Chapter 7. Secret Revealed
Draco Malfoy tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya seperti ia menyembunyikan luka yang darahnya masih menetes-netes dibalik tubuhnya. Ia hanya bisa ternganga dan menggeleng-geleng keheranan. Astoria? Bagaimana bisa? Bukankah selama ini... Daphne yang... ia menggeleng-gelengkan kepalanya lagi dan lagi.
"Draco?" Astoria semakin mendekat dan tidak sengaja melihat darah menetes dari balik badan cowok itu, "Astaga, Draco! kau terluka! Aku akan mengambilkan obat untukmu. Tunggu sebentar."
Gadis itu berlari menuju rumah sakit dari menara astronomi sementara Draco masih juga belum bisa berkata apa-apa. Selama ini ia pikir Daphne lah yang menyukainya karena gadis itu terlampau sering memberikan perhatian lebih pada dirinya. Tapi Astoria? Kepala Draco mendadak pusing dan sama sekali bukan karena luka yang ia goreskan terlalu dalam di jemarinya.
Tak lama kemudian Astoria datang dalam keadaan terengah-engah setelah berlari. Ia membawa perban luka ditangannya. Melihat Draco hanya berdiri kaku dihadapannya, Astoria sedikit takut.
"Well, kau bisa duduk dulu, Draco. Baru aku akan membalut lukamu."
"Oh, oke." Draco menuruti kata-kata adik Daphne itu dengan masih menyimpan tanda tanya. Ia pasrah saja saat gadis tersebut membalutkan perban diseluruh bagian tangannya.
Untuk memecah kesunyian selama Astoria bekerja, Draco mengajaknya berbicara, "Dimana Daphne?"
Perhatian Astoria teralih sesaat lalu mengernyit, "Daphne? Oh, ia sepertinya sedang bersama Hermione, Ginny, dan Lavender. Ia sudah beberapa waktu terakhir ini dekat dengan para Gryffindor itu."
Ya, tentu saja Draco tahu hal itu. Ia tidak pernah lagi bisa menghabiskan waktu dengan Hermione sementara gadis itu kini malah dekat dengan Daphne Greengrass. Entah apa yang telah terjadi.
"Dan kau tidak keberatan?" tanya Draco dengan nada sarkastis yang dibuat-buat.
"Aku? Tidak sama sekali. Well, gadis yang baik, mereka bertiga itu. Terutama Hermione. Aku banyak belajar darinya. Termasuk..." Astoria berhenti sejenak dan memeriksa ekspresi Draco, "... bagaimana harus menyatakan perasaanku padamu."
Raut wajah Draco berubah seketika, "Apa katamu?"
"Well, ehm, ya... Hermione mendukungku untuk menyatakan perasaanku padamu. Seperti itu. Ia bilang... kau butuh seorang gadis yang mungkin bisa memperhatikannya sepanjang waktu. Maka ia membantuku."
Mendadak semua perubahan sikap Hermione akhir-akhir ini memiliki alasan yang jelas. Draco menarik tangannya dari genggaman Astoria dan segera pergi dari menara astronomi menuju ke asrama Ketua Murid. Ia butuh bertemu gadis itu disana.
.
Pukul 11 lewat 35 malam, Hermione selesai melakukan patroli dan kembali ke asrama Ketua Murid. Berkali-kali ia menguap karena kelelahan. Ia benar-benar butuh istirahat sekarang.
Gadis itu memanjat lukisan setelah menyebutkan kata kuncinya. Namun ia terhenti saat melihat seseorang duduk disofa diruang rekreasi.
"Draco?" Hermione berusaha menutupi nada keheranan dari kata-katanya, "Kau belum tidur?"
Cowok itu menatap lurus kedepan, kearah perapian dengan pandangan kosong dan raut wajah kaku. Tanpa sedikitpun menghiraukan perkataan Hermione yang berjalan mendekatinya.
"Draco?" panggil Hermione lagi. Ia terkesiap saat mencapai hadapan cowok itu dan melihat perban yang dibebatkan asal-asalan disebelah tangannya, "Astaga, Draco..." ia tidak lagi banyak berbicara karena tahu akan sia-sia selama Draco masih seperti itu. Hermione duduk disampingnya dan memakai mantra panggil untuk mendatangkan kotak P3K dari kamarnya lalu langsung memegang tangan Draco yang berbalut perban dengan kedua tangannya, membukanya perlahan dan memberi obat luka muggle yang ia bawa pada luka goresan yang cukup dalam di jari cowok itu.
Draco baru ingat bahwa tadi Astoria bahkan tidak memberinya obat, melainkan langsung menutup lukanya yang masih menganga.
Dengan hati-hati, Hermione membalutkan perban baru diatas luka tersebut. Ia memastikan semua tertutup rapat agar tidak ada udara yang masuk dan menaruh tangan Draco dipangkuannya. Ia menoleh menatap cowok disampingnya dengan pandangan lembut.
"Apa yang terjadi?"
Tidak juga ada jawaban apa-apa yang keluar dari mulut sang Malfoy junior. Hermione sama sekali tak mengerti apa yang telah terjadi. Dan selama Draco enggan untuk berkata apapun, ia lebih baik tidak mencampuri lebih jauh lagi. Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Namun saat ia mencapai anak tangga pertama, ia mendengar suara yang sepertinya sudah lama tidak ia dengar. Suara Draco.
"Seharusnya aku yang bertanya." Hermione menoleh dan mendapati Draco sudah berjarak cukup dekat dengannya, "Apa yang terjadi, Hermione?"
Hermione masih tidak mengerti, "Apa maksudmu?"
Gadis itu sama sekali tidak siap dengan reaksi Draco yang langsung mendesaknya ke dinding dan memenjara wajahnya diantara kedua tangan besar cowok itu.
"Draco, ada apa?" Hermione mulai takut dengan pandangan Draco yang seolah siap memakannya hidup-hidup.
"'Ada apa', Hermione? Kau masih juga bertanya padaku seperti itu? Lihat dirimu!" Draco bisa merasakan napas Hermione naik turun, "Apa yang kau rencanakan dan melibatkan Greengrass?"
Akhirnya Hermione bisa menangkap apa yang sedang dibahas oleh Draco. Cowok itu sudah mengetahui rencana yang ia tata dengan rapi. Ia mencelos.
"Aku... hanya ingin membantumu, Draco. K-Kau... kita tidak akan bisa melanjutkan ini."
Draco mengeluarkan suara mendesis, "'Membantu'? Aku mencintaimu, Hermione! Tidak ada yang perlu kau lakukan. Ini masalahku. Dan aku akan memperjuangkanmu."
"T-Tapi kau tak bisa menentang orang tuamu, Draco. Ini semua pasti mereka lakukan untuk kebaikanmu."
Kedua tangan Draco mengunci wajah Hermione, memegangi kedua pipinya, "Kau sama sekali tidak mengenal mereka. Mereka sama sekali tidak tahu apa yang kuinginkan. Mereka selalu memberi apa yang mereka pikir kubutuhkan, tidak peduli aku menyukainya atau tidak. Dan tidak ada, yang bisa mencegahku untuk memperjuangkanmu."
Hermione mulai terisak dalam diam. Ia tidak mengeluarkan airmata setetespun, ia menggeleng-menggeleng, "Tidak, Draco. Kau tahu ini akan percuma. Aku bukan darah murni."
Kata-kata Hermione menyulut emosi cowok itu. Draco meraih gadis itu, memeluknya dengan erat seolah tidak mau melepaskannya lagi sampai kapanpun. Hermione membenamkan wajahnya di dada bidang Draco dan membasahi seragam yang masih dikenakan cowok itu dengan airmatanya yang mengalir begitu saja setelah tertahan begitu lama. Draco lalu menjauhkan Hermione dan menunjukkan tangannya yang diperban didepan wajah gadis itu.
"Darah murni yang mereka minta, yang kau katakan itu, masih bisa terluka. Dan bahkan aku tidak bisa menemukan dimana perbedaan warna merah antara darahku dan darahmu." Draco terdiam sejenak, "Mereka setuju atau tidak, aku tidak peduli."
Draco kembali menarik Hermione kedalam pelukannya. Darah Hermione berdesir saat berada dalam dekapan Draco. Darah muggle. Ia tidak tahu harus bahagia atau bagaimana. Ia tetap membalas saat cowok itu menciumnya dengan panas. Juga tetap menyusupkan jemarinya kedalam rambut pirang platina itu selagi bibirnya saling mengulum dengan bibir Draco. Entah ia harus tidak peduli atau membuang semua kecemasannya. Ia, seperti Draco saat ini, hanya ingin saat-saat yang mereka lalui tidak sia-sia.
.
Tanpa terasa bulan-bulan yang berat telah lewat dan membawa mereka ke saat kelulusan. Hari ini, Draco akan membawa Hermione kehadapan kedua orangtuanya yang akan menunggu disalah satu rumah makan di desa Hogsmeade. Seperti berjudi, komentar Hermione ketika Draco membicarakan rencananya tersebut. Mereka tidak tahu apa yang akan mereka dapat, kemenangan atau malah kekalahan telak. Setelah itu, mereka akan pergi ke pesta kelulusan berdua, sebagai sepasang kekasih.
"Kau siap?"
Draco menggandeng Hermione untuk memanjat keluar lukisan. Hermione mengangkat kedua bahunya membuat cowok itu merangkul bahu sang gadis dan mengelusnya perlahan.
"Kau tak perlu khawatir, biar aku yang menanganinya."
Dan mereka berdua berjalan meninggalkan asrama mereka dengan mengenakan pakaian pesta kelulusan. Draco telah rapi dalam tuxedonya sementara Hermione menggunakan gaun silk warna pink pucat selutut.
Tidak ada siapapun yang terlihat dilorong-lorong kastil Hogwarts. Semua sepertinya sedang berdandan mempersiapkan diri untuk menghadiri pesta kelulusan tahun ini yang akan diadakan beberapa jam lagi. Terutama murid kelas 5, 6, dan 7. Draco berjalan terlebih dahulu dan diikuti oleh Hermione yang berjarak 1 meter dibelakangnya. Mereka berusaha untuk tenang meskipun dalam hati mereka seperti sebuah bom waktu yang siap meledak bila waktunya telah tiba.
Sesampainya di Hogsmeade, barulah mereka bergandengan tangan lagi. Sebagai Ketua Murid, mereka berhak kapan saja berkunjung kesana tanpa takut dicurigai. Mereka berjalan diantara salju yang selalu menumpuk dijalanan desa tersebut hingga langkah Draco terhenti disebuah rumah makan mewah yang terletak sedikit terpencil. Hermione mengernyit tidak siap namun Draco menggandengnya masuk.
Tangan Draco yang sudah tidak lagi diperban, mendorong pintu agar terbuka dan matanya segera mencari keberadaan ayah dan ibunya. Narcissa Malfoy melambai dari sofa dipojokan ruangan kepada Draco dan memicingkan mata memastikan bahwa ia benar-benar melihat Hermione Granger berdiri disebelah sang putra.
"Draco, dear." Narcissa menyambut kedatangan Draco dengan pelukan erat yang dengan cepat diakhiri oleh anaknya itu untuk beralih kepada Lucius. Lucius Malfoy tidak berkomentar apa-apa namun menepuk punggung Draco dalam pelukan singkatnya.
"Dan ada kehormatan apa sehingga kami mendapat kejutan dengan kehadiran anda, Miss Granger?" tanya Lucius langsung kepada Hermione yang berdiri sedikit bersembunyi dibalik Draco.
"Mum, Dad," Draco memulai dengan hembusan napas untuk menenangkan dirinya sendiri, "Perkenalkan ini, Hermione..."
"Granger, ya. Dad tahu siapa namanya." Lucius memotong kata-kata Draco sehingga membuat genggaman tangan Hermione pada Draco semakin kuat, "Oh, dan siapa yang tidak mengenal Hermione Granger yang tersohor dengan kepandaiannya dalam dunia sihir?" Lucius mengakhiri kalimatnya dengan serangaian yang juga dimiliki oleh Draco.
Draco mengangguk pelan lalu melanjutkan, "... Jean Granger. Kau benar, Dad. Dan ia akan menjadi Hermione Malfoy. Cepat atau lambat."
Bahkan mereka masih dalam posisi berdiri saat Narcissa tercengang mendengar perkataan Draco. Lucius sebaliknya, seolah telah mengetahui hal itu dari lama, ia hanya tersenyum sinis sambil memandangi Hermione dari bawah keatas.
"Kalau boleh, Miss Granger." Lucius berbicara pada Hermione lagi, "Kami ingin membicarakan sesuatu bertiga saja. Sebagai keluarga."
Hermione mengangguk pelan sambil membalas tatapan Draco yang sulit diartikan. Jelas sekali Lucius meminta privasi untuk membicarakan tentang masalah ini hanya bersama Draco dan Narcissa. Ia melepaskan genggaman tangannya dan berpamitan kepada Draco juga kedua orangtuanya lalu beranjak keluar dari rumah makan tersebut. Ia sama sekali tidak ada niat untuk menguping, tapi Hermione tidak juga ada niat untuk kembali ke kastil dan membiarkan Draco menghadapi ini semua sendirian. Maka gadis itu berdiri disamping jendela didekat tempat keluarga Malfoy berkumpul, mendengarkan semuanya.
"Apa maksudmu, Draco? bisa kau jelaskan pada kami?" Lucius dan Draco berhadapan. Tinggi mereka tidak jauh berbeda.
Draco menatap keduanya bergantian, "Aku mencintai Hermione. Dan kami sudah berpacaran selama hampir 2 tahun terakhir."
"Tapi dia kelahiran muggle, Draco. Kau masih ingat kan?" tambah Narcissa masih dengan ekspresi tidak percaya.
"Tentu saja aku ingat. Apakah masih ada bedanya?" jawab Draco.
"Apa kau bilang?" terlihat sekali bahwa Lucius sudah kehabisan kesabarannya, "Kalian sangat berbeda, Draco! Kau harus tetap mempertahankan kemurnian darah selama masih menyandang nama Malfoy dibelakang namamu! Bagaimana bisa kau berhubungan dengan gadis itu?"
"Mengapa kalian masih saja konservatif tentang status darah? Banyak keluarga penyihir yang menyerahkan status darah mereka dengan menikahi penyihir dengan darah campuran atau bahkan kelahiran muggle. Lalu mengapa aku tak boleh melakukannya?"
"PLAK!"
Tamparan keras Lucius terlempar ke pipi Draco sebelah kiri. Narcissa menghampiri putra kesayangannya itu dan memeluknya, "Cukup Lucius!"
Draco menepis pelukan ibunya dan kembali berhadapan dengan ayahnya. Seketika saja mereka bertiga menjadi pusat perhatian pengunjung yang lain.
"Lanjutkan hubunganmu dengan gadis itu dan jangan pernah kembali kepada kami. Atau sebaliknya, kembali ke Manor dan kau berhak mengambil alih semua bisnis yang kukembangkan bertahun-tahun lamanya, tapi tinggalkan gadis itu. Silahkan kau pilih sendiri."
"Baik," Draco menyeringai, "Terimakasih kau sudah membiarkanku menentukan yang kuinginkan." Ia lalu beralih ke ibunya, "Tak perlu khawatir, Mum. Aku akan baik-baik saja."
Sesaat sebelum Draco beranjak dari tempat itu, Hermione berlari menuju kastil dengan mengantongi semua percakapan yang ia dengar.
.
Semua mata memperhatikan ketika Draco Malfoy memasuki Aula Besar. Ruangan yang tadinya riuh dengan percakapan disana-sini, mendadak hening saat Cormac maju membelah kerumunan pasangan.
"Well well, selama ini ternyata Ketua Murid kita memiliki hubungan spesial." Riuh rendah mengomentari ucapan Cormac membuat Draco memasang tatapan membunuh pada cowok itu. Matanya mencari keberadaan Hermione dan menemukan gadis itu duduk dipojok dengan dikelilingi oleh Ginny, Lavender, Harry, Ron, dan juga Daphne.
"Bukan urusanmu, McLaggen!"
Suara "Oh!" ramai terdengar disetiap titik diruangan yang besar tersebut. Draco tidak peduli, ia berjalan menuju tempat Hermione dan sebelum ia mencapainya, Ginny menghadang cowok itu.
"Ia mendengar semuanya." Ujar Ginny pelan. Draco mengamati keadaan gadis itu dari jauh.
"Boleh tinggalkan kami berdua saja?" pinta Draco.
Ginny memandangi Draco sebentar lalu mengangguk, "Tentu." Mereka berjalan mendekati Hermione. Ginny menyalurkan permintaan Draco pada keempat orang disana dan mereka menurutinya.
Draco duduk disamping Hermione dan meraih kepala gadis itu, dibenamkannya didadanya. Gadis itu tidak terisak ataupun menangis, namun hanya terdiam dan tidak mengeluarkan komentar apa-apa. Pikirannya bergumul sendiri didalam otaknya. Mencerna setiap kejadian dan mencoba menemukan sesuatu yang seharusnya ia lakukan sejak lama.
To Be Continued
