Summary:
"My name… what was it?"
.
.
A Fanfiction Inspired by:
Western Series(es): Lucifer | Constantine | Grimm
Disclaimer: I own nothing except the story line
Genre: Supernatural, Romance, Mystery, Humor gagal, a lil bit Crime, Myth, Fantasy, Gore (seriously, I'm no good at this)
Starring :
Kim Taehyung x Jeon Jungkook
Discover the supporting casts
Rated: M
WARNING!
Tae yang suka tidur sana-sini (I'm so done with him)
Boy x boy, typo, ambigu, banyak istilah asing, swearing, harsh words, umpatan kasar, gore
.
.
"Good Devil, Lucifer Fall!"
Part VII: the Name
"Detektif Park."
Suara yang memanggil ketika ia hendak keluar dari kantor membuat Jimin menoleh cepat. Didapatinya sang kapten di sana, berjalan tergesa menghampiri dirinya yang sebenarnya juga terburu-buru.
"Bagaimana perkembangan kasusnya?" tanya Bang Shi Hyuk. Raut wajahnya terlihat serius.
Jimin menggeleng pelan. "Aku berterima kasih karena Kapten mengizinkanku menginterogasi seluruh orang yang pagi itu di kantor, dan semuanya memiliki alibi yang kuat. Aku tidak bisa bilang keterangan dari mereka membantu penyelidikan."
Pria paruh baya itu menghela nafas kasar, mereka lalu sama-sama berjalan menuju tempat parkir. Tim penyelidik memang membutuhkan keterangan sebanyak-banyaknya dari siapapun yang pagi itu berada di kantor. Bisa jadi mereka menemukan hal-hal yang ganjil, atau malah pelakunya adalah salah satu dari mereka. Yang manapun itu, kemungkinan tetaplah ada.
"Pihak rumah sakit baru saja menelfon, katanya Jungkook sudah sadar." gumam sang detektif kala ia sudah berada di dekat mobilnya. Ia segera membuka pintu dan masuk ke dalamnya tanpa menunggu reaksi sang atasan. "Maaf kapten, aku harus segera ke sana."
Kapten Bang menghela nafas maklum. Bagaimanapun, ini sudah dua hari sejak kejadian penyerangan di rumah detektif Jeon terjadi. Dua anak buahnya yang berharga diserang begitu saja, dan Bang Shi Hyuk selaku atasan merasa bertanggung jawab atas itu. "Berikan aku kabar begitu kau sampai sana. Hubungi ponselku saja, aku akan berada di kantor dan berusaha mendapatkan petunjuk."
Park Jimin mengangguk sebelum menjalankan mobilnya. Sejujurnya ia masih merasa sangat kacau. Malam itu tiba-tiba saja Min Suga mendatanginya di kantor. Ia bicara cepat sekali, dan sang detektif sejujurnnya tidak mengerti. Namun ia menangkap poin bahwa Jungkook dan Yugyeom dalam bahaya, maka ia langsung melaju kencang dengan mobilnya menuju kediaman Jeon.
Detektif Park tidak tahu harus merasa senang atau sedih, karena setibanya di sana, Jungkook dan Yugyeom ditemukan dalam keadaan tidak sadar. Pemuda bersurai tembaga dalam keadaan yang lebih baik dari rekannya, namun tetap harus mendapat penanganan ekstra. Beruntung beberapa saat kemudian, tim polisi dan sebuah mobil ambulans datang.
.
Detektif Park mengambil nafas dalam-dalam di depan sebuah ruang vip di rumah sakit. Dokter baru saja memberitahunya bahwa Jungkook masih dalam keadaan shock. Ia terlihat linglung, dan respons yang diberikan ketika diajak bicara bisa dibilang buruk. Kemungkinan besar karena detektif Jeon memang enggan menanggapi. Maka dari itu, pria bermata sipit harus ekstra sabar saat mengajaknya bicara.
Jimin mengetuk pintu beberapa kali sebelum membukanya. Ia masuk begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Jeon muda. Pria bersurai hitam meringis saat mendapati Jungkook setengah berbaring di ranjang pasien. Helaian sewarna copper-nya terlihat berantakan, sepasang matanya menatap kosong ke arah jendela.
"Jungkook." panggilnya sembari mendudukkan diri di kursi yang diletakkan di sebelah ranjang. Tangannya terjulur untuk menyingkirkan poni yang menutup kening sahabatnya. "Bagaimana perasaanmu?"
Awalnya, Jimin pikir ia tidak akan mendapat tanggapan apapun, namun bibir mungil itu bergerak dan mengeluarkan suara bernada datar. "Buruk."
Pria yang lebih tua mengerjabkan matanya berkali-kali. Respons yang diberikan benar-benar di luar dugaan. Kalau bukan karena detektif Jeon yang menoleh dan menatapnya dengan sorot yang sulit diartikan, Jimin pasti masih melamun.
"Kau bisa cerita padaku." Jimin tersenyum ramah. Ia mengusap punggung tangan kiri sahabatnya dengan hati-hati, berusaha tidak menyenggol selang infus. Ia akan menunggu sampai Jeon muda mau bercerita. Apapun itu, Park Jimin akan mendengarkannya dengan baik. Mungkin, ini akan berguna untuk mengetahui siapa pelaku penyerangan.
Bisa dibilang, sebagai pengganti interogasi yang belum jadi mereka lakoni.
Butuh beberapa saat bagi Jungkook untuk kembali bicara. "Kalau aku bilang aku bertemu seorang iblis, apa kau percaya padaku?"
"Iblis?" pria Park membeo. Kedua alisnya bertaut heran, sejujurnya ia merasa bingung. "Kau bertemu orang jahat. Aku mengerti."
Jungkook tersenyum miris, tentu Jimin tidak akan percaya dengan hal-hal berbau mistis seperti itu. Ia merasa akan percuma saja jika bercerita pada pemilik surai hitam. Lebih baik dipendamnya sendiri.
"Yugyeom… apa dia baik-baik saja?"
Ada jeda cukup lama sebelum Jimin menjawabnya, dan saat itulah ia tahu sang polisi tidak baik-baik saja.
"Kau istirahatlah agar luka di tubuhmu cepat sembuh." ucap penyandang marga Park memperlihatkan senyuman. Ia mengambil nafas cukup dalam. "Beberapa rusukmu memar, tulang jari tengah dan jari manis yang sebelah kanan retak. Kakimu juga terkilir, belum lebam di beberapa bagian. Kau butuh banyak istirahat."
"Jim… kau tahu aku menanyakan Yugyeom, bukan diriku sendiri."
Mereka bertatapan cukup lama, tanpa suara. Yang lebih tua bisa melihat kekhawatiran di manik sekelam malam Jungkook. Terselip ketakutan di sana, juga rasa bersalah yang tak mampu ditutupi. Ia tahu, bagaimanapun kejadian itu terjadi saat Kim Yugyeom bertugas untuk melindungi Jeon Jungkook.
"Jim… dia baik-baik saja kan?" ulangnya penuh antisipasi.
"Aku tidak akan bohong." Yang ditanya menghela nafas berat, tangannya kembali terulur untuk mengusap kepala pemuda yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri. "Aku tidak tahu bagaimana tulang selangka sebelah kirinya bisa patah seperti itu, tapi Yugyeom harus mendapat penanganan ekstra. Keadaan bahunya juga buruk. Dan dia mengeluarkan terlalu banyak darah. Tubuhmu mengalami memar lebih banyak dari dia, tapi…"
Jungkook menunggu. Ia hanya butuh satu frasa.
"Yugyeom masih dalam keadaan kritis."
Tubuh detektif Jeon melemas. Itu bukan kalimat yang diharapkannya, namun cukup untuk memberikan satu informasi penting baginya; Kim Yugyeom masih hidup. Walau ia tidak tahu apakah harus meratapi keadaan sahabatnya, atau bersyukur karena jantung officer Kim masih berdetak.
"Dia akan baik-baik saja. Kau tenanglah."
"Aku tidak bisa, Jim." gumam Jungkook. Ia menutup mata dengan punggung tangan kanannya, tak peduli apakah jarum yang tertanam disana akan melukai atau selang infusnya tertekan dan lain sebagainya. "Ini semua salahku. Kalau saja aku tidak membiarkannya ikut pulang, pasti keadaannya tidak akan seperti ini."
"Kook…"
"Dia datang padaku, Jim. Wanita itu mencoba membunuhku, bukan Yugyeom. Seharusnya aku yang mendapatkan semua luka itu, tapi karena si bodoh Yugyeom ada di sana, dia ingin menyingkirkannya juga…"
Detektif Park diam. Ia membiarkan Jungkook menenangkan dirinya. Tak lupa dicatatnya di dalam kepala bahwa pelaku penyerangan dua hari yang lalu adalah seorang wanita. Sejujurnya ia ingin banyak bertanya, namun Jimin memilih diam saja. Bukan apa-apa, ia hanya tidak ingin penyandang marga Jeon stress karenanya.
"Dia yang menuliskan pesan dari neraka itu padaku. Aku tahu Kim Taehyung seorang bajingan, tapi aku tidak tahu bagaimana dia mengenal jalang sepertinya."
Jimin terkesiap. Ia menatap lekat Jungkook yang masih setia dengan posisinya semula.
Pelaku vandalisme adalah orang yang sama dengan pelaku penyerangan. Dugaan awal mereka tepat, itu adalah aksi teror yang ditujukan untuk detektif Jeon. Dan sang pelaku tidak main-main, ia bahkan hampir membunuh targetnya, plus seorang polisi yang ditugaskan untuk menjaga korban.
"Dia bilang padamu?"
Jungkook mengangguk tanpa mengubah posisinya.
Jimin tak akan bertanya lagi. Ia tidak ingin Jeon Jungkook bertambah pusingmengingat yang terjadi kepada rekannya. Ini bukan pertama kalinya Yugyeom terluka saat bertugas, tapi fakta bahwa sang polisi hampir mati saat mencoba melindunginya pasti memberikan tamparan panas untuk Jungkook.
"Kembalilah ke kantor, Jim. Kau masih banyak pekerjaan kan?" Jungkook menjeda selama sepersekian detik, tak membiarkan rekan detektifnya bicara. "Aku akan baik-baik saja di sini."
Jimin tersenyum maklum. Jungkook masih menutupi matanya namun ia tahu, bocah keras kapala itu tengah menangis. Pria bersurai gelap sadar, rekannya menangis bukan karena ketakutan, ataupun luka yang dialaminya. Ia menangis karena rasa bersalah kepada Kim Yugyeom. Walau keduanya sering beradu mulut dan memaki, sebenarnya mereka saling menyayangi.
"Ya sudah, hubungi aku kalau ada apa-apa." gumamnya seraya mengusap puncak kepala yang lebih muda.
Penyandang marga Park langsung meninggalkan tempat itu. Ia tahu Jeon Jungkook masih butuh waktu sebelum ia siap untuk mengatakan semua yang diingat, tapi setidaknya ia menemukan beberapa fakta baru.
Tangannya dengan lincah merogoh saku celana untuk mengambil ponsel. Sementara yang satunya mengambil satu kartu nama yang ia simpan dengan rapi di dompetnya.
Sebuah nama tertera di sama; Kim Taehyung.
Dan detektif Park langsung menghubungi nomor yang ada di bawah namanya.
"Halo." suara yang sama sekali tidak ramah itu langsung menyapa gendang telinga.
Jimin mengambil nafas dalam, ia bicara sambil berjalan cepat menuju mobilnya. "Tuan Kim Taehyung?"
"Ya. Ada apa?"
Sang detektif mengeryit, pertanyaan yang biasa ia dapat untuk pertama kalinya adalah siapa, namun Kim Taehyung malah langsung menanyakan keperluannya seolah sudah tahu siapa yang menghubungi.
"Park Jimin dari kepolisian." ia mengambil nafas, bagaimanapun memperkenalkan diri merupakan bagian dari prosedur kerja. "Aku ingin bertemu denganmu untuk menanyakan beberapa hal."
Ada jeda yang terjadi setelahnya, dan Jimin bersumpah, ia mendengar bunyi sesuatu yang pecah dan teriakan walau hanya samar.
"Temui aku di klub. Aku akan berada di sana sepanjang malam. Katakan saja pada penjaga kau memiliki janji denganku."
Belum sempat memberikan jawaban apapun, sambungan telfon sudah ditutup terlebih dahulu. Jimin tentu mengeryit keheranan. Ia sempat mendengar orang seperti apa Kim Taehyung itu. Dan seingatnya, pria itu dianggap sebagai sosok yang ramah hingga ke tingkat berkharisma dan dihormati.
Tapi yang barusan?
Jimin menggeleng ringan. Persetan dengan apa yang dikatakan Kim Taehyung melalui sambungan telfon, ia harus segera menemui pria itu. Jungkook mengatakan bahwa yang menyerangnya adalah seorang wanita, dan secara tidak langsung ia menambahkan fakta bahwa Kim Taehyung mengenal orang itu.
Detektif Park harus segera menemuinya karena perasaannya mengatakan bahwa ia akan mendapatkan sesuatu dari Kim Taehyung. Tentu ia memberitahukan semua rencananya kepada sang kapten terlebih dahulu.
Dan disinilah ia, duduk di sebuah meja berbentuk lingkaran di Six, tepatnya di lantai tiga. Jimin menunggu dengan gelisah. Pasalnya, ini sudah lebih dari lima belas menit semenjak seseorang yang mengaku bernama Jung Hoseok mengantarnya ke meja tempatnya duduk. Parahnya, dari beberapa meja kayu yang ada, juga rak-rak berisi botol liquor yang telah kosong, hanya ada Park Jimin, duduk sendirian di salah satu meja yang dekat dengan tembok pembatas, membuatnya dengan leluasa melihat ke lantai dasar tempat orang-orang berdansa dan duduk di meja bar. Ada sedikit bagian lantai dua yang terlihat. Jimin berasumsi mereka yang bisa naik ke lantai dua adalah anggota eksklusif klub.
"Maaf membuatmu menunggu lama."
Sebuah suara berat berhasil membuatnya terlonjak. Detektif Park menoleh cepat ke arah pria berpakaian serba hitam; kaos tipis hitam polos yang ditumpuk jaket kulit dengan warna yang sama. Bawahannya memakai celana panjang berbahan latex, juga combat boots yang masing-masing berwarna hitam.
Jimin mengeryit. Pria ini mengatakan bahwa ia telah membuat sang detektif menunggu, jadi bisa dipastikan bahwa ia yang bernama Kim Taehyung. Tapi pakaian yang ia kenakan jauh dari image pemilik klub se-elit Six.
"Maaf soal pakaianku." gumam pemilik surai sekelam arang seolah bisa membaca pikiran detektif di hadapannya. "Malam ini aku tidak berniat menemui para tamu. Jadi, yeah… aku tidak memakai jas seperti biasanya."
Taehyung terkekeh, ia meletakkan sebotol Tanqueray London Dry Gin di meja, lalu menaruh dua gelas pendek yang sedari tadi dibawanya.
"Sebentar, kau mungkin suka G&T." tanpa menunggu sang detektif bereaksi, pemilik klub sudah terlebih dahulu berjalan menuju sudut ruangan, ia membuka kulkas yang ada di sana dan mengambil sebotol tonic water, dan bucket penuh dengan ice cube. Ia membawa keduanya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya membawa sebuah mangkuk besar dengan beberapa buah lemon, sebuah sendok panjang dan satu pisau di dalamnya.
"Tolong, jangan repot-repot." ucap Jimin canggung. Ia menghampiri pria Kim dan membantunya membawa tonic water dan mangkuk buah. "Aku disini hanya untuk menanyakan beberapa hal. Sebenarnya kau tidak perlu menjamuku."
"Kau mirip Jungkook. Dia juga menolak wine yang kutawarkan." Taehyung tertawa ringan, mereka lalu duduk saling berhadapan dengan meja yang penuh. Ia kembali bicara sebelum sang detektif sempat menyahut. "Tapi aku tidak menerima penolakanmu karena aku sudah bersusah payah membawa macam-macam. Jadi, Gin and Tonic?"
Kalau ia tidak salah ingat, pria bernama Kim Taehyung yang mengangkat telfonnya tadi benar-benar terdengar arogan dan tidak ramah. Kalau bukan karena suara beratnya yang khas, pasti Park Jimin tidak akan percaya kalau yang bicara dengannya melalui sambungan telefon dan yang kini duduk di hadapannya adalah orang yang sama.
Jimin menghela nafas berat, ia mengangguk pasrah. Ini melanggar aturan kerja, tapi detektif Park memiliki alasan lain yang membuatnya menerima tawaran Kim Taehyung; dirinya memang butuh sedikit alkohol untuk menjernihkan pikiran.
Segelas saja tidak akan mengganggu konsentrasinya.
"Bagus." gumam pria Kim singkat. Aura angkuh itu masih ada, namun entah bagaimana tertutup dengan cara bicaranya yang santai. "Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?"
"Sebelumnya, perkenalkan, aku Park Jimin, detektif dari kantor kepolisian kota." Jimin mengamati tangan Taehyung yang bergerak lincah memotong lemon dan memerasnya ke salah satu gelas. Ia lalu menuang gin sebelum menambahkan kubus-kubus es. Sang detektif menarik nafas usai mendapat anggukan sebagai jawaban dari perkenalannya. "Aku ingin tahu sejak kapan kau mengenal Jeon Jungkook."
"Hmm… tanggalnya aku tidak ingat, tapi saat itu dia datang untuk menyelidiki kasus Irene." Taehyung fokus dengan kegiatannya menuang tonic, lalu mengaduk campuran yang ada di dalam gelas menggunakan sendok bergagang panjang. Tak lama setelahnya ia menambahkan irisan lemon sebagai hiasan dan menaruhnya di hadapan sang detektif. "Aku jamin rasanya enak."
Jimin hanya tersenyum.
Jeon Jungkook adalah satu-satunya yang bisa membuat ketegasan seorang Park Jimin luntur begitu saja. Ia tidak akan pernah bisa marah kepada namja bersurai tembaga. Dan Kim Taehyung membuatnya lebih tak berdaya. Jimin seharusnya menginterogasi pria yang kini menuang gin ke dalam gelas berisi es batu miliknya, bukannya malah duduk bersama sambil meneguk minuman beralkohol seperti teman lama yang tengah bernoslatgia.
Sang detektif merasa dirinya konyol.
"Aku lebih suka gin on rock tanpa tambahan apapun." gumam penyandang marga Kim. Ia mengangkat gelasnya, mengajak bersulang.
Mau tak mau sang detektif menerima ajakannya. Ia menyesap gin and tonic buatan pemilik klub Six, dan saat itu juga, ia merasa baru saja mencicipi surga.
"Kubilang rasanya akan enak." Taehyung menggoyangkan gelas miliknya usai meneguk setengah isinya, membuat es di dalamnya saling berbenturan, menari di tengah minuman memabukkan.
Park Jimin meletakkan gelasnya canggung. Ia seolah baru saja tertangkap basah menikmati sesuatu yang harusnya tak pernah ia cicipi. Detektif Park berdehem sekali, ia mengharuskan dirinya untuk fokus atau ia akan berakhir mabuk karena G&T racikan Kim Taehyung benar-benar lebih dari nikmat. Yang terbaik dari yang pernah ia rasakan walau sepertinya gin yang digunakan bukan termasuk kualitas luar biasa.
"Beberapa hari lalu, ada orang iseng merusak hutan kota. Nama Jungkook tertulis disana, jadi kupikir ini merupakan sebuah ancaman bagi siapapun Jungkook yang dimaksud oleh si pelaku."
"Ah, aku lihat beritanya di televisi." pria dengan jaket kulit menyilangkan kakinya, ia menyandarkan punggungnya santai.
Jimin memejamkan matanya sesaat, mencoba menahan godaan untuk menyentuh liquor di hadapannya. "Kami yakin Jungkook yang dimaksud adalah detektif Jeon ketika hari beriktnya, ada orang iseng yang mencoret-coret tembok kantor polisi. Dan malamnya, Jungkook benar-benar diserang."
Sang detektif mengamatinya dengan saksama, ekspresi wajah Kim Taehyung ketika dirinya bercerita. Bagaimanapun, ia sempat dengar bahwa pria di hadapannya dekat dengan Jeon Jungkook. Bahkan Min Suga mengatakan mereka sepasang kekasih.
"Apa Jungkook baik-baik saja?"
Penyandang marga Park tidak yakin, tapi seperti ada nada khawatir dari kalimatnya, walau ekspresi pria Kim datar sempurna. "Dia sadar beberapa jam yang lalu, tapi aku belum bisa mendapatkan banyak keterangan darinya. Bagaimanapun, dia masih shock karena satu teman kami yang ditugaskan untuk menjaganya malam itu, kini dalam keadaan kritis."
Kim Taehyung meneguk gin di gelasnya hingga habis sebelum kembali menuanginya hingga penuh.
"Jungkook bilang pelakunya adalah seorang wanita, dan kau mengenalnya." sang detektif mengambil nafas dalam. "Dugaanku, wanita itu bilang dia mengenalmu. Apa kau kenal seseorang yang sekiranya berpotensi untuk melakukan penyerangan dan teror seperti itu? Menurut Jeon Jungkook, perusak hutan kota dan penyerangnya adalah orang yang sama."
"Aku mengenal banyak wanita yang mudah sekali cemburu, dan aku tidak mengingat mereka. Apa harus kucari satu per satu?"
Jimin mengepalkan tangannya, mencoba untuk meredam amarah di dalam dirinya. Bagaimanapun, Jungkook belum sepenuhnya menyangkal perihal hubungannya dengan pemilik klub Six, jadi bayangan bahwa Jeon Jungkook dan Kim Taehyung adalah sepasang kekasih, dengan pria Kim yang secara gamblang mengaku bahwa ia mengenal banyak wanita benar-benar membuatnya geram.
"Aku dengar dari Min Suga bahwa kau adalah kekasih Jeon Jungkook, apa itu benar? Yah, siapa tahu mantan kekasihmu merasa cemburu dan melakukan hal nekat." sang detektif masih menatap lekat lawan bicaranya. Ia benar-benar tak ingin melewatkan sedikitpun gerakan atau perubahan raut wajah dari pria yang kini kembali menuang gelasnya dengan liquor.
Menggoyangkan gelas di tangannya, Taehyung terkekeh ringan. "Aku ingin dia menjadi kekasihku, tapi sepertinya aku belum bisa mendapatkannya. Yah, mungkin sebentar lagi."
Terselip keyakinan dalam setiap kalimat yang ia ucapkan, Jimin tahu itu. Tapi ada sesuatu yang berbeda di sana, dan sang detektif tidak tahu apa. Dan nama Min Suga yang baru ia ucapkan membuatnya teringat akan sesuatu.
"Aku tidak akan menanyakan hal lebih jauh mengenai kau dan para wanita yang kau miliki, tapi kuharap kau bisa mengingat beberapa nama yang mungkin bisa membantu penyelidikan." sang detektif menjeda hanya untuk mendapat dengusan meremehkan dari lawan bicaranya. Ia merasa percuma menanyakan hal itu kepada pria Kim. Tipe sepertinya pasti tidak akan ingat dengan siapa saja dirinya berkencan. Tapi ada yang lebih penting dari itu. "Min Suga… kau mengenalnya kan?"
Taehyung terkekeh ringan. "Bisa dibilang begitu."
"Bocah itu menghilang begitu ia menemuiku malam itu. Awalnya aku memasukkan namanya ke daftar tersangka, tapi Jungkook dengan jelas mengatakan bahwa pelakunya adalah seorang wanita." Park Jimin melayangkan sebuah tatapan tajam. "Kau tahu dimana dia berada?"
Pria Kim membalasnya dengan sorot yang sulit diartikan. "Ada perlu apa dengannya?"
"Mungkin aku konyol karena baru mengingatnya ketika di jalan tadi, tapi jelas bocah itu bilang pangeran akan marah padaku beberapa saat sebelum kami berpisah." mengambil nafas dalam, ia melanjutkan dengan suara tegas. "Seingatku, satu-satunya yang dipanggil pangeran oleh Min Suga adalah kau, Tuan Kim Taehyung."
Park Jimin berani bersumpah, seluruh bulu kuduknya meremang saat mendengar Taehyung tertawa. Bahkan untuk berkedip pun ia tak bisa, tubuhnya seolah mematung. Tawa itu terdengar mengerikan, dan entah bagaimana mampu menutupi suara musik yang menggema keras dari lantai bawah.
"Min Suga tidak datang padaku. Setahuku dia memang suka berkeliaran sendiri." sepasang iris sewarna samuderanya berkilat, menatap lekat manik kembar milik sang detektif di hadapannya. "Kau, pulanglah. Di sini bukan tempatmu dan kau tidak akan pernah bisa memecahkan kasus ini."
Beberapa detik berlalu dalam diam hingga tangan kiri Sang Pangeran terulur untuk menyentuh dahi Jimin. "Habiskan minumanmu, pulang dan katakan pada atasanmu bahwa kau tidak mendapatkan apapun dariku."
Seperti terkena mantra, tangan kiri detektif Park terulur untuk mengambil gelasnya. Ia meneguk seluruh isinya sampai habis, lalu berjalan dengan tatapan kosong menuruni tangga.
"Sampah!" umpatnya begitu sang detektif tidak terlihat. Ia menghentakkan kakinya ke lantai.
Dan saat itu, kobaran api menelan tubuhnya hingga tak bersisa.
.
.
.
.
.
Sososk pria berpakaian serba hitam berjalan angkuh melewati sebuah ruangan besar. Mereka yang berpapasan dengannya langsung menunduk sebagai tanda penghormatan kepada Sang Pangeran. Tak ada yang berani mengangkat kepala hingga sosoknya menghilang di ujung ruangan.
Tubuhnya berbalut jubah hitam panjang dengan lengan yang menutup hingga ke pergelangan. Ada dua buah sabuk tersemat di perutnya, juga dua lainnya yang melintang di dada. Krah tinggi menutupi leher jenjangnya, juga celana dan sepatu berwarna sama membalut pas tubuhnya. Rambut hitamnya terlihat lebih panjang dari biasanya, lebih legam, lebih pekat dari jelaga. Kesemua darinya berwarna hitam, sewarna dengan jiwanya, kecuali sebuah kain merah berbahan sutera yang tersampir di pundak kanannya, terjulur panjang hingga menyentuh lantai.
Juga bola mata sewarna laut dalam yang darimanapun masih terlihat biru.
"Pangeran…" gumam sebuah suara ragu. Nada ceria yang biasa ia gunakan kini lenyap etah kemana.
Bagaimanapun, tersimpan aura mengerikan di balik raut datar dari wajah tuannya.
"Aku akan membunuhnya malam ini juga." ucapnya penuh penekanan. Ia berjalan dengan langkah pasti memasuki sebuah ruangan sempit di area belakang istana. Dengan kasar, kakinya yang berbalut sepatu tebal menendang pintu baja di sana hingga ringsek.
Sosok yang berada di dalamnya meringkuk ketakutan, ia memeluk tubuhnya sendiri, masih dengan sosok manusianya, masih dengan sweater merah muda dan celana jeans-nya.
"Angkat kepalamu."
Bagai terkena mantra, pemuda berkulit pucat itu mengangkat wajahnya yang lebam dan penuh luka.
Satu tendangan pengenai pelipisnya hingga ia terlempar, menubruk tembok panas di belakangnya. Bibirnya merintih kecil, tak berani berteriak. Rasanya sungguh sakit, terlebih ketika Sang Pangeran menginjak lehernya murka.
"Kutanya sekali lagi, siapa tuanmu?"
Sosok bersurai hitam pudar mengepalkan tangannya kuat hingga membuat telapaknya terluka. Ia tak berani menyentuh tuannya, bahkan untuk sekedar memegang ujung sepatunya saja dirinya merasa tak pantas. "Tu -tuanku Lucifer."
"Bagus." berbeda dari ucapan memujinya, Lucifer kembali menendang tubuh itu tanpa sedikitpun menahan diri. "Kau tahu siapa tuanmu, tapi kau tidak bisa mematuhi perintahku."
Mata sosok berjubah coklat pekat yang berdiri di dekat pintu langsung berkilat kala Sang Pangeran mengangkat tinggi-tinggi tangan kirinya. Sebuah pedang berwarna keperakan muncul di sana, tergenggam sempurna di telapaknya.
"Kubilang lindungi Jeon Jungkook dengan nyawamu, panggil aku jika dia benar-benar dalam bahaya, bukannya pergi ke tempat manusia tak berguna." Lucifer menghunuskan pedangnya. "Mara. Kau iblis rendah tak tahu diri. Kutunjukkan padamu apa yang terjadi jika kau tidak patuh kepada tuanmu."
Masih dengan sosok manusianya, Mara memejamkan mata kecilnya rapat. Ia menahan nafas saat sensasi dingin menyentuh kulit lehernya. Ia merasa takut, sangat takut. Seumur hidupnya, ia tidak pernah merasa setakut ini, bahkan kepada saudara-saudaranya yang jauh lebih tua.
"Pangeran." panggil iblis berjubah coklat yang berdiri di belakang pangeran. Ia bersimpuh dengan tumpuan kaki kanannya. "Hamba, Azazel memohon pengampunan untuk Mara yang bertugas mengawal calon permaisuri Yang Mulia. Dia bilang, calon permasuri yang memerintahkannya untuk pergi menemui manusia itu."
Lucifer hanya melirik pengikut setianya, ia mendengus sekali sebelum kembali menfokuskan tatapan membunuhnya kepada iblis berkulit pucat yang terluka. Sesungguhnya keputusannya mutlak di Neraka, dan siapapun, termasuk tangan kanannya, tidak bisa mempengaruhi dirinya. Tapi Azazel adalah iblis yang tidak pernah memohon kepadanya jika bukan untuk sesuatu yang penting.
Maka ia mengambil nafasnya dalam-dalam sebelum kembali bicara. "Jungkook yang menyuruhmu menemui manusia tidak berguna itu?"
Pemuda berkulit pucat membuka matanya, masih memeluk tubuhnya yang bergetar, ia mengangguk cepat.
"Ka -katanya Pangeran tidak datang saat di -dipanggil, begitu."
"Jangan bercanda." sosok berjubah panjang meremat sutera merah di pundaknya. "Aku benar-benar akan memusnahkanmu jika kau bohong padaku."
Kali ini si pemuda menggeleng ketakutan, sebelah tangannya meremat topi rajut tuanya, membuat dirinya sendiri kembali ke sosok makhluk yang dipenuhi rambut dengan bola mata besar berwarna hijau.
Lucifer melempar pedangnya ke atas hingga benda itu menghilang ditelan udara. Ia berbalik, lalu berjalan melewati Azazel yang masih menundukkan kepalanya. "Angkat kepalamu, kau tidak pantas memohon untuk iblis rendah sepertinya."
Menurut, Azazel berdiri menegakkan tubuhnya. Manik sewarna batu batanya menatap lurus ke dalam kristal sekelam samudera milik tuannya.
"Awasi dia. Jika kuperintahkan untuk membunuhnya, kau harus melakukan itu."
Iblis bersurai kopi mengangguk patuh. Ia bahkan menunduk saat sang tuan berjalan melewatinya.
Lolos dari penglihatan, sang tangan kanan menyembunyikan seringai di bibirnya.
"Te -terima kasih, tuan." gumam sebuah suara bergetar membuat Azazel mengangkat wajahnya.
Ditatapnya lurus iblis ringkih yang masih meringkuk ketakutan. "Tidak masalah. Aku hanya tidak ingin pedang yang kuinginkan ternodai oleh darah iblis rendahan sepertimu."
Mara menganggukkan kepalanya beberapa kali. Manik sewarna zamrudnya takut-takut menatap Azazel. "Apa Pangeran Lucifer marah karena Jungkook tidak oke? Apamarahnya bertambah karena aku lupa mengembalikan gelasnya?"
Azazel terdiam beberapa saat. Ia bahkan lupa berkedip karena kalimat yang barusan terlontar dari bibir Mara berhasil membuat otaknya berhenti bekerja. Baru setelahnya, iblis kepercayaan pangeran terbahak. Tawanya menggema hingga ke dinding-dinding istana.
"Keputusanku untuk merendahkan diri sangat tepat. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana jadinya jika darah dari makhluk tolol sepertimu menodai pedang Michael."
Mara diam mengamati, ia tidah paham dengan apa yang Azazel katakan.
"Susah sekali mencarinya, tapi pangeran jelas selalu meninggalkannya di dalam istana. Cepat atau lambat, pasti akan kudapatkan."
.
.
.
.
.
Waktu menunjukkan tengah malam kala sosok berjubah hitam berdiri di sebuah ruangan sunyi. Sepasang mata sewarna laut dalamnya mengamati namja bersurai tembaga yang tengah terlelap dengan tangan kanan yang berbalut gypsum. Beberapa bagian di wajahnya masih lebam, bahkan bau anyir dari goresan di pipinya jelas tecium oleh ia yang berdiri di sisi ranjang.
Wajahnya terlihat sempurna, terpaan sinar rembulan membuatnya semakin mempesona.
Sosok itu mengeryitkan dahinya, sepertinya merasa terganggu. Perlahan ia membuka mata.
Kala sepasang manik obsidiannya menangkap sosok yang tengah mengamatinya, sang pasien mengerjabkan matanya berkali-kali sebelum akhirnya memutuskan untuk bergeser memunggunginya.
Mereka sama-sama diam, dan rasa hangat tak wajar yang menerpa punggungnya sungguh mengganggu pemilik surai tembaga.
"Pergilah, aku sedang tidak ingin bicara padamu."
"Jungkook." balasnya cepat, lalu menjeda selama beberapa saat untuk menungu jawaban dari pria yang dipanggilnya. "Aku bisa berdiri di sini semalaman tanpa kau mempedulikanku, seperti malam-malam sebelumnya."
Sang detektif diam. Ia bahkan memilih untuk memejamkan matanya saat pria bersurai jelaga berjalan mendekat, berdiri di hadapannya. Tangannya lalu merasakan sesuatu yang panas, hanya sesaat sebelum suara tulang yang bergeser menyapa indera pendengarannya.
Mau tak mau, Jungkook membuka mata. Iris sewarna onyx-nya membola kala mendapati wajah sosok yang dikenalnya berada pada jarak yang begitu dekat. Ia tengah memejamkan mata, mencium punggung tangan Jeon muda dengan sebelah tangan yang mengusapkan kain halus berwarna merah pekat ke jemarinya. Sementara tangan lainnya mengusap dada Jungkook, tepat di tulang rusuknya yang memar.
"Sudah sembuh." gumamnya masih dengan bibir yang menempel di punggung tangan Jungkook. Ia lalu menegakkan tubuhnya, menunjukkan sebuah senyum tulus begitu pandangannya bersibobrok dengan tatapan sang detektif.
Sosok itu memainkan jemari tangan Jungkook.
Tidak sakit.
Beberapa saat yang lalu, bahkan bersentuhan dengan kasur saja membuat Jeon muda merasa nyeri luar biasa. Tapi kini, ketika pria bersurai jelaga memainkannya, Jungkook tidak merasakan apa-apa, seolah jemarinya tak pernah terluka.
"Jangan melamun." gumamnya dengan suara rendah. Sebelah tangannya terulur untuk mengusap kening Jungkook, membuat pemilik surai tembaga refleks menepis tangannya.
"Jangan sentuh aku." ucapnya lirih, namun tegas. Terpancar kebencian, juga kemarahan dari sorot matanya. "Pergilah, Taehyung-sshi. Aku tidak ingin bertemu denganmu."
Mati-matian sosok yang dipanggil Taehyung mencoba untuk menhan bibirnya agar tidak menyeringai.
Cantik.
Pantulan kebencian dan kemarahan di iris sekelam malam tanpa bintang itu begitu cantik.
"Aku menghabiskan dua malam menunggumu tanpa kau tahu. Kurasa, menambahkan satu malam dengan kau mengacuhkanku tidak akan menjadi masalah." masih berdiri di sana, Taehyung benar-benar terlihat angkuh kala menghalangi sinar rembulan di hadapan pria bersurai copper.
Dan Jungkook baru menyadari sosok itu benar-benar berbeda dari biasanya. Rambutnya lebih panjang, terkesan berantakan. Ia mengenakan jubah panjang yang terbuat dari kulit dengan celana dan sepatu berbahan sama.
"Kau." menjeda selama beberapa saat, Jungkook mengamati sosok di hadapannya lekat. "Bukan Kim Taehyung."
Sosok itu tertawaa, mengerikan. Kepalanya menggeleng ringan dengan tatapan yang tak lepas dari pria bersurai tembaga. "Memang bukan. Dan mulai sekarang, aku sendiri yang akan melindungimu. Iblis rendahan itu benar-benar tidak becus melakukan tugasnya. Sebagai hukuman, aku akan menyuruh Azazel untuk memusnahkan pengawalmu malam ini juga."
Jungkook mengingatnya.
Beberapa waktu yang lalu mungkin ia lupa, tapi sekarang Joen muda jelas mengingatnya. Yang berdiri angkuh di hadapannya saat ini adalah bajingan yang berjanji akan datang dan menolongnya jika Jungkook dalam bahaya.
Tapi kenyataannya?
Jeon Jungkook tersenyum sinis. Ia berusaha bangun dari ranjangnya, mencoba melakukan sesuatu. Melihat itu, pria bersurai jelaga mencoba menolongnya. Ia meraih sebelah tangan Jungkook, menyelipkan satu lengannya ke belakang kepala sang detektif unruk membantunya.
Jeon muda tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan gerakan terlatih, ia melayangkan pukulan dengan tangan kanannya yang masih terbalut gypsum.
"Keparat!" umpatnya fasih. Ia menambahkan dua hantaman ke perut pria Kim sekuat tenaga. "Pembual sialan! Bajingan tidak tahu diri!"
Sang Pangeran mematung dalam posisinya selama beberapa saat sebelum Jungkook menendangnya hingga ia mundur beberapa langkah. Lucifer tersenyum miring. Ia mendengus meremehkan kala melihat detektif Jeon terengah dalam keadaan berantakan, bahkan selang infus yang terhubung ke tangan kirinya terlepas begitu saja.
"Kau lumayan juga."
"Jangan mengalihkan pembicaraan!" bentaknya kasar. Sepasang obsidiannya menatap nyalang Sang Pangeran penuh kebencian. "Kau ingin membunuh Mara-ku katamu? Jangan bercanda. Dia milikku, kau tidak berhak melakukan apapun padanya."
Lucifer menyeringai semakin lebar, matanya berkilat senang melihat reaksi kekasihnya. "Dia tidak becus menjagamu, sayang. Aku harus menghukumnya."
"Tidak becus menjagaku, katamu?" Jungkook turun dari ranjangnya, mendorong tubuh pria yang lebih tinggi hingga punggungnya menabrak tembok. "Kau menyalahkannya atas ketidakmampuanmu menjagaku? Dasar sinting!"
Sang Pangeran mendengarnya, deru nafas memburu dari mangsa yang coba ia dapatkan. Kedua tangannya mengepal erat, ia sungguh merasa senang.
"Aku memanggilmu, dan kau tidak pernah datang. Aku meminta Mara untuk memanggilkan Jimin karena kau tidak datang! Bajingan!" sang detektif mengambil nafas dalam-dalam. "Katakan padaku kenapa kau tidak datang! Kau sibuk meniduri jalangmu? Meyumpal telingamu dengan desahan mereka? Brengsek! Harusnya aku tidak pernah percaya padamu!"
Terselip raut senang dalam tatapan Lucifer. Kalimat yang terlontar untuknya, segala makian yang ditujukan padanya, namun ada kecemburuan di sana. Ia menyadarinya.
Namun ada yang lebih penting dari padamenghabiskan waktu untuk membahasnya. "Jangan berbohong padaku. Kau dan iblis rendahan itu bersekongkol dan mengatakan bahwa kau sudah memanggilku. Jangan bercanda."
"Bercanda katamu?" Jungkook berucap sinis. "Nyawa sahabatku dalam bahaya dan kau bilang aku bercanda? Kau pikir berapa kali aku merapalkan namamu di dalam hatiku? Brengsek."
"Kau tidak memanggilku."
"Aku memanggilmu! Kim Taehyung… Kim Taehyung… aku mengucapkannya dengan benar. Tapi kau sama sekali tidak mendengar." kali ini senyum sinis yang terukir di bibir detektif Jeon. "Pangeran, katamu? Kau sebut dirimu seorang pangeran? Bahkan iblis rendahan seperti Mara masih jauh lebih baik daripada kau yang terlalu banyak bicara."
"Jeon Jungkook." gumam Sang Pangeran dengan suara beratnya, ia menatap lurus iris kelam lawan bicaranya. Sepasang tangannya terulur, menyentuh leher Jeon muda, seolah ingin mencekiknya. Ia memang berniat mencekiknya. "Hati-hati dengan mulutmu. Kau sedang berbicara dengan pemegang kekuasaan tertinggi di Neraka."
"Persetan. Ini bukan di Neraka."
Jeon Jungkook melakukannya.
Dia meludahi Sang Pangeran tepat di wajahnya.
Setelahnya, pria bersurai tembaga mencoba menjauhkan tubuhnya.
Gagal, cengkeraman di lehernya menguat tiba-tiba. Tidak mencekik, hanya ia benar-benar tidak bisa melepaskannya.
"Lihat baik-baik, calon permaisuriku." ucapnya penuh penekanan. Lucifer memejamkan matanya, berusaha meredam amarah atau ia akan berakhir membakar rumah sakit dan seisinya, termasuk manusia yang kini berada dalam cengkeramannya. "Kau sendiri yang bilang, aku bukan Kim Taehyung. Perhatikan baik-baik, apa aku Kim Taehyung?"
Jungkook menelan ludahnya susah payah. Ia bersumpah melihat kilatan api Neraka dari sorot mata pria di hadapannya. Dirinya yakin, yang berada di hadapannya adalah sosok yang sama dengan Kim Taehyung yang selama ini dikenalnya, tapi ada sesuatu yang berbeda di sana.
Sesuatu… yang membuat Jeon Jungkook merasa dirinya berada dalam bahaya karena bersikap kelewat kurang ajar.
"Namaku." sosok itu menatapnya tajam. "Aku memberitahumu namaku."
Sang detektif sadar, ia tidak harus menjawab apapun, namun aura dominan dari iblis dihadapannya membuat dirinya mengangguk begitu saja.
"Namaku… katakan siapa namaku."
Jungkook bungkam selama beberapa saat, matanya bergetar seolah tak percaya kala menyadari bahwa sosok yang kini berbicara padanya bukanlah Kim Taehyung yang biasanya. Ada sesuatu di dalam tatapannya yang membuat sang detektif merasa harus tunduk.
Dan bibirnya bergerak begitu saja. "Lucifer."
Sang Pangeran tersenyum miring. Ia melepas tangannya dari leher jenjang Jungkook, lalu menyeringai. "Bagus. Kau mengingatnya degan baik."
Penyandang marga Jeon tidak yakin dengan alasannya, namun jantungnya berdetak menggila. Terselip kelegaan di dalamnya, seolah ia baru saja terlepas dari bahaya.
"Lucifer, itu adalah namaku. Saat kubilang kau harus memanggilku, maka nama itulah yang seharusnya kau lafalkan seperti doa, bukan nama yang lain."
Kakinya melemas, Jungkook jatuh terduduk di hadapan Sang Pangeran. Ada gemuruh kemarahan di dalam dadanya, rasa kecewa, juga lega yang memeluknya kala tak seujung kukupun pria itu menyentuhnya.
Lucifer.
Namanya Lucifer, bukan Kim Taehyung.
Jungkook menduganya sejak lama, bahwa Kim Taehyung hanyalah nama yang dipakainya disini, sedangkan sosoknya yang asli adalah seorang pangeran dengan Lucifer sebagai nama yang ia banggakan. Nama yang diketahui seluruh langit dan penghuninya, nama yang diagungkan Neraka dan seisinya.
Lucifer.
Lucifer.
Lucifer.
Ia merapalkannya dalam hati.
Dan semakin nama itu berulang di dalam kepalanya, semakin kosong Jungkook karenanya.
Sang Pangeran menjulurkan lidahnya, menjilat bibir bawahnya sendiri sebelum menggigitnya sesaat. Tangannya terulur menyentuh kedua pundak Jungkook, ia lalu menuntun sosok incarannya itu agar kembali duduk di atas ranjang dengan kedua kaki yang menggantung.
"Semua baik-baik saja, mengerti?"
Bukannya menjawab, pemuda Jeon hanya menatapnya tanpa bergeming. Bibirnya bergerak ragu. "Kau tidak datang saat itu."
"Aku tidak mendengarmu. Kalau saja kau memanggil Lucifer, aku pasti akan langsung memelukmu erat." Sang Pangeran tersenyum lembut. "Maafkan aku, aku benar-benar menyesal."
Ada sebuah perasaan aneh yang bergelanyar di dada Jungkook. Begitu nyaman. Ia tahu ini salah, tapi ketika kedua tangannya digenggam, lalu bibir hangat itu mencium jemarinya lembut, memastikan satu per satu jari-jarinya merasakan hangat yang begitu menenangkan, Jeon Jungkook tidak bisa memungkiri bahwa dirinya tidak akan pernah bisa lepas dari sosok Lucifer yang kini menatapnya teduh.
"Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku akan datang tanpa kau minta, aku akan berada di sana tanpa siapapun memanggilku. Aku, Lucifer, akan selalu melindungimu."
Sebuah usapan lembut di puncak kepala Jungkook membuatnya mengangguk sekali. Lucifer tersenyum tipis.
"Beri tahu aku siapa yang menolongmu. Aku harus berterima kasih padanya." gumam sang pangeran. Ia menarik kepala manusia di hadapannya, menenggelamkannya ke dada. "Kau mengingat sesuatu, hm?"
Jungkook menggeleng pelan. Kepalanya masih terasa kosong dan ia sungguh tidak yakin dengan apa yang dilakukannya. Namun kedua tangannya meremat erat masing-masing sisi pakaian yang dikenakan Sang Pangeran.
"Apa Jimin yang menolongmu?"
Sang detektif kembali menggeleng, sungguh ia tidak ingat apa-apa selain… "Aku melihat sesuatu berwarna putih, setelah itu aku tidak tahu lagi. Rasanya ada yang menyilaukan."
Pria bersurai jelaga mengangguk singkat. Yang menolong Jungkook bukanlah manusia, ia jelas mengetahuinya. Pertanyaannya adalah, siapa.
Tapi warna putih yang menyilaukan… hanya ada sedikit kemungkinan di sana.
Mereka terdiam selama beberapa saat sebelum sepasang iris sewarna samudera melirik ke arah jendela. Cahaya rembulan yang mulai berubah memberitahunya bahwa ia terlalu lama menghabiskan waktu bersama kekasihnya. Maka perlahan, ia melepaskan pelukannya. Ditatapnya lekat Jungkook yang masih terlihat bingung.
"Aku mungkin tidak ada lagi di sini, tapi aku akan sering berkunjung. Aku berada di bawah untuk memburu iblis yang menyerangmu, Mara sudah memberitahuku siapa pelakunya." jemari panjang Sang Pangeran merapikan helaian sewarna tembaga detektif Jeon. "Aku janji akan membawanya ke hadapanmu."
"Mara." Jungkook menjeda cukup lama. Ia menarik nafas dalam-dalam. "Kau tidak akan memusnahkannya kan? Dia pergi menemui Jimin karena perintahku, jadi kau tidak boleh menyakitinya.
"Kalau itu yang kau mau, permaisuriku, aku akan melakukannya." bisik Lucifer sebelum mencium pelipis kiri Jungkook. Sang detektif tidak tahu saja, pemilik sweater merah muda sudah menerima terlalu banyak luka.
Bahkan untuk tersipu pun, penyandang marga Jeon belum mampu melakukannya. Seperti ada yang mengganjal, seperti ada yang aneh di dalam dirinya.
"Temanmu, Kim Yugyeom."
Jantungnya berdetak kencang ketika tiba-tiba nama itu disebutkan. Bagaimanapun sahabatnya masih berada di ambang kehidupan, dan pria di hadapannya adalah sosok yang bisa bertemu dengan orang mati, terutama para pendosa.
"Dia akan tertidur dalam waktu yang cukup lama. Bisa jadi bertahun-tahun karena senjata yang menyerangnya membuat jiwanya terperangkap di alam batas." telunjuk kanan Sang Pangeran menelusur luka sayat di pipi Jeon muda, membelainya kelewat pelan. "Kau beruntung karena hanya ujungnya yang menyentuhmu. Aku pergi dulu."
Tanpa menunggu jawaban dari sang detektif, Lucifer melepas seluruh kontak tubuh mereka, termasuk rematan Jungkook pada kedua sisi jubahnya. Ia lalu berbalik menghadap bulan yang bersinar terang.
"Tunggu!" panggil sang manusia tergesa. Nafasnya memburu entah mengapa. "Kau bisa menyembuhkan tangan dan rusukku. Kau juga bisa menyembuhkan Yugyeom kan? Katakan kau bisa melakukannya!"
Dan sang iblis menyeringai lebar. Beruntung mereka sedang tak saling berhadapan, jadi ia tak harus menahan dirinya. "Aku tidak bisa melakukan hal sebesar itu untuknya."
"Kau pasti bisa melakukannya!"
Lucifer tak berani membalikkan tubuhnya kala mendengar ranjang pasien yang berderit. Ia bisa merasakan Jungkook turun dari sana, menatapnya nyalang dengan sorot yang semakin mempercantik binar obsidian di matanya.
Ia tidak akan berbalik atau pemilik surai jelaga tidak akan bisa menahan dirinya untuk tidak memiliki binar terindah itu sekarang juga.
Ia akan memilikinya, dan Jeon Jungkook yang akan menyerahkannya sendiri.
"Aku bisa melakukannya." ia menjeda cukup lama. Sengaja. "Tapi aku membutuhkanmu untuk menjadi milikku, agar ketika aku kehabisan tenaga dan butuh seseorang untuk mengantarkanku ke alam mimpi, kau selalu ada disana, untukku seorang."
Tak membiarkan Jungkook memberikan jawaban, Sang Pangeran kembali berujar. "Pikirkanlah matang-matang. Kau tahu apa yang harus kau lakukan jika ingin aku datang."
Lalu ia menghilang ditengah cahaya rembulan.
Meninggalkan Jungkook yang berdiri mematung dengan mata yang bergetar ketakutan.
Ia takut, sungguh takut jika Kim Yugyoem, sahabatnya, tidak pernah bangun dan menggodanya lagi.
Ia takut tidak bisa melihat senyum bodoh dan tawa menyebalkannya lagi.
Ia merasa berhutang, dan Lucifer baru saja menawarinya sebuah cara agar Jungkook bisa membayarnya.
.
.
TBC
.
.
.
Tanqueray London Dry Gin: salah satu brand liquor (gin) dengan harga 30 dollar per botol
G&T/ G and T: gin and tonic adalah salah satu cara menikmati gin, cara buatnya sudar dipraktekkan Taehyung, ehehe
On rock: istilah yang sering digunakan untuk minuman yang pakai es batu
.
.
Review please
Ig: kim_taemvan
Line: kimtaemvan
Love, Tiger
A/N: tolong jangan lupakan bahwa Kim Taehyung adalah iblis dengan ketulusan sebagai senjata paling ampuh para iblis, yang ia gunakan untuk menaklukkan mangsanya
