Disclaimer : Vocaloid - Yamaha & Crypton
Perhatian! Cerita ini mengandung typo(s), sedikit gore, OOC, EYD yang salah, alur yang berantakan dan lain lain.
LET THERE BE LIGHT
Chapter 6 – Somewhere I Belong
.
.
Berlari berjam jam lamanya menjauh dari neraka tanpa sedikit pun menoleh ke arah belakang. Puji syukur dipanjatkan kepada Sang Dewi karena mereka diberi kesempatan untuk hidup sekali lagi, berdoa juga untuk para prajurit yang gugur dengan terhormat di medan perang. Cathair di depan mata mereka, menjulang tinggi dan berdiri kokoh laksana kesatria gagah. Tembok batu mengelilingi kehidupan di dalamnya dengan megah, seakan menjanjikan kedamaian di dalam sana.
Mikuo berteriak kepada penjaga gerbang memberikan isyarat agar dibukakan pintu agar dapat memasuki Cathair. Pintu gading raksasa perlahan terangkat membiarkan cahaya senja menerobos masuk menyinari sebuah permukiman di dalamnya. Mereka berempat masuk tak peduli tatapan aneh para penghuni Cathair yang ditunjukan mereka. Mereka berdecak kagum melihat pemandangan dari dalam, memang terlihat bagai penjara dari luar. Tetapi yang ada di dalam sini justru melebihi pemikiran mereka.
Permukiman padat yang tertata rapi sehingga tidak terlihat bobrok. Tembok yang menjulang mengitari serta melindungi apa yang di dalamnya namun tidak menutup bagian atas sehingga sang langit masih bisa menampakan diri. Tidak perlu berlama lagi untuk terkagum, mereka harus mencari tetua desa secepatnya, memastikan agar pak tua itu selamat sampai sini.
Len merangkul Kaito yang mengeluh sakitnya kambuh karena memaksakan diri untuk berlari. Berpisah dengan Neru dan Mikuo, Len membawa Kaito ke tempat pengobatan membiarkan Kaito beristirahat serta memulihkan diri. Diobati pula kakinya untuk mengcegah kembalinya rasa sakit. tak lupa juga meminum suplemen penambah tenaga untuk membantu mengusir rasa lelah dalam tubuhnya.
Cahaya matahari senja masih menyinari Len tatkala ia keluar dari tempat pengobatan.
"Tuan Len dari Kaum Domba!" sebuah suara merusak kedamaian Len saat merasakan hangatnya sinar mentari senja. Len menoleh ke sumber suara, mendapati seorang penduduk dari desa berlari ke arahnya.
"Puji syukur kepada Sang Dewi karena anda selamat tuan Len! " Lelaki paruh baya itu berbicara dengan nafas terengah engah.
"Puji syukur juga ku panjatkan kepada Sang Dewi atas mereka yang diberi kehidupan di dalam sini." Len membalas doa sekaligus memberi kesempatan kepada lelaki itu untuk mengatur nafasnya. Setelah berhasil mengatur nafasnya kini lelaki itu melanjutkan pembicaraan.
" Tetua dari desa sedang menunggu anda tuan Len. Beliau menginginkan anda mendampinginya saat rapat."
"Rapat?" Len menghela nafas lega begitu mengetahui bahwa tetua selamat. Tetapi... Rapat apa yang dimaksudkan?
"Anda akan mengetahuinya setelah sampai disana. Mari biarkan saya antar anda menuju tempatnya." Raut wajah bingung Len terganti dengan kekhawatiran, takut akan segalanya tidak berjalan baik bagi mereka yang mengungsi disini.
Lelaki itu mulai berjalan, langkahnya agak cepat menandakan bahwa ia sedang terburu buru. Len agak kewalahan dalam mengikuti langkahnya mencoba sebisa mungkin tidak kehilangan jejak dalam keramaian dan lalu lalang penduduk. Langkah lelaki itu melambat ketika langkahnya membawa menuju tempat yang lebih sepi tanpa keramaian penduduk dan kemudian terhenti di depan sebuah bangunan megah dan menjulang tinggi.
"Disinilah tempatnya tuan Len." Ucap lelaki paruh baya itu sembari membalikan tubuh menatap Len yang baru sampai menyusul. Len hanya diam menatap bangunan megah di depannya sebelum lelaki itu kembali melanjutkan pembicarannya.
"Tempat ini adalah rumah bagi Raja di Cathair ini. Rapat ini juga dihadirinya dan para petinggi lain. Jadi mohon tunjukan tata krama dan kesopanan." Len hanya mengangguk menandakan bahwa ia mengerti. Lelaki itu tersenyum kemudian melangkahkan kakinya lagi membawa Len menuju apa yang di balik pintu dari bangunan megah di depannya.
.
.
Rapat baru saja akan dimulai. Len memberi hormat sebelum duduk disebelah tetua desa menghadap Raja dari Cathair. Dilihatnya banyak orang orang yang tampaknya adalah para aparat petinggi, baik dari Cathair maupun desa, serta para prajurit yang bertugas menjaga keamanan termasuk Neru dan Mikuo.
"Dari apa yang saya simpulkan... Setelah kedamaian yang berlangsung bertahun tahun lamanya, para Iblis kini telah kembali untuk menjajah daratan ini dan kemudian menyerang desa kalian, sehingga membuat kalian harus mengungsi kesini. Bukan begitu?" Rapat dimulai dari cerita singkat yang dijabarkan oleh Raja atas kejadian yang baru saja terjadi.
"Benar… sebelum itu, tiga orang dari Kaum Domba memperingatkan kami akan kedatangan iblis. Tempat mereka juga sudah diserang sebelum kejadian itu terjadi." Tetua menambahkan. Len dan Neru memberi hormat, memberi tanda bahwa merekalah orang yang dimaksud.
"Baik kalian Kaum Domba ataupun para penduduk desa benar benar bodoh." Sebuah perkataan yang sangat dingin keluar dari mulut Raja. Perkataan tidak pantas itu membuat seluruh peserta dari desa menggeram kesal.
"Kalian terlalu lalai akan kedamaian sesaat! Dan terlalu percaya diri akan kekuatan kalian! Dan setelah menerima akibat dari kebodohan kalian. Kalian meminta pertolongan kami?!" Seru Raja dengan nada membentak, membungkam setiap cacian yang keluar dari mulut para peserta.
"Kami berdoa kepada Sang Dewi, memohon perlindungan dan kehidupan yang makmur. Apa yang terjadi adalah karena kami adalah pendosa… Dewi tidak menjawab doa kami." Ucap tetua. Nada bicaranya tenang nampak ia tidak ikut tersulut emosi.
"Dewi tidak akan menjawab doa kalian! Kami bertahan dengan kekuatan kami sendiri, membangun benteng raksasa untuk menopang kedamaian dan kehidupan kami! Kalian sebagai manusia seharusnya berpikir secara logis! Benar benar tidak habis pikir, Kalian melakukan hal bodoh semacam itu!" Perkataan Raja menyulut emosi beberapa peserta dari penduduk desa. Mereka dikendalikan amarah, mencoba menyerang Raja secara terang terangan. Beberapa prajurit terpaksa mengamankan mereka bahkan sampai menggunakan kekerasan.
'Orang orang ini… mereka atheis'Pikir Len menanggapi perkataan Raja barusan. Dia menggeram kesal, namun mencoba menahan emosinya agar tidak meledak.
"Apa yang harus dilakukan adalah meminta bantuan dari Kaum Domba di daratan ini. Mereka lah yang akan bertanggung jawab dalam membasmi Iblis." Salah satu petinggi dari Cathair membela dengan memberikan solusi lain.
"Memang itulah solusi yang akan kita ambil… tetapi tidak akan membawa wilayah ini dan sekitarnya bersih dari iblis. Para prajurit terbaik dari dataran ini sudah dikirim ke dataran Edenia, tempat induk Kaum Domba berasal yang bermil mil jauhnya. Butuh waktu bertahun tahun untuk mewujudkannya. Apa yang terpenting adalah kelangsungan hidup kita di dalam sini." Seorang pria tua menanggapi solusi tadi.
"Jumlah pengungsi cukuplah banyak. Kami tidak yakin bisa menampung mereka semua." Seorang wanita gemuk dengan dandanan berlebihan menambahkan.
'Keparat… mereka… mencoba mengambil keuntungan.'
Len mengepalkan tangannya sangat kuat, tubuhnya bergetar menahan amarah. Dia ingin meledak… sesaat sebelum ia mengeluarkan amarah yang terpendam, niatnya tertahan ketika merasakan telapak tangan di pundaknya. Menoleh kesamping, Len mendapati tetua sedang tersenyum ke arahnya mencoba menenangkan sebelum berdiri menghadap Sang Raja Cathair.
"Kami akan memberikan tawaran… kami akan mengurus ternak dan ladang! Kami hanya akan menempati permukiman kosong di dekat dinding yang sudah bobrok! Dan setiap penduduk hamba akan mengikuti pelatihan militer demi kelangsungan benteng ini!" Tetua berbicara dengan suara lantang. Tawarannya tentu mendapatkan keluhan dari setiap penduduknya. Tetapi ia tidak memiliki pilihan lain. Tinggal di luar Cathair sangatlah berbahaya mengingat prajurit yang dimilikinya habis tak bersisa.
Di tengah keheningan para penduduk desa karena menyadari tak ada cara lain lagi. Sang Raja tertawa.
"Aku menyukai gagasanmu itu pak tua. Kalian akan berada di bawah pengawasanku selama tinggal di sini. Tetapi ada satu hal lagi…"
"Apa itu yang mulia?" Tanya tetua penasaran akan kata menggantung dari Sang Raja.
"Para Kaum Domba itu tidak boleh tinggal disini."
Suara protes kembali terdengar. Puluhan kata terkicau berbunyi 'keadilan'. Len dan Neru terperangah mendengar ucapan raja.
"Mengapa demikian?"
"Keberadaan mereka memancing Kaum Serigala. Kami hanya tidak ingin ada peperangan hanya karena masalah sepele. Jika mereka bersikeras maka mereka akan dieksekusi."
"Anda membela para pemuja iblis?"
"Baik Kaum Domba ataupun Kaum Serigala sama saja. Kehidupan di sini adalah yang terpenting. Bagi siapa yang mengusik tidak di terima disini. Kalian keberatan?"
Dengan berat hati mereka berkata "Tidak… tidak sama sekali."
.
.
Ketukan palu sudah terdengar menandakan pertemuan tadi sudah berakhir. Tirai malam sudah menampakan diri menggantikan sang mentari senja tatkala mereka keluar dari bangunan mewah yang barusan mereka singgahi. Len berdiri di tanah lapang, menatap langit memijat keningnya. Indahnya malam tenang dengan bulan dan bintang yang menghias tirai gelap mencoba mengalihkan pikiran tentang keberadaan makhluk asing di luar dinding.
"Maaf… saya tidak bisa berbuat apa apa." Tetua membungkuk kepada Len dan Neru. Meminta maaf sedalam dalamnya.
"Tidak apa apa… kami mengerti. Jika keberadaan kami mengganggu kehidupan kalian maka lebih baik kami pergi. Pada akhirnya… harus ada yang dikorbankan, bukan begitu?" Len tersenyum.
"Kemana kita akan pergi Len?"
"Entahlah… kau bisa pergi kemanapun yang kau suka. Aku akan mengecek keadaan Kaito duu."
"Bagaimana denganmu, kemana kau akan pergi?"
Len melangkahkan kakinya meninggalkan mereka. Sebelum pergi terlalu jauh Len berkata. Perkataan yang membuat Neru ataupun Tetua terkejut.
"Mungkin… Edenia."
TO BE CONTINUED
.
.
Pojok Author :
Sebelumnya maaf harus telat. Laptop saya habis kebanting, kabel fleksibel rusak dan baru aja sembuh. Dan di chapter sebelumnya saya bilang kalo ini chap terakhir di arc ini ya? Maaf juga… itu gak jadi. Mungkin di chap depan atau depannya lagi. Soalnya lebih panjang dari yang saya duga. Dan satu lagi maaf juga karena chap yang ini pendek, karena saya beru sempet nulis disaat laptop saya sembuh. Sebagai gantinya minggu ini saya bakalan apdet juga selain chap ini.
.
.
Saya akan berterima kasih jika para senior mau memberikan masukan lewat review.
Sampai bertemu di chapter depan!
