Warning: AU. OOC. ANOTHER HIGH-SCHOOL FIC FROM mysticahime. Not very keen on romance. Mostly friendship. DON'T LIKE DON'T READ. C&C is accepted. Reviews are received with open-hearted. Different POV in every chapter. NOT A CHARA BASHING FIC!

Disclaimer: I never own Naruto. All is Masashi Kishimoto's masterpiece. Just borrow the characters for my own fiction.

Enjoy.

.

.

.

.

mysticahime™
proudlypresents

another high-school fic

Inspired from dorama 'Dragonzakura'

© 2011

.

.

.

.

Don't be dubious to move forward

Don't be afraid to fight your way

'Cause you're not alone

We're all...

X~*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*~X

U N D E R T H E S A M E S K Y

X~*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*_*~X

.

.

.

.

Chapter 7: Sai — Invitation

Aku sama sekali tidak habis pikir dengan perkara barusan.

Mengesalkan sekali mengingat sekumpulan bocah bertampang biasa menanyaiku mengenai persoalan pribadi yang sedang kualami kini. Sepertinya mereka bukan siswa dari sekolah terkemuka—mengingat tingkah mereka yang menguping pembicaraan orang lain bukanlah tindakan yang bermoral untuk dilakukan.

Cklek!

Pintu kamarku mengayun terbuka dalam satu sentakan, dan aku segera menerobos ke dalam kamar, satu-satunya area pribadiku di rumah. Aku bukannya tidak senang berada di dalam ruangan lain di rumah ini—bagaimanapun juga, ini rumahku—hanya saja, berada di luar teritorial kamar sendiri rasanya... aneh.

Aku bukan tipe yang pandai bersosialisasi.

Keadaan di sekolah pun sama sekali tidak membantuku. —jangan salahkan aku, aku tak pernah berminat untuk menempuh ilmu di Iwagakure Academy, tidak sekalipun dalam mimpi terburukku.

Asal kau tahu saja, IA bukanlah habitat dimana aku harus tumbuh dan berkembang. Di sana hanyalah sarang dari sekumpulan anak borjuis yang membanggakan harta keluarga mereka. Standar pendidikan IA sangatlah tinggi, bermodalkan pelajaran eksakta dengan tingkat soal yang bisa membuat manusia berotak kanan sepertiku menjadi gila.

Aku seorang seniman, dan aku ingin berada di tengah-tengah seniman lainnya.

Sayangnya, Danzou-jiisan tidak pernah mau mengerti.

.

.
.

Entah berapa lama aku tertidur di atas ranjangku, yang pasti ketika membuka mata, langit di luar jendela sudah berubah gelap. Lampu-lampu yang tertanam pada lanskap taman sudah menyorotkan sinar kuning terang, kontras dengan suasana yang remang-remang.

Kupaksakan punggungku untuk tegak, duduk di sisi ranjang dan menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak terasa gatal. Kemeja yang kukenakan kusut masai—aku tidak mengganti seragamku sepulang sekolah tadi.

Dalam hitungan detik, kemeja kusut itu sudah tercampak di permukaan lantai, berganti dengan kaus abu-abu berlengan pendek. Berikutnya celana bahan yang semula kukenakan sudah digantikan dengan jeans kesayanganku. Tidak ada niatan untuk mandi, aku memilih untuk memenuhi tuntutan perutku yang terasa lapar.

Ketika menuruni tangga, kulihat bahwa pintu kamar Danzou-jiisan tertutup rapat, namun lampu kamarnya menyala. Kakek sudah pulang dari kantornya.

Dalam hati aku sering bertanya-tanya mengapa Kakek masih sanggup meneruskan perusahaannya. Seingatku, tahun ini Kakek nyaris mencapai kepala tujuh.

"Tuan Muda."

Sapaan dari salah satu pelayan yang bekerja di rumahku membuatku menoleh. "Ya?"

"Danzou-sama tadi berpesan bahwa beliau akan makan malam bersama Tuan Muda bila Tuan Muda sudah bangun."

Huh—tanpa sadar aku mendengus. Pasti Kakek ingin membahas masalah di telepon tadi, masalah soal aku yang ingin keluar dari Iwagakure Academy.

"Bilang pada Kakek aku akan makan sendiri di luar, oke?" dan tanpa menunggu jawaban dari pelayan Kakek, aku segera berlari menuju pintu depan, menyambar sandal seadanya dan bergegas keluar dari pintu.

Samar-samar aku mendengar pelayan itu memanggil-manggilku, namun aku sama sekali tidak peduli. Aku sedang tidak berminat untuk berdebat dengan Danzou-jiisan—dia punya semilyar cara untuk mematahkan argumenku dan mendesak balik dengan seluruh kosakata yang dimilikinya.

Kakiku melangkah tak tentu arah, suasana gelap membuatku tidak mengenal jalan yang kulewati. Aku berjalan lurus bila hatiku menghendaki, berbelok ketika ingin...

"Oi," sebuah suara menyapaku, atau lebih tepatnya kurasa menyapaku. Memangnya siapa anak IA yang tinggal di daerah sekitar rumahku? Satu-satunya siswa Iwagakure Academy yang tinggal di pinggiran Tokyo adalah aku, karena Danzou-jiisan tidak mau menempuh jarak jauh ke kantornya yang hanya sekitar satu kilometer dari rumah.

Ketika berbalik, aku menemukan sosok pemuda berambut jabrik berdiri beberapa meter di belakangku.

Orang yang tadi siang.

"Sedang apa kau di sini?" suaranya sama sekali tidak ramah, persis seperti tadi siang. Namun detik berikutnya intonasinya terdengar lebih ringan. "Kau mau makan di Restoran Nara?"

Kulirik kain merah bertuliskan 'Restoran Nara' yang tergantung menutupi seperempat bagian atas pintu. Restoran? Bangunan ini terlalu sepi untuk menjadi sebuah restoran.

"Kau mau makan?" ulangnya dengan nada tidak sabar. "Kalau mau, akan kupanggilkan Shikamaru."—dan dia masuk ke balik pintu bergantungkan kain begitu saja, meninggalkanku di luar sendirian.

Tak berapa lama, seorang pemuda dengan rambut kuncir keluar bersama-sama dengan pemuda bertubuh gempal dan orang yang tadi. Kukenali ketiganya sebagai orang yang menguping pembicaraanku dengan Kakek tadi siang.

"Kalau mau makan langsung masuk saja," si rambut kuncir berkata dengan nada datar. "Tenang saja, kami tidak menjual makanan beracun."

"Aku tidak—"

Kruukk ckckck...

Perutku yang keroncongan tidak ekuivalen dengan penolakanku barusan. Si pemuda gempal nyengir.

"Ayo, masuk saja. Tidak usah takut."

Berhubung tidak punya pilihan lain, aku memutuskan untuk mengikuti mereka masuk ke dalam Restoran Nara.

.

.

.

.

Di atas meja terhidang semangkuk nasi hangat, sup miso dengan uap mengepul, dan piring kecil berisi tempura yang baru digoreng. Aromanya begitu lezat, membuat air liurku nyaris menetes. Tiga pasang mata menatapku, memperhatikan gerak-gerikku.

"Ittadakimasu[1]." Pelan, aku mengucapkan selamat makan dan memisahkan sumpit kayu yang semula menempel. Sedikit-sedikit aku menyantap makananku. Rasanya enak.

"Bagaimana?" tanya si pemuda nanas ketika aku meletakkan sumpitku di atas tumpukan mangkuk kosong. "Sudah kenyang?"

"Ya," aku mengangguk. "Gouchisousama deshita[2]."

"Kau masih mengingat kami?" tanya pemuda gempal yang duduk di sebelahku. Ia mengulurkan tangannya. "Namaku Akimichi Chouji."

"Bukan!" sambar pemuda jabrik dengan tato merah memanjang di kedua pipinya. "Dia Nikujin! Hahaha..." Menyadari aku tidak tertawa sama sekali, ia meringis. "Namaku Inuzuka Kiba."

"Dan ini—" Akimichi menunjuk pemuda kuncir di hadapanku, "—Nara Shikamaru, putra pemilik restoran ini."

Nara hanya mengernyitkan keningnya sedikit. "Hmmm..."

"Kau bisa memanggil kami Chouji ("—Nikujin!" seru Kiba), Kiba, dan Shikamaru." Krauk! Chouji mengunyah beberapa keping biskuit berbentuk segi enam. "Siapa namamu?"

Dalam hati aku merasa heran. Mengapa mereka bersikap seperti ini kepadaku? Apa jangan-jangan—

"Shimura Sai," jawabku singkat, "dan kalau kalian ingin menanyakan perihal tadi siang... lupakan saja. Aku tidak akan bicara apa pun soal itu."

Ketiganya saling bertatapan, kemudian wajah malas Shikamaru beralih kepadaku. "Bukan, baka. Untuk apa kami peduli dengan urusanmu? Merepotkan..."

Aku terdiam. Baru kali ini ada yang tidak memaksaku seperti ini. Seumur hidup, Kakek selalu memaksakan kehendaknya padaku.

"Kami bersekolah di SMA Konoha," kata Chouji mencairkan suasana. "Kalau kau mau, kau bisa mengunjungi sekolah kami."

"Murid Iwa, ya?" Kiba menyela sebelum aku sempat menyahuti kata-kata Chouji. "Seragam di sana ke-reeeeeenn~ Hanya saja aku lebih suka gakuran[3] dan... yah, keuangan keluargaku terbatas."

"IA bukan tempat menyenangkan seperti yang kau duga." Aku menunduk dan memainkan sumpitku yang belum dibereskan. Tidak ada pelayan seperti restoran mahal di sini. Entah karena hari sudah larut malam atau begitu adanya di restoran tradisional seperti ini.

Kedua pasang mata itu terlihat tertarik—kecuali mata Shikamaru yang tampak mengantuk.

"Aku benci bersekolah di sana; Kakek yang menyuruhku." Senyuman pahit tanpa sadar tersungging pada bibirku.

"Mungkin suatu hari kau harus melihat sekolah kami," kata Kiba. "Ada guru baru yang menjengkelkan, tapi dia tidak memaksa kami untuk terus berada di kelas. Yah, dia kan tidak tahu kalau kami sering membolos..."

"Sekolah itu merepotkan," komentar Shikamaru pendek, dan ia menerima lemparan biskuit dari Chouji—tepat mengenai kepalanya. "Hei!"

Ketika pemuda berwajah malas itu mengambil biskuit yang barusan dilemparkan Chouji dan berniat memakannya, tangan besar Chouji terulur. "Kembalikan biskuitku, Shika."

"Tidak." Krauk! Shikamaru memakan kepingan segi enam itu tanpa peduli reaksi Chouji.

"Aku juga mau, dong!" Kiba mencondongkan tubuhnya menyeberangi meja dan berusaha meraih kantong biskuit Chouji. Terjadilah aksi tarik-menarik antara keduanya, yang tentu saja dimenangi oleh Chouji yang berhasil menyelamatkan makanannya. Namun Kiba berhasil mengambil beberapa biskuit dari pemuda bermata sipit itu,

Ada perasaan ringan di sini, perasaan yang tak pernah kurasakan selama bersekolah di Iwagakure Academy.

.

.

.

.

"Dari mana saja kau?"

Aku tahu ini akan terjadi. Kakek menungguku di ruang tamu dan menyambut dengan wajah garang ketika aku melewati ambang pintu.

"Makan." Tak kupedulikan kemarahannya yang semakin memuncak. Aku ingin ke kamarku. Berusaha melukis atau apalah, yang penting tidak usah berada dalam satu ruangan dengan Kakek. Ketika nyaris mencapai tangga, kulihat Kakek berdiri dari sofa dan mendatangiku.

"Jelaskan apa maumu," nada suaranya rendah dan berbahaya. Bibirnya terkatup membentuk garis lurus pertanda ia menahan kesabaran.

Tenang, kujawab permintaannya. "Aku tidak mau bersekolah di Iwagakure Academy lagi."

"Tapi kau akan melanjutkan usaha keluarga!" kini ia membentak. Aura mengintimidasi menguar dari tubuhnya. "IA adalah sekolah terbaik di Tokyo!"

"—bukan yang terbaik untukku. Aku ingin menjadi seniman dan tidak akan bersekolah di sana." Satu demi satu kulangkahi anak tangga, secepat mungkin tanpa menambah kemarahan Kakek. "Pokoknya aku akan pindah sekolah."

"Ke mana?" cibir Danzou-jiisan, kedua lengannya terlipat di depan dada. "Ke mana kau akan pindah sekolah?"

Aku terdiam. Aku sama sekali tidak tahu akan pindah ke mana. Satu-satunya sekolah seni yang paling dekat berada di pusat kota, dan aku tidak mungkin menempuh perjalanan pulang-pergi selama lima jam tiap harinya.

"Tidak ada, bukan?" Pria tua itu melembutkan suaranya. "Sudahlah, Sai. Jangan keras kepala. Kau bisa melukis sebagai hobimu, tapi—"

Sebuah sekolah terlintas dalam pikiranku.

"—kau harus tetap bersekolah di Iwagakure Academy, kemudian masuk ke Todai untuk mendapatkan—"

"—SMA Konoha."

"Apa?" Kening keriput Kakek mengernyit, membuat garis-garis itu semakin jelas terpeta pada permukaan kulit tuanya. "Apa katamu tadi?"

"SMA Konoha," ulangku dengan nada yakin. "Aku akan pindah ke SMA Konoha."

.

.

.

.

Aku sendiri tidak tahu apa yang merasukiku semalam.

Mungkin pikiranku yang kacau mengakibatkanku memilih sekolah ini secara random. Mungkin juga karena satu-satunya yang terpikir adalah nama sekolah yang disebutkan Chouji semalam. Mungkin juga karena teringat interaksi pertemanan mereka yang begitu menyenangkan.

Pokoknya, apa pun itu, aku sudah berada di dalam kantor guru, berbicara dengan seorang pria berambut menentang gravitasi yang mengurus berkas-berkas kepindahanku.

"Jadi kau akan mengalami percobaan sekolah di sini selama tiga bulan." Pria bernama Hatake Kakashi-san itu membaca surat keterangan yang dibuat oleh Kakek. "Bila beberapa hal terlihat memungkinkan bagimu untuk menyelesaikan pendidikan di sini, kau akan resmi bersekolah di sini."

"Ya," jawabku sambil melirik map berisi lembar-lembar administrasi di meja miliki Kakashi-san—demikian tadi ia menyuruhku memanggilnya.

"Tidak perlu memanggilku sensei bila kau tidak mau." Kini pria itu berdiri dari kursinya dan menutup map. "Kelas yang akan kau masuki tidak berisi banyak murid. Mungkin kau tahu bahwa SMA Konoha bukanlah sekolah terkemuka seperti sekolah lamamu."

"Yah," aku ikut berdiri dan mengekorinya keluar ruang guru. "Sebenarnya aku tidak peduli akan bersekolah di mana. Yang penting aku bisa lulus tanpa harus bersekolah di IA."

Pria itu tersenyum. "Apa kau punya cita-cita?"

"Tentu saja, aku akan menjadi seniman hebat."

"Baiklah." Kami berhenti di depan sebuah pintu geser yang tertutup rapat. Kuduga, di balik pintu itu adalah ruang kelas baruku. "Apa kau siap menemui teman-teman barumu?"

Aku mengangguk dan masuk ke dalam ruangan, mengikuti pria yang berjalan di depanku. Sesekali kuedarkan pandangan pada sekelilingku. Walaupun tidak termasuk kategori megah, baik lorong yang kulalui tadi maupun ruangan yang kini kumasuki bisa terbilang nyaman. Walau tidak sebagus interior di Iwa, tempat ini cukup memadai untuk dikatakan sebagai sekolah.

Tujuh pasang mata tertumbuk kepadaku, dan aku balas menatap mereka. Tadi Kakashi-san mengatakan bahwa di dalam ruangan ini ada orang-orang yang akan menjadi teman sekelasku.

Aku sama sekali tidak kaget mendapati mereka menatapku dengan tatapan acuh tak acuh. Satu-satunya hal yang membuatku kaget adalah... betapa sedikitnya jumlah mereka.

"Anak-anak." Pria berambut perak itu berdiri di depan papan tulis yang catnya mulai mengelupas. "Shimura Sai telah memutuskan untuk ikut belajar bersama kita selama beberapa waktu. Buatlah dia merasa nyaman di sini."

Karena tidak memiliki ide lain untuk menyahuti kata-kata Kakashi-san, aku hanya mengangguk sopan ke arah mereka.

"Di mana aku duduk?" tanyaku pada Kakashi-san, dan beliau menunjuk meja kosong di belakang seorang gadis berambut pirang. Tanpa banyak membantah, aku berjalan menuju tempat baruku.

Ketika melewati meja Chouji, kulihat ia tersenyum kepadaku—tangannya sibuk merogoh kantung cemilan dengan serpihan makanan menempel di wajahnya. Lalu aku melewati meja Kiba dan mendapati pemuda itu menyeringai. Naruto yang mejanya berada di sebelah meja Kiba pun memamerkan cengiran lebar.

Satu tarikan napas dan aku duduk di kursiku.

Mereka sama sekali tidak berusaha membuat kehebohan yang berarti, hanya duduk diam. Diam bukan berarti menggubris Kakashi-san yang kuketahui sebagai guru mereka. Diam hanya berarti tidak membuat kegaduhan, tetapi mereka sibuk dengan hal-hal yang sedang mereka lakukan.

Shikamaru sedang telungkup di mejanya, tertidur.

Chouji sibuk mengunyah tanpa suara.

Kiba dan seorang pemuda berambut pirang sedang sibuk dengan kegiatannya sendiri-sendiri. Kiba sedang sibuk mencoret-coret di atas secarik kertas, sedangkan si pirang jabrik sedang bersenandung tanpa suara sambil mengetuk-ketukkan jemarinya ke atas meja.

Pemuda berwajah datar di ujung sana sedang mendengarkan sesuatu dari headphone yang mengganjal telinganya.

Gadis berambut merah muda yang duduk di depan pemuda itu membaca buku, entah buku apa. Gadis itu satu-satunya yang tidak mengacuhkan kedatanganku. Hanya menatapku sekilas ketika Kakashi-san memperkenalkanku di depan kelas tadi.

Dan yang terakhir, gadis pirang di depanku. Dari tadi ia sibuk merias wajahnya yang menurutku sudah cukup manis tanpa dempulan make-up yang ia kenakan.

Sebelum aku sempat mengamati ruang kelas baruku lebih jauh lagi, Kakashi-san telah meminta perhatian kami dengan cara mengetukkan buku-buku jarinya pada permukaan meja guru.

"Tidak adakah yang ingin bertanya kepada Sai?" tanyanya dengan nada serius. Pandangannya berpindah kepada satu persatu pasang mata kami.

Pemuda pirang mengacungkan tangannya, namun sebelum ia sempat menyuarakan apa yang ada di pikirannya, sebuah suara sudah menyela.

"Untuk apa dia pindah ke sini?"

Aku menoleh mencari siapa pengaju pertanyaan itu, mendapati pemuda berwajah datar di ujung sanalah yang bertanya. Wajahnya tidak berkesan ingin tahu, ia lebih terlihat ingin menyudutkanku.

"Yang pasti," Kiba segera menjawab sebelum aku berinisiatif untuk membalas kata-katanya, "bukan untuk bertemu denganmu, Uchiha."

Begitu, jadi nama pemua berambut raven itu Uchiha.

Rasanya nama itu begitu familier.

"Memang bukan," sahutku dengan nada ringan. "Aku hanya ingin menjadi seniman, dan aku tidak perlu mengikuti pendidikan formal di sekolah elit untuk menelurkan kecintaanku pada seni."

Pemilik rambut sugarplum di ujung kiri mendengus—entah karena apa, aku tak mengerti. Apa ia tersinggung karena kata-kataku?

Selain pemuda Uchiha dan gadis pink yang tampak tidak senang dengan kedatanganku, penghuni kelas lainnya cenderung lebih santai menerima keberadaanku di SMA Konoha. Anggap saja Shikamaru yang sedang tertidur dan si Pirang pengguna dempul sebagai pihak netral—pemuda pirang bermata aqua, Kiba, dan Chouji tampak senang-senang saja.

Menurutku, sih.

Bunyi ketukan ruas buku pada permukaan meja menyadarkanku dari observasi sekitar, mengembalikan keseluruhan fokusku pada sosok pria di depan sana. Sepertinya dia akan mengatakan sesuatu. Kalau di Iwagakure Academy, ketukan buku berarti tes kecil.

...hari pertama sudah ada tes kecil? Ya ampun.

"Baiklah," tatapan mata Kakashi-san beralih dari satu-persatu pasang mata kami, "kita akan memulai pelajaran hari ini—kebetulan sekali seisi kelas lengkap."—saat mengatakan itu, ia bergantian menatap Shikamaru yang sudah setengah terbangun, Chouji yang segera menyurukkan kemasan makanannya ke bawah meja, dan Kiba yang berhenti mencoret-coret. Sepertinya mereka sering membolos kelas. Ketiga orang itu hanya memamerkan cengiran, memasang wajah tak bersalah.

"Keluarkan alat tulis kalian dan selembar kertas."

Ternyata, sistem di SMA Konoha dan Iwagakure Academy sama, guru akan memberikan tes kecil setiap harinya.

Tanpa banyak protes, mereka semua mengeluarkan alat tulis dan kertas—walau wajah mereka dipenuhi guratan tak senang. Aku setuju, tidak ada yang menyukai tes, bukan?

Namun Kakashi-san tersenyum melihat ketidaksetujuan di wajah kami. Bibirnya terbuka, dan mengatakan sesuatu.

"...Keluarkan semua yang ada di kepala kalian. Pelajaran kita hari ini adalah brainstorming."

"HAH?" adalah satu-satunya respon yang terlontar tanpa sadar dari kami masing-masing, termasuk aku. Terutama aku. Yang benar saja... brainstorming?

"Kakashi-san," kuacungkan tanganku untuk menyela sebelum ada di antara yang lain memberikan respon tambahan terhadap perintah Kakashi-san. Ketika ia mengedikkan dagunya pertanda aku boleh melanjutkan kata-kataku, aku segera berkata, "bukankah brainstorming itu kegiatan seniman, musisi, atau penulis untuk mencari ide?"—bola mataku menyapu seisi kelas—"Apa tidak salah menyuruh tujuh perdelapan kelas yang bukan golongan itu untuk... melakukannya?"

Aku terdiam setelahnya, mendadak merasa menyesal mengutarakan pendapatku. Terakhir kali aku bersikap seperti ini di Iwagakura Academy, Danzou-jiisan dipanggil untuk menghadap kepala sekolah dan memberiku detensi berat di rumah.

—namun ternyata kali ini tidak.

Bukannya marah atau bagaimana, Kakashi-san malah tersenyum. Aku mengerjapkan mata dan mengalihkan pandangan untuk memperoleh visualisasi reaksi dari yang lainnya. Mereka diam saja, seolah-olah kata-kataku barusan hanyalah angin lalu.

"Sai," nada suara Kakashi-san jauh dari kategori menegur, "yang memerlukan ide bukan hanya seniman, musisi, dan penulis." Aku tertegun—"Setiap entitas memerlukan ide... untuk melangsungkan sebuah permainan yang bernama kehidupan."

Tidak ada suara lain di kelas selain suara guru berambut perak itu.

"Mencari cara terbaik untuk menang pada akhir kehidupan, memodifikasi lebih dari sejuta trik agar bisa bertahan hidup pada alur yang terbaik, mengupayakan segala cara demi mengorek informasi untuk inovasi diri—yang kau perlukan untuk menjadi seseorang yang kreatif seperti itu hanyalah ide." Ucapannya mantap dan memotivasi, Kakashi-san sama sekali tidak terlihat menggurui. Kata-katanya seolah... memacu kami. Atau aku, secara khususnya. "...Dan kemauan untuk menerapkannya."

Satu-satunya yang bisa kulakukan hanya mengangguk.

"Nah," kini guru itu—ya, kurasa aku bisa menyebutnya dengan sebutan guru—berpaling ke arah lain, "sekarang lakukan apa yang kuperintahkan barusan, Anak-anak!"

Tanpa ragu aku mengambil pena dan menuangkan semua yang ada di kepalaku pada permukaan kertas yang putih dan bersih. Tulisanku kacau dan penuh coretan, isinya pun meloncat-loncat, tidak terpaku pada suatu tema yang tetap.

Tapi aku menyukainya.

Menyukai sekolah ini.

.

.

.

Malam itu, tanganku menari lincah di atas kanvas, menggoreskan kuas berlumur cat minyak tanpa kebimbangan sedikit pun. Menimpa sketsa yang kubuat dengan pensil lunak sebelumnya, kini isi lukisanku mulai terlihat.

Aku melukis sebuah ruangan yang tak terlalu besar, dengan bangku-bangku sederhana dan meja guru tua serta papan tulis dengan cat mengelupas.

Kelasku, tempat yang mengundangku.

●●●To be Continued●●●

[1] Ittadakimasu = selamat makan
[2] Gouchisousama deshita = terima kasih atas makanannya
[3] Gakuran = seragam anak laki-laki yang umumnya berwarna hitam dan memiliki luaran yang berkancing sampai sedikit di atas leher. Biasanya dipasangkan dengan seifuku (seragam sailor untuk anak perempuan)

Author's Bacot Area

Gah, apa-apaan ini -_- Sai-nya sentimentil, beda banget sama di UGUTR #gegulingan

Hai! Lama tidak meng-update cerita ini, hahaha XD Sebulan ada deh. Kelamaan pakai 3rd POV bikin 1st POV saya makin kaku, huhuh T_T

Sampai saat ini sudah ada 7 orang muncul, tentunya kalian tahu siapa pemilik POV ke-8 :3

Chapter kali ini agak panjang dan terkesan buru-buru. Maaf ne, saya berusaha memadatkan semuanya agar salah satu bagian yang saya tunggu-tunggu bisa muncul tanpa gangguan di chapter depan! XD

Review reply area:

Rokka Nishimiura ini anak kenape lagi? ==a Abal, soalnya ga bisa ngedeskripsiin secara jelas, tapi untung sejauh ini ga ada yang komplen soal yang satu itu, hihihi~ Bikin atuh friendship, lagi demen genre itu soalnya XDD Iya, masih lanjut lamaaaa, jadi nyantei aja :D

embun pagi ayyyyy~ makasih udah nge-review dari awal! Tau aja kalo bakal panjang hehehe :3 Selamat juga buat Tanpa Batas, hehe. Sayang ga menang ;;_;;

Dae Uchiha eheemmm~ jelas-jelas aku berbakat di semua genre #dibunuhramerame bercandaaaaa, aku ga bisa bikin yang ohcocwit gitu pokoke, hahaha. Ih, emang sengaja dipendekin, kan biar pengenalan karakter dulu (pengenalan kok panjang amat). Makasih udah suka :3 Seneng karakter yang dimaksud berhasil keluar XD Ohoho, makasih atas semua pujiannya~ (p.s: aku ini bunglon, berubah dari satu fic ke fic lainnya)

Sukie 'Suu' Foxie iya neh suu, ffn ngilangin spasinya tanpa sebab -_- belom sempet dibenerin pula DX biar dong ShikaKibaChou~ bosen daku sama trio canon-nya~ #plak BETUL SEKALI! Konfliknya masih panjang, ini cuma step by step menuju ke sana XD hadeuh romens, aye anjlok di sana -_-

Sorane Midori eaaaaaaaa~ Shikamaru itu punya saya ;p 'BRAK!' itu si Sai nendang tiang ato mukul meja gitu, lupa. Ehehehe~

.

Makasih buat kalian yang nyempetin review, juga buat yang baca tanpa ninggalin jejak :) Senang rasanya liat fic ini di jajaran nominasi IFA 2011—fic yang ga seberapa ini~

Me ke aloha,
mysticahime™
Bandung, 29122011, 01.42