang saja sayang. Mommy gak suka yang ribet bikin kejutan. Mommy yang mengungkapin duluan saja sudah malu"
Mark tidak mendapatkan inspirasi yang bagus dari kedua orang tuanya. Apa dia pakai cara seperti yang di novel aja ya? Seperti sarannya Taeyong.
"Taeyong hyung bilang coba pakai cara di novel yang aku buat mommy"
"Itu ide yang bagus. Mommy juga suka sama cara di novel kamu. Pakai yang di taman kota aja biar gak terlalu ribet nyiapinnya"
Mark memikirkan ucapan ibunya barusan. Masukkan yang sangat bagus buatnya. Lagian adegan yang di taman kota itu juga gak terlalu aneh banget. Hanya mengajak gebetan jalan-jalan lalu menembaknya di taman kota dan memberi hadiah pada gebetan.
"Terima kasih mommy"
Mark semakin mengeratkan pelukannya dan mengecup pipi ibunya sebagai pelampisan rasa senangnya. Ibunya memang yang terbaik.
"Daddy gak dicium nih"
"Gak deh. Daddy kan gak gentleman"
Mark menjulurkan lidahnya dan berlari masuk ke kamarnya sebelum ayahnya mengamuk. Ibunya Mark hanya bisa tertawa melihat interaksi ayah dan anak itu.
"Ajak Haechan jalan-jalan"
Mark mengambil ponselnya ingin memberi pesan pada Haechan buat mengajaknya jalan-jalan. Mark mau cepat-cepat aja menembak Haechan. Takutnya nanti ada menyerembet duluan lagi menembak beruang manisnya itu.
Baby Lion
Chan mau jalan-jalan gak besok
Mark mengirim pesannya dan tidak lama kemudian Haechan membalasnya. Ternyata cepat juga tanggapan dari Haechan. Mark pikir anak itu akan membalas pesannya lama.
Baby Bear
Mau, di mana tempatnya?
Baby Lion
Di taman kota. Aku akan menunggumu besok jam 10
Baby Bear
Okay Mark
Mark ingin melompat-lompat di atas kasurnya dan berteriak karena telalu bahagia. Tapi dia masih tahu diri sudah malam untuk tidak membuat kegaduhan. Kamarnya itu bersebrangan loh sama Haechan. Nanti anak itu malah melihat lagi tingkah absurd Mark.
Mengingat Haechan membuat Mark jadi merindukannya. Hari ini di sekolah Mark tidak bisa bertemu dengan Haechan karena mengejar deadlinenya. Mark mau menyelesaikan naskahnya biar cepat-cepat menghabiskan waktu dengan Haechan.
"Aku gugup besok. Semoga berhasil"
Mark berbicara dengan boneka beruang yang Haechan dapat waktu karnaval. Ternyata ide yang bagus menukar boneka mereka karena mereka berdua seperti bertukar hadiah. Mark menamakan boneka itu Chanie dan selalu memeluknya setiap malam.
Besok harinya di kediaman Haechan sedikit berisik karena kedatangan sahabat sejati Haechan si Na Jaemin yang masuk kamar Haechan tanpa permisi dan membangunkan Haechan dengan brutal.
"Woi beruang cepat bangun dari hibernasi"
Jaemin mengguncang pundak Haechan dengan kasar. Tangannya juga menepuk-nepuk pipi gembil Haechan biar anak itu cepat bangun.
"Kau berisik Na. Ngapain ke rumahku pagi-pagi?"
Haechan dengan terpaksa membuka matanya. Dia bangun dan melirik jam dindingnya yang menunjukkan pukul 9.30. Tidak bisa dibilang pagi sih tapi juga bukan siang hari.
"Kau lupa kita mau ke rumah Renjun hari ini. Dia baru balik dari Cina"
Renjun salah satu teman terdekat Haechan dan Jaemin baru saja balik dari Cina karena urusan keluarga. Biasa kalau sudah dari luar negeri itu yang dinantikan adalah oleh-oleh dan Jaemin terlalu bersemangat dengan itu.
"Nanti siang aja kita ke rumah Renjun. Aku masih mau tidur"
Haechan mau berbaring lagi ke tempat tidurnya yang empuk. Namun Jaemin tidak akan membiarkan sahabatnya itu tidur kembali. Jaemin mendorong Haechan sampai anak itu jatuh dari tempat tidurnya.
"Sakit bodoh"
Haechan yang masih melayang nyawanya jadi langsung bangun sepenuhnya. Bokongnya sakit mencium lantai lebih dulu.
"Aset berhargaku ini loh Na. Kalau iri jangan gini juga dong"
"Sialan"
Haechan mengusap bokongnya. Semoga saja bokongnya itu tetap semok. Gak bisa bayangin dia kalau bokongnya jadi tepos seperti milik Jaemin. Takutnya nanti banyak yang gak suka lagi sama Haechan.
"Cepat mandi bodoh"
Jaemin melempar handuk Haechan dan keluar dari kamar itu dengan bantingan pintu yang begitu keras.
"Dasar jahat"
Bukannya dibantuin Haechan yang masih duduk menahan sakit malah ditinggalin begitu aja. Haechan dengan susah payah bangun dan jalan ke kamar mandi. Bokongnya cidera maka Jaemin harus bertanggung jawab.
Setengah jam kemudian Haechan sudah berpakaian rapi siap buat pergi ke rumah Renjun sama Jaemin. Lama ya Haechan bersiapnya.
"Lama banget sih beruang"
"Berhenti memanggilku beruang, dasar ular. Eomma aku pergi ke rumah teman sama Jaemin"
Haechan berteriak dari pintu depan agar ibunga mendengar. Terlalu malas untuk menemuinya di dapur.
"Hati-hati sayang"
Ibunya Haechan membalasnya juga dengan berteriak. Keluarga ini memang hobi sekali berteriak. Pantesan takut rumahnya ambruk kalau kebanyakan yang teriak-teriak.
"Kenapa lagi sih?"
Jaemin heran sama Haechan yang tiba-tiba diam berhenti jalan. Haechan malah menatap rumah Mark yang berada di sebelahnya.
"Sudah cepat Haechan"
Jaemin menarik Haechan agar anak itu cepat mengikutinya. Haechan masih berpikir keras karena merasa ada yang menjanggal dalam hatinya. Haechan tidak tahu pasti tapi dia merasa ada hubungannya saat dia menatap rumah Mark.
Sementara itu Mark sudah berada di taman kota setengah jam yang lalu. Laki-laki itu terlihat semakin tampan dengan celana jeans dan kemeja biru yang dibalut sama jaket denim. Mark melirik jam tangannya dan melihat sudah pukul 10. Mungkin Haechan akan sedikit terlambat dan Mark akan menunggunya.
"Semoga kau menyukainya Haechannie"
"AAAKH"
"Berisik bodoh"
Jaemin menjitak kepala Haechan yang barusan berteriak. Teriakan melengkingnya itu memenuhi rumah Renjun. Kalau nanti mereka diusir gimana.
"Perasaanku gak enak Na"
Sedari tadi Haechan terus saja berpikir keras apa yang membuatnya cemas. Tetapi dia tidak menemukannya.
"Memangnya apa sih yang kau cemaskan? Apa ada hubungannya dengan Mark?"
Seakan tersihir Haechan langsung mengambil ponselnya dan mengecek ponselnya yang terapat banyak sekali notifikasi panggilan masuk dari Mark. Bodoh sekali Haechan yang mensilentkan ponselnya.
"Aku harus pergi Na"
"Kau mau ke mana? Di luar hujan"
Di luar sedang hujan lebat dan itulah yang membuat Haechan khawatir. Dia takut Mark menunggunya di taman dan kehujanan.
"Aku mau menemui Mark. Kami berjanji mau bertemu di taman kota jam 10"
Haechan bersikeras mau keluar tetapi Jaemin juga bersikeras mencegah sahabatnya itu nekat buat pergi menerobos hujan yang sangat lebat.
"Di luar hujan begitu lebat Chan dan ini sudah jam 3. Mark pasti sudah pulang ke rumahnya"
"Ada apa kok ribut?"
Renjun tadi dipanggil kakaknya jadi meninggalkan kedua orang itu di kamarnya. Ternyata saat dia balik ke kamar Haechan dan Jaemin seperti meributkan sesuatu.
"Haechan ada janji sama Mark jam 10 di taman kota. Dia mau ke sana dan aku melarangnya. Ini sudah lewat 5 jam, Mark pasti sudah pulang. Apalagi di luar hujan lebat"
Renjun mengangguk mengerti mendengar penjelasan Jaemin. Pantesan aja Haechan panik, ternyata ada hubungannya dengan Mark.
"Coba kau menelpon Mark, Chan. Jangan gegabah dulu. Jaemin ada benarnya loh melarangmu menerobos hujan lebat begini"
Haechan mengangguk dan kembali mengambil ponselnya. Haechan mencoba menelpon Mark dan berharap laki-laki itu mengangkatnya.
Nomor yang anda...
Hanya suara dari operator saja yang Haechan dapatkan. Haechan jadi semakin takut dengan keadaan Mark.
"Coba menelpon rumahnya"
Haechan mencoba menelpon ke kediaman Mark. Berharap jika laki-laki itu berada di rumahnya sekarang ini.
"Halo"
Suara lembut ibunya Mark yang mengangkat telponnya. Meski bukan Mark tidak masalah yang penting ada seseorang yang mengangkat telponnya.
"Halo imo. Ini Haechan. Apa Marknya ada di rumah"
"Haechannie! Marknya belum pulang dari taman kota sejak pagi tadi. Memangnya ada apa Haechannie sayang?"
"Tidak apa-apa imo. Hanya bertanya saja"
Haechan menutup telponnya. Tidak ada hasil yang memuaskan yang dia dapat. Haechan yakin jika terjadi sesuatu pada Mark.
"Aku ingin menemui Mark"
Haechan menampik tangan Jaemin dan berlari keluar. Dengan berani menerobos hujan lebat di luar sana tanpa peduli keadaannya yang akan sakit nanti. Haechan terus saja berlari sampai berhenti saat menemukan sebuah taksi.
"Ke taman kota ahjussi"
Haechan di dalam taksi tidak bisa berpikir dengan jernih. Dia terus mencemaskan keadaan Mark. Jika terjadi sesuatu dengan Mark maka itu semua salahnya Haechan yang melupakan janjinya.
"Tunggu di sini ya ahjussi"
Haechan keluar dari taksi dan mencari keberadaan Mark di taman yang sepi tidak ada siapapun orang di sana. Mungkin Haechan terlalu panik sampai tidak berpikir jika mungkin saja Mark pergi ke tempat berteduh.
Haechan ingin kembali ke dalam taksi tapi kakinya terdiam meluhat siluet seorang laki-laki yang berada di bawah pohon besar. Mungkin laki-laki itu ingin berteduh tapi tidak ada gunanya karena air hujan yang begitu lebat sampai pohon besar itu pun juga basah dan menjatuhkan air-air hujan.
"Mark"
Haechan mendekati laki-laki itu dan benar saja jika orang itu adalah Mark. Laki-laki itu sedang memeluk boneka singa yang besar dengan kedua tangan berisi sebuket bungan dan sekotak coklat yang cukup besar.
"Hae-haechan"
Tubuh Mark bergetar merasakan dinginnya udara yang masuk. Bibirnya bahkan membiru dan wajahnya pucat. Haechan menyalahkan dirinya sendiri karena telah membiarkan laki-laki itu menunggunya di hujan lebat seperti sekarang.
"Maafkan aku Mark. Aku tidak seharusnya lupa dengan ajakanmu"
Haechan memeluk Mark dan merasakan bagaimana bergetarnya tubuh itu yang diselimuti dengan hawa dingin yang menusuk kulitnya.
"Mark hiks... hiks...hiks"
Tangisan Haechan pecah begitu saja. Tubuhnya ikut bergetar karena isakan tangisnya yang semakin keras dan air matanya yang semakin banyak keluar.
"Ti..tidak apa-apa Hae..haaechan. Aku senang kau datang"
Mark dengan tenaga yang tersisa membalas pelukan Haechan. Tubuhnya sedikit menghangat merasakan pelukan Haechan.
"Seharusnya kau itu pulang bodoh hiks...hiks... Untuk apa kau menungguku begitu lama?"
Haechan dengan wajah penuh air mata dan air hujan menatap Mark yang begitu rapuh sekarang ini. Laki-laki itu seharusnya mengerti jika Haechan sudah lama tidak datang maka semua janjinya batal. Hanya saja Mark terlalu bodoh akan semua itu.
"Aku ingin me-mengungkapkan semuanya. Aku ingin mengatakan jika aku me-menyukaimu Chan. Aku sangat me-menyukaimu dan me-mencintaimu"
Mark tersenyum tipis karena akhirnya dia bisa juga mengungkapkan semuanya. Dia begitu senang akhirnya Haechan bisa mengetahui perasaannya.
Kemudian Mark merasa kesadarannya mulai menghilang karena tidak sanggup lagi menahan rasa sakit di kepala dan dingin ditubuhnya. Yang Mark tahu sebelum pingsan adalah teriakan Haechan yang memanggil namanya sebelum kegelapan merenggutnya.
Mark membuka matanya dan mengerjapkan matanya membiasakan sinar yang masuk. Mark menatap langit-langit dan mengetahui jika dia berada di kamarnya. Pakaiannya juga sudah berganti jadi piyama dan melihat jam jam dinding ternyata sudah pukul 12 tengah malam.
Mark baru saja bangun, namun dia terdiam merasakan seseorang memeluk pinggangnya. Dia menoleh dan melihat Haechan yang tidur di sampingnya. Mark terkejut dengan itu. Dia pikir Haechan berada di kamarnya sendiri. Haechan mungkin melewati balkonnya buat masuk.
Tangan Mark terangkat untuk menyingkirkan rambut Haechan yang menutupi wajah manisnya. Mark tersenyum melihat wajah damai Haechan yang sedang tidur. Dia mengelus pipi gempil Haechan dengan lembut agar anak itu tidak terganggu tidurnya.
"Enghh"
Namun nyatanya Haechan terusik dengan tindakan Mark. Matanya terbuka dan memperlihatkan manik coklat terangnya. Hal pertama yang Haechan lihat adalah wajah tampan Mark.
"Maaf mengganggu tidurmu"
Mark ingin menyingkirkan tangannya tapi Haechan menahannya dan menggesekkan pipinya dengan tangan Mark. Pipi Haechan terasa lembut, kenyal dan panas menjalar ke tangan Mark.
"Aku senang akhirnya kau sadar juga. Ini semua salahku hingga kau pingsan"
Haechan masih menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi dengan Mark. Remaja menggemaskan itu menampakkan raut sedih yang Mark tidak suka melihatnya.
"Tidak apa-apa. Aku senang kau datang juga dan aku akhirnya bisa mengungkapkan semuanya"
Pipi Haechan terhias noda merah mengingat apa yang Mark katakan sebelum dia pingsan. Jantungnya berdegup kencang melihat Mark tersenyum manis kepadanya.
"Apa itu sungguhan?"
"Menurutmu apa aku bercanda?"
Mark malah balik bertanya. Haechan menggelengkan kepalanya dan membenamkan wajahnya di dada Mark. Dia senang dan juga malu di saat yang bersamaan.
"Jadi apa jawabanmu?"
"Aku juga menyukaimu"
Suara Haechan tidak terlalu jelas karena dirinya menutupi wajahnya di dada Mark. Namun laki-laki itu masih dapat mendengarnya dan dia ingin menggoda Haechan dengan hal itu.
"Aku tidak mendengarnya Haechannie"
Haechan semakin malu mendengar panggilan manis yang terlontar dari mulut Mark. Dia mendongakkan wajahnya dan bertatapan dengan Mark yang menatapnya dengan lembut.
"Tidak ada pengulangan"
Pipi Haechan mengembung lucu dengan bibir yang mengerucut. Anak itu sedang ngambek ternyata. Mark menyukai cara ngambeknya Haechan itu, sangat menggemaskan.
"Kau sangat menggemaskan Haechannie"
Cup
Mark mengecup bibir Haechan yang mengerucut lucu. Membuat Haechan terkejut dan semakin banyak membuat rona merah di wajahnya. Bahkan sampai ke telinganya.
"Siapa yang membolehkanmu menciumku?"
"Tidak ada. Tapi bibirmu ini yang mengundangku buat menciumnya"
Mark kembali menempelkan bibirnya. Kali ini lebih lama dan sedikit memagut bibir ranum Haechan. Mengigit dan menghisap dengan lembut bibir bawah Haechan. Membuat Haechan terbuai dan membalas pagutan Mark. Ciuman Mark semakin dalam dan intens tapi tetap terasa manis bagi keduanya. Baik Mark maupun Haechan menikmati kelembutan dari benda kenyal yang sedang saling memagut itu.
"Sekarang kau sudah menjadi milikku Haechannie"
Mark melepaskan pagutan bibirnya dan mengelap saliva yang meleleh dari sudut bibir Haechan. Kemudian Mark mengecup kening Haechan dan mengusap kepalanya dengan lembut.
"Memangnya aku mau menjadi milikmu"
Haechan mendorong Mark agar tubub keduanya terdapat jarak. Wajahnya dia buat segalak mungkin agar Mark takut tapi yang ada malah semakim imut.
"Orang yang sudah membalas ciumanku ini memangnya tidak mau menjadi kekasihku?"
Wajah Haechan kembali merah karena Mark mendekatkan wajahnya dan menjilat bibirnya. Haechan ingin mendorong Mark lagi tapi tangannya di tahan sama Mark dan tubuhnya di tarik buat semakin dekat dengan laki-laki itu. Tubuh mereka berdua menempel dengan bibir yang kembali bertautan.
"Aku mencintaimu"
"Aku juga mencintaimu"
Haechan membenamkan wajahnya kembali di dada Mark. Kali ini Mark membiarkannya saja dan mengecup beberapa kali puncak kepala Haechan. Karena merasa nyaman berada dipelukan Mark membuat Haechan kembali tertidur.
? ゚メラ?
Waktu berlalu dengan cepat. Haechan harus kembali bersekolah setelah meliburkan diri selama 3 hari karena sakit. Sebenarnya sih sakit Haechan itu gak terlalu parah dan sehari saja dia sudah mulai baikan. Namun Haechan merengek pada orang tuanya buat gak sekolah karena Mark masih sakit. Dia bilang mau merawat Mark dan kembali sekolah jika Mark sudah sembuh. Karena Haechan itu keras kepala ya kedua orang tuanya gak bisa menolaknya.
"Kau benar-benar sudah sembuh. Jika merasa pusing dan sebagainya lebih baik kita pulang saja"
"Aku sudah sembuh Chan. Kau itu maunya libur terus ya"
Mark mengacak surai coklat Haechan dengan gemas. Mark sangat mengerti jika anak itu masih tidak mau berangkat sekolah.
"Kau itu menyebalkan Mark"
Haechan menendang kaki Mark dan berlari meninggalkan Mark yang mengerang kesakitan di koridor. Haechan menggerutu kesal menuju kelasnya.
"Wah tuan putri sudah sembuh ternyata. Bagaimana dengan keadaan pangeran?"
Sambutan menyebalkan Haechan terima dari seorang sahabat yang sama-sama menyebalkan seperti sambutannya. Haechan tidak berkata apapun dan duduk dengan tenang di bangkunya.
"Sudah sembuh Chan?"
"Jika tidak sembuh maka aku tidak akan pergi ke sekolah"
Tidak lama kemudian Jeno datang dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya. Jeno meletakkan tasnya dan duduk di depan Jaemin.
"Kenapa duduk di sini? Tempatmu di belakang"
Jaemin memalingkan wajahnya melihat Jeno yang tidak bergeming sedikit pun menatapnya. Jaemin malu ditatap terus sama Jeno.
"Aku mau mengisi energiku dengan melihatmu"
Mulut Jeno yang sangat berbisa bagi Jaemin. Tidak baik buat kesehatan Jaemin tapi sayangnya tidak bisa dia tolak. Jadi Jaemin hanya bisa menundukkan wajahnya agar Jeno tidak melihat wajah merahnya.
"Manis sekali pangeran dan putri ini. Membuatku iri"
Pujian yang Haechan ucapkan lebih seperi cibiran buat Jaemin. Kenapa Jaemin menceritakan pada Haechan saat di karnaval lalu? Dia jadi sering dapat ejekan dari sahabat semoknya itu.
"Cepat tembak dia Jeno. Jangan hanya memberikan harapan palsu saja bagi sahabatku"
"Tenang Chan. Nanti kami berdua akan menyusulmu dan Mark"
Saat itu juga Jaemin melayangkan pukulannya pada kepala Jeno. Kekesalannya sudah berada di puncak yang tertinggi.
"Ke bangkumu sana"
Jaemin menggerakkan tangannya mengusir Jeno. Laki-laki tampan itu menurut saja karena tidak mau Jaemin makin kesal dengannya. Namun sebelum itu Jeno sempat mencuri kecupan di pipi kiri Jaemin.
"Jangan sering marah-marah. Aku jadi makin suka padamu"
Ternyata benar ramalan zodiak yang Jaemin dengar dari radio pagi tadi. Hari ini dia akan mendapat kesialan bertubi-tubi.
"Manis sekali pangeranmu Na Jaemin"
Mulai sekarang Jaemin gak akan lagi mengejek Haechan kalau tahu balasannya seperti ini.
Mark dan Haechan berada di halaman belakang buat makan siang bersama. Haechan yang minta ke halaman belakang karena dia membawa bekal yang lumayan banyak buat mereka berdua.
"Eomma bilang kau harus banyak makan Mark. Dia sengaja memasakkan semua ini untukmu"
Haechan memberikan kotak bekal yang berisi makanan kesukaan Mark. Ibunya sangat pengertian sekali ternyata. Hanya saja Haechan bingung kenapa ibunya lebih perhatian ke Mark dari pada dirinya sendiri.
"Calon mertuaku memang yang terbaik"
Mark menyendokkan makanannya dan memakannya dengan tenang. Masakan dari ibunya Haechan memang sangat enak. Lidah Mark bersorak bahagia merasakan enaknya makanan yang masuk ke dalam mulutnya itu.
"Bagaimana rasanya?"
"Sangat enak. Ibumu yang terbaik"
Haechan tersenyum manis melihat Mark yang begitu menikmati bekalnya. Haechan ikut menghabiskan bekalnya dengan sesekali melirik Mark.
Meong
Seekor kucing yang sering Haechan lihat mendekati keduanya. Kucing itu menggesekkan kepala ke kaki Haechan dan menatap penuh harap agar Haechan mau berbagi makanannya sedikit. Kucing itu memiliki bulu warna hitam abu-abu yang sangat cantik.
"Lama tidak berjumpa kucing"
Haechan mengelus kepala kucingnya dengan lembut. Membagikan sedikit makanannya pada kucing tersebut yang langsung melahapnya. Haechan gemas jadinya sama si kucing. Jika saja ibunya tidak alergi sama bulu kucing sudah Haechan bawa pulang buat di rawat.
"Kucingnya imut seperti dirimu Chan. Apa mungkin dia anakmu?"
Mark ikut mengelus kucing itu dan membagikan makanannya juga. Si kucing mengeong bahagia karena mendapat banyak makanan. Ekornya bergerak-gerak sebagai respon kebahagiannya.
"Anak dari mana sih. Kucing ini lebih mirip denganmu tahu. Mungkin dia anakmu yang terlantar. Kau kan keluarganya kucing"
"Itu berarti aku ayahnya dan kau ibunya"
Haechan menoleh dan tatapan keduanya bertemu. Mark tersenyum manis kepadanya yang membuat Haechan bersemu. Padahal Haechan sudah sering melihat senyum itu tapi tetap saja masih merasa malu.
"Jangan bicara yang aneh-aneh. Cepat habiskan makananmu saja"
Haechan kembali menikmati makanannya denhan tenang. Begitu pun dengan Mark. Hanya ada pembicaraan yang sedikit dari keduanya karena sibuk buat menghabiskan bekal masing-masing.
"Aku masih tidak percaya jika kita berdua sudah menjadi sepasang kekasih"
Mark tersenyum mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Saat dimana dia dan Haechan mengungkapkan perasaan masing hingga terbentuklah jalinan kasih antara keduanya. Seperti mimpi bagi Mark karena perjalanan asmaranya berjalan dengan mulus. Dia harap tidak ada gangguan apapun buat hubungan keduanya.
"Aku lebih tidak percaya lagi Mark. Kau mengaku sebagai Mr. Lion dan kemudian kau mengungkapkan perasaanmu. Itu terjadi begitu cepat dan tidak terduga sama sekali"
Haechan duduk di samping Mark dengan menyandarkan kepalanya di pundak Mark. Rasanya sangat nyaman dan Haechan menyukai itu. Pundak Mark yang lebar memang sangat bagus menjadi tempat sandaran.
"Untung saja kau tidak marah padaku karena telah membohongimu selama ini"
Mark mengelus kepala Haechan dan mengecupnya beberapa kali. Menikmati waktu berdua saja dengan Haechan itu memang menyenangkan.
"Untuk apa aku marah padamu. Aku senang telah mengenalmu selama ini"
Mengingat pertemuan keduanya membuat Haechan tersenyum. Dia yang begitu ceroboh sering terjatuh dan Mark yang selalu menolongnya. Mereka berdua bertetangga dan menjadi dekat seiring berjalannya waktu.
"Terima kasih sudah menyukaiku juga. Aku senang dan merasa bahagia. Kebahagiaanku lengkap dengan adanya kehadiranmu di hidupku"
Mark mengangkat wajah Haechan agar dia bisa melihat wajah menggemaskan itu. Mark mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya dengan bibir Haechan. Bibir Mark bergerak dengan lembut memagut bibir Haechan. Menyesapnya dan mengigitnya hingga terdengar lenguhan dari Haechan. Mark candu dengan rasa manis yang dirasakannya setiap memagut bibir Haechan. Rasa manis dan lembutnya membuat Mark selalu ingin merasakannya.
Hanya saja Mark tidak bisa lama-lama menyesap bibir Haechan karena oksigen yang diperlukan keduanya kian menipis. Mark dengan terpaksa melepaskan ciumannya. Dia tidak ingin kehabisan nafas hanya karena ciuman panjang meraka. Sebagai gantinya Mark memeluk Haechan dengan erat dan melayangkan kecupan diseluruh wajah Haechan.
"I love you baby bear"
"I love you too Mr. Lion"
Inilah akhir dari kisah Haechan dengan si pengirim surat yang berakhir bahagia seperti di drama-drama populer. Mungkin memang tidak bisa dipercaya jika kejadian-kejadian fiksi seperti di drama itu terjadi dalam kehidupannya. Namun kita tidak mengetahui bagaimana nasib kisah cinta kita masing-masing. Mungkin saja tidak hanya Haechan yang merasakannya. Kalian bisa juga merasakannya. Memohon saja kepada yang maha kuasa untuk mendapatkan jodoh yang terbaik dan percayalah jika keajaiban selalu ada dalam hidul kita.
FIN
