[REMAKE] Katie Ashley – The Proposition #1
.
.
.
Disclaimer: cerita sepenuhnya milik Katie Ashley, terjemahan indonesia dari buku aslinya sepenuhnya milik LoveReads.
.
versi HunHan yang saya remake, memiliki alur dan bahasa yang sedikit berbeda dari novel aslinya, TETAPI tetap tidak merubah inti ceritanya. alur, pemakaian bahasa, dan nama tokoh ada yang saya ubah. ff ini dibuat hanya untuk kesenangan semata. tidak ada unsur lain didalamnya.
luhan1220
.
.
.
The Proposition
.
.
Chapter 6
.
.
Tanpa banyak bicara, Sehun melepaskan pelukannya dan bergerak cepat memasuki rumah Luhan. "Tunggu Sehun." Sehun mengabaikannya dan mendobrak masuk melewati serambi, Luhan mengikuti dibelakangnya. ia menyaksikan bagaimana Sehun tiba – tiba langsung berhenti dan membeku di depan Pack N Play dimana Taeoh tidur. Sehun berbalik kearah Luhan dibelakangnya
"Taeoh? Maksudmu aku baru saja mengeluarkan amarahku untuk seorang bayi?"
Luhan terkikik. "Ya."
Sehun menghembuskan nafasnya. Memejamkan mata dan memegang pelipisnya yang tiba – tiba terasa pening mendadak. "Aku tidak percaya kau melakukan itu padaku. Aku berfikir harus melempar pria itu untuk keluar dari sini."
Luhan menghampirinya dan menekan tangannya di atas jantung Sehun."Oh, bayi yang malang, apakah kau menginginkan aku menciumya supaya membuatnya menjadi lebih baik?" goda luhan dengan menggerakkan jari – jarinya secara abstrak di dada bidang Sehun.
Sehun menjulurkan bibir bawahnya dan menampilkan tampang yang menggemaskan kemudian Luhan mencium jantungnya di atas kemeja Sehun. "Terima kasih." Tersenyum lalu mengalihkan pandangannya dari balik bahunya ke arah Taeoh. "Jadi, apa sebenarnya yang dia lakukan disini?"
Luhan melingkarkan kedua lengannya di leher Sehun dan menekan tubuhnya agar menempel. "Kyungsoo kewalahan dengan pekerjaanya, jadi aku menawarkan diri untuk menjaga Taeoh dan membiarkan dia menyelesaikan pekerjaannya tanpa gangguan. Ditambah ini praktek yang baik bagiku."
"Tunggu, jadi dia akan bermalam disini?"
"Ya tuan Oh Sehun." Luhan menyandarkan tubuhnya lalu menggodanya dengan menggigit bibir Sehun dengan lipatan bibirnya. "Tapi dia tidur di Pack N Play, dan kau bisa berada ditempat tidur denganku."
"Hmm, aku suka skenario ini." Sehun langsung menciumnya dengan liar dan membimbing Luhan mundur ke belakang menuju sofa.
"Whoa, tunggu dulu. Aku tidak bermaksud untuk memulainya sekarang." Gumam Luhan diantara bibir Sehun.
"Kapan waktu yang lebih tepat?"
Luhan membiarkan Sehun mendorongnya turun ke bantalan. "Menunggu Taeoh bangun nanti malam. Dia akan membutuhkan botol susu dan mandi."
"Dia akan baik – baik saja." Sehun bergerak perlahan diatas tubuh Luhan, masih berhati – hati agar tidak terlalu banyak menanggung berat badannya. Sementara satu tangannya menyusup dibawah baju tidurnya. Tunggu. "Sial, apakah ini gambar rusa?"
"Bambi Sehun, bukan rusa."
"Ck! Sama saja untukku Luhan." Menatap tak percaya dengan apa yang telah Luhan kenakan.
Luhan terkikik. "Aku tidak mengharapkan kedatangan seseorang dan aku memiliki sedikit obsesi yang mulai meningkat pada kartun."
"Ya Tuhan mereka hampir saja membunuh gairahku."
Luhan menyelipkan tangannya diantara tubuh mereka kemudian mengangkat alisnya. "Tapi kurasakan ini baik – baik saja."
"Hmm, terus lakukan itu, dan aku pikir ini akan lebih dari baik – baik saja."
Luhan terus mengusap – usap kejantanan Sehun yang terhalang oleh celananya, sementara Sehun menciumi leher Luhan lalu menuju payudaranya. Saat Sehun menurunkan tali baju tidurnya untuk menelanjangi payudara Luhan, suara jeritan datang dari sisi ruangan. Selama satu menit hal itu belum menyadarkannya, tapi kemudian Taeoh mulai meratap dengan suara nyaring. Luhan segera memutuskan ciuman mereka dan menyentakkan tangannya dari kejantanan Sehun.
"Hentikan Sehun!"
"Tidak, rasanya begitu nikmat." Gumamnya masih menciumi tulang selangka Luhan.
"Sehun! Apakah kau tuli! Taeoh menangis."
"Oh, Sial." Sambil mengerang karena tersiksa, Sehun menjauh darinya. Luhan bergeser keluar dari bawah Sehun dan bergegas menuju Pack N Play. Taeoh mengangkat tangannya ke arah Luhan saat airmatanya mengalir dipipinya.
"Shh, tidak apa – apa, anak manis." Sambil meraih Taeoh. Tangisannya sedikit tenang ketika ia berada dalam pelukan Luhan. "Apa kau lapar, hm?" Luhan mencium pipinya dan mengusap punggungnya secara melingkar sementara Taeoh menyeringai pada Sehun dibalik bahu Luhan.
"Ck! Dasar bocah menyebalkan." Gerutu Sehun.
Luhan tersentak dan berbalik kearah Sehun." Kau baru saja bilang apa Sehun?"
"Bocah menyebalkan."
Taeoh menjerit, menangis, dan Luhan memeluknya dengan erat. "Jangan dengarkan paman Sehun ya sayang. Dia hanya bercanda." Mendengarnya Sehun langung memutar bola matanya. "Sehun tolong gendong Taeoh sebentar, aku harus menyiapkan makanan untuknya."
Anehnya Sehun tidak protes ketika Luhan menyerahkan Taeoh kedalam pelukannya. Taeoh segera menghentikan isakannya dan menatap dengan mata besarnya kepada Sehun. "Ya benar, kau terjebak denganku sekarang bocah nakal, dan aku tidak punya payudara yang indah supaya kau bisa meringkuk."
Luhan memukul lengannya. "Jangan berani – beraninya bicara seperti itu padanya Sehun! Dia hanya seorang bayi, payudara hanya makanan baginya, dasar mesum!"
Taeoh yang masih ompong tersenyum pada Sehun ketika Luhan bergegas pergi. Sehun tertawa kecil. "Kurasa dia benar. Kau, Kim Taeoh, suatu hari nanti akan memahami seperti apa rasanya ditinggal setengah ereksi oleh wanita." Ucap Sehun kepada Taeoh yang sudah pasti tidak mengerti dengan apa yang telah ia ucapkan.
"Aku mendengarnya!" Luhan berseru sambil membanting pintu kulkas. Setelah memanasi susu formula, ia kembali keruang tamu saat Taeoh mulai rewel lagi. Sehun akan menyerahkan Taeoh kembali kepada Luhan, tapi ia menggeleng. "Bisakah kau memberikan susu ini kepadanya sementara aku akan menyiapkan air untuk Taeoh mandi?"
Tidak mampu menolak permintaannya, Sehun langsung mengambil botol susu yang telah diberikan oleh Luhan. Dan memberikannya kepada Taeoh,kei mulutnya. Setelah Luhan selesai memandikan dan memakaikan Taeoh piyamanya, luhan menggoyang – goyangkan Taeoh selama beberapa menit di kursi goyang sampai ia tahu Taeoh tertidur pulas, lalu menidurkannya di Pack N Play.
Ketika Luhan akan keluar dari kamar tidur, ia berfikir tentang Sehun, merasa bersalah kepadanya, Maka dengan itu Luhan memiliki pikiran yang cukup liar di otaknya. Luhan berjingkat menuju lemari dan membuka laci paling bawah. Tertimbun dibawah bra dan celana dalamnya, ada sebuat korset hitam dengan tali tipis dan garter yang Baekhyun belikan untuknya saat ia memutuskan ingin membuat bayi. Ini adalah model lingerie paling berani yang Luhan miliki. Setelah memakainya ia menatap cermin, Luhan tidak terlihat seperti ibu hamil yang memamerkan benjolan bayi mungil diperutnya, tapi ia benar – benar tampak seperti rusa nakal atau wanita penggoda.
Luhan menyusuri lorong ketika mendengar suara keras dan lantang dari seorang reporter olahraga yang bergema diseluruh ruang tamu. "Taeoh sudah tidur."
"Dia tidak banyak membuatmu kesulitan kan?" tanya Sehun, tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.
"Tidak, dia tidur seperti malaikat."
"Bagus,"
"Ingin Beer?"
"ya, sepertinya menyenangkan."
Luhan mengambil satu dari lemari es dan berjalan perlahan ke sofa. Sehun bahkan tdak melihat kearah Luhan ketika Luhan menyerahkannya. Sehun membuka Beer-nya dan meminumnya.
"Apa yang kau tonton?"
"Pertandingan bisbol"
"Kau ingin 'bermain' bukan?" tanya Luhan malu – malu.
Sehun meminum Beer-nya sebelum berbalik menatap Luhan. Saat tatapannya mengarah kepadanya dan menyapu seluruh tubuh Luhan, Sehun langsung memuntahkan cairan Beer-nya keluar dari mulutnya. "Ya Tuhan, Luhan! apa yang kau kenakan?"
"Hanya sebuah kejutan untukmu, apa kau tidak menyukainya?"
"Oh, aku menyukainya." Sehun menjilat bibirnya, matanya melekat pada belahan payudara Luhan yang hampir meluap keluar dari korsetnya. Dengan senyuman tidak senonoh, Luhan bangkit dari sofa. Tatapan Sehun melebar saat melihat garter berenda diatas pahanya. Luhan mengambil bantal dari sofa dan menjatuhkannya dilantai. Membungkuk di atas Sehun, jari – jari Luhan menuju ke kancing celananya ."Aku akan menyelesaikan apa yang kita mulai tadi sebelum kita terganggu, jika itu tidak apa – apa."
"Tentu saja, aku sangat senang mendengarnya." Tatapan Sehun sangat tidak terbaca karena dipenuhi oleh gairah yang membara.
Luhan menarik resletingnya kebawah, dan Sehun mengangkat pinggulnya untuk memudahkan Luhan menarik lepas celananya. Ereksinya menegang dibalik celana dalamnya. Berlutut diatas bantal diantara kaki Sehun, Luhan menjalankan tangannya keatas dan kebawah dibagian paha Sehun, kuku jari Luhan menggores kulit sensitifnya. "Lu, please." Gumam Sehun.
Luhan tersenyum manis padanya saat ia menarik ban pinggang celana dalamnya kebawah dan membebaskan ereksinya. Membawanya dengan satu tangan, Luhan meniup ujung kejantanan Sehun yang berkilau, menyebabkan Sehun menggeram rendah. Ketika Sehun mulai protes lagi, Luhan meluncurkannya masuk kedalam mulutnya, Sehun tersentak dan mendorong pinggulnya, menyebabkan masuk lebih dalam lagi ke mulut Luhan. Luhan mendorongnya keluar – masuk, menghisap keras ujung kepalanya. Sehun mengerang kenikmatan "Oh Lu, Shit!" Luhan mempercepat gerakannya saat jari – jari Sehun membelit rambutnya. "Aku akan datang jika kau tidak berhenti." Sehun memperingatkan.
Tapi Luhan menginginkan semuanya jadi ia tetap melanjutkan mulutnya untuk terus bekerja, membawanya lebih dalam dan lebih dalam lagi setiap kali menghisapnya, lebih menekan disekelilingnya menyebabkan pipinya menjadi tirus karenanya. Akhirnya Sehun berteriak, mengangkat pinggulnya dan menyemburkan cairannya kedalam mulut Luhan. Mata Sehun membara kearahnya, aliran darah dalam tubuhnya terasa sangat panas. "Ya Tuhan, rasanya begitu nikmat!" Sehun terengah – engah.
"Aku senang kau menyukainya."
Sehun membungkuk dan menarik Luhan kepangkuannya. Luhan merasa dirinya bertambah basah saat dia mengangkangi Sehun. Tangan Sehun menuju korset Luhan dan menariknya. "Aku pikir aku bisa mengerti tentang 'bermain' yang kau maksud Luhan?"
"Aku hanya ingin menyambut kepulanganmu Sehun." Ucap Luhan malu – malu.
"Yeah, terima kasih sambutannya. Aku menyukainya." Sehun menarik dagu Luhan untuk menatapnya, dan langsung memberikan ciuman yang lembut kepadanya, bukan ciuman panas atas gairahnya yang telah terbakar tetapi ciuman kasih sayang yang begitu hangat.
.
.
.
Pada pukul tiga dini hari, suara tangisan Taeoh membangunkan Luhan. Dia mendorong Sehun yang meringkuk di atas tubuhnya. "Bangun Sehun."
"Hmm?" gumam Sehun bergerak membenamkan wajahnya pada bantal.
"Taeoh menangis."
Sehun mengerang lalu berguling darinya. Saat Luhan sedang memakai jubahnya, Taeoh menjerit dengan nada tinggi. "Ya Tuhan, anak itu memiliki paru – paru yang kuat." Segera Sehun menutup kepalanya dengan bantal.
Luhan langsung bergegas menuju box bayi. "Shh, tidak apa –apa sayang." Gumamnya sambil mengangkat Taeoh kegendongannya. Jeritannya sedikit mereda, tapi dia masih terus menangis.
Suara Sehun teredam dari bawah bantal. "Lu, maukah kau membawanya ke tempat lain?"
Kemarahan membakar pada diri Luhan. Berani – beraninya Sehun memperlakukan dirinya seperti itu? Luhan membawa Taeoh kedepan bahunya, lalu menggunakan tangannya yang bebas untuk memukul punggung telanjang Sehun dengan keras. Sehun mengempaskan bantalnya, lalu menatap Luhan tajam tapi sedikit mengantuk. "Kenapa aku memukulku?" protes Sehun tak terima.
"Kenapa kau bertingkah seperti bajingan berkulit tebal?"
"Karena aku kelelahan Luhan, terlalu banyak pekerjaan yang harusku kerjakan dan aku mengalami jetlag, aku hanya butuh tidur." Sehun menggeram,
Luhan menggeleng – gelengkan kepalanya. "Perilakumu malam ini benar – benar membuatku berfikir tentang sesuatu."
Sehun langsung bangkit dari tempat tidurnya –dalam posisi duduk, dan menggosok – gosokkan matanya. "Apa yang kau katakan Luhan?"
"Apakah ini yang akan terjadi pada bayi kita? Kalau kau hanya memikirkan dirimu sendiri, ketika bayi kita menangis, apa kau akan diam saja? Membencinya ketika kita sedang bersama atau bercinta? kau membuatku seperti orangtua tunggal Sehun, padahal kau didalam ruangan yang sama denganku."
Setelah mendengarkan perkataan Luhan. Sehun langsung menyentakkan selimutnya kesal. "Oke, aku akan mengisi botol sialannya, apa itu membuatmu senang?" Sembur Sehun sedikit kesal terhadap Luhan.
"Mungkin." Ucap Luhan cuek.
Sehun sedikit mendengus dan langsung berdiri memakai boxernya yang terlantar diatas lantai dengan kesal berjalan kearah dapur, Luhan hanya tersenyum melihatnya keluar dari kamar sambil menghentakkan kakinya, itu terlihat lucu dan menggemaskan, setidaknya omelannya memberikan pengaruh terhadap Sehun untuk bertindak.
Perlahan Luhan duduk di kursi goyang sambil mengusap punggung Taeoh. "Tunggu ya sayang, paman Sehun sedang mengambilkan botol susumu."
Setelah Sehun kembali, wajah Taeoh merah padam, mendengus dengan amarah karena kelaparan, dan menggerak – gerakkan tangan dan kakinya. "Dasar bocah nakal, tenanglah." Kata Sehun, lalu menyerahkannya kepada Luhan.
"Terima kasih." Kata Luhan kepada Sehun sambil tersenyum manis. Sehun menatap Luhan kesal. Sepertinya Oh Sehun dalam mode merajuk. Ia langsung kembali ketempat tidur, membaringkan tubuhnya. –hanya berbaring.
Luhan memeluk Taeoh didadanya, lalu memberikan dotnya. Setelah itu Luhan bersenandung dengan lembut, agar Taeoh segera tidur di pelukannya. Tidak lama kemudian, Taeoh telah tertidur lelapnya. Luhan langsung menaruhnya didalam box bayi. Ketika Luhan berdiri dan membalikkan badannya, dia terkejut saat melihat Sehun sedang bersandar pada satu sikunya, sedang menatapnya. Hanya dengan sedikit cahaya dari lorong, Luhan tidak tahu apakah itu nafsu atau cinta yang membakar matanya.
"Apa?"
"Aku belum pernah mendengar kau bernyanyi sebelumnya. Suaramu benar – benar merdu Luhan."
Luhan hanya tersenyum menanggapi pujian Sehun, memposisikan dirinya duduk di pinggiran tempat tidur, Sehun masih tetap pada posisinya –memandangi Luhan.
"Sehun."
"Hmm."
"Apa kau serius dengan hubungan 'lebih' yang kau ajukan padaku waktu itu?"
Jari – jari Sehun sedang mengusap – usap lehernya yang terasa pegal, tiba – tiba terasa membeku setelah mendengar pertanyaan Luhan. "Tentu saja." Sehun mengerutkan alisnya kearahnya. "Kau tahu, sejak aku mengajukan proposisi padamu malam itu di O'Malley. Aku tidak pernah menyentuh wanita lain Luhan."
"Aku tahu Sehun, hanya saja–"
"Kau takut karena masa laluku?"
Mendengar pertanyaan Sehun, Luhan langsung teringat memori dimana ia pertama kali mengunjungi rumah Sehun dan menanyakan sesuatu hal yang berkaitan tentang masa lalunya.
FLASHBACK ON
Luhan menggigit di ujung garpunya, mecoba memutuskan apakah ia memiliki keberanian untuk mengajukan pertanyaan yang telah mengganggu dirinya selama ini.
"Apa kau pernah benar – benar jatuh cinta sebelumnya, Sehun?"
Sehun tersedak gigitan scampi yang ia makan. "Ya." Jawabnya dengan suara tercekik.
"Hanya itu?"
"Apakah kau berharap untuk beberapa rincian cabul?"
Luhan menyeringai, "Mungkin."
"Aku pikir ini sudah cukup malam." Sehun mengambil piring kosong dan mulai bangkit dari kursinya ketika Luhan mengulurkan tangan dan sedikit menyentuh tangannya. Luhan bisa melihat perjuangan di matnya, belum lagi Sehun terus mengepal dan mengendurkan rahangnya. Tampak sedang bertarung pada dirinya sendiri apakah harus jujur pada Luhan atau tidak.
Tidak ingin membuatnya tertekan, Luhan menggeleng. "Tidak apa – apa. Kau tidak perlu memberitahuku. Ini tidak sopan untuk ditanyakan."
"Tidak, tidak, aku akan menceritakannya padamu Luhan." Jawabnya, dan Sehun kembali duduk.
"Namanya, Qian –Wu Qian, dan kami baru berumur lima belas tahun. Kami berdua di tim renang saat SMA. Dia adalah cinta pertamaku, pengalaman pertamaku, dan gadis pertama yang aku putuskan."
Hati Luhan tiba – tiba merasa sakit untuk seorang gadis yang bahkkan tidak ia kenal. "Kenapa kau putus dengannya?"
"Kami kencan hingga SMA dan hubungan kita berlanjut hingga kuliah semester pertama, tapi hatiku tidak lagi sama. Lebih dari apapun, aku tidak ingin terikat. Jadi aku melirik wanita lain."
"Dia memergokimu berselingkuh?"
Sehun mengusap tangan ke wajahnya. "Aku tidak percaya akan mengatakan semua ini padamu Luhan."
"Tolong lanjutkan Sehun."
"Tidak, aku putus sebelum dia tahu. Lalu tiga tahun kemudian, aku bertemu dengannya di pernikahan seorang teman, dan kami mulai berhubungan lagi. setelah satu tahun bersama – sama, dia ingin kita. . . Bertunangan. Semakin dia ingin dilamar, aku semakin tidak bisa melakukannya. Membayangkan terikat dengannya selama sisa hidupku membuatku merasa tercekik secara fisik." Tubuhnya memberikan getaran kecil. "Dan kemudian aku melakukan sesuatu yang benar – benar buruk, jadi dia memutuskanku."
"Apa yang kau lakukan?"
"Dia melihatku berhubungan seks dengan wanita lain."
Luhan menutup mulutnya dengan tangannya dan menatap Sehun dengan ngeri. "Ya Tuhan."
Sehun menghembuskan nafasnya berat. "Masa lalu adalah masa lalu kurasa. Setidaknya dia menemukan orang lain dan sudah menikah selama delapan tahun terakhir."
"Kau sudah bertemu dengannya?"
"Tidak, ibuku bertemu denganya di Misa bersama suami dan anak – anaknya." Sehun tersenyum lirih pada Luhan yang menatapnya iba.
FLASHBACK END
"Ya." Bisiknya.
"Aku mengerti mengapa kau merasa ragu atas semua ini, Luhan. Tapi aku sungguh – sungguh ketika aku bilang aku ingin mencoba 'lebih' denganmu. Aku tidak bisa memberi jaminan apapun, tapi setidaknya aku ingin mencoba. Aku menyukaimu. Aku suka menghabiskan waktu denganmu, bahkan diluar kamar tidur."
"Benarkah?"
"Bagaimana caraku agar bisa membuatmu percaya betapa kau begitu seksi dimataku Luhan?"
Luhan mengerutkan alisnya, merasa obrolan ini sudah mulai menyimpang. Luhan langsung menunjuk perutnya yang membuncit. "Menurutmu ini seksi?!" sambil memasang wajah pura – pura sebalnya kepada Sehun.
"Aku tidak peduli perutmu buncit atau tidak, Lu. Kau sendirilah yang membuat dirimu terlihat seksi, bukan tubuhmu. Bahkan bukan karena penampilanmu yang lezat saat memakai lingerie tadi. Tapi karena caramu menggoyangkan pinggul dan bokongmu dihadapanku, aku tahu itu membuatku gila, atau caramu menghisapku benar – benar membuatku putus asa."
Panas menjalar dipipi Luhan dan kehangatan berdenyut melalui pembuluh darahnya setelah mendengarkan kata – kata Sehun yang terdengar vulgar tapi tulus. "Jadi kau akan tetap menginginkanku walaupun aku hamil sembilan bulan, mungkin kelebihan berat badan tiga puluh kilo, dan membengkak seperti balon udara Goodyear?"
Sehun terkekeh mendengarkan penuturan putus asa Luhan yang sangat lucu ditelinganya. "Ya, aku tetap menginginkanmu Luhan."
"Hmm, kita lihat saja nanti."
"Jadi, kita sekarang baik – baik saja kan?"
Meskipun Luhan ingin berteriak, menjerit, dan mencerca bahwa ia benci definisi tentang 'lebih'. Itu membuat kepalanya berputar – putar. Tapi Luhan hanya bisa tersenyum. "Ya, kita baik – baik saja."
.
.
.
Dua bulan kemudian
Berendam di bathup berukuran besar, Luhan mengamati kakinya yang bengkak dengan perasaan jijik. Saat kehamilan meningkat dari trisemester pertama ke trisemester kedua, kakinya perlahan – lahan mulai berubah setiap harinya. Vivi bermalas – malasan dilantai bak kamar mandi dengan sedikit mendengkur. Karena kepergian Sehun keluar kota setiap dua minggu sekali sebagai Vice President, vivi sudah seperti anjing Luhan daripada Sehun. Dia menjemputnya dari Doggy Day Care dan vivi membantu Luhan melewati malam sediriannya tanpa Sehun.
Luhan baru saja menghangatkan airnya kembali untuk berendam lebih lama ketika vivi mengangkat kepalanya. Setelah menggonggong, ia berlari kearah pintu kamar mandi. "Oh, aku yakin Sehun telah pulang." Saat vivi menggoyangkan seluruh tubuhnya dan menggoyang ekornya kesana kemari, mau tak mau Luhan berbagi kegembiraan dengan vivi.
"Luhan!" suara teriakan Sehun terdengar dari lorong.
"Di Bak mandi." Sahut Luhan.
Sehun membuka pintu dan tersenyum lebar padanya. "Hei, sayang." memberikan Luhan ciuman yang lama sebelum mengalihkan perhatiannya pada vivi.
"Bagaimana perjalananmu?" tanya Luhan, saat Sehun menggaruk – garuk telinga vivi.
"Sama sialnya seperti biasa."
"Yang berarti kau akan meninggalkanku lagi minggu depan?"
"Sayangnya iya, aku kira itulah mengapa mereka menggajiku dengan bayaran yang besar." Sehun menatap busa yang menutupi tubuh Luhan. "Apa ini tidak terlalu dini untuk berendam?"
Luhan tertawa dan mengeluarkan satu kakinya dari air bathup. "Aku kira juga begitu, tapi kupikir dengan berendam akan membuat bengkaknya mengempis."
Berlutut kebawah, Sehun mengambil satu kaki Luhan dengan tangannya dan mencium punggung kakinya. "Aku akan memijatmu ketika kau keluar dari sini."
Luhan mengangkat alisnya curiga kearah Sehun. "Um, apa yang kau inginkan sebagai imbalannya?"
"Siapa yang berkata aku menginginkan imbalan Luhan? Kaki ibu calon bayiku sedang bengkak, jadi aku merasa bertanggung jawab untuk membuatnya menjadi lebih baik."
Luhan hanya tersenyum melihat keseriusan Sehun yang benar – benar ingin membuatnya jauh lebih baik. Dan itu membuat hatinya berbunga – bunga sekaligus hangat, Sehun yang brengsek bisa menjadi seseorang yang sangat pengertian dalam hal semacam ini. "Air masih hangat. Kau bisa bergabung denganku."
Seketika itu jari Sehun membuka kancing kemejanya. "Kau tidak perlu bertanya dua kali padaku."
Luhan menatap dengan penuh kagum saat Sehun menanggalkan bajunya. Tubuh bidang nan kokoh milik Sehun membuat Luhan merindukannya dan sangat mendambakannya. Setelah masuk kedalam bathup, Sehun melingkarkan tangannya ke pinggang Luhan, menariknya ke pangkuannya. Sehun mengejutkan Luhan saat ia menciumnya dengan lembut, bukannya ciuman kelaparan penuh gairah seperti biasanya. Tentu saja, ketika ia menggerakkan jemarinya sampai punggung Luhan, hal itu membuatnya bergidik penuh dengan antisipasi. "Apa kau ingin mengatakan apa yang ada dipikiranmu?" tanya Sehun.
"Huh?"
Sehun tertawa kecil, "Kau merasa sedikit tegang sayang, hanya itu."
"Ini tentang perjalanan bisnismu selanjutnya."
"Hmm?" gumamnya sambil menyisir jemarinya di rambut basah Luhan.
"Apa kau punya rencana pada akhir pekan setelah kau kembali?"
"Belum tahu, kenapa?"
"Ada acara reuni tahunan keluargaku di pegunungan. Mereka keluarga dari ibuku." Gumam Luhan merasa tak yakin membicarakan hal ini dengan Sehun.
"Reuni keluarga?" Sehun menghentikan aktifitas meyisir rambut Luhan dan langsung menatapnya bingung.
"Intinya acara ini semacam reuni keluarga. Aku berencana untuk pergi hari sabtu sore dan kembali minggu sore. Aku akan sangat senang jika kau ikut denganku Sehun. Kakek dan nenekku ingin sekali bertemu denganmu."
"Oke"
"Benarkah?" ujar Luhan tak percaya dengan persetujuannya Sehun.
Sehun mengangguk. "Kau telah menderita saat bertemu keluargaku. Aku seharusnya membayar kebaikan itu. Lagipula, aku menyukai pegunungan. Kita bisa mengajak vivi juga."
Luhan masih tidak bisa menyembunyikan perasaanya saat melihat kegembiraan Sehun tentang pertemuan keluarganya "Jadi aku bisa mengatakan kepada nenek kita akan datang?"
"Tentu, aku tidak ingin melewatkannya Luhan."
.
.
.
Sehun memasukkan pakaian terakhirnya lalu menutup resleting kopernya. Ia mendengus frustasi ketika ponselnya berdering di sakunya. Karena ia sudah terlambat untuk menjemput Luhan, ia tidak ingin ada gangguan lagi. Tetapi bunyinya sangat mengganggu telinganya. Maka dari itu Sehun memutuskan untuk mengangkat teleponnya. "Halo?"
Suaranya sangat keras dari seseorang yang agak mabuk terdengar dijalur teleponnya. "Sehun, dimana? Kami sudah berada di O'Malley menunggu permintaan maaf sialanmu!"
Ternyata Seungri –teman baiknya. Sehun benar – benar lupa untuk memberitahu teman – teman kantornya yang lain bahwa ia tidak bisa berkumpul lagi seperti biasanya setiap hari Sabtu. "Maaf Seungri, aku akan pergi keluar kota dengan Luhan."
"Kau bersama Luhan lagi?" ejeknya, suaranya mengalahkan kegaduhan dari kerumunan orang banyak di latar belakangnya.
"Ya. Kami akan mengunjungi keluarganya di pegunungan. Acara reuni keluarga."
"Persetan! Kau menghabiskan seluruh waktumu dengannya sekarang. Belum lagi kau akan memiliki seorang anak. Kau mungkin juga telah terjebak pada vaginanya."
"Ya. Menghabiskan banyak waktu bercinta dengan seorang wanita yang cantik, dengan senyumnya yang membuatku seperti seorang pecundang!"
Seungri mendengus mendengar jawaban Sehun yang menurutnya sangat menjijikkan ditelinganya. "Ck! Kau tak tahu bahwa kau telah menginjak pasir hisap sialan itu, Sehun. Aku yakin, rasanya menyenangkan sekarang, tapi tunggu saja. Luhan tidak bodoh. Dia sedang mengencangkan jeratannya, dan kau belum menyadarinya."
"Jangan mengatakan hal omong kosong seperti itu tentang Luhan!"
"Aku bukan satu – satunya orang yang mengatakan hal seperti itu Sehun. Seluruh teman – teman kita khawatir pada dirimu. Dan jangan mengatakan kami tidak tahu apa yang sedang kita dibicarakan. Tiga orang dari kita telah bercerai, ingat tidak?!"
"Hentikan omong kosongmu, Seungri!" teriak Sehun sebelum menutup teleponnya.
Dia pikir dia siapa? Luhan tidak memaksanya untuk melakukan apapun. Sehun bersama Luhan karena ia menikmati apa yang sedang mereka jalani. Tidak ada yang salah dengan itu. Sehun memberikan sama seperti yang Luhan berikan, dan Luhan tidak memaksakan kemauan apapun padanya.
"Idiot brengsek!" meraih koper dan bersiul pada vivi. "Ayo vivi kita berangkat."
.
.
.
TBC
.
.
.
15 Agustus 2016
Terima kasih atas semua dukungannya yaah. Aku baca semua review kalian, dan itu bikin aku bangkit dari kegalauan terberatku tentang ff remake ini. Dan sebagai hadiahnya, aku kasih 2 chapter ini buat kalian. Makasih yaa. Muaach.
Special thanks to:
sehunfans | Wenxiuli12 | sarrah HunHan | danactebh | Selenia Oh | ohfelu | Guest | syalalala | RufEXO | Arifahohse | Kim124 | hun12han20selu | nisaramaidah28 | Juna Oh | taneptw307 | ruixi1 | ramyoon | shosasmh | keziaf | anggrek hitam | daebaektaeluv | Real ParkHana | exindira | ks | HHS Hyuuga L | HunHanforever | Asmaul | Angel Deer
.
.
.
with love, apricaa
