Thank you so much buat para readers yaaaa... Saya sangat menghargai saran-saran kalian! Mohon maaf tidak semuanya bisa saya sebutkan dan balas...
Disclaimer: I Do Not Own Naruto, all materials belong to The Great Masashi Kishimoto
Warning : AU, OOC (sudah pasti), Rated M (Lemon-ish, aaand FULL of Violence!) Please, masih ada kesempatan untuk cari fic lain yang lebih "sehat" jika anda kurang dari 18 tahun sangat, sangat, sangat dianjurkan untuk meng-klik "Back" (di lain pihak, semua pilihan tetap diserahkan pada masing-masing pembaca). :D
Do Not Like Do Not Read! Author tidak menerima flames dalam bentuk apapun! Di lain pihak, opini dan masukan sangat author harapkan terutama dari author-author senior.
Chapter 7
Priangan. Normal's POV:
Pagi itu Sakura melamun seraya mengaduk adonan nasi aron yang sebentar lagi harus dimasukkannya ke dalam panci dandang untuk dikukus. Tangannya terasa panas, ia harus mengaduk setidaknya sepuluh kilogram beras yang direbus dengan air tersebut sendirian untuk makan malam para tentara Jepang di barak—dan juga makanan para jugun ianfu jika tentara-tentara tersebut meninggalkan sisa-sisa nasi. Peluh membanjiri tubuhnya yang semakin kurus dalam beberapa minggu terakhir.
Tak lama terdengar suara petir menyambar, matanya tertuju keluar jendela barak tersebut dan tak lama hujan turun deras. Ia sangat membenci saat-saat hujan. Ketika melihat hujan, ia selalu teringat akan seorang pemuda spesial yang selalu menunggunya selepas hujan berhenti di sebuah perpustakaan pribadi milik salah satu keluarga Belanda di pinggir kota Bandung. Pria itulah yang pertama kali mengajarinya membaca dan menulis. Pria itu adalah kekasihnya—Sai.
"Oh, apakah dia masih kekasihku?" Kadangkala Sakura bertanya pada dirinya sendiri. Ia merasa bahwa ia sudah tak layak untuk mengharapkan cinta dari laki-laki yang merupakan sepupu jauh Ino tersebut.
Sakura menyadari bahwa ia bukan perempuan yang dulu, ia tidak senaif itu lagi. Setiap hari ia terus dipanggil "Sakura", sebuah nama yang bukan miliknya sendiri dan Sang Budancho Nara Shikamaru terus menerus bicara bahwa Sakura harus melupakan nama aslinya sendiri.
Shikamaru menggambarkan bahwa bunga Sakura adalah bunga yang cantik, bunga yang hanya tumbuh di musim semi di bulan April sampai Mei, yang menarik adalah bunga itu tidak dapat ditemukan di Hindia Belanda. Sakura tidak tertarik mendengar penggambaran bunga yang bahkan tidak pernah dilihatnya itu. Satu-satunya yang ia ketahui adalah bunga tersebut berwarna merah jambu—warna yang ia sukai.
Sang Budancho Nara Shikamaru juga kerap menyuruhnya bersabar dan mengatakan bahwa "pekerjaan" yang dilakukan oleh seluruh jugun ianfu akan membuahkan hadiah yang manis, yaitu kemerdekaan bagi tanah air! Sungguh propaganda yang busuk.
Sakura juga mendengar kabar bahwa Sang Chudancho akan segera pindah ke Batavia, kota besar yang bahkan belum pernah dilihatnya sendiri sebagai orang pribumi. Sakura merasa khawatir tapi kekhawatirannya tidak sebesar dulu ketika ia diantar ke barak itu pertama kali. Baginya saat ini nyawanya sudah setengah, setengah nyawanya lagi sudah direnggut oleh Sang Chudancho Uchiha Sasuke yang kerap memperlakukannya seperti boneka manusia.
"Uhuk-uhuk.." tiba-tiba Sakura terbatuk dan sesaat kemudian gadis itu mengeluarkan bunyi: "GULP!".
Seketika pula Sakura melihat adonan nasi yang diaduknya nampak sangat menjijikkan! Perutnya terasa mulas dan kepalanya terasa pusing. Kedua kakinya gemetar menopang tubuhnya yang kurus itu, menimbulkan perasaan seakan-akan sesuatu akan meledak di dalam kerongkongannya. Sakura bergegas menuju pintu belakang di mana akhirnya ia membuka mulut dan memuntahkan makanan yang dimakannya pagi tadi. "HOEEEEKKK..."
Sakura terus memuntahkan seluruh isi perutnya selama beberapa lama, Sakura berhenti ketika mulai mencium bau hangus. Ia buru-buru mematikan api tungku, ia bisa saja dipukuli jika menghanguskan bahan makanan!
Sejenak Sakura tidak memikirkan apa-apa kecuali segera mencuci tangan dan mulutnya serta membersihkan bekas muntahannya di pintu belakang. Namun kemudian terlintas pertanyaan lain dalam benaknya setelah ia selesai mencuci tangan dan mulutnya dengan air: Benarkah nyawaku hanya tinggal setengah? Ia bertanya-tanya sambil memegangi perutnya. Ataukah di dalam perutnya yang mungil itu telah tumbuh sebuah nyawa baru?
Sakura memejamkan matanya dan memijit dahinya yang besar, ia bahkan sudah tidak ingat kapan terakhir kali ia mengalami menstruasi! Perang yang belum diketahui kapan berakhirnya itu sudah membuyarkan segalanya. Mungkinkah ia telah mengandung anak Sang Chudancho?
"Sakura!" tiba-tiba terdengar suara orang memanggil. Sakura berbalik dan melihat Ino berlari menuju arahnya dengan tergopoh-gopoh.
"Ino... Ada apa? Kenapa kau sangat terburu-buru?" tanya Sakura kepada teman senasibnya tersebut.
"Chudancho, Sakura! Chudancho membutuhkanmu sekarang juga!" jawab Ino dengan wajah cemas. Sakura terkejut mendengar jawaban Ino, saat itu masih terlalu sore bagi Chudancho untuk mencarinya.
"Ada apa ia mencariku sepagi ini?" Sakura mengernyitkan dahinya sambil berjalan meninggalkan dapur dengan Ino. Ino kemudian menjawab, "Ini bukan masalah ranjang, Sakura. Ini masalah serius, nampaknya Chudancho menderita malaria..."
"Apa?! Ba-bagaimana kau bisa berpikir ia terkena malaria?" Sakura terkejut.
"Menurut Shikamaru-san sudah dua jam lebih ia menderita demam dan tubuhnya semakin lama semakin panas..." jawab Ino dengan wajah cemas.
Mendengar jawaban itu Sakura segera bergegas menuju kamar Sang Chudancho. Dalam perjalanannya menuju kamar Sang Chudancho hatinya berbisik, bukankah ini suatu hal yang baik? Tetapi mengapa hatiku terasa sakit? Bukankah ia musuh yang telah melakukan banyak kejahatan terhadap dirinya dan gadis-gadis Priangan yang lain? Hatinya bergumam. Mengapa Sasuke Uchiha bisa terjangkit malaria? Ah, mungkin hujan yang terus-menerus mengguyur selama beberapa minggu terakhir telah menyebabkan nyamuk-nyamuk berkembang biak dengan cara yang sangat mudah dan membuat satu desa terjangkit wabah malaria dengan sangat cepat.
Sesampainya di kamar Sang Chudancho-kamar dimana Sakura kadang-kadang juga tinggal, Sakura segera mendekat dan berlutut di samping ranjang laki-laki tersebut. "Chudancho-san..." Sakura memanggil Sang Chudancho ketika kedua matanya telah menyaksikan laki-laki angkuh yang biasanya kerap menggunakan tubuhnya sebagai boneka pemuas nafsu belaka tersebut tengah terbaring lemah tak berdaya di atas tempat tidur dengan berselimutkan beberapa lembar kain tipis. Tubuh Sasuke bermandikan keringat, matanya terpejam. Sakura menyeka keringat dan merasai suhu tubuh laki-laki itu dengan punggung tangannya.
Akan tetapi ketika Sakura hendak menyentuh dahi Sasuke untuk menyeka keringat, Sasuke menampik tangannya dan berteriak: ''BAKERO!''. Sakura mundur, ia paham bahwa setidaknya itu kata-kata kasar dalam bahasa Jepang. Shikamaru kemudian menarik lengan Sakura dan membawa gadis itu sedikit menjauh dari atasannya yang setengah tak sadarkan diri. ''Bagaimana?! Apa yang bisa kau lakukan untuk Chudancho-san?!''
''A-ano…'' Sakura tak dapat memandang wajah Shikamaru karena takut. ''Sakura!'' Shikamaru berteriak tak sabaran, Sakura memejamkan mata dan bersiap untuk menerima tamparan. Akan tetapi Shikamaru tidak menamparnya, melainkan hanya mendorongnya sehingga punggungnya menabrak tembok.
''Kau pikir sendiri, Sakura…'' Shikamaru memulai. ''Apa yang akan terjadi padamu jika Uchiha-sama mati sekarang?! Siapa yang akan melindungimu? Kamu pun bisa mati!''
Mendengar hal itu, Sakura membuka matanya dan memandang sang Budancho. Ia mungkin benar—pikirnya. ''Lakukan. Sesuatu!'' Budancho Nara mengulangi kata-katanya terus dan terus. Sakura mengangguk, akan tetapi ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
''Aku… aku mungkin tahu sesuatu. Aku bisa mencari sesuatu di tengah hutan…'' tiba-tiba Ino menimpali. Baik Shikamaru dan Sakura langsung menatap gadis pirang tersebut.
''Akan tetapi Budancho, aku akan membantumu dengan satu syarat.'' Ino berkata dengan tegas. Wajah Shikamaru segera berubah menjadi marah. ''Kau. Tawanan! Berani-beraninya kau menawar denganku!'' Shikamaru kemudian mengangkat tangannya dan hendak melemparkan tamparan sebelum Ino berteriak: ''BIARKAN AKU HANYA DENGANMU, BUDANCHO!''.
Sesaat suasana ruangan itu menjadi hening.
''Apa?!'' Shikamaru bertanya karena bingung. Ino menarik napasnya sekali lagi sebelum mengulangi: ''Biarkan aku... Hanya denganmu, Budancho…''
Sakura pun juga bingung dengan maksud sahabatnya sejenak sebelum Ino kembali bicara: ''Aku ingin seperti Sakura-chan…. Dia hanya dengan Chudancho… aku pun, hanya ingin denganmu. Tidak ada orang lain selain aku dan kamu…''
Shikamaru kemudian menahan napas mendengar ucapan itu. Wajahnya sedikit memerah. Ia tidak pernah mendengar hal ini sebelumnya dari seorang perempuan. Kemudian ia memalingkan wajahnya dan tidak berani melihat Ino—yang katanya tadi, tawanannya. Akan tetapi, pandangannya kembali tertuju pada sang atasan, Uchiha Sasuke yang nampaknya semakin buruk kondisinya. ''Lalu apa rencanamu? Jika kau berhasil. Aku akan membujuk Uchiha-sama untuk mengubah peraturan.'' Shikamaru membuat kesepakatan.
''Begini… aku akan mencari obat tradisional di hutan dengan Sakura untuk malaria. Obat ini bernama buah kina. Ia bisa membantu mengobati Chudancho….'' Ino menjawab dengan cepat, seakan ia sudah menunggu jawaban Shikamaru sejak lama.
''Kamu mau kabur?! Kau pikir aku bodoh?'' Shikamaru kembali berteriak sebelum seorang Jepang lain memasuki ruangan tersebut dan berkata: ''Watashi wa karera to issho ni ikimasu… Aku akan pergi dengan mereka…''
''Juugo-san…'' Shikamaru melihat kepada laki-laki tersebut.
''Aku yang membawa mereka berdua kemari. Aku juga yang akan bertanggung jawab, Nara-san.'' Juugo kembali menimpali dengan keyakinan. Sakura dan Ino saling berpandangan satu sama lain, entah mengapa mereka merasa lega setelah kedatangan Juugo.
''Baiklah. Kalian bertiga cepat pergi ke hutan, dan sebelum pukul empat sore. Kalian sudah harus kembali!'' perintah Shikamaru.
''Baik, Tuan…'' Sakura, Ino dan Juugo mengangguk.
Selepas ketiganya pergi, Shikamaru menggumam. Dalam hatinya, bisakah ia mempercayai Juugpo yang tidak pernah menikmati gadis-gadis jugun ianfu? Tetapi ia menggelengkan kepalanya ketika ia teringat kata-kata Ino. Dan seraya memandangi rambut Ino yang berkibar dan sosok gadis tersebut yang menjauh darinya, ia merasakan bahwa wajahnya entah kenapa kembali memerah…
TBC
Please read & review yaa...
