It's the seventh chapter! Yehet!
Besok ulangan diriku ini, *crying so hard* ㅠㅠ
Tapi gimana lagi, anak sekolah ya kayak gini, takdir mah gitu.
Anyway, aku mau belajar tapi gak ada motivasi sama sekali, so I ended up updating this fanfic, LOL.
Enjoy the story!
Chapter 7: Heart Attack
Pintu terbuka lebar, memperlihatkan Jongin yang nafasnya berderu.
"Sebang-nim!" Seru Kyungsoo, menatap suaminya yang terengah setelah mendobrak masuk tersebut. "Ada apa? Apa yang terjadi?" desaknya.
"Aku tak apa-apa." Jawab Jongin, mengelus pelan rambut istrinya sebelum beralih ke gadis bumi yang mengalihkan pandangan melihat mereka. "Baekhyun, sepertinya kau harus melihat ini."
Mata Jongin dan Kyungsoo saling menatap, memancarkan sebuah pengertian yang sulit ditangkap oleh Baekhyun. Sebelum dia sempat bertanya, wanita itu menatap Jongin khawatir. "Apa aku harus ikut?"
Pria itu menggeleng pelan. "Jangan, itu tak bagus." Dia mengelus perut Kyungsoo yang sedikit menggembung.
Baekhyun juga baru teringat bahwa Kyungsoo tengah mengandung. Apa ini hanya perasaannya, atau perut Kyungsoo semakin membesar dalam hitungan hari?
"Memang kenapa? Apa yang terjadi sebenarnya?" desak Baekhyun dan pasangan itu menatapnya nanar. Tatapan kedua pasang mata tersebut membuatnya sedikit gugup, mereka tampak... penuh simpati.
"Ayolah." Jongin membawa Baekhyun keluar setelah menerima anggukan pelan dari Kyungsoo, yang tak ikut dan hanya terus duduk di atas tempat tidur Baekhyun.
Baekhyun mengikuti Jongin ke tempat pengobatan, membuat gadis itu semakin bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dia tergelitik untuk bertanya, tapi langkah pria itu begitu tergesa-gesa dan membuatnya sulit untuk mengimbangi langkahnya apalagi bertanya.
Mereka bertemu Chanyeol di tengah perjalanan. "Hyung-nim." Sambut Jongin, sedikit membungkuk, membuat Baekhyun melakukan hal yang sama. "Kami akan menengok me-"
"Aku tahu." Potong pangeran itu. "Aku akan membawanya sekarang. Kau temani saja Kyungsoo, dia pasti juga terguncang." Sepupunya kemudian hanya mengangguk dan meninggalkan Baekhyun bersama sang putra mahkota.
Hal itu membuat Baekhyun setidaknya lebih tenang.
"Dari tadi tak ada yang mau menjelaskan padaku, apa sebenarnya yang terjadi?" tanyanya, memberanikan diri. Dia benci ketidaktahuan, dia benci ketika orang lain merahasiakan sesuatu darinya. Raut wajah Chanyeol menggelap, "Jeoha?"
Pria itu menggenggam tangan Baekhyun dengan perlahan, meninggalkan rasa merinding di kulitnya. "Jangan membenci kami, ini juga sangat mengguncang." Gadis itu mengangguk pelan dan Chanyeol membawanya terus ke ruang mengobatan.
Baekhyun tak dapat mempercayai penglihatannya. Ini gila. Ini tidak terjadi. Ini tak mungkin terjadi. Air mata gadis itu mengalir melihat siapa yang tergeletak di ranjang mungil tempat mereka meletakkan tubuh pasien yang tak sadarkan diri.
Chanyeol menyentuh pundaknya dari belakang dan gadis itu melemas, membuatnya menariknya perlahan.
"Luhan." Bisiknya, menatap tubuh tak berdaya sahabatnya yang dibalut perban, pucat dan tak sadarkan diri. Disampingnya adalah Sehun, dengan luka yang sama, di bahunya.
"Tak apa, mereka tak apa..." Chanyeol terus mendekapnya sementara Baekhyun gemetaran akibat menangis.
Dia tak pernah percaya ancaman sesungguhnya hingga hari ini. Hingga hari dimana dia melihat sahabatnya tak sadarkan diri, bahu kirinya berbalut perban bersama pacarnya.
Habislah sudah masa-masa polos Byun Baekhyun.
Dia rindu masa dimana dia bekerja serabutan untuk makan sehari tiga kali. Lebih baik itu sepertinya, mengantar susu lebih baik ketimbang melihat sahabatmu pucat tak bernyawa, setidaknya dia tampak tak bernyawa. Dan membaca buku fantasi dimana tragedi terjadi lebih menyenangkan daripada mengalaminya secara pribadi.
"Aku tak mau disini... aku tak mau..." dia tak sanggup melihat mereka seperti itu, dia ingin pergi ke sayap barat, tempat dimana kamarnya berada. Meringkuk sambil berdoa bahwa ini hanyalah mimpi buruk yang akan pergi ketika pagi menjelang.
Sekejap kemudian, Baekhyun merasakan dirinya berbalut rasa pusing. Warna-warni berputar di matanya. Tiga kejap, hingga dirinya sampai di kamarnya, masih berada di dekapan Chanyeol. Tidak, kali ini, dia berada di gendongannya.
Wajah Chanyeol sangat dekat ketika Baekhyun menatapnya dari ujung bahu pria tersebut. Dan ketika dia meletakkannya ke atas tempat tidur, gadis itu sudah sesenggukan lagi. Air matanya kembali turun dengan deras.
"Tak apa, mereka baik-baik saja. Itu di bahu, itu tak fatal." Chanyeol memeluknya, mengelus kepalanya lembut. Jika Baekhyun adalah Baekhyun yang biasa, dia pasti menolak, namun dia sadar betapa dia membutuhkan penenang saat ini. dan anehnya, pelukan Chanyeol lebih manjur daripada selusin stroberi yang biasa dia makan ketika sedang stres.
"Kau tak apa sekarang?" tanyanya, tepat ketika nafas Baekhyun mulai kembali normal dan air matanya berhenti. Dia mengusap pelan pipi gadis itu, "Mereka akan baik-baik saja. Luka di bahu itu tak fatal, aku sudah ser-"
Baekhyun hanya menatapnya ketika Chanyeol menghentikan perkataannya. Ada kemungkinan bahwa pria itu akan mengatakan kata 'sering' dan sekaget apapun Baekhyun memikirkannya, dia mengerti, dari cerita Kyungsoo, bahwa ada beberapa pihak yang tidak menyukai kekuasaan yang dimiliki Chanyeol.
Baekhyun yang lama pasti akan meminta Chanyeol untuk melepaskan tahtanya saja. Namun setelah melihat sahabatnya berbalut perban seperti itu, melihat penderitaan rakyat yang Chanyeol minta untuk dia sembuhkan, dia sangat yakin bahwa siapapun pihak itu, mereka bukanlah orang baik-baik. Baekhyun yang lama telah tidak ada.
Menghisap ingusnya, Baekhyun berdeham. "Aku akan membantumu." Ujar gadis itu. "Maaf jika aku ini suka ikut campur, tapi aku tahu ada yang tak suka denganmu. Mereka mencelakai Luhan, yang kuanggap sebagai kakakku, jadi aku akan membantumu melawan. Jangan menyangkal kalau kau ingin berjuang juga."
Chanyeol tersenyum, menatapnya. "Kau kan sudah akan membantuku sejak kemarin." Jawabnya, menunjuk buku catatannya di atas meja dekat tempat tidur. "Apa kabar catatanmu itu?"
"Aku melakukannya agar aku bisa pulang." Baekhyun mencebik. "Sekarang aku marah karena mereka mengusik sahabatku. Jadi aku tulus sekarang."
"Kau serius?"
Baekhyun mengangguk, "Serius, Seja-Jeoha." Chanyeol tersenyum menatapnya. Hingga akhirnya matanya berkedut dan dia berdiri.
"Temanmu sepertinya sudah sadar." Ujarnya dan membantunya berdiri, meletakkan tangannya di pinggang gadis itu dan sensasi pusing dan penampakan warna-warni kembali memenuhi pikirannya.
Butuh dua kali pengalaman bagi Baekhyun untuk mengatakan bahwa inilah rasanya berteleportasi.
Setibanya mereka di tempat pengobatan, mata Baekhun bertemu dengan Luhan yang telah sadar, sahabatnya tengah meminum sesuatu dari cangkir kecil ala masa Joseon dan tiba-tiba tersedak ketika melihat mereka berdua muncul tepat di depannya.
Sehun yang berada di sampingnya segera menepuk pelan punggung gadis itu, sementara dia kembali meminum minuman dari cangkirnya. "Kau memberinya nektar?" tanyanya dan Sehun mengangguk. "Sudah berapa cangkir?"
"Baru satu ini, Hyung-nim, tenang saja." Jawab yang lebih muda dan bertemu mata dengan Baekhyun yang masih didekap pinggangnya oleh sang pangeran. Sehun berdeham. "Hyung-nim." Dia menunjuk tangan Chanyeol dengan matanya dan pria itu segera melepaskan pinggang Baekhyun.
Gadis itu segera berlari ke arah sahabatnya. "Hei, kau kenapa? Bagaimana ini terjadi?" Baekhyun terus menembakkan pertanyaan ke arah Luhan dan membuat si blonde tertawa.
"Sabarlah, Baek, aku tak apa." Ujarnya dan meletakkan cangkir yang baru saja habis ke nampan. "Aku sudah tahu semuanya, Sehun baru menceritakannya padaku."
"Lalu?"
"Lalu apa? Ini misimu, Baek." Luhan mengguncang tubuh sahabatnya, "Astaga seolah Percy Jackson and the Olympians muncul di kehidupanmu..."
Sebenarnya, Baekhyun lebih suka jika yang ada di novel mitologi tersebut tetap berada di dalam halaman-halaman bukunya, namun dia tak mengatakannya.
"Luhan tak bisa pulang, terlalu berbahaya." Ucap Sehun dan menatap pacarnya, "sementara lukanya belum sembuh benar."
"Dia akan tinggal disini." Chanyeol menetapkan, "Aku yakin sayap barat masih punya tempat untuk ruangannya." Pangeran itu tersenyum.
"Maksudmu?" Dia tersenyum mengangguk pada Baekhyun dan gadis itu menjerit memeluk sahabatnya. Akhirnya dia tak perlu terlalu kesepian di ruangannya. Chanyeol ataupun Kyungsoo mungkin sering berkunjung, tapi dia tak begitu mengenal mereka, sehingga jika Luhan yang satu sayap dengannya akan lebih baik.
Luhan di El Dorado!
Bagi yang gak tau nektar disini, maksudku, berdasarkan referensi yang kubaca di novel PJO dan HOO, nektar adalah minuman para dewa yang biasa digunakan oleh para demigod untuk penyembuhan. Ancient Greece style. Tapi kalau diminum terlalu banyak, darah akan berubah jadi api dan tulang jadi abu, the point is you'll die.
Jadi gimana? Boring chapter, I know... tapi hunhan gak kenapa-kenapa, kaan... mereka gwaenchana kok, LOL.
Memang ada beberapa kejadian yang akan memilukan hati, menurutku sih, LOL, tapi mereka akan baik-baik saja.
Kalau ada apa-apa, kritik, saran, dkk, bisa ditulis di review karena itu sangat penting sebagai moivasiku untuk menyelesaikan fic 16 chapter ini...
Until next time,
Yoon Soo Ji, out!
Annyeong!
