"Tidak mungkin!"

"Apanya yang tidak mungkin? Semua bukti sudah jelas, Uchiha telah membunuh kedua orang tuaku," kata Naruto dengan tatapan benci pada Sasuke.

"Dobe, dengar-"

"Kau mengetahuinya, tetapi malah menyembunyikan kebenarannya dariku."

"Naruto!"

"Kau lah yang harus menebus kematian mereka, Sasuke UCHIHA!" kata Naruto dengan penekanan pada kata terakhir lalu ia segera mengayunkan pisau yang digenggamnya ke arah Sasuke. Sedangkan Sasuke hanya bisa pasrah menanti kematian yang akan segera menjemputnya.


Naruto by Masashi Kishimoto

A Mysterious Blondie by YumeYume-chan

Warning!

OOC, Miss Typo, Shounen Ai

Don't Like Don't Read!

Don't flame!

Karena hati saya sangat lembut gak bisa kena flame…

#plakk# brcanda kok….^^a


Chapter 6

Mother!


'Duak!'

Tubuh Sasuke menghantam tanah dengan keras membuatnya mengerang kesakitan. Dengan segera bayangan Naruto yang akan menikam tubuhnya dengan pisau menghilang tergantikan dengan cahaya putih yang menyilaukan matanya. Sebuah bayangan hitam tampak mendekatinya dari arah datangnya cahaya dengan kecepatan kilat dan sukses menyapa wajahnya dengan sangat tidak elitnya.

"Ukh!" keluhnya merasakan sakit pada wajah dan belakang kepalanya yang terantuk pada lantai.

"Sudah bangun brengsek?" sapa Naruto sarkastis.

Sasuke menatap Naruto bingung, lalu berkata, "dobe? Kau melemparku dengan bantal?"

"Tepatnya setelah menendangmu dari tempat tidur? Ya, aku melakukannya!" jawab Naruto kasar.

"Apa maksudmu?" tanya Sasuke datar dan sedikit nada kesal terselip dalam suaranya. Oh yeah, siapa yang tidak akan kesal saat sedang tidur dengan mimpi buruk menghantui, ditendang sampai jatuh dari tempat tidur dan dilempar bantal? Bahkan bila yang melakukannya orang yang dicintai sekalipun, kau pun pasti meledak marah.

Naruto, menarik kerah baju Sasuke membuatnya menatap tajam pada Naruto. "Kau tanya 'kenapa'?" desis Naruto, "setelah berteriak-teriak 'tidak mungkin' di telingaku, memanggil-manggil namaku sambil mencekik leherku, dan menendangku jatuh dari tempat tidur, kau masih berani menanyakan alasanku melakukan itu padamu? Dasar brengsek!" maki Naruto sambil melepas kerah baju Sasuke. Meninggalkan Sasuke yang masih terpaku.

"Aku tidak tahu ada apa denganmu. Sudah tiga minggu ini kau selalu membahayakan nyawaku. Melamun saat menyetir, mengigau sambil mencekikku. Apa kau begitu membenciku atau apa aku tidak tahu. Aku-"

"Maaf dobe, aku tidak membencimu."

"Ck, bercanda kok," kata Naruto sambil tersenyum iseng. "Aku tidak tahu ada apa denganmu. Tapi kalau kau mau cerita padaku, boleh saja. yang jelas aku tidak mau mati konyol karena kau yang sejak tiga minggu lalu punya hobi melamun."

Usai mengatakan itu semua Naruto langsung meninggalkan Sasuke untuk mandi. Sedangkan Sasuke hanya tersenyum tipis mendengar penuturan terakhir Naruto. Ia merasa ada sedikit harapan dalam hubungan mereka saat ini.

Sejak kejadian tiga minggu lalu, saat tetua Namikaze dan Uzumaki datang mencari Naruto, mereka memang telah memutuskan untuk memperbaiki hubungan mereka sebagai teman meski tanpa diutarakan oleh masing-masing pihak. Hubungan mereka membaik secara alami. Secara perlahan, Naruto mulai menerima Sasuke sama seperti ia menerima teman-temannya.

"….Kecelakaan mereka adalah hasil sabotase, dan pelakunya adalah Uchiha."

Satu kalimat itu sukses menghilangkan senyum yang sempat terpatri di wajah Sasuke. kebahagiaan yang baru saja ia rasakan telah padam bahkan sebelum ia sempat merasakan kehangatannya.

Ia takut akan reaksi Naruto bila mengetahui kebenaran yang ia sendiri baru ketahui. Ia takut tidak dapat melihat bayangannya di mata Naruto, ia takut Naruto akan meninggalkannya, lebih buruk lagi, membencinya. Harus bagaimanakah dirinya?

Memberitahu Naruto, sama saja membuat hubungan mereka berakhir lebih cepat. Menyembunyikannya? Danzou pasti juga akan segera tahu, dan bukan tidak mungkin ia justru lebih dibenci lagi nantinya. Lalu ia harus bagaimana?


Suara ombak yang beriak lembut memberikan suatu kehangatan sendiri di hati seorang wanita berambut merah yang tengah berdiri di bibir pantai menikmati kehangatan cahaya sang mentari yang baru terbit. Mata hijaunya menatap ke arah lautan yang luas dengan warna biru yang begitu indah hingga mampu menghanyutkan siapapun yang menyaksikannya.

Begitu pula dengan wanita berambut merah ini. Senyum lembut tak pernah luput dari wajahnya yang masih tampak anggun meski usianya sudah hampir mencapai kepala empat. Ia tengah berdiri memandangi karya luar biasa milik sang pencipta yang tak kan mampu disaingi oleh siapapun.

"Apa kabar?" bisiknya pelan. Bukan, ia bukannya menyapa laut yang indah ini, juga tidak menyapa penghuninya. Yang ia sapa adalah seorang pria bermata biru yang mampu menjeratnya dan menenggelamkannya pada sebuah rasa bernama 'cinta' saat ia masih muda dulu, dan rasa itu masih berbekas begitu dalam hingga saat ini. Yang ia sapa adalah seorang pria bermata biru yang tengah menggendong seorang bayi kecil yang merupakan duplikat mini pria itu yang masih berusia beberapa bulan. Yang ia sapa adalah sosok pria yang ia ketahui begitu bijaksana, dewasa, dan sangat menghargai arti persahabatan. Sosok seorang pria yang menjadi panutannya sejak dulu, yang telah memberikannya kebahagiaan begitu besar dengan hadirnya seorang malaikat kecil yang begitu mirip dirinya. "Minato-kun?"

"Kushina-sama," panggilan akan namanya membuat sosok pria bermata biru yang tengah menggendong malaikat kecilnya menghilang tergantikan pemandangan laut biru dan langit yang kini juga telah terang.

Tanpa berbalik, wanita berambut merah bernama Kushina itu berkata, "ada apa Kurenai?"

"Anda tiba-tiba saja menghilang di pagi buta, semua pelayan panik mencari anda," kata Kurenai sopan.

"Aku hanya ingin menikmati matahari terbit seperti 'dulu'," kata Kushina. Kata 'dulu' bermakna telah begitu lama tak dilakukannya. Berapa lamakah? Setahun, dua tahun? Menurut ingatan Kushina, ia tak pernah lagi menatap matahari terbit sejak 16 tahun yang lalu. Sejak ia kehilangan cahaya hidupnya, sejak mataharinya direbut paksa oleh orang terdekatnya, sejak takdir mengambil penyangga hidupnya.

Kurenai menatap Kushina dengan tatapan tak terdefinisikan. Rambut merah Kushina yang menjuntai hingga ke lututnya beterbangan dimainkan oleh angin laut. Jauh. Tak teraih. Tenggelam. Terjerat. Kesepian. Luka. Tangis. Air mata. Kesedihan. Semuanya seolah melingkupi kehidupan wanita berambut merah yang sejak dulu menjadi panutannya. Sosok wanita yang selalu ceria dan pantang menyerah kini tergantikan oleh sosok wanita yang tak lagi memiliki penyangga kehidupan selain seutas benang tipis yang telah diterbangkan angin. Begitu jauh, dan sulit untuk direbutnya kembali.

Namun ia, Kurenai, berjanji akan merebutnya kembali. Dengan segala cara dan upaya, benar atau pun salah, kasar atau pun halus, semuanya akan ia tentang hanya untuk bisa melihat sebuah senyum bahagia terukir di wajah anggun yang tampak kesepian itu. Tetapi ada satu keraguan yang menyapa batinnya saat satu-satunya cara terakhir yang akan ia gunakan tampaknya akan membakar 'benang sutra' milik nonanya. Menghancurkannya.

"Kushina-sama," sapanya memberanikan diri mengutarakan maksudnya, "tak apakah begini? Cara ini?"

Sosok Kushina di hadapannya tak bereaksi sama sekali, namun pada akhirnya sebuah jawaban pun diberikannya. "Aku mengerti kau mengkhawatirkan keadaan mentalnya Kurenai, tetapi hanya inilah satu-satunya cara yang bisa aku lakukan untuk merebutnya dan mendekapnya dalam hidupku. Malaikat kecilku." Kurenai terdiam.

"Aku menyayanginya, tapi aku tidak bisa membiarkan kepolosan terus menghiasi hidupnya. Ia harus mengerti akan kekejaman hidup, kekejaman dunia. Agar ia tak mudah takluk, dan berakhir seperti 'dia'. Kepolosan'nya' yang menyebabkan 'ia' terenggut dari hidup kami, terpisah dari malaikat kecil yang begitu 'ia' kasihi. Mengakhiri napas kehidupan'nya', menutup kisah'nya' untuk selamanya."

"Sedangkan aku, tuhan masih menyayangiku. Meski aku harus koma selama tujuh tahun, dengan mimpi buruk akan keluarga kecilku yang tercerai berai, aku masih hidup. Masih dapat ku rasakan napas kehidupan dalam tubuhku, masih dapat aku berharap untuk menemukan malaikat kecilku, menemaninya sepanjang sisa hidupku."

Kurenai hanya membisu mendengar penuturan Kushina, sosok wanita yang telah ia anggap sebagai kakaknya, juga ibunya. "Saya mengerti Kushina-sama," kata Kurenai pada akhirnya. Lalu dengan segera ia meminta izin untuk pergi.

"Apapun akan aku lakukan untuk mendapatkannya, mendekapnya erat. Apapun. Apapun akan aku lakukan, Minato-kun."

Air mata kini telah terjatuh dari sepasang mata hijau bagai zamrud itu.


"Mama!" panggilan seorang balita menyadarkan Kurenai dari lamunannya. Konohamaru, putranya, yang ia dapatkan setelah ia menikah dengan Asuma. Dengan segera Kurenai mendekap erat putra kecilnya, seolah begitu takut akan kehilangan. Balita kecil itu hanya balas memeluk ibunya, seolah ia tahu kegundahan di hati ibunya dan berusaha menenangkannya dengan dekapan tubuh kecilnya.

Kurenai juga adalah seorang ibu, dan ia tentu memahami derita yang dialami Kushina. Kehilangan suami dalam kecelakaan, berjuang antara hidup dan mati di meja operasi setelah berhasil selamat dari kecelakaan maut yang merenggut suaminya. Koma selama hampir delapan tahun, bahkan hampir saja ia dibuat 'meninggal' atas pertimbangan dokter. Setelah sadar dari komanya, ia masih harus menjalani serangkaian terapi yang menyiksa jiwa dan raganya untuk mengembalikan keadaan tubuhnya seperti semula.

Andai saja tidak ada yang menjadi penyangga hidupnya, andai saja tidak ada Naruto, mungkin Kushina akan segera menyusul suaminya. Sungguh, Kurenai sungguh tahu betapa keras kehidupan yang telah dialami Kushina selama 16 tahun terakhir ini.


Sasuke seolah melihat malaikat pencabut nyawa saat ia mendapati Anko keluar dari dalam mobil yang menghadang mobilnya untuk sampai ke sekolahnya. Dalam perjalanan menuju ke sekolah ia dihadang mobil lain, dan siapa sangka orang yang berada di dalam mobil itu adalah Anko, dan dapat dipastikan si tua #plakk# maksudnya Danzou juga berada di dalam mobil itu.

"Maaf mengganggu perjalanan anda Naruto-sama, tetapi Danzou-sama ingin bertemu dengan anda," kata Anko saat Naruto turun dari mobil.

"Maaf, tapi aku menolak Anko-san," kata Naruto.

"Tapi ini adalah hal yang sangat penting Naruto-sama. Saya rasa anda harus mendengarkannya," kata Anko dengan nada memaksa. Saat melihat Sasuke yang juga ikut turun bersama Naruto, ia melotot pada Sasuke.

Naruto menatap kesal pada Anko, "sudah kukatakan aku sama sekali tidak berniat berurusan dengan kalian lagi. Baik itu Namikaze, maupun Uzumaki. Jadi tolong pindahkan mobil anda, kami harus segera ke sekolah." Seusai mengucapkan kalimat itu, Naruto berbalik diikuti Sasuke menuju mobil mereka, namun Danzou segera mencegah mereka.

"Meskipun ini mengenai masalah kedua orang tuamu?" tanya Danzou tajam.

Sasuke yang mendengar ucapan Danzou hanya bisa mematung. Dan dengan panik ia berusaha mengajak Naruto untuk segera kembali ke mobil. "Sudah dobe, kita sudah terlambat ke sekolah."

Mengabaikan Sasuke, Naruto menatap datar pada Danzou, "berapa kali aku harus mengatakannya padamu bila aku telah membuang Namikaze maupun Uzumaki dari hidupku. Aku memilih Uchiha, sekarang aku adalah seorang Uchiha."

Danzou menggeram marah lalu dengan setengah berteriak ia berkata, "Apa kau yakin akan tetap memilih Uchiha setelah tahu bahwa yang membunuh kedua orang tuamu adalah Uchiha itu sendiri?"

Berakhir sudah bagi Sasuke. Ia tidak berani menatap Naruto di depannya. Ia yakin Naruto saat ini tengah terkejut tidak terkira mendengar kenyataan ini. Naruto pasti akan menatapnya benci, meninggalkannya dan bersiap-siap untuk membalas dendam pada Uchiha. Ia sudah hancur sekarang.


"Aku tahu," dua kata yang diucapkan dengan suara datar oleh Naruto membuat Sasuke menatap Naruto dengan tidak percaya. Reaksi Anko maupun Danzou juga tidak jauh berbeda, wajah tegang dengan mata melotot. Tidak percaya dengan ucapan pemuda pirang di hadapan mereka.

"Kenapa?" kata Anko lemah, dengan setengah kesadarannya, "kenapa kau masih tinggal dengan Uchiha? Kenapa kau memilih mereka?"

"Karena aku Uchiha," jawaban yang semakin mencengangkan mereka semua yang mendengarkan minus sang pengucap. 'Karena aku Uchiha' berarti ia benar-benar telah membuang Namikaze dan Uzumaki. Tidak peduli pada kedua klan itu, meskipun kedua orang tuanya berasal dari klan tersebut.

Sejenak tidak ada yang bersuara ataupun berinisiatif untuk memecahkan ketercengangan yang ada. Hingga Anko dengan langkah cepat dan tak terduga maju mendekati Naruto, tangannya terayun dengan cepat.

Plakk!

Rasa panas mengaliri wajah Naruto saat dirasakannya tangan Anko mendarat cepat di pipinya. Ia baru saja ditampar oleh wanita yang kini berurai air mata. Dengan napas tersengal menahan emosi yang telah meledak, wanita itu berteriak menumpahkan semua emosinya, "Kau….. KAU BUKAN ANAK MINATO-SENPAI!"

"Ayo pergi Sasuke," kata Naruto yang membangunkan Sasuke dari keterkejutannya.


Bandara Konoha, sore hari…..

"Aku hanya meminta kau menemaniku menjemput nee-san. Tapi kenapa mesti bawa dia?" Interogasi Gaara pada Neji yang tampak merasa bersalah di hadapannya.

"Dia memaksa untuk ikut Gaara, aku sendiri kaget dia bisa sengotot ini," kata Neji berupaya membela diri.

Gaara mengurut keningnya yang tiba-tiba saja terasa pusing. "Lalu apa maksudnya membawa papan nama bertuliskan nama nee-san?"

"Gaara!" suara nyaring seorang perempuan berambut pirang memutus acara interogasi mendadak Gaara-Neji, juga langsung membangunkan Shikamaru yang anehnya bisa tidur sambil berdiri.

"Nee-san, selamat datang," sapa Gaara pada nee-sannya.

"Selamat datang Temari-nee," sapa Neji, berusaha sopan pada calon kakak iparnya.

"Ah, hai Neji!" sapa Temari riang. Lalu ia menoleh pada Gaara, "jadi, bagaimana kabar rubah kecil kita? Bukankah kau sudah menemukannya?"

"Hm, sebaiknya masalah ini dibicarakan di rumah saja. yang jelas, 'rahasia lama' sudah terkuak," kata Gaara. Membuat wajah Temari langsung berubah serius.

"Begitukah?" gumamnya pada diri sendiri.

"Temari-nee, sebaiknya kita langsung ke apartemen Gaara. Masalah ini dibahas lain kali saja," saran Neji.

"Ah, maaf aku terlalu serius. Baiklah ayo kita pergi, aku juga sudah lelah," kata Temari menyetujui saran Neji. Neji segera menggantikan Temari membawa koper, namun baru saja mereka akan jalan, suara Temari menyela, "Neji, siapa bocah ini?" tanya Temari judes sambil menunjuk Shikamaru dengan tatapan tidak suka. O yeah, tidak ada yang suka jalanannya dihalangi orang lain. Terutama bila orang itu menatapmu dengan seringai aneh, plus masih di bawah umur.

"Hm, kenalkan aku Naara Shikamaru dan aku menyukaimu," kata Shikamaru tanpa basa-basi.

"Sayangnya aku tidak berminat pada anak kecil," dan Temari pun menolak tanpa basa-basi juga. Ia menatap Shikamaru dengan tampang meremehkan, "minggir dari jalanku, BOCAH!" katanya dengan penekanan pada kata terakhir lalu segera meninggalkan Shikamaru yang masih saja tersenyum.

"Gadis yang menarik, seperti bunga yang ada di bibir jurang. Bila tidak berhati-hati mengambilnya, bunga itu bisa rusak, atau malah aku yang akan terjatuh ke dalam jurang itu."


Rumah keluarga Uchiha, malam hari….

Naruto membuka pintu kamarnya, mendapati Sasuke masih berdiri di depan pintu kamar dan tampak terkejut melihat Naruto sudah berdiri di hadapannya, menatapnya tanpa ekspresi.

"Do- Naruto," panggilnya, tidak tahu harus berkata apa.

"Masuklah, ini kamarmu juga," kata Naruto datar, "atau kau takut aku membunuhmu di dalam?"

Kaget, sudah pasti itu perasaan Sasuke mendengar kata-kata Naruto. dengan langkah pasti, ia masuk ke kamarnya, dan hanya berdiri. Bingung harus melakukan apa.

"Masalah tadi pagi," kata Sasuke memulai pembicaraan.

"Empat bulan yang lalu, aku menemukan jurnal ayahmu di gudang. Tampaknya Itachi-san tidak pernah membuka jurnal itu. Isinya silahkan kau baca sendiri. Aku akan tidur di kamar tamu," kata Naruto.

"Biar aku saja. aku butuh ketenangan," cegah Sasuke. Lalu ia segera meninggalkan Naruto sendiri di kamar itu.


Sasuke merebahkan dirinya di kasur. Tanpa basa basi lagi ia membaca jurnal itu, isinya adalah keseharian ayahnya. Hanya ada beberapa halaman yang diberi kertas khusus berwarna merah, halaman yang menceritakan tentang keluarganya. Juga ada beberapa halaman lain yang diberi kertas khusus berwarna hijau, dan Sasuke terpana membaca isinya.

19 Juli 19xx

Hari ini aku menangani persetujuan kerja sama antara Uchiha corp. dan Namikaze corp. sungguh aku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Syarat yang mereka ajukan adalah agar Uchiha membereskan 'lalat' pengganggu Namikaze.

Yang mereka maksudkan adalah agar Uchiha melenyapkan keluarga Minato. Aku berusaha mati-matian untuk menolak rencana mereka, tetapi ayah malah langsung setuju. Aku tidak mengerti, apa kesalahan Minato dan keluarganya?

Apakah karena mereka memaksa untuk menikah dengan tujuan untuk mendamaikan kedua klan yang terus berselisih tersebut? Bukankah niat mereka baik? Kenapa mereka harus dilenyapkan?

Tidak, aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Aku harus segera memberitahu Minato dan Kushina. Tidak akan aku biarkan sahabatku terluka di depan mataku.


20 Juli 19xx

Aku telah memberitahu Minato rencana ayah. Saat ke rumahnya aku bertemu dengan Naruto, putra Minato dan Kushina, yang hanya berbeda usia beberapa bulan dari Sasuke. sungguh mencengangkan jawaban Minato.

"Fugaku, terima kasih kau telah mempertaruhkan nyawamu untuk memberitahuku. Tapi apapun yang terjadi nanti, itu adalah rencana Tuhan."

"Tapi kenapa?" tanyaku waktu itu.

"Jangan pikir aku bodoh, kemana pun aku lari, aku pasti akan ditemukan. Aku hanya meminta satu hal padamu. Tolong jaga Kushina dan Naruto."

Hanya itu yang ia minta, agar aku menjaga Kushina dan Naruto.

Minato, aku sungguh minta maaf. Aku tidak mampu melindungimu. Dibandingkan aku, Minato lebih sadar, bahwa dia tidak akan pernah bisa selamat, kemana pun dia bersembunyi. Dia memilih untuk mati dengan tenang, dibandingkan harus mati dengan cara yang tragis.

Minato, maafkan aku.


23 Juli 19xx

Hari ini ulang tahun Sasuke, putra keduaku. Dan malam ini juga adalah malam kematian Minato. Aku mendapat kabar bahwa Minato mengalami kecelakaan saat akan kemari, menghadiri pesta ulang tahun Sasuke.

Untunglah Naruto tidak bersama mereka. Tetapi Kushina mengalami luka berat. Serpihan kaca menembus kepalanya dan ia harus segera dioperasi. Aku tidak tahu bagaimana hasil operasinya. Aku harap semuanya berjalan lancar.

Minato, maafkan aku.


Sasuke menutup jurnal ayahnya. Semuanya sudah jelas, bukan ayahnya yang membunuh Minato, tetapi kakeknya, Madara. Tapi masih saja ayahnya merasa bersalah karena hal itu. Sasuke mafhum mengapa ayahnya begitu merasa bersalah, di dalam jurnalnya, Fugaku telah menceritakan bagaimana awal ia dan Minato bersahabat.

Tapi Sasuke masih belum mengerti, mengapa Naruto tidak juga menyalahkannya?


Pagi harinya berlangsung hening. Sasuke dan Naruto menikmati sarapan mereka dengan tenang. Tak ada satu pun dari mereka yang bicara. Kali ini Itachi tidak ada, karena ia belum pulang dari luar negeri.

Usai sarapan, Naruto tidak kunjung meninggalkan meja makan. Ia menanti Sasuke.

"Sudah kau baca?" tanya Naruto setelah Sasuke meminum teh hangatnya.

"Hn."

"…."

"Aku masih belum mengerti. Apa benar kau telah memaafkan Uchiha?" tanya Sasuke.

"Di jurnal itu, ayahmu telah berusaha menolong keluargaku. Ia sendiri juga merasa sangat menyesal atas kejadian itu. Lalu, apakah pantas bagiku untuk mendendam? Sejujurnya, saat aku pertama kali mengetahuinya, aku sangat marah dan melampiaskan kebencianku padamu. Sampai tiga minggu yang lalu. Aku berusaha memahami dan mengerti persoalan yang ada."

"…."

"Aku membenci Uchiha yang telah membunuh kedua orang tuaku, menghancurkan keluargaku, membuat masa kecilku berakhir pedih. Aku benci, dendam. Tapi, apa yang akan aku lakukan bila aku membalaskan dendamku? Pada kenyataannya, kebencian hanya akan melahirkan kebencian yang baru. Menyebabkan perang tanpa akhir."

"Tentang Namikaze dan-"

"Aku tidak tahu." Sela Naruto lalu segera meninggalkan Sasuke. Dia memutuskan untuk berangkat ke sekolah sendiri. Naruto tidak tahu, hari ini ada kejutan yang menantinya.


Naruto melewati ruang tamu untuk mencapai pintu keluar agar ia bisa menuju ke sekolah ketika dilihatnya seorang wanita tengah duduk di ruang tamu.

"Naruto-sama, ada tamu untuk anda," kata salah seorang maid.

Mendengar nama 'Naruto' disebut, wanita itu segera berdiri dan berbalik menatap Naruto. mata hijaunya seakan tidak percaya melihat pemuda pirang yang berdiri di hadapannya adalah Naruto, malaikat kecilnya.

"Naruto," panggil wanita itu dengan suara bergetar menahan tangis. Naruto sendiri seakan tidak percaya dengan pemandangan yang dilihatnya.

Wajah keibuan, mata hijau, rambut merah panjang. Sosok yang hanya ia ketahui dari selembar foto kini berdiri di hadapannya, memanggil namanya. "Haha?" hanya satu kata itu yang mampu diucapkan Naruto.

"Kau sudah besar nak," kata wanita itu lagi. Serta merta Naruto berlari ke arah sosok yang selalu ia rindukan kehadirannya. Sosok yang selalu ia rindukan sejak kecil, sosok yang ia harapkan menemani hari-harinya, membimbingnya, menjadi cahayanya. Ibunya.

Tak terkatakan betapa besar kebahagiaan yang dirasakan oleh Kushina saat ia mendengar Naruto memanggilnya 'haha', berlari ke arahnya, memeluknya erat. Semua luka, sakit, dan derita yang ia rasakan kemarin seolah tak pernah ia rasakan.

Kehadiran malaikat kecilnya, yang kini telah menjelma menjadi seorang pemuda yang gagah, benar-benar menjadi pelipur segala duka dan deritanya. Takkan ia lepas lagi, takkan ia biarkan terluka lagi, selalu dan selamanya, hingga akhir hayatnya, Kushina berjanji untuk terus berada di sisi anak semata wayangnya.

"Haha, haha, haha," kata yang terus Naruto ucapkan. Ia mendekap erat sosok yang ia panggil 'haha' itu. Berusaha meyakinka dirinya bahwa yang dipeluknya saat ini adalah nyata. Setitik air mata terjatuh dari mata biru itu. Menggambarkan betapa harunya ia menantikan saat-saat yang ia anggap hanya ada di dalam mimpi. Rasa sepi yang selama ini menemani jiwa bocah kecilnya kini telah tumpah ruah. Ia tak peduli usianya 17 tahun sekarang ini, ia tak peduli ia telah berada di kelas XII SMA saat ini, ia tak peduli apapun. Yang ia pedulikan adalah rasa egois yang haus akan kasih sayang orang tua, kasih sayang seorang ibu.

Hari ini, Kushina dan Naruto, telah mendapatkan balasan yang setimpal atas semua penderitaan yang pernah mereka alami. Biarlah, biarlah hari ini dan hari-hari selanjutnya mereka lalui dengan senyum terkembang, saling mengisi kekosongan hati masing-masing. Melengkapi puzzle yang hilang, meski sosok sang ayah dan suami takkan pernah mampu tergantikan.

Di balik pintu, Sasuke hanya dapat tersenyum tipis melihat kebahagiaan ibu dan anak itu.


"Haha, aku lapar!" kata Naruto manja sambil berbaring di pangkuan sang ibu. Kushina tersenyum melihat kemanjaan anaknya. Ia mengelus kepala Naruto seraya berkata, "mau makan apa Naru-chan?"

Naruto menggembungkan pipinya, "buuuuuu, jangan panggil aku pakai –chan. Aku ini laki-laki, haha tidak lupa kan?"

Kushina tertawa melihatnya. "maaf, maaf! Mau makan apa?"

"Ramen!" seru Naruto riang.

Kushina menggeleng, "tidak boleh! Kau ini anak laki-laki, kau harus banyak makan sayuran. Jangan hanya ramen. Bagaimana kau bisa tumbuh?"

"Tapi-"

"Tidak ada tapi-tapian!" sela Kushina.

"Aku rajin makan sayur kok. Sasuke selalu menyuruh pelayan membuat makan yang bergizi. Seminggu aku hanya bisa makan ramen tiga kali," keluh Naruto tidak menyebutkan jumlah ramen yang dimakannya setiap kali makan.

Mendengar nama Sasuke disebut, Kushina langsung menatap Naruto serius. "Naruto, haha punya permintaan."

"Permintaan apa?"

"Tinggalkanlah Uchiha, tidakkah kau ingin bersama haha? Haha sudah mencarimu sejak lama."

"Haha?"

"Tidakkah kau ingin menemani haha? Haha sangat membutuhkanmu Naruto," kata Kushina, suaranya terdengar sangat memohon.

"Aku akan coba bicara dengan Sasuke, haha."

"Terima kasih Naruto! haha sangat menyayangimu," kata Kushina sambil memeluk erat Naruto.

Sedangkan Sasuke yang terus berada di balik pintu menyaksikan kebahagiaan ibu – anak itu hanya bisa duduk dengan tegang. Apa yang harus dilakukannya? Haruskah ia melepaskan Naruto? Lalu bagaimana dengan dirinya sendiri? Tidak, pernikahan mereka masih tujuh bulan. Akan ia gunakan itu untuk mengikat Naruto lebih lama bersamanya.

TBC


Oke, setelah berkutat begitu lama dalam WB, akhirnya saya bisa publish juga….

Fuuuh…

Akhir-akhir ini saya mulai sibuk dengan kegiatan organisasi jadi mungkin saya akan sangat jarang mempublish fic. Tapi saya tidak akan hiatus kok…

Tolong jangan lupa berikan kritik dan saran untuk fic ini ya?

With Love…

YumeYume-chan


Balesan review…

Rosanaru : Duh, maaf ya saya gak bisa update kilat. Kalau kilat ntar saya kesetrum… *plakk* gimana chap ini? suka nggak?

Vipris : hehehehe udah gak penasaran kan?

Um, saya masih semester SATU…..

Tapi tenang aja, semester SATU bukan berarti kita boleh ditindas!

Ayo maju para junior(?) seIndonesia!


Hikarii Hana: maaf ya? Tapi jawabannya kurang tepat. Jawabannya mereka kerja sama Danzou+Madara Uchiha! ^^v

Matsuo Emi : Tepat sekali! Tapi mereka diminta oleh Danzou…

Fi suki suki : yah hidup ini kan gak bisa ditebak…. *sok bijak* *plakk*

Boleh kok manggil saya Nee-chan…

Senang banget deh dipanggil gitu…..

LUKIAST : Ni lama gak? Gak kan? Gak dong? Gak yah? *plakkk!*

*Udah tau lama masih ngrayu juga*

Yuuchan no Haru999 : sipppp! Update ala bekicot aja ya?

*pantesan lama!*

*author kabur*

kuraishi cha22dhen : *gak bisa jawab review yang ini* #ketahuan author mau buat mereka pisah# *Yume:Cuma bentar koQ!*

Cesia : masih penasaran kah?

Rhie chan Aoi sora : *liat permintaan Rhi-chan* janganlah meminta suatu hal yang tak mungkin dari diriku…. Yang membuat saya gak bisa memenuhi permintaan Rhien adalah:

Saya gak bisa buat lemon.

Kakak gak ngijinin. Kalau saya sampe berani buat, bisa dipastikan leppie gak bakalan dipinjami lagi…

Mohon maaf sebesar-besarnya…./(_._)

CCloveRuki : di sini sudah jelas kan? Yang masih hidup Cuma mamanya Naru-chan koQ! ^^

Anenchi ChukaCukhe : syukurlah kalau suka! Mudah-mudahan yang ini juga suka ya?
-

Bocoran Next Chappie

"Pergilah."

"Eh?"

"Ada apa dengan wajah ini? Duka apa yang tersimpan di sini?" tanya Kushina seraya menunjuk dada Naruto.