Panas. Itu yang dirasakan Sakura setelah sekian lama berjalan tanpa tahu arah. Gadis itu menengadahkan kepalanya dan mengangkat tangannya untuk menghalangi cahaya terik yang menyilaukan matanya. Langit begitu cerah di atas sana. Tidak ada awan. Hanya matahari yang bersinar dengan ganasnya. Betapa panasnya musim panas tahun ini.

'Efek pemanasan global,' pikir Sakura. Entah berapa derajat Fahrenheit saat itu, yang jelas cukup membuat efek fatamorgana di jalan tak berujung di hadapannya ditambah mata yang mulai berkunang-kunang. Sakura meraih iPhone-nya dari saku summer dress merah tuanya dan mencari nama orang tujuannya.

"Ya?" respon orang di seberang sana.

"Hinataaa! Rumahmu di sebelah mana, he?" seru Sakura.

"Memang kamu sedang berada di mana, Sakura?"

Manik zamrudnya memindai pemandangan di sekitarnya. Hanya ada rumah, rumah, dan rumah. Oke, ini komplek perumahan. Jelas saja hanya ada bangunan dengan berbagai macam bentuk yang digunakan untuk tempat lama sekali ia tidak berkunjung ke kompleks Hyuuga dan ingatan fotografisnya sudah agak tumpul. Ia menemukan sebuah tiang bertuliskan nama jalan tempat ia berdiri. Jalan Suzaku. "Tulisannya sih jalan Suzaku," jawab Sakura.

"Jalan Suzaku? Apakah itu masih di Konoha?"

Sakura sweatdropped. Dirinya sendiri juga ingin tahu di mana ia berada saat ini. Yang ia tahu hanyalah ia masih berada di Bumi, benua Asia, negara Jepang, kota Tokyo, prefektur Konoha. Ternyata sense of direction sahabatnya itu lebih parah daripada yang ia kira.

"Sakura, Sasukesudah tiba di rumahku. Kau masih di jalan Suzaku itu?" tanya Hinata.

"Iyaaa. Aku tidak tahu ini di sebelah—"

Klik.

"—mana."

Telepon pun terputus tanpa sebab. Sakura merutuki operator jaringannya karena seenaknya memutuskan hubungan telepon yang menyangkut hidup matinya di bawah matahari terik musim panas dan di tempat yang ia tidak ketahui sama sekali. Kami-sama. Ini. Benar. Benar. Panas.

.

.

.

Bring Me Down © Aika Umezawa

.

.

Standard Disclaimers Applied

.

.

Warning:

Alternate Universe, Out of Characters (perhaps)

.

.

.

Chapter7

.

Love and Truth

.

.

.

"Bagus sekali. Benar-benar bagus," gerutuku. Kalau saja tadi aku tidak terpengaruh oleh kata-kata Hinata, aku tidak akan terjebak dalam situasi hidup-dan-mati seperti ini. Di tengah terik matahari, tanpa pelindung kepala seperti topi, rasanya aku mau mati saja. Salahkan diriku yang begitu mudah terpengaruh oleh sebuah nama dalam telepon.

.

.

.

Satu jam yang lalu...

"Ke rumahmu? Untuk apa?" Aku bersantai di sebuah sofa ruang keluarga, dengan air conditioner yang menyejukkan ruangan, dan es serut di atas meja. Tanganku tidak henti-hentinya mengganti channel TV yang tidak memiliki acara yang menarik siang ini. Benar-benar membosankan.

Ibuku entah pergi ke mana sedangkan Obaa-sama berkunjung ke makam Ojii-sama. Satu orang lainnya, kakakku yang tampan itu sibuk bermain dengan teman-teman kuliahnya. Aku heran, sudah dewasa masih saja senang main air seperti anak kecil. Kudengar mereka ke sebuah waterpark yang baru dibuka di prefektur entah-apa-namanya-aku-lupa. Curang sekali dia.

"Main. Aku bosan sendirian di rumah. Neji-nii sibuk dengan urusannya sendiri, tidak keluar kamar dari tadi," ujar Hinata dari seberang telepon.

Aku menghela napas. "Aku juga bosan. Tapi aku tidak mau keluar dari rumah dalam matahari terik seperti ini. Kecuali kau ingin aku pingsan dalam perjalanan ke rumahmu."

Ya, itu benar. Aku tidak suka sinar matahari musim panas yang begitu menyengat. Tahun lalu aku nyaris pingsan di tengah jalan pulang kalau saja Sasori-nii tidak muncul dengan mobilnya.

"Ada Sasuke, lhooo," rayu Hinata dengan nada menggoda.

"Hah?" responku.

"Sasuke dalam perjalanan ke rumahku. Apa kau tidak mau ikut bergabung di sini? Pasti seru."

Tanpa pikir panjang—tepatnya, tidak berpikir sama sekali—, aku melompat dari sofa yang kupakai bersantai dan berteriak, "IKUT!" lalu segera berlari menuju kamar.

.

.

.

Ugh, entah kenapa aku sedikit menyesali mengenai jawabanku tadi. Hinata benar-benar pintar menggunakan nama Sasuke untuk memancingku sampai-sampai aku lupa bahwa suhu udara di luar sepanas ini. Yaa, intinya cukup panas untuk berjalan-jalan di bawah terik matahari tanpa pelindung kepala. Ditambah lagi, ini sudah setengah jam lebih. Kakiku sudah mulai melemas karena terus-terusan berjalan tanpa tentu arah. Hell, dan matahari terik musim panas ini malah memperburuk keadaanku. Yeah, salahkan diriku yang lemah pada sinar matahari yang keterlaluan panasnya sehingga membuatku pusing seperti ini. Ugh, aku lupa membawa topiku pula. Cih. What a worse day.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu pada saku dress-ku bergetar. Ternyata ponselku. Melihat nama yang tertera di layar, sepertinya masih ada harapan untukku tiba di komplek Hyuuga.

"Sakura, di mana kau?"

.

.

.

"Sakura, di mana kau?" Suara baritone yang sangat dikenalinya itu terdengar dari speaker ponselnya. Rasa lega menjalari tubuhnya.

"Sasuke..." respon Sakura.

"Sekarang kau di mana?" tanya Sasuke.

Sakura membalikkan tubuhnya, melihat tempat asing di sekelilingnya. Rumah-rumah yang berdiri kokoh dengan padat dan saling menempel satu sama lain itu terlihat sunyi. Hanya kerikan tonggeret yang terdengar bersahut-sahutan satu sama lain. Sepertinya orang-orang memutuskan untuk tidak keluar dari rumah mereka di cuaca se-ekstrem ini. Sakura benar-benar merasa sebagai orang yang paling bodoh karena berdiri di tengah-tengah jalan yang besar dan sepi di bawah terik matahari. Di sudut jalan tepat sebelum tikungan terdapat sebuah tiang penunjuk jalan.

Jalan Genbu.

Die. Ini dimana? batinnya.

"Sak? Sakura? Kau di mana?"

"Eh? Iya, Sas. Aku di—err, Jalan Genbu," jawab Sakura takut-takut. Ia bisa membayangkan wajah Sasuke yang datar itu sambil menaikkan alisnya. Suara bising terdengar dari tempat Sasuke, entah apa yang ia lakukan.

"Coba kembali ke Jalan Suzaku tadi. Berdirilah di tempat yang teduh dan tidak jauh dari situ. Aku akan menjemputmu," perintah Sasuke.

"Hah? Oke," respon Sakura.

"Jangan kemana-mana," kata Sasuke sebelum nada putus menggantikan suara pemuda itu.

'Kebiasaan! Memutuskan telepon begitu saja!' rutuk Sakura. Walau misuh-misuh sendiri, gadis itu menuruti 'perintah' tuan muda Uchiha yang dideklarasikan tadi dan setengah berlari menuju jalan Suzaku tadi. Untunglah, ingatannya masih agak waras walau kepalanya terasa pening dan mengganggu konsentrasinya. Setelah 10 menit, ia baru tiba di tempat laknat yang menjadi sumber masalahnya. Sakura berdiri di bawah pohon willow yang rindang, bersandar pada batang pohon dan memejamkan matanya sejenak. Dihirupnya oksigen hasil fotosintesis pohon di belakangnya, perlahan-lahan membuat pandangannya yang tadi kabur mulai jernih kembali. Sepertinya ia juga kurang oksigen setelah keputusannya untuk berlari agar tiba di Jalan Suzaku itu lebih cepat.

Ia memfokuskan pandangannya pada jalan tak berujung di depannya, kalau-kalau ia melihat sosok yang dikenalinya. Tidak sampai 10 menit, sebuah sosok di kejauhan terlihat sedang berlari mendekatinya. Ia tidak bisa melihat dengan jelas karena efek fatamorgana yang mengganggu situasi. Ia picingkan matanya dan saat itulah ia yakin siapa orang yang berlari itu. Sasuke.

Uchiha bungsu itu berlari-lari di tengah panas terik sambil meneriakkan namanya. Sakura bangkit dari posisi setengah bersandarnya dan setengah berlari menghampiri pemuda itu.

Sasuke menghentikan langkahnya dan berdiri di tengah jalan. Wajahnya penuh dengan peluh yang mengalir dari dahinya. Napasnya sedikit memburu. Tangannya memberi tanda untuk mengikutinya.

"Sasuke, maaf ya..."gumam Sakura pelan. 'Bagus sekali, Haruno. Kau membuatnya seperti ini.'

"Hn. Kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke. Jelas ia tahu Sakura pasti apa-apa. Wajahnya terlihat pucat, tidak secerah biasanya. Dapat dipastikan juga bahwa gadis itu pasti akan berkata 'tidak apa-apa' seperti biasa.

"Iya. Kau sendiri?"

"Hn, tak apa. Kau duluan saja dengan Hinata. Aku akan menyusul," kata Sasuke.

Sakura melihat sosok sahabatnya yang berada beberapa meter dari mereka dengan rambut indigo panjang dan manik lavender yang khas. Senyum tipis tersungging di wajah cantiknya. Putri Hyuuga itu menghampiri mereka berdua dan memegang siku Sakura.

"Ayo, Sakura. Wajahmu pucat sekali," ujar gadis itu lembut.

"Tapi Sasuke—"

"Dia tidak apa-apa. Nanti juga menyusul, kok," Hinata menenangkan. "Ayo."

Nona Haruno itu ingin mengeluarkan bantahan selanjutnya, namun diurungkannya setelah Sasuke memberikan tatapan agar tidak usah khawatir dengan dirinya. Dengan ragu-ragu, Sakura mengikuti langkah Hinata yang masih memegang sikunya. Diliriknya Sasuke dari balik bahunya. Pemuda itu sedang duduk sembari bersandar pada pohon willow tempatnya berteduh tadi dengan kepala tertunduk, berusaha mengatur napasnya. Sadar bahwa ada seorang gadisyang menatapnya cemas dari kejauhan, kedua sudut bibir pemuda itu tertarik membentuk sebuah senyum tipis yang jarang diperlihatkannya.

.

.

.

"Begitu dia tiba di rumahku dan tahu bahwa kamu tersesat, dia langsung berlari mencarimu. Padahal dia belum duduk sebentar atau sekedar menaruh tasnya," ujar Hinata tersenyum, "aku belum pernah melihat Sasuke sepanik itu."

Sakura tidak benar-benar memperhatikan kalimat Hinata. Sesekali matanya melirik ke belakang dari bahunya, memastikan bahwa Sasuke masih di belakangnya, walau jarak mereka lumayan jauh.

"Tenang, Sakura. Dia akan baik-baik saja," kata Hinata tiba-tiba.

Sakura tersentak kaget. "Eh? Umm..." gumam gadis itu salah tingkah. Dirinya tidak menyangka kalau Hinata akan mendapatinya melirik Sasuke diam-diam.

Senyum manis merekah di wajah gadis berambut indigo itu. "Well, mungkin sense-ku tidak sepeka dirimu. Tapi kalau sudah menyangkut kau dan orang itu," lirik Hinata dari sudut matanya, "aku cukup tahu."

"Jelas saja kau tahu. Aku 'kan memang selalu bercerita padamu kalau mengenai orang itu," sahut Sakura sambil memutar bola matanya.

Hinata tertawa kecil. "Hahaha. Tapi jujur saja, aku agak takut dengan intuisimu yang sangat tajam itu. Kau seperti cenayang saja, Sakura-chan."

"Tapi semua kata-kataku benar, 'kan? Aku memang jenius," canda Sakura narsis sembari terkekeh pelan.

.

.

.

Obrolan mereka sepanjang jalan telah membawa kedua gadis remaja itu tiba di depan gerbang kompleks Hyuuga, tepatnya kediaman tempat Hinata tinggal. Tidak jauh berbeda dengan kediaman Haruno, kompleks Hyuuga dibangun dengan gaya arsitektur Jepang klasik. Pintu geser yang terbuat dari kayu bangunan terbaik, ruangan beralaskan tatami, dan lantai kayu. Simbol keluarga Hyuuga terpampang dengan jelas di gerbang masuk. Di sisi kiri dan kanan dalam gerbang, terdapat tiang lilin dari batu yang akan dinyalakan setiap malam. Seperti rumah tradisional pada umumnya, di taman belakang rumah terdapat kaiyu-shiki dengan danau besar berair jernih. Gemercik air dari bilah-bilah bambu sesekali terdengar.

Hinata membawa Sakura ke ruang tamu dan meninggalkannya sebentar.

"Mau kubawakan obat, Sakura-chan?" tanya Hinata, menaruh nampan dengan dua gelas berisi air putih di atasnya sekembalinya dari dapur.

Sakura menggeleng pelan dan tersenyum simpul. "Tidak usah, aku akan baik-baik saja."

Tidak lama, Sasuke tiba dan berkumpul di ruang tamu bersama Sakura dan Hinata. Ia bersandar pada dinding di belakangnya dan meminum sedikit air putih dari gelas yang disiapkan Hinata. Mungkin karena ia agak tergesa-gesa meminumnya, pemuda itu tersedak hingga terbatuk-batuk. Diambilnya gelas dari tangan Sasuke oleh Sakura dan menepuk pelan punggungnya.

"Kau tidak apa-apa, Sasuke?" tanya Sakura cemas. Ia merogoh sesuatu dari saku bajunya dan mengeluarkan sapu tangan putih dengan sulaman bunga sakura dari benang merah di sudut kiri bawah. Tangannya mengelap perlahan dahi Sasuke yang penuh dengan keringat setelah berlarian tadi, membuat sepasang onyx di hadapannya sedikit melebar melihat apa yang dilakukan Sakura padanya.

Sadar dengan apa yang sedang dilakukan olehnya, rona merah menjalar dengan cepat pada kedua pipi Sakura dan membuat gadis itu mengambil jarak dari Sasuke sambil berdehem pelan.

"Maaf. Ini, kau lakukan sendiri," Sakura menyerahkan sapu tangannya pada Sasuke tanpa berani menatap pemuda itu. Sasuke mengambil kain berbentuk persegi itu dan mengelap keringat di sekitar pelipisnya.

Di sisi lain, Hinata tersenyum melihat keduanya dan menahan tawanya dengan punggung tangannya. Ia sedikit memiringkan kepalanya dan berkata, "Coba kau buatkan teh untuknya, Sakura."

Spontan gadis berambut merah muda itu menoleh pada sahabatnya. Senyum manis merekah di bibirnya dengan ekspresi tak terbaca seperti biasa. Sakura mengerang pelan begitu sadar maksud dari putri sulung Hyuuga Hiashi itu.

"Kenapa aku? Kau tuan rumah di sini," elak Sakura.

"Memang. Tapi soal teh, kau jauh lebih ahli dariku. Kau tahu pasti apa yang cocok untuk orang yang sedang terpuruk di sudut sana," sahut Hinata tanpa menghiraukan tatapan tajam dari Sasuke saat ia mengucapkan beberapa kata terakhir.

Sakura yang sedang malas berdebat karena energinya sudah habis di luar tadi saat perjalanan menuju kediaman Hyuuga, akhirnya beranjak menuju dapur untuk membuat teh.

Memastikan bahwa Sakura sudah benar-benar berada di dapur dan tidak dalam jarak pembicaraan, Hinata memandang Sasuke yang sedang menunduk, berusaha mengatur napasnya.

"Maukah kau memberitahuku apa yang sedang membuatmu kalut, Sasuke?" Pertanyaan Hinata membuat pemuda yang duduk di hadapannya mengangkat kepala untuk menatap sepasang kolam mutiara milik sang gadis. Tanpa kata-kata, sorot matanya sudah cukup menjelaskan bahwa ia meminta penjelasan untuk pertanyaan gadis itu.

"Don't play dumb with me. Untuk kesekian kalinya, kau menahan dirimu sambil menyembunyikan suatu masalah. Sepertinya masalah yang cukup besar hingga membuatmu terlihat kusut saat ini," jelas Hinata.

Sasuke mendengus pelan. "Kali ini banyak sekali yang kau katakan. Biasanya kau hanya akan bicara seperlunya dengan nada yang pelan. Sekarang kau mengatakannya dengan lantang, ya," balas pemuda itu.

"Seseorang dari keluarga Haruno mengajarkanku untuk bersikap lebih tegas dan tegar dalam menghadapi orang," ucap Hinata yakin.

Si bungsu Uchiha tahu benar siapa orang yang dimaksud oleh Hinata. Senyum miris terpatri di wajahnya. Kedua matanya menatap nanar pada lantai di bawahnya. "Dia juga mengajarkanku banyak hal," bisik Sasuke sangat pelan.

Hinata yang tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Sasuke barusan hanya menaikkan alisnya. "Tadi kau bicara apa? Aku tidak dengar."

"Bukan apa-apa," elak Sasuke. "Hn, setiap orang pasti memiliki suatu hal yang bersifat pribadi. Aku bisa menyelesaikan ini."

"Tapi—"

"Hn, sudahlah. Tidak perlu cemas. Aku tidak apa-apa. Lebih baik khawatirkan Sakura yang kau minta untuk membuat teh padahal keadaannya masih di antara nyata dan maya karena tadi," potong Sasuke.

"Aku sudah sadar dengan sangat jelas, Uchiha," desis Sakura yang muncul dengan nampan berisi sebuah poci keramik dan tiga gelas dari bahan yang sama berisi teh. Aroma mawar merasuki indera penciuman ketiga remaja itu bagaikan aromaterapi dari kepulan uap masing-masing gelas. Ia meletakkan nampan itu di atas tatami dan memberikan gelas-gelas tersebut pada Sasuke dan Hinata. "Rose ginger ale. Favoritku. Cobalah."

.

.

.

"Begitu, ya... baiklah, aku akan ke sana." Sasuke memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dan mengerang pelan sambil melemparkan kepalanya ke punggung sofa dengan tangan kanan yang menutupi kedua matanya. "Tadi menyuruhku untuk pulang telat, sekarang tiba-tiba menelepon dan meminta untuk segera pulang..."

"Sebaiknya kau pulang saja, Sasuke. Cari aman. Mungkin ibumu mau mengatakan sesuatu atau meminta bantuanmu," ujar Sakura. Lalu melanjutkan cepat begitu pemuda itu memberinya tatapan yang seolah-olah bertanya 'bagaimana dengan kau?', "aku bisa pulang sendiri seperti biasa. Lebih baik kau cepat sebelum ada apa-apa."

Mendengar jawaban Sakura, pemuda Uchiha itu bangkit dari posisinya dan segera mengambil tasnya. Ia memakai sepatunya dan berbalik menghadap kedua gadis yang mengantarnya sampai depan gerbang.

"Bagaimana dengan ini, Sas?" tanya Hinata sambil memegang hoodie biru tua yang pernah dikenakan Sakura saat di Kyoto beberapa bulan lalu. Sakura melirik benda itu dari sudut matanya dan beralih pada Sasuke.

"Buatmu saja. Aku tidak butuh itu," gumam Sasuke acuh.

Manik tak berpupil Hinata melebar mendengarnya. "Eh? Tapi—"

"Maaf aku duluan, Sakura. Hati-hati pulangnya," potong Sasuke.

"Ya, kau juga hati-hati, Sasuke," kata Sakura yang dibalas dengan anggukan kecil dari sang pemuda. Gadis itu memperhatikan Sasuke yang perlahan menjauh dan menghilang di balik tikungan.

"Bagaimana dengan ini..." gumam Hinata pelan sambil merentangkan jaket itu. Ia terlihat bingung ingin diapakan benda yang berada di tangannya kini.

"Simpan saja," usul Sakura.

Hinata menggeleng. "Tidak mau. Senin nanti akan kukembalikan," ucapnya. "Entah kenapa aku tidak mau menyimpan ini."

Sakura mengangkat sebelah alisnya, meminta penjelasan dari kata-kata Hinata barusan. "Maksudku, ini jaket yang pernah kau pakai. Memangnya kau tidak merasakan apapun kalau jaket yang penuh kenangan ini berada di tangan gadis lain?"

Kali ini giliran Sakura yang menggeleng. Tapi langsung dibantah oleh Hinata. "Tidak mungkin. Aku terlalu tahu dirimu."

"Kalau sudah tahu, kenapa bertanya?"

Hinata sudah tidak menemukan kata-kata lagi untuk membalas kalimat sahabatnya itu. Sakura benar-benar pintar membuat orang terpojok dan tidak bisa berkata-kata.

"Uh. Oke. Terserah. Ayo masuk. Aku punya beberapa donat yang bisa kita habiskan berdua," ajak Hinata untuk mengalihkan pembicaraan.

Sakura hanya menyeringai kecil—sebuah kebiasaan yang diambilnya dari Sasuke setelah sering bersama-sama dengan pemuda Uchiha yang baru saja pulang itu—dan mengikuti Hinata kembali ke dalam rumah.

.

.

.

"Bolehkah aku bertanya, Sakura?"

"Apa?" Nona Haruno itu tidak mengalihkan pandangannya dari pemandangan di sekitarnya yang begitu menyejukkan. Hinata mengantarkannya pulang sampai depan komplek melalui jalur yang berbeda saat Sakura datang. Jalan ini dipenuhi jejeran pohon aspen yang menjulang tinggi, tumbuh di kedua sisi jalan dan menimbulkan kesan sejuk di sore hari.

Hinata menarik napas dan menggigit bibirnya gugup, namun hal itu luput dari Sakura yang masih sibuk dengan kegiatannya sendiri. "Kalau apa yang kau pikir selama ini tentangku dan Sasuke itu benar, apa yang akan kau lakukan?"

Sakura menghentikan langkahnya sejenak sebelum kembali meneruskannya. Ia menatap jalan di bawahnya lalu mengangkat kepalanya, menatap langit sore tak berawan di atas sana. "Tentunya aku akan sedih. Mungkin sampai menangis," jawab Sakura sambil tersenyum hambar.

Kekalutan mulai menyapu wajah Hinata. Sepasang kolam mutiaranya sedikit melebar, terkejut mendengar jawaban Sakura. Ia menatap sahabatnya yang terfokus pada jalan di bawahnya, masih dengan senyum tipis yang terlihat dipaksakan.

"Saku—"

"Tapi aku lebih suka mengetahui kenyataan yang paling pahit sekalipun daripada fakta yang disembunyikan dariku, apapun alasannya. Aku suka orang yang jujur dan terbuka," lanjut Sakura tanpa tahu bahwa ia baru saja memotong perkataan Hinata yang memanggil namanya. "Kalaupun itu benar, awalnya saja aku akan menangis, tapi aku akan mencoba bangkit untuk kembali menguasai diriku dan mencari kebahagiaan yang baru. Kalau memang Sasuke bukan untukku," gadis itu menghembuskan napas pelan, "aku akan mencoba untuk menerima keadaan itu. Cinta tidak bisa dipaksakan, bukan? Dan aku akan merasa sangat lega, karena orang yang dipilihnya adalah kau, orang yang bisa kupercaya untuk membuatnya bahagia. Yah, mungkin terdengar klise, tapi itu jawabanku," Sakura tersenyum tulus pada sahabatnya yang tidak menemukan kata-kata untuk membalasnya.

Ia tidak tega menghapus senyum itu dengan air mata dan raut wajah penuh kesedihan yang terpahat di wajah cantik sahabatnya.

"Sekarang, maukah kau jujur padaku? Aku tahu ada yang kau sembunyikan dariku, dan bisa kupastikan alasannya adalah karena kau tidak ingin membuatku bersedih. Bukan begitu?"

Baiklah, kata-kata Sakura barusan benar-benar tepat sasaran sampai-sampai membuat Hinata semakin pucat. Melihat Hinata yang masih tidak bisa berkata-kata, Sakura kembali memandangi pepohonan di sekitarnya. Ia merasakan firasat buruk setelah ini.

"Kau tahu... hal yang paling kutakutkan darimu adalah ini. Firasatmu yang sangat tajam dan benar-benar tepat sasaran seolah-olah kau bisa membaca pikiranku," akhirnya Hinata memberanikan diri untuk membuka suara walau hampir menyerupai bisikan. Namun itu masih bisa terdengar oleh Sakura karena keadaan sepanjang jalan yang begitu sepi, hanya suara lonceng sepeda dari anak-anak yang bermain dan menikmati indahnya sore.

"Aku tahu bahwa aku tidak bisa selamanya menyembunyikan ini darimu, karena suatu saat nanti pasti akan datang hari di mana kau harus mengetahui ini. Benar-benar sesak, menyimpan ini darimu. Kuharap kau mau memaafkanku setelah ini dan masih berteman denganku," Hinata menghembuskan napasnya perlahan sebelum melanjutkan kalimatnya.

"Sakura, Sasuke memang pernah menyatakan rasa sukanya padaku dan bersedia untuk menunggu sampai aku bisa memberinya jawaban."

.

.

.

"Sakura, Sasuke memang pernah menyatakan rasa sukanya padaku dan bersedia untuk menunggu sampai aku bisa memberinya jawaban," kata-kata Hinata mengalir begitu saja mengisi pikiranku.

Ternyata benar tentang apa yang kupikirkan selama ini dan menjadi hal yang paling tidak kuinginkan di dunia ini. Kalau kalian bertanya apakah aku syok mendengar hal ini, tentu saja demikian. Aku sangat berharap kalau ini hanya firasat burukku belaka yang tidak akan menjadi kenyataan. Ternyata yang terjadi malah sebaliknya.

Kata-kata dari Hinata mengkonfirmasikan semuanya. Ya, semua sudah jelas. Sasuke menyukai Hinata. Great. Seharusnya aku percaya intuisiku lebih dulu agar siap menghadapi semua ini. Bagaimanapun, yang disukai oleh Sasuke adalah sahabat baikku sendiri, tempat di mana aku menceritakan semua yang kurasakan terhadap Sasuke. Dilihat juga tahu, dari cara memandang Hinata, sikapnya pada gadis itu selama ini telah menjadi bukti jelas walau belum pasti.

Aku menghela napas. Senyum hambar terpatri di bibirku. Dramatis.

Aku tidak tahu apakah Hinata memperhatikan keadaanku sekarang, tapi yang jelas satu hal yang kuinginkan sekarang adalah mengeluarkan semua rasa sakit yang menusuk-nusuk batinku.

"Saat itu dia memang sedang berkunjung ke rumahku. Ia mengatakannya ketika aku mengantarnya sampai ke depan gerbang," ucap Hinata pelan.

"Aku kaget, tentu saja. Satu hal yang ia minta saat itu bukanlah jawaban, melainkan permintaan agar aku tidak menjauhinya setelah ini dan tetap bersikap seperti biasa," Hinata menarik napas sebentar, kemudian melanjutkan, "Jujur saja, aku takut sekali saat kau tiba-tiba menyatakan pendapatmu bahwa Sasuke menyukaiku. Kau tidak bisa membayangkan betapa paniknya diriku saat itu. Tadinya aku tidak ingin menceritakan hal ini padamu, takut kalau itu hanya akan membuatmu sedih. Tapi kalau aku tidak melakukannya, mungkin akan lebih parah dari ini dan aku akan merasa jahat sekali padamu. Maaf, Sakura."

Aku menghela napas. "Kau tidak perlu minta maaf. Tidak ada yang salah darimu," jawabku. "Lebih baik aku mendengarnya sekarang daripada tidak sama sekali."

"Inilah alasan utama kenapa aku tidak mau menceritakan ini padamu," ujar Hinata tiba-tiba.

Aku menoleh ke sisi kiriku, berlawanan dengan posisi di mana Hinata berjalan. Aku menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Oke, keadaan ini membuatku sangat tidak tenang. Mungkin aku memang bisa bertahan selama ini melihat 'kemesraan' Hinata dan Sasuke, tapi entah bagaimana hari ini tembok emosionalku runtuh begitu saja.

"Apa?" tanyaku sambil tetap tidak menatap Hinata.

"Kenapa kau tidak mau menatap mataku?" balas Hinata. Aku tahu ia sedang menatapku dengan kedua iris lavender miliknya.

"Tidak kenapa-kenapa," elakku.

"Tidak mungkin. Kau selalu menatap lawan bicaramu setiap kali berbicara," sanggah Hinata. Tangannya menghentikan langkahku segera dan membuatku tepat berdiri di hadapannya dengan wajah yang masih kupalingkan ke arah lain.

"Aku sudah bilang 'kan tadi bahwa aku akan menangis saat mendengar hal ini? Aku hanya tidak ingin kau melihatku seperti ini."

Aku tahan tidak menangis saat ayahku tidak pulang selama 2 tahun lebih.

Aku tahan tidak menangis saat keadaan mengharuskanku untuk pindah sekolah saat SD dan membuatku tidak bisa bertemu dengan teman-temanku.

Aku tahan tidak menangis saat Ojii-sama meninggal dunia, walau malamnya aku tidak berhenti menangis sampai pagi.

Tapi kali ini tidak.

Kelenjar mataku begitu lemah saat ini, mengkhianati keinginan hatiku untuk tidak menumpahkan setetes pun air mata di hadapan sahabatku ini. Tepatnya, tidak menunjukkan sisi lemahku yang tidak pernah kutunjukkan pada orang lain selain kakakku.

Aku tidak mendengarkan kalimat Hinata selanjutnya karena pikiranku sudah benar-benar seperti benang kusut yang tidak bisa direntangkan lagi. Satu per satu bulir air mata perlahan membasahi pipiku. Hinata memeluk tubuhku yang mulai gemetar menahan tangis yang semakin menjadi-jadi. Berulang kali ia membisikkan kata 'maaf' padaku dengan suara yang bergetar menahan tangis.

Kami-sama benar-benar sedang bermain-main denganku. Di saat aku menyadari perasaanku terhadap Sasuke, aku dihadapkan pada kenyataan bahwa orang yang kusukai menyukai orang lain, yang tak lain adalah sahabatku sendiri. Hebat sekali. Ini benar-benar seperti drama televisi yang akan berakhir dengan menyedihkan.

.

.

.

Sejak pulang dari kediaman Hyuuga kemarin, nona muda Haruno itu terus mengurung dirinya dalam kamar. Lampu kamarnya selalu dimatikan, membuat orang-orang rumahnya khawatir akan keadaan dirinya. Sasori yang mengerti sekali sifat adiknya itu tanpa ragu-ragu menggeser pintu kamar adiknya yang tak terkunci. Mata hazelnya menatap sesosok gadis dengan rambut merah mudanya yang khas sepinggang sedang menyandarkan kepalanya pada tiang kayu yang berdiri kokoh di koridor luar yang menghadap kaiyu-shiki. Kedua telinganya tersumpal oleh earphone dengan nada-nada yang berdentum dengan kerasnya, membuatnya tidak menyadari kedatangan tidak diundang kakaknya. Matanya terpejam, menghalangi dunia untuk melihat iris zamrudnya yang indah berkilau.

Pemuda berambut merah bata yang tadinya hanya berdiri di depan pintu kamar kini telah beranjak mendekati adiknya. Ditepuknya pelan sang adik, membuat pemilik nama Sakura itu membuka kedua matanya dan menatap orang yang mengusik ketenangannya.

"Nii-san, ada apa?" tanya Sakura sembari melepas earphone dari kedua telinganya.

"Ganti bajumu. Kita jalan-jalan," perintah Sasori. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu sang adik bangkit dari duduknya.

Ekspresi kebingungan terpatri jelas di wajah cantik sang gadis. "Hah? Kemana?" tanyanya.

"Ikut saja. Aku ada janji dengan temanku," kata Sasori.

"Yang punya janji 'kan Nii-san. Kenapa aku harus ikut?" protes Sakura.

"Aku tidak tahan melihat wajah kusutmu yang minta diluruskan dengan pelurus rambut itu," jawab Sasori sekenanya. "Cepat. 15 menit sudah harus selesai."

"HAH?"

.

.

.

"Hei, Sasori! Sini, sini!"

Seorang gadis cantik dengan rambut biru gelap pendeknya tersenyum riang sambil melambaikan sebelah tangannya di udara kepada dua sosok yang berjalan mendekati meja tempat gadis itu dan beberapa orang lainnya duduk. Pemuda baby face berambut merah yang sedikit acak-acakanhanya menunjukkan sebuah cengiran tipis. Ia menggandeng tangan gadis yang berjalan di sebelahnya, menuntun untuk mengikutinya.

Keduanya menjadi pusat perhatian mengingat betapa cocok mereka, tanpa mengetahui kalau pemuda itu dan sang gadis adalah sepasang kakak-adik. Sasori yang hanya mengenakan kaus Polo merah dan black jeans, cukup membuat wajah para gadis merona karenanya. Beda dengan Sakura yang mengenakan tank-top kuning gading bertali emas, dengan luaran berwarna hitam bermodel kerah sabrina yang melingkari bahunya dengan lengan baju sampai siku yang dimodifikasi dengan celah di bagian lengan atas. Ditambah mini denims dan gelang manik warna emas, penampilannya cukup trendi apalagi musim panas seperti ini. Gadis mana yang tidak iri kalau bisa jalan berdua dengan pemuda seperti Sasori, atau, memiliki kakak sepertinya? Sakura cukup beruntung dengan hal itu karena ada sesuatu yang bisa dibanggakannya.

Sepasang manik zamrud milik gadis itu sedikit melebar saat melihat salah satu teman kakaknya itu. Mirip sekali dengan orang yang dekat dengannya selama ini. Oh, mungkin status itu sudah berganti menjadi orang yang menjadi objek cinta bertepuk sebelah tangannya. Sasori menyamankan dirinya pada sofa panjang berlapiskan beludru merah di samping pemuda dengan dua garis panjang di bawah kedua mata obsidiannya, diikuti dengan Sakura yang duduk di sampingnya., berhadapan dengan Konan dan dua orang lainnya.

"Siapa gadis manis ini, Sasori?" tanya gadis cantik yang menyapa Sasori tadi. "Pacarmu?"

"Adikku," jawab Sasori. "Saku, ini Konan. Teman satu klubku di kampus. Primadona Universitas Konoha."

Sakura mengangguk pelan lalu tersenyum tipis dan menyebutkan namanya. Gadis berumur 20 tahun itu tertawa pelan mendengar pernyataan Sasori.

"Ada-ada saja kau, Sasori. Aku Konan, teman satu klub dan berada di fakultas yang sama dengan Sasori. Salam kenal, Sakura-chan," kata Konan. "Aa, kau manis sekali. Kalau orang tidak tahu kalian adalah kakak-adik, pasti mereka sudah mengira kalau gadis ini kekasihmu, Sasori."

Pemuda itu menyeringai dan merangkul bahu Sakura. Ia berkata, "Dia terlalu galak untuk menjadi pacarku. Kecil-kecil begini dia berisik sekali."

"A-ha-ha-ha-ha,"tawa Sakura sangat terpaksa sambil menyikut rusuk Sasori, yang kemudian mengerang sakit dan memberi sang adikdeath glare terbaiknya. Teman-teman pemuda itu tertawa melihat tingkah 'akur' kakak-adik ini.

Sasori merutuk pelan dan kembali mengenalkan teman-temannya. "Yang memakai piercing itu," jari telunjuknya mengarah pada seorang pemuda berambut jingga cerah yang duduk di sebelah Konan, "namanya Yahiko. Tapi kita biasa memanggilnya Pain. Dia pacar Konan."

"Di sebelah Pain, namanya Nagato. Dia teman baik Pain sejak SMP," Sakura menganggukkan kepalanya pada orang yang memiliki wajah tirus, sedikit terlihat kurus, "dan di sebelahku, Ketua Senat Universitas Konoha, Uchiha Itachi."

Mendengar marga dari orang yang mirip Sasuke itu, refleks Sakura langsung bertanya padanya, "Kakak siapanya Sasuke?"

"Hei, Nii-san. Barang yang kau cari tidak ada di mobil," sebuah suara muncul tiba-tiba dari balik punggung Sakura, membuat gadis itu langsung menoleh ke belakang. Matanya membulat sempurna saat mendapati Sasuke yang tidak kalah kagetnya dengan Sakura.

"Sasuke?" "Sakura?"

"Kenapa kau bisa di sini?" tanya keduanya yang—lagi-lagi—berbarengan, menarik perhatian dari kelima dewasa muda itu.

"Aku diajak kakakku," jawab Sakura, mengarahkan telunjuknya pada pemuda berambut merah yang menatap Sasuke dengan mata hazel-nya.

"Hn. Sama," sahut Sasuke sambil melirik Itachi dari sudut matanya.

Ternyata benar kata orang. Dunia ini sempit sekali.

.

.

.

Sakura menatap datar kelima orang mahasiswa tingkat akhir Universitas Konoha di sekitarnya. Dengan tangan kanan menopang dagu dan kedua bola mata yang berkali-kali berputar bosan, sangat jelas kalau nona Haruno itu bosan. Sangat bosan. Padahal alasan ia ikut kakaknya pada pertemuan dengan teman-temannya itu untuk mengusir rasa suntuk dan bosan, tapi hasilnya malah sebaliknya. Ia seperti sebuah patung di sudut jalan yang jarang ada kendaraan melewatinya.

Dari sudut matanya, Uchiha Sasuke memperhatikan gerak-gerik temannya itu. Tak dapat dipungkiri, ia juga merasa bosan dengan keadaan ini. Itachi menyeretnya begitu saja untuk ikut tanpa bisa pemuda itu menolaknya. Tiba-tiba saja begitu sadar, ia sudah terdampar di sini, bersama lima orang seumuran kakaknya yang entah membicarakan apa. Tentunya sesuatu yang kurang bisa dimengerti oleh anak SMA seperti dirinya—dan Sakura.

Ia menarik ponselnya, mengetikkan sesuatu sebelum dikirim kepada sebuah nama di kontaknya.

To: Haruno Sakura

Aku bosan. Mau ikut denganku?

Pemuda itu melihat gadis yang duduk dua kursi dari tempatnya menunduk ke bawah meja sambil memegang iPhone-nya dan menatap Sasuke dengan iris emerald miliknya. Gadis itu kembali menunduk, dan selang beberapa detik, ia kembali mengangkat kepalanya dan mengangguk kecil.

Sakura menepuk bahu Sasori dan membisikkan sesuatu di telinganya, yang dibalas oleh anggukan kecil dari pemuda itu. Ia bangkit dari tempatnya sambil melirik Sasuke yang juga melakukan hal yang sama dengannya.

"Mau kemana kau, Sasuke?" tanya Itachi.

"Jalan-jalan," jawab Sasuke singkat dan melengos pergi begitu saja dengan Sakura.

Tanpa disadari keduanya, kelima orang itu melihat Sasuke dan Sakura dengan pandangan bertanya-tanya, terutama Itachi dan Sasori.

"Apakah mereka seakrab itu?" tanya Itachi pada Sasori. "Aku tidak tahu kalau Sasuke bisa terlihat dekat dengan seorang gadis."

Sasori mengangkat bahu. "Mana kutahu. Sakura jarang bercerita tentang teman-temannya yang bergender laki-laki."

.

.

.

Entah Sakura harus sujud syukur karena keberuntungan yang diraihnya atau malah merutuk sial. Baru 24 jam setelah ia mendengar fakta dari Hinata tentang gadis Hyuuga itu dan Sasuke, ia sudah terjebak berdua dengan heartthrob Perguruan Konoha itu. Kata-kata Hinata cukup membuatnya syok, walau ia sudah mempersiapkan diri untuk mendengar hal seperti itu, mengingat ia memperkirakannya dengan hasil yang mutlak sama.

Uchiha Sasuke menyukai Hyuuga Hinata.

Uh. Mengingatnya membuat Sakura ingin cepat-cepat pulang dan kembali mengurung diri di dalam kamar. Tapi ia tidak bisa lakukan itu karena Sasuke pasti akan curiga dan memintanya untuk menceritakan segalanya. Lagipula, ia mengikuti pemuda itu karena tidak tahan dengan rasa bosan yang menyelimutinya tadi saat berkumpul dengan teman-teman kakaknya. Gadis itu terus berkecamuk dengan pikirannya sendiri, sampai-sampai tidak sadar bahwa Sasuke sudah memanggilnya berkali-kali.

Kedua tangan mendarat dan menepuk bahunya pelan diikuti suara sang Uchiha yang menyebutkan nama lengkapnya. "Haruno Sakura."

Si pemilik nama terkesiap lalu mengangkat kepalanya untuk bertatap muka dengan Sasuke yang sekepala lebih tinggi darinya. Ia menoleh ke kanan-kiri dan menyadari bahwa mereka berhenti di tengah-tengah hall Konoha Mall. Tidak lupa dengan para gadis dan dewasa muda yang cekikikan atau wajah yang merona setiap kali melewati mereka. Sakura memutar kedua bola matanya, pemandangan yang sudah tidak asing lagi setiap jalan dengan seorang Uchiha Sasuke.

Terlihat bahwa pemuda itu juga tidak menikmati sorot mata yang memuja dari makhluk-makhluk Tuhan bergender perempuan yang berkeliaran di sekitarnya. Sangat mengganggu, tetapi akan lebih mengganggu lagi kalau gadis yang berdiri di hadapannya mengacuhkannya karena sibuk dengan pikirannya sendiri. Karena itu ia menghentikan langkah gadis itu untuk membuatnya fokus dan sadar kalau ia tidak berjalan sendirian.

"Eh, Sasuke? Maaf, maaf. Aku tadi—"

"Memikirkan sesuatu," potong Sasuke yang disambut dengan kedua mata bercincin zamrud yang melebar kaget di hadapannya. "Kebiasaan. Untung kau jalan denganku. Kalau sendirian, mungkin kau sudah menabrak pilar."

Sakura membuka mulut lalu menutupnya kembali tanpa mengucapkan apapun. Tepatnya tidak menemukan kata-kata untuk diucapkan. Ia paling kesal kalau Sasuke sudah mengucapkan sesuatu yang tidak bisa dibantah olehnya karena itu memang benar.

Sasuke menepuk pelan pucuk kepala berlapiskan rambut halus berwarna merah muda milik sang gadis dengan tangannya lalu berkata, "Ayo kita ke café favoritmu." Lalu berjalan meninggalkan Sakura di belakangnya perlahan-lahan.

Sakura yang baru sadar kalau Sasuke sudah jauh di depannya berlari kecil untuk mengikuti langkah sang pemuda yang sudah berjarak tiga meter darinya. "Memangnya kau tahu tempatnya?" tanya Sakura ketika jarak keduanya semakin menipis dan kembali berjalan berdampingan.

Pemuda itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket Adidas hitamnya dan menoleh pada gadis di sampingnya. "Mungkin aku terlihat seperti orang yang tidak peduli, tapi aku ingat tempat favoritmu. Karena waktu kita terakhir ke sini, tanpa ragu kau mengucapkan tempatnya dengan mata yang berbinar-binar. Seperti anak kecil saja."

"Kalau yang kau ingat dariku cuma hal-hal yang negatif saja, lebih baik tidak usah diingat sekalian," sahut Sakura cepat, memajukan bibir bawahnya kesal.

Sasuke tertawa kecil. "Maaf, maaf. Kebetulan aku ingin bicara denganmu. Ayo."

.

.

.

.

.

To be continued

.

.

.

.

.

A/N:

Silakan sambit saya karena (lagi-lagi) telat meng-update cerita ini.

AAAAA udah lama ngga nulis, begitu ngetik langsung blank.

Somehow, tiap bulan jadi sering sakit dan begitu sembuh, jreng... masuk sekolah dan sibuk ini-itu.

Jadi, maaf kalau mengecewakan dan banyak yang nggak puas dengan chapter ini -.-a

Oh, OH! REVIEW TERBANYAK DI FIC INI! Chapter 6 kemarin buat saya deg-degan sekaligus senang! AAAA MERCI BEAUCOUP! ARIGATOU GOZAIMASU! DANKE! ({}) #hug #plak

Berhubung banyak yang nanya, jadi saya balesin satu-satu ._.

Review for chapter 6: Prediction and Intuition

Andaaza:

Thanks yaa! Semoga suka chapter ini :D

Choi Dong Hee:

Aa, iyaaa! Uh, maaf ya kalau chapter ini agak kurang :/

Thank youuu! :D

bebichan:

sippo! Ditunggu aja yaaa! Thank you! :D

4ntk4-ch4n:

sasu labil tuh #plak yaa, ada di chapter ini

karin kayanya muncul chapter depan. ehehehe

okaay, thanks! :DD

Red Roses:

Ah, saya baru di sini. Jangan panggil senpai :$

Cukup Aika saja :3

Sipsip, ini updatenya. Thanks yaaa!

Kazushi Kudo Hatake:

Maksud judul chapternya atau judul ficnya? ._.

Prediction and Intuition: jadi di chapter ini, Sakura udah mulai ngerasa kalau Sasuke (kayanya) suka Hinata, menurut bukti-bukti yang dilihatnya selama ini. Yaa anggaplah Sakura punya insting tajam, jadi dia bisa ngerasa kalau emang ada apa-apa antara Hinata dan Sasuke. And, this is it! Sekarang jelas

Bring Me Down: artinya 'make me unhappy'. Aku juga sebenernya agak nggak ngerti kenapa milih ini sebagai judulnya #plak

Jadi di fic ini, diceritakan gimana Sakura yang dibuat nggak bahagia karena cintanya bertepuk sebelah tangan. Karena kadang-kadang ganti POV, nanti muncul juga peristiwa-peristiwa yang membuat seseorang nggak bahagia. Entah Sasuke, Karin, atau Gaara. Jadi intinya, tentang ketidakbahagiaan (?)

Yang mutusin Karin, tapi yaa begitulah

Ehehehehe thanks ya reviewnya! :DD

uchiharuno phorepheerrrr:

aaa, saya senaaaang! Makasih, makasih!

Rahasia tentang Karin-Sasuke akan terkuak di chapter depan. nanti dijelaskan gimana mereka bisa kenal sampai akhirnya jadian hampir setaun gitu. Keep waiting ya ._.

Saya juga ngga tega bikin Saku melarat, tapi di balik semua itu, pasti ada kebahagiaan yang tersirat kan? Ehehehe

Sekali lagi makasih yaaa! :DDD

D kiroYoiD:

Pasti SasuSaku! Kan main pair-nya SasuSaku! :DDD

Iya, Sasuke naksir Hinata. Thanks yaaa!

Miki Hyuga:

Uh, aku juga lupa apa namanya. Dulu temenku pernah kena itu, tapi dia ngga mau ngasih tau -,-

Aaa, ini update-nya! Thanks yaaa!

Silverbulet:

Nah, satu pertanyaan terjawab kan sekarang :D

Tinggal nunggu konfirmasi dari Sasuke langsung gimana sekarang perasaannya ke Hinata, berubah atau nggak. Thanks! :D

Karumi Haruna:

Really? Thank youuu! Maaf ya kalau chapter ini ngga memuaskan :0

Untuk update ke depan, akan diusahakan secepat mungkin :D

Uchiha Kagamie:

Anggap saja Karin terlalu posesif sama Sasuke sampai-sampai dia nggak rela padahal udah putus #spoiler ahahaha thanks yaa! :)

agnes BigBang:

ini udah :) thanks, yaaa! :DD

Onime no Uchiha Hanabi-hime:

Umm di chapter ini baru dibuka ._. Tapi belum jelas kan Hinata suka apa ngga, ya begitulah -.-a

Antara Karin-Saku, liat nanti :3 #plak tapi pasti muncul kok karena aku juga nungguin bagian itu (lho?)

SasuSaku? Pasti ada! XDD tapi mungkin makin ke sini, Saku makin kasian #bah

Sip, makasih masukannya ya! Thank you!

Sichi:

K-kamu membaca pikiranku ya? :0

Aku emang niat begitu, udah dibuat script-nya malah. Persiiis sama yang kau bilang, ahahaha

Tinggal disesuaikan sama ceritanya aja, tunggu tanggal mainnya ya! Thank youuu :D

Skyzhe Kenzou:

Ahahaha iyaaa, ini udah di-update. Thank youuu! :DD

.

.

Mind to review, minna? :D