Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : Gaje, abal, typo, OOC, alur cepat (maybe) etc.
Don't like don't read
*SasuHina*
Hinata masih termenung di taman belakang, membiarkan angin berhembus menerbangkan anak rambutnya. Seharusnya Gaara sudah datang. Hinata hanya bisa menghela nafas memandangi ranting pohon yang bergesekkan, ia tak tahu apa yang ingin Gaara bicarakan, ia hanya mengikuti kemauan Gaara yang menyuruhnya menunggu di taman belakang saat istirahat.
"Kau sudah lama menunggu?" Gaara duduk di samping Hinata, menyodorkan sekaleng cola.
"Tidak," Hinata menggeleng pelan,
"Kau tahu kenapa aku menolak Ino?" tanya Gaara dan raut wajahnya mulai serius.
Lagi-lagi Hinata hanya menggeleng lemah, karena ia memang tidak tahu kenapa Gaara menolak Ino.
"Aku menyukai gadis lain, aku tak ingin membuat Ino terluka. Membohongi perasaan ku dengan menerima cintanya, aku menyanginya tapi perasaan itu tak lebih dari perasaan seorang sahabat, tak ada hati yang berdebar saat bersamanya, tak ada rasa cemburu saat melihat nya dekat dengan peemuda lain" Gaara mencoba menjelaskan satu persatu, dan Hinata masih belum dapt mengambil kesimpulan, di pikirannya hanya ada satu pertanyaan, siapa gadis yang disukai Gaara.
Melihat raut wajah Gaara yang mengguratkan kesedihan, sepertinya gadis yang Gaara sukai tak menyukainya, Huhh kenapa cinta itu rumit, kenapa mereka berempat harus mengalami cinta yang bertepuk sebelah tangan.
" Apakah kau tahu Hinata?" Gaara meminum cola-nya "Rasanya mencintai namun bertahan untuk tidak mengungkapkan, percayalah ini lebih buruk dari sekedar patah hati."
" Karena itu akan mengungkapkannya, Aku menyukai mu" Amethyst Hinata membulat, mulutnya tak mampu bersuara, Hinata merutuki kebodohannya yang terlalu sibuk dengan perasaannya terhadap Sasuke sehingga ia tak menyadari perasaan Gaara padanya.
"Aku tahu kau tak mungkin menerimaku, karena yang kau suka adalah Sasuke. Dan kau tak perlu merasa bersalah padaku, aku hanya ingin mengungkapkannya saja, tidak peduli tentang hasil yang kudapat. Aku hanya ingin mengatakan, Hyuuga Hinata aku menyukai mu" Gaara tersenyum tepat di bawah sinar matahari yang menerobos melalui celah ranting-ranting pohon.
Jika saja Hinata hanya mengenal Gaara dan tak mengenal Sasuke di saat yang bersamaan mungkin kisah cinta nya takkan menjadi rumit seperti ini. Hati nya sesak saat melihat Sasuke dan Ino terlihat semakin akrab. Dan Hinata hanya bisa diam di tempat tanpa bergerak sedikit pun, tapi sepertinya sekarang ia harus menyerah.
Seperti yang Gaara menolak Ino karena tak mau membuat Ino semakin terluka, Hinata pun akhirnya hanya bisa menunduk, Gaara sudah mengtahuinya –tentang perasaanya terhadap Sasuke. Hinata tak pernah ingin menyakiti siapapun dengan hati dan perasaanya, "Maaf," cicit Hinata, ia hanya bisa terdiam menggeluti segala sesuatu yang tengah berputar di kepalanya, Hinata merasa bersalah pada Gaara, ia sangat tahu bagaimana rasanya cinta bertepuk sebelah tangan.
.
.
.
.
Perlahan tapi pasti Hinata sedikit berubah, ia sedikit bisa bersosialisi tidak hanya dengan Sakura, semenjak berteman dengan Ino, Gaara dan Sasuke ia bukan lagi pribadi yang tertutup.
Tetapi ia masih menjaga jarak dengan Sasuke ataupun Gaara berbicara pun hanya seperlunya menghindari Gaara yang terus mengikutinya, menanyakan keberadaannya dan selalu memberikan perhatian-perhatian kecil pada Hinata.
Seperti halnya sekarang Hinata lebih memilih menghabiskan waktu istirahatnya dengan Kiba, Tenten, dan juga Chouji teman-teman barunya. Hinata terkikik ketika mendengar pertengkaran kecil Tenten dan Kiba chouji yang beusaha menjadi penjuru damaidanberakhir dengan keripik kentang di mulutnya.
"Ehmm" Suara Baritone yang begitu di kenal Hinata menghetikan aktiftas mereka. Semuanya memandang ke arah sumber suara.
"Bisakah aku berbicara dengan Hinata" serempak mereka bertiga minus Hinata menganguk.
"Hanya berdua"Ucap Gaara menambahkan, dengan patuhnya mereka bertiga meninggalkan Hinata dan Gaara.
"Ada apa?" Hinata tahu apa yang ingin Gaara katakan, seminggu yang lalu Gaara mengatakan perasannya pada Hinata.
Hinata hanya bingung tak mengerti semuanya baginya ini terlalu rumit atau malah ia sendiri yang membuatnya menjadi tidak mudah. Hinata sendiri tidak mengerti.
Ia hanya perlu waktu untuk menata hatinya persaannya terhadap Sasuke atau Gaara yang mencintainya.
"Kau berubah, kau terlihat asing bagi ku. Apa ini semua karena aku ? " Jade Gaara hanya terfokus pada amethyst Hinata.
"Tidak, aku hanya bingung, aku tak tahu apa yang harus ku lakukan." Hinaata menarif nafas pelan.
"Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan, berhenti menghakimi hati mu."Gaara berlalu meninggalkan Hinata sendiri, cairan bening hampir saja lolos jika saja Hinata tidak menahan keras sesuatu yang mendorong hatinya.
.
.
Saat ini seharusnya ia pulang, tapi sayang Tokyo sedang diguyur hujan deras mau tak mau ia harus menunggu hujan sedikit reda. Sasuke pulang lebih dulu mengantar Ino dan Gaara seperti biasanya harus pulang cepat karena ibunya. Harusnya Hinata menerima tawaran Sakura untuk pulang bersama, bukannya menolak karena takut mengganggu Sakura dengan kekasih kuningnya itu. Bukan malah terjebak hujan selama satu jam.
Ponsel dalam tas Hinata bergetar, ia menggeser layarnya.
"Hallo" suara Hinata sedikit bergetar, bukan karena takut, tapi karena angin bertiup kencang.
"…"
"Masih, di Sekolah. Di sini hujan cukup deras."
".."
"—tidak perlu, aku bisa pulang sendiri." Hinata memutuskan sambungan teleponnya, menatap sendu ponselnya mengingat siapa yang menelponnya tadi.
Langit kota Tokyo terlihat begitu gelap padahal ini baru pukul empat, sepertinya tak ada tanda-tanda hujan akan berhenti, Hinata merutuki kebodohannya yang tak membawa payung. Beruntung ia mengenakan blazer sekolah, setidaknya itu mengurangi rasa dingin.
Amethyst Hinata membulat melihat siapa yang berlari menerobos hujan, pemuda itu berlari ke arahnya, rambut ravennya basah karena air hujan. Sasuke Uchiha sudah tak mengenakan seragam sekolahnya
"Sudah kubilang tak usah kemari." Hinata menggerutu melihat tubuh Sasuke yang hampir basah kuyup."Setidaknya kalau mau kemari pun kau membawa payung agar tubuh mu tidak basah."
"Aku terlalu menghawatirkan mu, aku jadi lupa membawa payung, sudah lah lagi pula aku ini pria, tidak akan sakit hanya karena air hujan." Hinata hanya bisa mendengus mendengar ucapan Sasuke.
"Tutupi kepalamu dengan blazer sekolah, setelah itu lari ke mobil hitam di sana."Sasuke menunjuk mobil hitam yang terparkir di ujung, Hinata hanya mengangguk menuruti perintah Sasuke. Setelah itu mereka berlari menerobos hujan yang cukup lebat.
"Harusnya kau pulang sejak tadi, apa yang kau lakukan sampai sore seperti ini?"Sasuke terlihat kesal, ia menyalakan mobilnya mengemudi dengan kondisi tubuhnya yang basah.
"Aku menemani Sakura meunggu pacarnya,lalu saat aku mau pulang hujan terlebih dulu turun." Seharusnya Hinata ikut pulang bersama Sakura bukan malah terjebak hujan dan membuat Sasuke kesulitan, tapi kan Hinata tak menyuruh Sasuke untuk mnjemputnya, melihat tubuh Sasuke yang basah Hinata merasa bersalah. "Maaf."cicit Hinata, ia tak berani menatap Sasuke yang tengah menyetir.
"Sudah lah tidak usah merunduk seperti itu terus, lain kali jangan lupa bawa payung." Ucap Sasuke terdengar protektif.
Sepanjang perjalanan Sasuke terus menceramahi Hinata dengan ucapan sok bijaknya, padahal Hinata hanya tidak membawa payung saja, tapi kenapa Sasuke terdengar seperti berlebihan.
Mobil Sasuke berhenti tepat di depan rumah Hinata, tapi ia masih belum membukakan pintu mobilnya, sepertinya ia tengah berpikir Sesutu yang sulit.
Kening Hinata mengkerut ketika Sasuke tak kunjung membukakan pintu, Hinata sudah mencoba memegang handle pintu dan hasilnya masih terkunci.
"Sasuke, bisa kau bu—"
"Kau benar, hati lebih tahu apa yang kita inginkan." jeda sebelum Sasuke melanjutkan kembali ucapannya, "Seperti apa yang ku lakukan saat ini, saat kau menyurhu tak usah menjemputmu, tapi hati ku menuntun ku melakukan ini semua. Tidak peduli jika kau akan memarahi ku. aku hanya takut terjadi sesuatu padamu."
Bibir Sasuke sudah membiru, bahkan jemarinya sedikit bergetar mecengkram setir. "Terimakasih sudah mengkhawatirkan ku, sebaiknya kau segera pulang. Kau harus cepat-cepat membersihkan diri agar tidak sakit," bukan kata-kata itu yang ingin sasuke dengar dari mulut Hinata,
"Aku menyukaimu, aku menyukaimu Hinata." Ucap Sasuke dengan suara yang bergetar, tangannya yang sedikit bergetar mengelus pipi Hinata
Rasa dingin yang dihantarkan tangan Sasuke sepertinya menyebar keseluruh hatinya, Hinata hanya bisa diam walau ada sesuatu yang bergemuruh dalam hatinya.
Sasuke menarik tengkuk Hinata perlahan, menempelkan bibirnya tepat di bibir ranum Hinata, tak ada respon yang Hinata berikan, ia hanya mengikuti alur ketika Sasuke melumat bibirnya, air matanya mengalir begitu saja, inikah akhir penantian Hinata? Benarkah takkan ada lagi luka yang ia dapat?
.
.
.
.
Perasaan senang terus memenuhi seluruh ruang hati Hinata, meski di luar hujan namun hati nya terasa hangat. Ia tak mengatakan apapun pada Sasuke, ini terlalu mengejutkan bagi Hinata. Seperti angin musim semi yang memberi kesejukan, sepanjang jalan koridor Hinata tersenyum memegang bibirnya, jika mengingat kejadian semalam jantungnya akan terus bertalu, seperti Ino yang tak ragu memngungkapkan perasaanya pada Gaara, dan seperti Gaara yang dengan berani mngatakan rasa suka nya terhadap Hinata. Dan sekarang dengan berani dan tanpa ragu Hinata akan mengatakan perasaannya terhadap Sasuke.
Hinata menyapa Gaara dan Ino yang tengah menikmati roti dan susu seperti biasanya.
"Pagi."Gaara tersenyum lembut, seperti biasa Gaara selalu menjadi pihak yang dewasa dibandingkan yang lainnya. Ia tak pernah egois dengan perasaannya.
"Sasuke kemana?" bukannya menjawab sapaan Gaara, Hinata langsung bertanya kealpaan Sasuke.
"Tadi ibu nya menelpon ku, Sasuke demam dan tidak bisa masuk sekolah."
Sepertinya karena kehujanan kemarin, dasar pria bodoh, bisa-bisanya bilang tidak akan sakit karena hujan.
Hinata hanya mengangguk, walaupun ada sedikita rasa bersalah karena bisa dipastikan Sasuke sakit karena menjemputnya kemarin.
Mungkin takkan ada salahnya jika pulang sekolah ia menjenguk Sasuke bersama Gaara dan Ino
.
.
.
.
Hinata hanya memandang kagum rumah besar yang ada depannya, sedangkan Gaara sibuk memencet bel. Tak lama kemudian seorang maid membukakn pintu untuk mereka.
"Tuan Sasuke sedang istirahat di kamarnya," pelayan berambut coklat itu mempersilahkan mereka masuk. Ini bukan pertama kalinya Gaara dan Ino mengunjungi rumah Sasuke, mereka sering berkumpul di rumah Sasuke, seperti saat mereka berkumpul di rumah Ino.
Mungkin hanya Hinata yang baru pertama kali mengunjugi rumah Sasuke yang begitu memanjakan matanya, setiap sudut rumah nya begitu mengesankan membuat Hinata tak pernah berhenti berdecak kagum.
Gaara dan Ino melenggang santai naik kelantai dua, Hinata merasakn degup jantungnya semakin menggila, ia merasa sedikit gugup.
"Apanya yang istirahat? Jika kau terus bermain games seperti itu." Sungut Gaara saat melihat Sasuke tengah asyik bermain PES di laptopnya.
Hinata tengah mengamati wajah sasuke yang terlihat sedikit pucat, rambut ravennya sedikit lusuh dan berantakan.
"Kenapa tidak bilang ingin kemari?" Sasuke bangun dari ranjangnya,ia merapihkan bajumya yang sedikit berantakan, lalu bungkus makanan yang berserakan, wajahnya sedikit bersemu saat menyadari keberadaan Hinata di kamarnya.
"Biasanya juga kami tak pernah memberi kabar." Ucap Ino yang kini tengah duduk di meja belajar Sasuke.
"Tunggu sebentar aku akan menyuruh pelayan untuk membersihkann kamarku." Sasuke berjalan kea rah pintu, "Ah iya Hinata, bisa tolong matikan laptop ku."
"Baiklah,"
"Terimakasih."
Hinata berjalan kearah ranjang Sasuke, sementara Gaara langsung mengambil sebuah komik koleksi Sasuke. Ino lagi-lagi langsung ke toilet.
Hinata menatap laptop Sasuke, dan saat itu harapan yang Sasuke berikan langsung hancur seketika, rasa sakit mendera hatinya—lagi. Tangannya bergetar, pandangannya seolah kabur, oh Tuhan jangan biarkan Hinata meneteskan air matanya saat ini.
.
.
.
.
.
Sasuke berlari ke kamarnya meskipun tubuhnya lemas,ia mencoba lari sekuat yang ia bisa, ia begitu bodoh melupakan satu hal. Kenapa tadi ia harus menyuruh Hinata kenapa tidak Gaara atau Ino, ahh bodoh.
"Kau kenapa?" tanya Gaara saat Sasuke tiba dengan nafas yang tak beraturan.
Onyks Sasuke tertuju pada Hinata yang tengah memainkan ponselnya.
"Kau sudah mematikan laptopnya Hinata?" tanya Sasuke,
"Ah belum, maaf tadi aku terlalu sibuk membalas pesan jadi lupa melakukannya."
Sasuke bernafas lega, semoga Hinata benar-benar tak melihatnya, Sasuke menilik air muka Hinata yang tenang. Sepertinya gadis itu benar-benar tak melihatnya, semoga saja.
.
.
.
.
.
Sudah dua hari ini Hinata terus sibuk bersama Tenten, ia terus menghindari Sasuke. Sasuke membuat Hinata terbang lalu menajtuhkannya ke lubang terdalam yang membuat seluruh tubuhnya sakit dan hatinya remuk.
"Jangan menghindarai ku hanya karena aku mencintai mu," tangan Sasuke mencekal tangan Hinata yang baru saja selesai piket, betapa Hinata sudah menyiksa hari-harinya hanya dengan mengacuhkannya, mengabaikan keberadaanya seolah-olah Sasuke makhluk tak kasat mata.
Suasana kelas yang sepi memberikan Sasuke kesampatan untuk meluapkan emosinya.
"Aku tidak menghindari mu, aku hanya tak ingin membiarkan hati ku terluka lebih jauh." Ucap Hinata, Terkadang kita lebih baik menghindar dari orang yang kita cintai, bukan karena berhenti mencintai tapi karena harus melindungi diri dari luka, itulah yang Hinata lakukan sekarang. Sepertinya hati Hinata benar-benar berteman dengan rasa sakit, bukan tanpa alasan ia menghindari Sasuke. Ia hanya tidak mau tersakiti, saat itu Hinata benar-benar mencoba bersikap seperti biasanya walaupun apa yang sudah ia lihat benar-benar melukainya. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana layar laptop Sasuke menamplkan wajah manis Ino bergantian. Hatinya sakit meliha foto-foto Ino yang dijadikan Screensaver laptop Sasuke. Dan Sasuke tak mengetahuinya.
TBC
Okooko dan aku tak bisa bales review nanti di chap selanjutnya saja, mungkin besok aku update ok,, ini tinggal dua chap aja..
Dan kenapa saya update pagi karena kuota internet banyaknya dipagi harii #gajelas hehehhe
Tapi kadang juga update siang, cuman karena lagi puasa suka abis sahur updatenya..
