.
.
Ada beberapa hal yang telah kulupa tapi kau membantuku mengingatnya. Saat aku mengingatnya kau malah menjauhiku. Tanpa sebab yang jelas kau melenyapkan diri dariku.
NARUTO BELONG TO MASASHI KISHIMOTO
warning : TYPO, Don't like don't read
.
COUNTDOWN
(menghitung mundur)
.
Istrinya mengantarkan suami tercintanya sampai di depan pintu rumah. Suaminya yang sedari tadi menggendong Hanabi harus mengembalikannya pada Istrinya karena mereka telah sampai di depan pintu.
Hiashi melahap pelan bibir ranum Istrinya. mencari kesempatan sebelum pengawal pribadinya melihatnya. Sekaligus mengganti ciuman hangat mereka yang terganggu karena buah hati mereka. Setelah itu dia mencium kening Istrinya dan mengelus pucuk kepala Hanabi.
"Aku pergi dulu, anata," pamit Hiashi pada Istrinya. Istrinya tersenyum, "berhati-hatilah,"
"Kau juga. Aku akan menyuruh semua penjaga dan pelayan untuk memperketat pengawasan mereka," Tambah Hiashi sebelum berlalu pergi.
Istrinya tersenyum dan melambaikan tangannya. Hiashi juga tersenyum dan melambaikan tangannya. Tapi kehangatan Hiashi lenyap saat asisten pribadinya datang. Dia berubah menjadi pribadi yang sangat dingin.
Dia dan asistennya menuju ruang pertemuan para penjaga. Dia menyuruh asistennya untuk memanggil seluruh penjaga dan pelayan.
Hanya butuh lima menit semua yang diserukan Hiashi telah sampai ke ruangan itu.
"Baiklah... pasti diantara kalian sudah tahu apa yang terjadi dengan kamar Hinata. keluargaku diserang kemarin. Kalian sebagai utusan dari keluarga cabang untuk melindungi keluarga inti seharusnya bekerja dengan baik! Apa yang kalian lakukan sampai kalian lengah dari intaian musuh?! Kita ini hyuuga dan akan sangat memalukan jika orang luar tahu hal ini. kita akan dipandang lemah. Jadi mulai sekarang jika hal yang sama terulang kembali maka saya tanpa belas kasihan memulangkan kalian ke wilayah keluarga cabang dengan tidak hormat. Kurasa kalian tahu maksud 'tidak hormat' yang tadi saya ucapkan," hiashi mengambil nafas, "Baiklah kembali bekerja," suruh Hiashi. Penjaga dengan patuh dan tunduk kembali ke pekerjaan mereka.
Hiashi keluar dari ruang pertemuan. Dia menyuruh asistennya tetap berjaga di kediamannya dan memantau semua pergerakan. Dia juga menambahkan bahwa jika ada hal yang aneh asistennya harus secepatnya memberitahukan dirinya.
Asistennya mengangguk dan pergi menuju wilayah penjagaan.
...
Hiashi berjalan menuju kediaman keluarga cabang Hyuuga. Kepala keluarga cabang menyambut Hiashi dengan senyuman hangat disertai raut muka yang penuh tanda tanya.
"Apa yang membuat pemimpin klan Hyuuga datang ke kediman cabang?" tanya kepala keluarga cabang ini.
"Hei kita bersaudara. Jangan terlalu formal begitu Hizashi," Tegur Hiashi pada adik kembarnya ini. adiknya hanya tersenyum sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan sekaligus membawa saudara kembarnya masuk ke kediamannya yang berada di tengah-tengah kediaman keluarga cabang Hyuuga. Yang paling besar.
"Apa ada sesuatu? Tidak biasanya kau datang tanpa surat padahal kau sangat sibuk dengan urusan perusahaanmu sekaligus pemerintahan dan oh! Klan kita juga membuatmu menjadi sangat sibuk," Oceh adik Hiashi. Hiashi tetap tenang. Seperti biasanya dia akan menjawab dengan sangat singkat, "Ini tentang Hinata," dengan suaranya yang direndahkan. Adiknya yang tahu kode rahasia dari kakaknya menjadi diam. Dia perhatikan sekitarnya. Dia tahu ada sesuatu yang mengancam Hinata.
Bukan mengancam sih.. lebih ke sudah terancam.
Tapi mana Hizashi tahu persoalan malam buta itu.
Mereka telah sampai di depan Shōjiruang tamu, "Aku ingin menemui istriku dahulu. Aku merasa khawatir. Tak apa kan jika kepala klan yang tengah risau ini menunggu lebih lama?" Izin Hizashi pada kakaknya disertai godaan kecil. Hiashi terbiasa dengan godaan itu. jadi dia sudah terbiasa mengatakan 'ya' atau 'tidak' tanpa penjelasan.
Hiashi memasuki ruang tamu itu. dia membaca beberapa mantra. Lalu dia mengubah matanya menjadi mode byakugan. Dia edarkan pandangannya ke seisi ruangan. Merasa tidak ada yang salah, Hiashi pun memutuskan untuk duduk di atas bantalan empuk.
...
Hizashi berlari tergesa-gesa menuju kamar pribadi mereka. Pikirannya hanya satu, istrinya.
Maklum jika Hizashi sangat takut sekarang. Dia takut jika hal buruk terjadi pada istri tercintanya. Pujaan hatinya. Teman hidupnya. Belahan jiwanya. Rusuknya. Dan nyanyanya lainnya.
Hizashi memang berlebihan jika tentang istrinya.
"Anata!" teriak Hizashi saat membuka Shōji. karena tidak mendapat respon apapun Hizashi langsung berlari masuk ke dalam kamar tidurnya. Sambil berteriak dia mencari di setiap sudut ruangan. Hizashi mulai berkeringat. Istrinya tidak bisa menjaga dirinya sendiri karena Istrinya kurang sehat sekarang. Jika ada yang berencana untuk melukai istrinya tanpa diketahui olehnya itu akan membuat malapetaka. Istrinya bisa dipastikan hanya bisa melarikan diri atau berusaha dengan sangat lemahnya melepaskan diri dari seseorang yang menahannya.
Hizashi mulai berpikiran negatif sekarang.
Di kamar mandi. Tidak ada.
Di ruang baca. Tidak ada.
Di ruang pakaian. Tidak ada.
"Anata ada apa? Kenapa kau memanggilkusambil berteriak? Kau mencariku?" tanya suara lembut yang berasal dari teras kamarnya.
Hizashi berbalik dan dia sangat senang. Dia langsung berlari dan memeluk istrinya. istrinya semakin bingung dengan tingkah suaminya.
"Hei.. aku sudah agak baikan. Aku menemani Neji latihan katana sebelum dia pergi berlatih dengan gurunya," terang istrinya pada suaminya. Suaminya langsung melepas pelukannya. Menatap lama istrinya yang sangat cantik itu, "Anata... Hiashi datang ke kediaman kita. Sepertinya akan ada berita buruk dan ini berhubungan dengan seluruh Hyuuga. Aku mohon supaya kau tidak pernah jauh dari penjagaan asistenku maupun asistenmu. Orang-orangku akan menjagamu selama aku berbicara dengan Hiashi. Jaga Neji untuk sekarang sampai dia bertemu gurunya. Aku akan memberitahu guru Neji untuk melindunginya sampai Hiashi mengabarkan berita baik untuk kita. Ingat, aku tidak ingin kau menolak semua ini. paham?" jelas Hizashi dengan suara yang sangat rendah. Istrinya tahu jika Hizashi tidak sedang bercanda. Suatu hal yang buruk memang akan terjadi jika Hizashi sudah merendahkan suaranya dan menatap dalam mata lavendernya.
"Cepatlah kembali," kata istrinya khawatir sambil mengusap rahang tegas milik suami tercintanya. Hizashi tersenyum. Dia melepaskan tangan istrinya dari rahangnya lalu mengecup basah dahi Istrinya.
"Jaga dirimu," bisik Hizashi lalu pergi meninggalkan Istrinya.
...
Hizashi berjalan menuju ruang tamu yang berada di kediamannya. Di sana kakaknya sedang menunggunya. Kakaknya sengaja bertamu di ruang tamu kediamannya dibanding ke kediaman keluarga cabang Hyuuga. Meskipun sangat besar dan lebih elegan kakaknya merasa kediamannya lebih aman daripada ruang tamu khusus milik keluarga cabang Hyuuga yang besarnya setara dengan ruang tamu Keluarga utama Hyuuga.
Di jalan hizashi bertemu asisten kepercayaannya, "Mau ke mana kau?" tanya hizashi. Asistennya terlihat membawa beberapa surat, "Membawa surat-surat yang Hizashi-sama suruhkan tadi," Jawabnya sopan. Ah.. Hizashi semakin cepat lupa. Hizashi diam sebentar untuk mengambil nafas, "Aku perintahkan padamu beserta orang-orang kepercayaanku untuk memperketat penjagaan di seluruh kediaman Hyuuga. Baik itu cabang maupun utama. Dan beberapa penjagaan pribadi untuk Istri dan Anakku. Paham?!" titah Hizashi dengan berwibawa kepada asisten kepercayaannya. Asistennya mengangguk. Dia pun pergi.
Sekarang hizashi sedikit tenang.
...
Suara Shōji bergeser menghentikan pikiran Hiashi yang telah menerawang jauh mengenai kejadian tadi malam.
"Terlalu lama?" tanya Hizashi pada kakak satu-satunya ini. Hiashi hanya menggeleng pelan.
Hizashi mendekati meja dan duduk berhadapan dengan kakanya di atas bantalan empuk.
"Apa kau haus?" Tanya Hizashi sekali lagi. Sepertinya Hiashi sedikit jengkel dengan adiknya yang banyak tanya ini.
Dengan agak jengkelnya Hiashi menjawab 'tidak' dan Hizashi tahu jika kakaknya telah jengkel padanya. Hizashi langsung memperbaiki gaya duduknya, "Baiklah. Sepertinya aku tidak perlu menawarkan apapun padamu," terang adiknya, "Apa yang membuatmu datang kemari?" tambah Hizashi. Dia tidak sadar jika dia kembali bertanya.
Tapi pertanyaan kali ini tidak membuat Hiashi jengkel.
"Tadi malam aku merasa aura yang sangat buruk. Entah apa itu. lalu tiba-tiba Hinata berteriak kencang. Aku dan istriku berlari ke kamar Hinata. Saat Istriku membuka pintu, suara Hinata tiba-tiba tidak terdengar. Istriku langsung memeriksa keadaan Hanabi di box bayi. Alangkah terkejutnya Istriku saat melihat banyak darah di sekitar box bayi itu. dia langsung mengingat Hinata dan mencarinya. Setelah mencari ke setiap sudut kamar ternyata Hinata menghilang. Saat aku baru sampai dan melihat kamar itu dengan mode byakugan aku melihat hal yang sangat buruk tengah membawa Hinata. tapi dia sudah pergi sangat jauh dan tidak mungkin untuk mengejarnya," Jelas Hiashi panjang lebar pada Hizashi. Hizashi dan author sedikit merinding mendengar penjelasn Hiashi. Hizashi mulai berpikir dan dia tahu apa yang sedang terjadi.
"Apa 'dia' yang datang ke rumahmu?" tanya Hizashi memastikan. Hiashi menggeleng. Dia melihat tajam mata Hizashi, "Sepertinya bawahan 'dia' yang membawa Hinata," jawab Hiashi tenang.
Hizashi menutup matanya lalu mengambl nafas panjang, "Jadi apa yang akan kau lakukan, Hiashi-nee?" tanya adiknya dengan suffix –nee. Tumben. Mungkin Hizashi prihatin atas kejadian yang menimpa kakaknya.
"Aku ingin menyerangnya. Tapi aku belum melatih diriku sejak beberapa bulan terakhir. Sepertinya mereka sudah tahu jika aku tidak berlatih beberapa bulan ini. jadi aku akan berlatih sementara waktu di dimensiku. Kau... kumohon jaga keluargaku. Terutama Istriku. Aku tidak mau jika dia melakukan hal yang tidak-tidak," jelas Hiashi di sertai permohonan. Nah. Baru pertamakali sejak bertahun-tahun silam kakaknya memohon padanya. Dan Hizashi tidak akan membiarkan kepercayaan yang kakaknya berikan hancur.
"Baiklah jika itu maumu," Jawab Hizashi menerima permohonan Sang kakak tercinta.
...
Hiashi kembali ke kediamannya yang berada satu distrik dengan kediaman Hyuuga cabang. hanya berpisah beberapa hektar kebun dan taman milik masyarakat hyuuga.
Dia mencari Istrinya.
Dia masuk ke dalam rumahnya yang sangat besar itu. dia berjalan cepat menuju teras rumahnya. Dia tahu jika jam begini Istrinya dan Hanabi sedang menghirup udara segar.
"Anata?" panggil Hiashi lalu dia mendengar Istrinya menyahut, "Ya ada apa?"
Hiashi langsung ke teras. Ia melihat Istrinya dan Hanabi sedang menepuk tangan. Sepertinya Istrinya sedang bermain dengan putri kecilnya.
"Kapan kau membawa Hinata pulang?" tanya Istrinya sambil menepuk tangan bayi empat bulan yang sangat lucu itu. Hiashi sepertinya takut memberitahukan berita ini tapi bagaimanapun Istrinya harus tahu dan mau menerima keputusannya.
"Beri aku waktu empat hari. Hanya empat hari. Aku harus mempersiapkan diriku sebelum membawa Hinata kembali," Jelas Hiashi ragu. Istrinya tiba-tiba menghentikan kegiatannya dan menatap tajam Hiashi, "Tidak bisakah lebih cepat?" tanya Istrinya dengan raut muka yang sangat sedih.
Hiashi menggeleng.
"Baiklah.. tapi kau harus memberitahuku jika kau pergi. Jika aku merasa hal buruk terjadi aku tidak akan menunggumu selesai. Aku akan berteleportasi ke tempat 'itu' dan melawan 'dia' seorang diri," Ancam istrinya. Hiashi menajamkan matanya. Dia menatap lama bola mata lavender itu, "Jika kau pergi seorang diri aku akan menghembuskan nafas terakhirku tepat saat kau meninggalkan kediamanku," Ancam Hiashi dan bisa dibilang jika Istrinya tidak bisa melawan keputusan suaminya ini. Hiashi pasti tidak main-main dengan perkataannya.
Istrinya langsung memeluk Hanabi dan menangis dalam diam, "Kumohon cepatlah menyelesaikan persiapanmu. Aku akan memberikan sebagian kekuatanku. Semoga dengan itu kau semakin cepat membawa Hinata kembali," jelas Istrinya diselingi sesenggukan kecil.
Hiashi diam. Dia tidak yakin jika dia akan menyelesaikan pertapaan dan beberapa latihan segel serta mempelajari kembali segel yang dia lupa. Namun dia akan berusaha untuk keluarga kecilnya.
Hiashi memeluk keluarganya yang kurang satu orang itu. dia memeluk erat keluarganya dan mencium kening istrinya, "Jaga Hanabi baik-baik. Bagaimanapun Hanabi juga putrimu, Hime," bisik Hiashi di dekat telinga Istrinya. Istrinya mengangguk dan mengeratkan pelukannya pada Hanabi.
...
Hiashi meminta Istrinya tinggal bersama adik iparnya di kediaman Hizashi. Dia juga meminta agar istrinya, Hanabi dan adik iparnya tidur dalam satu kamar yang di luarnya penuh dengan penjaga.
Hizashi, adik ipar dan Istrinya mengangguk menerima perintah pemimpin klan Hyuuga ini.
Di depan keluarganya dia membuat portal. Lalu dia tersenyum dan pamit pada keluarga intinya.
Empat hari. Hanya empat hari.
...
Selama empat hari Hiashi berlatih dengan sungguh-sungguh. Sebelum dia berlatih dia mengubah waktu dimensinya dengan perbandingan satu hari di dimensi bumi sama dengan tiga hari di dimensinya. Dia tidak bisa menambah perbandingan karena dia sudah lama tidak menggunakan segel berat yang menguras tenaganya.
Selama dua belas hari di dimensinya, Hiashi terus menerus berlatih. Dia hanya akan istirahat jika dia benar-benar lelah.
Karena dia berada di dimensinya selama dua belas hari jadi dia membuat beberapa rumah untuk latihan kecilnya.
Dia membuat rumah dengan beberapa segel yang diingatnya. Dia membuat rumah dari kayu dan batu alam.
Dia membuat rumah untuk seluruh keluarga dekatnya. Dia cocokkan rumah itu dengan selera orang yang akan dia berikan rumah. Meskipun tidak cocok sekali karena Hiashi tidak terlalu tahu selera keluarga dekatnya tetapi dia mencoba sebisa mungkin mengingat beberapa momen saat keluarga dekatnya menyampaikan kesukaan meraka padanya.
Jadilah lima rumah megah yang berdiri saling berjauhan.
Rumahnya lumayan dekat dengan rumah kedua putrinya. Rumah adiknya lumayan dekat dengan Neji dan Neji rumahnya sangat jauh dari kedua putrinya.
Bagaimanapun Hiashi tetaplah Hiashi. Ayah yang sangat protektif terhadap kedua putrinya.
...
Selama tiga hari Istri Hiashi bertapa dalam kamarnya. Dia menstabilkan kekuatannya dan menambah kekuatannya dengan mengambil energi alam.
Sedangkan Hanabi dia diurus oleh tantenya, ibu dari Hyuuga Neji.
Awalnya Hanabi memangis saat dipangku oleh tantenya dan merengek untuk kembali ke pangkuan ibu tercintanya. Tapi dengan penuh kelembutan Ibu Hanabi memberikan pengertian dan sosialisasi pada anaknya bahwa tantenya adalah orang yang baik dan juga seorang ibu. setelah diberikan sosialisasi meskipun terkadang tidak berhasil tapi akhirnya Hanabi bisa menerima keberadaan tantenya. Dia mulai terbuka pada tantenya dan terlihat lebih akrab.
Hanya satu hari Ibu Hanabi mensosialisasikan putri kecilnya. Hebat!
Tapi putrinya harus meminum susu bubuk selama tiga hari karena dia bertapa. Dan dalam pertapaannya, dia tidak boleh terganggu. Jadi kamarnya sangat hening.
Tragedi malam itu
Hinata sangat pucat. Darahnya keluar begitu banyak. Mahluk bertudung hitam itu melukai kaki dan tangannya saat berusaha menahan adiknya diambil oleh mahluk itu.
Awalnya mahluk itu ingin mengambil Hanabi tetapi dengan cepat Hinata menghalanginya.
Hinata tidak ingin membangunkan adiknya tetapi mahluk di depannya tanpa belas kasihan menyanyat kulitnya lalu menekan tangannya yang berdarah sehingga dia berteriak dan badannya terjatuh menyentuh box Hanabi setelah dilepaskan 'didorong' oleh mahluk itu.
Box itu tersentak dan Hanabi terbangun. Hanabi langsung menangis setelah melihat mahluk mengerikan yang berada di atasnya.
Hinata kembali bangkit setelah melilitkan kain bajunya yang Ia robek dengan tangan kirinya pada tangan kanannya. Dia menggigit tangan yang ingin menyentuh adiknya. Tiba-tiba tangan itu mendorongnya sangat kuat sampai-sampai tulang belakangnya berbunyi.
AAAAA.. hiks..hiks..
Hanabi memangis dan Hinata refleks berteriak saat punggunya berciuman dengan dinding kamarnya.
Hinata tidak menyerah begitu saja. Dia berjalan dengan gontai menuju mahluk mengerikan itu. dia mendorong mahluk mengerikan itu dengan sisa kekuatannya.
Mahluk mengerikan itu merasa terganggu dan menarik badan Hinata lalu menidurkannya di bawah kakinya dan menginjak punggungnya yang agak retak setelah menghantam keras dinding kamar. Setelah itu Ia menurunkan kepalanya dan mendekatkan bibirnya pada telinga Hinata.
"Berhenti mengangguku bocah!" bisik mahluk mengerikan itu di dekat telinga Hinata. setelah membisikkan kalimat itu, monter itu kembali berdiri dan mendekatkan kedua tangannya pada Hanabi. Kulit tangannya hampir bersentuhan dengan kain yang menutupi badan Hanabi sampai sebuah cahaya lavender muncul mengelilingi tubuh Hinata. mahluk mengerikan itu menatap Hinata dan Hinata menatap nyalang mahluk mengerikan itu.
"JANGAN SENTUH ADIKKU!" bentak Hinata. dia mengangkat tangannya lalu menarik kaki yang menginjak punggungnya. Mahluk mengerikan itu menahan kakinya tetapi tangan Hinata tiba-tiba lebih kuat daripada kaki mahluk mengerikan itu. Mahluk mengerikan itu terjungkal. Mahluk mengerikan itu lalu mengucapkan beberapa mantra penyegel dan secara tiba-tiba Hinata tidak sadarkan diri. Mahluk mengerikan itu langsung menggendong tubuh Hinata dan pergi menembus dinding kamar Hinata. Mahluk mengerikan itu harus keluar dari kediaman Hyuuga supaya bisa membuka portal menuju dimensinya.
Shōji kamar Hinata pun terbuka.
...
Setelah tragedi itu
...
Monster itu membawa Hinata menuju suatu tempat yang sangat megah. Sepertinya tempat ini adalah istana.
Dia menuju aula. Sepertinya aula.
Kaki dan tangan Hinata diborgol. Kakinya diberikan rantai supaya bisa jalan. Kepalanya dirantai seperti anjing peliharaan. Tangannya juga diborgol kencang di belakang badannya.
Hinata terus menundukkan kepalanya sampai mahluk yang menyeretnya berhenti. Dia mengangkat kepalanya sedikit memastikan apa yang sedang terjadi. Oh, mahluk itu berlutut hormat pada seseorang yang duduk di singgasana besar.
"Hormat dan Nyawaku untuk Baginda Raja. Dengan kerendahan diri, saya telah mendapatkan byakugan no hime," jelas mahluk itu dengan tunduk pada seseorang yang bergelar Raja tadi.
Hinata menatap nyalang kaki Raja itu. lalu dia mengangkat kepalanya meskipun masih terasa sakit.
Hinata sangat kaget! Mata mereka sama. Apa mereka satu klan? Tapi siapa yang setega ini padanya? Masa klannya tega pada dirinya.
"Hei Bocah tunduk kau!" seru mahluk itu sambil menarik rantai leher Hinata. Hinata dengan terpaksa tunduk pada Raja itu. Hinata sangat kesal.
Sebelumnya saat dia sadar tubuhnya sudah penuh dengan luka lebam. Lalu dia ingin melarikan diri tapi aksinya sia-sia karena tubuhnya sangat sakit saat digerakkan. Tapi Hinata berusaha untuk duduk dan berdiri menuju pintu. Dengan susah payah dia menuju pintu. Tapi keburuntungan tidak berpihak padanya. Pintu tiba-tiba terbuka dan mahluk lain langsung menarik rambutnya.
Mahluk itu seperi memanggil seseorang. Tiba-tiba seorang manusia datang. Hinata kira mereka mau menghajar mahluk kurang ajar itu tetapi orang-orang itu malah memborgol dan merantainya. Hinata akhirnya pasrah. Hinata ikhlas diseret-seret karena Hinata tidak punya tenaga untuk meronta-ronta lagi.
Tapi setelah semua yang dia dapatkan bukannya diberi hati malah diberi api. Ckck
"Halo Hime. Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja?" tanya raja itu berbasa-basi. Hinata jengkel melihat tingkah kurang ajar Raja. Dia menatap tajam mata yang persis dengan matanya, "Siapa kau?! Kenapa kau mengincar adikku, hah?!" tanya Hinata dengan suara yang ditinggikan.
"Sayang.. ini urusan keluarga. Untuk sementara kau menginap di sini," Jelasnya pada Hinata. Hinata tidak mau. Dia belum tahu jawabannya. Hinata meronta tapi bukannya lepas Hinata malah dihujai banyak pukulan.
Hinata diam. Dia lelah. dia haus. Dia lapar.
"Jangan melawan sayang," Raja itu memperingatkan Hinata sembari mengelus pipi Hinata yang tidak mulus lagi, "Kau bawa dia ke penjara kelas A," titah Raja yang sangat jahat padanya.
Kelas A? Apa Raja itu sudah kehilangan rasa kemanusiaannya?Kelas itu khusus untuk pengkhianat. Pembaca tahulah bagaimana hukuman untuk pengkhianat.
Tiba-tiba suara lucu menghentikan aksi mahluk berdarah dingin itu dari aksinya menyeret Hinata, "Ro-chan jangan bawa dia kesana. Bagaimana kalau Ro-chan membawa dia ke kamarku. aku tidak punya teman," rengek anak kecil itu. Dia melihat Raja, "Tou-chan jangan bawa dia ke sana. Aku yang akan mengurusnya. Kalau tidak mau nanti aku melapor ke Kaa-chan!" tambah anak laki-laki itu sambil menggembungkan kedua pipinya.
Raja langsung memarahi anak kecil itu. dia berniat menjewer anak kecil itu sampai seorang wanita dengan pakaian layaknya permaisuri memasuki ruangan itu. Raja menghentikan aksinya. Dia terlihat ketakutan.
"Hime.. apa kau tidak ngantuk? Oh ya.. anak kita kayaknya mau tidur. Lihat matanya sudah berkaca-kaca. Dia beberapa kali menguap. Dia ngantuk. Benar kan sayang?" Tanya Raja dengan akhiran yang penuh penekanan. Sepertinya ini kode untuk anak laki-laki itu.
"Kaa-chaaan! Tou-chan memarahiku untuk pertama kalinyaa.. huaaaa..." Lapor anak itu sambil berlari menuju wanita yang sepertinya adalah seorang permaisuri.
Anak itu memeluk wanita itu dan bersembunyi di belakang tubuhnya.
Wanita itu menatap tajam suaminya. Dia melihat mahluk yang berdiri tidak jelas sambil memegang rantai leher Hinata. wanita itu berjalan mendekati mahluk itu dan merampas rantai leher Hinata, "Biar aku yang mengurusnya. Kau bisa pergi. terimakasih," terang Wanita itu. mahluk itu melihat Raja. Raja mentapanya tajam. Mahluk itu menelan salivanya, "Err.. Permaisuri... biar saya yang-" "Tidak usah, saya saja," potong wanita itu.
Oh wanita itu Permaisuri. Pantas saja berani pada Raja.
Mahluk itu meminta izin untuk pergi setelah Permaisuri memaksanya dengan lembut untuk pergi.
Permaisuri menatap Raja, "Anata.. demi diriku tolong biarkan aku yang mengurusnya," rengek istrinya. karena tidak tega, Raja akhirnya mengiyakan rengekan Istrinya itu. meskipun dia sangat berat hati melakukannya.
"Anata kau yang terbaik!" seru istrinya sambil berjalan ke arahnya dan mencium pipi Suaminya. Permaisuri lalu memanggil pelayan dan menyuruhnya melepas semua borgol dan rantai yang mengikat Hinata. setelah terlepas, Permaisuri itu menggendong Hinata yang tak sadarkan diri menuju kamar putranya.
Sabar untukmu Raja. Kau ditinggal sendirian di ruangan yang besar ini dan di kamar pribadimu. Kekeke..
TBC
Shōji (Wiki) = dalah panel dari rangka kayu berlapis kertas transparan. Kertas pelapis dapat berupa washi atau kertas bercampur serat sintetis. Dalam arsitektur tradisional Jepang, shōjiberfungsi sebagai pintu geser
Kediaman keluarga cabang dengan keluarga inti berada dalam satu district. Luasnya seperti emm.. pokoknya luaslah. Luasnya bisa menampung kota kecil pribadi milik klan Hyuuga.
Keluarga inti berada di tengah-tengah district tersebut. Bentuk bangunannya tetap dipertahankan selama turun temurun makanya rumahnya bergaya kekaisaran Jepang.
Lalu di sekitar kediaman inti terdapat kebun atau taman bunga dan sungai. Pokoknya alami dan sangat indah. setelah itu terdapat kediaman keluarga cabang dengan mempertahankan gaya arsitekturnya dari dulu makanya gayanya sama dengan gaya keluarga inti. cuman keluarga inti lebih bagus dan besar dari keluarga cabang. lebih toplah.
keluarga inti mempunyai benteng tinggi sebelum taman tersebut seperti juga keluarga cabang. tapi keluarga cabang memiliki benteng yang lebiih menjulang tinggi.
lalu di luar benteng terdapat sawah dan perdesaan. Beberapa kilo dari perdesaan terdapat kota seperti Jakarta. Tetapi kota itu bukan kota luar tetapi kota milik Hyuuga karena masih berada dalam satu district.
Sistem pemerintahan di kota tersebut seperti sistem pemeritahan keraton.
Meskipun berada dalam suatu negara kesatuan Jepang tetapi kotanya masih memegang adat pemerintahan tersendiri.
Ya kayak begitulah. Pemerintaha keraton di Yogya.
Maaf jika membawa nama-nama kota dan adat. Maaf sebelumnya. Author meminta izin pada seluruh pembaca yang bersangkut-paut dengan tulisan bercetak miring untuk membiarkan author menggunakan kata tersebut. Maaf atas kelancangan author.
Terimakasih telah membaca sekaligus telah review
Kayaknya author lancang. Gomen ya reader. Author sengaja karena itu cara tergampang mendeskripsikan bentuk kediaman keluarga Hyuuga sekaligus paling dimengerti para readers.
Eeh... chap ini jg sudah dire-make! Banyak yang salah. Hoho. Ya namanya juga manusia :v
CHAPTER SELANJUTNYA ADALAH LANJUTAN FLASHBACK DARI CHAP INI
REVIEW! :v
Updet terserah saya :v
Netto. 3104 EMEJING!
