With Nagicha
With Chuu!
Seperti yang sudah kita semua ketahui, kelas 3-E bagaikan najis mughalladzah, najis besar, harus basuh air tujuh kali dan basuhan ke tujuh dicampur tanah. Ada beberapa poin penting yang ingin sekali Gakushuu Asano kemukakan, tapi, mengingat bocah berambut biru yang duduk di sofanya itu sedang amnesia, ia hanya bisa memikirkannya.
Pertama, ia ingin sekali, mengelap kenop pintu yang sudah dipegang oleh Yuuma Isogai saat meninggalkan rumahnya. Kedua, tiap langkah Nagisa Shiota serta bekas sepatu Isogai di beranda sampai ruang tamunya—aaah, dia harus mengepel itu dengan disinfektan. Ketiga, sebaiknya ia pakai masker oksigen—kau tahu, masker oksigen yang akan jatuh dari langit-langit di atas kursi dalam pesawat jika tekanan udara menurun? Ya, kebetulan Asano punya benda itu.
Duduk di seberang Nagisa, Asano, dengan wajah dingin yang datar, dalam pikirannya sedang mengerahkan seluruh jiwa raga untuk tidak pergi mengambil masker oksigen.
Baiklah, mungkin itu semua berlebihan.
Baiklah, memang berlebihan.
Ha! Gakushuu Asano kebal terhadap kebodohan! Tentu saja. Ya. Biarpun ia kalah dalam boutaoshi (secara tidak sadar, tangannya mengepal keras memikirkan ini) dan ayahnya, sang kepala sekolah, membawa-bawa perkara ini begitu besar—baiklah, ini salahnya sendiri sudah bertaruh soal Yuuma Isogai dan kerja-sambilannya—tapi, ia tidak akan mundur. Ia harus menyusun rencana untuk menghadapi orang amnesia.
Sementara itu, Nagisa Shiota, duduk di sofa, kakinya ternyata tidak sampai ke lantai sehingga terayun-ayun. Ia sedang sedikit bosan dan ingin membuat wajah Asano yang merengut tertawa.
"Kiritsu! Rei! Lock On!" seru Nagisa tiba-tiba. Melihat Asano teralihkan perhatiannya, senyumnya mengembang, dan ia melompat turun dari sofa. "Kiritsu!" Nagisa berdiri tegak. "Rei!" dia membungkuk. "Lock On!" ia membidik dengan tangannya yang ia andaikan pistol.
Asano mengangkat alis, tapi tidak tersenyum. Dia menyipitkan mata, menghina.
"Dari mana kamu belajar cara konyol memberi salam di kelas itu?" kritiknya pedas. "Berdirimu kurang tegap, ujung sepatumu harus terbuka sekitar empat-puluh lima derajat, kedua tangan mengepal lemas di sisi badan. Membungkuknya harus tepat sembilan puluh derajat—dan apa-apaan itu 'Lock On'. Tidak ada yang seperti itu, dasar konyol."
Nagisa menggeleng, wajahnya merengut keras kepala. "Nggak! Biasanya beginiii! Chuu yang salah! Nagi yang benar, huuuff!" dia melipat tangan dan menggembungkan pipi.
Sudut mata Asano berkedut.
"Ah, tentu saja. Bocah sepertimu tidak mengerti caranya—atau memang, karena didikan kelas 3-E yang konyol itu. Tidak tahu aturan."
"Nggaaaak! Chuu yang salaaah! Biasanya itu begiiniii!" Nagisa memasang senyuman lebar bulan sabit sambil mengangkat kedua tangan, menirukan tentakel Koro Sensei. "Hari yang cerah, anak-anak. Isogai-kun, tolong siapkan kelas pagi ini!" ujarnya dengan nada persis dengan nada Koro Sensei.
Asano mengerjap. Nagisa berpindah posisi, duduk di sofa dengan tegap dan berwajah serius.
"Kiritsu!" dia berdiri. "Rei!" dia membungkuk. "Lock on!" dia membidik lagi.
Lalu, Nagisa berganti posisi lagi seakan sedang di depan kelas, cengiran lebar bulan sabit mengembang.
"Nyuruhuhuhu! Minna-san, ohayao gozaimasu!" Nagisa menirukan nada dan intonasi Koro Sensei dengan sempurna, lalu pura-pura membuka daftar hadir. "Sensei akan memanggil daftar hadir, silakan mulai menembak! Karma-kun?"
Sekarang Nagisa mulai berlari ke samping kiri dan kanan secepat ia bisa sambil memanggil teman-temannya satu-satu.
BRUKK
Asano sontak berdiri begitu Nagisa tersandung kakinya sendiri saking cepatnya berpindah-pindah.
"H-Hei..."
Nagisa merangkak dan berdiri lagi, lalu menoleh pada Asano dengan pipi menggembung dan mata berair.
"Hnnnggh! Pokoknya kayak gituuu! Chuu sih, nggak pernah main ke kelas Nagi! Chuu nggak tau apa-apa!"
"Eh, baiklah—"
"Nagi kan pintar, makanya, Chuu harusnya belajar dari Nagi! Papa juga pintar...tapi Koro Onii-chan yang paling pintar..." tiba-tiba Nagisa terdiam, dan wajahnya suram penuh horor. "...Koro Onii-chan...Papa...M-Mama..."
Asano mundur selangkah, lalu kembali terduduk di sofa. Nagisa duduk lagi di sofa, sekarang menjadi diam dengan mata lebar yang dirundung kesedihan.
Karena Asano sangat tidak ingin Nagisa meledak dengan tangisan yang mengganggu—bukannya peduli atau apa, lho, ya—ia berdeham dan berusaha mengajak anak itu berbicara.
"Jadi...begitu kelasmu menyiapkan diri di pagi hari?"
Nagisa terbangun dari kesedihannya dan menatap Asano, lalu tersenyum riang.
"Iyaa! Tapi nggak setiap hari, soalnya capek kalau harus bersihin permen-permen di lantai...Tapi Koro Onii-chan suka permen-permennya, soalnya kalau dia makan permennya, dia jadi kayak kembang api! Boooom, gitu!" celoteh Nagisa tak keruan, kedua tangannya direntangkan seakan menggambarkan sebuah ledakan besar.
Asano sudah memegangi telepon rumahnya, sementara Nagisa terus mencelotehkan tentang si 'Koro Onii-chan' ini. Ia mulai tidak mengerti bagaimana harus menghadapi anak itu, terutama ketika Nagisa membicarakan tentang tentakel dan mach 20.
"Halo. Ini saya. Maaf mengganggu anda di saat sibuk seperti ini, tapi kelas 3-E sudah menyerahkan Nagisa Shiota kepadaku."
"Ah, iya, aku sudah mendapatkan pesan dari guru conversation mereka. Ada apa? Kau tidak sanggup...Ketua OSIS...?"
Gagang telepon nyaris patah.
"Aku baru tahu dan tidak mengerti cara menghadapi satu situasi ini, tentang Shiota."
"Dan apakah situasi ini?"
"Dia terus-terusan berbicara tentang tentakel, mach 20, pistol, terbang ke bulan, permen, dan Koro Onii-chan." Asano sedikit mengintip Nagisa dari bahunya, dan melihat si kucir dua biru itu sedang tertawa 'Nuruhuhuhuhu!' dengan sendirinya. "Oh, lihat, sekarang dia sedang melakukan gerakan aneh seperti gurita."
"..."
Asano mengangkat alis. Apakah Kepala Sekolah tidak mendengarnya? Pasti bagi pria itu, hal ini kedengaran gila sampai ia tidak bisa merespon? Tiba-tiba, ayahnya berdeham.
"Dengarkan saja anak itu. Koro...ah, ya, itu semacam teman imajinasinya, dari yang kudengar. Apapun yang terjadi, jangan sampai anak itu hilang dari pengawasanmu. Sekian."
Sambungan diputus. Asano membanting gagang telepon antik itu dengan geram, padahal kasihan si telepon kan tidak salah apa-apa. Ia menarik napas, lalu kembali menghadapi Nagisa, yang sekarang sedang berbaring di lantai.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Humm..." Nagisa bergumam, memandangi langit-langit ruang tamu Asano yang putih bersih dengan bordiran garis-garis. "Rumahnya Chuu membosankan ya?"
Dia amnesia. Dia balita. Dia tidak mengerti. Asano sampai menggeretakkan giginya demi tidak menendang anak itu keluar dari rumahnya.
"Chuu nggak main sama teman-teman?"
"Main?" Asano duduk di sofa. "Bersenang-senang, tentu saja. Kami pergi makan di restoran mewah—yang tentu saja kamu tidak sanggup melihat harga hidangan pembukanya—pergi menonton konser di luar negeri, dan mengunjungi museum-museum atau galeri seni mancanegara." Dengan angkuh, ia melipat tangan. "Tentu saja, kalian dari kelas 3-E tidak mungkin bisa menikmati hal-hal seperti itu. Sayang sekali, ya."
"Hum?" Nagisa duduk. "Nagi pernah ke Italia makan gelato, kok!" protesnya. "Nagi juga pernah ke Cheshire! Nagi pernah makan Cokelat Santa! Tapi di rumah Papa banyak oleh-olehnya! Nagi pernah lihat patung boa pembelit dari Karibia! Memangnya Chuu punya, ya? Kalau Chuu sering jalan-jalan, harusnya kan banyak hiasannya,"
"Maaf saja, aku tidak boros seperti Akabane. Aku juga tidak suka pamer."
"Lhoh, tapi tadi kan pamer ke Nagi? Hayo?"
Asano terdiam, wajahnya sedikit—sedikit memerah. Ia mengalihkan pandangan.
"Aku tidak pamer. Aku hanya bercerita."
"Huuung, Chuu nggak pinter cerita, deh," Nagisa berkata jujur, lalu berbaring lagi di lantai. "Bosan. Mama sama Papa biasanya ngajak Nagisa main. Onee-chan, Koro Onii-chan, sama lainnya juga. Tapi Chuu nggak tau caranya bersenang-senang, jadinya Nagi bosan." Dia menghela napas sedih. "Tapi Papa lagi sakit...jadi Nagi nggak bisa ketemu Papa...Nagi bosan..."
Oh, cukup sudah. Asano mendecakkan lidah dan beranjak dari sofa.
"Kau bosan?" tantang Asano dingin. "Jadi menurutmu aku tidak bisa bersenang-senang seperti cecunguk-cecunguk di kelas 3-E itu? Yang benar saja. Tentu, tentu saja, kalian terlalu sering bertingkah seperti monyet, pantas saja kalian masuk End Class."
"Epic Class," Nagisa mengoreksi.
"End Class." Timpal Asano.
"E-mazing Class."
"Execution Class."
"Extraordinary Class."
"Extra-Miserable Class."
"Exclusive Class."
"Excluded Class."
"Expecto Patronum Class!" seru Nagisa, pura-pura melambaikan tongkat sihir. "Huuu! Pergi! Nagi nggak suka Dementor kayak Chuu!"
Asano memijit keningnya, hayati lelah. Dia sendiri terbawa suasana dan malah ikut bermain-main dengan si kucir dua biru itu. Sambil mendecakkan lidah, tiba-tiba Asano melambaikan pulpen dari kantongnya.
"Imperio!"
Nagisa ternganga. "Aaa! Nagi...dikendalikan...!" dia tiba-tiba jatuh berlutut di lantai. "Nagi...Nagi dikendalikan Pangeran Kebelangan—"
"Kegelapan." Koreksi Asano.
"Kegelagapan?"
"Ke-ge-la-pan."
"Kelabangan."
"Kelabang...Bukan, maksudku—"
"Aaah! Nagi dikendalikan Pangeran Kelabang!" Nagisa melanjutkan akting dengan menyembah-nyembah Asano. "Gawat! Nagi disuruh lompat dari jurang! Tidak! Nagi nggak mauuu!"
Asano menghela napas, tapi ikut bermain dan melambaikan lagi tongkatnya. "Naik ke ujung tebing itu, Shiota!"
Nagisa sambil pura-pura menangis, naik ke atas sofa. "Aah! Jangan! Nagi nggak mau mati! Nagi belum menikah!" ia berdiri di atas lengan sofa, satu kaki terangkat di udara. "Aaah! Tidak!"
BRUKK
Nagisa menjatuhkan diri dengan sangat meyakinkan, Asano sampai was-was kalau anak itu benar-benar jatuh, tapi ternyata tidak. Beberapa detik kemudian, Nagisa mulai berpura-pura mengendarai sapu terbang.
"Huahaha! Pangeran Kelabang ketipu! Nagi kan punya Koro Bolt, kecepatan Mach 20! Sekarang Pangeran Kelabang nggak akan bisa ngejar Nagi!"
Asano langsung menghadang Nagisa sebelum anak itu kabur dari ruang tamu. "Fufu...Boleh juga...Tapi aku masih bisa ber-apparate di atas sapumu...dan aku bisa terbang tanpa sapu secepat Mach 23."
Nagisa langsung merengut dan cemberut dengan sangat manis.
"Hnnngh! Chuu curaaang! Nggak boleh Mach 23! Kok gituuu?" matanya mulai berair. "B-Berarti...Nagi kalah sama Pangeran Kelabang...j-jadinya...Nagi...nng...hu...huuu..."
"Ah, kalau begitu—oh, lihat, ternyata Nagisa lebih cepat mengayunkan tongkatnya," Asano meraih tangan Nagisa dan menempelkannya di dadanya. "Lalu, dia meneriakkan 'Stupefy'! Gawat. Pangeran Kelabang jatuh dari ketinggian lima puluh kaki!"
Mata Nagisa melebar, dan air matanya kembali surut. Senyum merekah di wajahnya, dan Asano menghela napas lega.
Nagisa berkedip.
"Kok Chuu nggak di lantai?"
"Hm?"
"Katanya kan jatuh dari ketinggian lima puluh kaki?"
~.X.~
Sebagai anak semata wayang keluarga Asano, rumah luas itu biasanya sangat sepi. Tapi tidak hari ini. Hari Minggu yang akan segera berakhir itu diisi dengan keramaian. Setelah berpura-pura menjadi penyihir, Asano yang ingin sedikit ketenangan mengajak Nagisa main catur (dan segera berhenti setelah dua ronde karena Nagisa menjungkirkan papan catur, soalnya Asano nggak mau ngalah).
Saat keduanya mengumpulkan bidak-bidak catur yang tersebar di lantai, Asano menyadari bahwa matahari sudah mulai terbenam, dan ia menatap Nagisa dengan penasaran.
"Hei, Nagisa," entah kenapa ia bisa menyebut nama depan anak itu dengan lancar. Si kucir biru itu menoleh, masih merengut, mengambek karena catur. "Masih marah? Ya sudah. Berarti kamu nggak mau makan malam, ya."
Segera saja Nagisa merangkak ke arah Asano dan menarik-narik lengan bajunya.
"Eh! Eeeh! Tapi Nagi laper..." rengeknya.
"Kalau begitu, jangan ngambek."
"Nagi nggak ngambek!" serunya, lalu melihat wajah tidak percaya Asano, Nagisa mengangguk-angguk meyakinkan. "Janji!" tambahnya.
Asano tersenyum, lalu tangannya menyembunyikan tawa. Mata Nagisa melebar, wajahnya memerah.
Akhirnya dia berhasil membuat Chuu tertawa!
Ketua OSIS itu mengambil bidak-bidak yang dikumpulkan Nagisa, lalu menyimpannya beserta papan caturnya, menepuk-nepuk kepala biru Nagisa.
"Baiklah, kalau begitu bantu aku menyiapkan meja makan."
"Nagi yang masak?"
"Masakanmu nggak enak."
"Buuuh! Chuu kan nggak pernah liat Nagi masak!"
Asano tertawa lagi.
Jantung Nagisa berdegup kencang dengan perasaan hangat yang menggembirakan. Perasaan yang sama tiap kali ia bersama Koro Onii-chan.
~.X.~
"Terus, Papa pinter bikin kare," Nagisa berceloteh sambil duduk di kursi meja makan yang telah ia siapkan. "Koro Onii-chan kadang-kadang makan tisu goreng. Nagi mau minta, tapi Mama bilang nggak boleh, Nagi bisa batuk."
Asano bergumam mendengarkan, lalu mematikan kompor. Sudah lama ia tidak memasak sendiri—selain di pelajaran Tata Boga sekolah, tentunya. Dan sudah lama ia tidak makan malam di rumah. Asano dan ayahnya sering sarapan bersama, tapi sarapan yang diam dan formal. Suara celotehan Nagisa menjadi pengisi yang menghangatkan ruang makan itu.
"H-Hei, Nagisa," kata Asano tiba-tiba, di tengah makan malam. Dari tadi Nagisa terus saja menceritakan tentang Koro Onii-chan, dan ia tidak mengatakan apapun. "Kamu masih ingat, sebelumnya kamu memanggilku...Itu...?"
"Hmm?" Nagisa memegangi sendok, menelengkan kepala, mengerjapkan mata. "Ooooh! Sebelum Chuu, Nagi panggil Onii-chan, iya?"
"Ya," Asano berdeham. "Kamu...sebaiknya berhenti memanggilku seperti yang sekarang."
"Nggak boleh panggil 'Chuu' lagi?"
"Ya,"
"Jadi panggil Pangeran Kelabang aja?"
"Ya—jangan."
Nagisa mengernyit bingung dengan manis, menelengkan kepalanya lagi ke arah berlawanan. "Terus dipanggil apa?"
"Hmm...Onii-chan...boleh."
"Koro Onii-chan sudah jadi Onii-chan."
"Aniki."
"Terasaka-Aniki."
Asano terdiam, lalu melanjutkan makan tanpa memandang Nagisa lagi. Nagisa mengernyit cemas melihat diamnya Asano.
"Tapi, kalau Shuu Nii-san boleh nggak?" Asano berhenti mengangkat garpunya yang baru ditusukkan pada potongan ikan. Mayones yang melapisi ikan itu menetes ke piring. Nagisa mengangguk-angguk. "Shuu Nii-san, ya?"
Asano tersenyum lembut. "Hmm, boleh."
Nagisa menutup mukanya, merasa malu. Asano kebingungan.
"Kenapa?"
"Hnnngg! Shuu Nii-san curang!" protes Nagisa polos. "Padahal Nagi kan udah janji mau menikah sama Mama, Koro Onii-chan sama Papa!"
"Ah, aku tidak terlalu mengerti...tapi...Ah, iya, apa masakanku enak?" Asano mengalihkan pembicaraan, dan Nagisa dengan mudah teralihkan.
"Nagi suka kentang goreng sama ikan!"
"Baguslah. Ini sering jadi makanan orang Inggris, Fish and Chips."
"Ne, ne, Shuu Nii-san?" Nagisa bertanya tiba-tiba. "Kenapa Nagi nggak boleh panggil 'Chuu' lagi?"
Asano terbatuk.
~.X.~
Saatnya tidur, tapi Nagisa tampak ketakutan, entah kenapa. Jadi mereka duduk sofa sambil menonton televisi. Asano mengerjakan sesuatu di laptop, sementara Nagisa memeluk bantal sambil memandangi iklan permen karet.
"Nii-san," panggil Nagisa, yang dijawab dengan gumaman lembut. "Nagi..." dia terdiam, lalu kembali menatap televisi.
"Kamu mau bilang apa?" tanya Asano, melirik anak itu dengan serius. Melihat wajahnya yang ketakutan, Asano merentangkan tangan untuk mengelus-elus kepala anak itu. "Mau main catur?"
"Huu! Nggak, Nii-san nggak mau ngalah!"
Asano tertawa kecil, lagi-lagi menyembunyikannya di balik tangan. Nagisa memerah lagi dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Aku tidak menduga," Asano tiba-tiba berkata. "Ternyata...punya adik laki-laki bisa menyenangkan." Ujarnya dengan suara tenang dan jelas, lalu tersenyum pada Nagisa, lalu mencubit pipi anak itu. "Untuk ukuran anak kelas E, tidak buruk lho,"
"Hiiih, Nii-san masih sombong!" protes Nagisa, beranjak untuk balas mencubit pipi Asano.
"Heh, kamu tidak sopan pada Nii-san-mu, Nagisa," ujar Asano mengancam, menarik pipi Nagisa semakin keras.
"Nii-san Kelabang Sombong!" Nagisa juga menarik pipi Asano semakin keras, meskipun matanya berair karena merasa pipinya sakit. "Eh?" tiba-tiba matanya melebar kaget.
Asano melepas pipi Nagisa. "Apa?"
Jari-jari Nagisa masih mencengkeram pipi Asano, dan jujur saja agak sedikit ngilu rasanya.
"Hmm...?" Nagisa mengerjapkan matanya, memandangi Asano dengan bingung, menarik-narik pipi Ketua OSIS beberapa kali, sebelum pelan-pelan melepasnya. "Hmmm?"
"Ada apa?"
"Nggak..." gumam Nagisa, wajahnya tampak makin muram. Ia beranjak dari sofa. "Nagi tidur di mana?"
"Kamar tamunya ada di depan ruang tamu...Kamarku di atas, kalau—"
Nagisa bergegas pergi, dan Asano mendengar pintu kamar tamu dibuka dan ditutup. Dia menggeleng dan kembali memandangi laptopnya. Sejenak, ia merebahkan punggungnya di sofa dan memandangi langit-langit.
Sayang sekali, Nagisa tidak bisa terus-terusan jadi adiknya. Nagisa Shiota yang asli suatu hari akan kembali. Asano mengingatkan dirinya soal itu. Ya, sayang sekali.
Nagicha termenung di dalam kamar. Entah kenapa, jika hari ini berakhir dan ia tertidur, ia akan berpisah dari Shuu Nii-san. Tapi, ada suara menenangkan di dalam kepalanya.
Tidak apa-apa, Nagicha. Semuanya akan jadi baik-baik saja.
~.X.~
Pagi hari. Asano terbangun di sofa, ternyata ia tertidur sambil duduk, masih memangku laptop. Ia menoleh memandang pintu kamar tamu yang terbuka. Saat ia mengintip ke dalam, hanya ada secarik kertas di atas kasur putih.
Terima kasih sudah sudi mau mengurusku, Asano-san. Maaf sudah merepotkan. Aku bersumpah semua ini jadi rahasia kami dari kelas E sampai mati.
Ttd
Nagisa Shiota
Asano meremas kertas itu, melemparnya masuk tepat ke tong sampah dan menutup pintu.
"Bikin repot saja. Dasar kelas E." Gumamnya dingin.
Dengan langkah yang ia sadar sedikit berat dari biasanya, Gakushuu Asano memulai harinya yang baru. Malam yang lalu terasa bagai mimpi.
Mungkin lebih baik terasa bagaikan mimpi.
~.X.~
Pagi hari yang baru. Tinggal satu murid yang belum mengisi bangku kosong di sebelah Nakamura yang tampak senewen. Teman-teman sekelasnya juga dengan penasaran beralih dari bangku itu ke pintu kelas.
Koro Sensei tampak ceria seperti biasanya, seakan tahu segalanya.
Pintu bergeser terbuka, Nagisa dengan ragu-ragu melangkah ke kelas.
"Maaf, aku terlambat. Jaraknya lebih jauh dari rumah Asano-san."
Sontak, teman-temannya berdiri dan menyambutnya dengan gembira.
"Waaah! Nagisa-kun, kamu sudah normal lagi!" seru Hara.
"Hmm, sebenarnya kurang lama, tapi mau ujian ya, jadi untung buatmu," gumam Hazama.
"Koro Sensei, jadi anda sengaja menyuruh Nagisa pergi ke tempat Asano karena tahu ingatannya akan kembali?" tanya Isogai, mengangkat tangan. "Kalau begitu, kenapa tidak dari awal saja?"
"Nyuruhuhuhu, tentu saja, perlu untuk Nagisa-kun mengumpulkan ingatannya dari kelas ini sebelum pergi ke tempat Asano-kun," jelas Koro Sensei. "Terutama saat bersama Karma-kun, bagian yang paling penting justru waktu dia tidak sanggup menjaga Nagisa dan mendamparkannya pada gadis-gadis kelas E."
Nagisa tertawa sedih. "Maaf merepotkanmu, Karma-kun."
"Ah, nggak juga," Karma mengangkat bahu, tapi dia merasa risih juga mengetahui bahwa dia masuk ke dalam plot Koro Sensei. Sepertinya bagian mengingatkan Nagisa bahwa ia bukan sahabat dekat Karma sesuatu yang cukup penting bagi memorinya. Tapi, cengiran melebar di wajah si rambut merah itu. "Jadi? Gimana? Rumah si Kelabang itu?"
"Iya! Gimana rasanya waktu ingatanmu kembali?" tanya Okuda penasaran.
"Ah, itu..." Nagisa tertawa gugup, menggaruk-garuk pipinya. "Err, aku melakukan sesuatu yang mengingatkanku akan boutaoshi."
"Apa itu?"
"..."
"Oh," Itona berkata. "Kamu cubit pipinya seperti waktu itu juga?"
Seisi kelas dipenuhi tawa dan ucapan selamat dan bangga pada Nagisa yang sudah berhasil mengerjai Gakushuu Asano lagi.
"Nuruhuhuhu! Padahal, Nagisa-kun sudah dua kali hampir berhasil membunuh Sensei. Tapi Sensei tidak mau terbunuh oleh adik seperti Nagicha...itu namanya sadis sekali, uoooh...no, no, no..." Koro Sensei mengusap air mata.
"Ahaha...Maaf merepotkan kalian semua, dan terima kasih sudah mengurusiku saat aku tidak ingat apa-apa, semuanya," Nagisa membungkuk penuh rasa terima kasih kepada seluruh kelasnya, lalu menghadap Koro Sensei. "Apa aku berbeda sekali saat hilang ingatan?"
"Sama manisnya," Nakamura berkata, wajahnya agak murung. "Jujur, kita hampir menikah."
Nagisa tertawa semakin gugup.
"Iya, dan kamu hampir kubawa ke Thailand." Ujar Karma, memamerkan foto pre-wedding mereka. "Kalau masih mau, boleh juga."
"Jangan bawa-bawa aku untuk ganti perangkat! Astaga...foto-foto hina macam apa lagi yang sudah kalian ambil dariku...!?" Nagisa melenguh panjang dan semakin ingin mati ketika teman-temannya bergiliran menunjukkan foto. Mimura sampai membuat slide-show, dan Nagisa ingin terjun bebas dari tebing setiap ia melihat foto-foto nista dirinya saat amnesia.
"Yah, memang Nagicha itu lucu sekali," ujar Kataoka. "Tapi, kita butuh Nagisa-kun kalau mau membunuh Koro Sensei." Katanya, tersenyum, membesarkan hati Nagisa.
"Iya, Nagicha itu merepotkan sekali, sedikit-sedikit minta digendong," keluh Terasaka.
"Halah, padahal kamu seneng, aja," ejek Yoshida, dan semua terbahak mengerjai Terasaka.
Tiba-tiba pintu diketuk dan bergeser. Gakuho Asano masuk ke dalam ruang kelas 3-E dengan senyum sopan, matanya menatap Nagisa.
"Ingatanmu benar-benar sudah pulih?"
"Terima kasih, sudah, pak." Jawab Nagisa sigap. Ia merasa tidak percaya sudah menginap di rumah Kepala Sekolahnya selama satu malam, dan sekarang bertemu dengan sang pemilik rumah membuatnya semakin linglung. Kepala Sekolah menoleh pada Koro Sensei.
"Sewaktu Shiota amnesia, dia berkali-kali menyebutkan keberadaanmu, bahkan menjelaskan fisikmu. Aku juga sudah mengambil gambar-gambar yang ia buat di rumahku," Gakuho menyodorkan beberapa kertas berisi gambar Koro Sensei yang digambar Nagicha di rumah Asano.
"Eeh!?" Nagisa menggebrak meja. "Jadi...Asano-kun...dia tahu soal Koro Sensei!?"
"Tidak," Kepala Sekolah menggeleng. "Aku sudah memberitahunya bahwa yang kau bicarakan adalah teman imajinasi. Tapi, aku harus mengambil tindakan," beliau menatap foto Nagisa di slide-show yang memakai piyama pinguin (Nagisa ingin copot muka rasanya).
"Kalian harus menghapus semua foto Shiota saat ia amnesia. Aku yakin salah satu muridmu yang...terprogram...punya keahlian untuk melakukan ini," ia mengangguk pada Koro Sensei.
Sontak, kelas 3-E meledak.
"Eh!? Kenapa kita harus menghapus foto-foto itu!?"
"Maaf pak, bapak ingin bunuh saya, bunuh saja pak," Nakamura menangis di bangku.
"Padahal aku belum memanfaatkan foto-foto ini untuk promosi kencan buta!" protes Karma.
Nagisa ingin menangis mendengar keluhan teman-temannya, dan saat itu, Kepala Sekolah Maharaja Kelabang bagaikan Messiah baginya. Gakuho berdeham, dan semuanya senyap, karena pria itu menguarkan aura Kelabang-nya yang sakti.
"Kalian tentu tahu, anakku bukanlah idiot. Ia sudah lama mengincar rahasia kelas ini, dan aku tidak ingin keberadaan makhluk ini," beliau mengedikkan kepala pada si gurita, "...diketahui oleh orang lain, terutama oleh Gakushuu Asano. Jika ia memutuskan untuk mempercayai celotehan Shiota saat amnesia dan mencari-cari gambar-gambar yang kalian ambil saat ia amnesia, aku yakin, seratus persen yakin, anakku itu akan membongkar rahasia kalian."
Terdengar suara-suara menelan ludah.
"Dan sampai itu terjadi, kontrak batal. Kalian tidak dapat sepuluh juta yen. Mungkin bahkan kukeluarkan dari Kunugigaoka," Gakuho Asano mengantongi kedua tangannya dan menghadap pintu, sepatu hitamnya bersuara langkah tajam yang jelas di tengah keheningan kelas. "Jadi kusarankan kalian lenyapkan semua foto Nagisa Shiota saat ia amnesia dan bersikap seolah semua ini tidak pernah terjadi. Semoga hari kalian menyenangkan."
Tanpa menutup pintu, Kepala Sekolah mereka berjalan pergi, langkah sepatu mahalnya bagaikan seretan rantai Dewa Kematian.
Yuzuki Fuwa menangis soal dunia tidak adil. Nakamura membanjiri bangkunya, tidak tega melihat Ritsu di layar ponselnya, yang berpakaian tukang sampah, memasukkan foto-foto Nagisa ke dalam tong sampah.
Koro Sensei terkekeh. "Nuruhuhuhu...Aku harus mengakui, dia bijak soal perkara ini," salah satu tentakelnya menepuk-nepuk kepala Nagisa. "Selamat datang kembali, Nagisa-kun! Tetap semangat dalam pembunuhan dan pelajaran!"
Nagisa tersenyum lebar dan bahagia.
"Terimakasih, Koro Onii-chan!"
Hari yang lain, kenangan yang lain dimulai!
End.
Terima kasih sudah membaca chapter terakhir With Nagicha! Saya Esile the Raven memberikan penghormatan luar biasa dan rasa terima kasih bagi kalian yang setia mengikuti cerita pendek ini sampai akhir. :)
Chapter ini sudah direvisi 11 kali dengan jalan cerita yang sangat berbeda. Butuh waktu bagi saya untuk menerima bahwa saya tidak akan memasukkan sesuatu yang terlalu dramatis di akhir cerita. Ternyata saya mengalami kesulitan memasukkan Gakushuu Asano dalam cerita yang begitu...fluffy. Saya perlu menonton beberapa anime yang diisi oleh Mamoru Miyano untuk menentukan karakter Asano di chapter ini (haha).
Ini juga chapter pertama yang saya tulis di Makassar. Wah, aneh sekali rasanya. Tapi aku merasa lebih bisa mengakhiri cerita ini dengan cara seperti ini. Maaf jika menurut kalian kurang memuaskan. Saya berusaha membuat cerita ini seakan-akan sesuatu yang diselipkan dalam cerita Canon.
Sampai jumpa di cerita yang lain :D
-Esile
Kindly review if you have the time.
