Semua siswa dan siswi sudah pulang dari tadi, bahkan sekolah mereka telah kosong, tapi Jaehyun masih dikelasnya menunggu semua orang benar-benar pergi, langkah kakinya mendekat keasar loker milik Oh Baekhee diujung sana

"mungkin saja kau menyimpan sesuatu yang akan mengubah mimpiku Baek" ucapnya

Dengan ketelitian penuh Jaehyun membuka loker tersebut menggunakan sebuah kawat kecil ditangan nya, ingatlah bahwa Jaehyun itu pintar dan ketika loker tersebut terbuka seseorang memasuki kelas mereka

"J-jaehyun?"

"Seulgi…?"

"apa yang kau lakukan?"

"kau sendiri apa yang kau lakukan?"

"ah itu… buku ku ketinggalan"

"ouh, kalau begitu ambillah"

"kau belum menjawab pertanyaanku"

"apa?"

"apa yang kau lakukan? Didepan loker Baekhee?"

"oke, ayo kita luruskan! Aku hanya ingin tau apa isi nya"

"itu privasi,"

"tapi ini penting, kumohon"

"penting tentang?"

"Park Chanyeol…"

Seulgi terdiam mendengar nama Park Chanyeol, gadis tersebut menghela nafas kemudian membuangnya dengan kasar.

"sial! Dunia ternyata begitu sempit"

"ya begitulah"

27 november

Ini bukan tentang bagaimana kau menilai orang lain tapi bagaimana kau mengerti orang lain, setiap kesalahan yang diperbuat oleh orang lain pasti memiliki sebuah alasan. Alasan baik ataupun buruk.

Hari ini kekasihku ulang tahun, tapi entah kenapa disaat aku merindukan dia aku juga merindukan orang lain, orang yang begitu sangat aku rindukan. Mungkinkah dia berpikir aku melupakan nya? Aku sangat menyayangi dia, bagaimana dia menjadi tempat dan sandaranku. Kini semua tugasnya digantikan oleh kekasihku. Park Chanyeol. Dia menggantikan semua tugas kakak ku, menjadi sandaran jika aku membutuhkan nya, menjadi penyemangat kala aku drop dan memberikan pelukan hangat ketika aku merindukan mereka. Aku merasa mereka memiliki banyak kesamaan, kupikir jika mereka bertemu pastilah akan menyenangkan, mereka akan menjadi akrab satu sama lain. Kupikir sih begitu. Baekhyun Oppa, bogoshipyeo~

Mereka menutup lembaran terakhir dari sekian banyak lembaran yang mereka baca, helaan nafas dengan ekspresi tidak percaya masih saja mereka pakai walau sudah lewat sepuluh menit mereka usai membaca buku tersebut. Seulgi mulai menundukkan kepala ketika matanya terasa panas kemudian menitikkan air mata.

"kau menangis?"

"aku hanya… merindukan Baekhee"

"kenapa?"

"aku menyesal tidak pernah dekat dengan nya"

"sudahlah, biarkan yang berlalu itu berlalu dengan sendirinya"

"kau…"

Jaehyun menoleh ketika suara gadis disampingnya mulai berubah, sarat akan emosi bercampur tangisan namun Jaehyun mencoba menanggapi dengan tenang

"kenapa kau mencari tahu tentang Baekhee? Ada apa? Bukankah kalian juga tidak dekat?"

"begitulah… kadang kau tidak bisa menyimpulkan sesuatu dari apa yang kau lihat"

"maksudmu?"

"aku menyukainya" gadis itu terdiam memandang lantai dengan tatapan kosong sampai kembali membuka pembicaraan

"dia sangat beruntung. Park Chanyeol sangat mencintainya"

"bahkan pria itu sempat menjadikan Baekhyun sebagai Baekhee"

"lebih beruntungnya dia memiliki kakak yang begitu menyayanginya"

"kurasa bukan hanya itu"

"apanya?"

"kau sendiri yang bilang dunia begitu sempit, mereka memang sudah ditakdirkan"

"Chanyeol dan Baekhyun?"

"Hn"

"kau gila!? Mereka itu sesame laki-laki"

"tidak ada salahnya, jika memang hal itu memberikan kebahagiaan untuk mereka"

"kau suka… maksudku tidak merasa…bagaimana mengatakan nya… itu sedikit….tabu?"

"sehari-hari aku hidup dengan mereka, yang memiliki kelainan seperti iu"

"tidak tidak, itu bukan kelainan. Kurasa itu memang… takdir?"

"tergantung bagaimana cara berpikirmu saja nona"

"aku… kupikir Chanyeol itu normal"

"kupikir juga begitu, sampai aku mendengar Luhan bicara dengan Sehun hari itu"

"Luhan? Kakak mu?"

"Hn. Dia adalah bagian dari hal tabu yang kau bicarakan"

"karna itukah kau tidak mau mendekati Baekhee..?"

Suara Seulgi mengecil ketika mencoba menanyakan hal tersebut, rasanya aneh menanyakan hal semacam ini pada orang yang bahkan merasakan luka yang sama denganmu, Baekhee ternyata sudah duluan menemukan Park Chanyeol disbanding dirinya

Sayup-sayup terdengar suara riuh orang-orang diluar sana, Baekhyun berusaha membuka matanya menemukan tiga orang yang dia kenali duduk didepan nya memandang khawatir, salah seorang dari mereka mendekati ranjangnya kemudian menggenggam tangan mungil Baekhyun.

"Baekhyunee…" suaranya terdengar lirih dan serak

"Eomma…" Baekhyun membalas dengan suara kecil sekuat tenaga

"apa… kau merasa lebih baik?" tanya ibunya, dibalas anggukan

"M-maafkan Emma…" ibunya mulai terisak sedangkan Baekhyun hanya tersenyum getir mengusap pipi ibunya

"maaf selama ini eomma tidak percaya apa yang kau katakan, maaf selama ini eomma terlalu egois dengan diri eomma sendiri, eomma tau kau menderita…"

Baekhyun tersenyum meminta dipeluk oleh sang ibu air mata bahagianya tak henti mengalir, dia sangat-sangat bahagia saat ini. Sekarang ibunya kembali, ibu yang selama ini dia rindukan, yang selama ini menghilang entah kemana. Terkadang disaat kita mencoba untuk tegar kita justru menangis dihadapan orang yang kita sayang. Pernah mengalami hal semacam ini? Ketika kau terjatuh disebuah tempat rasanya sakit tapi kau hanya diam menahan rasa sakitmu tapi ketika kau menemukan sebuah tempat untuk mengadu maka kau akan menangis padanya. Singkatnya sih begitu.

"Baekhyun…" suara seseorang mengintruksinya

"Luhan? Sehun?"

"bagaimana perasaanmu"

"aku bahagia"

"kenapa kau bisa hujan-hujanan kesini?"

Baekhyun terdiam mengingat apa saja yang terjadi seharian ini. Dia berencana kencan dengan Chanyeol tapi sampai sekarang bahkan anak itu belum menampakkan batang hidungnya, sebenarnya apa mau Chanyeol? Dengan bingung Baekhyun mencoba menjulurkan kepalanya mencari si tiang listrik tersebut.

"D-dimana Chanyeol?"

"Chanyeol, tidak datang…"

"Chanyeol sudah pergi. Lupakan dia!" perintah ibunya membuat mata bulan sabit Baekhyun terbelalak menatap ibunya

"kenapa?"

"kau laki-laki Baek, itu…. Itu salah"

Kedua teman dibelakangnya menunduk lesu dengan apa yang dikatakan ibu Baekhyun, mereka memang salah bahkan telah sering mendengar itu dari orang lain tapi tetap saja rasa nya sakit, rasanya seperti kau dihakimi oleh orang lain atas sebuah kesalahan yang bahkan tak ingin kau perbuat. Mereka juga tak ingin menjadi berbeda tapi mengapa tuhan mengizinkan perasaan itu tumbuh dalam diri mereka? Mengapa mereka bisa saling mencintai?

"T-tapi… tapi aku mencintai Chanyeol eomma"

"apa kau bisa hidup hanya dengan cinta? Lalu bagaimana dengan nama baik keluarga kita"

"Eomma…"

"lupakan dia… eomma mohon"

Baekhyun menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca, ia membalik tubuhnya mengubur dalam selimut menahan isakan yang membuatnya tampak begitu rapuh.

"bibi…" luhan memanggilnya membuat ibu Baekhyun menoleh kearahnya

"sebenarnya… kami adalah bagian dari mereka, aku dan Sehun adalah… sepasang kekasih"

"apa!? Jadi kalian yang sudah membawa Baekhyun dalam dunia ini?"

"maafkan kami"

"aku tidak habis pikir"

"jangan salahkan mereka, aku… aku yang telah memilih jalanku sendiri" ujar Baekhyun dibalik selimutnya sementara ibunya menghela nafas kasar membanting pintu keluar dari kamar

"Baekhyun…"

"pergilah, aku hanya ingin Chanyeol…hks"

"maafkan kami, Chanyeol berpesan agar kami menjagamu"

"Chanyeol jahat…"

"dia tak punya pilihan Baek, bagaimanapun dia ingin adiknya tetap hidup"

Tak ada jawaban dari sana selain isakan kecil dari Baekhyun, semua datang begitu tiba-tiba. Kebahagiaan nya datang dan kebahangiaan nya pergi. Dua sisi kebahagiaan yang tak akan bisa kau pilih, mengalahlah.

Chanyeol menghela nafas memandang mentari yang mulai menampakkan dirinya dipagi hari. Diujung sana benar-benar menampakkan sebuah ketenangan walau hatinya begitu kacau saat ini. Meninggalkan Baekhyun dan tinggal di daerah pantai seperti saat ini, andai saja dia punya cukup uang untuk membiayai adiknya pastilah Baekhyun tak perlu tersakiti seperti sekarang ini. Helaan nafas nya semakin berat tanpa sadar menitikkan air mata, bagaimana kabar malaikatnya pagi ini?

Kepala nya menoleh ketika sepasang kaki kecil berhenti disampingnya, dengan senyum lebar adiknya menyapa dipagi hari tubuh kecil adiknya dibalut jaket tebal, kaus kaki panjang, penutup kepala serta sebuah syal yang melilit lehernya, Chanyeol menyayangi adiknya. Satu-satunya saudara yang dia miliki

"Jisungie…dimana Eomma?"

"masih beres-beres rumah hyung"

"kenapa kesini, disini dingin. Pulanglah"

"hyung sendiri tidak kedinginan?"

"lumayan"

"kalau begitu pakai syal Jisung" ucap sikecil berusha membuka syal nya

"tidak usah, kau saja"

"hyung kesini karna sedang sedih ya?"

"eh bukan kok"

"jadi hyung tidak sedih karna tidak bertemu Baekki hyung lagi?"

"tentu saja sedih"

"Jisung kangen Baekki hyung"

"Mm.. hyung juga"

"hyung sayang sekali ya sama Baekki hyung?"

"kenapa tiba-tiba tanya seperti itu?"

"hari itu Jisung melihat hyung mencium bibir Baekki hyung lamaaaaa sekali"

"kapan?"

"baekki hyung bilang Jisung tidak boleh member tahu Chanyeol hyung soal ini. Katanya sih rahasia"

"beri tahu hyung"

"nanti Baekki hyung marah sama Jisung"

"tidak akan"

"benar nih?"

"iya, hyung janji dia tidak akan marah"

"saat itu… hyung mencium nya dan juga menusuk-nusuk Baekki hyung. Jisung pikir itu sakit tapi kelihatan nya Baekki hyung juga suka ditusuk-tusuk oleh Chanyeol hyung jadi Jisung biarkan saja"

Mata Chanyeol terbuka lebar, bukankah saat dia bercinta dengan Baekhyun dirumah sakit Jisung masih belum sadarkan diri? Lalu kenapa Jisung bisa melihatnya? Dan kenapa Jisung sudah menceritakan pada Baekhyun?

"kapan Baekhyun hyung bicara pada Jisung?"

"ketika jalan-jalan beli sosis bakso ikan"

"ah begitu ya"

"Jisung sayang baekki hyung soalnya waktu hyung dan eomma lari-lari kekamar saat Jisung sakit, Cuma Baekki hyung yang menemani Jisung diluar"

"maksudmu?"

"seharian itu Jisung tidak kelihatan oleh yang lain, bahkan Jisung sudah memanggil eomma tapi eomma sama sekali tidak melihat Jisung, Cuma Baekki hyung yang bisa"

Kali ini Chanyeol kembali membolakan matanya, jadi selama ini Baekhyun bisa melihat yang seperi itu? Terlintas sesuatu dibenak Chanyeol, Baekhyun menemukan nya disaat dia bukan manusia karna itulah dia lupa semua yang berhubungan dengan Baekhyun ketika kembali sadar

"aku membenci orang tuaku"

"terserah kau saja toh kau Cuma hantu"

"sialan kau Park!"

"terimakasih Chanyeol…"

"aku mencintaimu"

"tak bisakah kau melihatku sebagai Baekhyun? Bukan Baekhe?"

Semua itu kembali terngiang ditelinga Chanyeol, dia mengingat semuanya. Betapa menderitanya Baekhyun-nya selama ini? Kepala Chanyeol berdenyut sakit nafasnya mulai terputus-putus, untaian ingatan nya terpampang jelas saat ini. Semua terasa begitu nyata

"….hyung…Chanyeol hyung" suara Jisung terdengar panik

Chanyeol kembali pada kesadaran nya dengan lelah membaringkan tubuhnya dipasir putih pantai, Baekhyun. Dia teramat merindukan anak itu sekarang. Kekasihnya, tapi dia tak bisa, dengan lesu Chanyeol berdiri menggandeng tangan adiknya berjalan menuju rumah, Chanyeol buuh istirahat setidaknya istirahat untuk otaknya yang terlalu lelah dengan semua ketiba-tibaan tersebut

"tak seharusnya Baekhyun berlari ditengah hujan dengan perut kosong, untunglah bayi didalam perutnya tidak apa-apa"

Perkataan dokter masih teringat jelas oleh ibu Baekhyun, sekarang dia tak memiliki cara lain untuk memisahkan Baekhyun dengan Chanyeol. Mereka sepertinya memang telah ditakdirkan tapi entah kenapa sejak semalam ponsel pria tinggi itu tidak dapat dihubungi.

.

.

.

"Baekhyunee…" ibunya memanggil Baekhyun yang selama seminggu diam tak banyak bicara anaknya memang sangat murung, kembali menjadi Baekhyun yang berhati sedingin es seperti dulu walau setiap hari mengalami muntah-muntah dipagi hari, tidak nafsu makan dan gejala seperti orang hamil lain nya tapi tetap saja tak ada keluhan apapun yang keluar dari mulut anak itu selain isakan tangis yang kemudian mengatakan bahwa dia ingin Chanyeol. Hanya itu yang dia inginkan

Selama Sembilan belas tahun hidup anaknya tak sekalipun anak itu mengeluh tentang dirinya atau bahkan sikapnya sebagai ibu yang buruk. Baekhyun selalu menerima ibunya walau nyatanya dia tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk Baekhyun, anak itu sungguh malang membuat hati ibunya terluka merasa menjadi orang yang jahat telah memisahkan anaknya sendiri dengan kebahagiaan nya.

"Baekhyunee…." Panggilnya sekali lagi

"ada apa?"

"apa kau merindukan Chanyeol?"

"Hm.. rindu…"

"apa kau mau bertemu dia?"

"aku tidak ingin eomma membencinya jadi biarkan aku merasakan sakit ini sendirian"

"Baekhyunee… apa itu benar-benar bayi Chanyeol?"

"aku bahkan tidak pernah membiarkan tubuhku disentuh oleh siapapun selain dia, satu-satunya orang yang pernah bercinta denganku"

"kau jalangnya…hks"

"maafkan aku eomma… maaf tidak bisa menjadi anak yang baik bagimu"

Baekhyun membalik tubuhnya menghadap ibunya yang terisak didepan nya, Baekhyun merangkul sang ibu kemudian menangis bersama ibunya

"maaf karna aku telah menjadi anak yang buruk, aku telah disentuh oleh orang yang aku cintai. Dan maaf karna aku sama sekali tidak menyesalinya"

"maaf kan eomma. Eomma adalah ibu yang buruk untukmu karna sudah membiarkan anak eomma menanggung semua ini sendirian, pergilah! Pergi kejar cintamu"

"Eomma…"

"tidak apa Baekhyun"

"terimakasih eomma…hks terimakasih"

Ibu Baekhyun mendengar nada sambung disebrang sana, jantungnya berdebar kencang merasakan gugup akan apa jawaban Chanyeol nantinya. Mungkinkah anak itu telah mendapatkan yang baru disana, masihkah dia mencintai Baekhyun.

"halo…"

"iya. Ada apa nyonya?" jawab suara berat Chanyeol diujung sana

"Chanyeol…"

"ada apa nyonya?" ulang anak itu dengan sabar

"kau memang brengsek…hks"

"kenapa menangis nyonya? Apa yang terjadi?"

"kemana saja kau selama ini hah? Apa kau tidak merindukan anakku?"

"baekhyun? Baekhyunku…."

"kau merindukan dia bukan?"

"kenapa?"

"dia…menangis sepanjang hari karna merindukanmu"

"bukankah anda tidak ingin kami bersama?"

"kumohon…aku hanya tak ingin anakku merasakan sakit yang lebih dari ini"

"aku juga sakit, bukan hanya anak anda. Aku juga sakit karna merindukan dan mencintai dia selama ini" suara Chanyeol terdengar bergetar diujunng sana

Ibu Baekhyun menggigit bibir nya pelan. Dia telah menyakiti dua orang dalam satu waktu, Chanyeol adalah lelaki yang baik buktinya dia masih mencintai anaknya walau sudah dipisahkan seperti itu, disatu sisi ibu Baekhyun bersyukur anaknya menemukan lelaki sebaik Chanyeol.

"Maafkan aku"

"tidak nyonya, jangan meminta maaf. Aku yang harusnya meminta maaf karna telah membuat anakmu menyimpang"

"tidak apa-apa Chanyeol, tidak apa-apa. Kumohon jaga Baekhyun untukku dan lindungi dia"

"aku mencintainya…"

"kalau begitu kejar cintamu"

"anda memang benar-benar ibu yang baik nyonya, terimakasih…"

"panggil aku Eomma, seperti Baekhyun memanggilku"

"baiklah…eomma"

"Baekhyun keluar dari rumah sakit hari ini"

"maaf nyonya maksudku eomma, aku belum bisa bertemu Baekhyun untuk saat ini"

"kenapa?"

"aku… aku butuh sedikit pembenahan diri. Kumohon"

"aku pegang kata-katamu Chanyeol"

"percayalah padaku…eomma"

Chanyeol menghela nafas tenang, dia akan kembali pada Baekhyun nya segera dan dia sangat merindukkan malaikat kecil nya tersebut. Sangat!

Mobil mereka berhenti disebuah rumah, rumah dimana Baekhyun membangun masa kecilnya, rumah dimana dia dibesarkan, rumah ibunya. Baekhyun memasuki kamarnya yang masih tetap sama tak lupa mengunci pintu sebelum tadinya sudah mengatakan pada ibunya bahwa dia akan langsung tidur. Sama seperti dulu rapi bersih. Ia membaringkan tubuh letihnya ditempat tidur, memejamkan mata tapi tak kunjung terlelap.

Tangan nya merogoh saku jeket nya mengambil ponsel kemudian membukanya, memandang wallpaper ponselnya seorang lelaki tersenyum tampan dengan telinga lebar kesayangan nya, Park Chanyeol tercintanya, jemarinya menekan tombol ponsel membaca deretan pesan terakhirnya bersama Chanyeol sampai tiba-tiba matanya terbelalak merasakan getaran ponselnya karna seseorang memanggil. Chanyeol menelfon nya pikiran Baekhyun blank seketika entah dia harus menjawab atau tidak tapi ini benar-benar mendadak. Ketika berhari-hari kekasihnya tidak menelpon dan member kabar sekarang tiba-tiba saja menelfon nya.

"H-halo…"

"Baekhyun..."

"Chanyeol…."

Hening

"ekheeem" terdengar dehaman Chanyeol diujung sana

"eh?"

"sedang apa?"

"aku? hanya berbaring saja. Kau sendiri?"

"aku juga…"

"Hm… ada apa?"

"kau tidak merindukanku?"

Baekhyun terdiam beberapa saat mencoba merancang jawaban tapi mulutnya malah berbicara tanpa bernegosiasi dengan nya

"kau sendiri?"

"apanya?"

"kau tidak merindukanku?"

"kalau aku tidak rindu… kenapa juga aku menelfonmu"

"Chanyeol bodoh…." Baekhyun mulai menitikkan air matanya

"maaf" Byun Baekhyun akan selalu lemah jika itu menyangkut Park Chanyeol bahkan mendengar suara bersalah lelaki itu saja membuat air mata Baekhyun menetes tak karuan

"aku merindukanmu Chanyeol, merindukanmu sampai rasanya aku ingin mati hks"

"sayang… maafkan aku, jangan menangis kumohon"

"aku merindukanmu, kenapa? Kenapa kau meghilang begitu saja?"

"maafkan aku sayang"

"kau tidak tau betapa sedihnya aku beberapa hari ini hah?"

"maaf"

"berhenti meminta maaf!" teriak Baekhyun frustasi

"aku memang salah, karna itu aku meminta maaf"

"kau jahat… kau sangat jahat Chanyeol, tapi entah kenapa aku masih mencintaimu"

"aku minta maaf sayang, aku lebih mencintaimu"

"hks…"

"Baekhyunee~"

"Hn?"

"aku merindukanmu, bagaimana ini?"

"aku kan sudah bilang aku juga rindu"

"Baekhyunee~"

"ada apa lagi sayang?"

"aaah aku jadi makin merindukanmu kalau begini"

"kesini kalau begitu"

"maaf…aku belum bisa"

"kenapa?"

"aku memiliki alasan"

"katanya rindu. Kau bohong ya?"

"tidak kok, aku memang rindu"

"lalu?"

"hanya sebentar lalu kita akan bertemu lagi"

"aku tidak mau! Cepat kesini aku rindu padamu"

"Mm aku juga, apalagi bibirmu"

"Hn" baekhyun hanya menjawab singkat karna seketika merona mendengar perkataan kekasihnya

"kau tidak rindu bibirku?"

"R-rindu.."

"mau menciumku?"

"kemarilah"

"tidak bisa, lewat telfon saja"

"mana bisa Chanyeolie~"

"tentu saja bisa, mau coba?"

"apa?"

"phone sex"

"kau ini bicara apa" baekhyun mengalihkan pembicaraan karna sungguh dia kepanasan saat ini terlebih suara Chanyeol terdengar begitu sexy saat ini membuat bulu romanya berdiri. Jujur saja Baekhyun memang merindukan sentuhan Chanyeol, kehangatan pelukan nya dan juga ciuman nya

Hening

"sayang kau masih disana?"

"iya Chanyeol"

"jadi mau menciumku atau tidak?"

"yakin lewat sini"

"tentu"

"Ummm. Aku baru saja menciummu"

"terimakasih sayang"

"kau tidak mau balas menciumku?"

"baru saja akan aku lakukan"

Baekhyun memejamkan matanya mendengar kecupan Chanyeol diujung sana, membayangkan bagaimana bibir tebal Chanyeol menciumi kulitnya tanpa ia sadari ia malah menegang dibawah sana

"sial!"

"kenapa sayang?"

"A-aku… aku tegang Chanyeol, bagaimana ini?" cicit Baekhyun pelan menahan tangis

"astaga sangat rindu ya? Gampang sekali sih" goda Chanyeol dengan sangat menjengkelkan

"hks… sakit"

"tenanglah sayang, tenang. Kita akan selesaikan bersama. Kau…. Cukup dengarkan dan lakukan apa yang aku katakana oke"

"Hn. Baiklah"

"ngomong-ngomong kau sudah mengunci pintunya?"

"sudah! Cepatlah"

"baiklah-baiklah, pertama pejamkan matamu lalu bayangkan aku berada didekatmu"

Semua dilaksanakan Baekhyun dengan baik tanpa protes, dia sangat membutuhkan Chanyeol saat ini tidak yang lain hanya Park Chanyeol seorang dan semua akan selesai jadi dengan rilex Baekhyun mulai menjalankan fantasi liarnya bersama Park Chanyeol merasakan setiap inchi sentuhan Chanyeol pada kulitnya, merasakan bagaimana Chanyeol menyentuhnya

"aku menciummu dengan sangat lembut, lembut sekali meraup bibirmu yang terasa manis seperti strawberi kemudian rahangmu, turun kelehermu…" baekhyun mendongakkan kepalanya membayagkan semua yang dikatakan oleh Chanyeol merasakan sebagaimana itu benar-benar Chanyeol

"aku menciummu menaikkan kaosmu, menurunkan celanamu kemudian mengocok penis mungilmu, dengan erangan Aaaah… Baekhyunee~ ouuuh" diujung sana Chanyeol melakukan hal yang sama pada dirinya sendiri mengocok penisnya sendiri dengan tangan merasakan bahwa itu adalah Byun Baekhyun sementara Baekhyun semakin gencar menyentuh dirinya sendiri terutama ketika dia mendengar desahan Chanyeol diujung sana

"aaah Chanyeolie~"

"aku mengocok penismu seraya memainkan putingmu, astaga! Baekhyuneeeh kenapa kau sangathh aah nikmat"

"Ouh Chanyeol…ahhh lebihh…cepathh"

"aku menambah kecepatanku,,aaah semakin cepat…kau merasakannya Baekhyun? Ouhhh"

"Hmm, akuuh.. merasakan nyaaa, aaahhh"

"baekhyueeeeh semakin cepat aaah,, aaah akuuhhh…."

"Chanyeolie~ aaaah aku sampaiiih~ aaah"

Nafas mereka saling bersahutan setelah orgasme masing-masing, rasanya memang aneh karna ini adalah kali pertama bagi Baekhyun melakukan phone sex selama ini bahkan dia tidak tau apa itu yang dinamakan phone sex rasanya menyenangkan dan dia semakin merindukan Chanyeolnya

"Chanyeol~"

"hm?"

"sudah?"

"ya. Rasanya menyenangkan"

"tapi aku jadi makin merindukanmu"

"sabar sayang"

"kenapa sih?"

"sebentar saja, kumohon"

"Chanyeolie~ aku mengantuk"

"kalau begitu tidurlah"

"cium aku"

"Umm. Sudah"

"aku mencintaimu Chanyeol"

"aku lebih mencintaimu Baekhyun"

"selamat malam Chanyeolie~"

"selamat malam sweet heart. Mimpi yang indah"

"Hn"

Pada akhirnya mata kecil Baekhyun terlelap dengan senyuman terpampang jelas diwajah manisnya. Besok pagi dia akan segera bertemu Chanyeol nya

Kakinya menapaki pasir putih dengan jalan santai, hari sudah beranjak sore ketika Baekhyun sampai di daerah tempat tinggal Chanyeol, dia tidak member tahu kedatangan nya pada Chanyeol karna pasti anak itu akan menolak dan memintanya untuk menunggu lagi padahal dia sudah sangat merindukan si jangkung tersebut. Baekhyun berangkat sekitar jam dua siang tadi dan sekarang matahari hampir tenggelam.

Baekhyun melirik ponselnya melihat alamat Chanyeol yang dikirimkan oleh ibunya tadi siang, sepertinya didekat sini tapi langkahnya terhenti ketika melihat Chanyeolnya duduk diujung sana dengan sebuah kemeja longgar ditubuhnya, kurus sekali. Chanyeol duduk sendirian ditepi pantai memadang matahari terbenam kemudian mendekatkan ponsel ketelinganya, tak lama ponsel ditangan Baekhyun berdering menghasilkan senyuman kecil diwajah cantik Baekhyun.

"Baekhyun?"

"ya?"

"merindukanku?"

"setiap saat"

"aku apalagi~"

"temui aku kalau memang rindu"

"belum bisa"

"kenapa memangnya~?" tanya Baekhyun dengan suara manja

Diujung sana Baekhyun melihat kekasihnya tersenyum geli mendengar suaranya

"hanya belum siap saja"

"begitu ya~" tiba-tiba saja terlintas ide jahil di benak Baekhyun

"iya sayang"

"astaga siapaaah,,aaah janganh sentuh…ouh kumohhoon" lenguhnya

"astaga Baekhyun!" disana Chanyeol langsung berdiri dari tempatnya dengan wajah setengah marah

"Chanyeolie~"

"Baekhyun…."

"kemarilah…hks"

Chanyeol terdiam diujung sana, raut wajahnya berubah menjadi bersalah

Dengan sekuat tenaga Baekhyun berlari menuju kearahnya, kearah Chanyeol nya yang tengah menelfon tanpa menyadari kehadiran nya, Chanyeol nya yang sudah kurus seperti manusia tak terurus. Chanyeol nya. Hanya Chanyeol

"maafkan aku sayang. Aku hanya belum siap jika kau melihatku yang sekarang aku…"

"Chanyeolie~" sentaknya memeluk erat tubuh Chanyeol

Chanyeol masih tak percaya dengan siapa yang memeluknya saat ini. Byun Baekhyun kekasihnya

"seperti apapun kau aku akan tetap mencintaimu Chanyeol~"

"Baekhyunee~"

"hks… kau kurus sekali, kau tidak makan ya selama aku tidak ada…"

Chanyeol balas memeluk Baekhyun nya, merasakan kehangatan melingkupi hatinya. Baekhyun nya kembali

.

.

.

.

.

.

.

TBC or END?

.

.

.

.

.

.

.

Hai^^ maaf baru sempat post teman-teman kemaren baru siap UTS aku,, hehe

Makasih buat yang udah sempatin baca, jadi ini ff nya mau end sampai disini aja atau masih ada yang pengen tau kelanjutan kisah Hunhan bersama konfliknya dengan Jaehyun? Atau liat barangkali liat Chanhyun nya lahir. Hehe

See you next chap^^

Ailofyu