Ikut bersama Mingyu untuk urusan bisnis ke Busan sepertinya memang keputusan yang salah. Lebih tepatnya kesalahan Mingyu yang memaksanya. Membuat Wonwoo kesal dan benar-benar bosan.

Beberapa menit setelah mereka tiba di hotel, Mingyu langsung pergi. Katanya harus bertemu dengan orang penting. Dan Wonwoo hanya seorang diri di kamar. Berguling di kasur empuk namun tidak senyaman kasurnya di rumah.

Kamar hotel yang Mingyu pesan, tidak kalah mewah dengan kamar mereka. Tapi tetap saja ia lebih merasa nyaman di kamarnya. Lelah berguling di kasur, pemuda bermata tajam itu tertidur. Dan matanya baru terbuka dua jam kemudian saat Mingyu kembali.

"Aku harus pergi lagi malam ini. Kami akan merayakan kemenangan proyek kami. Kau tidak berharap aku mengajakmu kan?" Mingyu bertanya sambil mengancingkan kemejanya. Menghadap ke kaca besar yang ada di lemari.

"Siapa yang berharap kau ajak? Aku tidak ingin kemana-mana."

Suara Wonwoo terdengar datar. Wajahnya juga terlihat semakin kesal. Tapi Mingyu tidak memperhatikannya. Tetap sibuk dengan penampilannya. Padahal Wonwoo ingin keluar hanya sekedar mencuci mata.

"Kalau kau lapar, kau pesan saja!" perintah Mingyu. Namun dia tidak menjawab. Memandangi punggung Wonwoo dengan mata tajamnya. Dan saat Mingyu pergi, Wonwoo langsung mengacak rambutnya frustasi.

"Aku seperti peliharaan saja."

Tidak ingin mati menahan kekesalan, Wonwoo memilih berjalan-jalan tidak jauh dari hotel. Tadi ia melihat toko yang berderet dan juga taman kecil yang letaknya dekat dengan hotel. Ia memutuskan ke sana tanpa takut tersesat.

Wonwoo melangkahkan kakinya perlahan. Dan terkadang terhenti sejenak saat melihat barang yang menarik. Namun tidak ada niat untuk membelinya, hanya melihatnya dari balik kaca transparan.

Langkahnya tiba di sebuah gedung yang sedang mengadakan resepsi pernikahan. Wonwoo memperhatikan tamu undangan yang mulai meramaikan acara. Ingatannya tertuju pada hari pernikahannya. Membuat pemuda manis itu menghela nafasnya.

Lelah berjalan, Wonwoo memutuskan untuk duduk di anak tangga. Tangga yang menghubungkan dengan toko yang berada di lantai atas. Tangga itu tidak ramai di lewati penjalan kaki. Jadi tidak menganggunya yang memilih duduk di sana.

"Statusku sudah berbeda. Aku sudah menikah saat ini," gumam Wonwoo lirih sambil menundukkan kepalanya. Menatap jari jemarinya sebelah kiri.

"Tapi pernikahan ini berbeda. Dan nasibku juga berbeda dengan yang lainnya," lanjutnya masih dengan memandangi jari-jarinya yang polos. Tanpa ada apapun yang melingkar. Tidak seperti pasangan lainnya, yang akan tersemat besi putih yang terlihat indah.

"Dan apa bedanya aku yang dulu dan yang sekarang?" tanyanya sambil tersenyum miris. Mengangkat kepalanya menatap langit malam.

"Aku masih sendiri. Aku juga kesepian. Bahkan jauh lebih sepi."

Pemuda manis itu menghembuskan nafasnya lelah. Ia merasa tidak ada perbedaan yang berarti setelah menikah dengan Mingyu. Masih sama-sama merasa kesepian. Bahkan jauh lebih sepi.

Dulu ada Jihoon, sahabatnya. Dan sebagai pengantar paket kilat, Wonwoo sering bertemu dengan orang baru. Mendapat senyum dan ucapan terima kasih karena barang yang ia antar selamat. Meski tidak jarang ia terkena makian dan di pandang sebelah mata. Tapi setidaknya, Wonwoo bisa melakukan hal lain. Membuatnya bisa melupakan rasa sedih dan kesepian karena hidup seorang diri.

Dan saat ini ia kesepian. Meski Mingyu adalah suaminya, tapi Mingyu tidak mencintainya. Ia masih menganggap Mingyu orang asing. Meski secara hukum dan di hadapan Tuhan, mereka pasangan yang sah.

"Apa aku selamanya akan seperti ini?"

Wonwoo tidak menyalahkan takdir. Walau takdirnya dengan Mingyu tidak mampu mengeluarkannya dari kesepian. Karena ia tahu, takdir Tuhan adalah yang terbaik. Meski ia selalu mempertanyakan, kapan rasa sedih dan sepi itu berganti menjadi kebahagiaan.

Pemuda manis itu menatap ke sekelilingnya. Mata tajamnya menangkap pemandangan yang membuatnya semakin sedih. Orang berlalu lalang dengan pasangan. Dan ada juga yang hanya bercanda bersama sahabat. Tawa itu, pancaran mata itu, Wonwoo bisa melihat kebahagiaan dari sana. Hal yang sepertinya sangat sulit untuk Wonwoo dapatkan.

"Kapan aku bisa seperti mereka?"

Suara Wonwoo seperti tercekat tanpa ia sadari. Ia bukan iri dengan kebahagiaan orang lain. Hanya saja, ia mempertanyakan, kapan ia bisa merasakan kebahagiaan itu? Dan bisakah?

Mingyu memang ada di sisinya. Setiap malam tidur seranjang. Tapi ia tidak memiliki hati Mingyu. Begitu juga dengan hatinya. Kosong dan terasa hampa. Selama apapun mereka menghabiskan waktu bersama, tidak akan merubah kenyataan. Hidup Wonwoo yang diselimuti kesepian dan kesedihan.

Tidak ingin terlarut dalam kesedihannya, Wonwoo memutuskan kembali ke hotel. Ia tidak ingin Mingyu pulang lebih awal, dan menemukannya tidak ada di kamar. Karena tadi ia mengatakan tidak ingin kemana-mana. Ia tidak ingin di cap yang tidak-tidak.

Setelah sampai di hotel, Wonwoo menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Menutup matanya dengan sebelah tangannya. Mencoba memejamkan mata meski belum mengantuk.

"Sepertinya aku akan berendam saja," batinnya. Membawa tubuhnya ke kamar mandi. Dengan berendam, ia berharap, bisa membuat perasaannya lebih baik.

.

.

"Haaah... segarnya."

Wonwoo berguling di kasur dan meraih bantal guling. Memeluknya erat dan memejamkan mata. Namun baru beberapa detik, ia kembali membuka mata tajamnya.

"Berapa lama aku berendam?" tanyanya sambil meraih ponselnya.

"Hampir satu jam," gumamnya. Dan setelahnya ia menatap pintu kamar. Ia baru sadar belum mendapati pemuda tinggi itu di kamar. Dan artinya, Mingyu memang belum pulang.

"Ini sudah sangat larut. Tidak biasanya dia pergi selama ini."

Jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul sebelas lewat lima menit. Tidak ingin memikirkan Mingyu yang tengah bersenang-senang di luar sana, Wonwoo memilih tidur. Lagi pula, Mingyu tetap bisa masuk meski ia sudah mengunci pintunya.

Beberapa detik terpejam, lagi-lagi matanya terbuka. Dahinya berkerut mendengar ketukan di pintu. Bukan hanya sekali, tapi berulang kali. Dan terkesan tidak sabaran.

"Siapa? Aku tidak merasa memesan apapun," batinnya. Tapi Wonwoo tetap melangkahkan kakinya.

Saat membuka pintu, Wonwoo terkejut setengah mati karena seseorang yang menubruk tubuhnya. Tanpa melihat wajahnya, Wonwoo tahu pelakunya adalah Mingyu. Pemuda berkulit tan itu sepertinya mabuk. Tubuhnya sempoyongan dan bertumpu pada Wonwoo.

"Uughh berat," ringisnya sambil mencoba memapah tubuh kekar suaminya.

Dengan susah payah, Wonwoo berhasil menutup pintu dengan menendangnya. Ia tidak peduli pintunya rusak atau mengganggu yang lain. Karena ia kesulitan menopang tubuh Mingyu yang lebih tinggi darinya.

Setelah susah payah, akhirnya Wonwoo bisa memapah Mingyu sampai ke tepi ranjang. Bukannya meletakkan Mingyu, tubuhnya juga ikut terlempar bersamaan tubuh pemuda tampan itu.

"Ya Tuhan, kau menyusahkan saja," ucapnya kesal.

Nafasnya nampak tersengal. Ia tidak menyangka Mingyu seberat itu. Meski ia laki-laki, tetap saja rasanya seperti menguras tenaganya.

Wonwoo tidak langsung menyingkirkan tubuh Mingyu darinya. Ia masih mengatur nafas karena kelelahan. Dan ia langsung bergidik saat sadar nafas Mingyu menyapa lehernya. Karena risih, Wonwoo mencoba menyingkir dari tubuh Mingyu.

"Yak, bangunlah sebentar bodoh! Kau berat," ucapnya susah payah sambil menyingkirkan tubuh Mingyu.

Mata Wonwoo membola saat merasakan kecupan di lehernya. Kecupan ringin yang membuat tubuhnya membatu. Bahkan ia sampai menahan nafasnya.

"M-Mingyu, apa yang kau lakukan?" tanyanya gugup.

Dan ia langsung memejamkan matanya saat kecupan di lehernya berubah menjadi jilatan. Ia bisa merasakan lidah Mingyu menari-nari di lehernya. Wonwoo hanya bisa diam dan memejamkan matanya erat. Tidak mungkin ia menghajar Mingyu yang tengah mabuk.

Matanya baru terbuka saat di rasanya Mingyu berhenti dengan kegiatannya. Tapi ia salah, Mingyu justru merubah posisinya. Wajah suaminya itu tepat berada di atasnya.

"Mingyu, sadarlah! Kau mabuk."

Ucapannya tidak di gubris. Mingyu justru mendekatkan wajahnya. Menyatukan bibir mereka dan menekannya lembut. Dan lagi-lagi mata Wonwoo terpejam. Ia bisa merasakan bau alkohol yang menguar.

Mingyu terus menempelkan bibir mereka. Mengecupnya ringan dan berulang kali. Mata Wonwoo semakin terpejam saat di rasanya bibir Mingyu bergerak. Melumat bibir atasnya dengan lembut.

Pemuda manis itu tidak berani membuka mulutnya. Apalagi membalas lumatan Mingyu. Ia hanya diam dengan mata terpejam erat. Tidak menolak namun juga tidak membalas. Dan lumatan itu berubah sedikit kasar saat Mingyu melumat bibir bawahnya. Seolah-olah Mingyu begitu gemas dan ingin melahap bibir tipis itu.

"Sialan, bibirku pasti bengkak setelah ini," batin Wonwoo.

Ia baru bisa meraup udara banyak-banyak saat Mingyu jatuh tertidur. Dan dengan cepat, menyingkirkan tubuh Mingyu sekuat tenaga. Langsung duduk dan nafas yang yang tidak beraturan.

"Uughh... bibirku," ratapnya sambil memegangi bibirnyaa. Ciuman pertamanya, Mingyu yang sudah merenggutnya ia hari pernikahan mereka. Dan ciuman ke duanya juga Mingyu yang mencurinya di saat mabuk.

Plak...

Wonwoo menepuk bokong Mingyu yang tidur telungkup. Ia benar-benar kesal dengan CEO muda yang berstatus menjadi suaminya sendiri.

"Kau jangan pernah mabuk lagi kalau hanya membuatmu mesum seperti ini," geramnya.

Wonwoo beranjak dari kasur. Berjalan menuju kamar mandi dan berkumur-kumur. Ia tidak suka rasa alkohol yang tertinggal karena ulah Mingyu.

Awalnya, Wonwoo berniat langsung tidur. Namun ia menghembuskan nafasnya lelah saat melihat keadaan Mingyu. Pemuda tampan itu masih memakai pakaian formal. Bahkan sepatu mahal itu masih menjadi alas kakinya.

"Haaah."

Wonwoo mendorong tubuh Mingyu agar terlentang. Membuka sepatu dan kaos kaki suaminya yang sudah lelap itu. Mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Menatap wajah Mingyu yang terlihat begitu damai.

Plak...

Pukulan ke dua mendarat di dahi Mingyu. Setelahnya ia terkikik karena ulahnya sendiri. Kapan lagi ia bisa memukul Mingyu. Karena saat pemuda itu terjaga, Wonwoo sedikit takut untuk mendekat.

"Dasar mesum idiot," ucapnya lagi sambil menarik pipi Mingyu.

Wonwoo membuka jas Mingyu dengan hati-hati. Meletakkan di lantai dan beralih ke dasi. Setelah dasi itu terlapas, Wonwoo membuka dua kancing kemeja bagian atas. Supaya Mingyu tidur lebih nyaman meski ia tidak melepas kemejanya.

"Ck, kau banyak memakan tempat," keluhnya saat tersadar Mingyu tidur di tengah-tengah kasur.

Ia menolehkan kepalanya ke sofa. Dan langsung mendengus karena sofa berwarna coklat itu tidak cukup besar. Mau tidak mau ia harus tidur di ranjang. Lagi pula, ia sedang ingin tidur dengan lelap sampai besok pagi.

Karena sudah merasakan kantuk, Wonwoo memilih tidur di sisi lainnya. Naik ke ranjang dengan hati-hati dan merebahkan tubuhnya. Baru saja akan terpejam, Wonwoo di kejutkan dengan tangan yang melingkar di perutnya.

"Apalagi yang si mesum ini lakukan?" batinnya. Namun Wonwoo tidak mencoba menyingkirkan tangan Mingyu. Langsung memejamkan mata karena benar-benar mengantuk.

.

.

Keterkejutan mengawali pagi Wonwoo. Ia langsung membatalkan niatnya untuk bergerak. Menyadari Mingyu memeluknya. Bahkan tubuh mereka saling menempel. Seingatnya tadi malam, hanya tangan Mingyu yang melingkar di perutnya. Tapi pagi ini pemuda tampan itu sangat dekat dengannya.

"Aigoo... bagaimana ini? Kalau aku bangun tiba-tiba, Mingyu akan marah atau tidak karena tidurnya terganggu?" tanyanya dalam hati. Karena selama menikah, Wonwoo sama sekali tidak pernah membangunkan tidur Mingyu. Pemuda bertaring itu yang lebih dulu bangun.

Tidak ingin mengambil resiko, Wonwoo memilih diam. Hanya menjauhkan kepalanya agar tidak terlalu dekat. Ia melirik sekilas. Melihat wajah Mingyu yang begitu dekat. Namun ia tidak berani melihatnya lebih intens. Takut tiba-tiba Mingyu membuka matanya.

"Sampai kapan dia tidur? Tidak mungkin aku diam saja seperti orang bodoh."

Wonwoo meraba bantalnya. Meraih ponsel yang sejak kemarin ia matikan. Ia memutuskan memainkan ponselnya menunggu Mingyu bangun.

"Orang mabuk memang menyebalkan. Semoga dia tidak mabuk lagi. Mabuk membuatnya menjadi mesum dan gila seperti ini," monolog Wonwoo sambil melirik tangan Mingyu yang melingkar di perutnya. Selama menikah, baru kali ini mereka tidur begitu dekat.

"Kenapa kau dekat-dekat?"

Wonwoo tersentak mendengar suara Mingyu yang tiba-tiba. Pemuda yang baru saja terjaga itu menjauhkan wajahnya. Memicingkan matanya menatap Wonwoo curiga.

"Dasar bodoh! Kau tidak lihat siapa yang memeluk siapa? Kau yang memelukku Kim," teriak Wonwoo kesal. Ia sudah menjaga tetap diam agar Mingyu tidak terganggu. Tapi justru mendapat tuduhan yang membuatnya mual.

"Aku tidak mungkin memelukmu kalau bukan kau yang menarik tanganku untuk memelukmu. Pasti kau yang melakukannya kan? Kau ingin aku peluk?" tanya Mingyu dengan wajah menyebalkannya. Namun belum juga menjauhkan tangannya dari perut Wonwoo.

Plak...

"Dasar bodoh!" teriak Wonwoo sambil menendang kaki Mingyu. Tangannya yang sedari tadi gatal, berhasil mendarat di dahi suaminya.

"Tidak ada gunanya aku meminta pelukanmu. Dan lagi kau yang idiot! Kau yang memelukku. Dan kau malah menuduhku. Dasar mesum idiot," maki Wonwoo sambil berlalu ke kamar mandi. Membanting pintu sampai menghasilkan debuman keras.

Di ranjang, Mingyu dengan santai meraih ponselnya yang masih berada di dalam saku jasnya. Memeriksa semua pesan yang masuk. Dan saat Wonwoo keluar kamar mandi dengan wajah masam, Mingyu justru melenggang ke kamar mandi tanpa dosa. Tetap mempertahankan wajah menyebalkan yang membuat Wonwoo semakin geram.

"Aku bersumpah akan menggigitmu," ucap Wonwoo. Tapi sepertinya Mingyu tidak mendengarnya. Pintu kamar mandi sudah tertutup rapat.

Empat puluh menit kemudian, Mingyu sudah rapi. Mengenakan jas mahal yang membuatnya semakin berkharisma.

"Kau pesan sarapan saja. Aku terburu-buru."

"Hem." Wonwoo menanggapi dengan deheman. Fokus pada tayangan berita yang ia tonton.

"Kau tidak berniat memberikan pelukan atau ciuman pada suamimu yang akan berangkat kerja?"

Wonwoo langsung mengalihkan wajahnya. Menatap Mingyu yang berdiri di ambang pintu. Alisnya berkedut mendengar kalimat menyebalkan itu.

"Kau sehatkan?" tanyanya dengan wajah datarnya.

"Hanya memberikan penawaran," ucapnya kalem.

Blam...

Dan langsung menutup pintu begitu saja. Meninggalkan Wonwoo yang ingin mengumpat panjang lebar. Namun Wonwoo menahannya. Ia hanya perlu melatih hatinya agar lebih bersabar. Sikap menyebalkan Mingyu semakin hari semakin jelas terlihat.

"Untuk apa dia memaksaku ikut ke sini kalau hanya untuk di tinggal di hotel? Lebih baik aku tidur di kamar atau cari pekerjaan. Kapan aku bisa menggigitnya? Kapan? Kapan?" ucapnya geram.

Wonwoo benar-benar kesal dengan pemuda bertubuh tinggi itu. Ia kira, ia bisa menikmati waktunya dengan melakukan hal lain. Ternyata yang ia lakukan hanya mengurung diri di hotel. Mingyu selalu sibuk dengan pekerjaannya. Ia tidak meminta Mingyu mengajaknya bekerja. Karena ia tahu tidak akan ada yang bisa ia lakukan.

Sedangkan di luar sana, Mingyu dengan santainya melangkah. Dan terhenti sejenak saat ponselnya berdering. Saat melihat nama si pemanggil, ia kembali melanjutkan langkahnya.

"Ada apa?" tanyanya langsung.

"Aku harus berbicara sebagai sekretaris pribadimu atau sebagai temanmu?" tanya suara di seberang sana.

"Cepat katakan sebelum ku potong gajimu!"

"Baiklah Sajangnim yang terhormat. Ck, aku yang sekretaris pribadimu tapi selalu kau tugaskan di tempat jauh. Jadi sebenarnya aku atau dia yang sekretaris pribadi?" gerutu dari seberang sana. Namun Mingyu masih mendengarnya dengan jelas.

"Kesempatan terakhir Wen Junhui!" Mingyu kembali memberikan ancamannya. Di seberang sana Jun tertawa sebelum melanjutkan kalimatnya.

"Aku sudah mendapatkan tanda tangannya. Dan beliau setuju bekerja sama dengan kita. Dan lagi, beliau ingin bertemu dengan Sajangnim minggu depan."

"Kerja bagus! Kau tidak usah terburu-buru pulang. Kau bisa kembali besok pagi!"

"Anda memang CEO terbaik," balas Jun di barengi kekehan. Sedangkan Mingyu hanya memutar bola matanya jengah.

"Sudahlah! Aku tutup sambungannya. Aku harus menemui client lainnya."

"Jadi kau sedang tidak di kamar? Aku kira kau sedang di kamar dan tidak bekerja karena mabuk. Bukannya tadi malam kalian merayakan kemenangan kalian?" tanya Jun terkejut. Ia kira Mingyu terkapar di kasur karena efek minuman keras.

"Kau lupa? Seorang Kim Mingyu tidak akan semudah itu mabuk. Apalagi hanya karena tiga gelas wine. Dan aku masih ingat ada janji penting pagi ini. Jadi tidak mungkin aku mabuk," ucap Mingyu sambil menyeringai.

.

.

Wonwoo berguling-guling di kasurnya. Ia benar-benar bosan. Seharian ini ia hanya berada di kamar. Dan keluar beberapa menit mencari makan siang bersama Mingyu. Setelahnya, mereka tidak ada kegiatan lain. Lebih tepatnya ia yang tidak ada kegiatan.

Di sofa, Mingyu duduk dengan tenang. Membolak balik dokumen yang bertaburan di depannya dan menelfon seseorang berulang kali. Wonwoo yang melihatnya berdecak kesal. Ia ingin tahu sejak kapan seorang Kim Mingyu bisa seserius itu.

Ia masih ingat dengan jelas saat sang nenek bercerita betapa nakalnya cucu satu-satunya itu. Sering bermalas-malasan dan kabur di jam kerja.

"Kau bersiap-siaplah!"

Setelah sekian lama tidak mengacuhkannya, Mingyu buka suara. Namun masih tetap sibuk dengan tumpukan dokumen. Wonwoo yang berbaring di kasur, menolehkan kepalanya malas.

"Ck, pasti makan dengan rekan bisnis lagi," keluhnya dalam hati.

"Kenapa dengan wajahmu?" Wonwoo yang duduk di tepian ranjang mengangkat wajahnya. Ternyata Mingyu tengah memandang ke arahnya.

"Tidak!" jawabnya malas. Dengan langkah lesu, ia berjalan ke kamar mandi.

"Kita akan ke Gwanganli," ucap Mingyu. Seketika, Wonwoo langsung membalikkan tubuhnya. Mendengar kata Gwanganli membuat semangatnya memuncak. Wajahnya langsung tampak cerah.

"Gwanganli? Pantai Gwanganli maksudmu?" tanya Wonwoo memastikan. Karena ia tidak ingin terlalu berharap bisa datang ke tempat yang begitu ingin ia kunjungi.

"Hem," jawab Mingyu dengan deheman.

Wonwoo benar-benar tidak bisa menutup raut bahagianya. Rasa kesalnya seharian ini langsung menguar begitu saja.

"Jadi, kau mengajakku ke sana?" tanya Wonwoo yang masih tidak bisa menutupi semangatnya.

"Aku ke sana bukan karena ingin mengajakmu. Aku ke sana karena aku sedang ingin makan malam di sana. Kalau kau ku tinggal, aku takut kau berkeliaran. Jadi dengan terpaksa, aku mengikut sertakanmu."

Pemuda manis itu memasang wajah kesal. Ia memajukan bibirnya tanpa sadar. Keinginannya menggigit Mingyu semakin kuat. Tapi beberapa detik kemudian, wajahnya kembali cerah.

"Jam berapa kita pergi Mingyu?" tanyanya. Ia tidak akan memikirkan alasan apa yang membuat Mingyu mengajaknya. Yang terpenting, ia bisa memijakkan kakinya di pantai indah yang ada di kota Busan itu.

"Tiga puluh menit dari sekarang! Kau hanya punya waktu lima menit untuk mandi. Karena aku juga harus mandi."

Tanpa membantah, Wonwoo langsung terburu-buru ke kamar mandi. Menutup pintu dengan keras yang menghasilkan debuman. Mingyu yang masih duduk di sofa berjengit mendengarnya. Namun beberapa detik kemudian, Wonwoo menyembulkan kepalanya dari kamar mandi.

"Mingyu, bukannya tempat itu sangat jauh dari sini? Sekarang sudah jam lima! Kita pasti akan kemalaman di jalan."

"Kita ke sana menggunakan mobil bukan menunggangi keledai, Kim Wonwoo. Cepatlah kalau masih ingin ikut!"

Dan tatapan tajam dari Mingyu, membuat Wonwoo membanting pintu untuk ke dua kalinya.

.

.

Sebelum matahari tenggelam ke peraduannya, Wonwoo dan Mingyu sudah dalam perjalanan. Pemuda manis itu menarik nafasnya sedalam-dalamnya. Udara sore menjelang malam itu sangat sejuk. Pepohonan di sepanjang jalan membuat udara begitu segar.

"Tapi menyeramkan juga kalau mobil mogok di tengah jalan seperti ini," batin Wonwoo saat memperhatikan jalanan yang mereka lewati.

Beberapa menit kemudian, mereka sampai ke tempat yang di tuju. Pantai indah yang sering di juluki cafe town. Karena kafe yang berderet sepanjang bibir pantai. Pasir putih dan ombak yang landai, membuat semua pengunjung bisa merasakan eksotisme alam dan kreasi manusia.

Mingyu dan Wonwoo memilih duduk di salah satu kafe yang berada di tengah-tengah. Posisi mereka saat ini bisa dengan mudah melihat ornamen lampu pada jembatan yang terbentang.

"Kau pesan apa?"

"Apa saja!"

Wonwoo tidak terlalu memikirkan makanan. Ia masih terlarut dengan keterpesonaanya dengan keindahan pantai Gwanganli. Karena ia benar-benar ingin makan dan melihat jembatan terpanjang di Korea itu.

Dulu, ia pernah beberapa kali pergi ke pantai dengan Jihoon. Tapi tidak seindah pantai Gwanganli. Dan mereka juga tidak bisa mampir di kafe sambil menikmati pemandangan. Gajinya terbatas kalau hanya untuk mencoba makanan enak.

"Akhirnya aku bisa merasakannya. Aku benar-benar bisa ke tempat ini," ucap Wonwoo dalam hati.

Sebenarnya Wonwoo ingin berterima kasih pada Mingyu. Meski Mingyu mengajaknya karena terpaksa, tapi ia sudah bisa mewujudkan keinginanya. Ia kira, ia tidak akan pernah bisa merasakannya.

Namun Wonwoo bukanlah orang yang mudah mengekspresikan apa yang ia rasakan. Lidahnya terasa kelu hanya untuk ucapan terima kasih. Apapun yang ia rasakan, tertutupi wajah datarnya. Wajah yang akan terlihat sangat manis saat ia sudah menampilkan senyumannya.

"Makanlah!"

Wonwoo terkejut mendengar suara Mingyu. Dan matanya sedikit membola saat berbagai makanan sudah tersaji. Karena terlalu asyik dengan kegiatannya memandangi keindahan pantai, Wonwoo sampai tidak sadar.

"Banyak sekali," gumam Wonwoo sambil memandangi makanan satu persatu.

"Aku bukan membelikannya untukmu. Aku beli banyak karena aku ingin."

Wonwoo memilih mengabaikannya. Ia masih dalam keadaan mood yang baik. Jadi kalimat Mingyu yang menyebalkan itu ia anggap angin lalu.

"Beli makanan sebanyak ini hanya menghambur-hamburkan uang saja. Semua makanan ini pasti mahal. Aku bahkan harus berpikir ribuan kali untuk membeli satu porsinya," ucap Wonwoo dalam hati.

.

.

"Mingyu, jadi kita harus berjalan sampai menemukan kendaraan umum?"

"Menurutmu?"

Wonwoo menyapukan pandangannya ke sekitar. Ia langsung meringis saat menyadari sepanjang mata memandang hanya ada pepohonan. Tidak ada rumah atau hanya sekedar penerangan jalan.

Yang ia takutkan terjadi. Mobil yang Mingyu kendarai mogok di tengah jalan. Pemuda tampan itu terlalu malas untuk mencoba mengecek. Katanya, ia tidak pernah sama sekali berurusan dengan mesin.

Wonwoo sudah meminta Mingyu untuk menghubungi orang untuk meminta bantuan. Dengan wajah santainya, Mingyu menunjukkan padanya ponsel dengan layar hitam. Sedangkan miliknya tertinggal di hotel. Karena Mingyu yang tidak sabaran dan mendesaknya untuk cepat.

"Kenapa masih ada jalan semenyeramkan ini? Semoga tidak terjadi apa-apa," batinnya.

Sejujurnya Wonwoo merasa takut berjalan di tempat sepi. Apalagi dalam keadaan benar-benar gelap. Ia bukan laki-laki lemah yang tidak bisa bela diri, ia juga bukan orang yang takut dengan hantu. Hanya saja ketakutan itu tetap saja menyelinap. Karena di jalan sepi bahkan tidak terlihat pengguna jalan lainnya, bisa terjadi semua kemungkinan buruk.

"Kau jangan terlalu ke pinggir jalan. Kau bisa menabrak sesuatu kalau seperti itu."

Pemuda yang lebih pendek itu tersentak. Mendengar suara Mingyu yang tiba-tiba membuatnya terkejut. Karena sedari tadi ia berjalan menunduk. Dan terus mensugesti dirinya semua akan baik-baik saja.

"Mingyu, mobilnya?" tanya Wonwoo tanpa memutar pandangannya. Namun kali ini ia tidak menunduk lagi. Mencoba menatap lurus ke depan.

"Jangan pikirkan mobil tidak berguna itu."

"Mobil itu kan mahal! Butuh bertahun-tahun menabung untuk membeli mobil. Kalau ada yang mencuri bagaimana?" batinnya.

Selanjutnya tidak ada percakapan di antara mereka. Berjalan dalam diam. Mereka berdua melangkahkan kakinya dengan santai. Tidak terburu-buru meski mereka harus segera keluar dari jalan menyeramkan itu.

Dugh...

"Aagh."

Mingyu terkejut dan langsung memutar pandangannya. Ia terkejut melihat Wonwoo terduduk di tanah. Meski dalam keadaan gelap, ia bisa tahu Wonwoo tengah meringis kesakitan. Andai Wonwoo mendengarkan nasehatnya, pemuda manis itu tidak akan sampai terjatuh.

"Kau kenapa?" tanyanya. Namun tetap bertahan pada tempatnya berdiri.

"Sssh, sepertinya aku menabrak batu yang cukup besar," jawab Wonwoo sambil meringis memegangi kakinya.

"Ooh! Ya sudah ayo kita lanjutkan? Kau mau tetap duduk seperti itu?" tanya Mingyu lagi. Kali ini membalikkan tubuhnya. Berniat untuk melanjutkan langkahnya. Namun ia urungkan saat di rasa Wonwoo bertahan duduk di tanah.

"Kau tidak bisa jalan?"

"Sepertinya bisa. Tapi bisa bantu aku?" tanya Wonwoo pelan. Tidak terlalu yakin dengan pertanyaannya.

"Membantumu berjalan? Kenapa aku harus melakukannya?"

Wonwoo tidak langsung menjawab. Ia justru menunduk. Lagi-lagi ia merasakan kesedihan dan kesepian itu lagi. Meski ada Mingyu di depannya, ia seolah merasa sendiri dalam kegelapan. Membuat dada Wonwoo terasa sesak.

Andai bisa, Wonwoo ingin menangis saat ini. Bukan karena merasa sakit di kakinya. Tapi karena ia semakin sadar kalau hidupnya selalu sendiri. Di keramaian bahkan di kegelapan, ia tetap sendiri.

"Setidaknya kau harus menolong orang lain yang membutuhkan bantuan," jawab Wonwoo pada akhirnya.

"Orang lain?" Mingyu mengangkat sebelah alisnya.

"Aku tidak sebaik itu untuk menolong orang lain. Aku hanya akan menolong eomma, appa, halmonie atau istriku. Jadi tunggu saja sampai orang lain yang baik hati datang membantumu."

Setelah mengucapkan kalimatnya, Mingyu langsung beranjak. Melangkahkan kakinya meninggalkan Wonwoo. Membuat pemuda manis itu melebarkan matanya. Wonwoo langsung menatap sekitar dengan gusar.

"Yak Kim Mingyu. Aku ini istrimu bodoh! Kau tidak mau membantuku? Suami macam apa yang meninggalkan istrinya di pinggir jalan?" teriak Wonwoo kesal. Ia baru tahu Mingyu bisa sekejam itu. Ia benar-benar takut kalau sampai di tinggal sendiri.

Seketika, Mingyu langsung menghentikan langkahnya. Memutar tubuhnya dan memandang Wonwoo yang masih bertahan di posisinya. Beberapa detik kemudian, Mingyu berjalan. Mendekati Wonwoo yang memandangnya kesal.

Mingyu berjongkok tepat di depan Wonwoo. Menoyor kening pemuda manis itu dengan jari telunjukanya. "Bodoh," ucapnya pelan. Sedangkan Wonwoo hanya mencebikkan bibirnya kesal.

Pemuda bergigi taring itu menarik tangan Wonwoo. Memperhatikan telapak tangannya yang tampak terluka. Meski gelap, Mingyu masih bisa melihatnya. Sepertinya saat Wonwoo terjatuh dan menopang tubuhnya sendiri, tangannya bertumpu pada kerikil-kerikil kecil.

"Ini sakit?" tanyanya.

"Tidak terlalu," jawabnya. Mingyu tidak menanggapi walau ia tahu Wonwoo tengah berbohong. Luka di telapak tangan itu pasti sakit.

Mingyu memutar tubuhnya dan memunggungi Wonwoo. "Naiklah!" perintahnya.

"Kau mau menggendongku?"

"Menurutmu?"

"Tapi aku hanya butuh di papah saja."

"Itu merepotkan dan membuat lama. Cepatlah! Sebelum kau ku tinggal."

Ancaman Mingyu membuat Wonwoo bergerak. Wonwoo memegang pundak Mingyu hati-hati agar tidak mengenai lukanya. Setelah Wonwoo berada di punggungnya, Mingyu berdiri dan melanjutkan langkahnya.

"Kau jangan mundur-mundur seperti itu! Bebanku berat ke belakang," protes Mingyu sambil menghentikan langkahnya sejenak.

Wonwoo mencebikkan bibirnya dan mengalungkan tangannya ke leher suaminya. Membuat tubuhnya benar-benar menempel pada punggung kekar Mingyu.

"Ada apa dengan jantungmu? Kau ketakutan?" tanya Mingyu. Karena tubuh mereka yang menempel, membuatnya bisa merasakan detak jantung Wonwoo.

"Emm." Wonwoo mengangguk pelan.

"Apa yang kau takutkan? Perampok? Atau justru hantu?"

"Kedua-duanya, mungkin," jawab Wonwoo ragu.

"Kau tidak perlu takut dengan hal semacam itu. Seharusnya kau takut denganku. Aku bisa melakukan apapun padamu di tempat gelap dan sepi seperti ini." Mingyu berbicara begitu santai. Seolah kalimatnya bukan kalimat ancaman.

"Mingyu, aku berat tidak?" Wonwoo mengalihkan pembicaraan. Ia menolak menanggapi kalimat Mingyu.

"Kau berat! Kalau aku kelelahan nanti, aku akan meletakkanmu di pinggir jalan."

Wonwoo benar-benar kesal mendengar jawaban Mingyu. Ia membuat gerakan seperti akan menggigit Mingyu. Karena sangat mudah untuknya menggigit pundak Mingyu. Namun saat akan menempelkan giginya, Wonwoo menarik kepalanya. Ia takut Mingyu menurunkan dan meninggalkannya.

Beberapa saat kemudian, Wonwoo kembali menerawang ucapan Mingyu. "Aku harusnya takut dengan Mingyu?" tanyanya dalam hati.

Bukannya merasa takut seperti yang Mingyu katakan, Wonwoo justru menumpukan dagunya pada bahu Mingyu. Memejamkan mata saat aroma tubuh Mingyu tercium di hidung mancungnya.

Dan ia sama sekali tidak merasakan ketakutan itu lagi. Rasa takut itu seolah menguar begitu saja. Yang ada, ia ingin tidur di pundak kekar suaminya.

"Hangat," ucapnya dalam hati.

Ia merubah posisi kepalanya. Bersandar pada pundak Mingyu masih dengan memejamkan mata. Tangannya semakin melingkar erat. Namun tidak membuat Mingyu tercekik.

Mingyu mengerutkan dahinya karena tingkah Wonwoo. Ia seperti jalan seorang diri dan membawa beban berat. Karena Wonwoo justru mengunci bibirnya dan memejamkan mata. Tapi Mingyu tidak protes. Tetap diam dan melanjutkan langkahnya.

"Jadi seperti ini ya rasanya di gendong?" ucap Wonwoo sambil tersenyum tipis. Mata sipitnya belum terbuka. Tampak begitu nyaman dalam gendongan Mingyu.

"Kau tidak pernah di gendong?" tanya Mingyu dengan memiringkan kepalanya. Mencoba melihat wajah Wonwoo. Meski ia tidak bisa melihatnya.

"Hem," jawab Wonwoo pelan dengan deheman.

Setiap melihat anak kecil yang di gendong ibu atau ayahnya, Wonwoo selalu bertanya-tanya seperti apa rasanya. Apakah rasanya nyaman sampai anak-anak itu tertidur. Dulu ia begitu ingin merasakannya. Dan saat ini, ia benar-benar bisa merasakannya. Bersandar pada pundak Mingyu dan merasakan kenyamanan itu. Sampai rasanya ia ingin tertidur.

Entah karena mengantuk, atau pundak Mingyu terlalu nyaman, Wonwoo benar-benar tertidur. Matanya terpejam erat. Ketakutan akan gelap dan sepi benar-benar menghilang.

"Ini benar-benar nyaman. Aku tidak takut lagi. Aku ingin terus seperti ini," gumamnya tanpa sadar. Namun gumamannya tidak bisa Mingyu dengar. Karena sangat pelan dan tidak jelas.

.

.

.

.

TBC

Kalau lagi males ngetik, aku baca ulang review kalian. Mungkin jadi hafal pen name kalian. Thanks to :

Rossadilla17, Adore96, Keinz, Devilprince, Zahra9697, Thal J, Beanienim, Seunghan17ever, Pynop, Kimanita, Chittapon Kitten, Iceu Doger, Wonrepwonuke, 17misscarat, Alwaysmeanie, Park Rihyun-Uchica, Xiayuweliu, Itsathenazi, Wonnderella, Daeminjae, Riani98, Moemoe Ruki, Inisapaseh, Ketiiiliem, Abcsterne14, Putrifitriana177, Nisaditta, Arlequeen Kim, Restika Dwii07, Driccha, Redhoeby93, AXXL70, Kimxjeon, Svtbae, Meanie4lyfe, Eunkim, Ara94, Exoinmylove, Mrs Evilgamegyu, Scitra, Sheravinarose, Laxyovrds, Chubbyminland, Tfiy, Xiuxiau, Equuleusblack, Mbee, Meaniefreak, Guest, Aliciabijh, Hoshinugu, Kookies, Kimryeona19, Diciasette, Lulu-Shi, Herdikichan17, AYP, Dsamly, Baby Yoongi, Bizzlestarxo, Mingeeu, Nichanjung, Bebehemak, Andiasli99, Macchiato Chwang, Skyblueandwhite, Rahma Lau137, Rizki920, Pinotthiyo