Disclaimer: Not mine at all. Harry Potter and characters belong to JK Rowling. There's not money here. I'm just a normal college student, not a multi-billionaire.


Harry dan Hermione baru saja selesai menceritakan segalanya tentang Horcrux, dan sekarang menunggu Dumbledore yang tampak sedang berpikir keras. Akhirnya, Dumbledore mendongak.

"Jadi, mari kuulang lagi," kata Dumbledore, bahwa saat ini tersisa lima Horcrux yang belum diketahui lokasinya, dan kemungkinan di antaranya terdapat peninggalan Ravenclaw, Hufflepuff, dan Slytherin? Plus, satu lagi yang merupakan Nagini, ular peliharaan Dumbledore? Dan satu lagi, yaitu terdapat di dalam jiwa Voldemort sendiri?"

"Ya, Profesor. Sebenarnya kami sudah menemukan peninggalan Slytherin, yaitu kalung Slytherin, dan kemungkinan besar saat ini masih dipegang oleh Voldemort, atau bahkan belum dibuat. Kami yakin tentang cincin, buku harian, dan peninggalan Ravenclaw serta Hufflepuff. Dia sudah mendapatkan semuanya sejak dahulu," kata Harry.

Dumbledore mengangguk. Dia terlihat berpikir keras lagi. Hermione bergerak sedikit, dan bertanya, "Profesor, apakah sekarang kami boleh tahu, mengapa anda bertanya tentang hal ini secepat ini?"

Dumbledore mengangguk lagi, dan menjawab, "Voldemort telah mulai bergerak terang-terangan. Selama tiga minggu ini, terjadi penjarahan dan kasus orang-orang hilang di pedesaan dan pedalaman. Pelakunya selalu berkelompok, dan menyerang tidak peduli Muggle ataupun penyihir. Sebagian besar korban merupakan kelahiran-muggle untuk penyihir."

Harry bertanya, "Pelahap Maut, sir?"

"Ya, benar sekali, Harry. Dalam dua penjarahan mereka yang terakhir, mereka sudah terang-terangan mengaku sebagai Pelahap Maut, dan bahwa mereka mengabdi pada seorang Pangeran Kegelapan, yang akan membersihkan dunia penyihir dari para Darah Kotor. Dan dalam beberapa aksi terakhir, mereka menembakkan tanda kegelapan ke langit, sesuai dengan deskripsi yang pernah kalian berikan padaku.

Hermione berpikir sesaat, lalu bertanya lagi, "Bagaimana mungkin Voldemort sudah memulai gerakan secepat ini, sir? Seingat saya masih ada jeda satu tahun sampai waktu seharusnya Voldemort bergerak terang-terangan. 1976, seingat saya."

"Alas, kalian bisa datang ke sini dan sebenarnya itu saja sudah memungkinkan perubahan dalam banyak hal. Efek Domino. Takdir, ruang dan waktu bekerja dengan cara jauh di luar akal manusia," jawab Dumbledore.

Hermione mengangguk pelan. Dumbledore berpaling ke Harry, dan bertanya, "Kita dari tadi sudah membicarakan tentang Horcrux, tapi kalian belum memberitahuku bagaimana caranya Horcrux Diari Tom Riddle kalian hancurkan. Apakah kalian bersedia menjelaskan kepadaku?"

Harry meringis sedikit, begitu pula Hermione. Menarik nafas dalam, Harry menceritakan kisah tentang tahun keduanya di Hogwarts, dari peringatan Dobby, penyerangan terhadap para kelahiran-Muggle, termasuk Hermione, dan akhirnya, turun ke Kamar Rahasia, menghadapi Tom Riddle secara langsung. Harry menceritakan tentang pertarungannya dengan Basilisk, munculnya Fawkes, membawa Topi Seleksi dan dengan pedang Gryffindor, membunuh Basilisk. Lalu akhirnya menghancurkan Diari tersebut dengan cara menghunjamkan Taring Basilisk ke buku tersebut.

"Bisa Basilisk," kata Dumbledore, terlihat berpikir. "Hanya punya sedikit sekali penawar, dan sangat destruktif. Ya, kupikir memang benar, taring Basilisk merupakan salah satu dari beberapa cara aman yang praktis digunakan untuk menghancurkan Horcrux. Tapi Harry…" Dumbledore mengernyit, "Yang kamu lakukan itu betul-betul bodoh, ceroboh, dan edan. Dan kamu bilang…. Diriku di masa depan memberimu 200 poin?"

Harry merasa tidak enak, dan menjawab, "Ya, sir."

"Kalau aku yang di masa depan, kujamin kamu kuberi 1000 poin. Bahkan akupun belum tentu bisa menaklukkan Basilisk seorang diri, apalagi hanya dengan sehunus pedang," Dumbledore menggeleng-geleng. Harry melongo, sadar bahwa Dumbledore baru saja memujinya secara tinggi. Hermione tertawa kecil. Dumbledore berseri-seri sejenak, lalu wajahnya kembali serius. Dia bertanya, "Kalau yang kamu bilang itu cocok, berarti Basilisk tersebut selama ini masih berada di bawah kastil ini, di kamar rahasia, siap dilepas oleh Parselmouth berikutnya, selain kamu, yang akan datang ke sekolah ini?"

Mereka mengangguk pelan. Dumbledore menarik nafas. "Aku tak bisa membiarkan ini… Aku akan turun ke sana dan mencoba mengalahkannya, walaupun agak sulit."

Harry mendongak. "Sir?"

"Ini tanggung jawabku sebagai kepala sekolah di sini. Aku sama sekali tak menduga dan tak pernah berpikir sedikit pun bahwa yang menyerang dan membunuh murid-murid beberapa puluh tahun lalu, adalah Basilisk. Sebenarnya sangat sederhana, ya… Basilisk adalah ular, lambang Slytherin sendiri. Kenapa aku tak pernah memikirkannya…

"Aku dipenuhi fantasi-fantasi tentang kutukan-kutukan tingkat tinggi, mantra-mantra hitam. Tak kusangka yang diperlukan hanyalah seorang pengendali ular, Parselmouth, dan tatapan dari sepasang mata ular, untuk melakukan semua itu. Ah, ya…" Dumbledore menghela nafas, "Tom sudah pernah menyarankanku untuk mundur, kupikir memang itu seharusnya yang kulakukan…"

Harry dan Hermione terdiam saja. Dumbledore menghela nafas lagi, dan wajahnya terlihat lebih tua, tapi wajahnya penuh kemantapan. "Baiklah Harry, aku akan melakukannya, kalau begitu sekarang aku memerlukanmu untuk membukakan pintu ke Kamar Rahasia-" Dumbledore sudah setengah berdiri ketika Harry berdiri tegak, dan berkata, "Tidak. Saya yang akan turun."

"Harry-"

"Anda tidak bisa menolak saya. Saya yang jelas sudah pernah mengalahkan ular ini. Dan saya lah kunci penting untuk masuk ke dalam sana. Dan untuk anda ketahui, ini sebenarnya misi saya. Saya lah yang harus menghadapi Riddle akhirnya, semuanya akan kembali ke saya. Jika anda menganggap saya tidak sanggup menghadapi seekor ular yang kebesaran badan, bagaimana anda pikir saya akan sanggup menghadapi Riddle sendiri?" kata Harry. Wajahnya juga penuh kemantapan. Dan, di sampingnya, Hermione juga berdiri.

"Aku ikut denganmu, Harry."

Harry jelas-jelas sudah akan melarang, apalagi Dumbledore, tetapi Hermione langsung menjawab, "Apa? Kau tak bisa melarangku. Aku – lah yang menemukan monster di dalam sana, dengan riset sederhana dari perpustakaan 'kan? Kalau aku tidak memberi informasi itu, kamu juga tidak akan pernah mengalahkannya dan juga Ginny tidak akan pernah selamat."

Harry mengernyit, tapi dia menatap mata cokelat Hermione. Dia tidak melihat kekeras kepalaan di sana, tapi murni kemantapan. Harry menghela nafas, dan berkata, "Aku tak bisa membiarkanmu terluka, Hermione."

Hermione tersenyum kecil, dan menjawab, "Aku juga bisa mengatakan itu untukmu, Harry."

Harry memeluk Hermione, dan mereka berdua menoleh ke Dumbledore. Dumbledore terlihat terkaget, tapi beberapa detik kemudian tersenyum kecil. "Sepertinya aku tak akan bisa melarang kalian, ya?" katanya.

"Tidak, sir. Anda tahu betul itu," jawab Harry, tersenyum kecil juga.

Dumbledore menghela nafas. Dia berkata, "Baiklah, tapi, bagaimanapun juga, kita tidak akan mengikuti jejak Harry di sini," Harry menunduk malu dan menggaruk kepalanya, "dengan turun ke sana tanpa apapun kecuali tongkat sihir. Kita harus memiliki rencana, strategi, dan perlengkapan yang cukup untuk turun ke sana. Aku pikir beberapa zirah kulit naga, ya, dan juga beberapa peralatan lain…"

Dan mereka mulai mendiskusikan tentang rencana untuk menghadapi Basilisk.

.

Harry dan Hermione turun ke halaman kastil beberapa jam kemudian. Mereka sudah memiliki rencana dan strategi untuk menghadapi Basilisk. Mereka akan turun dan naik dengan bantuan Fawkes, yang akan memegang peran penting juga untuk menghadapi mata maut Basilisk. Dumbledore juga langsung mengirimkan surat pesanan via burung hantu, meliputi dua setel baju zirah kulit naga dengan spesifikasi khusus agar bisa pas di Harry dan Hermione. Dumbledore, walaupun sudah diprotes Harry, tidak membelinya. Tapi, atas saran Hermione, membeli jubah kulit naga. Rencananya adalah mereka turun, habisi Basilisk dengan strategi yang sudah mereka susun, ambil taringnya, lalu kembali ke kantor Dumbledore dengan teleport api Fawkes.

Sederhana, tapi berat. Menghadapi Basilisk bukanlah main-main, dan Dumbledore dengan jelas-jelas mengutarakan keheranan dan kekagumannya bahwa seorang anak berusia dua belas tahun bisa mengalahkan satu ekor seorang diri, belum lagi satu ekor tersebut dikendalikan tak lain tak bukan oleh Pangeran Kegelapan itu sendiri.

Bagaimanapun juga, mereka berdua turun ke halaman, dan mulai mengobrol santai, berjalan di tepian danau. Beberapa murid terlihat sedang bermain-main, dan di kejauhan terlihat Lapangan Quidditch sedang digunakan. Kemungkinan besar oleh anak-anak Gryffindor, termasuk di dalamnya James dan beberapa anak lain. Hermione menyatakan keheranannya akan Harry, kenapa dia tidak ikut main. Harry menggumamkan sesuatu tentang tidak diundang oleh James, dan bahwa sepertinya hubungannya dengannya sedikit memburuk sejak pagi tadi. Saat diberitahu masalah James dengan Harry, Hermione berpendapat seluruh kejadian ini sangat konyol, termasuk bahwa Harry sudah terpeleset memanggil Lily dengan 'Mum'.

Setelah menahan tawa sesaat, Hermione meledak, dan berguling-guling di rumput, jelas sekali geli. Harry menganggap itu tidak lucu, dan untuk membalas Hermione, dia menggelitiknya. Setelah perang-gelitik selama beberapa menit, yang tentu saja dimenangkan Harry tanpa ampun, mereka berbaring di rumput, terengah-engah, dengan senyum masih tertempel erat di mulut. Hermione mengeluarkan tawa pelan, dan menggeleng-gelengkan kepala.

"Kenapa?" tanya Harry.

"Tidakkah kamu pikir ini aneh, kurang dari sejam lalu kita masih di kantor Dumbledore, membicarakan strategi untuk mengalahkan Basilisk, dan sekarang kita di sini, terbaring terengah-engah karena perang-gelitik?" jawab Hermione. Harry menggeleng.

"Tidak ada yang aneh dengan hidup kita sama sekali, Hermione. Lagipula kupikir kita perlu penyegaran setelah rapat strategi seserius itu. Coba kupikir… kapan terakhir kali kita seperti ini?" tanya Harry, wajahnya serius.

"Hmmm… di ruang rekreasi Gryffindor, kelas empat. Saat-saat terakhir sebelum Ujian Ketiga Triwizard… kalau tidak salah. Kamu sama sekali tak ada ampun kalau dalam hal ini, ya?" tanya Hermione.

"Aku senang melihatmu tertawa. Apalagi kalau tertawa geli," jawab Harry, nyengir.

Hermione nyengir, dan mencolek pinggang Harry. Harry membalasnya, Hermione juga, dan setelah beberapa menit penuh tingkah kekanak-kanakan, mereka berjalan lagi, melewati pinggiran kastil, masih tertawa-tawa. Harry sangat menikmati saat-saat ini, masa yang terasa hilang dari dirinya, masa yang sudah terhapus akibat Voldemort, Pelahap Maut, banyak kematian. Terasa seperti kehidupannya yang lain, benar-benar lain. Harry tertawa-tawa seperti orang bodoh dengan Hermione sepanjang tepian danau, sama sekali tidak mempedulikan sekitar, sama sekali tidak mempedulikan fakta beberapa belas murid kelas satu dan dua yang menonton mereka dengan mulut menganga dan heran, ataupun fakta bahwa gosip siap terbang dengan kecepatan melebihi Firebolt Harry.

Tidak, Harry benar-benar tidak peduli. Harry hanya sadar akan Hermione, di sampingnya, wanita yang dia cintai jiwa dan raga, sepenuh hati, jauh melampaui ruang waktu dan kehidupan. Satu-satunya orang yang Harry cintai melebihi Ibunya, Ayahnya, Sirius, dan semua benda hidup lain di planet bumi.

Omong-omong soal Ibunya….

Harry melihat rambut merah Lily yang mencolok di tepi danau. Harry sekarang sudah terbiasa melihat rambut itu, sehingga dapat dengan mudah mengenalinya. Rambut merah Lily tidak semencolok rambut merah Weasley, melainkan lebih gelap, menimbulkan kesan tenang dan menentramkan. Kesan yang keliru sebenarnya kalau dia sedang naik darah.

Lily sedang duduk menyandar di pohon, mengobrol dengan seorang remaja pria yang duduk di depannya. Rambut pria tersebut hitam panjang, hampir mencapai leher. Dia memakai baju agak usang. Sejenak Harry tidak mengenal pria tersebut, namun melihat rambutnya yang mengkilap, menimbulkan kesan seperti tidak pernah dicuci bertahun-tahun, seperti berminyak, Harry langsung mengenal siapa dia.

Hermione juga tampaknya sudah sadar juga, dan dia menggenggam tangan Harry memperingatkan, agar Harry jangan bertindak macam-macam.

Hal yang konyol. Harry sudah cukup dewasa untuk tidak bertindak seperti itu. Harry juga sudah mengetahui pengorbanan yang dilakukan Snape, dan alasan sebenarnya dia bersedia menjadi mata-mata Dumbledore. Harry mendapati dirinya merasa agak kasihan padanya. Apakah yang akan terjadi apabila segalanya berbeda? Jika Snape tidak pernah menyebut Lily Darah-Lumpur di tepi danau saat itu? Apakah mereka akan tetap berteman? Apakah Snape tidak akan memilih jalan kegelapan? Apakah dirinya akan ada?

Harry dan Hermione berjalan santai ke arah mereka, dan setelah dekat, Harry menyapa Lily. "Siang, Lily."

Lily dan Snape terlonjak agak kaget. Mereka sejak tadi jelas sedang mengobrol, dan tidak menduga akan kehadiran pihak tambahan. Harry menatap Snape, yang ekspresi kagetnya secara cepat berganti menjadi waspada, penuh perhitungan, dan – marah? Siapa dia berhak marah? Apa haknya marah pada Harry karena menyapa Ibunya? Sebagai anaknya, tentu saja dia berhak menyapa Ibunya kan? Dan tentu saja-

Oke, jadi itu semua muncul di kepala Harry selama sepersekian detik, bagian dirinya yang masih kekanakan dan tidak dewasa, jadi sebenarnya Hermione sudah benar dari tadi masih menggenggam tangan Harry, untuk menahannya. Harry sadar sepersekian detik kemudian, dan tersenyum pada Lily, sebisa mungkin terlihat santai, dan bertanya, "Temanmu?"

Lily meluruskan diri, tergagap sedikit dan akhirnya menjawab, "Ya, Ivan, tentu saja kamu belum pernah bertemu Sev. Sev, ini Ivan Tesla, dan di sebelahnya Jean Leroy. Ivan, Jean, ini Severus Snape, teman baikku dari-erm-rumah."

Mereka saling berjabat tangan, dan Harry duduk di rumput, menghadap mereka berdua. Hermione mengikuti di sebelahnya. Hermione rupanya menyadari Harry masih sulit bersikap biasa, jadi Hermione memutuskan membuka lebih dulu. Dia berkata, "Jadi, Severus-boleh kupanggil Severus?" Snape mengangguk, dan Hermione menghela nafas. "Severus, ya. Aku sama sekali belum pernah mendengar tentang kamu dari Lily. Kalian, teman baik?Dari rumah?"

Snape mengangguk, sikapnya masih dingin. Di luar dugaan, Lily mendengus, mendorong bahu Snape, dan berkata, "Oh, Snape. Jangan seperti itu. Percayalah, Ivan tidak termasuk apa yang kamu pikir mengenai anak laki-laki Gryffindor. Dia tidak memuja" Lily mendecak jijik, "Marauders, apalagi James. Sebenarnya, dia satu-satunya cowok Gryffindor di angkatanku yang mana aku bisa mengobrol secara cerdas dengannya." Lily berpaling pada Harry.

"Sev adalah teman pertamaku dari dunia sihir, dialah yang memberitahuku pertama kali bahwa aku adalah penyihir. Tentu saja tadinya aku tidak percaya, tapi Sev berhasil meyakinkanku akhirnya. Dan kami berteman baik sejak lama, sejak aku bahkan belum berangkat ke sini," tutur Lily dengan bersemangat.

Harry dan Hermione sudah mengetahui cerita ini sejak dari Pegunungan, diceritakan oleh Dumbledore. Mendengarkannya dari sudut Lily terasa unik. Harry berkata, "Benarkah? Aku tidak pernah melihat kalian berdua mengobrol atau berbicara sama sekali. Di kelas, di koridor juga."

"Ya-kami harus membatasi komunikasi kami." Jawab Lily, suaranya agak bergetar.

"Kenapa?" tanya Hermione. Dia jelas sudah tahu jawabannya, tapi dia berhasil membuat nada suaranya terdengar betul-betul ingin tahu dan penasaran.

"Aku di Slytherin, dan Lily di Gryffindor," jawab Snape, dan sejenak tidak ada sikap dingin dalam suaranya, melainkan sedih.

Harry mengangguk. Menjadi Slytherin sendiri sudah susah akibat para Marauders, belum lagi karena Snape dekat dengan Lily. Harry saja baru pagi tadi bisa mengobrol santai dengan Lily, dan ayahnya sudah terlihat siap membunuh. Apalagi dengan Snape, yang sudah terdengar jelas sebagai musuh abadi James. Pastilah beberapa tahun ini berat bagi Snape.

"Kamu mengerti?" tanya Lily, tidak percaya.

"Ya. Kenapa? Tidak ada yang salah dengan itu, kan?" tanya Harry.

"Ti-tidak semua orang bisa langsung menerima hubungan beradab antara Gryffindor dengan Slytherin, apalagi teman baik," kata Lily. Harry menggeleng.

Hermione berkata, "menurutku itu bodoh dan terasa idiot. Tidak ada yang salah dengan itu. Penilaian dan permusuhan kalian dua asrama ini, sudah berlangsung lama sekali. Aku heran tidak ada yang pernah menyampaikan saran untuk menghapuskan ini sebelumnya."

Lily membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Snape maju penasaran, dan bertanya, "Apa di sekolah asal kalian tidak ada asrama seperti ini? Tidak adakah persaingan antar kelompok seperti di sini?"

"Persaingan seperti itu tidak akan bisa dihindari di semua sekolah berasrama. Tapi, tidak ada yang sampai bertahan ratusan tahun seperti kalian. Kami lebih kokoh, lebih bersatu. Kami mungkin tidak bisa dibandingkan dengan kalian dalam reputasi ataupun prestasi, tapi kami senantiasa maju bersama. Kami memiliki penilaian yang berbeda akan baik dan buruk. Lihat saja, Ivan di sini," Hermione mengedikkan kepala ke Harry, "Jelas-jelas mempelajari ilmu hitam secara intens di sana. Orang waras mana yang akan membiarkan seorang anak usia tiga belas tahun mengahadapi Dementor dan diharuskan untuk mempelajari Patronus demi nyawanya?" Harry mengangkat alisnya "Tapi Ivan orang yang sangat baik, dan aku yakin sebagian besar murid sana juga sama. Bukan apa kita, tapi apa yang kita lakukan, yang menentukan nilai kita," ujar Hermione.

Lily dan Snape mengangguk pelan. Lily mengeluh, dan berbaring di rumput, berkata, "Kalau saja ada orang yang bisa memasukkan itu semua ke kepala para idiot Gryffindor itu…" Harry tahu dia memaksudkan Marauders, termasuk ayahnya, sehingga dia meringis. Lily melihatnya, dan buru-buru duduk, berkata, "Eh, maaf, Ivan. Bukan maksudku kamu, kamu tahu kan, anu, Marauders. Dan banyak orang lain. Coba kalau mereka bisa mengerti bahwa dunia tidak sehitam putih itu. Aku dan Sev pun pasti bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama-"

Bayangan Ibunya menghabiskan waktu dengan Snape membuatnya sakit perut, tapi dia buru-buru mengibaskan pikiran itu. Lily melanjutkan, tidak memperhatikan Harry, "Kita bisa belajar bersama, mengobrol dengan tenang, bercanda…"

Wajah Snape makin bersinar dari setiap kata Lily. Dia akhirnya tersenyum, dan berkata, "Aku tak tahu kamu suka candaanku. Kukira selama ini kamu menganggap itu garing."

"Itu dulu," kata Lily, menjawil sisi badan Snape. "Kuakui kemampuanmu makin meningkat tiap tahun, Sev.

Snape nyengir, dan menjawil pinggang Lily, bergumam, "makasih". Lily menjawilnya lagi, Snape lagi, dan Déjà vu: Mereka memulai Adu Gelitik persis seperti Harry dan Hermione tadi. Berbeda dengan mereka, Snape dan Lily berakhir dengan imbang, keduanya jelas-jelas tidak tahan geli. Kejadian ini membuat Harry melongo gila, dan Hermione mengernyit gila. Mereka bahkan melupakan fakta bahwa Snape ternyata tidak tahan geli.

Lily akhirnya menyadari bahwa mereka ditonton. Mukanya memerah hebat, dan berkata, "UM- aku tidak bermaksud kalian menyaksikan-UM-kekanak-kanakan ini. Tapi-UM-"

Hermione pulih lebih dulu, seperti biasanya, dan berkata, "UHM! Tenang saja, Lily. Kami akan menutup mulut-" Hermione melakukan gerak tutup mulut paksa pada Harry, yang masih melongo. Harry berguling-guling, sepertinya lidahnya terjepit, "Akan hal ini," kata Hermione.

Lily menatapnya lega, dia menghela napas. Bahkan Snape pun memerah malu-ekspresi yang, dalam keadaan normal, akan membuat Harry menarikan tarian Hula-Hula sebagai wujud syukur.

Harry bergumam pelan, "…"

"Apa?" tanya Snape dan Lily bersamaan.

"Takpapa," jawab Harry.

.

Beberapa hari lewat, Harry dan Hermione menikmati Jumat malam dengan makan bersama di meja Gryffindor. Hermione langsung diterima dengan baik oleh Alice, Mary dan lainnya (kecuali Marauders), dan mereka mendapati diri mereka tertawa hingga berair mendengar lelucon dari Alice. Dan, seakan takdir memang sudah bertekad tidak akan membiarkan mereka senang sesaat saja, Dumbledore menghampiri Harry dan Hermione, dan menyatakan bahwa mereka diperlukan di kantornya sekarang juga. Tahu apa yang menunggu, Harry dan Hermione mengangguk, dan setelah menyampaikan perpisahan pada anak-anak Gryffindor, mereka berangkat.

Di kantor Dumbledore terjadi semacam persiapan operasi perang. Dumbledore memberikan Harry dan Hermione baju zirah kulit naga, yang ringan tapi kokoh. Harry dan Hermione memasang ulang sarung tongkat mereka di tangan, dan Dumbledore sendiri memakai jubah kulit naganya.

"Baiklah, Harry-tinggal satu lagi," kata Dumbledore. Dia menyodorkan Topi Seleksi pada Harry.

Harry mengambilnya dan memakainya. Beberapa saat kemudian, topi tersebut terasa berat. Harry mencabutnya, meraba bagian dalamnya dan menarik keluar Pedang Gryffindor. Pedang tersebut menyala sekilas di tangan Harry. Harry mengayunkannya dan menghunusnya ke depan. Pedang tersebut memendek, pegangannya menjadi lebih pas di tangan Harry, dan bilahnya meramping. Harry tersenyum melihatnya. Dia merasakan familiaritas, seperti memegang tongkat sihirnya. Pedang ini tak terasa berat, sebaliknya ringan, dan seolah mengalirkan energi keberanian pada dirinya.

Hermione memasang pisau perak di pinggangnya, dan memakai sarung tangan kulit naganya. Dia mengikat rambut panjangnya, dan memasang Google hitam di dahinya. Harry memasangnya juga, dan Dumbledore memberi isyarat agar mereka mendekat.

"Sekarang, sekali lagi aku akan mengajukan pertanyaan bodoh, yang mungkin kalian sudah bosan mendengarnya, tapi akan kukatakan juga: Kalian yakin akan ikut?" tanya Dumbledore.

Mereka berdua nyengir. Dumbledore mengangguk, dan mencabut tongkat sihirnya, tersenyum kecil. Fawkes turun dan hinggap di bahu Dumbledore, dan Harry serta Hermione memegang kedua tangannya. Mereka melihat kilatan api membungkus mereka, dan sesaat kemudian mereka sudah mencapai kamar mandi Myrtle.

Harry mendengar degukkan Myrtle di toilet ujung, dan mereka bertiga berjingkat-jingkat ke tempat Wastafel.

Harry meraba keran satu-satu sebelum menemukan keran yang benar-berukiran ular. Dia menyalakan ujung tongkat pinusnya.

"Mari, Harry," ujar Dumbledore, wajahnya penuh keseriusan. Harry mengangguk. Dia menatap ular itu, berkonsentrasi membayangkannya sebagai ular hidup, dan berkata, "Buka."

Seperti dulu, bukan itu suara yang dia dengar, melainkan bunyi desis mengerikan dari mulutnya sendiri.

Wastafel tersebut membuka, bergeser seluruhnya seperti gerakan mekanis bersama. Setelah beberapa saat, di tempat wastafel tadi berada, terdapat lubang melingkar yang gelap. Harry meneranginya, dan melihat luncuran yang sama seperti yang dulu. Harry menoleh, dan Dumbledore langsung maju, meluncur langsung ke dalamnya.

Fawkes langsung mengikuti, dan sesaat hanya terdengar suara Sreeeeeeeeeeeeeettt sampai hening. Dumbledore berseru, "Aman" dari kejauhan. Harry menoleh ke Hermione, dan mengangguk. Dia masuk lebih dulu.

Harry meluncur, meluncur, jauh sekali, dia melihat lubang-lubang pipa di kanan kirinya, tapi dia terus meluncur, jauh ke dalam kegelapan. Akhirnya, dia melihat cahaya kecil di depan, dan dengan refleksnya, dia berhasil mendarat berdiri di dasar. Dia mendengar suara luncuran di belakangnya, dan bersiap menangkap apabila Hermione jatuh, tapi dia juga mendarat sempurna. Harry tersenyum lega, dan Hermione tersenyum balik. Dia berpaling ke Dumbledore, yang sedang memeriksa bangkai-bangkai tikus di lantai dengan penerangan nyala tongkat sihirnya. Dumbledore menoleh, dan memberi isyarat 'maju'

Mereka maju perlahan, telinga awas akan sekitar. Fawkes terbang di atas mereka, berputar-putar, mencari ancaman dan bahaya. Akhirnya mereka sampai di ujung lorong. Sebuah dinding dengan dua ular saling membelit terukir. Harry maju lagi, dan dengan anggukan Dumbledore, berkata, "Buka".

Kedua ular batu tersebut saling melepaskan diri, dan dinding tersebut membuka. Obor-obor hijau kelam menerangi ruangan di dalamnya, hingga ke ujung menampilkan patung dengan wajah berjenggot lebat dan berambut panjang, yang berkesan seperti monyet. Harry maju sedikit di depan, diikuti Hermione dan Dumbledore.

Sesuai rencana, mereka mengambil posisi. Dumbledore persis di depan patung, Fawkes terbang di dekat wajah patung, siap melaksanakan tugasnya mengeksekusi mata maut Basilisk. Harry berdiri di kanan, sekitar 10 meter dari Dumbledore, dan Hermione di kiri Dumbledore.

Harry tegang, tapi mantap. Hermione berkeringat, satu tetesnya jatuh ke lantai ruangan. Dumbledore, untuk pertama kalinya Harry melihat, menelan ludah, menarik nafas dalam, dan mengangguk lagi ke Harry. Harry menghadap patung, dan berseru, "Bicaralah padaku, Slytherin. Yang terhebat dari empat sekawan Hogwarts!"

Patung tersebut bergetar, dan mulutnya terbuka perlahan. Harry dapat mendengar jelas Basilisk membuka gulungannya, berdesis, "Akhirnya…. Bebas…. Makanan, makan, bunuh, cabiikkk…."

Harry dan Hermione langsung memakai Google hitam mereka, dan Dumbledore memberi isyarat. Mereka semua memejamkan mata.

Harry mendengar Basilisk, jelas sudah keluar dari mulut patung, dan berdesis, "Siapa kaliannn…. Kalian bukan pewaris Slytherin!"

Seluruh indera Harry berteriak. Harry tahu bahwa Basilisk sudah memasang mode menyerang. Terlambat satu detik, habis sudah-Harry berteriak, "SEKARANG!"

"LUMOS MAXIMA!" seru Dumbledore, suaranya menggelegar. Cahaya putih yang membutakan memancar dari tongkat Elder Dumbledore, menerangi seluruh ruangan dalam cahaya putih menyilaukan. Harry memberanikan diri membuka mata, dan dari Google hitamnya dia melihat bahwa rencana mereka berhasil. Basilisk memejamkan matanya, kesilauan akan cahaya dari tongkat Dumbledore. Bergerak cepat, Harry berlari mendekat. Fawkes sudah menukik ke mata kanan Basilisk, dan Harry membidik mata kirinya dengan tongkat Pinusnya.

"SECTUMSEMPRA!" seru Harry.

Mata kiri Basilisk tertoreh dalam oleh mantra hitam buatan Half Blood Prince, Severus Snape. Dan, dari raungan tambahannya, Harry tahu Fawkes berhasil dengan mata kanannya.

Dumbledore mematikan cahayanya, dan bersama Hermione, mereka melakukan gerakan melingkarkan tongkat secara identik – dari ujung tongkat mereka muncul tali api besar, dan mereka berdua memecutkannya ke arah Basilisk. Kedua tali tersebut membesar , melingkar dan mengikat di leher Basilisk.

Basilisk meraung, raungan yang sangat tidak wajar untuk seekor ular, lebih persis seperti harimau murka. Tahu apa yang akan terjadi, Hermione dan Dumbledore segera menyentakkan tongkat mereka, dan kedua ujung tali tersebut putus dari ujung tongkat. Dan, dengan satu gerakan mulus, Dumbledore mengarahkan kedua ujung tali ke Fawkes, yang menukik dan menangkapnya dengan kakinya. Fawkes menarik tali tersebut ke bawah, dan dengan tenaga luar biasa sang Phoenix, Basilisk tertarik dan kepalanya jatuh berdebum keras di lantai ruangan.

Harry sudah berlari sejak Fawkes mulai menukik, dan dengan sekuat tenaga dia melompat ke leher Basilisk yang masih terbakar, menghunus pedang Gryffindor. Dia merasakan api membakar wajahnya, tapi dia tidak peduli. Tepat saat kepala Basilisk jatuh berdebum, Harry sudah berdiri di atas kepalanya, dan dengan sekuat tenaga menghunjamkan pedang tersebut ke kepala Basilisk.

Basilisk mengeluarkan desis mengerikan, dan meronta hebat. Harry menarik pedangnya dari kepala Basilisk, yang langsung menyemburkan darah segar ke udara. Dia terlempar oleh kekuatan rontaan Basilisk, dan menghantam lantai dengan keras, pingsan seketika. Basilisk sendiri berputar-putar, jelas kesakitan, dan, dengan raungan terakhir, jatuh kedua kalinya, berdebum mati di lantai.

Sesaat tidak ada gerakan sama sekali. Dumbledore dan Hermione terdiam memandang mahluk raksasa di hadapan mereka ini. Tali api di lehernya masih terbakar, lantai menjadi penuh darah, api, dan lendir. Barulah saat mereka mendengar nyanyian Fawkes, di atas kepala mereka, mereka ingat akan Harry. Mereka cepat-cepat berlari ke tempatnya terbaring pingsan. Dumbledore berjongkok dan mengecek denyut nadinya, dan menghela nafas lega. Hermione tampak sudah hampir menangis, tetapi, ingat akan tugasnya, buru-buru berbalik dan memotong beberapa taring Basilisk dengan pisau peraknya. Dia membuat kotak besi dari udara kosong, dan memasukkan semuanya ke dalamnya. Fawkes, setelah berputar beberapa kali, turun dan hinggap di Harry, meneteskan air matanya di luka-luka memar dan luka bakar di wajahnya. Semuanya terlihat memutih, dan akhirnya lenyap tak berbekas. Dumbledore menarik nafas, dan bergumam, "Ennervate".

Harry terbangun, dan mengeluh pelan. Dia mencoba duduk, tapi meringis sakit. Hermione buru-buru menghampiri mereka lagi, menenteng kotak besi penuh Taring Basilisk. Harry menatapnya, dan melihat wajah Hermione yang sudah berbekas air mata. Harry mengacungkan jempolnya. Dumbledore mendengus, dan Hermione tertawa lemah. Harry baru akan membuka mulutnya ketika Dumbledore menjawab, "Jangan di sini, Harry. Mari kita kembali ke kantorku dulu. Udara sudah hampir berisi darah Basilisk yang menguap. Darahnya tidak mematikan seperti bisanya, tapi cukup untuk membuat mati rasa berbulan-bulan. Mari," dia memegang tangan Harry yang masih memegang pedang Gryffindor. Hermione memegang lengan kiri Harry yang menggenggam tongkat Pinusnya. Fawkes hinggap di bahu Dumbledore, dan dengan kilatan api, mereka kembali ke kantor Dumbledore. Beberapa lukisan terkaget melihat kondisi mereka. Berlendir, penuh darah kering, dan bau. Ya, bau. Lukisan bisa mencium? Entah, yang penting Phineas Nigellius jelas-jelas menutup hidungnya.

Setelah melakukan mantera pembersih pada mereka semua, Dumbledore duduk di lantai, di hadapan Harry, dan Hermione melingkarkan lengannya di bahu Harry. Mereka baru saja melakukan pekerjaan hebat: Turun ke kamar rahasia, menaklukkan mahluk gaib berusia hampir seribu tahun, memanen taringnya, dan hidup untuk menceritakan kisahnya. Pengalaman yang bahkan baru pertama kali dirasakan oleh Dumbledore.

Menyadari semua ini, Dumbledore tertawa pelan.

Harry mengikuti.

Hermione terkikik.

Dan mereka tertawa, masing-masing saling menyelamati atas aksi yang sempurna, luar biasa, tanpa cela sedikitpun. Untuk yang terakhir, Harry mengeluh sedikit. Lalu, demi meningkatkan mood, Dumbledore menghadiahkan mereka berdua seratus poin masing-masing, dua puluh tambahan untuk Harry, walaupun dia memprotes. Teknisnya, Harry yang membunuh Basilisk tersebut. Hermione mengangguk sangat setuju, dan Harry nyengir sebelum mengangkat tangan.

"Ya, Harry?" tanya Dumbledore.

"Profesor, aku mau bertanya," kata Harry. Wajahnya serius.

Dumbledore duduk tegak, dan Hermione berwajah siaga. Melihat mereka berdua bereaksi, Harry nyengir, dan bertanya, "Anda punya balsem untuk pegal linu tidak? Sepertinya saya salah urat nih…"