Secret Admirer
.
.
.
Disclaimer: Saint Seiya © Masami Kurumada
Saint Seiya The Lost Canvas © Shiori Teshirogi
Saint Seiya Soul of Gold © Toei Animation
Saya tidak mengambil keuntungan apa-apa selain kesengan fangirlingan semata. Keep cosmo semua~
Genre: Romance, Humor, AU
.
.
.
Icelus tidak takut gelap, tentu saja. Rumah a la kastilnya sendiri bernuansa hitam hampir seluruhnya. Tapi kali ini lain, dia amat 'ketakutan'. Terjebak dalam tempat gelap total yang matanya sendiri tidak dapat menemukan setitik cahaya pun. Dia berpikir apa sedang ada pemadaman listrik bergilir atau apa, tapi gelap yang ini lain, seolah dirinya telah ... mati.
Tidak tahan, dia akhirnya membuka mata. Makhluk pertama yang tertangkap arah matanya adalah sesosok pemuda berambut merah dengan aura hangat memancar darinya. Icelus bisa membaca aura, dan menurut analisisnya, terbangun dalam keadaan nyaris mati lalu menemukan makhluk rupawan (ahem) sedang nyengir di depanmu, sang anak Hypnos menyimpulkan satu hal.
"Loe malaikat?"
Suara Icelus amat parau, dia tidak yakin apa si malaikat ini mendengarnya atau tidak. Di luar dugaan, lawan bicaranya makin melebarkan senyum dengan tatapan ... apa itu? Berapi-api?
"Bukan, sayang~" suara lembut itu berubah sangar sekali, Icelus mulai menyadari dirinya salah bicara. "Aku Surt, Jotun yang akan memulai Ragnarok. Dan 'engkau' manusia, siapakah 'engkau' itu?"
Icelus hampir muntah mendengar dirinya dipanggil begitu.
"Icelus, dewa mimpi buruk yang akan menghantui setiap tidur!" si pirang mulai paham apa dan di mana dirinya sekarang. Rumah sakit. Tidak heran dirinya merasa amat tidak nyaman. Dan si merah di hadapannya ... dia benci melihat pemuda itu ada di sana.
"Dewa mimpi? Tidak. Pemuda tanpa lengan?" Surt menggeleng prihatin. "... ya."
Mendadak semuanya terasa masuk akal dalam kepala Icelus. Suara dentingan pedang beradu, deruan motor, darah menggenang, sirine ambulans, banyak jeritan, dan yang paling keras berteriak adalah ... dirinya. Hasil satu lawan satu dengan El Cid.
Ini sudah pagi, Icelus bisa melihat cahaya matahari menembus jendela ruang rawatnya. Seolah tadi malam hanyalah mimpi. Dia bahkan tidak ingat akhir 'mimpinya'. Lengannya berusaha ia angkat, tapi nihil. Tanpa tenaga.
"Tidak kok, bercanda," Surt menginterupsi sambil tertawa. "Cuma nyaris. Tidak sampai putus betulan."
Tawa bukanlah hal pertama yang dibayangkan orang-orang saat menjenguk seorang teman yang hampir cacat. Tapi apa peduli Icelus? Surt bukan teman, hanya sekedar pion yang berbalik menjadi penjatuh.
"Sialan!"
"Yang sopan, Icelus," decitan pintu terbuka menampilkan Oneiros dengan stelan hitam dan dasi. Oh, Icelus merasa sedikit tersanjung melihat saudaranya datang berkunjung dengan pakaian formal. "Surt yang membawamu ke rumah sakit."
"Naik motor," Surt menyela lagi, memandang Icelus seolah menagih terima kasih.
"Bego! Mana Ayah?"
Oneiros harus menahan Surt supaya tidak menyerang sang adik karena termakan emosi. "Aku benci saudaramu!"
"Semua orang membencinya," Oneiros menghela napas. Diambilnya kursi plastik di dekat Surt kemudian duduk di atasnya. "Tapi tidak dengan keluarganya."
"Oh, terharu banget," Icelus membuat semacam ekspresi nangis yang memuakkan sebelum akhirnya muntah imitasi. "Mana Ayah?"
"Mengurus pembayaran pengobatanmu."
Icelus melirik Surt lagi dengan sengit. Lengan kanannya yang dibebat perban sama sekali tidak dapat diangkat. Sosok pendekar pedang Latin menyesaki kepalanya "Kambing?"
Surt awalnya tidak tahu siapa si Kambing ini, begitu melihat Oneiros yang menunduk diam, Surt paham akhirnya. Pemuda itu hanya bisa menghela napas, matanya melirik ke arah lain, menghindari tatapan Icelus yang meneror, tampaknya bosan hanya dihadiahi keheningan.
"Bisu ya?!"
Oneiros tidak tahan lagi. "Bisa jalan? Kubawakan jas, ganti baju sana. Setengah jam lagi kita ke pemakaman."
Berdiri, Oneiros menepuk pundak Surt untuk meninggalkan Icelus sendiri. Pemuda merah itu patuh, berbalik mengikuti sang anak Hypnos yang telah sampai di ambang pintu.
Itu bukan jawaban yang ingin Icelus dengar, atau lihat. Dia paham sekarang, sesuatu yang awalnya tidak ia sadari. Oneiros memakai jas hitam bukan karena ingin menyambutnya. Surt juga mengenakan jaket berwarna serupa, mengapa Icelus begitu buta? Mendadak ketakutannya pada gelap kembali bertambah.
"Apa sih yang terjadi?!" Dia ingin penjelasan. Dia ingin Oneiros dan Surt menyangkal prasangkanya.
"Seharusnya," Surt memberi Icelus tatapan nelangsa sebelum menutup pintu. "Aku yang tanya begitu, pembunuh."
Bantingan pintu kembali membawa Icelus tepat sepuluh jam yang lalu. Saat pedang hitamnya dan pedang keemasan El Cid masih beradu.
.
.
.
Jika kalian bertanya kapan Icelus merasa amat bersemangat sekali, jawabannya adalah malam ini. Jika kalian bertanya lagi kapan Icelus merasa amat marah sekali, jawabannya tetaplah sama. Malam ini. Jika kalian bertanya lagi dan mengganti 'marah' menjadi sesuatu yang lain macam kesal, jengkel, sedih, merana dan sebangsanya, jawabannya juga adalah malam ini.
Kenapa? Karena malam ini adalah puncak segala perasaannya. Hanya ada satu jawaban dan dia harus menyelesaikannya dengan atau tanpa pemaksaan. Tebas atau ditebas. Potong atau terpotong.
Pertanyaan yang sebenarnya adalah, cukup beranikah kalian mendekati seorang Icelus saat sedang menyabet pedangnya seolah kesetanan hanya untuk menanyakan perasaanya? Tidak akan pernah. Kecuali kalian sepangkat El Cid yang berani dan pantang mundur. Seberani juga sepantang-mundur bagaimanapun El Cid itu, dia tetap terdesak jauh dengan kulit diselubungi luka tebasan sementara Icelus sendiri masih mulus.
Kemajuan seni berpedang Icelus yang selama ini tersendat seolah keluar tidak tertahankan. El Cid mengakui, Icelus di depannya sekarang amat beringas dari biasanya. Pria Spanyol itu hanya tidak mengerti satu hal, mengapa setiap tebasan yang menciptakan luka di tubuh El Cid terbentuk, Icelus semakin marah dari sebelumnya.
Tidak butuh semenit untuk El Cid mendapat jawaban. Jika terpotongnya lengan musuh adalah pernyataan cinta, artinya seberapa banyak luka yang didapat El Cid mengambarkan segitulah rasa sayang Icelus kepadanya. Dan melihat dari bersihnya tubuh Icelus dari luka, sudah dipastikan seperti apa perasaan El Cid pada pemuda bertaring tajam tersebut.
"Kenapa? Capek?" Icelus mengusap ujung pedangnya dari darah El Cid. "Potong tangan gue kalau gak mau, Kambing!"
El Cid terengah-engah. "Aku tidak mau melukai seorang teman."
Itu mengharukan. Sayangnya Icelus semakin kesal mendengarnya. "Gue mau lebih dari teman!"
Ayunan keras pedangnya kembali dihalau bilah emas Excalibur. Dentingan dua logam beradu memekakkan pendengaran. Malam semakin larut dan waktu sendiri pun tidak dapat menjawab akhir pertarungan nantinya.
Tidak mau melukai seorang teman, katanya. Selamat Icelus son of Hypnos. Keluar dari enemyzone, kau telah terjebak dalam friendzone.
...
Surt melupakan betapa menyenangkannya acara sederhana penyambutannya di rumah Degel begitu Milo mengajaknya bicara. Oh, dia tidak benci Milo, tentu saja. Surt sayang semua teman Camus, hanya saja pada penyuka kalajengking itu dia agak kurang nyaman. Katakanlah, pelototan Milo yang serasa mengintimidasi.
"Yo, Milo!" Surt mengangkat gelasnya sebagai salam ramah-tamah.
"Jangan sok akrab."
'Asem.' Surt menahan diri untuk menyiram si rambut biru itu. "Iya deh."
Milo melakukan hal yang paling jarang terjadi di dunia. Bicara serius. "Camus bukan punyamu, tahu!"
"Memang," Surt membalas hampir seketika. "Dan Camus juga bukan punyamu, kau milik cewek hijau hot di sana," dia menunjuk Shaina di meja tamu.
Milo merona cukup parah. "Dari mana kau tahu?"
"Mudah. Aku menggodanya tadi, tapi dia bilang dia sudah punya pacar."
Wajah Milo serasa jadi oven. "Dengar, kau sudah cukup jadi masalah. Dekati Camus, tapi jangan terlalu dekat dengannya. Minggu belakangan ini dia jadi aneh, aku gak mau dia makin tertekan."
Surt membuat suara seperti tersedak. Wajahnya menampilkan ekspresi amat terluka seolah Milo baru saja membuatnya patah hati. "Aku? Maksudmu aku yang bikin dia tertekan? Camus aneh karena aku?"
"Memangnya siapa lagi?"
Cukup main-mainnya. Jika Milo adalah sahabat Camus, dia tentu tahu sesuatu. Surt menatap lawan bicaranya dengan sengit. "Menurutmu, Camus bertingkah seperti itu karena apa?"
Milo berusaha mempertahankan ekspresi wajahnya tetap datar, tapi dia tidak yakin bisa bertahan lama. Surt seolah bisa baca pikiran, pemuda itu menakuti Milo sama parahnya dengan dia membuat Milo jengkel. Ponakan Kardia itu jelas tahu ada apa dengan Camus, Milo tidak buta, tentu saja. Dia mengenal Camus seperti dia mengenal kamar tidurnya sendiri. Meski Camus tidak berbau pakaian yang belum dicuci.
Milo tahu apa yang sedang Camus rasakan, karena beberapa semester lalu dia juga merasakannya. Tepat saat awal-awal kasmarannya pada Shaina. "Camus bertingkah seolah sedang ... jatuh cinta."
Surt tertawa tanpa canda. Bagi Milo itu terdengar seperti Surt sedang kecewa. "Dan kau bilang akulah penyebabnya? Kukira kau ini pintar."
"Aku gak kira begitu! Camus gak mungkin suka padamu!" Milo harus menahan suaranya agar pertikaian kecilnya dengan makhluk bikin naik darah macam Surt tidak mengusik orang-orang di sekitarnya. "Aku gak mau percaya, tapi sikap Camus yang bilang begitu. Pas kau muncul, Camus jadi bukan Camus lagi. Dia seperti orang yang ..."
"Sedang lari dari sesuatu."
Milo ingin bilang 'kehilangan kalajengkingnya', tapi dia yakin (entah mengapa) bahwa alasan Surt berkata begitu bukan semata-mata menebak. "Menurutmu begitu?"
Butuh waktu lusinan detik sebelum Milo menyadari bahwa Surt sedang mencoba mengatur napas. Kebiasan yang sama dengan Milo saat dirinya mencoba mengatakan sesuatu yang menyakitkan. "Camus naksir seseorang bernama El Cid. Cowok yang namanya mirip Dewa Tidur yang bilang begitu," Milo terlihat ingin menyanggah, tapi Surt buru-buru menyumpal mulut teman Camus itu dengan roti terdekat. "Bukan aku, paham? Si El Cid ini kayaknya bikin Camus putus asa, jadi Camus jadikan aku sebagai pelariannya buat lupakan dia."
Tersedak roti berukuran kepalan tangan Aldebaran atau mendapat fakta barusan, Milo tidak tahu mana yang lebih membuatnya kewalahan. "Air!"
"Oh, maaf. Tenggorokanmu sempit, aku tidak tahu," Surt menyodorkan gelas berisi sirup berwarna merah yang tadi sempat ingin ia siramkan ke wajah Milo yang segera diterima dengan teramat cepatnya.
"Kau!" Milo terlihat kepayahan dan kehabisan napas. Tapi pemuda itu memilih mencari penjelasan lagi sebelum menonjok wajah Surt. "Apa maksudmu? Camus suka Kakaknya Shura?"
Baik Hypnos maupun Oneiros tidak menyinggung siapa si Shura ini, tapi Surt mengangguk saja. "Lebih dari suka malahan. El Cid ini ... eh, atau Kak El Cid, dia lebih tua dariku ya?"
Milo tidak menjawab.
"Iya, deh. Jadi mereka cuma diam-diam begini saja karena kayaknya Kak El Cid tidak pintar-pintar amat buat nembak orang."
"Kak El Cid bahkan jarang bicara," Milo masih cukup terguncang. Setidaknya dia lega bukan Surt-lah asal muasal perasaan cinta Camus. Tidak rela dia.
"Aku mau bikin mereka sadar perasaan masing-masing. Jadi kau tertarik buat bantu aku tidak?"
Ucapan Surt barusan agak aneh, Milo butuh klarifikasi. "Kukira kau suka Camus."
"Memang," Surt tersenyum pahit. "Tapi jadi pelarian itu tidak enak. Kau mau bantu tidak?"
Jadi pelarian memang tidak enak. Tidak ada enak-enaknya. Milo mengerti, Shaina sendiri adalah bentuk dari pelarian dirinya sendiri. Dari siapa? Dari Camus, tentu saja. Si es batu perancis itu punya daya candu kuat, lama sekali untuk Milo sadar. Shaina, beruntungnya (atau malah celakanya) punya semacam itu juga. Rambut yang berwarna sama meski punya Shaina lebih cerah, itulah yang bikin Milo naksir pertama kali. Di sisi lain, cewek itu tidak memberi kesempatan Milo main mata dengan orang lain. Camus sekalipun.
"Bantuan macam apa?"
Wajah Surt berubah cerah. "Tidak susah, kok. Kendaraan, apalah itu yang bisa kupakai. Tidak enak pinjam punya Kak Degel terus."
"Motor?" Milo meletakkan kunci berhias capit kalajengking di atas meja.
"Makasih!" Surt menerimanya. "Ada helm? Dua? Soalnya Camus tidak mau kuantar kalau tidak pakai helm."
Milo yakin Surt punya rencana aneh. "Ada. Aku selalu bawa dua, satu buat pacarku. Kau mau bawa Camus ke mana, sih?"
Lawan bicaranya hanya menyeringai. Dia jadi mirip tokoh antagonis di film-film. Milo berharap dirinya telah bertindak benar.
Selesai itu, Surt menunduk, mengecek kembali pesan masuk dari Oneiros yang sejak setengah jam lalu membuatnya tersenyum mengomeli diri sendiri. Iya, Surt hadir di cerita ini harusnya menjadi villain, bukannya memerankan perannya dengan baik, dia malah berimprovisasi jelek. Berlagak layaknya seorang hero.
...
Degel pernah melatih Camus bagaimana caranya menghadapi kegugupan sebelum muncul di depan orang banyak, dan itu selalu berhasil. Mendongkrak turun sedikit rasa risihnya dipandangi banyak pasang mata. Dia hanya perlu membayangkan orang-orang itu berwajah seperti Milo dan memandanginya. Itu bahkan lebih efektif daripada membayangkan mereka sebagai sebuah kentang.
Namun kali ini lain, tidak berefek sama sekali. Camus hanya dipojokan oleh empat orang dan dia telah berada dalam ambang batas jengahnya. Apalagi saat orang-orang itu menatapnya serius, meminta melakukan sesuatu yang sama sekali tidak berada dalam daftar sesuatu yang ingin dirinya lakukan.
"Tembak Kak Cid. Apa susahnya sih?"
Pernah keselek es batu eh, Shura? Belum? Mau rasa?
"Itu bukan urusan saya."
"Itu jelas urusanmu!" Shura memaksanya lagi. "Kau yang tahu semuanya, kau yang harus ambil tindakan."
"Kak El Cid yang pertama memulainya, Shura," Camus menatap celah antara Angelo dan Shaka, berharap dapat kabur dari sana sekarang juga. Tapi Shaka sendiri menguarkan aura mengintimidasi yang pekat sekali. Seisi ruangan seolah menurun suhunya beberapa derajat.
"Duh," Angelo menepuk jidatnya. "Apa sih? Loe itu ganteng dan sebagainya, cuma bilang 'mau jadi pacarku, Kak Cid?' kok susah amat?!"
Camus skeptis. Senyumnya bahkan lebih seram saat dia marah. "Kalian sendiri? Berapa lama sampai kalian sadar perasaan masing-masing?"
Baik Shura dan Angelo, mereka sama-sama memasang ekspresi seolah habis ditonjok di perut. Tiada memang yang bisa mengalahkan Camus dalam berkomentar sarkatis.
"Bedalah!" Angelo berusaha menyelamatkan mukanya beserta muka pacarnya.
"Saya tidak melihat adanya perbedaan," Camus mendongak sengit. "Ini juga karena bantuan Aphrodite."
"Camus," Mu menyela segera, dengan suara amat lembut. Melihat dari betapa terguncangnya ekspresi Shura, ponakan Shion itu merasa harus turut ambil bagian. "Kami bermaksud baik. Memang kelihatan agak lancang, maaf. Tapi kami sedang mencoba menjadi 'Aphrodite'-mu."
"Tidak perlu, makasih. Saya tidak butuh tambahan empat Aphrodite."
"Meski Aphrodite-nya seganteng gue?" Angelo menyeletuk.
"Tidak. Seganteng Kak El Cid pun tidak."
Seringaian terbentuk di wajah Angelo. "Oh, jadi loe setuju kalau Kak El Cid itu ganteng ya?"
Camus terlihat ingin meledak. Wajahnya merah entah karena malu atau marah. Shura mengasumsikan keduanya. Tapi itu belum cukup untuk mendesak Camus agar setuju. Pendirian adik Degel ini sekokoh es batu. Shura butuh pengalihan perhatian, sesuatu yang bisa mengakali seorang Camus. Dia harus membuat Camus termakan kata-katanya sendiri.
"Itu artinya kau pengecut," Shura menatap Camus langsung ke mata. "Kau lari dari perasaanmu. Kau pelarian."
Camus memicingkan mata, jelas tidak terima. "Jangan ceramahi saya tentang lari dari perasaan. Tanyai kakakmu. Dia ahlinya."
Ini cuma firasat Shura saja atau mendadak bulu tengkuknya memang meremang? Dia menyadari Angelo dan Mu juga bergidik, jadi bukan halusinasinya seolah Camus tengah memenjarakan mereka dalam kecemasan karena tatapan sang adik Degel yang bagai gletser.
"Dengar! Saya hanya bilang sekali," Napas Camus berantakan karena emosinya yang kacau. Pengalaman hilang kendali seperti sekarang agaknya membuat ia kelelahan setengah mati. Apapun itu, dia akan menuntaskan debat 'tembak-menembak' ini pada ucapannya yang paripurna. "Saya tidak akan menembak Kak El Cid, sama seperti Shaka tidak akan pernah berani menembak Mu!"
Semua membeku. Deruan napas Camus dan suara riuh rendah dari luar-lah pengisi sesi diam-diaman mereka. Shura tidak bisa melihat bagaimana ekspresi Mu, atau bahkan Shaka. Karena dirinya sendiri terlalu sibuk terpaku. Dia berpikir, 'mati aku'. Inilah akhirnya, desakan mereka sudah sampai batas. Camus tidak bakal mau didesak lagi, temannya itu telah cukup berapi-api untuk malam ini. Memaksa terus-terusan? Shura tidak akan sampai hati.
Sesaat dia yakin tim Camus Sukses Jaya-nya benar-benar tamat kali ini, tapi kemudian suara itu datang.
"Mu, aku menyukaimu."
Itu Shaka, jelas. Tidak ada yang bisa bersuara amat jelas meski tidak terlalu membuat banyak gerakan bibir selain si pirang India itu dan mentornya Asmita. Mu terlihat salah tingkah, wajahnya merona tidak siap. Dia memburu Shura dengan panik, berharap ucapan Shaka tadi memang ada dalam rencana mereka. Tapi Shura terlihat sama terkejutnya.
Shaka sendiri masih memasang wajah diamnya yang biasa. Seakan yang tadi tidak pernah ia ucapkan. Tapi keringat sebesar biji jagung yang mengucur dari dahi putihnya menjelaskan semuanya. Si Mini Buddha juga sedang gugup.
Hanya Angelo yang tertawa, dia menyeringai pada Camus. "Nah, lho!"
Camus terlalu kaget hanya untuk memberi jawaban. Dia sudah terlalu lelah didesak sana-sini, dia tidak mau berlama-lama di sini lagi mendapat malu. Tapi dia tidak bisa, Camus telah terperangkap. Adik Degel itu frustasi, dia menatap keempat temannya dengan nelangsa.
"Saya tidak bisa!" suara Camus bergetar, bukan karena marah seperti tadi, melainkan putus asa. Dia tidak pernah memakai banyak tanda seru pada kalimatnya seperti malam ini. "Saya bahkan tidak tahu di mana dia."
"Sayangnya aku tahu."
Sebuah benda sebesar semangka melambung ke arah Camus. Shura dengan bijaknya menyingkir, memberi jalan hingga benda tadi tertangkap tepat di tangan Camus. Sebuah helm. Di ambang pintu dapur, sang pelempar yang diketahui bernama Surt telah siap sedia dengan helm lain terpasang rapi di atas kepalanya.
"Siap pergi?" dia menyeringai seolah ini akan asyik sekali, kemudian menarik Camus keluar pintu.
"Surt!"
Shura ingin menjegal si kepala merah itu. Surt memang berbalik, tapi dia tidak berhenti. Tangannya membentuk tanda 'OK', seakan berkata bahwa ini akan baik-baik saja. Surt ada di pihak mereka, dan Camus telah berada pada tempat yang tepat. Shura tidak mau percaya, tapi dia tidak punya pilihan lain selain setuju saja.
"Yakin, nih?" Angelo bertanya setelah Camus dan Surt telah benar-benar pergi. Dari rungan luar terdengar Degel bertanya 'mau ke mana?' dan suara kumur-kumur Surt yang mengucap sesuatu seperti 'ke luar sebentar'.
Shura tidak terlihat yakin. "Iya, kita lihat Surt bakal mengacau atau tidak. Yang lebih penting," matanya menghampiri Shaka dan Mu bergantian. Dia tidak tahu ingin tertawa atau memeluk mereka atau apa, adrenalin tadi sudah lenyap dan rasanya bibirnya gatal ingin tersenyum terus. "Jadi kalian jadian, nih?"
Berikutnya dunia pertama kali ini melihat seorang Shaka merona.
...
Oneiros mengecek ponselnya hampir setengah menit sekali. Dia bukan tipe orang yang gila gadget atau apa, si pemuda bersurai sewarna uban itu hanya sedang menunggu balasan pesan dari orang yang beberapa hari belakangan ini membuat hatinya tidak menentu. Si kepala merah sialan, Oneiros tidak mau mengakui betapa perhatiannya telah tersedot sepenuhnya pada cowok yang bahkan tidak ia tahu di mana sisi menariknya.
Ayahnya, Hypnos, memang punya informan luar biasa. Semua data tentang Surt amat lengkap hingga dia harus menghabiskan waktu dua hari tiga malam hanya untuk membaca semuanya. Beberapa data Surt entah mengapa sering membuatnya senyum-senyum sendiri. Ini tidak normal! Oneiros bukan tipe orang yang suka membaca sambil senyum-senyum sendiri!
Sesuatu tentang Surt yang tetap menyimpan ikat rambut adik perempuannya, Sinmore, (bahkan memakainya juga) meski telah lama meninggal, agak menyentuh hati terdalam Oneiros. Dia menganggap itu sebagai sesuatu yang lucu. Lucu dalam bentuk imut, bukan lucu bikin ketawa.
Nomor ponsel Surt yang juga tertera pada lembaran data (yang membuat Oneiros kejang saking senangnya) telah ia hapal mati. Berulang kali Oneiros berusaha menghubungi, menyusun kalimat-kalimat apa tepatnya yang akan dia ucapkan saat menelepon, tapi selalu tidak bisa. Itu tidak seperti dirinya. Menelepon hanya untuk PDKT? Tidak, deh. Tidak 'Oneiros' sekali.
Akhirnya malam inilah saatnya. Dia mengambil resiko memberi tahu rencana Icelus, masa bodoh saja baginya. Dari jauh hari dia memang tidak yakin saudaranya itu punya peluang. Iya, mungkin kesannya dia saudara yang kejam, tapi Oneiros itu realistis.
Dari kaca spion mobilnya, terpantul suatu cahaya mendekat dari kejauhan, bersamaan dengan geraman motor. Oneiros tetap duduk di jok mobilnya menunggu hingga motor itu menepi dan parkir tidak jauh dari sana. Dia tidak bergerak untuk menyapa bahkan setelah dua pengendaranya turun. Surt benar-benar datang memenuhi panggilannya. Membawa Camus pula. Bibir Oneiros gatal ingin tersenyum.
"Hei."
Suara ketukan pada kaca mobil membuat Oneiros menoleh dan hampir terjengkang. Wajah Surt nangkring amat dekat pada kaca mobil, embun akibat hembusan napasnya bahkan menempel di sana. Bersyukur kacanya buram, Surt tidak akan punya kesempatan melihat Oneiros merona.
Wajah mereka hanya dibatasi kaca dan yang menjengkelkannya, Surt terus berusaha mencoba melihat ke dalam. Dia membuat semacam teropong di depan mata dengan kedua tangannya, kemudian menempel total pada kaca mobil. Tidak membantu. Itu malah membuat Oneiros gemetar menahan tawa menyaksikan bagaimana Surt dengan bodohnya mengintai kaca mobilnya.
Surt kembali mengetuk kaca tidak sabaran. Membuat isyarat dengan tangan dan berucap, "Buka!"
Oneiros menurunkan kaca mobilnya hanya sebatas hidung Surt. Dia berusaha se-poker-face mungkin yang ia bisa. "Motor baru? Motormu yang kemarin mana?"
"Itu bukan motorku," Surt tampak malu. Entah mengapa bagi Oneiros itu terlihat lucu. "Yang kemarin juga bukan punyaku."
"Tukang pinjam."
"Bukan urusanmu!"
"Helm itu pasti juga bukan punyamu."
"DIAM!"
"Ehm!" Camus batuk imitasi. Dia telah melepas helmnya sendiri. "Dahulukan yang penting. Kenapa kita di sini, Surt?"
"Aku baru mau tanya, kok, Mus," Surt menjawab seolah dia takut dimarahi oleh si adik Degel. Dia kembali bertemu pandang dengan Oneiros. "Dapat pesanmu. Maksudnya apa, sih, suruh datang?"
Oneiros menunjuk rumah El Cid yang hanya seperti mainan dari kejauhan. "Icelus dan El Cid. Mereka main pedang-pedangan."
...
Bahkan sebelum Surt menyeretnya keluar rumah dan memboncengnya pergi entah ke mana dengan motor punya Milo, Camus berpikir malamnya tidak bisa jadi lebih buruk lagi.
Pemilik rambut hijau daun segar itu sudah lelah jiwa raga didesak sana-sini, mendapat malu, kalah dalam berargumen pula. Tenaganya telah terkuras habis sepenuhnya, dia nyaris tidak bisa bereaksi apa-apa saat mendengar seseorang berkaos hitam yang Surt panggil Oneiros, mengucap satu kalimat penuh ambiguitas.
"Mereka ... ngapain?!" setidaknya ada Surt yang masih cukup ekspresif sebagai perwakilan serapah hati Camus. Wajahnya bahkan semerah rambutnya sekarang.
"Lihat sendiri," Oneiros menjawab datar. Meski begitu Camus menangkap binar aneh di matanya. Seolah dia geli untuk tertawa, tapi tidak jadi karena terbentur gengsi.
Oneiros menjelaskan versi lima detiknya mengenai rencana Icelus, yang membuatnya terdengar lebih mengerikan. "Jadi coba cek saja. Siapa tahu sudah ada pemenangnya. Oh, sudah kuberi tahu belum, buat panggil ambulans?"
"Tidak ada waktu!" Surt menyambar lengan Camus, bersiap membawa sahabatnya pergi ke medan pertarungan. Tapi dia berhenti mendadak, menoleh kembali pada Oneiros dengan wajah kebingungan. Seolah dia baru menyadari sesuatu. "Kenapa?"
"Apanya?" Oneiros masih belum berniat keluar dari mobilnya.
"Ayah cantikmu bilang, aku ini pion kalian 'kan?"
"Ya," Oneiros masih menanti Surt mengucap maksudnya yang sejati. Meski agak keki mendengar julukan 'cantik' barusan.
"Jadi kenapa kau beri tahu rencana adikmu? Aku ini alat kalian 'kan?"
Lawan bicaranya mengangkat bahu. "Mungkin aku cuma iseng. Atau mungkin kau memang pion. Pion yang berada di papan catur yang salah."
"Oh. Oke, deh," Surt mengangguk ragu, dia memberi Oneiros anggukan singkat sebelum kembali menarik tangan Camus pergi. "Makasih."
Camus yakin Surt tidak mengerti, temannya itu punya semacam ketidakpekaan aneh pada sesuatu yang dimetafora-metaforakan. Tapi ada hal lain yang lebih serius untuk dipikirkan. Mereka harus segera melerai El Cid dan Icelus sebelum dua pria kelebihan tenaga itu saling potong-memotong.
Sang adik Degel tidak habis pikir, dia tidak pernah punya pengalaman dengan asmara lagi sejak kasmaran dengan Surt. Tapi itu sudah lama sekali, Camus masih terlalu kecil saat itu, masih naif, itu hanya sekedar cinta monyet belaka. Sekarang, sekalinya dia benar-benar jatuh hati, konsep awalnya yang simpel jadi makin kompleks. Dia terbiasa berpikir realistis, konkret dan nyata. Sesuatu semacam perasaan cinta jelas kelewat abstrak baginya. Dan sialnya, belum ada ilmuwan satu pun yang menemukan rumus penyelesaian cinta segi empat tidak beraturan.
"I-ini ..." Camus menggigit bibir selagi berlari, yang mana ternyata susah dilakukan.
"Gila? Aneh? Bodoh? Bikin malu? Cari mati?" Surt mengusulkan, agak terengah. Dia menyesal tidak menggunakan motor Milo, karena jarak ke rumah El Cid ternyata jauh sekali jika hanya ditempuh dengan berlari.
"Serius," Camus berhenti mendadak, menghentak tangannya yang sedari tadi digenggam Surt. "Ini tidak seharusnya."
"Kalau-kalau kau sadar, Mus," Surt menuding rumah El Cid yang tinggal beberapa meter lagi dengan ibu jari. "Ada adegan mutilasi yang harus kita, maksudku, KAU hentikan."
"Kita bicara tentang Icelus, Surt. Dia beda. Dia tidak seperti saudaranya. Dia bukan tipe yang bisa dibuat mengerti dengan argumentasi," Camus menatap sahabat sedari kecilnya itu tepat di mata.
Surt bahkan tidak pernah melihat seperti apa Icelus itu. Tapi jika dia adalah saudara kandung Oneiros, tidak ada bedanya. "Kalau gitu kekerasan. Apa kek, tinggal dikit, ayo! Masih ada waktu buat kau tembak si El Cid ini, kok."
Camus berharap wajahnya tidak semerah yang ia rasa. Dia lupa bahwa tujuan awal mereka ke sini adalah mengungkapkan perasaan sesungguhnya Camus pada kakak Shura. Tidak, dia belum siap. Mendekati pun tidak.
"Ide buruk," Camus menggeleng. "Aku tidak bisa."
"Duh!" Surt gemas sekali. Dia jadi ingin melumat bibir mantan cinta monyetnya ini saking gemasnya. "Kalian saling suka, astaga! Sekarang kita pergi dulu, temui mereka, lerai, lakukan apapun supaya mereka bisa damai."
"Tanpa potong tangan."
"Itu juga boleh, deh." Surt menarik tangan Camus lagi, tapi sang pemilik tangan belum sudi bergerak. "Camus ..."
Camus menggeleng. "Saya skeptis, Surt."
"Tidak. Kau cuma takut ditolak, dan tidak bakalan. Janji, deh!"
"..."
"Arghh!"
Untuk sepersekian detik, Surt tidak punya gambaran apa yang tengah ia lakukan. Dia hanya mencoba mengikuti instingnya yang ternyata telah lepas kendali duluan. Disambarnya bahu Camus mendekat, bibirnya melahap mulut sahabat sedari kecilnya itu dengan tidak sabaran. Yang ada dalam kepalanya saat ini hanya euforia juga dorongan hati untuk merangsek masuk jauh lebih dalam lagi. Mengeksplor organ yang sedari dulu ia impikan.
Tapi tidak, akal sehat Surt masih mencoba mempertahankan eksistensinya. Surt buru-buru menarik diri kembali sebelum benar-benar dibuat mabuk kepayang.
"Aku menyukaimu, paham? Aku menembakmu sekarang," ini ucapan bunuh diri, tapi Surt mencoba menguatkan hati. "Kau pasti bakalan nolak, aku tahu, tapi kenapa aku masih nekat nembak? Karena memang harus."
Surt berhenti sambil mengambil napas. Dia bersyukur gelapnya malam menyembunyikan wajahnya yang bersemu. Camus di hadapannya tidak bereaksi apa-apa, terlihat masih shock dengan apa yang terjadi. Wajah bengong Camus bahkan lebih menggemaskan, Surt berusaha mati-matian untuk tidak mencium sahabatnya itu lagi di tempat yang sama.
"Si El Cid ini juga gitu. Kalaupun dia menolakmu," Surt berusaha tersenyum seganteng yang dia bisa. "Masih ada aku."
Oke, dirinya sendiri sebenarnya tidak yakin. Dia tidak se-good-looking El Cid atau Camus atau Oneiros atau bahkan Hypnos. Mana bisa Surt menjadikan dirinya sendiri sebagai 'masih ada aku' dengan gampangnya, tapi dia sudah berlatih bertahun-tahun lamanya tentang ini. Jika pilihan utama pergi meninggalkan orang-orang, Surt siap menjadi pilihan terakhir mereka.
Anehnya Camus dapat tersenyum karena itu. "Makasih. Kamu teman saya."
"Aku tahu." Surt menarik tangan Camus kembali. 'Sama tahunya dengan aku ini bukan pacarmu.'
Kali ini Camus ikut berlari. Sedikit lebih bersemangat dari yang tadi. Mengapa? Camus sendiri juga tidak yakin. Tapi dia tidak mau bilang itu karena ciuman singkat Surt barusan.
...
El Cid begitu terkuras. Dia tidak mau melukai orang lain tanpa alasan yang jelas. Menolak pernyataan cinta seseorang dalam bentuk memotong tangan? Tidak ada jelas-jelasnya sama sekali. Dia tahu bagaimana rasanya saat lengannya sendiri hampir putus, sedingin-dinginnya El Cid, dia tidak sampai hati membiarkan orang lain merasakan hal yang sama. Icelus sekalipun.
Itu bentuk ketidaktegaan, El Cid berusaha meyakini, bukan sayang. Dia mengakui, mulai ada sedikit rasa empati muncul padanya terhadap sang putra Hypnos. Hanya sedikit, karena Icelus rupanya tidak gampang dikasihani.
"Loe gak berdaya, ya?" Icelus menyabet pedangnya melengkung pada lengan El Cid. Refleks rival kesayangannya itu membuat tebasan Icelus hanya nyasar pada telapak tangan.
El Cid membiarkan darah menuruni telapak tangan kirinya. Dia tidak menjawab, Icelus telah hampir mengulang pertanyaan yang sama setiap kali dirinya terluka. Di sisi lain kepalanya mulai pening karena di serang sana-sini tanpa henti.
Dia ingin maju. Dia ingin mengeliminasi jarak dan menghantam titik-titik syaraf kesadaran Icelus sampai sang empunya pingsan. Jadi El Cid tidak perlu lagi bergelung dalam pertarungan sia-sia. Tapi Icelus terlalu agresif, kelewat awas. El Cid tidak punya kesempatan mendekat semeter saja tanpa terluka.
Dari sudut matanya dia bisa melihat Icelus memandanginya sambil menelengkan kepala. Icelus punya semacam api berdenyar penuh kuasa di matanya, seperti yang El Cid dapati pada anak-anak Hypnos yang lain. Hanya saja beda dengan Oneiros yang menjaganya tetap terkontrol, Icelus membiarkan denyar itu menjadi liar. Seakan kehausan, Icelus tengah memandangi El Cid dengan penuh damba dan rasa ingin memiliki yang mengerikan.
"Tahu, gak? Gue gak keberatan punya pacar tangannya sebelah doang," Icelus membuat gerakan menipu dengan memiringkan gagang pedangnya menggebuk dada El Cid, sementara ujung pedangnya diam-diam berayun mengiris puncak lengan sang pelatih senior Dojo Capricorn.
Sayangnya El Cid menyadari itu duluan dan mengayunkan Excalibur menghempas pedang Icelus amat keras hingga terlempar cukup jauh. Mengambil resiko nyaris sesak napas begitu gagang pedang sekelam malam Icelus menciptakan memar parah di dadanya.
Icelus meraung frustasi. "Tukang bikin jengkel! Gak bakalan sakit, kok. Cuma diam di sana, biarin gue ambil tangan loe, apa susahnya?!"
Melucuti Icelus itu bukan perkara gampang. El Cid mempertaruhkan tangan kiri berdarah, dada remuk dan sekujur tubuh lecet-lecet hanya demi itu. Jadi dia tidak akan sudi memberi kesempatan bagi Icelus merebut pedangnya kembali.
El Cid menarik kerah Icelus yang telah basah oleh keringat mendekat, sementara pedangnya menyeberangi tubuh kurus sang anak Hypnos. Menempel, menyampingkan bilah tajam Excalibur pada kulit tengkuk dan punggung lawannya. Icelus tidak punya pilihan selain bersinggungan dada bertemu dada dengan El Cid, jika tidak ingin pedang keemasan itu menancap di punggungnya.
Harus Icelus akui, itu membuatnya panas dingin. Dia tidak pernah sedekat itu dengan tubuh El Cid. Keringat makin membanjiri dadanya, adrenalin yang menumpuk membuatnya bergelora seolah perutnya penuh dengan kupu-kupu.
"Kuberi pilihan lain," itu kalimat pertama El Cid setelah sekian lama diam. Icelus tahu dari aura pria itu, El Cid juga sama gugupnya. Tapi gestur serta mimik wajahnya seolah dia baik-baik saja membagi kontak fisik dengan Icelus. "Pergi dengan damai. Jangan bikin kacau. Kita bisa jadi teman."
Itu bentuk penolakan yang tidak ingin Icelus dengar. "Kalau gue nolak?"
"Kita bisa jadi teman baik."
Icelus ingin menyumpah. Dia telah melakukan apapun yang dia bisa demi memerangkap perhatian El Cid. Dan sekarang si kambing menganggapnya hanya sekedar 'teman baik'? Setelah semua darah dan rasa sakit yang Icelus berikan, El Cid hanya menganggapnya seperti itu? Tega!
"Gue gak mau cuma teman!" Icelus menyambar lengan kanan El Cid yang menggenggam pedang. Mencengkram sekuat yang ia bisa dan memuntir ke sudut yang salah. "Gue mau lebih!"
Tidak ada pedang bukan masalah. Icelus masih bisa berupaya. Cengkramannya amat kuat hingga buku jarinya memutih.
El Cid menggeram. Rasa sakit saat tulang lengannya bergeser membuatnya nyaris hilang kesadaran. Excalibur lepas dari genggamannya. Jatuh tepat ke tangan Icelus.
Icelus mengangkat Excalibur selagi sang pemiliknya tengah didera rasa sakit. Bilah tajam keemasan sembilan puluh sentimeter berkilau diterpa sinar bulan. Menggelap oleh bayangan seolah Icelus-lah yang membuatnya begitu.
"Gue naksir loe, Kambing!" Icelus menghujam Excalibur hingga tembus ke punggung El Cid.
El Cid tidak berteriak begitu perutnya dirobek pedangnya sendiri. Terlalu sakit. Dia nyaris limbung dan jatuh jika suara itu tidak membangunkannya. Suara yang selalu membuat hatinya berdesir saat mendengarnya. Bahkan saat dirinya nyaris terjaring sekarat.
"TIDAK!"
Itu suara Camus. Wajahnya menyiratkan duka dan kemarahan amat sangat. Ekspresi yang baru pertama kali ini ditampilkannya. Dia menarik Icelus menjauh dari El Cid dengan begitu kasar. Icelus terhempas bersama dengan Excalibur. El Cid terengah begitu pedang telah lepas sepenuhnya dari perutnya.
Camus merenggut tubuh El Cid sebelum ambruk total. Darah segar menghiasi kedua tangannya seketika.
Surt nyaris tidak sanggup melihat. El Cid amat babak belur. Kulit pria itu tidak ada yang kosong dengan goresan pedang, tangan kirinya terluka dalam, lengan kanannya terpuntir ke arah yang ganjil, dan perutnya ... Surt mencoba untuk tidak melihat bagian itu, cukup kaos yang koyak parah.
Camus adalah seorang tenaga medis, Surt tahu itu, hatinya pasti hancur melihat ada orang lain yang terluka. Terlebih lagi orang yang dia cintai.
"Orang-orang sialan!" Icelus belum selesai. Dia bangkit kembali dengan amarah yang lebih tinggi, kehadiran Camus melukai hatinya separah luka El Cid. Dia hendak menerjang sang adik Degel, sayangnya Surt bergerak duluan dan menjegal kedua lengannya.
"Oh, kau saudara Oneiros, ya?" Surt mencoba basa-basi sedikit. "Kok tidak mirip?"
Jika kalian kebetulan bertemu Icelus yang sedang mengamuk. Satu hal, jangan pernah menyinggung tentang ketidakidentikannya dengan salah satu saudaranya apapun itu bentuknya. Sayangnya, Surt tidak tahu itu dan harus menerima sentakan gagang pedang pada perutnya yang membuatnya nyaris muntah.
"Ughh!" si rambut merah jatuh terjengkang di tanah.
"Gak berguna!" Icelus telah menganggap masalah ini sebagai personal. Api kemarahan menjilat-jilat di matanya. "Ayah gak seharusnya bawa loe ke sini!"
'Mati aku!' Surt tidak sanggup bergerak. Sementara di depannya Icelus menjulang, bersenjata dan berbahaya. Dia pikir inilah akhirnya. Dia akan mati sebagai perjaka dalam kondisi sedang membela orang yang dia sukai dan orang yang disukai oleh orang yang dia sukai. Rumit, ya? Surt hanya berharap dirinya masuk surga.
Mungkin memang belum ajal Surt atau bagaimana, Icelus berhenti tepat saat Excalibur hampir memenggal lehernya. Satu hal yang tertangkap mata Surt; El Cid yang sekarat, merebut pedang dari Icelus dengan tenaganya yang paripurna. Menebas lengan Icelus penuh penyesalan sebelum mereka berdua kolaps dalam banjir darah.
.
.
.
El Cid pernah merasakan segala jenis luka di tubuhnya. Tapi mati, jelas berbeda. Lumpuh dan rapuh, dua hal yang sangat ia benci setiap kali mendapat luka dan sekarat. Indranya cukup kuat untuk merasakan sesuatu, tapi masih lemah untuk merespon.
"Gimana?" tuh 'kan. Dia bahkan masih bisa mendengar sesuatu. Entah siapa yang berbicara, malaikat barang kali. Hanya saja suaranya agak mirip Dohko.
"Kita beruntung. Masa kritisnya baru saja lewat. Sekarang biarkan tubuh El Cid memulihkan diri. Juga beberapa liter darah." oh, ada juga yang suaranya mirip Degel.
"Jadi dia gak mati?" Malaikat Dohko bertanya lagi.
"Nyaris. Tapi iya, El Cid hidup."
"Aku akan bilang pada yang lain."
Suara berat dari sisi yang lain, agak jauh, menyahut. "Tidak. Rahasiakan saja."
"Tapi ..."
"Kita butuh pembuktian mereka."
El Cid penasaran siapa 'mereka' itu, tapi kegelapan total merenggutnya kembali dalam bentuk tidur tanpa mimpi. Pingsan.
...
Ralat.
Pingsan bukan tidur tanpa mimpi. El Cid malah memimpikan banyak hal buruk, yang sialnya tampak begitu nyata sampai-sampai dia ingin segera bangun. Banyak darah, rasa sakitnya bahkan juga nyata, si rambut merah yang membopong tubuh Icelus pergi, ambulans, jeritan Camus ...
Camus.
El Cid terkesiap, bahkan saat pingsan pun indra-indranya amat awas. Dia merasa suatu pergerakan aneh pada lengannya. Ada seseorang yang menyentuh tubuhnya. Refleks El Cid mengambil alih. Dia tidak tahu apa yang terjadi, suara erangan seseorang membangunkannya secepat peluru tembak.
Suara erangan Camus.
Begitu dirinya benar-benar terbangun dan membuka mata, El Cid mendapati wajahnya berhadap-hadapan amat dekat dengan wajah merona sang adik Degel. Dia lupa betapa wajah itulah yang selalu membuatnya berbunga-bunga. Dan sekarang mereka nyaris menempel, hanya tinggal menunggu orang iseng mendorongnya dari belakang. Malulah El Cid seumur hidup.
Beruntungnya (atau malah sayangnya) tidak ada orang asing di sana.
El Cid menyadari apa yang baru saja terjadi lima detik kemudian. Dia tengah memojokkan Camus ke dinding, tangan kiri El Cid memenjarakan kedua lengan Camus ke atas, sementara tangan kanannya mengerucut dan menempel pada leher jenjang remaja di hadapannya. Dia sedang tidak menggenggam pedang, tangan kanannya berimprovisasi sebagai Excalibur. El Cid bahkan dapat merasakan jakun Camus naik-turun dengan gugup.
"Maaf ..." Camus tersengal. Wajahnya merah, jelas bukan karena sesak napas. "Membangunkan ... mu."
El Cid serta-merta melepaskan sergapannya sebelum Camus berubah pucat. Dia berharap wajahnya tidak sepanas yang ia kira. Adrenalin tadi telah surut, El Cid terhuyung dan nyaris kolaps di ranjang begitu deraan rasa sakit menyerbunya kelewat telat.
Tangan kanannya di bebat di siku, ada tonjolan aneh yang tidak ingin dia tahu apa itu. Perutnya melilit sakit, El Cid bertelanjang dada dan melihat badannya dihiasi balutan putih seolah dia akan dimumifikasi. Bergerak sedikit saja membuatnya nyaris muntah, dia heran mengapa dia punya tenaga untuk melakukan manuver seperti tadi pada Camus.
"Apa yang kau lakukan tadi?" El Cid tidak mengerti mengapa dia penasaran akan itu.
"Memperbaiki selimutmu?" Camus sendiri kedengaran tidak yakin. Itu cukup untuk membuat mereka berdua berhias semburat merah di wajah.
Camus bergerak perlahan, menarik kursi agak jauh dari ranjang El Cid kemudian duduk di sana. Dia masih mengelus lehernya, rasa sulit bernapas belum sirna betul.
El Cid agak tidak enak hati. "Maaf."
"Saya yang minta maaf." Camus menatap ubin putih rumah sakit. "Mereka kira kau sudah mati."
"Mereka siapa?"
"Semua orang, Shura juga. Hanya Kak Degel dan beberapa orang Dojo yang tahu. Tuan Izo yang minta begitu," Camus memainkan jarinya. "Kak El Cid diserang ... Icelus. Kalian dalam bendera damai, Tuan Izo tidak mau itu terjadi lagi. Mereka berpura-pura kau mati. Ingin melihat apa reaksi dari yang 'lainnya'."
"Dan reaksi-'nya'?"
"Baik. 'Mereka' minta maaf. Bahkan menanggung total semua kekacauan yang diperbuat Icelus."
El Cid mengangguk. Dari dulu Specter bukanlah organisasi yang banyak disukai. Setelah melihat seperti apa anggota-anggotanya, mereka tidak serta-merta bisa disebut jahat total. Mereka baik. Hanya saja kadang agak egois dan menghalalkan segala cara. Lain dari semua itu, Specter hanya organisasi bela diri biasa beranggotakan orang-orang bermasalah.
Ruangan putih dan jendela kaca juga tirai membuat El Cid mengenali tempat ini. Rumah Sakit. Tempat yang bukan menjadi kesukaannya berduaan dengan pujaan hatinya. Tapi Camus di sana bergerak gelisah seolah dia takut El Cid akan meledak. El Cid bertanya-tanya apakah Camus berinisiatif sendiri menunggunya bangun dari pingsan. Sesaat dia mulai agak senang, kemudian Camus berucap duluan seolah bisa baca pikiran.
"Kak Degel mengunci pintunya."
Itu ... sesuatu yang tidak Degel sekali. "Kenapa?"
"Kak Degel bilang, dia tidak akan buka sebelum ... sebelum kita ..." Camus yang cerdas tidak mungkin kehilangan kosa kata, tapi dia sekarang terlalu gugup. "Mencapai kata sepakat."
El Cid terlalu terkejut untuk menjawab. Entah karena perbuatan Degel atau Camus yang menyebut 'kita' sebagai kata ganti alih-alih menyebut nama. Dia tidak berani memandang Camus, sesuatu yang lawan bicaranya juga alami. Mereka terjebak dalam diam yang kaku lama sekali, terasa seperti selamanya.
"Saya sudah tahu," Camus bekata setelah sekian lama. Terdengar selirih gumaman. "Kalau Kak El Cid ... selama ini ..." dia tidak perlu menyelesaikan ucapannya hanya agar El Cid mengerti.
"Dari mana?"
"Shura."
Tidak heran, sih.
El Cid tahu bagaimana cara menghadapi serangan, bagaimanapun juga dia jago mengelak. Tapi serangan macam ini tidak sanggup dia bendung. Fatal.
"Sudah lama sekali," dia takut suaranya terlampau parau "Sejak kau datang pertama kali."
Kupu-kupu tidak ada dalam perut. Camus bukan pemakan kupu-kupu. Sekalipun dia memakannya, serangga itu akan tercerna sempurna di lambungnya. Tapi sekarang beda. Camus merasa ribuan koloni kupu-kupu menggelitik perutnya.
"Kukira itu hanya kagum. Kukira itu hanya sementara," El Cid lebih terlihat bicara sendiri daripada bicara pada Camus. Didukung dengan dia yang tidak menatap lawan bicaranya. "Tapi jadi aneh begitu kulihat kau dengan Milo. Atau orang lain. Aku ... marah."
"Saya juga ... sempat merasa begitu."
Kali ini kefokusan indra El Cid tertambat pada pendengarannya. "Lalu?"
"Tidak tahu," itu aneh karena Camus selalu tahu segalanya. "Kak El Cid tidak pernah terlihat bersama orang lain."
Hening kembali datang.
"Kita harus belajar," Camus kehabisan kata-kata. "Supaya bisa mengerti ... ada apa sebenarnya."
Kali ini El Cid mengangkat wajahnya. Matanya bertemu pandang dengan Camus. "Aku tipe orang yang belajar dengan praktik. Kau tidak masalah dengan itu?"
"Ti-tidak," Camus merasa pipinya memanas. "Tidak masalah sama sekali."
"Apa yang biasa Degel dan Kardia lakukan?"
Camus berusaha menanggapi pertanyaan itu dalam bentuk lebih umum, meski belum mengerti maksud El Cid sebenarnya. "Banyak. Bertengkar, sesuatu seperti itu."
"Aku tidak mau bertengkar denganmu."
"Oh ..." Camus berharap pori-pori kulit wajahnya segera menciut agar dia tidak perlu menahan malu karena bersemu terus. "Kak Kardia sering mengantar Kak Degel ke mana saja kalau sempat."
"Setelah sembuh nanti, aku akan mengantarmu ke sekolah tiap pagi."
Seulas senyum sebesar mikroba terpanjat di bibir El Cid. Senyum yang baru dua kali Camus lihat seumur hidupnya. Sesuatu yang pantas disahkan UNESCO sebagai situs warisan dunia.
Dan sekarang senyum itu adalah miliknya.
.
.
.
THE END
.
.
.
Kyaaaaa~~ setahun lebih akhirnya tamat ;""" maafkan kengaretan dan segala hal yang tidak enak selama fic ini on going ;"
Terima kasih tidak terkira untuk semua yang telah berpartisipasi membangkitkan semangat saya. Juga yang sering mendatangkan inspirasi meski kadang tidak sadar XD
Utang Mu-Shaka-nya lunas ya :"
Terima kasih lagi bagi yang telah membaca dan mengapresiasi fict ini dalam bentuk apapun. Saya senang *peluk satu-satu*
Jaga senyum semua~~
