Disclaimer : Naruto kepunyaan Masashi Kishimoto

WARNING! Typo(s), OOC, Gaje, Crack Pairs, Alur dan Konflik yang tak jelas serta Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, dan banyak sekali kesalahan-kesalahan lain nya.

Thanks a lot untuk para reviewer dan yang telah fave&follow fict ini

Semoga chapter ini tidak mengecewakan kalian


Chapter 7 : Blossom Of Love

Tek tek tek tek . . .

Ino mengetukkan jari telunjuknya bosan pada meja, duduk di ruang makan yang menjadi satu dengan dapur itu, pandangannya tertuju pada sosok rambut jabrik yang sedang sibuk dengan beberapa bahan makanan. Dapat disimpulkan bahwa pemuda itu bisa memasak! Wajar saja sebenarnya, mengingat bahwa hidupnya ia habiskan dalam kesendirian.

"Aku yakin kau sedang memandangiku sekarang!" tanpa memandang wanitanya, Sasuke tetap berkonsentrasi dengan masakannya, tangannya dengan cekatan memasukkan bumbu-bumbu ke dalam panci, sesekali ia akan merasakan makanan yang ia buat dengan pengaduk yang terbuat dari kayu.

"Kami lapar! Apa kau tidak sadar, ini sudah lebih dari 1 jam sejak kau mulai memasak, Uchiha-san!" protes Ino melipat keduatangannya pada celah diantara perut dan dadanya. Kunoichi cantik itu lagi-lagi cemberut.

Uchiha-san? Lagiii? Sasuke menggeram kesal membalik tubuh kekarnya untuk bertemu pandang dengan wanita cantik dari clan Yamanaka yang sedang nampak cemberut menatap onyx miliknya. Tatapan yang benar-benar "dibenci" oleh Sasuke karena ia tak mungkin berkata tidak jika Ino telah melancarkan tatapan seperti itu.

"Tidak lagi, Ino! Jangan menangis!"

"Calon ayah macam apa kau?! Kau tidak peduli pada bayimu, bahkan saat dia masih di dalam kandungan! Bagaimana jika ia sudah lahir nanti?"

Ino berusaha menahan mati-matian air matanya untuk tidak keluar, namun gagal. Ia menangis sesenggukkan hingga bahunya terlihat naik turun. Ino sendiri tau bahwa ini adalah bagian dari Mood Swings akibat kehamilannya namun ia tidak bisa menahan perasaan ini, bagaimana Moodnya yang naik turun tanpa ia bisa kendalikan, Ia hanya bisa berharap bahwa Sasuke bisa bersabar menghadapi semua ini.

"Sebentar lagi Ino! bersabarlah!" Sasuke menahan mati-matian agar ucapannya tetap dalam nada senormal mungkin, tak ingin membuat ibu dari bayinya bertambah "histeris".

Pria itu kembali sibuk dengan makanan yang ia buat. Bagaimana ia bisa menyelesaikan makanan sebanyak itu dalam waktu satu jam saja? hah~ berhadapan dengan wanita hamil lebih sulit dari misi-misinya selama ini. "Sementara aku menyelesaikannya, Makanlah Kue dango atau Es krim-mu!" perintah Sasuke.

"Maafkan aku! Aku tidak - . . .!"

"Diam dan makan!" perintah putra Uchiha itu lagi, nadanya kembali dingin.

Apa dia marah padaku?tapi khan aku benar-benar lapar!

Menunggu dengan bosan, Ino menyantap dengan lahap kue dango yang dibawakan Sasuke dalam perjalanan pulang tadi, mulutnya penuh dengan makanan, kemudian ia menyambar susu yang berada di dekat piring untuk wadah dango-nya. Sasuke menatap Ino melalui ekor matanya, Ia tak bisa untuk tidak tersenyum melihat tingkah Ino yang seperti anak kecil di matanya itu.

"Sudah Siap!"

Pemuda raven itu dengan cekatan meletakkan beberapa makanan hasil karyanya, Nasi, daging asap, sayur-sayuran, dan beberapa hidangan lain. Demi Ino, demi bayinya, Sasuke rela untuk melakukan hal-hal yang tidak biasa ia lakukan, meskipun ia pandai memasak, ia tak pernah sekalipun mengaplikasikan kemampuannya yang satu ini. Onyxnya menatap lembut Ino.

"Makan!" Perintahnya, mengambil tempat duduk tepat di hadapan sang wanita Yamanaka. Tangan kekarnya mengambil nasi, dan memotong beberapa lauk untuk ia berikan pada ibu bayinya.

"Suapi!" pinta Ino manja. Oh~ bagaimana ia mampu menolak permintaan itu jika saat ini lawan bicaranya tengah melancarkan jurus Puppy Eyes seperti itu?. Mau tidak mau Uchiha Sasuke berakhir dengan meniup nasi dan lauk yang masih panas, dengan sabar ia menyuapi Heir Yamanaka di hadapannya yang tengah sibuk bercerita tentang masa lalu saat ia dan Sakura masih mengejar-ngejar dirinya.

Sesekali pemuda itu hanya menjawab "Hn~" , "Oh~", "Tidak" namun itu sudah mampu membuat Ino bahagia, ia merasa diperhatikan oleh ayah dari bayinya, wanita cantik itu juga yakin bahwa Sasuke akan menjadi ayah yang baik nantinya, meski dengan sikap dingin yang terkadang ia tunjukkan itu.

.

.

.

.

.

"Apa? Kau bilang apa, Hokage-sama?"

Inoichi menatap pemuda jabrik pemimpin desanya tak percaya. Naruto datang sendiri ke rumahnya untuk memberi kabar bahwa Sasuke membawa putrinya untuk menginap di kediaman Uchiha, dimana tempat itu penuh dengan masa lalu kelam yang menghantui.

"Dia menculik putriku! Aku tidak bisa membiarkan semua ini!" pria paruh baya dengan rambut panjangnya bersiap untuk keluar rumah, namun terhenti saat Naruto memegang tangannya, dan menggelengkan kepalanya tanda bahwa ia melarang pria itu untuk menyambangi kediaman Uchiha.

"Hokage-sama!"

"Paman, kumohon biarkan Ino-chan menyelesaikan ini semua dengan caranya sendiri! Berikan kesempatan Sasuke untuk membuktikan bahwa ia tidak sebrengsek orang katakan, Aku telah bersama Sasuke sejak kami masih kecil! Aku tau siapa dia sebenarnya! Dia sahabatku, Paman . . .!"

Tatapan Hokage muda itu memelas, membuat ketua clan Yamanaka melunak dan seketika pertahanan pria itu ambruk. "Apa kau yakin dia akan bisa membahagiakan, Putriku?"

"Apa kau tidak mempercayai pilihan hidup putri kita, Inoichi-koi?"

Nyonya Yamanaka turun dari lantai 2 kediaman Yamanaka clan, Ia tersenyum melihat keberadaan pemuda jabrik yang nampak berwibawa kemudian menundukkan badannya tanda hormat pada sang pemimpin desa.

"Kita telah membesarkannya dengan baik, dia sudah dewasa, jangan terlalu overprotective padanya! DIA BERHAK MENENTUKAN HIDUPNYA!"

Naruto sedikit ngeri menatap ekspresi ibu Ino itu, dia baru sadar darimana Ino mendapatkan sifat galak dan cerewetnya itu. Namun ia tersenyum, membayangkan di hadapannya sekarang adalah Ino.

Bagaimana ia sangat mencintai gadis pirang itu, namun ia sadar bahwa perasaannya itu tidak akan pernah berbalas.

"Aku mencintai putri kalian, paman, bibi! Tapi aku benar-benar harus menghikhlaskannya untuk sahabatku, ku harap Paman bisa juga merelakan Ino untuk hidup dengan Sasuke"

Naruto menghela nafas panjang, pandangannya ia edarkan pada kedua orangtua Ino yang mematung.

Sebuah seringaian jahil terlukis pada wajah Hokage jabrik itu "Aku bohong! Hahahahah . . . baiklah, paman, bibi aku pulang dulu, aku hanya ingin menyampaikan semua ini, agar paman dan bibi tidak mengkhawatirkan kondisi Ino-chan, aku yakin ia akan baik-baik saja!"

"Naruto . . .!"

Nyonya Yamanaka memeluk Hokage muda itu erat "Terima Kasih, nak! Kami selalu menganggapmu adalah putra kami!"

Naruto tak dapat berfikir jernih lagi, ia tersenyum, andai saja ia dapat bersanding dengan Ino, maka mereka juga akan menjadi Ayah dan Ibunya sendiri. Ia benar-benar iri dengan Sasuke untuk hal yang satu ini.

"Aku pergi dulu, . . ."

Naruto melangkahkan kakinya keluar, tak mampu untuk menatap ekspresi Yamanaka dewasa yang telah ia anggap seperti orang tuanya sendiri, Ia berjalan pelan menyusur jalanan Konoha yang mulai sepi, Ia memasukkan satu tangannya pada saku celana, sesekali ia akan tersenyum untuk membalas sapaan dari warga desanya. Hah~ hari yang melelahkan, Ia hanya ingin kembali ke komplek perumahan Hokage, dan tidur!

Hokage yang patah hati! Bagaimana ia akan menyembuhkan luka dihatinya jika ia sendiri baru pertama kali merasakannya?, Minus perasaannya pada Sakura dulu yang ia rasa hanya rasa suka, bukan cinta seperti apa yang ia rasakan pada Ino sekarang.

"Aku pasti akan baik-baik saja!"

=U=

"Sasuke!" panggil Ino kesal.

"Kun!" ucap sang pemuda dingin.

Lagi-lagi pemuda itu berujar dingin. Ino tak dapat berekspresi apapun selain mendengus kesal. Memanggilnya dengan sufiks "kun" itu berlebihan! Sungguh ia tidak mau bersikap seperti itu!.

"Tidak mau!" Ino menjulurkan lidahnya demi untuk menggoda Sasuke. Pemuda itu terlihat kesal saat ini.

Saat ini mereka berada di tempat tidur king size milik Sasuke, Uchiha muda itu tengah duduk menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat tidur dengan beberapa bantal menopang tubuh bagian atasnya yang tidak terbungkus oleh pakaian. Sexy. Ino menggelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran "kotor" dari otaknya.

Pletakkk!

Sasuke menyentil pelan dahi Ino membuat Kunoichi cantik itu mengerang tertahan. "Apa yang sedang kau pikirkan, Ino-chan?"

Ino menggeleng pelan, "Sasuke-kun!"

INO P.O.V

Aku tidak tau apa yang sedang kurasakan saat ini, di dalam tubuhku ada perasaan yang mendesak untukku merengkuh tubuh Sasuke dalam pelukanku! Ya Kami-sama . . .! jika ini bagian dari efek kehamilanku, Kau benar-benar ingin membuat ibumu malu, Nak!

Aku mengelus perutku pelan, kemudian membenarkan posisi bantal yang mengganjal punggungku.

"Kau tidak apa-apa?" terlihat wajah khawatir dari raut tampannya, aku menggeleng lemah. Aku tidak bisa menahan ini semua!.

Aku banyak mendengar bahwa kebutuhan sex untuk orang yang sedang hamil itu benar-benar besar, tapi aku menganggapnya sebagai angin lalu, sampai aku merasakan perasaan itu kali ini. Aku tidak bisa menahannya!.

Aku tak memikirkan rasa maluku lagi, dengan mengumpulkan keberanian aku duduk di pangkuan Sasuke, duduk di pahanya, berhadapan langsung dengan dirinya yang menatapku tak percaya.

"I . . . I . . . Ino!" desisnya, menatapku tak percaya. Pelan aku mengusap pipi mulusnya dan mendekatkan bibirku pada bibir merah tipisnya.

Chuupss~

"Nghh~" desahnya saat tanganku menjamahi bagian bawahnya. "Innohh~ Tidak! Hentikan!"

Ia memegang pelan kedua tanganku, dan menciuminya. Aku benar-benar sedih kali ini, Ia menolakku? Padahal aku sedang ingin melakukan hal itu.

"Kenapa tidak?" suaraku nampak mengandung kekecewaan di dalamnya. Namun, ia malah tersenyum menatapku, Ia masih menatapi diriku yang mengalihkan pandanganku, enggan untuk bertatapan dengan Onyx miliknya.

"Terlalu beresiko! Bukannya aku tidak mau! Dengan tindakanmu seperti tadi, aku tidak bisa menjamin untuk melakukannya dengan pelan, aku tidak mau menyakiti bayi kita, Ino!" Sasuke kini mencium dahiku lembut.

Aku sadar dengan apa yang telah kuperbuat tadi. Dia benar bahwa ini terlalu beresiko karena usia kandunganku masih muda, berhubungan badan saat hamil memang tidak dilarang namun itu saat kehamilan sudah cukup besar. Bahkan usia kehamilanku baru menginjak usia 2,5 bulan.

Aku menghela nafas panjang, kemudian turun dari pangkuannya dan kembali duduk di sampingnya, menata kembali bantal untuk tempatku bersandar.

"Maafkan aku, Sasuke! Aku tidak bermaksud untuk melakukannya tapi aku benar-benar tidak tau kenapa aku bisa berbuat seperti itu!"

"Kau benar-benar menginginkannya, Ino-chan?" Ia merubah posisinya agar dapat menatapku, tatapannya benar-benar teduh, Ia tersenyum, sangat tampan! Ya Kami-sama . . .

Aku menggeleng, menyadari kesalahanku.

Huuftt~ aku benar-benar merepotkannya hari ini.

INO P.O.V End

Tanpa aba-aba kini jemari tangan Sasuke membelai dada Kunoichi pirangnya. Wanita itu terkejut dengan aksi yang dilancarkan Uchiha muda itu. "Sasuhh~" desahnya.

"Aku hanya mampu melakukan ini untuk memuaskanmu, Ino! aku janji jika bayi kita sudah kuat, aku akan melakukannya!" bisiknya pelan, menggiggit cuping telinga putri Inoichi.

Ia mengarahkan bibirnya untuk menciumi setiap jengkal leher Ino, dan meninggalkan beberapa Kissmark merah kebiruan pada leher jenjang milik salah satu dari jajaran Kunoichi terbaik di Konoha. Tangannya melucuti tubuh Ino yang dibalut dengan kemeja berwarna Ungu terang, Ino tak dapat berkata apa-apa selain mendesah nikmat atas perlakuan calon pemimpin Uchiha itu.

Tinggalah bra putih yang membingkai dada berukuran besar milik Ino, tak menunggu lama Sasuke melepas bra itu, mengamati dengan seksama "benda" indah itu.

"Ouhhh Sasuhhh~" Ino menggeliat geli saat Sasuke mengulum buah dadanya. Ia takbisa menahan hasratnya untuk tidak mendesah, jari-jemarinya meremas erat rambut raven sang pemuda Uchiha.

Sasuke tersenyum jahil, melepaskan kulumannya dan meremas-remas dada sintal Ino, mata mereka saling bertatapan, syarat akan suatu perasaan. Cinta!

"I Love You!" bisik Sasuke menidurkan putri Yamanaka itu kemudian, tangannya kembali merapikan bra, juga kemeja yang tadi sempat ia "obrak-abrik" posisinya. "Tidurlah! Aku akan meneruskannya di Kamar Mandi!" Perintah Sasuke kemudian cepat berlari ke Kamar mandi untuk menyalurkan hasratnya sendiri.

Ino tertawa geli begitu mendengar namanya disebut oleh Sasuke di dalam sana dengan desahan sexy-nya.

"I Love You Too, Sasuke-kun!"

.

.

.

.

.

"Berikan aku misi!"

Byuuurrrr

Naruto menyemburkan Teh-nya saat Sasuke memintanya untuk memberikan misi untuk pemuda raven itu, Ia mengamati wajah yang telah terbentuk lebih dewasa itu.

"Dobe! Aku serius! Aku akan mempunyai anak dalam kurun waktu beberapa bulan kedepan dan Ino yang harus kujaga! Kau takut aku akan kabur?!"

Tatapan mengintimidasi yang biasanya dilancarkan Sasuke muda itu sudah tidak nampak, berganti dengan tatapan lebih lembut, Apakah itu efek dari mempunyai "keluarga"?.

"Untuk apa kau terjun ke dalam sebuah misi lagi, Teme?! Untuk saat ini tidak ada ancaman berarti untuk desa dan negara yang ber-aliansi dengan kita! Kau butuh uang?"

Naruto menatap menyelidik pada pemuda emo dihadapannya, kini mereka berada di ruangan Hokage sekarang.

"Uchiha tidak pernah kekurangan uang!" jawabnya asal. Pemuda itu hanya benar-benar merindukan untuk bebas sebelum ia akan menetap dan membesarkan anak dan mungkin anak-anak nantinya.

"Lalu?"

"Aku ingin merasakan kebebasan sebelum terikat, sebelum aku akan disibukkan dengan tangisan bayi dan mengajari anakku untuk menjadi pewaris clan, juga mendidiknya menjadi ninja yang hebat!"

Benarkah ini Sasuke-teme, sahabatnya? Ternyata dia bisa sebijak ini, Jadi Ino benar-benar sudah sukses merubah sahabat dinginnya ini menjadi lebih baik sekarang.

"Terikat? Apa aku bisa mengartikan bahwa kau akan menikahi, Ino-chan?"

Lagi, Hokage muda itu melontarkan pertanyaan pada Uchiha muda, sahabatnya itu kini terlihat sedang berfikir.

Menikah? Sasuke tidak yakin! Apa Ino akan menerimanya dan siap untuk menjadi seorang Uchiha? Dan itu artinya bahwa wanita itu harus siap untuk melahirkan banyak anak, setidaknya 4-5 anak untuk membangun lagi Uchiha clan. Tapi Ino bukan mesin untuk membuat anak!.

Sasuke bertarung dengan pikirannya sendiri, belum lagi ia harus menemui Inoichi, juga kedua sahabat Ino untuk meminta restu. Ya Kami-sama . . . kenapa hidupnya serumit ini? Kenapa ia harus menghamili Ino, putri dari Inoichi yang sangat overprotective pada putrinya? Kenapa dia tidak memilih Karin saja?

Oh tidak Uchiha Sasuke! Apa yang baru saja kau pikirkan?

"Teme!" teriak Naruto pada Sasuke yang masih sibuk dengan lamunannya. Pemuda pirang jabrik itu tersenyum penuh arti sekarang. "Aku mau jujur padamu, Teme!"

"Kau menyukai Ino? aku sudah tau Dobe! Tapi sayang sekali dia milikku!" benar-benar tidak ada rasa cemburu di dalam setiap pengucapannya, ia tau bagaimana sahabatnya itu.

"Setidaknya kau sudah tau, jadi aku tidak akan membiarkanmu untuk menyakitinya lagi Teme!"

Naruto segera mengambil gulungan dan menyerahkannya pada Sasuke. "Misi 1,5 bulan di Negara Angin, mereka membutuhkan bantuan kita untuk melatih menjaga keamanan pasca kudeta disana! Kurasa itu bukan misi yang sulit! Kau bisa kembali sebelum waktu yang ditentukan jika keadaan disana memungkinkan untuk kalian tinggalkan"

Seringaian jahil terbentuk pada wajah tampan milik Hokage itu,.

"Baiklah! Sampai jumpa beberapa bulan lagi! Jaga calon bayiku untukku! Ino butuh perhatian lebih, dia menjadi sangat sensitive, kau harus lebih bersabar untuk menghadapinya!"

"Kurasa tingkat kesabaranku lebih besar daripada milikmu, Teme!"

Naruto mendekati tubuh sahabatnya, mengulurkan tangan untuk menjabat tangan sang sahabat yang kemudian disambut dengan jabatan hangat Sasuke, dan memeluk pemuda pirang itu.

"Asal kau memberiku kewenangan untuk memberi nama anak pertama kalian!"

"Dobeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee!" Sasuke melepas pelukan persahabatannya pada Naruto dan melancarkan Death Glare yang disambut dengan cengiran khas pemuda Uzumaki itu "Ku rasa Ino-chan tidak akan keberatan!"

"Aku tidak akan pernah mengijinkannya!" jawabnya dingin. Pemuda Uchiha itu kembali duduk dengan tenang ia menyesap minumannya. Senyum kemenangan terukir pada raut tampannya. Pasca perang beberapa tahun lalu, Sasuke memang benar-benar banyak berubah, setidaknya ia telah berusaha memperbaiki citranya dan keluarga Uchiha, berusaha membuktikan bahwa ia loyal terhadap Konoha mulai saat itu.

"Teme! Kau belum menjawab pertanyaanku! Apa kau akan memperistri Ino-chan? Apa kau akan memberiku wewenang untuk memberikan nama untuk anak angkatku?" Naruto benar-benar terobsesi dengan idenya sendiri untuk memberi nama calon pewaris Uchiha yang bahkan belum lahir ke dunia itu.

"Anak angkat?! Dobee?! Kau memintaku untuk memberimu hak untuk memberi nama anakku, dan sekarang?" pemuda raven itu menggelengkan kepala heran. "Aku pergi dulu! Aku harus segera menemui Ino dan berpamitan!"

"Semoga berhasil dengan misimu, Sasuke-teme!"

"Dan semoga berhasil dengan misimu mengawal Ibu dari anakku, Dobe!"

Ibu dari anakku, calon anakku, bayiku, kata-kata yang sering terucap dari bibir pemuda Uchiha itu, ia tidak bisa untuk tidak mengatakannya, ia benar-benar bangga dan bahagia kali ini dan tak seorangpun mampu mengambil kebahagiaanya. Tidak! Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

Ia berjalan dengan tenang keluar dari Hokage Tower, sesekali ia akan membalas sapaan dari beberapa penduduk Konoha yang mulai menerima kehadirannya kembali di desa yang telah maju pesat itu.

Kali ini pandangannya tertuju pada sepasang suami-istri yang nampak tertawa bahagia memandang putrinya yang mulai bisa berjalan, si mungil itu berjalan tertatih menuju kedua orangtuanya.

Indah!

Sebuah keluarga yang telah lama ia impikan, ia tidak pernah berpikir dan membayangkan bahwa Ino-lah yang akan menjadi ibu dari anaknya, dulu ia pikir Ino akan sangat merepotkan dengan kecerewetan, kebawelan dan kegalakannya. Namun semua pemikiran itu musnah begitu ia menjalani hal itu sekarang, ia benar-benar menikmati setiap kebersamaannya dengan Kunoichi cantik itu.

Sasuke meneruskan perjalanannya hingga sampailah ia di gerbang Konoha Hospital, berjalan masuk untuk menemui kekasih, istri, teman? Entah bagaimana ia harus menyebut hubungannya dengan Ino saat ini.

"Ino ada di ruangannya sekarang, Sasuke-kun!" teriak Sakura melambaikan tangannya pada Sasuke, nampaknya Sakura sedang terburu-buru saat ini terbukti dengan begitu cepatnya sosok merah muda itu menghilang dari pandangan Sasuke.

Sasuke menghela nafas panjang, Ino benar! Untuk masalah Cinta, Cinta Sakura memang lebih besar padanya jika dibandingkan dengan Ino, toh Ino tidak pernah benar-benar mencintainya, bukan? Sakura dengan setia menunggunya untuk kembali, tapi saat ia sudah kembali ia sendiri tidak mampu untuk membalas perasaan gadis itu.

Jika ia menerima perasaan gadis itu, itu sama saja dengan ia menyakiti gadis itu lebih lagi, karena ia tak pernah benar-benar merasakan sesuatu pada Kunoichi merah muda itu.

Ia membuka pintu itu dan menemukan Ino sedang sibuk memasukkan kue dango kedalam mulutnya, Ya Kami-sama . . .! ia benar-benar banyak makan, bagaimana jika bentuk tubuhnya nanti tidak kembali pada ukuran semula dan menjadi sebesar Chouji? Tidak! Tidak! Sasuke menggelengkan kepalanya horror, membayangkan hal itu saja sangat mengerikan, lalu bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi? Ahh~ Ino tidak akan membiarkannya hidup jika bentuk tubuh wanita itu tidak kembali pada ukurannya semula.

"Ino!"panggilnya, kemudian menutup pintu kayu itu kembali. Ia berjalan mendekat pada Ino yang nampak tidak terkejut dengan kedatangannya.

Tangan kekarnya kemudian menarik kursi tepat dihadapan Ino untuk ia duduki, Ia tersenyum, jari telunjuknya pelan membersihkan sisa remah kue pada sudut bibir Yamanaka Ino-nya.

"Sasuke . . .! Ada apa kau kesini siang-siang seperti ini?" tanyanya, ia kembali melahap beberapa kue beras sekarang, tatapannya tidak lepas dari pemuda itu.

"Ino dengarkan aku! Selama aku tidak disini kau tinggalah bersama Orangtuamu! Naruto akan menggantikan keberadaanku untuk memenuhi semua kebutuhanmu dan bayi kita, ia akan memastikan bahwa kau baik-baik saja! Jangan cengeng!" perintahnya pada wanita Yamanaka itu, sementara Ino masih mencerna kata demi kata yang Sasuke lontarkan.

"Kau mengerti?!" tanya Sasuke kembali, entah mengapa melihat ekspresi Ino yang seperti ini membuatnya ingin tersenyum, jahil ia mencubit gemas hidung mancung Ino.

"Sasuukeee~ Sakit!" keluh Ino memegangi hidungnya yang ia yakin saat ini sudah me-merah. "Jadi kau mendapat misi?" tanyanya polos, kali ini jemari lentiknya mengelus lembut perutnya yang belum terlihat membuncit.

Sasuke mengangguk. "Berjanjilah kau dan dia akan baik-baik saja!"

"Seharusnya kau yang berjanji untuk baik-baik saja, Tou-chan!"

Tou-chan? Sasuke ingin tertawa kali ini, bagaimana imutnya Ino ketika melafalkan kata itu. Tangan besar Sasuke kemudian bergabung dengan Ino mendarat pada perut datar pemilik mata aquamarine itu.

"Jangan membuat Kaa-chan repot, nak! Jangan meniru sifat jeleknya yang selalu membuat repot semua orang itu!"

Ino tertawa terbahak, kali ini sepertinya moodnya sedang baik. Ia mengelus pucuk kepala Sasuke yang berlutut sedang menciumi perutnya. "Kapan kau berangkat? Dengan siapa?"

"Segera setelah dari sini bersama 2 orang ANBU! Aku akan menjadi ketua ANBU jika misi ini sukses!" ucapnya bangga, senyum lebar terpampang jelas pada wajah tampan itu.

"Semoga berhasil Tou-chan!"

"Hn~" Sasuke kembali bergemul dengan perut Ino, untuk beberapa saat ia merasa sangat nyaman dengan posisi seperti ini, dengan tangan Ino intens membelai kepalanya lembut.

Ia sadar sekarang bahwa ia sangat menyayangi dan mencintai Ino. sempat terbersit dalam pikirannya untuk menikahi gadis itu segera setelah misinya selesai. Apa semudah yang ia pikir dan bayangkan nantinya?

.

.

.

.

.

.

Sesuai dengan permintaan Sasuke, kini Ino tinggal bersama kedua orangtuanya, ia sangat tidak menyukai ide itu karena ia tahu bahwa orang tuanya akan memperlakukannya dengan berlebihan. Ia hamil! Wanita mengalaminya namun orangtuanya terutama sang Ayah memperlakukannya seperti penderita penyakit parah.

Ino menghembuskan nafasnya bosan, melahap kembali ramen super besar yang ia pesan bersama Naruto.

"Naruto-kun!" panggilnya. "Ini salahmu jika anakku nanti menjadi pecinta ramen sepertimu!" dengan jari yang menunjuk Hokage muda itu, dan Naruto sendiri hanya tertawa geli menanggapi keluhan Ino.

"Ahh~ itu wajar! Aku akan menjadi ayah angkatnya, Hey Ino-chan! Aku ingin memberikan nama pada anak pertama kalian, bolehkan?"

Ide itu lagi? Mengapa Naruto benar-benar terobsesi dengan memberi nama anaknya bersama Sasuke? Ini sudah kesekian kalinya dalam 2 minggu ini ia bertanya hal itu.

Kunoichi pirang itu memanyunkan bibir tipisnya, memandang Naruto dengan penuh konsentrasi.

"Baiklahh! Baik!"

Akhirnya Ino benar-benar menyerah pada si rambut landak itu! Ia fikir tidak ada salahnya jika Naruto memberi nama anak mereka, urusan Sasuke biar ia urus nanti.

Anaknya benar-benar beruntung mempunyai Ayah kandung setampan dan sehebat Sasuke, juga Ayah angkat sekocak dan sekeren Naruto.

"Ino-chan! Apa kau bahagia?"

Oh tidak Naruto! jangan bersikap seolah kau sangat menderita seperti ini!

Ino tersenyum. Ia mengelus lembut punggung tangan Naruto. "Maafkan aku tidak bisa membalas perasaanmu padaku, kuharap kau hidup bahagia Naruto-kun! carilah pendamping yang lebih baik dariku dan membuat keluarga kecil kalian!"

Sejujurnya Naruto tidak menyukai arah pembicaraan ini, Ia tidak mau membahas mengenai semua tentang kehidupan pribadinya. Dia hanya ingin menyimpannya sendiri.

"Aku akan menemukannya suatu saat, tidak sekarang Ino-chan, masih banyak beban yang harus kupikul, juga beban yang dititipkan oleh Sasuke padaku!"

"Beban? Jadi aku membebanimu selama ini, Naruto-kun?!" Ino tak dapat menahan emosinya lagi, ia berdiri dari posisi duduknya dan berjalan keluar meniggalkan Naruto yang tertawa geli melihat tingkah Ino.

Ia harus segera mengejar wanita milik Uchiha itu jika tidak ingin ketika Sasuke kembali nanti ia mendapat masalah.

Ia membayar untuk 2 porsi ramen super besar dan berlari keluar menyusul Ino yang telah dulu pergi meninggalkannya.

"Kau marah?"

Entah sejak kapan Naruto sudah berjalan disampingnya. Ia menghentikan langkahnya untuk melihat pemuda jabrik itu lalu menggeleng "Bagaimana aku bisa marah kepada sahabat, ayah angkat anakku yang juga seorang Hokage di desa ini?"

Cantik, wajah cantiknya terlihat bertambah indah ketika ditempa oleh Sinar bulan yang jatuh langsung ke wajah ayunya. Naruto lagi-lagi harus menahan gejolak dari perasaannya lagi.

"Aku tau kau tidak akan bisa marah padaku, Ino-chan! Kau mau kemana sekarang?"

"Pulang! Dan gendong aku!" perintah Ino dengan seringai penuh kemenangan.

"Inoooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo?!"

Teriak Naruto histeris.

=U=

INO P.O.V

Ahhh~ aku benar-benar lelah, kurebahkan tubuhku pada tempat tidur berbalut sprei berwarna Ungu- warna kesayanganku.

Apa yang sedang dilakukan Sasuke sekarang? Apa dia merindukanku? Eunghhh~ kenapa dengan memikirkannya saja itu membuatku tersiksa? Bagaimana jika dia tidak kembali dan pergi lagi?

"Kau pasti merindukan Tou-chan, bukan?"

Aku mengelus perutku pelan, entah mengapa rasa kantuk yang tadi "menyelimuti" ku kini telah sirna.

Kubangunkan tubuhku kembali dan beranjak untuk menggeser pintu kaca yang memberikan akses pada balkon kamarku yang berada di lantai 2. Aku tersenyum, bagaimana tidak? Malam ini berhiaskan dengan hujan meteor yang menambah indah penampakan bulan di atas sana, hah~ suasana seperti ini seharusnya kunikmati bersama Sasuke!

Harus menunggu 1 bulan lagi sampai aku dapat memeluknya lagi di dalam dekapanku, aku merasa benar-benar hampa tanpa kehadirannya.

Apakah aku benar-benar mencintainya? Aku bahkan menangis saat ia diumumkan sebagai penjahat internasional, aku masih peduli padanya meskipun dia terjerembab ke dalam kegelapan. 4 tahun lalu saat ia kembali aku berlari padanya namun, Shika dan Chouji menghentikanku, jadi apa arti semua ini? Apa itu yang dinamakan dengan cinta? Jadi aku tidak kalah mencintai Sasuke dibanding Sakura bukan?

Tak terasa air mataku menetes mengingat masa itu, bagaimana jika Shikamaru dan Chouji tidak menghentikanku? Apa aku akan tetap menjadi fangirl bodoh? Bagaimana jika Sakura-lah yang berakhir dengan Sasuke? Apa aku masih bisa hidup dan menyaksikan kebersamaan mereka walau dengan hati yang tercambik?

Dan meskipun aku bisa bersama dengan pria lain, aku tidak akan pernah bisa memusnahkan perasaanku pada Sasuke! Ingat! Bahwa aku juga mempunyai cinta yang sangat besar sama seperti cinta Sakura pada Sasuke, mungkin hanya nasib yang mempermainkanku.

Tentu saja aku hanya membayangkan hal itu, toh sekarang aku sedang mengandung benih dari Sasuke! Apa yang perlu kutakutkan?! Oh- tentu saja aku takut kehilangan Sasuke, aku takut jika ia tidak menikahiku nanti, aku takut bahwa aku telah mengambil keputusan yang salah. Apakah aku akan bisa menyandang nama Uchiha, nanti?

Huh~ sesungguhnya aku sangat membenci sisi lemah dari diriku ini, dan diperparah dengan mood swing yang mengacaukan perasaanku, kenapa aku jadi cengeng seperti ini! Ayolah air mata, berhentilah! Dengan kasar ku usap air mata dari pipiku.

Hingga kurasakan kedua tangan itu melingkar pada perutku.

"Sasuke!"

Aku membalikkan badan hanya untuk memastikan bahwa apa yang kupikir benar.

"Menangis lagi? Kau merindukanku, Ino-chan?" ia tersenyum. Senyuman itu, senyuman yang hanya ia tunjukkan padaku, sufiks 'chan' itu hanya ia gunakan padaku. Ia menghapus air mata yang kembali menggenagi kedua aquamarine milikku.

"Sasuke!"

"Kun! Sudah berapa kali kubilang padamu jangan menangis!"

"Baka~!" aku memukul-mukul dadanya, dan menghambur memeluknya. "Aku merindukanmu! Aku mencintaimu!" isakku. Kurasakan ia membelai pucuk kepalaku lembut.

"Para pemimpin disana puas dengan pekerjaanku mengawal masa transisi di negara mereka, dan kupastikan semua sudah aman disana dan segera kembali untukmu, aku merindukanmu! Aku juga mencintaimu, Ino-chan!" terdengar nada menenangkan di setiap perkataannya, aku tersenyum. Ini bukan mimpi, bukan? jika ini memang mimpi, aku tidak ingin bangun lagi Ya Kami-sama . . .

"Bagaimana kau bisa masuk? A…Ayah?"

Aku melepas pelukannya, memandang sosok rupawan itu. "Ibumu yang membukakan pintu untukku, dan Ayahmu sudah tidur" jawabnya kemudian menyentil dahiku, seperti kebiasaan Ita-nii padanya.

Aku bisa bernafas lega sekarang, melepaskan pelukanku padanya dan masuk kembali ke kamar. Ia megikuti kemana langkahku pergi, kemudian menutup pintu kaca itu kembali.

"Kau memikirkan apa tadi?"

Sasuke menyusulku ke tempat tidur, ia kemudian menidurkan tubuhnya pada pangkuanku. Aroma yang menguar pada tubuhnya tetap segar meskipun ia baru pulang dari negara angin.

Aku mengelus kepalanya lembut. Oh Tuhan mengapa kau menciptakan makhluk setampan ini?

"4 tahun lalu apa yang akan terjadi jika aku bisa menyambut kedatanganmu kembali, menunjukkan sisi fangirl diriku padamu? Jika kau berakhir dengan memilih Sakura, apa aku masih bisa hidup? Jika aku bersama orang lain apa aku bisa memusnahkan perasaanku padamu? aku baru menyadari perasaanku bukan perasaan iba kepada Sakura saja, tapi lebih dari itu, aku juga merasakan cinta yang sama padamu, Uchiha-san!" ucapku.

Ia menarik kepalaku untuk mencium bibirku, Sasuke . . .

"Menikahlah denganku!"

DEEGGGGGG!

.

.

.

.

.

To Be Continued . . .


Berlinangan air mata pas nulis, Jika waktu itu Shika ma Chouji ga menahan Ino pas mau mendekat pada Sasuke yang baru balik ke Konoha, mungkinkah Ino bisa Happy Ending ma Sasuyam? duhh~ well abaikan =.= masih saja tidak terima, yakin.

Chapter ini rada kecepetan ya alurnya xD, tapi banyak SasuIno moment-nya, meski OOC nya kebangetan. Yahhh, sekali lagi ini hanya fict, sesuai imajinasi yang diinginkan :D.

Terimakasih buanyak loh bagi yang setia nge-riview, nge-follow, kasih saran dan masukkan, ga nyangka juga sih dapet sambutan lumayan banyak mengingat fict yang saya buat ini abal, masih banyak kekurangan, juga masih dibawah standard.

Tunggu Next Chapter untuk mengetahui apa Ino-chan kita ini mau menerima lamaran Sasuke yang sama sekaleehhh tidak romantis itu xD. Oh iya saya juga bikin fict Incomplete loh, . . . kasihan Ino-chan, kasihan juga bapak bayinya di situ xD.

Enjoyyyy ^^

#Vale