How Hard to Love Someone
Vocaloid by Yamaha Corporation, How Hard to Love Someone by Shirokami Kurashi.
Warning: Gaje, typos. Di semua FF saya selalu ada OC saya, Yamako, Mama Gakuko (dan Gakupo).
Chapter 6 : The Truth of Past
Aku menutup telingaku sekuat mungkin dan memejamkan mataku selagi Taito berteriak sekuat-kuatnya persis seperti bom nuklir, bahkan badanku sampai bergetar (bisa kalian bayangkan betapa luar biasanya frekuensi suara Taito?). Selesai berteriak sekuat tenaga dia lalu menarik nafas dalam-dalam dan terengah-engah. Dia menatap tidak percaya ke arahku dengan mulut menganga. Raut wajahnya persis seperti orang baru melihat hantu atau roh jahat. Aneh, apa kenyataan bahwa aku dan ani-chan adalah kakak beradik adalah hal yang sangat mengejutkan? Taito segera meneguk habis air putihnya dan kembali cengo melihat ke arahku. Dia megap megap seperti ikan mas kehabisan air dan berusaha mengatakan sesuatu. Aku melepaskan kedua tanganku dari kedua telingaku dan menunggu Taito selesai bicara (sebenarnya dia mulai saja belum).
"Kalian... kakak beradik? Kandung?" tanya Taito serak setelah berdiam cenga cengo seperti orang blo'on yang melihat hantu.
"Begitulah. Dan tolong jangan beritahu siapa-siapa atau aku akan dipandang 'mentang-mentang adiknya' oleh teman-teman yang lain! Kau bisa membantu kan? Kan?" pintaku sambil menangkupkan kedua tanganku di depan wajahku dan sedikit membungkuk.
Taito berpikir sejenak ala detektif (huek) dan mengangguk-angguk kecil. "Boleh," ujarnya ringan, "Asal ada bayarannya."
"Apa?" tanyaku waspada.
"Nih, taruh bibirmu di sini," jawab Taito menunjuk bibirnya yang sedang tersenyum nakal sekaligus menang sambil mengedipkan sebelah matanya.
BUKH! DUAGH!
"Adu-du-duh...," rintih Taito kesakitan memegangi kepalanya yang langsung dihantam dengan keras oleh ani-chan dan perutnya yang kutendang dengan sekuat tenaga.
"Sekali lagi kau bicara begitu akan kubuat 'cat merah' di seluruh tubuhmu Kagemi," ancam ani-chan dengan aura membunuh yang baru pertama kalinya kurasakan, ani-chan melotot dengan (menurutku) sangat mengerikan ke arah Taito.
Taito masih meringis kesakitan sampai membungkuk, kemudian dia mendongakkan kepalanya dan tersenyum masih dengan wajah menahan sakit. "Nee... gomennasai, okay?" katanya lirih.
"It—"
"Ah, Sensei guru BP kan?" tanya Taito pada ani-chan memotong perkataanku, dalam waktu sekejap langsung muncul tanda perempatan jalan di kepalaku, sepuluh buah sekaligus. Aku mendelik pada Taito, tapi sepertinya dia tidak menyadari tatapanku. Herh... menyebalkan.
"Begitulah, kenapa?" sahut ani-chan sambil menarikku sedikit ke belakang dan memegangi pundakku.
"Ahh, yokatta nee!" seru Taito lega, dia langsung berdiri tegak lagi, "Orang tuaku memintaku untuk menginap di rumah guru BP-ku dulu untuk dua hari karena Mama dan Papa belum selesai mengurus rumah. Mereka bilang aku tidak akan bisa belajar di rumahku yang belum selesai dan masih seperti hutan belantara itu, makanya Mama dan Papa memintaku untuk menginap di rumah guru BP-ku. Ini, silahkan di telepon sendiri."
Taito memberi ani-chan ponselnya dan ani-chan langsung menelepon orang tua Taito sepertinya. Ani-chan lalu keluar rumah sebentar, beberapa menit kemudian dia kembali lagi dan menyerahkan ponsel Taito pada Taito lagi.
"Aku tidak bohong kan?" kata Taito sambil tersenyum sedikit menantang.
"Kau. Jangan macam-macam pada Gakuko, ingat itu. Sekali aku memergoki-mu sedang melakukan yang aneh-aneh, lehermu yang akan membayarnya," desis ani-chan penuh kebencian sementara tangannya mengambil pedang katana yang ada di balik jaketnya.
"Wow, tenang dulu, tenang," Taito langsung mengangkat kedua tangannya sedikit dan mundur agak ke belakang. "Aku tidak akan melakukan apapun pada Gakuko, percayalah. Aku tidak mesum seperti Sensei kok."
Tubuhku seperti ditembaki oleh ratusan peluru mendengar kalimat Taito barusan. Tapi rasanya raut wajahku tidak berubah sedikitpun. Ani-chan tidak bereaksi sama sekali, dia hanya diam saja dan menatap datar ke arah Taito. Datar sih datar, tapi sangat tajam dan mengancam. Persis seperti cheetah lapar yang sedang berdiri di hadapan rusa jantan. Tangan ani-chan lalu mulai bergerak ke dalam jaketnya dan mengeluarkan sebilah katana yang mengkilap dan seratus-bukan-seribu persen bisa menyayat apapun. Ingat kan dengan apa yang pernah kukatakan sebelumnya? Ani-chan sangat mahir dengan bela diri, belum pernah ada yang mengalahkan dalam semua cabang bela diri.
"Saa, ani-chan, sebaiknya kau cepat-cepat mandi kemudian istirahat lebih awal. Ani-chan capek sekali kan?" kataku cepat dan mendorong tubuh ani-chan perlahan menjauh dan melewati Taito. Aku tidak mau membersihkan darah yang beleberan di rumahku.
"Gakuko jangan ditarik masuk ke dalam kamar mandi juga ya," seru Taito tiba-tiba, bisa kurasakan tubuh ani-chan yang mulai menegang. Baiklah, aku tahu apa yang akan terjadi pada menit berikutnya. Jadi aku langsung melempar kepala Taito dengan sandal rumahku dan mendelik padanya.
"Jangan didengarkan, dia memang kacau," tandasku masih tetap mendorong pelan tubuh ani-chan.
Ani-chan masih terdiam. Apa dia baik-baik saja? Atau sudah berwajah seperti cheetah lapar betulan? Aku berhenti mendorong ani-chan dan melihat ke arah wajahnya. Dan rasanya tubuhku langsung merinding melihat raut wajah ani-chan. Sulit dijelaskan, tapi mengerikan. Bukan mengerikan seperti hantu atau apa, tapi... bagaimana ya?
"A-a-ani-chan baik-baik saja?" tanyaku khawatir sementara tanganku memegang lengan ani-chan dengan hati-hati.
"Taito memberiku inspirasi," katanya pelan, masih dengan raut wajah 'mengerikan'. Ani-chan lalu berjalan perlahan ke arah kamar mandi.
Aku menelan ludah secara perlahan. Tubuhku menegang dan aku mulai keringat dingin. Kurasa aku harus menginap di rumah Rin atau Kaiko mulai saat ini. Aku tidak bisa tinggal satu rumah dengan dua orang mesum begini. Dengan satu orang saja bisa membuatku gila, apalagi kalau dua? Sudah begitu keduanya saling benci pula. Alamat kacau deh. Aku menatap ke arah Taito dengan hati-hati, dia menagkap tatapanku dan tersenyum penuh akal bulus. Tubuhku semakin merinding. Aku bergegas meraih telepon rumahku dan menekan beberapa dijit angka. Aku memainkan kabel telepon sementara menunggu jawaban.
"Konbanwa, dengan keluarga Shion," sahut sebuah suara di seberang sana.
"Eh... ini Gakuko. Apa Kaiko ada di rumah?" tanyaku setengah tercekat.
"Ah, Gakuko-chan. Sayang sekali, Kaiko sudah tidur," sahut suara itu lagi.
"Oh, secepat itu? Apa dia baik-baik saja?" tanyaku lagi mulai cemas. Tidak biasanya Kaiko tidur sangat awal begini, pada pukul empat sore lewat lima belas menit?
"Sebenarnya sih tidak," jawab suara di seberang sana lagi, kali ini agak lirih, "Dia demam. Sepertinya besok dia harus izin. Oh ya, apa besok bisa tolong katakan itu pada wali kelasnya?"
"Bisa," sahutku sedikit lemas, " Eh...apa ini Kaitonii?"
"Ping pong! Kau memang pintar Gakuko-chan!" seru Kaitonii sambil terbahak-bahak.
Aku menaikkan sebelah alisku. Bukan aku yang pintar, tapi kau yang baka, batinku dalam hati, siapapun pasti bisa mengenali siapapun lewat suara di telepon kan?
"Baiklah, tolong sampaikan salamku padanya ya. Semoga Kaiko cepat sembuh," kataku mengakhiri pembicaraan.
"Hai, jaa nee," sahut Kaitonii, kemudian pembicaraan terputus karena aku langsung menutup telepon dan meletakkan gagang telepon dengan sedikit kasar.
Aku menghela nafas panjang. Masih ada Rin, batinku berusaha menghibur diri sendiri. Aku mengangkat gagang telepon lagi dan kembali menekan beberapa dijit angka. Setelah itu melakukan 'ritual' saat menelepon. Menunggu jawaban.
"Moshi-moshi, dengan Kagamine ada yang bisa dibantu?" seru Rin dengan riangnya di ujung telepon sana.
"Rin, apa ada yang datang ke rumahmu?" tanyaku sedikit heran mendengar suara ceria Rin yang jauh lebih riang dari sebelumnya.
"Oh, Gakuko. Ada apa? Sebenarnya bukan datang, tapi tepatnya pulang! Kau pasti bisa menebaknya," seru Rin lagi.
"Ah, Len-kun pulang. Ya kan?" terka-ku ikut penasaran.
"Benar sekali Sayangku! Dari pada itu, ada apa? Oh ya, ani-chanmu belum diberi tahu tentang Taito kan? Apa katanya? Apa dia marah?" tutur Rin bersemangat sekaligus penasaran.
"Tidak, semuanya beres. Tapi bisa aku menginap di rumahmu untuk beberapa hari Rin?" jawabku sedikit lirih.
"Bisa-bisa. Tapi maaf, mungkin baru bisa besok pagi, semuanya sedang sangat sibuk dan berantakan. Tidak apa-apa kan? Memangnya ada apa?"
"Oh, tidak apa-apa. Kalau begitu besok ya."
"Hai."
"Arigatou gozaimasu, Rin," kataku lagi, setelah itu menutup telepon. Aku berdiri terdiam di depan telepon, tidak tahu harus berbuat apa. Setelah ani-chan mengatakan kalimatnya itu perasaanku bertambah kacau. Aku memang tidak tahu pepatah yang tepat untuk keadaanku ini, tapi ini sih seperti 'kelinci yang tinggal satu kandang dengan singa dan cheetah yang sedang lapar berat'. Nee... bagaimana ini? Mana Mama dan Papa pulang setidak-tidaknya hari Sabtu lagi. Kacau.
"Ada apa?" tanya Taito yang tiba-tiba sudah berada di belakangku.
Aku langsung menghindar dengan cepat dan menatap tajam ke arahnya. Kakiku mulai mundur perlahan-lahan dan bersiap-siap untuk kabur kalau-kalau dia melakukan sesuatu yang mencurigakan. Taito tersenyum licik lagi dan mendekat ke arahku.
"Mau apa, hah?" tanyaku tajam sambil bersiap-siap kabur.
"Heh, tidak usah takut begitu juga lagi. Aku tidak akan berbuat apa-apa, aku sudah berjanji kan?" ujar Taito sambil tetap berjalan mendekat.
"Jangan mendekat," aku memperingatkan, "Aku tahu seperti apa kau sebenarnya Taito, dan kau tidak bisa menipuku."
Taito terdiam beberapa saat. Dia lalu menghentikan langkahnya dan menatap padaku semakin tajam dan memojokkanku. "Baiklah, aku menyerah. Tapi aku butuh alasan yang jelas kenapa kau memutuskan hubungan kita, Gakuko. Aku serius padamu, apa lagi yang kurang? Kurang pintar? Kurang tampan? Kurang tinggi? Kurang kuat? Apa Gakuko? Apa?" tanya Taito panjang kali tinggi kali lebar sama dengan dia masih tetap berjalan mendekat ke arahku sementara di belakangku sudah dinding. Singkatnya, aku tidak bisa kabur karena Taito sudah menahanku dengan tangannya.
"Kau tidak serius, aku tahu itu! Lagi pula aku sadar kalau sebenarnya aku tidak mencintaimu, itu sudah jelas kan? Masih kurang jelas?" tandasku berusaha menyingkirkan tangan Taito dari sampingku, tapi usahaku sia-sia.
"Itu kurang jelas. Apa ada laki-laki lain yang sudah merebut hatimu?"
"Aku punya Luki, jadi jangan mengejarku terus! Sekarang minggir," tandasku sekali lagi, kali ini aku langsung melesat pergi tanpa menoleh ke belakang lagi.
Taito —sepertinya— masih tetap berdiri tanpa reaksi di belakang, tapi aku sama sekali tidak mau menoleh lagi. Aku langsung naik ke atas dan mengurung diri di kamarku. Aku terduduk lemas di depan pintu kamarku dan menghela nafas panjang untuk kesekian kali-nya. Benar-benar, batinku, apa maunya si Taito itu sih? Aku sudah memutuskannya dan mengatakan kalau aku sadar sebenarnya tidak mencintainya. Apa lagi yang kurang? Dan kenapa dia tidak pernah sadar dengan apa yang telah dia lakukan?! Aku memang tidak mencintainya lagi, dan sebenarnya memang tidak pernah sih. Tapi paling tidak aku ingin Taito sadar kalau dia sudah mempermainkan hatiku! Dia menduakanku! Dan dia menduakanku dengan orang yang paling kubenci. Aku melipat lututku dan menunduk. Air mataku mulai mengalir lagi. Kenapa? Kenapa aku harus menangis hah?
Aku langsung menghapus air mataku dan naik ke atas ranjang. Sumpah deh, badan dan jiwaku rasanya capek banget hari ini. Aku merebahkan diriku secara telungkup di atas ranjang dan mulai tidur. Badanku sudah terasa meleleh —atau bahkan lepas semua komponennya. Apapun itu, ada satu hal yang pasti dan kuketahui dengan amat sangat jelas.
Aku capek dan tidak mau bangun-bangun dulu untuk sementara.
"Ko... Kuko... Gakuko, bangun atau kucium!" seru sebuah suara dengan nada mengancam dan tidak main-main.
Aku masih berada di perbatasan antara alam mimpiku dan alam nyataku, jadi butuh waktu untuk benar-benar —paling tidak— tersadar sedikit dulu walau belum membuka mata. Menurut pandanganku yang ada di 'perbatasan', sekarang aku berada di depan jembatan yang sudah bobrok untuk pergi ke seberang, bercahaya, dan itulah dunia nyataku. Aku harus sampai ke sana untuk tersadar dan membuka mataku (bisa kalian simpulkan kalau aku paling susah bangun kalau sudah tidur).
"Oi! Benar-benar mau dicium ya?" seru suara itu lagi. Berhubung di dunia mimpi, aku mendengar suara itu sebagai gema-gema.
Mendadak aku menaikkan alisku. Sebelum tidur, apa aku sudah mengunci pintu kamarku? Aku terdiam sejenak dan berpikir sebentar. Mendadak tubuhku seperti terkena sengatan listrik dan mataku membulat sempurna. Aku BELUM mengunci pintu kamarku! Astaga, suara tadi itu pasti kalau bukan ani-chan ya Taito! Siapapun itu mereka berdua tidak ada bedanya, sama-sama mesum dan SINTING! Mereka berdua benar-benar akan melakukan apa yang telah mereka katakan! Celaka! Celaka! Celakaaaa! Aku harus segera bangun!
"Oke, kuanggap kau meminta untuk dicium," kata suara itu lagi.
Mulutku langsung megap megap dan aku berlari secepat kilat melintasi jembatan bobrok itu sampai jembatan itu berguncang-guncang. Sebenarnya aku takut sekali kalau jembatan ini putus.
"Tunggu! Tunggu! Jangan lakukan apapun mesum!" jeritku kalang kabut sambil tetap berlari. Aku tidak tahu apa di dunia nyata aku mengigau atau tidak aku tidak peduli, yang kulakukan adalah tersadar SEKARANG JUGA!
TES!
Jantungku bukan berhenti berdetak lagi mendengar suara tali putus itu, tapi langsung meledak menjadi berkeping-keping. Suara tali putus. Tali putus. Tali putus? Tali apa yang putus? ... Tali. Aku ada di mana ya? Oh ya, jembatan. Tunggu? Jembatan? Tali. Jembatan. Tali putus. Tali jembatannya PUTUS! Seketika aku langsung terjatuh ke bawah dan tanganku menggapai-gapai. Tidak. Tidak! Tidak! Tasukete!
"Hah!" seruku saat aku sudah membuka mataku dengan cepat. Seluruh tubuhku gemetaran dan mataku berkunang-kunang. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali untuk meilhat dengan jelas, tapi aku tahu ada seseorang yang berada di atasku.
"Sudah bagun?"
Aku menatap lekat-lekat wajah ani-chan yang berada hanya berjarak tiga sentimeter dari wajahku, posisinya seperti posisi orang yang sedang melakukan push-up. Aku hanya bisa cenga cengo, kemudian langsung sadar dengan apa yang sedang terjadi. Aku hendak berteriak, tapi kemudian kuurungkan niatku itu. Aku melirik ke arah jam wekerku. Baru pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Aku lalu kembali menatap wajah ani-chan. Beberapa detik kemudian ani-chan bangkit dan duduk di tepi ranjangku, dia masih mengenakan baju tidurnya yang berwarna hitam garis-garis putih.
"Syukurlah kau tidak berteriak, sebab kalau kau berteriak si Kagemi itu pasti akan terbangun," kata ani-chan lega.
Aku hanya ber-oh-ria dan duduk di atas ranjangku. Aku menatap perlahan ke arah ani-chan.
"Ani-chan sudah sarapan?" tanyaku was-was.
"Belum," jawab ani-chan singkat padat jelas.
"Sudah membuat sarapan?" tanyaku lagi.
"Aku akan membuatkannya untukmu," kata ani-chan kemudian bangkit berdiri dan mengelus kepalaku perlahan sambil tersenyum lembut.
"Eh... tidak usah. Biar aku saja, sekalian menguji keterampilan memasakku," kataku cepat dan menyusul ani-chan.
Ani-chan hanya tersenyum dan tertawa kecil, dia kembali mengelus kepalaku. "Baiklah, walau sebenarnya itu cukup mengerikan."
"Jangan menghinaku," ujarku sambil menggembungkan pipiku karena kesal.
"Gomen ne," kata ani-chan, dia lalu mengedipkan sebelah matanya padaku sambil tersenyum.
Aku membalas senyum ani-chan dan langsung berlari ke bawah menuju dapur. Sebenarnya alasanku sama sekali bukan untuk menguji keterampilan memasakku, tapi untuk mencegah ani-chan membuat sarapan. Bukannya apa, aku hanya takut kalau dia memasukkan yang aneh-aneh ke dalam sarapan jatah Taito. Kalian tahu kan? Mereka berdua saling membenci dan mereka akan selalu berusaha menjatuhkan satu sama lain. Ya, benar-benar bahaya. Bahaya. Bahaya. Bahaya kalau ani-chan dan Taito ditinggal sendirian dan hanya berdua saja. Mereka akan saling mencelakai satu sama lain!
Aku mulai membuat nasi omelet sementara otakku terus berpikir. Aku salah, aku tidak boleh membiarkan ani-chan dan Taito hanya berduaan saja, mereka bisa saling membunuh. Intinya, aku tidak bisa menginap di rumah Rin. Itu hanya akan memperburuk situasi. Selesai membuat omelet, aku langsung memanggil ani-chan kemudian menelepon Rin.
"Moshi-moshi...," jawab sebuah suara, yang jelas bukan suara Rin. Hanya mirip.
"Eh... ini Gakuko. Apa ini Len-kun?"
"Oh, Gakuko-chan. Sudah mau datang? Kata Rin kau akan menginap hari ini," sahut Len, dia terdengar tidak mengantuk sama sekali. Hebat, padahal dia baru pulang kemarin sore kan? Kalau tidak salah, dia baru pulang dari tour concert-nya dari London.
"Ah, tidak. Maksudku, aku berubah pikiran. Tolong sampaikan pada Rin ya, dan tolong sampaikan permintaan maafku juga karena membatalkan secara mendadak," ujarku menyesal.
"Baiklah, akan kusampaikan."
"Terima kasih banyak. Baiklah, sampai bertemu di sekolah," ujarku mengakhiri pembicaraan. Aku langsung menaruh gagang telepon perlahan-lahan dan kembali ke ruang makan untuk sarapan.
Saat kembali ke ruang makan, aku seperti melihat seekor cheetah dan seekor singa yang siap bertarung dan mempertaruhkan nyawa mereka. Agak ngeri sebenarnya melihat ani-chan dan Taito yang saling menatap benci begitu. Ani-chan duduk di sebelah kanan meja makan dan Taito duduk di sebelah kiri meja makan, mereka saling berhadap-hadapan dan makan tanpa mempedulikan satu sama lain. Oke, kurasa aku terpaksa duduk di tengah.
"Ohayou," sapaku kemudian duduk dan ikut makan.
"Ohayou," balas ani-chan dan Taito berbarengan dengan ramah ke arahku, sedetik kemudian mereka saling menatap dengan tatapan benci dan kembali makan.
Aku hanya bisa makan dengan tenang tanpa mengeluarkan sepatah katapun, aku benar-benar dalam situasi terjepit. Setelah selesai makan dan beres-beres, aku hendak berangkat duluan, tapi segera kuurungkan niatku. Aku tidak akan membiarkan ani-chan dan Taito berduaan walau hanya satu detik, terlalu mengerikan untuk dibayangkan. Aku menunggu di teras sambil diam-diam mengintip ke dalam, takut-takut kalau mereka berdua sudah saling bunuh-bunuhan. Yah, sejauh ini belum ada noda darah sedikitpun sih. Untung hari ini aku sudah tidak capek lagi, tubuhku juga sudah sangat segar. Aku lalu kembali duduk di teras menunggu ani-chan dan Taito selesai.
"Kau tidak berangkat?" tanya Taito yang sudah berada di belakangku dengan handuk melingkar di lehernya dan rambutnya yang basah, sepertinya dia habis mandi.
"Tidak, aku menunggu kalian berdua selesai baru berangkat bersama," jawabku berusaha tersenyum.
"Oh, kalau begitu tunggu sebentar, aku akan selesai dalam waktu tiga menit," kata Taito lagi, kemudian dia langsung masuk ke dalam rumah lagi.
Aku mengangguk kecil dan kembalu menunggu. Yah, kau tahu? Menunggu itu sedikit membosankan. Dan menyebalkan. Beberapa menit kemudian, punggungku ditepuk pelan dari belakang, aku langsung menoleh dan mendapati Taito yang tersenyum ke arahku.
"Nah, ayo pergi," katanya.
Aku menaikkan sebelah alisku, "Ke mana ani-chan?"
"Ah, dia belum selesai. Kita duluan saja, ayo!" ajak Taito yang langsung menarik tanganku dan membuka pintu.
"Ittekimasu!" serunya riang seraya berlari.
"Ittekimasu," kataku sedikit lirih karena masih sedikit kaget, untung aku masih sempat menutup pintu sebelum pergi.
Taito menggandeng tanganku dengan erat sambil berlari, aku sih tidak keberatan, toh aku kuat berlari. Tapi aku tidak mau kalau tubuhku sampai keringatan. Aku berusaha melepaskan tanganku dari genggaman Taito tapi tenaga Taito jelas-jelas lebih besar dariku.
"Hei, lepaskan tanganku! Dan jangan berlari-lari, BAKA!" teriakku kesal sambil meronta-ronta.
"Hai, Hime-sama," sahut Taito yang langsung berhenti berlari dan menoleh ke belakang sambil tersenyum—penuh akal bulus yang mengerikan.
Aku mengernyitkan alisku dan langsung melepaskan tanganku dari genggaman Taito. Sementara itu Taito berjalan di sebelahku sambil senyum-senyum sendiri. Hiiih, kenapa aku harus berangkat bareng 'psikopat' nomor dua setelah ani-chan sih? Dan walau seingatku selain 'psikopat' yang hanya julukanku untuk orang-orang yang sinting berlebihan, Taito juga psikopat betulan. Aku lalu menatap lurus ke depan, tapi setelah itu kembali menatap ke arah Taito. Sebenarnya aku tidak benci benci amat dengan Taito, hanya masih merasa kesal melihat sikapnya yang sama sekali tidak merasa bersalah. Padahal ada banyak yang mau kubicarakan.
"Kau... kenapa kembali ke Tokyo lagi?" tanyaku akhirnya.
"Kenapa? Karena aku ingin bertemu denganmu," jawabnya enteng sambil menatap ke arahku juga.
Wajahku langsung memerah dan tanganku sebenarnya sudah ingin melayang ke arah wajahnya, tapi kuurungkan niatku itu dulu. Jangan tambah merusak suasana.
"Jawab yang serius," kataku ketus.
"Baiklah, baik... Papa dipindahkan ke Tokyo lagi oleh perusahaannya. Dan katanya aku harus belajar lebih banyak di Tokyo agar bisa masuk Todai," ujar Taito akhirnya, dia menatap lurus ke depan.
"Todai, ya... susah kan masuk ke sana?"
"Yap, kau benar sekali. Tapi aku sangat ingin masuk ke Todai, makanya aku berusaha keras. Aku tidak akan menyerah sebelum aku mencoba, itu prinsipku. Karena itu, aku juga tidak akan menyerah untuk mendapatkan hatimu lagi."
Aku tercekat mendengar kata-kata Taito barusan. Langkahku terhenti dan kenangan masa lalu kembali menghampiriku, berusaha menggoyahkanku. Taito ikut menghentikan langkahnya dan berbalik ke arahku, dia tampak cemas. Aku hanya mendunduk ke bawah, tubuhku benar-benar tidak ada tenaga.
"Kau baik-baik saja? Gakuko?" tanya Taito cemas, dia lalu memegangi tubuhku agar aku tidak terjatuh.
"Kau... benar-benar tidak sadar ya? Dengan apa yang telah kau lakukan padaku... padahal kau sudah menghancurkan hatiku... masih berani berharap?" kataku lirih, aku menggigit bibir bawahku dan tanganku mulai mengepal.
"Hah? Apa yang kau bicarakan sih? Memang aku sudah melakukan apa?"
Aku langsung menepis tangan Taito dengan kasar. Aku menatap ke arahnya dengan tajam. "Kau... jangan pernah mengikutiku lagi! Aku sudah punya Luki dan aku tidak mau mendengar alasan apapun lagi darimu! Kau sudah menghacurkan hatiku dan masih berani berharap!? Bedebah!" bentakku kemudian langsung berlari menuju sekolah.
Aku berlari secepat mungkin menuju sekolah dan menghapus air mataku. Aku tidak membencinya, tapi aku juga tidak mencintainya, aku hanya ingin berteman dengannya, itu saja! Tapi kenapa begitu rumit? Dan kenapa dia tidak menyadari kesalahannya!? Semuanya... semuanya... kenapa semuanya begitu kacau!? Aku mempercepat lariku dan langsung memasuki gerbang sekolah. Aku tidak naik ke kelas, aku pergi ke taman dalam sekolah dulu. Kemudian aku ke taman belakang, taman rahasiaku.
Tidak banyak orang yang tahu karena katanya tempat ini tempat bagi kepala sekolah untuk beristirahat, makanya dibuat pintu rahasia untuk ke taman ini. Dan aku lupa mmeberitahu kalau aku pandai menemukan sesuatu yang disembunyikan begitu. Aku langsung memanjat salah satu pohon yang lumayan besar dan duduk di dahannya. Di taman ini sepi karena kepala sekolah-pun jarang ke sini. Aku memandangi taman di bawahku sambil masih menagis sedikit. Semuanya begitu kacau dan aku tidak bisa mencerna semuanya satu persatu. Aku mengayun-ayunkan kakiku perlahan dan menyandarkan tubuhku ke batang pohon. Aku mendongak sedikit ke atas.
SET.
Salju. Salju mulai turun. Aku berusaha tersenyum, tipis sekalipun tak apa. Salju mulai turun dan aku sadar ada satu hal yang tidak beres. Aku meraba tubuhku perlahan, aku tahu ada yang tidak beres. Tubuhku merinding seketika. Saat melihat kepala sekolah masuk ke taman itu, aku tambah merinding. Tapi tubuhku tetap saja merasa seperti beku dalam sekejap. Aku masih meraba tubuhku untuk menemukan apa yang salah, dan saat aku melihat kepala sekolah yang berpakaian lengkap, aku tahu apa yang salah.
"Aku tidak memakai syal," gumamku kecil. Pantas saja rasanya dingin sekali. Karena dari tadi berlari aku jadi tidak sadar. Uh, payah. Sekarang aku harus bersembunyi sementara kedinginan begini. Benar-benar tidak beruntung. Aku lalu memandangi kepala sekolah, Kasane Ted-san. Aku tercekat ketika dia mulai celingak-celinguk. Jangan sampai dia menoleh ke atas atau aku akan kerepotan berpindah ke dahan yang lain agar tidak ketahuan. Aku mengatur nafasku yang mulai memburu saking takutnya. Kalau aku ketahuan, tidak tahu deh apa yang akan terjadi padaku. Aku masih mengamati kepala sekolah sampai dia mendongak ke atas dan aku terpaksa berpindah ke dahan yang lain. Ck, kalau begini terus aku bisa ketahuan.
Aku mulai melihat ke sekliling untuk mencari tembok yang berbatasan ke taman dalam. Ah, kebetulan. Sepertinya hari ini aku tidak benar-benar sial. Ada tembok yang jaraknya tidak terlalu jauh dan berseberangan dengan taman dalam. Aku bisa melompat ke sana dan masuk ke taman dalam kemudian berlari sekuat tenaga ke luar dan memakai uwabaki-ku, persis seperti anak yang baru datang. Aku melirik ke arah kepala sekolah, dia sedang sibuk melihat mawar-mawarnya. Dan biasanya kalau dia sudah sibuk begitu dunia serasa miliknya seorang. Itu aman. Aku kembali menatap tembok di depanku dan bersiap-siap untuk melompat. Oke, satu, dua, tiga dan...
HUP! BRUK!
Aku membuka mataku perlahan dan melihat sekeliling. Taman dalam. Aku menengok ke belakang untuk memastikan. Dinding. Aku sudah sampai di taman dalam, dan sepertinya aku melompat terlalu jauh hingga langsung jatuh ke taman dalam. Aku langsung berdiri dan berlari sekuat tenaga ke luar sebelum kepala sekolah masuk ke taman dalam. Beruntung aku sudah terlatih jadi lariku cepat. Begitu sampai di luar, aku langsung ke luar sekolah dan memutuskan untuk tetap di luar selama beberapa menit dulu. Aku lalu mulai berjalan pelan ke arah gerbang sekolah dan menengok ke belakang sesekali sampai...
BRUK!
"Hei, ada apa?"
Aku langsung mendongakkan kepalaku dan mendapati ani-chan yang memegangi tubuhku sebelum aku terjatuh. Aku mengatur nafasku sejenak dan berdiri dengan benar.
"Tidak apa-apa," kataku sedikit terengah-engah.
"Aku tidak yakin begitu. Kau menangis?" tanya ani-chan lagi setelah menyeka air mata di pipiku.
Aku menggeleng pelan. "Tidak, aku tidak apa-apa. Itu hanya keringat, percayalah," kilahku berbohong, kenyataannya aku memang menangis.
"Keringat yang hanya mengalir sekali dan hanya di pipi? Mencurigakan," kata ani-chan lagi sambil tersenyum, dia lalu mengelus kepalaku perlahan dan menatap lembut ke arahku. Dia lalu mengelus pipiku perlahan.
"Aku tidak apa-apa, sungguh," kataku berusaha meyakinkan ani-chan. Aku sedikit menunduk untuk menghindari tatapan ani-chan.
Ani-chan terdiam beberapa saat, dia masih mengelus pipiku perlahan. "Aku tidak yakin, tapi aku percaya padamu," kata ani-chan lagi, setelah berkata demikian dia mengecup lembut keningku dan tersenyum.
"Jangan di sini, ini kan dekat sekolah. Kalau ada yang melihat bagaimana?" kataku panik.
"Tidak apa-apa, katakan saja kalau kita suami istri," kata ani-chan yang langsung berjalan memasuki sekolah sambil tertawa terbahak-bahak.
"Sinting," komentar singkat lalu menyusul ani-chan.
Aku langsung mengganti sepatuku dengan uwabaki dan naik ke kelas. Saat mau masuk ke kelas, aku melihat Taito berdiri di depan kelasku dan menghalangi pintu masuk. Aku langsung memasang wajah jutek dan mengabaikannya. Kurasa aku dan taito datang terlalu pagi jadi sekolah bisa dibilang masih belum ada orang kecuali karyawan-karyawan, para guru, dan kepala sekolah karena tadi jelas-jelas aku sudah melihatnya. Aku langsung berjalan menuju pintu kelas dan hendak membukanya tapi Taito bersikeras menghalangiku untuk masuk. Makin lama darahku serasa semakin mendidih, jadi aku memutuskan untuk membicarakannya saja dengan Taito, secara baik-baik kalau dia tidak membuatku naik darah duluan.
"Kau... bisa kan jujur padaku dan memberikan alasan yang sebenarnya?" tanya Taito setelah aku sedikit lebih tenang.
Aku menatap ke arahnya dengan datar. "Bisa. Karena waktu itu kau jalan malam-malam dengan Nakajima yang bergelanyutan dengan genit-nya pada lenganmu dan kau tersenyum. Puas? Kau tidak sadar kan selama ini? Tidak sadar begitu masih mau berharap!? Coba pakai otakmu sedikit Taito!" bentakku kasar, tapi aku tidak peduli. Aku menahan air mataku agar tidak jatuh, bukannya apa, nanti si 'psikopat' nomor dua ini malah kege-er-an. Ya, sekarang aku ingat pernah melihat Nakajima di mana sebelumnya.
Taito tampak kaget dengan ucapanku, dia terdiam beberapa saat. Beberapa detik setelahnya dia mulai lebih tenang dan menyentuh pipiku. Aku tidak melawan kali ini, maksudku, naluriku tidak melawan.
"Waktu itu Nakajima nembak aku, dia langsung nempel-nempel dan aku tidak bisa mengusirnya karena dia begitu ngotot. Dan tenaganya cukup kuat."
"Lalu? Kau jawab apa?" tanyaku tidak sabaran.
"Aku bilang tidak karena aku sudah memilikimu. Dia tetap ngotot sampai akhirnya aku bilang ada keperluan lain dan harus buru-buru pulang. Itu saja dia masih ngotot mau mengantar, jadi aku langsung lari. Aku tidak pernah bermaksud untuk menduakanmu Gakuko, aku benar-benar mencintaimu. Bahkan sampai sekarang, sampai kau sudah memiliki Luki sekalipun, perasaan ini tidak berubah. Aku hanya berharap kalau kau akan berpaling padaku lagi suatu saat nanti," jelas Taito dengan nada lirih tapi juga lembut, wajahnya tampak memerah, imut juga sebenarnya, dia masih memegangi pipiku dan menatapku dengan tatapan memohon. Aku tercekat mendengar perkataan Taito barusan. Sebenarnya... siapa yang salah?
"Maaf... karena sudah menuduhmu," kataku lirih kemudian memegang tangan Taito yang memegangi pipiku.
"Apa kau akan kembali padaku?"
Aku menggeleng perlahan. "Maaf, tapi... bukan itu saja alasanku. Aku... aku sadar kalau aku sebenarnya tidak mencintaimu. Tidak pernah. Aku menyayangimu, sangat, tapi hanya sebatas sahabat. Aku tidak bisa menyayangimu seperti yang kau harapkan," kataku lagi. Aku menatap perlahan ke arah Taito, iris ungu tua milik Taito menatap dalam ke arahku.
Kemudian dia tersenyum, tersenyum pahit. "Aku mengerti," katanya lirih, "Sebagai kenangan terakhir... boleh aku menciummu?"
Aku menggigit bibir bawahku. "Tapi..."
"Aku janji hanya ciuman singkat," katanya lagi, dia menatapku dengan sangat berharap.
Akhirnya aku mengangguk pelan dan memejamkan mataku. Taito memegang pipiku dengan lembut dan mulai mendekatkan wajahnya. Nafasnya yang beraroma mint mulai bisa kuarasakan menerpa pelan wajahku. Aku memegang bahu Taito, aku takut aku terlalu lemas hingga terjatuh. Ini yang terakhir. Ini akhir dari kisah kita yang lama, dan awal dari kisah kita yang baru sebagai sepasang sahabat. Ciuman terakhir... ciuman perpisahan untuk kita yang masih terbelenggu masa lalu, dan ciuman pertama untuk kita yang baru sebagai sahabat.
Aku duduk tanpa aktivitas di ranjangku. Taito ada latihan basket karena dia langsung diajak bergabung di klub basket sekolahku dan ani-chan sedang membuat makan malam. Semua tugas dan pekerjaan rumah sudah kuselesaikan sejak pulang sekolah sampai pukul enam sore tadi. Dan sekarang aku bosan setengah mati. Aku sudah bermain-main, download lagu sampai sudah tidak ada lagu yang bisa kudownload lagi (bisa dibayangkan berapa lagu yang sudah kudownload). Aku melirik ke arah jam, pukul delapan malam. Aku akhirnya memutuskan untuk ke dapur dan membantu ani-chan.
"Masak apa?" tanyaku setelah sampai di dapur. Sebenarnya tidak perlu ditanya-pun aku sudah tahu kalau ani-chan sedang memasak kare. Yah, untuk basa-basi saja.
"Ah, kebetulan. Tolong cicipi karenya dong, tadi aku keselonyot jadi lidahku agak mati rasa sekarang," kata ani-chan sambil tersenyum lega ke arahku.
Aku mengernyitkan alisku. Mencicipi masakan sampai keselonyot? Tidak ditiup dulu apa? Aku hanya mengangguk dan mencicip kare-nya. Dari rasanya saja bisa kutebak kalau ani-chan sedang kacau hari ini. Mana ada kare yang rasanya manis seperti sirup begini. Aku yakin kalau wajahku sudah memucat dan aku langsung meminum air sebanyak-banyaknya. Setelah merasa lebih tenang dan memakan cheese stick sebanyak-banyaknya, aku memegang lengan ani-chan dengan lembut dan berusaha tersenyum semanis mungkin. Ani-chan hanya cenga cengo melihat sikapku itu. Aku tahu, aku seperti terkena sihir karena bersikap manis seperti ini padanya, tapi toh ini demi keselamatanku juga.
"Aku tahu ani-chan pasti capek sekali, jadi silahkan istirahat dulu dan biarkan aku yang memasak," kataku lembut sambil tersenyum dengan mata terpejam.
"Apa rasanya seaneh itu?" tanya ani-chan.
"Semua orang yang mencicipinya akan mengira itu sirup, bukan kare ani-chan. Nah, sekarang duduk saja dan biarkan aku yang memasak." Aku langsung mendorong pelan tubuh ani-chan dan menyuruhnya duduk. Dia sadar kalau masakannya aneh, tapi masih bersikeras untuk tetap memasak? Sinting. Setelah kuperhatikan, ani-chan masih mengenakan kemejanya yang dipakai untuk mengajar. Ampun, ada apa dengannya?
Aku langsung 'memperbaiki' kare buatan ani-chan. Memang hasilnya adalah porsinya jadi luar biasa banyak. Setelah selesai memasak, aku memanggil ani-chan untuk makan malam. Ada dua sampai tiga kali aku memanggilnya, tapi tetap saja tidak ada jawaban. Akhirnya aku memutuskan untuk menghampirinya saja di ruang keluarga. Dan kalian tahu aku menemukan ani-chan dalam posisi apa? Dia persis seperti patung manekin yang diletakkan di kursi untuk duduk. Pandangannya kosong entah ke mana.
Aku menghela nafas singkat melihat kelakuan ani-chan. Ya ampun, ada apa sih!? Apa karena Nakajima menembaknya dan nempel-nempel terus seperti yang dilakukannya pada Tait— tunggu. Barusan aku ngomong apa dalam hati? Ah, ya. Nakajima. Nembak. Ani-chan. Dan. Nempel-nempel. Terus. Aku mengernyitkan dahiku. Kemudian aku sadar benar dengan apa yang kuucapkan.
WHAT THE HELL IT IS!?
To Be Continued...
