kenangan


Saat Teto berusia enam tahun, dia ingat Ayahnya memberikannya biola dengan senar-senarnya yang tipis. Setahun setelahnya, sebuah piano besar berwarna putih dengan ukiran emas di bagian atasnya terlihat di pojok kamarnya, kado untuknya. Dan pada usia delapan tahun, Ayahnya mengajarinya segala hal tentang gitar.

Dia mengenal kunci nada gitar, bunyi petikan halusnya, dan lagu ciptaan dari Ayahnya khusus untuknya.

Dengan sukses, Kasane Ted menjadi sosok pelindung bagi Putri kecilnya.

Teto ingat dirinya begitu cinta dengan musik. Seolah hidupnya adalah musik. Setiap nada dalam ketukannya bagaikan warna yang menghiasi pelangi hidupnya.

Setidaknya itu dulu... sebelum merah kemudian mengaburkan segalanya.

Ketika Ayahnya berbalik meninggalkannya untuk menetapi karirnya sebagai pemusik, Teto mulai dijauhkan. Jarak antara mereka berdua perlahan mulai melebar, membuat gadis merah itu mempertanyakan satu hal: apakah musik jauh lebih penting daripada aku?

Kenyataan bahwa Kasane Ted memang memilih musik daripada keluarganya benar-benar memukul mundur Teto. Gadis itu membenci segala hal tentang musik selain... tentu saja—termasuk Ayahnya sendiri.

Jadi, ketika tahu Utaunoda—sekolahnya sekarang—akan mengadakan festifal musik tahunan, seketika saja Teto merasa muak. Dia bersumpah bahwa dia tidak akan memainkan bahkan mendengar alunan nada sekalipun!

Karena itulah, wajar jika Teto mencibir Rin saat si pirang teman sebelah bangkunya itu mengajaknya untuk bermain di grup bandnya.

"Pasti kau bisa main musik, Teto-chan!"

Dan sejak kapan mereka sudah sedekat itu untuk saling memanggil nama kecilnya?

"Nggak!"

"Bohong!"

"Aku memang tidak wajib untuk mengatakan kejujuran padamu kan?"

"Kita kan teman?"

Sejak kapan?

"Dan aku butuh bantuanmu dalam pembuatan bandku."

Apa hubungannya denganku?

"Kita kekurangan pemusik. Melodi. Kau bisa memainkan apa saja?"

Teto hanya diam.

"Biola?"

Masih diam.

"Piano?"

Masih diam.

"Keyboard?"

Masih diam.

"Flute?"

Masih diam.

"Contrabass"

Bahkan alat musik itu lebih besar daripada tubuh Teto sendiri.

"Aah... Gitar ya? Pasti kau bisa memainkan gitar! Tentu saja! Kasane Ted—"

Suara gebrakan meja. Teto berdiri dari tempatnya dan menatap Rin tajam. Mulutnya akhirnya membuka juga. "Diam, bodoh! Siapa peduli aku bisa main alat musik apa!"

"Aku peduli!" tukas Rin cepat, sama sekali tidak peduli dengan reaksi keras yang diberikan Teto barusan.

"Iya, lalu?"

"Lalu aku ingin mengajakmu."

"Memangnya aku mau?"

"Sudah pasti mau kan? Memangnya tidak?"

Teto menatap Rin dengan sebal. "Dengar ya, aku sama sekali tidak tertarik untuk bergabung dalam grup musik konyolmu itu."

"Kenapa?"

Oh, apakah Teto harus mengatakan alasannya?!

"Dengar, Kagamine-san—"

"Rin!" potong Rin cepat. Mata birunya menatap Teto dengan serius. "Kita sudah sepakat untuk saling memanggil nama kecil kan?"

Oh, demi Tuhan, memangnya kapan Teto membuat kesepakatan itu sebenarnya?

"Kau terjebak dalam delusi tingkat atas yang sungguh parah, Kagamine-san!" Teto mendengus dan beranjak berdiri dari tempatnya.

"Aku serius, Teto-chan!" Rin menarik tangan gadis dengan rambut merah bergelung itu. "Aku benar-benar serius."

Teto menarik paksa tangannya. "Siapa peduli soal keseriusanmu?! Aku tidak akan mau bermain musik lagi terutama dengan orang sepertimu!" Dan setelah mengatakan hal itu, Teto berjalan pergi keluar kelas meninggalkan Rin yang duduk termenung.