Kata orang yang baru saja kukenal, hidup ini lebih menyenangkan ketika kau bisa merasakan mati—dia mengatakannya tanpa perasaan karena tahu bahwa aku tidak bisa mati. Dia adalah satu-satunya orang baru kukenal yang mengetahui ceritaku dan rahasiaku, seperti yang tadi itu; aku tidak bisa mati.
Dia pernah bercerita tentang orangtuanya padaku, dan aku sendiri sempat bertanya kepada diriku sendiri apa yang sedang orangtuaku lakukan? Apa aku memiliki orangtua? Karena dari aku kecil aku telah dirawat oleh Sakine Meiko—saudara kandungku yang terpisah dari keluargaku, sebenarnya selain Sakine Meiko ada orang lain yang menjagaku hanya saja aku tak bisa mengingat siapa dirinya. Meiko juga tidak pernah melihat bagaimana wajah orangtuanya—yang pada dasarnya orangtuanya adalah orangtuaku. Walaupun di dunia sana aku memiliki seorang Ayah tapi tidak ada Ibu. Apa yang sedang direncanakannya? Kenapa semua ini terjadi? Aku tahu jawabannya, tapi menceritakannya adalah hal yang tersulit bagiku.
Crimson Sacrifice oleh Naoya Yuuki
VOCALOID © Yamaha, Crypton, etc.
(setting chapter 5 dan 6 dengan sudut pandang Hatsune Miku, warning! Chapter ini hanya menjelaskan apa yang terjadi pada akhir chapter 6)
Hatsune Miku
Aku memandang kota dengan tatapan kosong, orang-orang kota termasuk teman-teman sekolahku sekarang menganggapku telah tiada. Jadi yang harus aku lakukan adalah bersembunyi dari penglihatan orang-orang yang mengenalku. Sepupuku yang ada di dunia ini juga tidak boleh tahu bahwa aku masih hidup—tidak bukan begitu, aku memang hidup aku tidak mati, ugh.
Aku menarik jubah hitam yang menutupi kepalaku ketika aku merasakan seseorang dengan aura yang sama denganku berdiri tepat dibelakangku. Menoleh menatap dirinya. Aku menyunggingkan senyumanku, aku tahu sudah saatnya gadis itu melepas kekuatan Death Angel-nya dan menjadi manusia biasa. Dia dengan ragu memperlihatkan tangan kanannya. "Sudah hampir saatnya?" aku memastikan.
Dia mengangguk, menutup kembali tangan kanan itu sebelum auranya menarik jiwaku yang tak pernah berpisah dari tubuhku. "Tengah malam."
"Siapa?" tanyaku sedikit penasaran dengan wadah baru tangan itu.
"Kagamine Lenka…"
"Lenka?" aku terkejut, Lenka adalah kakak perempuan Kagamine Rin, sepengetahuanku tentang Dead Hand adalah tangan itu tidak bisa dimiliki oleh orang yang telah melebihi batas umur penggunaan. Lenka adalah kakak dari Rin, tentu saja umurnya telah melebihi Rin yang pada dasarnya telah mencapai batas pemakaian.
Rin memperatikan jam ditangan kirinya, "Lenka berumur sama dengan Meiko. Tapi tidak sama dengan umurku, Lenka belum menyerahkan keabadiannya," Rin mengucapkannya bagaikan membaca pikiranku.
"Aku tidak mengerti tentang menyerahkan keabadian itu, Rin," jujurku.
"Hanya keluargaku yang dapat menyerahkan keabadian dan memiliki tangan ini, kami dapat mati seperti manusia."
Ya, aku tahu. Ketiga keluarga yang lahir dari Crimson Sacrifice sebenarnya memiliki keunikan tersendiri. Keabadian tentu saja dimiliki oleh ketiga keluarga, tapi diantara ketiga keluarga itu hanya satu yang dapat menyerahkan keabadiannya. Jika tugas keluargaku adalah mengawasi Crimson Sacrifice, apa yang keluarga Sakine lakukan?
Miku kemudian tersenyum.
"Ada apa?"
"Sejujurnya, aku telah bosan hidup di dunia ini. Aku ingin menutup kisah hidupku," Aku menutup wajahku kembali dengan jubahku. "Seseorang sedang menuju kemari."
"Begitu?" aku melihat Rin yang mempertajam pendengarannya, "Lenka sedang menuju kemari."
"Lenka. Rin, kau tahu bagaimana caranya agar aku bisa mati?" tanyaku.
Rin mendongakkan kepalanya. "Kau aneh, semua orang menginginkan keabadian tapi kau malah menginginkan kematian datang menjemputmu."
"Aku memang aneh, maka dari itu… aku ingin mati."
"Aku tahu siapa yang bisa membuatmu tertidur selamanya, dia sama seperti kita… dia sama sepertimu, dia juga seorang 'Mimpi Buruk'."
"Mimpi buruk?"
Saat Rin mengatakan itu memoriku berputar saat aku masih didalam pelukan seseorang yang tak bisa kuingat wajahnya, entah dia Ibuku atau orang lain. Tapi yang jelas aku tahu, di sana seseorang bernama Nightmare telah memberikanku keabadian.
"Terima kasih Rin, aku harus segera pergi."
ooo
Aku lelah dengan semua yang telah terjadi di dunia ini, jadi aku memutuskan untuk beristirahat di duniaku—dunia paralel. Paling tidak di dunia paralel aku dapat merasakan indahnya dunia. Kenapa ada yang namanya dunia paralel ya?
Aku berbaring diranjang kamarku, sesaat kemudian pintu kamarku terbuka memperlihatkan sosok Sakine Meiko dengan segelas teh ditangannya masuk kedalam. "Tumben sekali," Meiko berjalan kearah ranjangku.
"Ya, aku pulang untuk meminta maaf padamu."
"Ada apa?" dia mengelus kepalaku. "Kau ingin pergi jauh?"
"Sangat jauh…" aku tersenyum menerima elusan itu dengan senang hati.
"Jangan bercanda, ada masalah apa?"
Aku menatap kearah rak buku dikamarku, "Aku bermasalah dengan dunia ini, aku sudah bosan."
Meiko berhenti mengelus kepalaku, dia meneguk tehnya. "Aku mengerti sih, kita sudah hidup selama lebih dari seribu tahun."
"Maka dari itu aku akan pergi jauh, aku tidak sabar."
"Jangan!" dia menatapku dengan sedih. "Bagaimana denganku? Aku tinggal sendirian dong."
Aku berjalan kearah rak buku dikamarku, mencari sebuah buku yang telah menjadi harta warisanku selama ini. Begitu aku melihat buku bersampul hitam aku segera mengambilnya, dan memperlihatkannya kepada Meiko. "Tolong bantu anak itu untuk memenuhi keinginannya, lalu mari kita kembali bersama."
"Kau kira tugasku adalah itu!"
"Aku tahu, tapi kumohon tolonglah aku."
"Kalau begitu jangan pergi!" sergah Meiko.
Aku terdiam, pendengaranku tiba-tiba menajam aku dapat mendengar langkah seseorang dari kejauhan. "Seseorang berada di depan gerbang dunia paralel."
"Biar aku yang periksa, kau istirahatlah…"
Aku mengangguk, kembali berbaring diatas ranjang. Aku membalikkan tubuhku. Aku tahu siapa yang berada di depan gerbang dunia paralel itu, ya pasti Megurine Luka. Gadis itu memiliki aura yang berbeda dari manusia biasa. Aku sudah mengetahuinya sejak dia pertama sekali menantangku dengan sastra klasik.
Aku bangkit dari tidurku ketika mendengar suara Megurine Luka dan Meiko Sakine yang mengganggu istirahatku. Aku membuka pintu kamar itu dan menatap Megurine Luka lama sebelum mempersilahkannya masuk. Setelah tak melihat Meiko lagi aku menutup pintu kamarku dan mendekat kearah Megurine Luka. "Apa yang membawamu kemari?" tanyaku, tentu saja aku sudah tahu. Dia kemari karena tarikan dari dunia paralel dengan auranya yang aneh—selain itu pasti karena Crimson Sacrifice.
"Crimson Sacrifice…"
Benar 'kan? Kau datang disaat yang sangat tepat Megurine Luka, aku tersenyum. Sudah saatnya memberikan buku 'itu' kepadanya dan melihat ekspresi apa yang akan muncul padanya. Aku senang kau masih hidup hingga saat ini. Tapi sebelum itu…
"Kenapa kau tersenyum?"
Kenapa kau berbasa-basi padaku? Itu sungguh sangat tidak penting Megurine Luka. Aku menarik kursi didekatku dan duduk menopang daguku dengan malas. Aku tidak mengerti tapi entah kenapa seperti ada perasaan aneh yang membuatku seperti terbang kemasa lalu saat aku bersama dengannya. Aku menatap dirinya lekat. Siapa dia?
"Kenapa kau ada?" Luka menatap kearahku, "Jangan katakan karena Crimson Sacrifice atau takdir, jika karena Crimson Sacrifice dan misalnya Crimson Sacrifice itu tidak ada, maka kau juga tidak akan ada?" aku tahu dia tidak ingin mendapat jawaban yang sudah pernah ia dengar dan tidak membantunya sama sekali, aku terlihat berpikir karena jawaban 'crimson sacrifice' adalah sudah sangat tepat, mencari alasan dan jawaban lain sama saja dengan membuatnya terus menggali lubang yang tak pernah akan tertutup.
Tunggu dulu, bagaimana jika pertanyaan itu dibalik? Aku juga penasaran dengannya. Aura yang dipancarkannya hampir sama dengan auraku dan Meiko. Tapi dia adalah manusia biasa.
"Bagaimana jika pertanyaan itu dibalik?" ujarku. "Kenapa kau ada? Bagaimana jika Crimsone Sacrifice tidak ada? Apakah kau juga akan tidak ada?" aku melontarkan kembali pertanyaannya, kemudian menghelakan napasku. "Cukup sudah dengan semua pertanyaanmu tentang itu, Megurine Luka. Jawabannya suda jelas karena Crimson Sacrifice, aku tidak punya jawaban lain."
Luka terdiam, dia segera menuju pintu kamarku. Sebelum Luka membuka pintu itu aku segera menahannya, sifatnya yang kekanakan ini sungguh membuatku kesal, dia benar-benar berbeda dengan dirinya yang dulu. "Kenapa seperti anak kecil? Bukankah tujuanmu untuk menghilangkan ritual itu?"
Dia terdiam. Aku harus segera memperlihatkan diari itu—memperlihatkan diari itu tandanya hilang untuk selamanya jika asumsiku tepat—Aku segera menariknya menuju rak buku dikamarku.
"Kau tahu aku ingin sekali merasakan mati yang sesungguhnya, karena aku dicipatakan dari ritual itu maka sepanjang ritual itu ada, matipun rasanya seperti sebuah lelucon," aku menggerakkan tanganku dirak buku mencari sebuah buku yang tadinya aku perlihatkan kepada Meiko—buku diari milik keluargaku. "Kagamine Rin dan keluarganya sungguh berungtung, mereka seperti manusia biasa akan mati jika sudah saatnya," aku menarik sebuah buku bersampul hitam bertuliskan 'Nightmare' disampulnya. "Luka, di dalam buku ini ada sebuah rahasia… sebenarnya ini hanyalah sebuah diari. Tapi, aku yakin diari ini pasti akan menjawab semua pertanyaanmu. Juga, ini akan mengembalikan dirimu."
Aku memberikan diari itu kepada Luka dengan hati-hati. "Bisakah kau memenuhi permintaanku?" tanyaku.
Luka menatap buku itu lama lalu menoleh kearahku, dia menerima buku itu dengan agak berat. Aku merasa ada yang aneh pada Luka setelah dia menerima buku diari itu, gadis itu seperti kehilangan jiwanya. Aku mundur sedikit, aku telah berhasil menghubungkannya, paling tidak—selamat tinggal. Aku melihat lingkar segitiga dan tulisan aneh dibawah dikaki kami. "Permintaanmu akan aku kabulkan…" ujarnya. Luka menutup matanya, tangan kanannya diarahkan kedadaku—tepatnya kearah jantungku.
Aku menutup mataku sambil tersenyum merasakan kehangatan tangan itu terus menjalar disekujur tubuhku, air mata bahagia mengalir membasahi pipiku. Aku membuka mataku memperhatikan wajah Megurine Luka untuk yang terakhir kalinya, kakiku menghilang perlahan diikuti tubuh dan pada akhirnya aku lenyap.
"Terima kasih, Luka."
Buku itu adalah milik keluargaku, siapapun yang menyentuh buku itu dapat membunuhku dan membuatku mati tapi semua orang masih dapat mengingatku, tapi beda ceritanya jika 'dia' yang memegang buku itu, jika 'dia' yang memegang buku itu maka aku tidak akan diingat.
END!
Author note's: Yo, aku tidak mengerti chapter ini berguna atau tidak—maksudku ini hanyalah chapter tambahan yang seharus aku meletakkannya diluar dari series. CS belum berakhir, 'end' itu hanya untuk akhir dari Chapter ini. Bersiaplah untuk Chapter CS yang sesungguhnya! Chapter 7 'kan?
