ada yang bilang feelnya kurang dapet ya? maaf ya.. aku sudah berusaha semaksimal mungkin. aku ngetik ketika moodku sedang sedih- bahkan aku baper sendiri. mungkin karena efek lirik rancu antara bahagia atau tidak lagu flashlightnya jessie j (eh iya gasih).

.

.

(!) aku ngetik chapter ini sambil denger lagu Red Velvet - One Of These Nights. mungkin aja dengernya makin bikin baper.

.

(!) aku update cepet karena permintaan special daripada svtvisual, gyupire, nichanJung, dan para anggota foster ㅋㅋㅋgomawo karena selalu nagih berasa ngutang sama rentenir /gawoy.

story beginㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ.

.

.

.

masih merintih kesakitan, sosok bernama kim mingyu itu tetap berusaha membawa sosok dipelukannya pulang. ia menyetop taksi, mengatakan alamat rumahnya. kemudian membiarkan kepalanya yang teramat sakit menyandar dikursi taksi.

wonwoo- sosok dipelukannya masih merintih didalam tidurnya. sementara mingyu mengelus-elus bahu wonwoo lembut, berusaha menenangkannya meskipun kepalanya sendiri sesakit tertiban beban 1000kg.

"apa kalian tidak apa-apa? kalian terlihat sakit. habis kecurian-kah?"

mingyu menggeleng, seraya memaksakan senyumnya. "tidak, pak." respon mingyu. "hanya saja, kepala kami tiba-tiba pusing."

"hmm." supir taksi bergumam mengiyakan seraya mempercepat laju mobilnya. mingyu menghela nafas karena menahan sakit. tangannya sibuk memijat pelipisnya sementara yang satunya mengelus bahu wonwoo. tak berapa lama, mingyu jatuh tertidur- karena tak sanggup menahan sakit.

mingyu terbangun tepat ketika mobil taksi memasuki kompleks rumahnya. melewati beberapa blok hingga sampai persis didepan rumahnya, blok D nomor 8.

mingyu dengan kesusahan mengeluarkan dompetnya, kemudian memberikan supir taksi itu dengan kartu transportnya. setelah transaksi selesai, mingyu menggendong tubuh lemah wonwoo turun dari taksi.

kepalanya masih sakit, namun tidak sesakit sebelum ia ketiduran. ia memencet bel rumahnya berkali-kali, mengharapkan mamanya membukakan pintu. karena tangannya sibuk menahan tubuh wonwoo.

pintu rumah dibuka, menampakan sosok ber apron putih disana. senyum selamat datangnya berubah menjadi raut wajah terkejut dan panik. mata sang mama melihat raut mingyu yang kepayahan dan wajah tertidur wonwoo bergantian.

mama mingyu segera membantu anaknya berjalan kekamarnya, menidurkan wonwoo di kasur mingyu. sementara mingyu sendiri langsung jatuh terduduk dikursi- jika saja mama mingyu kalah cepat, mungkin mingyu jatuhnya dilantai.

kepala mingyu jatuh diatas lengannya yang menggenggam tangan wonwoo erat. ia memejamkan matanya karena masih merasa pusing.

meskipun terlihat terpejam, tapi telinga mama mingyu masih teramat tajam untuk mendengar anak keduanya bergumam merintih.

"a-aku mengingatmu.. aku m-mengingatmu sayang.. je-on wonwoo k-ku.."

air mata mama mingyu luruh detik itu juga.

sang mama mengetuk pintu kamar mingyu pelan ketika jam sudah menunjukan pukul 7 malam. menunggu lama, namun tak ada respon. jadi, mama mingyu memutuskan untuk kedalam kamar, dan mendapati mingyu terduduk. tangannya masih menggenggam tangan wonwoo dan mengusap-usapnya pelan.

hati mama mingyu berdenyut perih melihatnya. ia perlahan berjalan kearah anaknya, dan mengusap pelan rambutnya.

"mingyu-ah.." panggilnya pelan.

"aku mengingat semuanya, ma." mingyu berbicara, suaranya serak khas sehabis menangis- namun mata mingyu tidak bengap seperti habis menangis. bibir mingyu terangkat, mengulum senyum tipisnya. "setelah putus dari jihoon, aku bertemu dengannya hari itu juga. dan sejak awal aku melihatnya, aku dapat merasakan sesuatu yang familiar dari dirinya." lanjut mingyu.

mingyu menoleh ke mamanya. "apa mama marah padaku? atau kepadanya?"

mama mingyu menggeleng pelan. matanya berkaca-kaca, air matanya mendesak meminta keluar untuk kedua kalinya sore ini. mingyu menatap wonwoo lagi, tangannya membelai pipi wonwoo penuh kasih. "aku takut mama marah padanya." katanya.

mama mingyu tersenyum terharu, air matanya jatuh lagi. jari lentik mama mingyu merengkuh pipi anaknya, "mingyu sayang.. mama tidak marah padamu, apalagi pada wonwoo. mama justru amat bersyukur kamu bertemu dengannya sejak awal sekolah menengah atas. kamu berubah menjadi dewasa, terbuka pada mama, berpikiran luas dan berubah menjadi sosok pemimpin."

mama mingyu mengusap air matanya sendiri sebelum kemudian melihat air mata mingyu jatuh. mingyu tersenyum tipis kemudian memeluk mamanya. "mama, aku sangat menyayangimu."

"mama juga sayang padamu, mingyu-ah.."

pelukan mereka terlepas. mingyu lalu bertatap kembali dengan wajah wonwoo yang masih terlelap. mingyu membungkuk, dan mengecup dahi wonwoo pelan. "jeon wonwoo, aku mencintaimu."

secara ajaib, jari-jari wonwoo bergerak. kelopak matanya mengerut, dan perlahan membuka. mingyu juga mamanya mendadak berdegup kencang. mingyu meremat tangannya sendiri sementara mama mingyu hanya menggigit bibirnya.

mata wonwoo selesai menyesuaikan cahaya lampu kemudian melihat kesekelilingnya. ia berhenti kepada sosok mingyu yang menatapnya dengan gelisah.

bibir wonwoo melengkung lebar, ia bangkit dari tidurnya dan langsung memeluk mingyu dengan erat.

"mingyu-ya.." gumamnya dalam pelukannya seraya tersenyum.

degupan gelisah mingyu berubah menjadi degupan bahagia. mingyu tersenyum dan membalas pelukan wonwoo dengan erat, mengesap wangi khas jeon wonwoo. "iya.. ini aku wonwoo-ya.."

mama mingyu berbisik pada mingyu untuk segera keluar untuk menyantap makan malam, kemudian ia keluar untuk memberikan quality time untuk mingyu dan wonwoo.

pelukan mereka tidak terlepas, namun dahi keduanya bertemu. keduanya mengulum senyum tipis ketika hidung keduanya bertemu dan nafas mereka bertabrakan

"kau mengingatku?" tanya mingyu. wonwoo mengangguk pelan. "kemarin aku melihat daehyun yang bertengkar diingatanku. tapi ternyata itu efek cuci otakku. padahal itu kau." cerita wonwoo- diluar dari pertanyaan mingyu.

"uh? daehyun yang temannya y-young- young siapa?"

"youngjae." koreksi wonwoo. "kau tahu, mereka adalah teman-teman baikku ketika aku sakit dulu."

"sakit?! kau sakit apa?!" mingyu bertanya panik. wonwoo terkikik lucu, "skizofrenia, gyu. seingatku, tadi pagi aku baru saja bercerita padamu."

mingyu merengut. "aku tak ingat itu." kata mingyu. tangannya kemudian mengusap pipi wonwoo lembut. "kalau di pilah-pilah, kita melewati masa sulit bersama-sama, ya."

"hmm~" wonwoo bergumam mengiyakan. "aku sempat lupa siapa kau ketika aku sakit."

"wah- kejam sekali!"

"memangnya kau ingat aku ketika kau terbaring dirumah sakit?!"

mingyu menyengir kuda. "tidak sih.. hehehe"

"dasar menyebalkan!" wonwoo mencubit lengan mingyu. mingyu meringis, kemudian ia terkekeh- sementara wonwoo masih mendengus kesal.

kemudian, mingyu tertawa semakin lebar ketika perut wonwoo berbunyi begitu keras- karena lapar. wonwoo ikut tergelak karena malu, namun tangannya juga tak luput dari memukuli mingyu.

"berhenti tertawa!"

"itu teramat lucu kau tahu"

"semoga perutmu membuncit karena menertawakan aku!"

"doa yang negatif tak pernah dijabah oleh Tuhan lho~~"

"KENAPA KAU TERAMAT MENYEBALKAN SIH!"

mingyu tertawa lagi, dan wonwoo memukul bahu mingyu. mingyu berhenti tertawa karena ia juga merasa lapar lalu membawa wonwoo keluar- lebih tepatnya keruang makan.

diruang makan, sudah terdapat papa mingyu yang sibuk pada ponselnya, dan mama mingyu yang menyiapkan piring untuk semuanya.

papa mingyu melirik kearah anaknya. lalu matanya melotot melihat sosok yang berjalan disebelah anaknya.

"wonwoo?"

wonwoo yang disebut namanya terkejut, kemudian tersenyum kikuk.. "h-halo om."

papa mingyu melongo tak percaya, kemudian menatap istrinya yang tersenyum penuh makna, sirat kebahagiaan.

"apa kabarmu, nak?" tanya papa mingyu, basa basi pada wonwoo. wonwoo masih kikuk menjawab, "a-ah.. tak pernah sebaik ini sebelumnya."

"senang mendengarnya. makan yang banyak, wonwoo-ah. kau kurus sekali." canda papa mingyu yang ditimpali kekehan canggung dari wonwoo.

sebetulnya, wonwoo dan papa mingyu belum pernah bertemu sebelumnya. tapi, papa mingyu sering mendengar cerita anaknya seraya menunjukan foto mereka berdua (sebelum berpacaran, tentu saja)

"wonwoo-ya.. apa ibumu sudah tahu kau disini?"

"O-OH IYA! Tante- bolehkah aku meminjam ponsel?!"

"Pakai ponsel om saja." papa mingyu menyodorkan ponselnya yang sangat lebar- meskipun tak selebar ipad.

wonwoo menyentuh nomor yang diketahui sebagai nomor rumahnya, lalu meletakkan ponsel itu ditelinganya.

"yeoboseyo?"

"o-h- apa ini jongin hyung?"

"OH, ASTAGA WONWOO! KAU DIMANA, HM? IBUMU TERAMAT KHAWATIR SEKARANG! / APA? WONWOO?"

itu suara ibunya. wonwoo meringis mendengarnya. "ibu mana?"

"kau dimana hey?!"

"a-aku.. aku dirumah mingyu?"

hening. tak ada jawaban dari seberang. yang ada hanyalah suara nafas tertahan. wonwoo meringis lagi membayangkan betapa terkejutnya wajah jongin hyung- yang berusaha menyembuhkannya selama 9 bulan belakangan ini.

"j-jongin hyung, aku serius. aku tidak sedang berhalusinasi."

"o-oh- iya, okay. baiklah. terserahmu. dimana rumah mingyu mingyu itu? dan mau sampai kapan kau disana?"

benar juga. bagaimana ia pulang. ia menoleh pada mingyu, mulutnya bergerak tanpa suara, bertanya pada mingyu. 'aku pulang bagaimana?'

"kami antar." papa mingyu menjawab terlebih dahulu. tanpa berfikir penjang mengenai jawaban papa mingyu, wonwoo segera menjawab telepon, "nanti diantar mingyu."

"baiklah. jangan lebih dari jam 9!"

"nde hyung."

"baik, hyung tutup."

selesai telepon ditutup, wonwoo mendengus. "jongin hyung, dulunya baik juga sopan, sekarang jadi kayak benar-benar abangku yang menyebalkan." gerutu wonwoo yang terlihat menggemaskan dimata keluarga kim.

"sudahlah wonwoo~ makan dulu saja, keburu dingin nasinya." peringat mama mingyu.

wonwoo mengangguk pelan. "baiklah, tante."

"omong-omong, panggil saja mama. dan panggil papa mingyu dengan sebutan papa juga." kata mama mingyu.

yang sukses membuat jantung wonwoo hampir loncat dari tempatnya.

20.03 KST

mobil yang dikendarai papa mingyu sampai diperkarangan rumah wonwoo. wonwoo sendiri tertidur- sementara yang menunjukan jalan kerumah wonwoo adalah mama mingyu.

mereka berempat turun- wonwoo yang tertidur digendong oleh mingyu. tangan mama mingyu bergerak pelan, kemudian memencet bel rumah.

cklek.

ibu wonwoo mematung ditempat. ia mengucak matanya berkali-kali, berkedip berkali-kali untuk melihat siapa yang berada didepan pintu rumahnya. dadanya menyesak ketika kedua orang tua didepannya sedikit bergeser, menampakkan sesosok berambut brunette yang tinggi sedang menggendong anak semata wayangnya yang terlelap.

kemudian sang ibu runtuh, air matanya mengalir deras. mama mingyu yang melihatnya langsung ikut berjongkok, tangannya mengusap bahu ibu wonwoo- berusaha menenangkan.

ibu wonwoo masih menangis tersedu mengelap air matanya sendiri. ia menatap mama mingyu yang tersenyum haru. kemudian ibu wonwoo memeluk mama mingyu.

ia menangis terus seraya meminta maaf atas kejadian dua tahun lalu yang menimpa anak mereka berdua. mama mingyu mengangguk, menjawab kalau itu semua tidak masalah karena sebuah kecelakaan. tapi ibu wonwoo tak sama sekali menghentikan tangisnya.

kemudian seorang pemuda dengan kaus santai berjalan kearah pintu kemudian terdiam. melihat dua sosok wanita yang menangis dilantai, papa mingyu, dan wonwoo yang di bopoh mingyu secara bergantian.

pemuda itu- jongin, menunduk sopan. ia berjongkok, menepuk punggung ibu wonwoo, berusaha menenangkannya. kemudian mereka semua dipersilahkan untuk masuk dan duduk diruang tamu. sementara mingyu mengantar wonwoo kedalam kamarnya sebelum bergabung dengan para orang tua di ruang tamu.

semuanya hening. satu-satunya suara adalah dari nafas ibu wonwoo yang masih sesenggukan.

mama mingyu berdeham. "jadi... apa kabar..?" tanyanya pelan, sambil mengulum senyum tipis.

ibu wonwoo menjilat bibirnya sebelum bersuara, "a-aku masih tidak percaya ini." suaranya teramat serak. mama mingyu masih mempertahankan senyumnya. tapi ibu wonwoo menggeleng-geleng pusing.

"jongin-ah, apa aku bermimpi?" ibu wonwoo berkata lagi.

jongin menggeleng. "ini betulan, nyonya.."

ibu wonwoo menghela nafas berat. matanya menatap mata mama mingyu dan mingyu bergantian. "apa kabar kalian semua..?" lirih ibu wonwoo.

"aku baik, bu." jawab mingyu, ia tersenyum lebar.

"a-aku minta maaf soal kejadian dua tahun lalu.." ibu wonwoo melirih lagi, meminta maaf lagi dan lagi. mama mingyu memegang tangan ibu wonwoo dan menggenggamnya. "sudahlah.. tidak usah meminta maaf lagi dan lagi.. mingyu hanya mengalami pendarahan dikepalanya kok.."

"tapi anakmu hampir mati karena hal itu.."

"sudahlah. yang penting sekarang anak kita tidak kenapa-kenapa, kan?" mama mingyu terus menguatkan ibu wonwoo. ibu wonwoo mengangguk pelan.

kemudian, secara tidak terduga, ibu wonwoo bangkit dari duduknya, dan bersimpuh didepan mingyu. tangannya memegangi pipi mingyu, menatap anak itu penuh kasih, sebelum menariknya kedalam pelukan.

"terimakasih telah menyelamatkan nyawa anakku kala itu." ibu wonwoo berucap pelan.

jantung mingyu berdegup kencang. perlahan- namun pasti, mingyu turun dari sofa dan memeluk balik ibu wonwoo dengan erat.

jongin disana hampir saja menangis jika saja suara pintu tidak memecah kesedihan diruang tamu. semuanya menoleh kearah suara pintu terbuka, dan jongin segera menghampiri wonwoo yang berdiri di daun pintu ketika suara berat dan lirih wonwoo menggumamkan namanya.

"ada apa hm?"

kepala wonwoo jatuh di bahu jongin. jongin dapat merasakan hangat dan basah bajunya- wonwoo menangis. jongin mengelus rambut wonwoo dan terus bertanya ada apa. wonwoo mengangkat wajahnya. tangannya mengusap air matanya sambil melirih, "halusinasiku datang lagi hyung aku melihat mingyu"

jongin tersenyum pedih. seketika ia merasa amat bersalah karena melakukan terapi cuci otak kepada wonwoo. begini malah membuat wonwoo tidak percaya diri kalau dia sudah sembuh.

...sebentar.

jongin menyadari sesuatu.

seraya jongin memegang pipi wonwoo dan menatap laki-laki itu lembut, jongin tersenyum sirat kebahagiaan. "wonwoo... kau tahu darimana kalau kau berhalusinasi?"

wonwoo menunduk. "tentu saja.. bukankah aku seorang pengidap skizofrenia? a-aku selalu berhalusinasi tentang mingyu s-sampai akhirnya a-aku harus berobat dengan metode c-cuci o-–eh?"

wonwoo menerjap. ia menatap jongin dengan tatapan yang bercampur aduk. dada wonwok berdebar, jantungnya berpacu kencang. jongin menarik sudut bibirnya semakin lebar dan menarik wonwoo dalam pelukannya.

wonwoo masih terdiam. matanya membulat dan bibirnya menganga. "h-hyung- a-apa aku–"

"iya, kau sudah sembuh sayang.. sekarang, temui mingyu mu didepan. ia sudah menunggu sedari tadi."

mata wonwoo berkaca-kaca. air matanya mengalir walau tidak deras. ia memeluk jongin hyung lagi. bibirnya tak henti-henti untuk tersenyum bahagia. "terimakasih hyung.. terimakasih. terimakasih Tuhan..."

ㅡㅡㅡㅡㅡ

sisa satu chapter lagi?