Catatan tentang dunia vampir milik Author:
1. Pada umumnya vampir memiliki dua kebutuhan dasar: darah manusia dan kebutuhan seksual
2. Darah vampir memiliki efek ajaib guna meningkatkan vitalitas bagi manusia. Darah vampir memiliki banyak varietas tergantung usia bahkan pengalaman seksual. Sementara darah manusia bagi vampir berguna untuk kelangsungan hidup. Bagi vampir berusia tertentu sangat mungkin untuk tidak mengkonsumsi darah manusia dalam waktu tertentu. Vampir lain mengkonsumsi manusia untuk kepuasan batin.
3. Vampir tidak tahan dengan sinar matahari, kulitnya akan melepuh. Dalam jangka waktu tertentu, kulitnya akan terbakar.
4. Bisnis prostitusi ilegal vampir berterbaran di mana-mana tentunya. Di sini ada yang namanya vampire!fetishm bagi manusia
Case 2 (pt.2)
'Bloodsuckers'
Sebuah dunia di mana makhluk haus darah paling mengerikan adalah mereka yang mengincar keabadian.
Suara-suara kecupan dan hisapan menggema di dalam ruangan kapal.
Darah menetes dari luka, merembes ke kasur yang berkerut oleh tekanan dari tubuh yang meronta. Menghindari sentuhan dan sensasi, sang vampir menghentak-hentakkan kakinya yang direspon oleh para manusia dengan membawa bibir mereka ke bagian paha yang belum terjamah. Bibir dan lidah lainnya bergerak ke bagian dada. Mulut-mulut lainnya menyusuri sepanjang tangan yang telanjang. Perasaan mual repulsif menyeruak dari dalam dada sang vampir menyebabkannya hampir hilang kendali untuk mengoyak para mortal rakus di atasnya. Namun, ia memilih untuk memejamkan mata, berkonsentrasi pada suara deburan ombak yang menghantam badan kapal di luar sana.
Pemimpin para pemburu mengakhiri kontak sentuhan bibirnya dengan sebuah jilatan. Satu deheman darinya membuat bibir-bibir lain pun berhenti menyentuh. Selesai. Ini adalah keadaan di mana mereka membiarkan kondisi makhluk tawanan mereka pada level paling minimal.
Dengan absennya mulut dan bibir di sekujur tubuh vampir, kakinya melemas. Dadanya naik turun. Kepala terasa berat, wajah menyamping. Wajahnya terlihat kembali tenang secara misterius.
"Anda butuh sesuatu, Mr. Panda?"
Sang vampir tahu dengan pasti bahwa enam pasang mata manusia di dalam ruangan sedang menggilir tubuhnya di bawah tatapan yang begitu menghujam panas. Alih-alih menggeliat dan berharap agar bumi berbalik dan menutupi kepolosannya di bawah mata lapar para makhluk mortal, ia memilih diam, terbujur kaku seperti mayat.
Para pemburu berbisik kepada seorang rekannya. Dengan samar, tetapi bagi indera tajam si makhluk abadi, semuanya cukup jelas. mereka meminta dibawakan kamera untuk memotret bahan dagangan.
Si pucat tidak terusik, dengan tenang memerankan perannya sebagai makhluk berdarah dingin. Hanya pelipisnya yang berdenyut pelan.
"Tetap tenang, Mr. Panda? Bagus. tetaplah demikian sampai kami selesai memotret dan mengukur tubuh Anda."
"Lakukan saja yang kalian inginkan. Selagi masih bisa."
"Terima kasih, Mr. Panda." Suara ramah dan senyuman.
Proses pengukuran dan dokumentasi dimulai. Tangan-tangan menggerayangi. Pita lembut melingkari pinggang. Sederet angka diucapkan dan para pemegang memosisikan diri sedemikian rupa, memberi jarak dan tidak menghalangi pandangan. Jepretan. Kamera mengeluarkan suara renyah. Jari-jari kaki sang vampir mengepal dan kakinya sedikit menyilang.
Seperti menangkap reaksi si pucat, tangan sang pengukur menggerayangi nakal. Pita pengukur bergeser turun, melingkari pinggul sekaligus melilit bokong. Pita membelit tepat di atas bagian privat. Jemari kaki yang tadinya mengepal kini melemas kembali. Kedua tangan pucat mengepal menjadi tinju. Bulu-bulu halus di kaki kanan sang vampir meremang dari betis hingga ujung kakinya, mengundang tawa dari para manusia. Lilitan pita dilonggarkan. Pita yang berada di bawah tubuh ditarik perlahan, merayap di antara kasur dan punggung sang vampir. Kedua lengan diangkat, dada kini dililit untuk mencari angka yang dapat mewakili. Tangan yang menekan silangan pita menekan dada. Udara di dalam ruangan dihirup oleh sang vampir melewati sela gigi, dan taringnya yang semakin membesar menyembul keluar, berbunyi desisan. Sang vampir menggigit dinding pipi di dalam mulutnya ketika tali pengukur menggesek sengaja bagian sensitif di dadanya.
Suara jepretan kamera kembali menyalak.
"Baik. Ukuran tubuh yang mengesankan." Kemudian pita pengukur pun dilonggarkan untuk kemudian ditarik lepas.
"Sudah selesai, manusia?"
"Untuk saat ini, Tuan." Bunyi selembar kain bergemeresik di udara. "Maaf atas ketidaknyamanan Anda, tetapi kami akan memakaikan Anda pakaian kembali."
Tangan-tangan yang menahan lengan beralih menjadi penopang punggung, menjadikan sosok pucat itu duduk bersandar pada tangan-tangan kekar pemburu. Tercium sedikit aroma debu dan wewangian tidak dikenal. Pakaian yang disediakan adalah semacam jubah mandi. Bahannya tidak lembut tetapi cukup tebal. Sayangnya ketebalan bahan tidak diimbangi dengan ukuran yang memadai. Terlalu pendek. Kedua kaki pucat menyembul dari tepi jubah, memperlihatkan sepasang kakinya yang mana tangan-tangan rakus masih terus mengelus betis dan pahanya.
Salah satu dari pemburu menyaksikan sosok pucat di atas ranjang yang berdiam diri sejak pemakaian jubah dan saat sentuhan dari berpasang-pasang tangan melanda kakinya. Dalam kondisi ini, sang vampir terlihat bagaikan manekin anggun.
"Anda sungguh terlihat tenang, Mr. Panda." Asal suaranya menyatakan posisi sang pemimpin pemburu. Ia tidak termasuk di antara mereka yang sedang memegangi kakinya.
"Saya bukan Panda, Anda tahu itu. Itu bukan julukan yang pantas," balasnya, seraya menepis tangan-tangan dengan menghentakkan kakinya secara tiba-tiba. Tangan-tangan itu kembali, dan lebih banyak tangan lagi sepertinya, membuat gerakan meremas bagian panggul yang terbungkus jubah tebal.
Pemburu tersenyum mengejek. "Tentu bukan. Tetapi karena Anda begitu keras kepala tidak mau memberitahukan nama, maka salah satu cara untuk memanggil Anda adalah dengan julukan dari hal-hal yang memiliki kemiripan."
Pemburu yang lain mulai meremas-remas pinggul sang vampir yang terus melawan.
"Hentikan." Dengan gelisah menggeliat menghindari tangan itu. Suaranya tenang, namun napas berat dan suara tercekat dan tenggorokan sang vampir tidak bisa menipu mereka-mereka yang mendengarnya.
"Kenapa, Mr. Panda? Bukankah bagi vampir, sentuhan-sentuhan seperti ini sangat menyenangkan? Walau Anda tidak pernah melakukan kegiatan seksual, tetapi naluri vampir Anda pasti tergerak, bukan? Vampir punya dua kebutuhan yaitu darah dan seks. Anda ini aneh sekali."
"Saya tidak..." Kalimatnya terputus. Si makhluk pucat mengulum bibir dengan ekspresi tidak nyaman. "Saya berbeda..."
"Dapatkah Anda menjabarkan hal yang Anda maksud, Tuan. Semua vampir yang kami temui tidak seperti Anda. Anda menahan salah satu kebutuhan dasar vampir selama lebih dari lima abad. Sungguh fenomena yang menakjubkan."
Sang vampir terdiam sejenak, terlarut dengan sensasi dan pemikiran yang berkecamuk di dalam batinnya. Tubuhnya meronta, semakin lemah, sisa tenaga terbuang percuma walau tanpa usaha yang berarti. Tenggorokannya terasa menyempit oleh terkaan si pemburu, suatu hal primitif yang sudah ia buang sejak ratusan tahun silam dan sekarang ia dihadapkan oleh peristiwa yang akan segera terjadi tanpa bisa dihindari. Satu remasan keras pada sisi panggulnya membuat matanya membulat, namun tidak melakukan perlawanan kali ini. Ia tidak lagi meronta, hanya dadanya berat dan napas terengah. Udara meluncur keluar dari sela taringnya yang tajam mengancam. "Anda hanya belum pernah bertemu dengan kaum yang sejenis dengan saya."
"Kaum yang sejenis?" Pemimpin pemburu membungkukkan badan, membiarkan napasnya membelai sisi kanan atas rambut hitam sang vampir. "Apa maksud Anda masih ada para white chocolate berusia di atas satu abad lainnya? Menarik sekali jika memang benar. Para white chocolate yang pernah kami tangkap, meskipun dulunya ia manusia yang keras tentang hal seperti itu, tak butuh lebih dari beberapa tahun untuk menuruti naluri baru mereka. Mereka sekarang sudah menjadi bintang di klub-klub telanjang. Menjilat kaki pengunjung demi setetes dua tetes darah."
Suara tawa meledak di ruangan itu.
"Saya berbeda." Sang vampir mendesis, raut wajahnya tegas. "Kalian akan menyesal."
"Dengar, si cokelat putih manis ratusan tahun mengancam."Lima suara tawa yang berbeda menyambut kemudian. "Baik, Tuan. Kami tahu Anda mampu melakukan sesuatu. Tetapi dalam kondisi tubuh seperti ini, Anda tahu bahwa diam adalah pilihan terbaik, bukan?" Sebelah tangan sehalus sutra itu diraihnya, lalu material dari logam yang terasa menyengat kulit melingkari pergelangan tangan vampir. Tangan yang satu menyusul kemudian. "Tenang dan diam, Mr. Panda. Jika Anda melakukan hal yang tidak bisa kami toleransi, maka aku sendiri yang akan mengakhiri status cokelat putih Anda itu. Camkan itu baik-baik."
Melirik tajam kepada sang pemburu, walau terhalang oleh penutup mata, ia berkata, "Anda tidak akan melakukannya. Anda akan rugi besar, bukan?"
"Justru lebih merugikan untuk tidak menikmati suatu fenomena langka. Jika saya melakukannya, maka bisa dikatakan saya adalah orang yang luar biasa beruntung."
"Benarkah? Saya ragu Anda akan-" Geletar kecil di sekujur tubuh sang vampir mengunci mulutnya. Wajah si pemburu begitu dekat, napas lembab menerpa wajahnya dengan sapuan halus. Ia bisa mengukur selebar apa senyum seringai tanpa perlu melihat. Borgol di pergelangan tangannya sukses menghentikan geliat perlawanan.
"Ragu? Apa Anda sengaja memancing saya, Mr. Panda? Apa menelanjangi dan menggerayangi Anda tidak termasuk ke dalam hitungan bahwa kami sebenarnya sangat sanggup melakukan lebih, Tuan?"
"Dan Anda tidak melakukannya hingga detik ini, Tuan Pemburu. Lebih baik kita sudahi semua ini. Anda sudah mendapatkan apa yang Anda mau. Kapal ini sedang menuju ke Jepang, Anda akan mendapatkan uang Anda sebentar lagi. Pertimbangkanlah, jika saya sangat berharga, Anda tidak akan mau menyentuh saya lebih dari ini."
Tangan sang vampir yang terborgol kemudian diraih sang pemburu kemudian telapak kanannya disentuhkan pada sesuatu yang aneh terbungkus kain. Sesuatu yang agak keras dan memancarkan panas yang jika tanpa kain yang menahannya pasti hal yang dibaliknya akan tersembul keluar. Jemari pucat kemudian menyentuh deretan logam bergerigi yang ia tangkap sebagai... sebuah retsleting.
Pemburu menyeringai puas, berbisik, "Apa Anda mengira bahwa saya adalah orang yang sesabar dan mampu menahan diri? Memandangi dan menyentuh Anda sudah berimbas demikian pada tubuh saya. Jangan Anda kira bahwa semua hanya gertakan, Mr. Panda."
"...!?" Kedua alis sang vampir bertaut kebingungan, namun rasa penasarannya sirna dengan sentuhan material metalik. Sesuatu yang terbungkus kulit dan fabrik berbahan jeans berdenyut antusias di bawah sentuhan telapak dinginnya. Ia tersentak dan spontan menarik jari-jarinya, tapi tangan si pemburu menahan dan malah menekankan tangannya ke bagian gundukan hangat. Indera perabanya sudah bisa merasakan berkali lipat lebih tinggi dari manusia biasa.
"Menjijikkan. Lepaskan tangan saya."
"Tidak sampai Anda menurut. Dan sampai Anda yakin bahwa ini semua bukan gertakan," desah si pemimpin, memegangi tangan pucat tetap di atas sesuatu di balik lembaran kain. "Sampai Anda yakin bahwa..." Semakin membungkukkan badan, sang pemburu menjulurkan tangannya. Kulit manusia menyentuh ujung jubahnya, lalu tangan tersebut mengitari paha putih itu, meraba bagian bawah lalu merayap masuk. Gerakan tangan terhenti pada bagian bawah, di antara dua bongkah bokong dan hampir menyentuh lekukan otot kecil di sana. "... bagian ini..." Ia menggesekkan tangan sang vampir pada organ di balik kain, "...akan saya pertemukan dengan bagian ini," dan mengusap-usap otot lembut di bawah sana.
Sang vampir terkesiap tanpa ia bisa menghentikannya. Tubuhnya langsung bergejolak, menghentak ke belakang. Bagian tubuh yang disentuh langsung mengirimkan reaksi berupa rasa panas yang menebar hingga ke leher belakang, dan parasnya ikut memanas.
Para pemburu tertawa melihat peristiwa yang berlangsung.
"Hm?" Si pemimpin mendekatkan wajah. "Apa naluri dasar Anda mulai mengusik Anda, Mr. Panda?"
Si pucat memalingkan wajahnya dengan cepat. Parasnya masih diliputi syok dan ketegangan, yang perlahan berubah menjadi sekelumit emosi samar. Tangan yang dipaksa bersentuhan dengan sesuatu anggota tubuh si manusia ikut bereaksi, berkedut pelan. Tangannya ingin mengepal, tapi ia menahannya. Emosi hanya akan memperburuk keadaan. "Tidak." Ia berbicara akhirnya, "Anda ingin saya menuruti permintaan Anda? Saya sudah menyerahkan darah saya. Sebaiknya itu bukan gertakan serius."
"Apa ini terasa bukan gertakan serius?" Ibu jari sang pemburu memberi tekanan pada otot mungil tersebut. "Bilang saja jika Anda memang ingin agar kedua organ yang kita sentuh ini bertemu, Mr. Panda."
Seluruh otot di tubuh sang vampir terasa menegang detik itu juga. Ia manahan erangannya. "Sebaiknya Anda tidak melakukannya. Anda akan rugi besar. Ini tidak akan menguntung Anda dari segi apa pun."
"Telah kukatakan bahwa nilai Anda jadi berkurang, tetapi semua itu sangat sepadan dengan kepuasan yang akan kudapatkan. Dan, bukan tidak mungkin aku akan menjadikan Anda sebagai penghias tempat tidur pribadi secara permanen, Mr. Panda."
"Apa Anda yakin? Saya ragu apa rekan-rekan Anda akan menyetujui pengurangan nilai harga ini. Pengurangan yang saya kira berjumlah cukup besar."
"Dan aku tidak pernah mengatakan bahwa yang akan menikmati bagian tubuh yang kusentuh ini adalah aku sendiri, bukan?"
"...!"
"Pemulihan tubuh vampir sangat tinggi. Kau tahu apa artinya? Tuan."
Tubuh pucat bergerak-gerak gelisah, walau terbelit rantai perak menyakitkan, ia akan melawan hingga akhir. "Anda akan menyesal. Lebih baik kita berbicara. Kalian para pemburu mengenal arti kompromi. Tinggalkan saya dan bawa saya ke Jepang. Saya tidak akan berbuat macam-macam."
"Setelah dosis obat penenang Anda ditambah. Dan saat Anda sadar dan membuka mata kemungkinan Anda sudah berada di tempat tidur pembeli Anda. Diam dan menurut. Hanya itu yang kami perlukan.
"Anda akan menjual saya dalam keadaan tidak sadarkan diri?"
"Itu lebih baik bagi Anda sebenarnya, mengingat kemungkinan Anda akan ditelanjangi terlebih dahulu di hadapan para penawar jika keadaan meminta demikian."
"Anda tidak perlu melakukannya jika melepaskan saya sekarang. Saya akan berjanji untuk diam dan dibawa ke Jepang. Lakukan apapun yang kalian mau di sana. Bagaimana?"
"Baik. Deal," sahut si pemimpin setelah jeda sesaat. "Jika Anda melakukan sesuatu, percayalah, Anda tidak akan sampai ke rumah perdagangan."
"Tentu saya tahu konsekuensinya. Sebelumnya tolong lepaskan ikatan saya. Tangan dan kaki saya terasa seperti melepuh."
Tak menjawab. Ibu jari si pemburu mengusap bagian pribadi si pucat dengan menambah sedikit tekanan sebelum akhirnya melepasnya. Kemudian terdengar suara klik pada borgol dan logam yang melingkari tangan sang vampir sirna sudah.
Tangan pucat langsung mengepal menjadi tinju dan-
- bersandar di atas pahanya dengan gestur tubuh yang amat sopan.
Ia berbaring kembali di atas ranjang. Tangan bertumpu di atas perutnya yang datar.
Perjalanan memakan waktu beberapa hari hingga mereka tiba di salah satu sudut tergelap di pelabuhan tersembunyi di negara Jepang. Selama itu sang vampir tidak melihat apa pun di balik penutup mata hitamnya. Indera tajamnya mampu mendeteksi setiap pergerakan, bunyi-bunyian, bau asin garam lautan dan bau amis dari kantung-kantung darah, namun yang paling mengusik adalah suara jeritan awak-awak kapal dan guncangan keras pada suatu malam.
Kapal mereka berhenti mendadak sepertinya, beberapa jam setelah sang vampir mendengar kabar bahagia bagi para pemburu bahwa peminat barang dagangan mereka yang terbaru mencapai angka di atas 1000 orang. Penyerangan oleh pemburu gelap lain? Menarik. Barang yang diperebutkan tentu adalah dirinya.
Tubuh sang vampir diseret-seret dari tangan ke tangan. Kapal ke kapal. Begitu kakinya menapak di atas tanah, daratan, di bawah cahaya bulan dengan taringnya yang selama ini bersembunyi di balik bibirnya mengering pucat lebih dari biasanya, ia kembali menjadi jati dirinya. Rantai-rantai itu terlepas dari tubuhnya dan orang-orang yang menahannya terlempar, punggung para pemburu menubruk gudang-gudang kapal. Darah si vampir sendiri mengucur cukup deras ketika bergesekan dengan material perak. Apa pedulinya? Ia akan sembuh dalam sekejap. Lebih banyak lagi pemburu yang menerjang dari segala arah dan ia menahan kekuatannya seminimal mungkin untuk tidak mencederai mereka. Ia tidak mau kulit-kulit manusia itu tercabik, merobek daging, memercikkan darah. Ia meneguk ludah. Membayangkannya. Tidak. Setelah beratus-ratus tahun ia berhasil bereksperimen bersama Wammy untuk menyubstitusi kebutuhannya.
Sialnya ia berada di arena raksasa di mana tidak ada pintu yang terbuka baginya untuk mundur atau pun maju. Sang vampir kembali tertangkap hanya dalam waktu beberapa jam. Pemenangnya adalah salah satu kelompok pemburu yang paling elegan – sangat elegan karena sang vampir sendiri bahkan tidak merasakan bagaimana ia tertangkap oleh hanya satu orang yang menggulingkannya ke tanah dan menindih tubuhnya. Kekuatan manusia pemburu ini setara dengan vampir sejenisnya dan berbeda dengan yang pernah ia temui sepanjang ratusan tahun hidupnya.
"Puluhan. Ratusan. Jutaan. Milyaran. Sebenarnya aku mampu membelinya. Tapi uang malah mungkin tidak akan memuaskanku."
Kata-kata entah ditujukan kepada siapa sayup-sayup terdengar bersamaan dengan bayang-bayang manusia lainnya, sebelum seluruh dunia yang dilihat oleh mata sang vampir menghitam.
Dalam ruangan yang luas namun temaram, di sana dirinya berada. Duduk dengan agung di atas sebuah sofa besar. Mata cokelatnya tidak sepenuhnya tenggelam dalam bayangan gelap ruangan. Lingkaran perak samar membingkai bulatan matanya, hasil pantulan cahaya minim di atas perkakas kristal di atas meja di hadapannya. Di atas meja ukiran kolonial, di sebelah sisi sebuah berkas dokumen tertutup, terdapat sebuah gelas kristal dan sebuah botol yang terbuat dari bahan serupa. Botol tersebut terisi oleh cairan kental berwarna merah. Sang pemuda menjulurkan tangannya, mengangkat badan botol dan menuang isinya ke dalam gelas kristal kemudian mengangkatnya. Aroma manis menguap di udara. Satu sesapan mengurangi isi dari rubi cair di dalam gelas.
Dengan kecapan dalam, sang pemuda menilai rasanya dan memutuskan bahwa apa yang diminumnya tadi sangat sepadan untuk apa yang telah ia lakukan untuk mendapatkannya. Isi gelas menghilang di dalam tegukan beruntun. Sepasang matanya berubah menjadi lirikan tajam kepada sesosok makhluk ramping pucat yang tergeletak di atas tempat tidur.
Rasa hangat yang mengalir ketika suntikan bius menyebar dari dalam pembuluh darah sang vampir masih terasa hingga di dalam tidurnya. Terbit matahari pagi adalah waktu bagi kaum vampir untuk mundur ke dalam kegelapan, tapi kini sang vampir sudah tidur melebihi waktu tidur yang seharusnya. Dua hari, atau tiga hari mungkin sudah berlalu. Erangan perlahan keluar dari bibirnya, tubuh lelah berbaring di atas ranjang berukuran tempat tidur raja, berlapis bahan kasur berkualitas tinggi berwarna putih. Jemari lentiknya bergerak pertama kali, mencakar satin berlapis viscose licin di bawahnya. Kakinya bergerak kemudian. Lalu tubuhnya menggeliat pelan sekali. Cahaya bulan putih menerawang dari luar jendela kaca besar menyapanya pertama kalinya. Matanya berkedip dan terbuka perlahan.
Masih dalam keadaan setengah sadar, mata sang vampir menyebar ke langit-langit ruangan dan menemukan lampu-lampu kristal yang gemerlap, tapi diatur bercahaya amat redup. Seluruh indera di tubuhnya bekerja untuk menangkap situasi dengan cepat. Bau udara, debu halus bertebaran diterangi rembulan, wewangian anggur, suara detak jantung teratur manusia di dekatnya, sayu-sayup suara ibu kota dari luar gedung pencakar langit, cahaya dari jendela kaca, dinginnya kain seprai dan lembutnya deru suara angin dari pendingin ruangan.
Tanda-tanda kesadaran sang makhluk pucat menyerukan tanda bagi pemuda lain di ruangan untuk beraksi. Gelas kristal kosong diletakkan di atas meja kemudian dengan gagah ia bangkit berdiri. Sang pemuda yang masih berselimutkan kegelapan tidak segera menghampiri. Ia memutar arah, menuju sebuah rak berisi deretan gelas kristal lain dan beberapa botol berlabel nama-nama anggur. Dibukanya sumbat penutup sebotol anggur dan isinya dituang ke dalam sebuah gelas. Dengan gelas di tangan, ia maju mendekati sang vampir. Tiap langkahnya menguak tabir kegelapan. Sosok manusianya pun terpapar, ia tampan dengan rambut dan bola mata berwarna senada. Ia mengenakan pakaian formal. Tidak perlu mata seorang sosialita untuk membayangkan kucuran dana yang harus dikeluarkan untuk setelan yang sedemikian menawan. Ia terlihat sebagai manusia yang sempurna dengan kualitas bahaya di dalamnya. Monster tampan dalam balutan penampilan necis. Sang vampir pasti menyadari bahwa manusia ini lebih berbahaya dibanding sekelompok pemburu yang menculiknya dari kota asalnya di jantung Inggris.
Bunyi dentingan membuat sang vampir terjaga sepenuhnya. Ia mendengarkan suara bukaan sesuatu yang berbentuk botol, licin berdebu, minuman manis bergulir turun ke dalam gelas yang menjadi wadahnya. Bibir manusia tidak terlihat yang selalu membentuk seringai menempel pada pinggiran gelas kristal. Pemuda berambut cokelat kemerahan mengangkat anggurnya mengambil satu tegukan. Mata bulatnya menyipit. Melalui bantuan indera pendengarannya yang tajam, ia bisa merasakan bagaimana minuman dingin itu menggelincir masuk ke dalam tenggorokan si manusia. Mata si manusia tidak pernah melepaskan sosok vampirnya.
Ia sudah bisa melihatnya sebelum si pemuda beranjak menghampiri ranjangnya. Kegelapan adalah rekannya dalam berabad-abad lamanya, cahaya bulan seolah meredup ketika sosok penarik perhatian itu berdiri di sudut ranjang. Sepasang mata berwarna madu hangat yang pekat membalas tatapannya, menyembunyikan ancaman. Sang vampir ingat apa yang terjadi. Manusia ini merebutnya dari tangan para pemburu ketika ia melarikan diri. Apa niat dibalik sabotase ini, ia akan mengetahuinya sebentar lagi.
"Romanee Conti tahun 1975," ucap si pemuda asing nan tampan sembari menghirup aroma anggur di dalam cangkir. Sepasang mata cokelatnya terpejam seperti menikmati aroma anggur tersebut. "Anggur yang cukup bagus." Ia membuka mata yang langsung tertuju pada sang vampir sambil tersenyum hangat. "Tetapi jelas tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan apa yang baru saja kuminum sebelumnya." Ia melirik ke meja dengan botol dan gelas kristal lainnya selama sedetik kemudian memandang sang vampir kembali.
"Romanee Conti... Cros des clous." Sang vampir bergumam lambat-lambat, lalu menatap wajah sang pemuda, yang sekarang berjarak lebih dekat beberapa langkah dari yang sebelumnya. Ia memberikan tatapan tajam lewat mata, mencoba mencari celah untuk membongkar kepalsuan di balik senyum bersahabat itu. "Apa yang Anda inginkan?
Senyumnya tidak memudar. Dua jarinya memegangi kaki tunggal gelas kristal dengan kokoh sementara isisnya bergolak lincah seiring langkah yang diambil sang pemuda necis. Cahaya ruangan yang meskipun temaram mampu membuat sepasang sepatu kulit hitamnya berpendar samar. Semakin sempurna. Semakin terlihat penuh ancaman. Bibir tersenyumnya terbuka, siap melontarkan kata-kata beracun. "Aku yakin sebagai seorang vampir, Anda telah mengetahui apa saja kemungkinan hal-hal yang didinginkan manusia dari Anda."
"Ini adalah penculikan," sang vampir berasumsi ringan, merupakan suatu usaha kecil untuk mengisi kekosongan beberapa saat setelah si pemuda menjawab pertanyaan langsungnya. Dari mata sewarna batu amber tersebut, ia beralih menatap jendela kaca tinggi yang berbingkai dekoratif. Awan-awan berarak di langit malam cerah, cahaya bulan meredup kembali, menyisakan sedikit cahaya yang memantul dari gelas anggur di tangan si pemuda. Sang vampir menyipitkan sebelah matanya untuk melirik ke arah manusia yang sedang mengambil dua langkah maju ke depan. Lututnya menyenggol pinggiran tempat tidur yang empuk, memberikan sedikit getaran yang menjalar hingga ke tempat di mana ia berbaring. Satin halus dingin di bawah tubuhnya berkerut ketika ia mengambil posisi senyaman mungkin untuk beradu mata dengan si manusia.
"Penculikan? Menculik Anda dari para penculik yang bermaksud menjual Anda ke dalam bisnis perbudakan dan prostitusi vampir adalah hal yang baik jika begitu, bukan?" Si pemuda tertawa halus, tetapi jelas palsu. Matanya tak berhenti memandangi posisi duduk si makhluk abadi yang terlihat anggun tetapi begitu berhati-hati dengan balutan pakaian handuk. "Apa Anda ingin minum, Tuan Vampir?" Ia menggedikkan gelas kristal dan cairan merah di dalamnya berkeriak lembut.
"Tidak. Terima kasih." Mengetahui sang pemuda mengamati fitur tubuhnya, sang vampir menekuk kedua kakinya sebagaimana posisi duduknya yang biasa. Jempol menyelip di antara kedua bibir yang menyembunyikan taring yang mencuat. Kontrol dirinya telah kembali setelah beristirahat cukup lama. "Saya percaya Anda memiliki niat yang tidak jauh berbeda dengan para penculik saya sebelumnya."
"Sayang sekali. Bulan purnama. Anggur merah. Sungguh harmonis jika memadukannya." Si pemuda memutar tubuhnya sejenak menghadap jendela kaca yang terbentang luas sambil menyesap gelasnya lagi. Bulan menebar cahaya emas di atas cakrawala yang kakinya dipenuhi taburan bintang-bintang beraneka warna perwujudan gemerlap kota metropolitan. Sang pemuda misterius melempar pandangan dari atas bahunya kepada sang vampir. "Mengapa Anda berpikir sedemikian rupa?"
"Saya bisa melihatnya," kata sang vampir, memeluk kedua kakinya, dagu bertumpu di atas lutut kanan. Matanya yang tajam mengikuti gerak-gerik sang pemuda, yang mana di bawah cahaya bulan yang menerpa plus kerlap-kerlip metropolis, kulitnya menjadi berwarna gelap. Lampu kristal di atas tempat tidur berkedip meredup, hampir padam, meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan hanya dengan penerangan di luar kaca jendela. "Saya mencium wangi darah yang tidak jauh berbeda menguap sangat pekat dari Anda." Tatapan tajam menusuk langsung ke sebelah mata yang berpendar merah. "Anda memiliki wangi yang sama dengan yang dimiliki oleh para pemburu yang saya temui kemarin. Bahkan lebih."
Wajahnya terlihat datar, namun denyut nadinya sedikit bertambah cepat. Sang vampir membasahi tenggorokannya yang kering dengan liur, ia mengulum bibirnya sendiri. Matanya yang segelap malam seolah bisa menembus pakaian sang pemuda tampan, melihat apa yang mengalir di bawah pembuluh darah yang terbungkus oleh otot dan kulit.
"Tuan manusia, Anda mengkonsumsi darah kaum kami, benar? Anda adalah pemburu."
Tak menjawab. Ia menggerakkan gelas anggurnya dalam tarikan setrifugal, membuat pusaran gelombang pada isi gelas sebelum menyesap kembali. Matanya membulat tegas di antara redupnya lampu. "Memang demikian adanya. Hal ini merupakan hal yang populer, Tuan Vampir. Ini tidak mengubah kenyataan bahwa saya telah menjauhkan Anda dari tangan-tangan para pemburu itu, bukan?"
"Katakan apa yang Anda inginkan."
Si pemuda terdiam sejenak kemudian memasang senyum. "Hal pertama sangat sederhana. Saya ingin mengetahui nama Anda."
Sang vampir memasang senyum yang kurang lebih sama, tapi tidak mencapai matanya. "Apakah nama saya begitu penting? Terkecuali jika Anda mengharapkan untuk membina hubungan baik, dan saya meragukannya."
"Kecuali jika Anda lebih menyukai nama Tuan Vampir," balas sang pemuda lebih ramah. "Atau seperti julukan yang saya dengar? 'Mr. Panda'?"
Mengangkat bahu dengan santai, si pucat menjawab, "Terserah Anda."
"Baiklah. Mr. Panda kalau begitu. Saya bersulang untuk keindahan langit malam ini." Ia mengangkat gelas kristalnya ke arah sang vampir kemudian meneguknya. "Untuk langit malam yang indah dan sesosok indah di hadapanku."
"Kembali ke pertanyaan awal. Apa yang Anda inginkan?"
Pemuda tampan itu tertawa, ia hampir saja tersedak. "Pertama adalah nama dan Anda tidak menjawabnya. Bagaimana mungkin saya yakin bahwa Anda akan bersedia memberikan hal lainnya yang saya minta?"
"Bisakah kita abaikan formalitas?" Sudut bibir sang vampir terangkat naik, matanya menantang. "Saya akan diam saja."
Mata sang pemuda necis menjadi lebih tajam. Ia memutar arah tubuhnya dan melangkah mendekati makhluk di atas ranjangnya. "Baiklah. Katakan apa yang Anda inginkan kalau begitu."
"Lepaskan saya."
"Tentu saja. Tetapi melepaskan seorang vampir memerlukan banyak pertimbangan. Apalagi Anda bukan berasal dari negara ini."
"Tapi Anda memiliki kuasa untuk membantu saya kembali ke negara asal, benar?" Sorot mata sang vampir mendingin. "Langsung kepada poinnya saja, Tuan manusia yang terhormat. Apa yang Anda inginkan dari membawa saya sebagai tahanan Anda?"
"Baik. Sudah cukup basa-basinya kalau begitu." Si pemuda melangkah semakin dekat. Kemudian membungkukkan badan. Wajahnya menghampiri tawanannya yang segera bergerak menjauh. Tetapi sang pemuda misterius tidak peduli. Ia terus membungkukkan badan hingga hembusan napasnya membelai telinga sang vampir. "Aku ingin Kau menjadikanku vampir."
Mata sang vampir membulat perlahan.
"Kenapa?" Ia bergeming, berhati-hati melirik kepada wajah manusia yang begitu dekat dengannya.
Dan sepasang mata yang menukik tajam menyambutnya. "Sudah jelas bukan? Manusia..." Pemuda itu menunjuk telapak tangan dan pergelangannya yang dialiri pembuluh darah "...merupakan makhluk yang terpenjara dalam ketidakabadian. Sangat mudah membuat jiwa manusia lepas dari raganya. Sedangkan aku, dengan segala hal yang melimpah di dalamku, tidak cukup dengan tubuh mortal ini saja."
"Oh." Mata sang vampir mengerjap beberapa kali, sebelum menatap dalam kepada bola mata berwarna madu milik manusia pemohonnya. "Permohonan Anda ditolak. Menjadi imortal tidak selamanya menjanjikan hal melimpah itu untuk terus menyertaimu." Ia menahan napasnya ketika mencium wangi anggur dan darah. "Keabadian jauh dari kesan sempurna. Kau akan menyesal. Asupan darah vampir yang mengalir di dalam tubuhmu-" Mata obsidian sang vampir menjilat leher manusia di balik kerah putih tebal kemejanya sekilas, "-sudah cukup untuk menjadikanmu manusia luar biasa."
"Manusia tidak lepas dari kematian, Tuan, meskipun dengan darah vampir sekalipun. Keabadian merupakan hal yang tidak sempurna... bagi yang tidak sanggup dan tidak pantas menerimanya. Mampu melakukan banyak hal tetapi berada di kepungan teror akan kematian yang mampu memutus genggaman kita kepada apa yang bisa kita lakukan saat hidup. Percayalah, hal itu jauh lebih tidak menyenangkan."
"Wahai manusia yang tamak," kata sang vampir, melemparkan pandangan mencela, "dan haus kekuasaan. Saya sudah menjalani keabadian dalam kurun waktu yang terlalu lama untuk dapat menilai apakah Anda sanggup dan pantas mendapatkan keabadian. Jawabannya adalah, saya meragukannya."
"Delapan ratus enam puluh tiga tahun. Saya tahu hal tersebut. Dan Mr. Panda, aku yakin Anda mengatakan demikian karena tidak mengenalku."
Kedua alis sang vampir bertaut, serius, terus menatap pemuda itu tajam. "Kalau begitu buat saya mengenali Anda, Tuan-yang-tidak-saya-ketahui-namanya. Yakinkan saya jika Anda memang pantas mendapatkan keabadian tersebut."
Mendengus, si pemuda tampan berkata, "Membuktikan bagaimana? Dengan mengetahui teman-teman London Anda seperti Alizo yang berusia 505 tahun, Frauz Monaghan yang berusia 742 tahun, Samantha Dorse yang berusia 827 tahun, Katherinina yang berusia 943 tahun, Vince yang berusia 596 tahun, Elliene yang berusia 428 tahun dan teman-teman Anda yang lain yang membangun koloni di lorong bawah tanah Tower of London dan Big Ben telah cukup membuktikan kekuatan informasi dunia di tanganku?"
Sang vampir tidak sedetik pun melepaskan wajah dan mata sang manusia. Pupil mata madu itu menggelap, mengkilap dengan percikan rasa percaya diri tinggi dan ambisi yang nyata ketika ia berbicara. Beberapa saat setelah serbuan tatapan intens, sang vampir memalingkan wajah. Ia menatap bulan purnama di langit malam tanpa ekspresi.
Jeda yang cukup panjang, sang vampir berkata singkat:
"L."
Pemuda manusia membelalakkan mata. "Maaf?"
Sang vampir menoleh kepada si pemuda dengan wajah datar. "Ya?"
Garis wajah tegas si manusia berubah menjadi sedemikian rileks dan berbinar. Diktator tampan yang menggunakan topeng malaikat untuk menyembunyikan rupa iblis. Ia tertawa sedemikian ringan. Tawa yang terlalu lepas, jika berasal dari manusia berbahaya sepertinya hanya akan membangkitkan bulu roma. "Oh. Oh! Rupanya Anda adalah L Lawliet yang termasyur. Vampir yang mempertahankan virginitasnya dan lebih menyukai hidup secara individualistis di luar koloni besar vampir yang memiliki gaya hidup yang bertentangan dengannya. Vampir misterius yang bahkan hanya dapat kuketahui namanya saja."
L diam. Mata keduanya beradu sengit; Si manusia dengan santai dan arogansi, L dengan ketikdaksenangan yang jelas. L seolah berusaha mengiritasi dan melenyapkan raut bangga manusia di hadapannya lewat mata. Lalu, beberapa detik setelahnya, L mendengus, menahan gelak tawa, melontarkan senyuman separuh sinis separuh jijik. "Itu kah yang Anda dengar tentang vampir bernama L? Tidak keberatan jika saya menyebutnya lelucon yang cukup menyegarkan? Ini adalah pujian dari saya."
"Anda terlihat jijik, Tuan Lawliet." Pemuda itu berdiri tegak dan memandang L dari mata yang berada pada wajah yang memasang dagu terangkat tinggi. Gelas anggur digeletakkannya pada meja kecil di sebelah ranjang tanpa mengubah profil angkuhnya. "Jelaskan pada saya, apa yang mengganggu pikiran Anda sedemikian rupa?"
"Tidak, Tuan Pemburu."Ekspresi sinis di wajah L berubah datar dalam sekejap. "Saya tidak merasa jijik. Itu tadi adalah suatu bentuk kekaguman saya terhadap pengetahuan Anda yang sedemikian tinggi tentang kaum kami." L menatap sang pemuda tepat di mata seolah untuk meyakinkannya. "Sejauh mana Anda mengetahui vampir bernama L?"
"Mungkin Anda tidak akan suka mengetahui sejauh apa saya tahu perihal Anda. Tidak keberatan jika saya katakan jikalau demikian?"
"Silakan saja." Ibu jari L menyapu bibir bawahnya dengan satu gerakan lembut, mata memercikkan rasa penasaran yang samar, sekaligus seperti menantang.
"Baiklah." Si pemuda mengubah posisi tubuhnya menjadi lebih santai, memasang pose bersedekap. "Namamu L Lawliet. Lahir 31 Oktober tahun 1138 di London, Inggris. Ketika masa pergolakan dunia, Anda berkelana di seluruh dunia. Menetap 2 abad di pedalaman China, 56 tahun di Nepal, 76 tahun di negara yang saat ini bernama Rusia, 95 tahun berkelana di wilayah Transylvania, 29 tahun menetap di dekat Gunung Kilimanjaro, Afrika. Terlibat di dalam perang-perang legendaris dunia, bukan sebagai pemihak di antara kubu-kubu yang bertikai, tetapi sebagai salah satu pihak bawah tanah yang membantu para korban peperangan. Anda pernah menetap di Perancis, Domaine de la Romanée-Conti... "Melirik gelas kristal anggurnya "...kemudian bertandang ke Venesia, Italia untuk mengikuti pertemuan aliansi vampir ke 349 kali dalam sejarah. Anda menetap selama 15 tahun di sana, kemudian kembali ke Inggris menuju Winchester selama 32 tahun lalu kembali menetap di Italia. Setelahnya, Anda menghabiskan waktu Anda sepenuhnya di Inggris dan hidup nomaden. Ada catatan bahwa Sir Arthur Conan Doyle pernah bertemu dan berbincang dengan pemuda pucat misterius yang hanya memberi nama 'L' padanya, yang kemudian menginspirasinya untuk menciptakan tokoh fiksi legendaris Sherlock Holmes. Salah satu pelayan setia beliau kemudian mengaku melihat pemuda yang sama 50 tahun kemudian, tidak mengalami perubahan fisik sedikit pun dan berani bersumpah di usia lanjutnya. Indikasi bahwa pemuda 'L' itu bukanlah makhluk mortal. Kemudian Anda membantu menyembunyikan beberapa permata legendaris yang menjadi sengketa."
L Diam mendengarkan setiap detilnya. Ibu jari melekat di antara kedua belah bibir.
"Kemudian Anda membantu menyembunyikan beberapa permata legendaris yang menjadi sengketa selama periode tersebut seperti di antaranya adalah Koh-I-Nor yang kemudian menjadi milik pusaka keluarga kerajaan Inggris. Setelahnya, Anda menghilang dan muncul pada kebakaran besar London tahun 1940, dengan peran tak jauh berbeda dengan yang Anda lakukan selama peperangan sebagai pihak netral, penolong tanpa pamrih misterius yang segera menghilang setelah musibah usai. Tak ada lagi kabar dari L Lawliet selain kemunculannya pada pertemuan aliansi vampir ke 399. Selama hidup sebagai manusia, Anda adalah keluarga seorang bangsawan yang jatuh karena pemberontakan. Anda diubah menjadi vampir oleh legenda vampir Quillish Wammy dan hidup bersamanya selama 2 setengah abad."
L menggigiti ibu jarinya cukup kuat kali ini.
"Yang sangat terkenal dari Anda adalah... Anda mempertahankan virginitas Anda, menolak meminum darah manusia, menolak membunuh manusia. Sedemikian termashyur sehingga Anda mendapatkan julukan 'Saint from the Lost One'. Anda juga menggemari makanan manusia, terutama dari kalangan makanan manis dan bergula tinggi. Kesukaan makanan itu dipengaruhi oleh vampir legendaris Wammy, benar? Oh ya, tinggi Anda adalah 179 cm, berat 50 kg." Pemuda itu tersenyum tipis saat menyebutkan yang terakhir.
Wajah L teramat tenang, namun mendengar nama Wammy disebut-sebut, jemari-jemari tangan L yang bebas saling bertaut di atas lututnya, membentuk kepalan. Ada sedikit keterkejutan yang tidak bisa disembunyikan dari reaksi tubuhnya, sehebat apapun ia mengontrol kendali diri.
"Apakah ada hal yang tidak tepat dan kurang dalam apa yang saya ketahui, Tuan Lawliet?"
Ibu jari L bergeser dari sudut bibir ke sudut satunya, dimana di sudut itu bibirnya tertarik naik. Bukan seringai, bukan senyuman sinis. L tidak berhenti menatap wajah di hadapannya. Matanya tidak berkedip sejak awal si pemburu misterius menceritakan ulang jurnal kehidupan historikalnya.
L menantang dengan matanya. "Siapa Anda?"
"Aku?"
Pemuda itu menurunkan dagunya dengan sedemikian rendah sehingga kedua matanya menatap dari antara bingkai mata yang menelekuk sangat tajam. Cahaya dan kegelapan mengaburkan wajah tampannya seolah mengungkapkan separuh wajah iblisnya yang tersembunyi di balik topeng malaikat.
To be Continued...
