Di dalam dingin ia berdoa

"Oh Tuhan, adakah yang bisa kulakukan?"

Sembari melihat tubuh yang perlahan terbujur kaku

"Apapun akan kukorbankan untuknya."

Suara lirih itu terus terucap, tak memedulikan darah yang membasahi tangannya

Namun Tuhan mendengar doanya

Dan mengambil bayaran dari sang pendoa


.

.

.

New Pages

A Project K fanfiction by Meongaum!
Project K © GoRa & GoHand

For MikoRei day 7: Violet (white) – Let's Take a chance on Happiness

Warning: OOC

.

.

.


"Mikoto...? Eh apa? Untukku? T—tapi ini terlihat mahal... kau dapat uang dari mana? Menabung? Sejak kapan kau gajian—mou... jangan berkata seperti itu..."

"... tapi tak apa, terima kasih, aku tersanjung kau ingat kalau hari ini—"

Mikoto terbangun. Pelipisnya berkeringat hebat, napasnya tidak teratur. Kepalanya diserang sakit yang hebat. Ia lalu memejamkan mata sejenak.

Sinar matahari mulai menyusup malu-malu dari jendela kamarnya. Memberikan cahaya yang cukup untuk membantu Mikoto mengumpulkan nyawanya. Mikoto menatap langit-langit kamarnya. Mimpi apa tadi?

Pria itu hadir di mimpinya, tersenyum, menerima sebuah kotak lalu menyebutkan namanya. Senyum yang bagi Mikoto tak asing dan membawa kehangatan pada hatinya. Mikoto berusaha mengingat kembali pria dalam mimpinya. Ia hanya menemukan satu jawaban.

Mikoto yakin bahwa pria yang ada di mimpinya adalah seorang Munakata Reishi. Seseorang yang sampai sekarang tidak bisa Mikoto ingat dengan baik.

Semenjak koma yang berhasil dilewatinya, hanya nama Munakata Reishi yang mengundang sakit kepalanya. Bahkan rasanya tidak main-main. Seperti ditusuk oleh ribuan jarum lalu ditarik secara bergantian. Oleh sebabnya Mikoto tidak mau lagi mengingatnya. Namun rasa penasaran selalu muncul di hatinya jika terkait orang itu. Seperti ada sesuatu yang mengikat hatinya.

Tapi mimpinya tadi benar-benar mengusik dirinya. Ada sesuatu yang terjadi pada hari ini, pada awal musim gugur.

Mikoto menggelengkan kepalanya, ia lalu beranjak ke kamar mandi untuk cuci muka, gosok gigi, lalu mengganti baju dan mengambil celemeknya; bersiap untuk bekerja.


.


"Selamat pagi."

"Selamat pagi—wah, tumben kau sudah bangun, Mikoto?"

Mikoto tersenyum tanggung lalu melirik gadis yang sedang duduk di depan meja konter. "Selamat pagi, Anna."

"Selamat pagi, Mikoto." Sapa gadis kecil itu sembari tersenyum.

"Hari ini mau sarapan apa?"

"Roti dengan telur dadar dan bacon terus minumnya susu stroberi."

"Ah, apa kau tak keberatan untuk membuat sarapan untukku juga? Aku baru saja datang dan mengurus stok minuman yang ada."

"Tak masalah."

Mikoto mengangguk lalu mengambil semua bahan di kulkas dan mulai memasak. Membiarkan Anna melihatnya memasak dengan bersenandung sesekali dan Izumo yang masih mengurusi beberapa botol di hadapannya bersama secarik kertas yang dipegangnya.

Mikoto memulai hidup barunya setelah tersadar dari koma selama tiga bulan. Saat ia sadar, ia sama sekali tak mengingat kejadian yang terakhir kali menimpanya.

Setidaknya itu yang ia rasakan pertama kali saat sadar.

Ketika sahabatnya, Kusanagi Izumo, menyebutkan nama itu, ia sama sekali tak bisa mengingatnya. Malah sakit kepala hebat langsung menusuknya.

Dan nama itu adalah nama Munakata Reishi.

Bukan hanya itu, saat pertama kali, ia sama sekali tidak bisa melihat Reishi secara jelas walau pandangan di sekitarnya terlihat sangat jelas. Di matanya, hanya seorang Munakata Reishi yang terlihat buram. Kejadian itu berlangsung selama sebulan penuh, bersamaan dengan keberhasilannya mengingat penuh nama itu. Tetapi selain nama dan perawakannya, Mikoto tidak bisa mengingat hal lain tentang Reishi. Baik Anna maupun Izumo membantu Mikoto mengingatnya dengan menceritakan seperti apa hubungannya dengan Reishi. Namun usaha itu tak cukup berhasil, selama Mikoto memiliki inisiatif untuk mengingatnya sendiri, rasa sakit di kepalanya tak bisa dihindari.

Hal selanjutnya yang tidak bisa Mikoto ingat adalah saat ia menjadi "raja". Mikoto tidak pernah mengingat dirinya menjadi raja merah, mendirikan klan HOMRA bersama kedua sahabatnya, walaupun Mikoto sendiri mengingat kematian sahabatnya, Totsuka Tatara.

Izumo akhirnya mengambil alih untuk mengurus Mikoto setelah itu. Ia mulai mencoba mengajarkan Mikoto memasak maupun bersih-bersih dan akhirnya Mikoto cukup diterima untuk membantu Izumo menjaga bar kesayangannya—walaupun masalah mengelap meja konter kesayangannya tetap diambil alih oleh Izumo. Tak hanya itu, Anna juga membantu Mikoto mengingat banyak hal, terutama soal apa yang terjadi saat Mikoto tidak sadarkan diri maupun hal-hal yang terlupakan oleh Mikoto, salah satunya adalah ingatannya tentang Munakata Reishi.

"Silakan."

Asap mengepul dari tiga piring yang disediakan Mikoto. Wangi telur dadar serta bacon yang baru saja matang membuat Izumo meninggalkan pekerjaannya sebentar. Mikoto juga menaruh segelas earl grey tea dan dua gelas susu stroberi.

"Selamat makan."

"Mn~ masakanmu makin enak saja, Mikoto."

"Mmh."

Mereka bertiga makan dengan tenang. Namun rasanya Mikoto tak memiliki banyak nafsu makan untuk menyantap sarapannya. Anna yang dari tadi memerhatikannya, memberanikan diri untuk bertanya.

"Ada yang salah, Mikoto?" Tanya gadis kecil itu lembut. Mikoto meliriknya, masih ragu apakah ia harus menceritakan mimpinya atau tidak.

"Kalau ada sesuatu yang mengganjal, ceritalah. Jarang-jarang kau melamun seperti ini." Kali ini Izumo berusaha membujuk Mikoto. Mikoto masih terdiam dan menatap sarapannya. Ia akhirnya menghela napas berat, memberanikan diri untuk bercerita.

"Aku... bermimpi..." Mikoto mulai bercerita, keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. "Tentang lelaki itu... Munakata Reishi. Dalam mimpiku, ia tersenyum sangat bahagia saat menerima hadiah yang mungkin diberikan olehku, lalu saat dia akan berkata tentang hari ini, aku terbangun begitu saja."

Izumo dan Anna berhenti menyantap sarapannya lalu saling melempar pandang. Raut wajah kebingungan terlukis jelas pada Mikoto.

"Mungkin itu hanya mimpi abstrak tanpa arti yang spesifik." Ucap Mikoto putus asa. Izumo dan Anna melempar pandang kembali lalu kembali menatap Mikoto.

"Sebenarnya... ada yang mau kami beri tahu kepadamu perihal hari ini dan ada kaitannya dengan Munakata-kun."

"Hari ini Reishi berulang tahun."

Mikoto menatap kedua orang di depannya tak percaya. "Bohong."

"Kami tidak pernah membohongimu, Mikoto." Izumo berusaha meyakinkan, begitu juga Anna.

"Itu potongan ingatan Mikoto dua tahun lalu."

Mikoto masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Izumo dan Anna. Mereka berdua kembali saling pandang, senyum terulas di bibir keduanya.

"Bukankah ini suatu kemajuan, Mikoto? Maksudku, kau berhasil mengingatnya sendiri tanpa sakit kepala yang menyerangmu kan'?"

"Un, ini kesempatan bagus bagi Mikoto untuk memulai lembaran baru bersama Reishi."

Anna dan Izumo tersenyum ke arah Mikoto. Berusaha memberinya sedikit kepercayaan diri. Mikoto menatap mereka bergantian, sebuah helaan napas keluar dari mulutnya.

"Memulai lembaran baru... bagaimana?" Nada frustrasi terdengar, diikuti dengan sorot mata sang amber yang meredup.

"Hari ini ulang tahunnya, kan? Kau bisa pergi ke kantornya dan memberinya hadiah. Hei, aku menggajimu kan, Mikoto? Kau bisa membeli sesuatu dengan gajimu itu."

"Apa yang harus kubeli? Aku bahkan... tidak ingat apapun tentang dirinya. Mengingat hari ulang tahunnya saja bagiku... seperti keajaiban."

"Bunga akan menjadi hadiah terbaik untuk Reishi saat ini." Suara kecil itu angkat bicara, membuat Mikoto memusatkan perhatiannya padanya.

"Selain indah, bunga juga membawa pesan tersendiri. Bukankah ini hal yang bagus untuk menjadi awal bagi hubungan Mikoto dan Reishi?"

"Idemu boleh juga, Anna."

"Terima kasih pujiannya, Izumo."

Mikoto masih terdiam. Sebuah tepukan mendarat di pundak Mikoto, diikuti oleh senyum lembut Izumo.

"Jangan sia-siakan kesempatanmu. Cepat bereskan sarapanmu dan mandi, kami berdua akan mendandanimu dan kau harus pergi ke tempatnya hari ini."


.

.

.


Sembari memegang PDA-nya, Mikoto menelusuri jalan, menuju sebuah toko bunga di kota Shizume. Dan terima kasih kepada Izumo dan Anna, kini dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarnya.

Rambutnya dibuat turun—berbeda dengan tatanan rambut jabrik dengan sungut ajaib biasanya. Lalu kaus putih kebanggaannya dipadukan dengan long coat berwarna military green. Tak lupa celana jeans hitam dan sepatu converse klasik. Membuat Mikoto bak model berjalan.

Mikoto berusaha mengalihkan perhatiannya dari orang-orang yang terus menatapnya. Ia fokus menemukan toko bunga yang dimaksud Izumo. Tak lama berjalan, Mikoto menemukan toko bunga yang dimaksud.

Tulisan 'Language of Flower' terpampang memanjang, dibentuk oleh lampu LED berwarna neon blue. Berbagai bunga segar terlihat jelas di depan toko itu, tanpa berpikir panjang, Mikoto memasuki toko itu.

"Selamat datang," sapa wanita paruh baya itu. "Ada yang bisa saya bantu?"

"Ah, begini, saya mencari bunga untuk hadiah ulang tahun seseorang." Balas Mikoto malu. Wanita itu hanya tersenyum.

"Bunga seperti apa?"

Mikoto terlihat bingung. Bunga seperti apa? Dirinya sama sekali tidak tahu harus memberi bunga apa untuk Reishi. Namun di sela keputus-asaannya, Mikoto mengingat perkataan Anna.

"Em... apakah saya bisa meminta bantuan Anda untuk mencari bunga yang cocok? Saya tidak tahu jenis bunga apa yang cocok tapi teman saya berkata bahwa bunga memiliki makna tersendiri, benar begitu?"

"Iya."

"Dan saya ingin mencari bunga... yang setidaknya cocok dengan keadaan dan perasaan kami saat ini... mungkin?"

"Oho~ pesan apa yang ingin Anda sampaikan, Tuan?"

Wanita itu tersenyum lembut menunggu Mikoto. Mikoto memejamkan matanya sejenak, berusaha mencari jawaban.

Lembaran baru, ya...

"Saya ingin... mencari bunga yang sekiranya bisa mewakili perasaan saya untuk memulai hidup baru yang bahagia bersamanya? Saya mengidap amnesia dan hari ini... saya mengingat hari ulang tahunnya yang kebetulan jatuh pada hari ini. Mungkin ini momen yang tepat untuk kembali memulai lembaran kebahagiaan baru bagi kami berdua."

"Ah... tunggu sebentar." Wanita itu berlari ke belakang. Alih-alih merangkai sebuah buket bunga, wanita itu mengambil sebuah pot kecil yang ditumbuhi bunga berwarna putih. Ia lalu kembali pada Mikoto dengan senyum lembutnya.

"Bagaimana kalau ini saja, Tuan? Memang bukan sebuah buket bunga, tapi bunga ini memiliki arti yang cocok untuk Anda dan pasangan Anda."

"... apa itu?"

"Ini violet berwarna putih dan artinya... mari mengambil kesempatan pada kebahagiaan."

Manik amber itu menatap bunga di hadapannya. Sungguh bunga mungil yang indah, pikir Mikoto. Senyum lembut terulas pada bibirnya. Mungkin ini bunga yang tepat.

"Baiklah, bisa tolong bungkuskan bunga ini? Ah, kalau bisa, berikan pita dan tulisan selamat ulang tahun juga."


.

.

.


Setelah beberapa kali tersesat, akhirnya Mikoto sampai di depan kantor Reishi.

Bangunan yang megah itu membuat nyali Mikoto ciut seketika. Ia tidak yakin akan diizinkan masuk oleh siapapun yang berada di sana. Tetapi Mikoto tak bisa mundur sekarang.

"Suoh-san...?" Suara perempuan memanggilnya, membuat pundak Mikoto tegang seketika, Mikoto menoleh ke belakang dan melihat sesosok wanita berambut pirang sedang berkacak pinggang.

"Kamu itu... kalau tidak salah... Awashima Seri."

"Benar, saya Awashima Seri. Dan ada perlu apa—ah..."

Wanita di hadapannya tersenyum melihat sebuah pot bunga yang terbungkus plastik bening itu. Ditambah dengan pita berwarna biru dan merah serta sebuah kertas yang menggantung, Seri sudah bisa menebak tujuan pria di hadapannya mampir ke kantornya.

"Ingin bertemu Shitsuchou? Kebetulan hari ini Shitsuchou ada di ruangannya. Kalau perlu, mungkin saya antar?"

Wanita di hadapannya tersenyum lembut. Mikoto hanya membalasnya dengan cengiran tanggung, pasti wanita itu tahu bahwa dia juga tidak ingat di mana ruangan seorang Munakata Reishi.


.


"Sudah ya, saya masih ada keperluan. Semoga beruntung, Suoh-san."

Seri melambaikan tangannya pelan lalu pergi meninggalkan Mikoto sendirian. Di hadapannya ada sebuah pintu besar yang menghubungkannya langsung dengan ruangan Reishi. Keringat dingin mulai membanjiri telapak tangannya. Detak jantungnya mulai terdengar liar.

Mikoto menggelengkan kepalanya kencang lalu menepuk keras pipinya. Tidak, aku tidak boleh takut, pikirnya sambil memotivasi dirinya sendiri. Dengan tangannya yang gemetar itu, Mikoto mengetuk pelan pintu di depannya.

"Masuk." Jantung Mikoto serasa mau copot mendengar suara yang menjawabnya. Dengan ragu iya memegang kenop pintu lalu mendorongnya.

"Ada perlu apa—M—Mikoto...?!"

Iris violet itu membulat sempurna melihat sosok yang datang ke ruangannya. Tak disangka ia akan menginjakkan kembali kakinya di ruangan ini. Rasa haru tak terbendung, seakan meluap dan siap pecah kapan saja. Namun Reishi tetap harus tenang.

Sedangkan Mikoto dengan ragu berjalan mendekati Reishi. Detak jantungnya semakin tak bisa diam. Kupingnya memanas, ada rasa kangen yang menyeruak di dadanya, seperti berusaha mendorong akal sehatnya sejenak. Rasa itu masih terkalahkan oleh kekhawatiran Mikoto.

"Kau... hari ini berulang tahun...?" Suara berat itu bertanya pelan. Jantung Reishi langsung berdetak sangat cepat, seperti mau pecah rasanya.

"... iya." Jawab Reishi pelan, berusaha menahan semua emosi dalam dirinya yang meronta, meminta ditumpahkan pada sosok manusia di depannya.

Mikoto tersenyum canggung lalu berjalan semakin mendekati mejanya. Satu pot bunga yang dibungkus plastik bening itu ia taruh di mejanya perlahan.

"Selamat ulang tahun, Reishi... semoga panjang umur..." Mikoto mengumpat dalam hati, hanya itu kata-kata yang berhasil keluar dari mulutnya.

Reishi yang masih terkaget berusaha mengambil kembali ketenangannya, berusaha tidak girang walaupun momen yang terjadi saat ini sungguh mengundang haru. "Kau... tahu dari mana ulang tahunku?"

"Hari ini aku bermimpi... mimpi yang sangat aneh. Aku memimpikanmu tersenyum sembari menerima hadiah dariku. Kau juga kaget karena aku bisa memberimu hadiah dan tidak percaya bahwa aku menabung untuk membeli hadiahmu."

Pelupuk mata Reishi memanas, emosi dalam dirinya tumpah ruah, air mata membasahi pipinya.

"Kau... kau benar-benar mengingatnya." Ucap Reishi penuh haru. Mikoto secara refleks mendekati Reishi lalu membawa dalam dekapannya. Membiarkan sekelibat haru dan kangen mengisi hatinya yang sempat kosong.

"Maaf... aku baru mengingatnya sekarang, aku... sungguh lele, ya?" Ucap Mikoto pelan. Rasa haru memenuhi, menyesakkan dadanya, membuat air mata akhirnya membasahi pipinya, menghangatkan jiwanya.

Sedangkan Reishi hanya membalasnya dengan gelengan pelan. Bagi Reishi, Mikoto yang mengingat hari ulang tahunnya dengan sendirinya adalah kebahagiaan tak tergantikan bagi dirinya saat ini.

Mikoto mendekap Reishi semakin erat, membiarkan lelaki di hadapannya menangis sekencang mungkin. Menerima segala rasa yang tercurahkan hanya untuk Mikoto seorang. Dalam tangis, ia berdoa, semoga ini menjadi awal yang baik bagi kehidupan mereka, kebahagiaan mereka.

.

Tamat

.


Author's Note

.

AKHIRNYA SELESAI SUDAAAAAAAH *tebarduit* terima kasih para pembaca yang sudah mengikuti karya saya dari awal sampai akhir~ *pelukcium* akhirnya keinginan saya benar-benar terkabul untuk mengikuti MikoRei tahun ini :") maafkan jika masih menemukan typo maupun kejanggalan lainnya dalam cerita saya.

Akhir kata, sampai jumpa di karya saya yang berikutnya~!