FAITH

CHAPTER 5b

-Secret Past Part B-

Cast :

Kim Taehyung – V

Kim Seok Jin – Jin

Jung Daehyun

Byun Baekhyun

Park Jimin and other cast...

Warning : This is YAOI..boys love. BOY X BOY. Don't like Don't Read, No Bash or I will hunting you xD

This story is Sarah mine. Unny just posted it in here cause my sweety saengi didn't have account.

Happy Reading! Don't forget to review! Saranghae :D

.

.

.

.

.

Jimin asyik menyantap makan siangnya. Sedangkan Taehyung diam menatap ponselnya.

'Mengapa tak menghubungi ku. Mengapa perasaanku tak enak seperti ini?'

"Hey.. Tae.. ayo makan.. apa dirimu tidak bisa lihat makanan itu memanggil mangil mu untuk dimakan huh ?" ucap Jimin saat melihat temannya ini tidak sedikit pun menyentuh makan siangnya.

Taehyung melihat Jimin gusar.

"Kau habiskan makananmu dulu, ada yang ingin aku ceritakan" ujar Taehyung.

Mendengar penuturan Taehyung, Jimin segera menyudahi makan siangnya.

"Aku sudah siap, kau sekarang boleh bercerita" ucap Jimin lalu menatap balik Taehyung.

"Kau belum menghabiskan makananmu Park Jimin. Aku tidak mau cerita kalau kau tidak menghabiskannya" ancam Taehyung.

"Kau ini jarang mau cerita Tae, jadi bila kau seperti ini berarti kau benar-benar ada masalah"

"Tidak..ehm..ku rasa ini bukan masalah besar,jadi cepat habiskan makananmu terlebih dahulu"

"Kau saja tidak makan, bagaimana bisa aku menghabiskan makananmu"

"Aku tidak berselera" elak Taehyung.

"Aku sudah kenyang" balas Jimin.

"YA PARK JIMIN!" Taehyung geram lalu menarik kerah baju Jimin.

"Hahaha.. baiklah aku akan makan kalau kau makan. Mau aku suapi Tae Tae" dengan jahil Jimin mengkedap-kedipkan matanya.

Taehyung segera melepaskan kerah baju Jimin dan tergesa-gesa memakan makan siangnya.

Jimin tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah sahabatnya itu .

.

.

.

.

.

-oo-

"Perasaan ku tak enak terhadap Jin hyung" Taehyung menatap jalanan malam yang mulai sepi.

"Apa itu yang ingin kau bicarakan padaku semenjak tadi?" tanya Jimin.

"Hmmmm" Taehyung hanya mendehem saja.

"Apa perasaanmu berubah ke Jin hyung ?" tanya Jimin sekali lagi.

"Huh..?" Taehyung menatap Jimin.

"...Tidak hanya saja aku merasa ada sesuatu diantara aku dan Jin hyung. Aku tidak tau itu apa" Taehyung kembali menatap jalanan yang lengang itu. Diingatnya kembali tingkah Baekhyun terhadap Jin.

Jimin menatap heran temannya ini.

"Dari kata-kata mu sepertinya rumit ?" tutur Jimin.

"Entahlah.. Semenjak Jin hyung kubawadatang ke rumahku kerumah, aku bisa melihat tatapan yang berbeda yang dilayangkan Baekhyun hyung padanya. Biasanya Baekhyun sangat senang kalau aku membawa seseorang kerumah. Tapi kali ini sikap Baekhyun hyung sangat berbeda. Selalu menatap Jin hyung dengan sinis" papar Taehyung.

"Mungkin Baekhyun hyung merasa tersaingi melihat kecantikan Jin hyung" canda Jimin dan di sambut pukulan pelan dari Taehyung di bahu Jimin.

"Hahaha.. mungkin.. tapi kali ini berbeda. Baekhyun hyung bakalan lebih cerewet kalau melihat lelaki yang lebih cantik dari dia. Ini seperti ada yang disembunyikan oleh Baekhyun hyung. Tatapannya ke Jin hyung itu tatapan yang penuh rahasia" jawab Taehyung.

"Sebaiknya kau tanyakan ke Baekhyun hyung saja" saran Jimin.

"Hah", Taehyung melepaskan nafas beratnya.

.

.

.

Kini Taehyung dan Jimin diam berdiri di halte bus.

"Hey... busku sudah datang. Tae duluan ya. Coba saja saranku tadi ke Baekhyun hyung daripada kau terus menerus khawatir karena memikirkannya. Aku duluan ya. Bersemangatlah kawan, ini seperti bukan Taehyung yang ku kenal saja." Jimin menepuk bahu Taehyung.

Taehyung menatap kepergian bus yang Jimin naiki.

"Benar kata-kata Jimin tadi. Aku harus menanyakannya" batin Taehyung.

.

.

.

.

.

Taehyung pov

Ku langkahkan kakiku memasuki rumah. Sambil menatap lekat ponselku. Tidak ada tanda-tanda dia menghubungiku. Saat aku memasuki ruang keluarga aku mendapatkan kedua hyungku sedang duduk berhadapan. Sepertinya sedang berbicara serius.

"Hyungdeul aku pulang"

Mereka berdua terkejut melihat keberadaanku. Terlebih lagi Baekhyun hyung. Ada apa dengan nya ?

"He..h hei Tae kau sudah pulang ?" tanya Daehyun dengan gelagapan

"Ada apa dengan kalian berdua ?" tanyaku dingin.

Baekhyun membuang muka dan Daehyun menatap Baekhyun dengan cemas.

"Segeralah kau bersih – bersih, kami tunggu di meja makan" seru Daehyun hyung.

"Baiklah" jawabku dingin.

.

.

.

Kami bertiga makan malam dalam diam. Kuperhatikan Daehyun hyung melirik aku dan Baekhyun hyung secara bergantian.

"Ada yang ingin kau bicarakan hyung ?" tanyaku

"Ahahaahaha..." Daehyung mengaruk-garuk kepalanya.

"itu..eehh.. apa k..kkau... masih dekat dengan Jin hyung ?" tanyanya

"Kenapa?" aku masih fokus memainkan makanan dihadapanku.

"Tidak hanya sa..."

"Ah.. lama" Baekhyun hyung memotong perkataan Daehyun.

"Mulai sekarang jauhi lelaki yang bernama KIM SOEK JIN itu!" Baekhyun hyung menekan nama Jin hyung. Dadaku bergemuruh hebat mendengar penuturan Baekhyun hyung.

"Hyung..." panggil Daehyun hyung cemas.

"Sudahlah Dae.. kau mau adikmu kenapa-kenapa hah gara-gara berhubungan dengan keturunan lelaki berengsek itu hah ?" ucap Baekhyun geram.

"Tapi hyung..." Daehyun melirikku sekilas.

"Maaf Tae.. ini semua demi kebaikanmu. Dengan penuh penyalan aku juga tidak bisa mengijinkan kau terus berhubungan dengan Jin hyung lagi" ucap Daehyun hyung sambil menunduk.

Aku tak mengerti maksud mereka apa. Apa yang yang mereka bicarakan ? Sebenarnya ada apa? Kenapa mereka dengan seenaknya mengatur urusan pribadiku.

"APA MAKSUD KALIAN HAH?" kali ini aku benar-benar tak tahan dengan tingkah mereka berdua.

"Sangat susah menjelaskannya Taehyung. Hyung mohon, jauhi dia. Kami berdua tidak mau terjadi apa-apa denganmu. Hyung tahu ini berat untukmu, tapi jebal..percayalah ini semua kami lakukan untuk kebaikanmu.." kulihat air mata Daehyun hyung mulai mengenang di pelupuk matanya.

"SINTING !" teriakku.

"Kim Taehyung" suara berat berasal dari Baekhyun hyung.

"APA!" jawabku dengan kesal kearah Baekhyun hyung.

"Jauhi dia"

"SALAH APA DIA SAMPAI AKU HARUS MENJAUHINYA HAH ?" teriakku lagi

"AKU BILANG JAUHI, YA JAUHI"jawab Baekhyun hyung tak kalah keras.

"APA ALASAN MU MENYURUHKU MENJAUHINYA HAH ?" kubanting dengan keras meja makan dihadapanku.

"Ayahnya adalah PEMBUNUH DARI ORANG TUAMU"

Darahku berdesir seketika mendengar alasan Baekhyun hyung. Kepalaku pusing. Tubuhku lemas.

"Taehyung gwencana.." Daehyun hyung segera menangkap tubuhku

"Tidak.. tidak.. tidak mungkin... Jangan bercanda hyung. Ku mohon katakan kalau semua ini hanya kebohongan..." kulihat muka Baekhyun hyung dengan tatapan tak percaya dan air mata yang bersiap mulai turun dari kedua mataku.

Baekhyun hyung hanya diam lalu menundukan kepalanya.

"Maaf Tae... " itulah kata yang keluar dari mulut Baekhyun hyung.

Ku hempaskan pegangan Daehyun hyung, Kutinggalkan mereka berdua di meja makan dan menuju kamarku. Ku banting pintu kamar ku dengar keras.

"SIALAN"

Tubuhku jatuh merosot tak sanggup menahan beban. Ku peluk erat kakiku sambil menangis.

Kata-kata Baekhyun hyung masih tergiang jelas di telingaku.

ayahnya adalah pembunuh kedua orang tuamu

"Kenapa.. kenapa hidupku harus seperti ..." isakku dalam tangis.

"Aku ... aku baru saja mengenalnya.. tapii..."

"Aarrrrgghhhh!"

Kupukul dinding sandaran tubuhku.

Kubiarkan airmataku mengalir begitu saja. Rasa sakit di tanganku bahkan tak sesakit perasaan sesak di dadaku.

Drrrrttttttt

Kuraih ponselku "Jin Hyung"

Kugenggam erat ponselku. Nama yang membuatku rindu sekaligus membuatku benci seketika. Kembali lagi air mataku mengalir dengan deras karena tak kuasa menahan rasa sakit yang kurasakan.

"AAARRRGGGHHH!"

Kubuang ponselku ke dinding hingga tak berbentuk.

.

.

.

.

Author pov

Taehyung masih diam menatap langit-langit kamar. Seharian Taehyung tidak tidur memikirkan perkataan hyungnya tadi malam.

Tok... tok... tok..

"Taehyung ..." panggil Daehyun di ambang pintu kamar Taehyung.

Taehyung diam tak bergeming menanggapi panggilan hyungnya.

"Hyung masuk ya" izin Daehyung sambil membuka pintu kamar Taehyung yang tidak terkunci.

Taehyung tetap diam.

"...Tae... gwencana.." Daehyun mendekati adiknya.

Daehyun duduk disamping kasur Taehyung. Dia bisa melihat betapa menyedihkan keadaan adiknya itu. Taehyung hanya menatapnya dengan pandangan kosong tanpa berbicara apapun.

"Kau tidak tidur semalam ?" tanya Daehyun berbasa-basi.

Taehyung hanya melirik sekilas Daehyun lalu menatap kembali langit-langit atap kamarnya.

"Maaf.."

"Buat apa minta maaf" Taehyung membuka suaranya.

"Maaf telah membuatmu seperti ini"

"Ini bukan salah mu hyung"

"Tapi.."

"Hyung !" Taehyung bangkit dari tidurnya dan membentak Daehyun.

Dilihatnya Daehyun menunduk sambil menangis. Dengan gerakan cepat Daehyun memeluk Taehyung.

"Maaf telah membuatmu berada dalam keadaan sesulit ini. Kami seperti ini karena kami sayang kepadamu Tae" isak Daehyun.

Taehyung tak kuasa menahan air matanya kini menangis sengugukan di pelukan Daehyun.

Sepasang mata yang sedari tadi juga mengalirkan air mata mengawasi mereka dari ambang pintu.

"Heemmm" Baekhyun mendekati mereka yang sebelumnya menghapus kasar airmatanya.

"Hyung.."desis Taehyung dengan wajah yang sudah basah. Sama seperti Daehyun.

"Kau bersiaplah Taehyung, ada yang harus kita jumpai" ujar Baekhyun kikuk sambil menyeka air matanya.

"Aku boleh ikut hyung ?" tanya Daehyun.

"Hmm,, baiklah. Kalau begitu bersiap-siaplah" Baekhyun segera keluar dari kamar Taehyung.

-oo-

Kini mereka bertiga berada dalam mobil dengan pikirannya masing-masing. Sesekali Daehyun membuat lelucon untuk mencairkan suasana. Tapi tetap saja endingnya diam dengan pikiran masing-masing. Baekhyun yang fokus menyetir, Taehyung yang diam menatap jendela mobil melihat keluar dan Daehyun akhirnya menyerah juga dan ikut-ikutan diam.

Mereka sampai di sebuah gedung perusahaan yang lumayan terkenal di Seoul.

"Sampai, ayo turun" seru Baekhyun sambil mematikan mesin mobil dan melepas safety beltnya.

"Ini..." ucap Taehyung lirih saat menyadari bahwa dia sudah tidak asing dengan gedung dihadapannya.

"Perusahaan ini milikmu Tae" Baekhyun lalu menepuk pelan bahu Taehyung dan tersenyum penuh arti.

"Mak..maksud hyung.." Taehyung tak mengerti apa yang dikatakan hyungnya.

"Sepertinya mulai sekarang kau akan sibuk Tae" Daehyun mengacak-ngacak rambut Taehyung dengan gemas.

"Hei..hei..tunggu dulu, jelaskan dulu apa ini. Kenapa aku seperti orang bodoh yang tidak tau apa-apa" gerutu Taehyung lalu berlari kecil mengikuti kedua hyungnya yang terlebih dahulu berjalan memasuki gedung itu.

.

.

.

.

.

-oo-

"Maaf menunggu lama " suara berat dari laki-laki sedikit berumur mengkaget kan mereka.

"Ah... Byun Baekhyun. Jung Daehyun.. dan ... pastinya Kim Taehyung" tunjuk lelaki itu terakhir kearah Taehyung.

Taehyung melirik Baekhyun meminta penjelasan siapa lelaki ini dan ditanggapi dengan senyuman tipis oleh Baekhyun.

"Lama tak berjumpa denganmu Taehyung. Terakhir aku bertemu denganmu saat dirimu masih kecil sekali" ujar lelaki itu di hadapan Taehyung.

Dan Taehyung hanya tersenyum kikuk sambil masih memasang tampang wajah kebingungan.

"Terimakasih telah menjaga Taehyung hingga sebesar ini" lelaki itu tersenyum kearah Baekhyun dan Daehyun.

"Tidak masalah Ahjussi, Taehyung sudah kami anggap adik kandung kami berdua" jawab Daehyun sopan.

"Anda siapa" tanya Taehyung.

"Saya...Lee Changmin.. Tangan Kanan ayahmu dulu ketika beliau masih menjabat sebagai presdir di sini..." jawab lelaki ini depan Taehyung.

"Aaaaa..." sahut Taehyung.

"Kau semakin tampan saja tuan muda"

"Tuan muda ? Apa maksudnya ?" Tanya Taehyung tak mengerti.

"Mungkin ini terlalu cepat tapi... " Lelaki tersebut melirik kearah Baekhyun dan di tanggapi anggukan singkat oleh Baekhyun.

"Tuan muda harus tau bahwa tuan mudalah penerus perusahaan ini, dan pesan ayah tuan muda adalah tuan muda harus bersedia untuk mengambil alih tanggung jawab perusahaan saat tuan muda dianggap sudahsiap" jelas Changmin ke Taehyung.

"Tunggu dulu apa maksudnya ini ? Aku benar-benar tidak mengerti. Tolong jelaskan secara perlahan-lahan" pekik Taehyung.

Lelaki yang bernama Changmin tersebut menghela nafas sejenak.

"Saya takut apa yang anda miliki jatuh ke tangan yang salah" jelas lelaki itu sambil menatap Taehyung yang memasang raut wajah kebingungan.

Taehyung mendengus mendengar penjelasan lelaki yang ada di hadapannya itu.

" Ahjussi tolong jangan berbelit belit seperti ini, bisakah langsung to the point saja ke inti permasalahannya"

Changmin menghelah nafas kasar seraya melirik Baekhyun dan Daehyun.

"Saya dengar tuan dekat dengan anak dari Kim Young Min lelaki yang telah membunuh ayah dan ibu tuan muda. Dan saya dengar juga dia sedang menyelidiki identitas anda tuan. Kami hanya takut lelaki itu akan melancarkan ambisinya untuk menguasai aset aset ayah anda sepenuhnya" jelas Changmin seraya menatap Taehyung.

" Mungkin memang ini sebuah takdir yang tidak bisa ditolak lagi. Saya tidak tau bagaimana dia bisa dia menemukan keberadaan tuan muda, padahal dahulu saya bersama keluarga tuan muda telah berusaha merahasiakan keberadaan anda " lanjut Changmin lagi.

"Maka dari itu Appa selalu tidak menyebutkan namaku pada orang lain ?" tanya Taehyung.

"Benar sekali tuan. Dan saya harap anda menjauhi pemuda yang bernama Kim Seok Jin. Saya tau ini sangat berat untuk anda tuan muda, tapi tuan muda harus memahami bahwa ini semua kami lakukan untuk kebaikan tuan muda" saran Changmin ke Taehyung.

"Tapi..."

Daehyun mendatangi Taehyung dan menepuk bahu Taehyung.

"Aku harap kau bisa mengerti Taehyung, hyung tau ini sulit bagi mu. Tapi kau harus melakukan itu Taehyung" Daehyun menatap Taehyung dengan sendu.

Taehyung menghela nafas dengan frustasi.

"Baiklah..aku akan berusaha menerima semua kenyataan pahit ini. Aku akan menjauhi Jin hyung" Taehyung mengangguk pasrah.

"Dan ini tuan muda saya serahkan semua berkas-berkas kepemilikan dan aset-aset anda... bulan depan anda harus pergi untuk mengurus semua"

Taehyung hanya bisa mengangguk pasrah sambil menatap berkas=berkas tersebut dengan pandangan kosong.

-oo-

.

.

.

.

.

Sudah 3 minggu lebih semenjak kejadian terungkapnya rahasia tersebut Taehyung benar-benar membuktikan ucapannya. Dia tidak pernah berusaha menghubungi Jin dan selalu menghindar dari Jin ataupun pembicaraan tentangnya.

Tapi akhirnya dengan berat hati Taehyung yang benar-benar tidak kuasa menahan perasaan rindunya pada namja yang dicintainya itu ingin bertemu dengan Jin untuk terakhir kalinya ... mungkin.

Dan kini Taehyung duduk dibangku taman sambil menatap kosong sungai han yang terlihat begitu indah saat malam hari. Berkali – kali Taehyung menghembuskan nafasnya agar tenang, tapi tetap saja degub jantung Taehyung tak mau kembali normal.

"V..."

Taehyung menoleh kearah sumber suara. Seseorang yang dia tunggu – tunggu, seseorang yang membuat dunianya berubah, seseorang yang dia sayangi, cintai, dan juga seseorang yang membuatnya sakit.

"Kau kemana sih V, kau tau aku mencari mu, aku bahkan hampir gila karena tidak mendapat kabar apa-apa tentangmua, bagaimana bisa kau tidak memberi kabar ? apa kau mau hyung gila karena mu hah ? " sederet kata-kata keluar dari mulut Jin.

Ingin rasanya Taehyung memeluk Jin erat-erat, gejolak rasa rindu mulai melingkupi mereka. Tapi dia berusaha menahan rasa rindunya.

"V kenapa kau diam hah ? apa kau tidak punya alasan untuk membela dirimu hah ? Apa kau tidak merindukanku? Apa kau sudah tidak mencintai hyungmu ini?" sungut Jin kesal.

"Aku..." Taehyung diam menggantungkan kata-katanya rasanya Taehyung ingin menangis dan berteriak pada takdir yang terasa begitu tidak adil padanya.

"Aku apa V ?" tanya Jin balik.

"Aku... Aku ingin kita berpisah hyung. Aku tidak ingin kau ada di dekatku lagi " mati-matian Taehyung menahan air matanya.

"V... ap..apa maksudmu... hyung hanya bercanda memarahimu V " raut muka Jin berubah mendengar permohonan Taehyung.

"APA KAU TIDAK MENGERTI HAH ? AKU TIDAK INGIN KAU ADA DI KEHIDUPANKU LAGI " jerit Taehyung.

Jin terkejut dengan ucapan Taehyung. "V..."desis Jin sendu.

"mianhe" balas Taehyung sedetik kemudian.

"Tapi V.. hyung mencintai mu" isak Jin tak tahan menahan kuasa.

"Persetan dengan itu ! Aku mau mulai detik ini juga kau tidak menghubungi dan mencariku lagi" tandas Taehyung dingin.

"V...

"Jangan panggil aku dengan panggilan menjijikan itu lagi bodoh ! "

"Taehyung" desis Jin.

Taehyung menahan getaran tubuhnya dan menatap Jin sendu. Melihat orang yang dicintainya menangis dihadapannya.

Taehyung mendekat kearah Jin

*cup

Dikecup sekilas bibir Jin dengan cepat

"Maaf kan aku hyung.. "

Kemudian Taehyung benar-benar pergi meninggalkan Jin yang makin menangisi kepergian Taehyung.

Dengan langkah berat Taehyung meninggalkan Jin.

Dia masih bisa mendengar isakan pilu Jin memanggil Taehyung. Tapi Taehyung tetap berjalan kedepan sambil menangis.

*BLAAAMMM

Taehyung menutup keras pintu mobil Jimin. Sampai Jimin meloncat terkaget.

Dilihatnya temannya menangis hebat, Jimin menatap sedih keadaan Taehyung.

"Sudahlah Taehyung, aku tahu apa yang kau rasakan. Jangan menangis ne" lalu Jimin merangkul tubuh sahabatnya yang menangis itu.

"Tapi ini sangat sulit bagi ku. Aku mencintainya..hiks. Sangat mencintainya hiks..hiks" ujar Taehyung sambil menangis sesenggukan.

"Aku tau, maka dari itu kau harus berusaha menyelesaikan masalah ini dan segera kembali ke Jin hyung" balas Jimin.

"Bagaimana bila ternyata dia tidak menungguku ?" tanya Taehyung masih dengan tangisannya.

"Tidak.. Jin hyung pasti menunggumu, aku yakin itu. " Jimin meyakinkan.

Taehyung hanya diam mendengarkan ucapan Jimin.

"Ya sudah kalau kita pergi ya, ingat besuk masih banyak hal yang harus kau selesaikan" ucap Jimin dan hanya dianggukan lemas oleh Taehyung.

Jimin melajukan mobilnya dan tanpa sengaja mobil yang mereka tumpangi melewati tempat dimana Taehyung dan Jin bertemu.

"pelankan mobilnya ku mohon "desis Taehyung lirih tapi masih di dengar jelas oleh Jimin. Jimin segera memelankan laju mobilnya.

Taehyung menatap sendu Jin yang masih menangis di bangku taman dengan menangkup wajahnya. Hatinya sakit melihat orang yang dicintainya itu. Jarak yang hanya beberapa meter masih menampakan siluet seorang Jin dimata Taehyung.

Disaat yang bersamaan dengan tiba-tiba Jin mengangkat kepalanya. Mata Jin terbelalak kaget melihat seseorang menatapnya dari balik kaca mobil.

Dengan inisiatif Jimin menghentikan mobilnya membiarkan Jin dan Taehyung saling berpandangan.

"V" desis Jin.

Sedangkan Taehyung masih menatap dengan pandangan sendu.

"Jalankan mobilnya " pinta Taehyung.

"Tapi.." sangga Jimin.

"Sekarang"

"Ba,,baiklah"

Dengan sigap Jimin melajukan mobilnya.

Jin segera bangkit melihat mobil dihadapannya pergi, tangan Jin terlurur menandakan " jangan pergi "

Kini Jin kembali menangis melihat mobil dihadapannya pergi sampai tidak terlihat kembali dari pandangannya.

Dalam hatinya masih memanggil manggil nama " Taehyung "

.

.

.

.

.

.

.

.

-o-o-

Semenjak kepergian Taehyung ke luar negeri yang Jin ketahui dari Jungkook dan Jimin kehidupan Jin berubah. Sering pulang malam sambil mabuk-mabukan. Dan itu membuat sepupunya Namjoon atau lebih suka dipanggil Rapmon kesal bukan kepalang. Karena Jin selalu pulang kerumahnya dengan bau alkohol dan membuat Namjoon mendecak frustasi. Bukan sekali dua kali Namjoon memarahi sepupunya terkadang bahkan juga memukul Jin karena kesal. Tapi tetap saja Jin tak peduli sambil berkata " Aku butuh ketenangan "

Jin melangkah gontai dengan botol minuman ditanggannya menuju kediaman Namjoon.

"Namjoon-ah... buka pintunya" teriak Jin di intercom.

Merasa tak ada sahutan, Jin kembali meneriakkan nama sepupunya melalui intercom.

"HEY RAPMON...buka pintunya" jerit Jin lagi.

Pintu terbuka dengan paksa.

"SUDAH KUBILANG BERAPA KALI KAU TIDAK BOLEH KESINI KALAU KAU MABUK-MABUKAN" teriak Namjoon frustasi.

Jin menatap sepupunya sambil cekukan. Lalu dengan perlahan Jin meminum botol yang ada ditangannya. Belum sempat meminumnya Yoongi dari arah belakang Namjoon mengambil botol minuman tersebut dan membuangnya jauh.

"HEY ! itu minumanku !" teriak Jin.

"Kenapa kau mau marah hah ?" tanya Yoongi sinis.

Dengan kasar Namjoon menarik masuk sepupunya kedalam, lalu menghempaskan tubuh Jin ke sofa.

Yoongi dan Namjoon duduk di depan Jin sambil tatap-tatapan melihat Jin tertawa lalu menagis lalu kembali tertawa kembali.

"Hyung..." panggil Yoongi.

"Hyung... "

"KIM SEOK JIN " panggil Yoongi dengan nada tinggi.

"Panggil aku hyung, kau tak sopan" sahut Jin nyeleneh.

Namjoon hanya mengelengkan kepalanya melihat tingkah sepupunya ini.

"Apa kau tau sebab kenapa V mu itu meninggalkan mu ?" tanya Yoongi dengan suara berat khasnya.

"Molla..uck." sahut Jin singkat.

"Kenapa tak ada usaha mencari taunya ? Kenapa kau malah melakukan hal menjengkelkan seperti ini?" tanya Yoongi lagi.

"Aku sudah menanyakan kedua hyungnya dan teman dekatnya"

"Lalu apa jawabannya ?"

"Mereka tidak tahu ?"

"Hanya itu cara mu hah KIM SEOK JIN " Yoongi sengaja menekankan nama Jin.

Jin menatap Yoongi dengan sinis.

"Hey dude ! come on ! you can't act like this because this case collapsed huh " sahut Yoongi.

"hey Yoongi sejak kapan kau pintar bahasa inggris ?" tanya Namjoon sarkatis.

"problem with you ?" tanya Yoongi sinis.

"can you explain how can you speak english ?" senyum kemenangan terpancar dari Namjoon.

"Ok.. itu aku gak tahu" jawab Yoongi datar

"Pabo.."

"You..."

"Kau.."

"Hey.. kenapa kalian yang bertengkar ?" tanya Jin heran.

"Back in the topic " Namjoon mengalihkan pandangannya dari Yoongi ke Jin.

Jin menghelah nafas kasarnya.

"Apa yang harus kulakukan?" dengus Jin.

"Bagaimana kau melakukan sesuatu hyung kalau kau saja mengenaskanseperti ini ?" nasihat Yoongi.

"Bersikaplah dewasa hyung. Aku yakin kalau V mu tahu kau seperti ini, mungkin dia akan membencimu" tambah Namjoon.

Jin memijat keningnya yang terasa efek alkohol benar-benar mulai dirasakannya.

"Yasudah lebih baik kau istirahat hyung" perintah Yoongi saat melihat Jin keadaannya semakin mengenaskan itu.

"Kau bersihkan dulu tubuhmu hyung, kau sangat bau tau. Urghh" Namjoon menatap Jin dengan jijik sambil menutup hidungnya.

Jin hanya melihat mereka datar lalu bangkit ke arah kamar mandi dengan sempoyongan.

.

.

.

.

.

.

.

Jin pov

Aku terbangun dari tidur lelapku. Sinar matahari pagi membangunkanku melalui celah-celah jendela kamark.

Ku langkahkan kakiku menuju jendela kamarku. Ku buka jendela kamarku. Udara pagi menyeruak di hidungku. Angin sejuk menyapa wajahku dengan lembut. Ku hirup udara pagi dalam – dalam. Lalu kehembuskan perlahan-lahan.

"Pagi V" kata-kata yang dulu sering aku ucapkan untuk seseorang yang aku cintai sampai sekarang. Seseorang yang sangat aku rindukan kehadirannya.

-oo-

.

.

.

Author Pov

Jin sibuk memilih-milih bahan makanan yang ada di supermarket.

"Kenapa aku yang harus sibuk belanja ? kemana semua main yang ada di rumah." gerutu Jin dengan kesal.

Setelah memilih bahan makanan, Jin beralih ke bagian makanan ringan. Begitu juga dengan makanan ringan Jin memasukan apa yang dia mau ke troli belanja.

"Banyak sekali yang kau beli hyung"

Jin menoleh kesumber suara dan didapatkannya Jung Daehyun tersenyum ke arah Jin, lalu Jin mencari-cari keberadaan adiknya.

"Taehyung tak ada hyung" sela Daehyun. Raut wajah Jin berubah mendengar perkataan Daehyun.

"Sendirian hyung ?" tanya Daehyun

"Hhmm.. kau sendiri ? " tanya Jin balik.

"Tidak aku bersama Baekhyun hyung" Daehyun menunjuk seseorang dibelakang Jin yane tengah merengut mendorong troli belanja.

"An..annyeong haseo Baekhyun-shi" sapa Jin.

"Annyeong haseo Jin-shi" balas Baekhyun.

Lalu keheningan melanda mereka bertiga. Daehyun yang risih dengan kecanggungan ini. Membuka suara.

"Hyung sudah selesai belanjanya" tanya Daehyun ke Baekhyun. Dan hanya diangguki oleh Baekhyun.

"Kalau begitu kami duluan" pamit Daehyun.

"Aku juga sudah selesai belanja, bagaimana kalau kita sama – sama ke kasir" ajak Jin lalu diangguki semangat oleh Daehyun tetapi tidak dengan Baekhyun. Yang semakin mendengus.

"Bisa kita berbicara 4 mata ?" tanya Baekhyun sambil membayar tagihan belajaannya.

"Baiklah" jawab Jin.

Baekhyun dan Jin duduk diantara kap mobil Baekhyun, sedangkan Daehyun duduk di dalam melihat punggung mereka dari balik kaca depan mobil.

"Kau sudah tau apa penyebab Taehyung pergi ?" Baekhyun membuka suara.

"Tidak.. aku tidak tau" jawab Jin.

"Sebenarnya aku ingin memberi tahu mu, tapi sebaiknya kau saja yang mencari tahu" papar Baekhyun.

"Maksudmu ?" Jin menoleh heran ke arah Baekhyun.

"Jawabannya ada di sekitarnya. Sesuatu yang saat dekat denganmu. Sangat dekat " tekan Baekhyun.

Jin semakin mengkerutkan keningnya. Baekhyun menepuk pelan bahu Jin yang masih diam memikirkan apa yang dikatakan Baekhyun.

"Aku pamit pulang" sahut Baekhyun.

Jin tetap diam sambil melihat kepergian Baekhyun.

"Seseorang yang ada di dekatku ? Apa maksudnya ?" batin Jin.

.

.

.

.

.

.

Jin Pov

Dengan langkah gontai, aku masuk ke rumah dengan membawa semua belanjaan yang telah aku beli tadi. Bermacam-macam pertanyaan berkecamuk di dalam otakku.

"Apa maksud nya tadi, kenapa harus aku yang mencari tahu ?" dengusku kesal.

Kulihat ruangan kerja Appa sedikit terbuka. Kulangkahkan cepat kearah ruangan Appa.

"Bagaimana bisa anak itu mendapatkan kembali perusahaannya ? Tidak-tidak, dia akan menghancurkan perusahaanku seperti Orangtuanya itu. Aku mau anak itu dimusnahkan juga seperti Orangtuanya. Siapa nama anak itu ? Kim Taehyung ? Musnahkan yang bernama Kim Taehyung, bagaimanapun caranya"

Serasa ditusuk seribu jarum dadaku mendengar kata-kata Appa.

"Musnahkan yang bernama Kim Taehyung, bagaimanapun caranya"

"Apa ini yang dimaksudkan Baekhyun" tanyaku pada diriku sendiri.

"Ternyata ini alasannya ?Appaku sendiri..." Tubuhku seketika bergetar mendadak memikirkan Taehyung.

*bruukkk

Belanjaku jatuh begitu saja dari genggamanku.

"Siapa itu ?" tanya Appa dari dalam.

Aku segera membereskan bahan-bahan yang jatuh berserakan di lantai.

"Jin, apa yang kau lakukan disini ?"

"Appa...jelaskan semua perkataan appa tadi. Katakan apa hubungan appa dengan keluarga Kim Taehyung!" ucapku dengan nada keras.

"Katakan padaku appa, apa semua ini ada hubungannya dengan kematian kedua orang tua Taehyung. Jelaskan padaku APPA!"

-TBC-

Fiuh akhirnya chapter 5b siap dipublish..happy reading and please give review. It's very needed for this next chapter. Dont be silend reader puhlease. Pokoknya unny ga bakal publish next chap kalo yang silent reader banyak banget. Kan kasihan Sarah ;_;