#Mermaid Shinobi#
.
.
.
Ketika kau bertanya, "Apakah hal yang paling terindah?"
Aku takkan pernah bisa menjawabnya.
Ketika kau menatapku.
Aku tak dapat membalasnya.
Ketika kau berkata, "Aku mencintaimu."
Aku hanya bisa terdiam menahan tangis.
Ketika kau terpuruk, meraung pada takdir, bertanya-tanya mengapa kau terlahir kedunia ini…
Aku tak dapat memelukmu.
Ketika kau tertidur.
Aku tak dapat berbisik, "Mimpi indah."
Ketika kau berkata, inilah kali terakhir kita berjumpa.
Aku tak dapat menangisinya.
Ketika kau berbalik pergi.
Selangkah pun aku tak dapat mengejarmu.
Ketika kau tak kunjung menemuiku.
Sedetikpun tak berharga di mataku.
Ketika kau melupakanku…
Entah apa yang dapat kurasakan
Aku mati.
Jauh sebelum kau terlahir, aku telah mati.
Dibunuh Ibuku sendiri.
Dikutuk oleh Tuhan.
Percayakah kau bahwa semua ini hanya mimpi?
Ketika kau terbangun…
Kau melihatku berdiri di sampingmu.
Dan semua kembali seperti awal.
Ketika kau bertanya, "Apakah hal yang paling terindah?"
Kuakan memelukmu, dan menjawab, "Kehidupan. Kau dan aku."
Ketika kau menatapku.
Aku dapat membalasnya.
Ketika kau berkata, "Aku mencintaimu."
Aku dapat tersenyum, "Aku jauh lebih mencintaimu."
Ketika kau terpuruk, meraung pada takdir mengapa kau terlahir.
Aku akan memelukmu, berbisik, "Kau terlahir untukku. Aku terlahir untukmu. Apa kau ingin, aku menjalani takdir yang kejam ini seorang sendiri?"
Ketika kau tertidur.
Ciuman selamat malamku hanya untukmu.
Ketika kau berkata, inilah kali terakhir kita berjumpa.
Aku akan tersenyum, menggenggam jemarimu sembari menahan tangis, lalu berkata, "Semoga Tuhan merubah takdirmu, dan kita dapat kembali bersama."
Ketika kau berbalik pergi.
Aku akan terus mengejarmu. Menatapmu rindu, "Aku mencintaimu."
Ketika kau tak kunjung menemuiku.
Aku akan terus menemuimu, hingga kau muak padaku.
Ketika kau melupakanku…
Aku akan terus mengingatmu…
Meski kembali terlahir, dan kita tak ditakdirkan untuk bersama lagi…
Aku akan meminta pada Tuhan…
Untuk menyimpan kenangan ini.
Mermaid Shinobi
*
Naruto belong to Masashi Kishimoto
Romance, & Hurt/Comfort
Rate; T
This fic belong to Miyako Shirayuki Phantomhive
SHE'S NOT NARUKO! SHE'S FemaleNaruto! No matter what, I DON'T CARE!
Semi-Canon Series
Typo
*
Opening Theme: Neophobia_Nano
Ending Theme: Cold Sun_Aimer
*
Insert Song:-
*
Don't Like Don't Read!
Check This Out!
Jika kau mati, apa yang akan kau lakukan?
Aku tidak tahu.
Jika kau mati, apa yang akan kau lakukan?
Aku tidak tahu.
Jika kau mati, apa yang akan kau lakukan?
Aku tidak tahu.
Apa kau akan meninggalkannya?
Entah.
Apa kau akan melupakannya?
Tidak tahu.
Kenapa kau selalu menjawab tidak?
Karena, aku tak tahu harus menjawab apa.
Pernahkah kau merasa ini semua hanya permainan?
Entah, aku tidak peduli.
Kenapa kau tidak peduli?
Karena aku tidak ingin peduli.
Bukankah selama ini tujuanmu untuk tetap hidup hanyalah dia?
Dia? Siapa?
Kau tak mengenalnya?
Siapa?
Uchiha Sasuke, apa kau mengingatnya?
Sasuke?
Ya, kau mencintainya, bukan?
Cinta?
Kau hidup untuk yang kedua kalinya, demi pria itu bukan?
Kedua? Apa aku pernah mati?
Tidakkah kau mengingatnya?
Aku… tak bisa mengingatnya sedikitpun…
Mengapa?
Aku tak tahu… Aku tak mengerti…
Bukankah kita satu kesatuan?
Satu?
Kau dan aku berada di tubuh yang sama.
Kau siapa?
Aku adalah kau.
Jika aku adalah kau, lalu aku siapa?
Kau tak memiliki identitas.
Aku tidak memilikinya?
Ya, karena kau sebenarnya tak pernah terlahir.
Apa maksudmu?
Maksudku? Kau sebenarnya tak pernah diharapkan.
Lalu, kau siapa? Bukankah kau adalah aku? Berarti, kita tak memiliki identitas.
Aku memilikinya. Dan seharusnya aku masih hidup hingga kini.
Mengapa kau harus hidup sedangkan aku tak bisa?
Bukankah sudah kukatakan, kehadiranmu hanya bayangan. Bayangan takkan pernah diperlukan. Hidupmu itu milikku. Tapi hidupku bukanlah milikmu.
Kau siapa?
Namikaze Hoshi. Seorang yang telah kau bunuh.
#
*Mermaid Shinobi*
#
Tubuhnya tersentak. Kelopak yang menjadi tirai safir itu terbuka paksa. Karbon dioksida berebut jalur dengan oksigen. Mengerjap pelan, safirnya bergulir memperhatikan sekeliling. Cahaya lilin berpendar menyinari bayang-bayang lemari di sebelah tempat tidur, meninggalkan jejak bayangan lain di sekitarnya.
Berusaha bangkit dari posisinya, namun gagal. Keningnya mengernyit sakit. Tubuh itu seolah bukan miliknya. Berat, ia tak bisa menggerakkan tubuhnya, barang satu jari pun. Belum lagi rasa perih yang menyengat di sekujur tubuh, kulitnya seakan terbakar.
"!"
Panik menyergap saraf-saraf tubuhnya yang lumpuh. Gadis itu mengerang panik, tubuhnya tak bisa bergerak, suara yang sering ia banggakan tak bernasib lebih baik. Ia panik. Ketakutan menyerang benaknya. Prasangka buruk pada tubuhnya datang silih berganti. Takut. Apa yang terjadi pada dirinya?
Erangannya terhenti ketika sesosok lelaki merangkak mendekatinya. Astaga! Apa ia akan diperkosa?!
Suaranya tercekat, panik membuatnya mengerang tidak karuan. Sosok laki-laki tadi tak nampak karena memunggungi cahaya. Dan itu malah semakin membuatnya ketakutan. Ia tak dapat melihat wajah orang itu.
"Ngh! Hnngh! Aagh! Eekh!"
Sosok itu terdiam di sebelah kanannya. Tak bergerak. Ia hanya duduk diam memperhatikan tubuhnya yang menegang karena panik.
"Ha—ah! Ahngh! Krh! Agh!"
Ia takut. Benar-benar takut.
"Kau benar-benar sudah sadar rupanya."
Ia terdiam. Tubuhnya masih menegang.
"Kau tahu, tubuhmu itu lumpuh untuk selamanya. Jadi, berhentilah mengerang. Kau berisik sekali."
Bukannya berhenti, gadis itu malah mengerang semakin keras. Air mata menggenang di kelopaknya. Oh Tuhan, katakan ini hanya mimpi!
Dan seketika erangannya berhenti ketika sosok itu malah mendengus geli. Pundaknya bergerak-gerak.
"Aku hanya bercanda." Ia berucap seolah membuatnya ketakutan adalah hal yang menyenangkan, "Kabuto menyuntikkan obat pada tubuhmu, agar luka-luka bakar itu cepat sembuh."
Oh, ia bertanya-tanya mengapa Kabuto tidak menyerahkan urusan luka itu pada cakra penyembuh yang ada di dalam tubuhnya.
Seolah dapat membaca pikiran, sosok itu bergumam kecil menjawab pertanyaannya.
"Aliran cakra-mu tersumbat, dan melemah. Proses penyembuhan luka-luka itu akan berlangsung lebih lama, jika terlalu mengandalkan cakra milikmu."
Tubuhnya berhenti menegang. Yah, setidaknya setelah saraf pendengarannya mengirim kesimpulan pada otak, bahwa sosok yang tengah duduk di sebelahnya adalah Sasuke.
"Hngh?"
Sosok itu mengernyit bingung, "Kau bicara apa, baka?"
"Angh! Hngh! Agh!"
"Aku tak mengerti apa yang sedang kau katakan. Percuma kau mencobanya."
Naruto terdiam. Ya, benar juga apa kata Sasuke, percuma ia mencobanya, toh, pemuda itu sama sekali tidak akan mengerti. Setidaknya begitu.
Keduanya larut dalam keheningan. Naruto tak lagi mengerang-erang seperti seorang yang sedang disiksa, dan Sasuke lebih memilih diam. Setidaknya, sebelum ia mendekatkan wajahnya pada wajah si Mermaid. Onyx itu memperhatikan tiap guratan kaget, dengan rona merah yang menyebar hingga ke ujung daun telinganya.
Sasuke menghembuskan napasnya perlahan, dan wajah gadis setengah ikan di hadapannya semakin memerah. Naruto mengerang kecil.
"Hei," ia memperhatikan sekilas raut wajah Naruto, "aku ingin bertanya satu hal padamu."
Gadis itu diam memperhatikan.
"Apa kau mengenal Namikaze Hoshi?"
Gejolak merah yang tadi berkumpul di kedua pipinya menghilang. Bahkan mungkin hampir semuanya menghilang, wajah itu kini sepucat Orochimaru.
"Apa kau mengenalnya?"
Safirnya bergulir tak ingin menatap onyx yang menuntut jawaban. Sasuke menghela napas kecil.
"Kuanggap itu 'ya'."
Benaknya seolah teringat ucapan seorang yang bernama Hoshi di mimpinya. Orang itu berucap bahwa mereka satu tubuh. Bahwa ia mencintai Sasuke. Ia pernah mati sebelum ini, dan hidup kembali. Ia tak memiliki identitas. Lalu, ia mati untuk Sasuke, tetapi ia sebenarnya tak pernah terlahir. Tidak, harusnya ia tidak terlahir. Harusnya ia tidak ada di sana. Harusnya ia tidak hidup. Seharusnya ia mati. Ia tak pernah diharapkan.
Jika aku adalah kau, lalu aku siapa?
Kau tak memiliki identitas.
Aku tidak memilikinya?
Ya, karena kau sebenarnya tak pernah terlahir.
Apa maksudmu?
Maksudku? Kau sebenarnya tak pernah diharapkan.
Lalu, kau siapa? Bukankah kau adalah aku? Berarti, kita tak memiliki identitas.
Aku memilikinya. Dan seharusnya aku masih hidup hingga kini.
Mengapa kau harus hidup sedangkan aku tak bisa?
Bukankah sudah kukatakan, kehadiranmu hanya bayangan. Bayangan takkan pernah diperlukan. Hidupmu itu milikku. Tapi hidupku bukanlah milikmu.
Kau siapa?
Namikaze Hoshi. Seorang yang telah kau bunuh.
Naruto meringis pelan, tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk kedepan. Untuk selanjutnya. Ia tak bisa mengingat keseluruhan mimpinya. Ia hanya bisa mengingat ucapan gadis bernama Hoshi itu. Ucapan saudaranya.
"Apa kau ingat apa saja hal yang telah terjadi, selama kau… Pergi?"
Sang Safir mengernyit bingung. Tersadar bahwa Naruto tak mengingat apapun, Sasuke menggelengkan kepalanya, mengalihkan pembicaraan mereka.
"Tidurlah." Suruhnya, wajah itu menjauh, tapi tatapannya masih terpatri pada sosok sang Mermaid, "Kau perlu banyak istirahat."
Naruto sedikit tercengang dengan perlakuan Sasuke terhadapnya. Pemuda itu tampak lebih… perhatian jika boleh ia katakan begitu. Sepasang alisnya terangkat, kagum.
"Jangan menatapku seperti itu, idiot."
Oh, rupanya Sasuke sadar. Naruto mengalihkan tatapannya ke dinding.
Kabut sunyi kembali menyesakkan keduanya. Dua insan tak tahu harus memulai topik apa. Tetapi, jauh di dalam lumbung hati mereka, tersimpan rongsokan. Rongsokan itu sudah terlalu berkarat, hingga mereka mau tak mau harus membuangnya. Sebelum bau besi yang menyengat, membuat bibir mereka bergerak tanpa sadar. Seolah terhipnotis, seolah itu sebuah keharusan, mereka mau tak mau membuangnya kini.
Sasuke berdeham kecil, berusaha mengalihkan pandangan sang Safir padanya. Hanya padanya.
"Hei," onyxnya tampak ragu, "Apa kita pernah bertemu?"
Safir di hadapannya seolah membesar. Apakah pemuda itu bisa membaca pikirannya?
Naruto berusaha mengeluarkan suaranya setelah sekian lama belum mencoba untuk mengeluarkannya lagi.
"Entah," suara merdu itu berubah parau, "tapi, untuk sesaat, aku merasa… bahwa kita pernah bertemu."
"Apa Hoshi yang memberitahumu hal itu?"
Mereka bertukar pandang.
"Ya, ia mengaku menjadi aku." Naruto berdeham kecil, "dan ia bilang, aku adalah dia. Tapi, seharusnya sampai saat ini ia masih hidup. Tubuh ini bukan milikku, dan seharusnya miliknya. Begitu."
Entah mendapat kekuatan darimana ia mampu mengutarakan hal itu pada Sasuke. Hatinya terlanjur penuh oleh rongsokan berbau karat. Ia tak bisa lagi mengoyak rongga yang lebih luas untuk mereka. Lumbung hatinya terlanjur penuh, dan ia tak dapat membuka area yang lebih luas untuk mereka tempati.
Sasuke terdiam. Hal yang sama malah terucap kembali dari mulut gadis yang seharusnya menjadi kunci untuk membuka perapian dalam hatinya. Setidaknya perumpamaan itulah yang pantas untuk mengandaikan hatinya yang terlanjur sempit karena ulah seseorang. Hoshi. Ah, yang benar itu Hoshi atau Aoi?
Safir menatapnya penuh harap, "Apa Hoshi mengenalmu?"
Pemuda itu mendengus kesal, "Begitulah."
"Kenapa kau seperti kesal sekali padanya?"
Sasuke memilih untuk tak menjawabnya. Ia ragu. Jika ia mengatakan alasannya membenci Hoshi karena ia telah ditipu oleh gadis itu, maka ia harus menjabarkan lagi hal yang lebih spesifik tentang keberadaan Aoi. Gadis yang ia cintai. Gadis masa lalunya.
"Sasuke?"
Suara parau itu kembali terdengar. Dari nadanya, ia tampak cemas dengan tingkah sang Raven.
"Tak ada."
"Kau berbohong."
"Kalau kubilang tak ada, ya tak ada." Onyx itu mendelik kesal, "Jangan membuatku menyesal, karena bertanya hal itu padamu."
Naruto terdiam sesaat, iris birunya menatap Sasuke penuh tanya, "Kenapa kau harus menyesal?"
"Menurutmu?"
"Menurutku?"
"Menurutku, ada baiknya jika kau menjawab pertanyaannya Sasuke-kun. Tidak baik membuat seorang gadis menunggu jawaban."
Alis Sasuke menekuk risih, ekor matanya memperhatikan gerak-gerik Kabuto yang masuk tanpa mengetuk pintu. Ia tak suka kehadiran pria itu.
"Apa maumu, Kabuto?"
Yang bersangkutan terkekeh kecil sembari membantu Naruto duduk. Kening gadis itu sedikit berkerut menahan sakit.
"Hanya menjemput Naru-chan untuk pergi ke laboratorium," ucapnya sambil mengangkat tubuh gadis itu perlahan, membawanya pergi dari hadapan sang Uchiha.
Sasuke terdiam. Onyxnya bergerak mengikuti punggung tegap Kabuto yang mulai tertelan bayang-bayang koridor. Benaknya tengah berpikir keras.
Sejenak ia merasa bahwa keberadaan Naruto bukanlah sebuah kenyataan. Justru, ia merasa keberadaan Hoshi dan Aoi lah 'kenyataan' yang pasti. Dan jika itu benar… kenapa ia bisa berpikir demikian? Apakah benaknya mulai menyaring perkataan Hoshi? Apakah keberadaan Hoshi yang sempat 'menggantikan' sosok Aoi mulai meracuni pikirannya?
Ia tidak mengerti. Jika ia berpikir seperti itu, bukankah itu berarti… ia membenarkan perkataan Hoshi? Bahwa Naruto yang ia lihat dan rasakan keberadaannya kini hanyalah sebuah khayalan? Hanya mimpi? Bahwa Naruto sebenarnya tidak pernah hidup? Jika, iya, siapakah sosok yang tadi ia temui? Hoshi, Aoi, ataukah… sosok yang keberadaannya tidak jelas itu. Naruto?
Sial. Apa yang sebenarnya Orochimaru dan Kabuto rencakan di belakangnya? Apakah mereka sengaja membuatnya penasaran? Benar juga, mereka tidak terkejut atau panik saat Hoshi mengambil alih tubuh Naruto. Malah kebalikannya. Mereka seolah-olah, telah merencanakan kebangkitan gadis itu.
Apa tujuan mereka?
Kenapa mereka menginginkan Hoshi?
Kenapa sosok Naruto begitu penuh masalah?
Apa yang membuat Kabuto serta Orochimaru merahasiakan hal ini darinya?
Mengapa mereka ingin Hoshi untuk merebut tubuh Naruto?
Kenapa mereka begitu dendam pada gadis itu?
Kenapa?
Kenapa sekarang ia benar-benar penasaran pada sosok Naruto?
Memejamkan mata, pemuda itu menghela napasnya berat. Beranjak pergi dari ruangan itu, ia melempar pandangan terakhir pada tempat tidur yang sempat digunakan oleh Naruto.
Iris onyxnya menggelap.
"Siapa kau sebenarnya Naruto?"
#
*Mermaid Shinobi*
#
Ketika kutatap bayang-bayang rembulan
Kulihat punggungmu yang perlahan menjauh
Ketika kau berbalik pergi
Aku bertanya-tanya pada Tuhan,
"Apakah ini karmaku?"
Langit yang kau lukis kini berwarna kelabu
Sewarna racun tembakau
Tak lagi mengajakku berbicara
Seperti dulu
#
*Mermaid Shinobi*
#
Kenapa?
Aku bertanya-tanya, tapi tak seorangpun dapat menjawabnya.
Kehadiran Hoshi saat itu, benar-benar membuatku tak habis pikir.
Gumaman rendah Kabuto tentang kondisiku yang memburuk pun kuabaikan. Aku hanya diam mendengarkannya, sementara benak ini menjauh pergi dari tubuhku.
Keberadaan Hoshi merupakan tanda tanya besar. Begitu pula dengan keberadaanku. Hal yang terbersit di alam mimpiku, kini perlahan menguak nanah dari luka yang kukubur. Dari luka lama yang kubalut tanpa antibiotik.
Satu per satu gambaran-gambaran tentang orang tua Hoshi dan perstiwa yang telah lalu, kembali lagi. Bergantian menunjukkan betapa pentingnya setiap fragmen yang kulihat. Dan ketika salah satunya menarik perhatianku, aku terdiam. Merenung.
Kabuto tiba-tiba berhenti berjalan. Mendongak, kulihat iris peraknya menatapku bingung.
"Naru-chan? Sedari tadi aku tidak mendengar suaramu. Apa masih sakit?"
Sedikit ragu, aku menggeleng pelan.
"Sungguh?"
"Hm."
Ia kembali melangkah, dan aku kembali merenung.
Salah satu fragmen itu berkisahkan seorang gadis kecil yang dibunuh oleh orang tuanya. Meringis pelan, aku bertanya-tanya. Apakah yang kulihat saat itu adalah… aku?
Hoshi adalah aku, dan aku adalah Hoshi.
Menurut perkataannya, kami berada dalam satu tubuh, dan fragmen itu semakin memperjelas peranku. Aku berperan sebagai pembunuh yang tak membunuh, namun dibunuh. Ironis. Klise. Tak masuk akal.
Jika aku pembunuh, apa alasannya?
Jika aku tak membunuh, mengapa aku disebut pembunuh?
Mengapa aku harus dibunuh jika dosaku bukanlah hal yang patut untuk ditebus?
Dadaku sakit. Rasanya sesak. Oksigen yang kuhirup seolah racun yang perlahan menguras setiap asa. Semua ini membuatku mual. Apa ini karena aku terlalu banyak berpikir?
Aku adalah Hoshi. Bukankah itu berarti… aku…
Tapi kenapa?
Kenapa ia mengatakan bahwa aku tak seharusnya ada?
Jika begitu, siapakah aku?
Jika aku tak pernah diharapkan, mengapa aku ada?
Mengapa aku diciptakan?
Apakah seharusnya aku tak pernah terlahir di dunia ini?
Apakah… semua perkataan Hoshi benar?
Aku… aku bukan siapa-siapa…
Aku… tiada.
Tidak! A-aku… aku memiliki identitas! Aku memilikinya! Aku…
Tapi—
Tapi, jika benar adanya… Jika aku tak memiliki identitas, siapakah aku?
Apakah aku juga anak dari pasangan Namikaze-Uzumaki?
Apakah aku mendapat marga yang sama dengan mereka?
Apakah aku benar-benar adik kembar Uzumaki Naruto?
Apakah aku… benar-benar terlahir dari rahim ibuku? Uzumaki Kushina. Seorang yang telah menyebutku pembunuh, seorang yang sakit hati karena aku merebut tubuh putri kesayangannya.
Aku ingin menangis. Mataku panas, dadaku sesak. Aku… aku takut… Aku takut mengetahui jati diriku. Aku takut semua yang telah kuketahui selama ini hanyalah sebuah kebohongan. Hanyalah sugesti. Aku takut… Aku takut…
Apakah aku harus mencarinya?
Apakah aku harus menelan semua rasa takut dan sakit ini untuk mengetahui identitas asliku?
Haruskah aku mencarinya? Tapi aku takut mengetahuinya… aku benar-benar takut.
Tuhan… tolong hambamu.
Ah, bicara tentang Tuhan… Apakah Ia yang merencakan semua ini?
Apakah Ia yang menyebar kepingan teka-teki tak berbentuk ini?
Apakah Ia marah padaku? Apakah semua ini kutukan dari-Nya?
Apakah aku—
"Wah, apa yang kau tangisi, Naruto?"
Tersentak, kulihat Orochimaru tersenyum lebar padaku. Iris ularnya menatapku lapar, seolah ia senang melihatku seperti ini.
Mengusap air mata, aku menolak balas menatap matanya.
"Bukan apa-apa."
Kabuto menghela napas. Jemari kasarnya mulai melepas satu persatu kancing kemeja yang kukenakan. Aku menatapnya tajam, kutepis lengannya dari hadapanku.
"Jangan menyentuhku!"
Mengangkat sebelah alisnya, Orochimaru terkejut.
"Hm? Kau tidak ingin diperiksa?"
"Tidak, terima kasih."
Kujawab pertanyaannya kasar. Aku sedang tak ingin disentuh oleh tangan-tangan kurang ajar mereka. Memalingkan wajah, kusembunyikan raut wajah kesalku.
"Kenapa?"
Aku tak menjawab. Aku malas menjawabnya.
"Kenapa? Apa karena kau… takut?"
Rambut-rambut halus di leherku meremang. Tubuhku mulai gemetar, sebisa mungkin aku menyembunyikan ekspresi wajahku dari kedua ular berbisa ini.
Kabuto mulai tertawa kecil, jemarinya meremas pundakku erat hingga membuatku meringis. Tiba-tiba jemarinya yang lain memaksa kepalaku mendongak kearahnya. Tidak! Ia tahu…
"Apakah kau takut?"
Jelas terlihat di wajahnya yang pucat. Pria itu tahu ekspresi wajahku saat ini. Ia menyeringai.
"Tubuhmu gemetar, Naru-chan." Bisiknya, lalu meniup telingaku. Perutku terasa mulas.
"Apa yang kau takutkan, hm?"
Aku merasa seperti boneka. Ketakutan yang kurasakan membuat tubuh ini gemetar tak terkendali. Benakku sibuk memadamkan ketakutan yang tak kunjung mereda.
Jemarinya kembali melepas kancing kemeja yang kukenakan, cepat, hingga akhirnya kulitku menyapa dinginnya suhu ruangan. Aku tak dapat bergerak, seolah pasrah jemari itu kembali menelanjangiku untuk kesekian kalinya.
Kabuto tersenyum kecil, bibirnya kembali berbisik, meremangkan rambut-rambut halus yang ada di leherku.
"Aku tahu kau ketakutan… Tapi apa yang membuatmu takut? Siapa yang telah membuatmu ketakutan seperti ini?"
Siapa?
Siapa yang telah membuatku ketakutan?
Ho—
"Hoshi…"
Kabuto mengusap pundakku lembut, jemarinya bergerak mengangkat wajahku agar kembali menatap wajahnya.
"Hoshi? Apa yang telah membuatmu takut darinya?"
Apa?
Aku… aku takut…
Apa yang kutakutkan darinya?
Aku—
Aku takut… Ya, aku takut! Aku takut kehilangan diriku! Aku takut… aku takut jika aku mengetahui kebenarannya… aku akan… menghilang.
Aku takut… Ia akan memberitahukan kebenaran yang diketahuinya padaku…
Dan aku akan menghilang dari dunia ini…
Untuk yang kedua kalinya…
Orochimaru yang berada di depanku kembali menyeringai. Mencondongkan tubuhnya, ia seolah mendekap tubuhku. Di sana, ia kembali berbisik… Pelan, hingga aku merasa, yang dapat mendengar ucapannya hanyalah aku.
"Jika kau takut, kenapa kau tak mencoba untuk melupakannya? Kau tahu, aku bisa membantumu melupakannya. Kau mau?"
Melupakan?
Melupakan semua rasa takut ini?
Jauh di relung hatiku, terdengar gema seruan menolak.
Tapi aku mengacuhkannya.
Benarkah keputusan yang kuambil ini?
"Ya… aku…"
Aku ingin melupakan semuanya…
Orochimaru tersenyum simpul.
#
*Mermaid Shinobi*
#
Panggil namaku
Panggil lah namaku yang sebenarnya
Namaku satu-satunya
Hanya kau
Hanya kau yang bisa menuntunku dari kegelapan ini
Hanya kau yang bisa memberiku topangan ketika semua rasa takut ini menekanku
Panggil aku
Bangunkan aku dari mimpi buruk
Cium aku
Dan katakan kau 'mencintaiku'
Begitu aku tahu ini kenyataan
#
*Mermaid Shinobi*
#
Sasuke terdiam. Onyx itu menatap tak percaya pada sebuah tabung es setinggi pintu di hadapannya.
Ia sama sekali tak percaya.
Gadis yang selama ini ia tunggu kesadarannya untuk pulih, kini kembali tertidur berselimut lapisan es sewarna langit. Safir itu terpejam damai dalam sosok duyungnya.
Sasuke menyeret tatapan tajamnya pada Kabuto dan Orochimaru. Mereka berdiri tak jauh dari tabung es tempat gadisnya tertidur.
BRAK!
Meja kayu di hadapannya terbelah dua. Ia marah, sangat marah. Kesal pada dua sosok ular itu.
"Kenapa kalian membuatnya tertidur lagi?"
Pemuda itu mendesis di hadapan wajah Orochimaru. Jemarinya mencengkram erat kerah jas lab pria itu. Orochimaru tak bergeming, wajahnya tetap tenang hingga Sasuke menghentakkan kaki kanannya kasar.
"Kenapa kau menidurkannya kembali, Orochimaru? Jawab aku!"
"Itu karena keinginannya sendiri, Sasuke-kun."
Sasuke mendelik kesal pada Kabuto, "Apa maksudmu?"
"Ia ingin agar ia bisa melupakan semua rasa takutnya." Orochimaru menimpali. Kening pemuda yang mencengkram kerahnya berkerut.
"Apa?"
"Ia ingin melupakan semua rasa takutnya pada Hoshi. Ia ingin melupakan keberadaannya."
"Apa maksudmu? Keberadaan? Rasa takut?"
Kabuto tergelak, "Ya, lucu bukan? Ia ingin melupakan kenyataan yang perlahan terkuak. Ia tidak ingin mengetahuinya. Gadis itu tidak ingin kehilangan jati diri yang selama ini telah terukir palsu di dalam hatinya."
Perlahan cengkraman eratnya pada kerah Orochimaru terlepas. Irisnya kembali menatap sendu pada tabung es yang menidurkan sosok gadisnya. Emosi yang ia rasakan seolah tercampur dan siap meledak kapan saja. Ia kesal, tapi ia juga merasa kasihan…
Kenapa?
Kenapa semua ini terjadi?
Kenapa ia harus bertemu dengan gadis ini?
"Apa kau tak merasa kasihan padanya? Ia sudah lelah menderita, karena semua rasa takutnya. Ia butuh istirahat sejenak. Bukan begitu, Orochimaru-sama?"
Orochimaru mengangguk pelan, seringainya tak kunjung pudar dari wajah pucat itu. Memicingkan mata, Sasuke seolah memberi sebuah ancaman pada keduanya.
"Sebenarnya, apa yang sedang kalian rencanakan, brengsek?"
Kabuto menyeringai, "Saa, menurutmu?"
Sang Pangeran Uchiha menggertakkan gerahamnya kesal, mengundang tawa kecil Kabuto.
"Ada apa denganmu, Sasuke-kun? Kau tampak kesal."
Mengabaikan tawa si Kacamata brengsek, ia beranjak pergi dari sana. Tapi sebelum ia melangkah keluar, bibirnya berbisik, terlalu pelan, hingga hanya ia yang dapat mendengarnya.
"Naruto…"
#
*Mermaid Shinobi*
Tsuzuku
#
Review's Reply:
Alta0Sapphire: Hm, jadi masih belum mengerti soal keberadaan Hoshi, Aoi, FemNaru, sama MaleNaru ya… Oke, saya jelaskan secara singkat, Hoshi itu adalah Aoi. Dia berusaha menipu Sasuke dengan membuat pemuda itu untuk kembali jatuh cinta pada sosok Aoi yang dulu menghilang tanpa alasan yang jelas. Tapi, apa yang dikatakan Kabuto soal Hoshi adalah adiknya Aoi, itu benar. Jadi, Aoi belum sempat terlahir, dia meninggal saat di kandungan Kushina. Sedangkan FemNaru, dia merasa keberadaannya masih belum jelas, justru inilah konflik batinnya. Lalu, MaleNaruto, dia ada, tapi satu pertanyaan saya pada anda, apakah dia benar-benar Uzumaki Naruto? Mereka kembar, siapakah yang asli? Hoho, itu saja. Semoga gak bikin anda tambah bingung /malah tambah bingung/ Yupzie~ terima kasih sudah review fanfic ini, semoga chapter ini membuat anda tambah bingung dan greget~ Balik lagi ya~ XD
Pena Bulu: Salam kenal juga Bulu-Bulu~ /?/ Hehe, terima kasih sudah menunggu, dan maaf updatenya lama… Maklum, uhukbanyakuhukkerjaanuhuk ehehehe. Terima kasih sudah review fic ini ya~ semoga chapter ini makin seru di mata anda, ehehe. Tapi maaf gak bisa update kilat~ ^^
Akira no Shikigawa: Hehehe, maaf ya, kalau sudah menunggu lama~ ^^ Mana sampai lumutan pula, ckck, selama itukah saya? /pundung/ Dan terima kasih! Benar-benar terima kasih sudah mau menunggu fic ini untuk update lagi, di review pula, aish… makin merasa bersalah saya sama readers… Ya, semoga chapter kali ini bisa bikin anda merasa… puas? Gak pede sih kalau chapter ini bisa bikin puas. Tapi, semoga anda suka~ ^^
Dian: Anda juga, terima kasih banyak sudah mau menunggu chapter-chapter baru fanfic ini! Saya… saya gak tau mau bilang apa sebagai tanda terima kasih, dan permohonan maaf karena telat update. Saya benar-benar senang kalian mau menunggu, dan bersabar, mana mereview fic ini lagi. Terima kasih, semoga anda menyukai chapter baru ini~ XD
UzumakiNamikazeHaki: Hehe, terima kasih sudah review dan membaca fic ini~ Semoga anda suka dengan chapter terbaru yang saya update~ X3
Hanazawa Kay: Tentu, seharusnya saya yang berterima kasih karena fanfic ini sudah dibaca dan direview~ Semoga chapter ini bisa membuat anda senang, dan tambah penasaran, hehe
Neerval-Li: Li-chaaaaaaaaan~~ XDD iya, sudah lama banget. Hehe, untung buka ffn lagi dan nemu fic Mi apdet~ ehehe. Yup, tapi di sini, Mi jamin kalau Li-chan bakal tambah bingung. Karena, Naruto sudah tahu kalau ia seharusnya tidak hidup, dan seharusnya Hoshi lah yang tetap hidup dalam tubuh itu. Dan alasan Hoshi mati… perasaan sudah Mi jelaskan di chapter 6 ya? Atau masih kurang jelas? == Yup, jadi bakal susah buat ngetik apalagi apdet. Terima kasih atas reviewnya Li-chan~ semoga chapter ini membuat mood membacamu tambah tinggi~ XDD
Aichan14: Yeaaaay~ akhirnya saya update juga~ ehehe. Iya nih, maaf ya sudah menunggu lama. ^^ Mungkin chapter ini makin membuat anda bingung, tapi, semoga anda menyukainya~ XD Terima kasih sudah review nona~
Naru-Ssu: Tentu, insyaAllah tetap lanjut kok, ehehe. Bagus lah kalau penasaran, ehe, karena itu tujuan saya~ Oho, Naruto Konoha? Dia keluar kok, tapi kayaknya masih lama, soalnya Naru bakal tidur lagi, dan Sasuke mesti bangunin dia dari tidurnya, dan membuat dia tenang dari rasa takut itu, kalau enggak sesuatu yang buruk akan terjadi. Yup! Terima kasih sudah menunggu fic ini, dan mereviewnya~ Semoga anda suka dengan chapter ini~ X3
Yami-Tenshin-Sama: Wah~ terima kasih banyak sudah di review, di fave lagi~ hehe, menegangkan ya, padahal bukan fic horor /?/ He, yang pasti Hoshi dan Naruto satu tubuh, ibaratkan Naruto itu 'kembaran' yang gak berwujud, jadi dia pinjam tubuh Hoshi, dan disaat yang sama terjadi pembunuhan… Anda bakal tahu di chapter selanjutnya kok, hehe, setelah Naruto mendapatkan memorinya lagi~ Mereka gak kerasukan kok, Hoshi itu menyamar jadi Aoi, dia masuk kekesadaran Sasuke dengan wujud Aoi. Terima kasih banyak sudah mereview fic ini~ semoga suka dengan chapter yg terbaru~ XD
: Hehe, masih bingung rupanya~ Coba deh kamu baca reply review di chapter ini dan yang lalu, biasanya kan saya menjelaskan keseluruhan/rangkuman dari chapter-chapter yang lalu~ Tapi, terima sudah review ya~ Semoga mengerti dan menyukai chapter kali ini~ ^^
Zaky UzuMo: Telat juga gak papa kok, yang penting bisa bacanya~ hehe Tentu, gak usah izin, saya berterima kasih karena sudah di review+fave+follow~ Tapi maaf banget, gak bisa apdet kilat~ :C dan maaf sudah menunggu lama. Semoga chapter ini bisa bikin kamu suka, puas, dan semakin penasaran~ XD
Aiko no Hime-chan: Hai, Aiko-san~ ^^ Salam kenal juga~ Waow, terima kasih karena sudah menyukai fanfic ini, dan fanfic yang lain~ Semoga chapter ini bisa membuat anda semakin suka ya~ XD
New: Hehe, gak papa kok, terima kasih sudah review ya~ Hoho, makin penasaran kah? Semoga chapter ini semakin membuat anda penasaran, dan makin menunggu… hehe /teplak/ Aoi untuk beberapa chapter kedepan kayaknya gak akan muncul, tapi Hoshi bakal muncul kok, biar bikin Sasuke tambah ragu dengan sosok Naruto, hehe. Apakah Hoshi akan membunuh Naruto? Saa~ karena Hoshi sebenarnya sudah mati, kata membunuh sepertinya kurang tepat… Bagaimana dengan mengambil alih tubuh Naruto lagi? Hehe, semoga anda tambah penasaran~ Dan terima kasih sudah review ya~ XDD
Author's Note:
Yak! Sepertinya masih banyak yang bingung ya? Hehe, gak papa~ gak papa kok~ semakin anda bingung, anda akan semakin terkejut nanti di chapter-chapter yang akan datang, dan malah makin penasaran… ufufufu
Hm, sepertinya tidak ada lagi yang akan saya sampaikan… Semoga chapter kali ini membuat readers semakin bingung dan penasaran ya~ terus makin suka sama fic ini~ XD /eaaa
Yosh! Terima kasih bagi silent readers yang sudah membaca fanfic ini~ semoga kalian juga makin penasaran dan suka dengan chapter kali ini~
Review or Not? Up to you guys~ XD
