Crazy In Love

Min Yoo


Masa-masa ujian menjadi masa yang sibuk bagi pelajar seperti Taehyung. Taehyung memang bukan tipe pelajar yang pintar dan rajin belajar. Tetapi ujian akhirnya akan segera datang dan itu menjadi penting bagi siapapun yang ingin lulus sekolah, terlebih bagi yang ingin sekali melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Sejak kecil Taehyung menyukai fashion dan keluarganyapun tau, oleh karena itu masuk ke sebuah akademi fashion terbaik menjadi incarannya. Ia ingin menjadi seorang desainer dan saat ini adalah saat yang tepat bagunya untuk memulai segalanya.

Taehyung menjadi rajin, bahkan ia mengabaikan ibunya yang mengomel karena pakaian kotor dan kamar yang berantakan. Ia hanya fokus dan meminta ibunya untuk diam. Sampai ia merasakan tenang, ia kembali belajar dan melupakan jam yang kini sudah menunjukan pukul 11:41 pm. Hingga waktulah yang menghentikan kegiatan belajar seorang Kim Taehyung. Ia merasa harus istirahat agar besok ia bisa bangun pagi dan kembali belajar sampai malam. Ini terlalu menekan otak dan tubuhnya, Taehyung lelah dan sedikit muak dengan tuntutan ujian akhir.

"Mengapa dunia menjadi kejam pada siswa? Mereka membuat anak umur 18 tahun sepertiku harus tidur lima jam per hari. Kalau begini, rasanya memang enak bunuh diri. Ini terlalu menyiksa untuk hidup."

Taehyung terus menggumam hingga ia mendengar sebuah pembicaraan yang membuatnya diam dan mendekati sumber suara. Taehyung bukan tipe gadis tukang menguping tapi karena ia punya telinga, jadi ia bisa mendengar segalanya. Jadi anggap saja itu kesalahan ayahnya yang bicara terlalu keras.

",,,Aku tak mungkin bisa pergi ke ruangannya untuk mencari data pengiriman produknya. Aku tak memperkirakan kalau Mr. Min akan menyelundupkan barang dari aset yang aku beri.,,, Aku tau. Aku ingin kau carikan seorang tentara bayaran yang bisa melindungi keluargaku dengan aman.,,, Hanya ini yang bisa aku lakukan. Ingat, agen swasta saja. Yang terbaik dari yang terbaik. Aku tak peduli berapapun harganya."

Taehyung menutup mulutnya. Apa yang barusan ia dengar terlalu mengejutkan, bahkan rasa kantuknya entah hilang kemana. Fakta sebesar itu, tentu saja tak mudah bagi remaja seperti Taehyung untuk menerimanya. Dengan jantung yang berdetak cepat, Taehyung mengurungkan niatnya ke dapur. Ia justru kembali ke kamarnya.

"Apa ini semua?,,, Bagaimana bisa?"

Mr. Min adalah orang yang sangat dekat dengan keluarganya. Dia adalah orang yang sudah ia anggap sebagai pamannya sendiri. Dengan sosok dermawan dan bijaksana, Taehyung tak mengira Mr. Min adalah orang yang jahat. Belum misteri hubungan kakaknya, ayahnya dan Kim Namjoon terpecahkan, Tae malah menemukan fakta mengerikan lain. Jika memang Mr. Min adalah orang jahat, Bagaimana keluarganya nanti? Mr. Min sekarang adalah ayah mertua kakaknya dan jika ayahnya terseret dalam masalah. Apa yang bisa Taehyung lakukan?. Seketika kecemasan muncul, membuat Taehyung merasa was-was dengan lingkunganya.

...

Begitu pulang dari bandara Yoongi dan Jin langsung pergi ke rumah baru mereka di sebuah hunian mewah dengan keamanan yang cukup tinggi. Rumah baru ini adalah pemberian Mr. Kim. Bukan untuk menjaga privasi Yoongi sebagai public figure tetapi untuk melindungi puterinya. Karena Jin tak tau kalau ia adalah orang yang paling dekat dengan sumber bencana. Tak ada yang tau motif dibalik hadiah pemberian Mr. Kim, mereka semua hanya tau bahwa Mr. Kim hanyalah ayah yang royal.

"Apa kau ingin teh?"

"Tidak! Aku hanya ingin mandi."

"Baiklah akan aku siapkan air hangat."

"Tidak perlu! Biar aku saja!"

Jin diam tak jawab karena ia fikir penolakan Yoongi adalah bentuk dari kemarahan Yoongi terhadap dirinya. Jin kembali melamun untuk mencari cara menolong Jimin. Karena Jin yakin hanya Jimin yang bisa membuat Yoongi bahagia. Jin mengenal baik Yoongi dan bagaimana cara Yoongi menatap Jimin itu sama persis seperti bagaimana cara ia memandang Namjoon. Itu adalah cinta dan itu tulus.

"Seokjin!"

Seokjin terperanjat mendengar suara Yoongi yang begitu dekat, membuatnya menoleh menatap pria dengan bathrobe itu.

"Aku sudah siapkan air hangat untukmu! Mandilah dulu sebelum tidur. Hm?!"

"Ne!"

Seokjin pergi melangkah ke kamar mandi dan terkejut dengan apa yang ia lihat. Di dalam bathtub terdapat kelopak bunga mawar dan hiasan lilin aroma terapi. Jelas sekali itu bukan bekas mandi Yoongi tetapi Jin yakin itu adalah karya Yoongi untuknya. Jin keluar dan melihat Yoongi mengeringkan rambut dengan hairdryer.

"YOONGI-AH!"

Panggil Jin sedikit berteriak. Yoongi menoleh dan mematikan hairdryernya.

"Terimakasih untuk kamar mandinya!"

"Ne! Aku membeli banyak di Bali kemarin. Jadi aku ingin kau mencobanya. Kau menyukainya?"

"Ne! Aku sangat menyukainya."

Aroma lavender dan lemon adalah yang terbaik. Jin tak pernah merasa seringan ini. Sungguh Yoongi sangat ahli dalam memilih aroma terapi dan sepertinya kebiasaan mandi suaminya akan menular padanya. Sementara Jin asyik dengan aroma terapi, Yoongi kehabisan kesabaran untuk menunggu penjelasan ayahnya mengenai Jimin. Yoongi mengambil ponselnya setelah rambutnya benar-benar kering, ia pergi ke balkon untuk menelfon seseorang yang sejak kemarin ingin ia hubungi.

'Hallo!'

"Apa maksud dari semua ini?"

'Aku tak mengerti maksudmu!'

"Jangan berpura-pura tak tau! Aku yakin appa yang membuat Jimin keluar dari managementnya."

'Kau tak bisa menuduh tanpa bukti'

"Appa kau telah ingkar janji! Aku menikah dengan Jin, itu perjanjiannya."

'Aku tak mengerti maksudmu'

Yoongi habis kesabaran, cukup sudah basa-basinya "Ayah telah ingkar maka sekarang perjanjian kita batal. Aku bersumpah akan membantu Jimin dan jika kau kembali membuat hidupku bermasalah, Aku akan menceraikan Jin."

Mr. Min terdengar tertawa. Sungguh ide bagus dari puteranya. Mr. Min sama sekali tak peduli karena ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Justru lebih baik jika mereka bercerai, karena ia tak ingin berurusan dengan keluarga Kim. Meskipun, ia sedikit ragu karena masih banyak aset keluarga Kim yang bisa ia miliki. Tidak terlalu besar tapi juga jumlahnya tak terhitung kecil. Ia sudah kenal baik keluarga Kim dan betapa mudahnya cara menghancurkan keluarga itu. Satu saja ia singkirkan, maka yang lain akan ikut mati dan ia bisa memiliki segalanya tanpa harus mengotori tangannya lebih.

"Lakukan saja!"

Yoongi check mate. Tidak, ia tak serius mengatakannya. Ia mengatakan itu hanya untuk mengancam ayahnya. Tetapi gagal. Yoongi tak memperhitungkan semuanya, ia terlalu marah, dan tak mengingat satu hal yang merupakan ciri khas ayahnya. Ketika ia sudah mendapatkan sesuatu ayahnya tak akan menganggap orang itu penting lagi. Tapi kali ini sedikit berlebihan, hanya karena sebuah pabrik di dekat dermaga, ayahnya ingin menghancurkan hubungan dengan keluarga Kim yang sudah puluhan tahun terjalin?.

"Apa sebenarnya yang telah ayah rencanakan terhadap keluarga Kim?"

Yoongi mendengar lagi tawa ayahnya. Sepertinya, orang tua di balik tlp sedang merasa bahagia.

'Kau memang pintar. Tak heran, kau memang anakku.'

"Apapun yang ayah rencanakan tolong hentikan! Karena jika ayah bermain-main dengan keluarga Kim, aku benar-benar tak aka tinggal diam."

Mr. Min sama sekali tak peduli dengan ancaman puteranya. Ia kenal baik puteranya. Bagi Mr. Kim anaknya itu hanya bisa melakukan ancaman kosong. Yoongi tak pernah bisa melakukan apapun. Ia sangat tau persis bagaimana sifat puteranya.

'Selamat atas pernikahanmu! Besok aku akan sangat sibuk jadi aku harus istirahat.'

Mendengar sambungan terputus Yoongi menjadi kesal hingga hampir melempar ponselnya. Yoongi tak pernah semarah ini. Ia fikir ayahnya terlalu melewati batas untuk mengatur kehidupannya. Pertama Jimin sekarang Jin. Bagaimana bisa ayahnya selalu menghancurkan orang-orang yang Yoongi sayangi. Yoongi benar-benar tak bisa menerimanya.

...

Pagi yang selalu terasa asing, suatu hal yang biasa bagi Jimin. Ia hanya tau dirinya sedang berlibur, maka ia memanfaatkan waktunya bermalas-malasan selagi bisa. Ia hanya mengerjap-ngerjapkan matanya tanpa bergerak sedikitpun dari posisi tidurnya. Sungguh bukan kebiasaan Jimin yang selalu bangun pagi dan langsung bekerja.

Jimin menghela nafas, karena ia merasa ringan setelah menagis semalam. Ia butuh menumpahkan rasa kesal dan butuh istirahat untuk menyegarkan kembali tubuh dan fikirannya. Itu perlu agar ia bisa kembali melawan dunia yang sekarang sedang memeranginya. Jimin melirik ponselnya ia sedikit malas untuk membukanya. Disana ada jutaan komentar dan hujatan akan langsung mencekiknya begitu kunci terbuka.

Mata Jimin terus menatap ponselnya, ia ingin bermain dengan ponselnya, tetapi ia masih malas. Tanpa perintah otaknya, tangan Jimin memegang ponselnya dan karena terlanjur, ia membukanya dan benar saja, jutaan panggilan dan pesan serta chatting bermunculan. Memang semua berisi pertanyaan mengenai khasusnya, tapi Jimin tak ingin memberikan balasan. Ia tak mungkin menjelaskan satu persatu pada semua orang bukan?. Sampai matanya menemukan sebuah email dari official sebuah merk shampoo cukup ternama. Ia membacanya dan cukup terkejut dan heran. Ia fikir itu salah kirim atau semacamnya. Pasalnya Jimin sedang ada khasus dan tidak mungkin tiba-tiba ada panggilan casting.

"Lusa? Apa ini lelucon?"

Jimin mengirim pesan untuk meminta konfirmasi dan ternyata benar. Jimin tak ada manager sekarang, jadi mungkin ia harus melakukan apa-apa sendiri. Jimin langsung bangkit dari kasur dan memasukan pakaiannya ke dalam tas. Jimin harus move on. Maka ia harus segera kembali ke Korea hari ini juga.

...

Jin tersentak ketika bangun dan melihat Yoongi sedang memakai celana. Ia sempat melihat boxer hitam Yoongi yang memperlihatkan pantat suaminya yang cukup indah. Tetapi suasana ini bukan lagi pagi yang romantis, suaminya itu terlihat sangat buru-buru. Tas, tumpukan file dan laptop yang menyala berserakan di samping Jin.

"Kau kerja hari ini?"

"Ya! Ada sidang penting dan aku harus berangkat secepatnya"

Jin melirik jam masih pukul enam pagi. "Kenapa kau tak membangunkanku?"

Dengan cepat Yoongi memakai dasinya lalu merapilkan file-filenya diatas kasur. Yoongi memeriksa data di dalam laptopnya sebentar sebelum mematikannya.

"Jam berapa kau bangun?"

"2!"

"APA?! Itu sama saja kau tidak tidur!"

"Aku tidur beberapa menit." Yoongi masih sibuk. lalu saat semua siap, ia bangkit dari kasur. Yoongi hendak pamit.

"Aku berangkat!" Saat Yoongi menatap Jin, disanalah ia melihat wajah kebingungan Jin. ",, Aku hanya tak ingin merepotkanmu!"

Jin tersentak. Bukankah ia dan Yoongi suami isteri, Jin hanya berfikir, bahwa tugasnya sebagai isteri adalah melayani suami dan melihat Yoongi melakukan segala hal sendiri membuatnya sedikit tersinggung. Jin mengira Yoongi memberikan batas padanya mengenai sebuah rumah tangga, ia merasa diingatkan bahwa pernikahan mereka hanyalah formalitas.

"Maksudku,,, Kau terlihat lelah dan aku tak tega membangunkanmu. Jadi aku fikir selama aku bisa melakukannya sendiri,,, maksudku kau butuh tidur. Argh!.. Aku tak bermaksud mengabaikanmu atau tak menghargaimu."

"Aku mengerti! Berangkatlah, kau bilang kau harus secepatnya ke kantor."

"Benar!" Yoongi melangkah tetapi ia urungkan niatnya, Yoongi berbalik lalu naik ke atas kasur untuk mengecup bibir isterinya. "Selamat pagi! Aku lupa mengucapkannya."

Jin tersenyum dan itu sukses membuat rasa bersalah Yoongi hilang.

"Selamat pagi!"

...

Bukan kebiasaan seorang bos besar pagi-pagi membuka artikel gosip. Sungguh hal yang diluar kebiasaan, yang berhasil membuat seluruh pelayan Namjoon geger. Terlebih Namjoon membuka artikel dengan foto Park Jimin yang terlihat sangat jelas. Siapa orang di Asia yang sekarang tak tau siapa Park Jimin. Satu sisi positif bagi para maid, mereka berfikir gosip Park Jimin terlalu besar hingga berita itu menarik bagi pembisnis. Tetapi tidak, bukan itu yang ada di fikiran Namjoon. Masih sibuk dengan sarapan dan tabnya. Muncul ast Ahn bersama seorang pria tinggi disampingnya.

"Selamat pagi Tuan Kim!"

"Hm,,, Pagi! Who?" Tunjuk Namjoon dengan dagunya pada orang yang belum ia kenal.

Namjoon meminta penjelasan siapa orang yang bersama ast Ahn tetapi justru Ast Ahnlah yang kini terlihat bingung.

"Ini Jung Hoseok. Ast Pribadi baru anda! Saya sudah memberikan data pribadi Tuan Jung dua hari yang lalu dan hari ini Mr. Jung yang akan menjadi tangan anda untuk mengurus MONSTER."

"Baiklah! Kau boleh kembali ke Korea sekarang."

"Baik Tuan!"

Begitu Ast Ahn pergi, Namjoon membuka emailnya dan mencari data pribadi milik pria jangkung yang sekarang berdiri di sampingnya. Data itu sangat lengkap untuk ukuran CV tapi Namjoon harus membacanya dan banyak fakta yang mengejutkan dibalik senyum charming seorang Jung Hoseok.

"Kau pernah tinggal di Jepang 6 tahun. Kalau begitu kau sudah faham budaya disini."

"Keluarga dari paman saya adalah orang Jepang."

Namjoon mengangguk-anggukan kepala. Setelah dibaca lagi, Jung Hoseok memang berpengalaman untuk urusan jegara Korea dan Jepang. Bahkan beladiri Taekwondo dan Karatepun dia kuasai hingga sabuk hitam. Belum lagi prestasinya di Korea maupun Jepang yang tak bisa dihitung prestasi biasa. Hampir semua sertifikat adalah Nasional dan riwayat hidupnya mengatakan dia baru keluar dari wajib militer selama enam tahun. Rincian tuagas dan jabatan bahkan tertera disana.

"Kau pernah bekerja untuk kerjasama kedua negara ini?"

"Ya dan saya memiliki link untuk keamanan kedua negara tersebut. Saya adalah agen ISI."

"Lalu kenapa kau bekerja untukku?"

"Saya bekerja untuk Negara. Mr Ahn telah meminta agen kami menyeliki khasus anda dan tim kami mendapatkan misi untuk membongkar khasus Mr. Min."

Seringan muncul di bibir Namjoon, Sungguh keberuntungan tapi juga kesialan. Ia tak Pernah berfikir untuk melibatkan keamanan negara untuk ini. Bukan tak berfikir untuk meminta bantuan negara tetapi Namjoon tipe yang suka bekerja sendiri. Jika berurusan dengan Negara, maka harus ada prosedur yang ia anggap terlalu bertele-tele. Tapi apa daya, sekarang negara sudah tau dan mencoba menguak khasusnya dan Namjoon tak akan bisa bergerak sesuai caranya lagi. Ia terpaksa harus menuruti aturan negara.

"Saya mohon kerja sama anda!"

'Aku butuh orang untuk bekerja dibawah perintahku, bukan bekerja sama seperti ini.'

"Setidaknya jika kita memiliki orang dalam akan lebih bagus. Tapi entah bagaimana dia memiliki bawahan yang sangat loyal."

"Saya sudah melakukan penyadapan di kantor Mr. Min"

Namjoon langsung menegakan badannya. "Lalu?"

"Tak ada pembicaraan lain selain kantor dan proyek barunya di dermaga. Itu,,, Saham pemberian untuk mas kawin."

"Dermaga andalah tempat sempurna untuk melakukan transaksi ilegal."

"Benar!"

"lalu apa saja proyeknya."

"Impor produk minuman kotaknya yang baru."

"Hanya itu?"

"Kami sedang berusaha menyelidikinya."

Rencana menghancurkan keluarga Min. Bukan hanya untuk Mr. Kim tetapi juga ia bisa mendapatkan untung dengan mendapatkan Kim Seokjin kembali. Namjoon tau bahwa ia kini terobsesi dengan Jin. Ia tak peduli apapun sebutannya ia hanya ingin seokjin bersamanya. Karena ia tau bahwa perasaan seokjin pada pria berkulit putih pucat itu hanya rasa sayang biasa, bukan cinta seperti apa yang selama ini seokjin perlihatkan lewat matanya pada Namjoon. Memang terdengar percaya diri, tapi itulah kenyataan yang Namjoon lihat dan analisa sendiri.

Sementara itu di tempat lain, telah menemukan agen intelegance militer swasta yang ia pesan. Seorang pria gagah dan terlihat muda.

"Selamat siang! Saya Kim Jungkook"

"hm ara! Mulai besok kau akan bekerja sebagai tangan kananku untuk menjaga keluargaku. Aku sudah memasang cctv tapi bisakah kau memasang pelacak di setiap ponsel mereka?"

Jungkook terlihat sedikit berfikir, membuat Mr. Kim berfikir jika Jungkook keberatan. "Apa kau keberatan?"

"Tidak Sir. Saya hanya memikirkan sebuah chip."

"Masalah uang kau tau itu bukan masalah." Mr. Kim memberi Jungkook sebuah maps. "Di dalam sana adalah berkas berisi password, kunci rumah, dan kartu kredit dll. Berpura-puralah menjadi tetanggaku, karena itu jarak yang baik melindungi keluargaku."

"Baik sir. Kapan saya bisa mulai bekerja."

"Sekarang, aku harap."

"Baik sir." Jungkook menunduk memberi salam lalu hendak pergi, sebelum mr Kim menghentikan langkahya dengan satu panggilan.

"Jungkook!"

"ya sir?"

"Apa kau bisa menembak dengan tepat?"

"tentu saja! Apa ada seseorang yang ingin anda,,,?'

"Tidak bukan itu. Aku hanya khawatir.,," Ia tau betul siapa yang membantai rumah namjoon. ",,Aku hanya ingin kau bisa melindungi keluargaku dari rumah sebelah. Apa kau memiliki pistol?"

"Aku memiliki beberapa dan memiliki izin lisensi untuk itu."

"Bagus! Kau boleh pergi."

...

Jimin masuk ke dalam sebuah restoran bintang lima di seoul. Sesuai janji, hari ini Jimin akan bertemu dengan produser iklan ternama. Dengan dibantu waitress yang menunjukan ruang dimana produser datang. Sepanjang jalan menuju ruangan, Jimin harus memasang wajah tegapnya terhadap orang-orang yang memperhatikan dan berbisik-bisik tentangnya. Ia sadar betul, dirinya masih merupakan sebuah kontrofersi di negaranya. Sang waitress membukakan pintu dan jantung Jimin berhenti. Jimin kenal salah satu orang yang duduk di kursi makan tersebut. Dia adalah pdog, seorang produser iklan ternama dan merupakan teman baik Min Yoongi di Industri hiburan. Pdog tesenyum lalu menyambut Jimin dengan uluran tangannya.

-Flash back-

",,,Hanya kau yang bisa membantuku!"

Pdog mengerutkan kening "Yoongi, bukankah kau dan dia,,,"

"Aku tau, aku hanya tak bisa melihatnya terpuruk. Aku mohon, kali ini saja!"

Pdog diam untuk berfikir "Baiklah! Hanya kali ini dan kali ini aku yang membuat aturan!"

"Apapun yang kau mau! Aku hanya ingin kau memberinya job agar dia bangkit."

"Yoongi! Apa isterimu tau masalah ini?,," Yoongi terdiam dan pdog bisa menduganya ",,Dengar! Sebaiknya kau berhenti bermain-main Yoongi! Hanya kali ini dan ini terakhir kalinya."

"Terimakasih! Aku berhutang budi padamu!"

...

"Ini adalah kontrak yang cukup menguntungkan!" orang yang duduk di sebelah pdog pergi, meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan, kemudian Pdog mencondongkan badannya sedikit ke arah Jimin.

"Dengar! Dengan keadaanmu seperti ini, tak akan ada produser manapun yang akan melirik. Aku memberimu kontrak ini dan sungguh sebuah kerugian besar jika kau menolaknya."

"Tapi, kenapa anda memberi saya kontrak sedangkan anda sendiri tau bahwa saya mungkin bisa membuat produk tersebut mengalami penurunan pasar."

"Aku rasa kau tau kenapa! Aku dan Yoongi saling kenal."

"Apa Yoongi oppa yang meminta bantuanmu?"

"Ya!" Pdog menyandarkan punggungnya.

"kalau begitu aku menolak!"

Pdog mengerutkan kening tak mengerti. Ia fikir gadis cantik di depannya terlalu labil dalam membuat suatu keputusan. Ia tak tau mengapa Jimin menolak tawarannya setelah mendengar nama temannya disebut. Putus adalah kata yang mungkin menjelaskan semuanya tetapi bagaimana Yoongi memohon, menjelaskan bahwa temannya masih mencintai gadis dengan blazer biru di depannya.

"Kau yakin dengan keputusanmu?! Karena aku melihat kau masih ingin bangkit lagi di dalam dunia hiburan."

Benar apa yang dikatakan produser ternama tersebut. Jimin memang ingin bangkit dan apa yang ditawarkan pdog adalah kesempatannya meniti karir lagi, tetapi orang dibalik tawaran tersebut adalah orang yang harus ia hindari. Jimin mungkin senang dengan perhatian Yoongi tetapi status Yoongi yang kini adalah suami dari Kim Seokjin membuatnya harus berfikir dua kali. Ia jatuh karena hubungannya dengan Min Yoongi dan ia tak ingin semuanya kembali hancur karena masalah yang sama. Jimin berfikir lagi mengenai imagenya. Apa yang akan difikirkan media jika mereka tau bahwa Jimin mendapatkan bantuan dari mantan kekasih yang kini sudah menjadi milik orang lain?

"Aku tau kau takut, tetapi tak akan ada yang tau mengenai ini selain kau dan aku."

Jimin menatap Pdog. Ia terkejut dengan sanggahan seolah Pdog dapat membaca apa yang ia fikirkan. Seorang produser ternama pasti sangat berpengalaman, dan apa yang dikatakan Pdog pastilah benar. Entah ia harus menerima atau tidak, Jimin mengalami dilema. Satu sisi ia ingin menerima kontrak tersebut tapi sisi lain ia menolak untuk berhubungan dengan segala hal tentang Min Yoongi.

"Aku minta maaf tapi aku memiliki pertemuan tiga puluh menit lagi. Aku akan memberimu waktu untuk berfikir dan aku harap kau tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."

"Ne! Terimakasih atas bantuannya pak!"

"Baiklah semoga kau sukses dan sampai bertemu di lain kesempatan."

"Sampai jumpa!"

...

Jungkook bersiul kagum melihat isi rumah tersebut, dengan santai ia membaca isi map dan menelusuri setiap ruangan. Berfikir untuk sedikit merenofasi rumah barunya. Sampai ia di kamar ia bisa melihat sebuah teleskop di dekat jendela, Jungkook membuka gorden. Rumah mr. Kim sangat jelas dilihat dari prespektif mata burung. Bahkan semak di depan rumah Mr. Kim yang sangat sempurna untuk mengintai rumahnyapun bisa jungkook lihat dari kamarnya. Masih tetap menelusuri, Jungkook mencari ruangan contoling yang dekat dengan kamarnya. Dari denah yang ia baca, satu-satunya pintu menuju ruangan itu berasal dari kamarnya, tapi ia hanya melihat sebuah lemari. Jungkook berfikir pintunya mungkin ada dibalik lemari tersebut lalu jungkook mencoba menggesernya. Tapi sebesar apapun tenaganya, itu sulit.

"Password!" Jungkook membacanya dan mencari sebuah tombol untuk memasukan digit nomor. Jungkook membuka lemari dan ia melihat mozaik cermin mendekorasi isi dalam lemari. Sebuah hiasan yang tidak biasa. Jungkook menyentuhnya, meraba setiap cerim untuk mencari permukaa yang ganjil, dan ketika ia menemukan yang paling tinggi beberapa mili dari yang lain ia mencoba menekannya.

Biiippp~

"got it!"

Jungkook tersenyum bersama terbukanya kotak sandi tersebut. Tanpa basa, basi Jungkook memasukan digit nomor dan pintu itu terbuka menampilkan sebuah ruang stanless. Jungkook masuk dan melihat digit angkan di samping pintu ruangan tersebut yang ia yakini adalah sebuah lift. Jungkook membaca kode password berikutnya lalu memasukan kodenya lagi. Disana ia bisa merasakan lift turun ke bawah. Hanya beberapa menit sampai pintu lift sebuah ruangan yang di dominasi oleh layar monitor tv dan komputer.

Jungkook melihatnya dari salah satu monitor cctv dapur yang terlihat lebih sibuk dengan kegiatan memasak Mrs. Kim.

"Ok! Aku tak perlu merenofasi apapun. Bagaimana dia membuat rumah ini begitu sempurna?!"

...

Itu terjadi lagi, dimana Taehyung melamun di kelas, mengabaikan teman-temannya.

"yack! Kim taehyung! Apa kau tau betapa anehnya dirimu belakangan ini?"

"Aku kenapa?"

"Kau aneh! Kau jadi sering melamun belakangan ini!"
"Benar, ceritalah pada kami jika kau memiliki masalah tae!"

"Aku,,, aku hanya khawatir."

"Khawatir kenapa? Ujian?!"

"Tentu saja! Aku harus mendapat nilai bagus agar bisa masuk akademi fashion."

"hey tenanglah, kau itu sebenarnya pintar, aku yakin nilaimu akan bagus"

Taehyung memang sedang tegang menghadapi ujian tapi entah kenapa ia lebih tegang mengingat masalah rumah mereka. Apa yang ayahnya katakan mengenai penghianatan Mr. Min sungguh membuatnya setengah tak percaya dan fakta itu terus mengisi kepalanya. Membuat rasa takutnya berlipat ganda. Konflik apa yang akan muncul di keluarga mereka? Taehyung sungguh cemas dengan segalanya.

.

.

tbc

.

.

kalau di cerita tae akan pergi bersama orang militer yang sudah punya isteri dan anak. nantinya ada fair diantara mereka.

Yoo bingung mau pasangin Taehyung sama Hoseok atau Jungkook ya?

silahkan vot mau Vhope apa Vkook?!