DISCLAIMER: Gakuen Alice punya Higuchi-sensei. Aku hanya memakai karakter-karakternya saja.


My Lady

Written by Luna Margaretha


Chapter Six: Unexpected Meeting


Matahari muncul di balik gunung di pagi hari yang cerah. Suara berisik dari burung yang hinggap di dahan pohon membuat pria berambut hitam berantakan dan memiliki dua mata merah yang cantik, terjaga. Dia mengernyitkan kening karena tak terlalu menyukai matahari pagi masuk ke jendela kamarnya. Dia mendesah pelan, lagi-lagi dirinya tak bisa bangun dikarenakan punggungnya sangat sakit. Dia baru menyadari bahwa dia melakukan perlawanan dan melindungi seorang gadis kecil yang ikut melindunginya.

Bunyi pintu terbuka dengan jelas di telinganya, berusaha mengangkat kepalanya untuk melihat siapa orang yang tiba-tiba masuk ke kamarnya tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Namun, dirinya hanya bisa terdiam karena dia senang karena seorang gadis kecil datang sambil membawa nampan di kedua tangannya.

"Natsume! Apa kau sudah bangun?"

Gadis kecil berambut cokelat berusia 4 tahun di bawahnya, mengangkat nampan berisi makanan paling disukai Natsume. Itulah pikiran saat menatap banyaknya makanan dibawa oleh gadis dipanggil nama Mikan.

"Hn."

Mikan menghampiri tempat tidur Natsume, menaruh nampan itu di meja dekat tempat tidur. "Aku bawakan kau makanan. Semoga kau suka."

"Tentu saja aku menyukainya," batin Natsume dalam hati.

Lalu, Mikan duduk di samping tempat tidur sambil mengecek kondisi Natsume. "Bagaimana keadaanmu, Natsume? Dokter Kaname bilang, kau harus banyak istirahat supaya cepat pulih."

"Aku baik-baik saja." Natsume berusaha mengangkat tubuhnya agar bisa duduk, tapi tubuhnya tak mengizinkannya duduk apalagi bergerak terlalu jauh. "Ugh!" ringisnya saat merasakan kesakitan di belakang punggungnya.

Mikan terkejut, cepat-cepat memundurkan tubuh Natsume kembali ke tempat tidur untuk berbaring. "Istirahatlah dulu, Natsume. Kau belum boleh bergerak seperti itu. Nanti lukamu tambah parah."

"Aku sudah bilang aku baik-baik saja." Natsume menepis lengan Mikan yang membantunya. Gadis itu tersentak karena ditolak mentah-mentah oleh Natsume untuk membantunya. "Biarkan aku istirahat dulu. Anda keluarlah," usir Natsume dengan ramah.

Mikan mengangguk pelan, lalu beranjak pergi dari sana. Sekilas dirinya menoleh ke tempat tidur di mana Natsume menggerutu kesal pada dirinya sendiri. Gadis ini hanya bisa sedih melihatnya, karena dialah Natsume harus mendapat akibat atas ulahnya.

"Tidurlah, Natsume. Aku akan kembali nanti untuk menemuimu." Mikan menutup pintunya. Di luar, dia hanya bisa menghela napas panjang karena kecewa atas perlakuan Natsume kepadanya, membalikkan tubuhnya pergi meninggalkan kamar Natsume.


Gadis berambut hitam, berekspresi datar melihat gelagat Mikan keluar dari kamar Natsume, menyipitkan kedua matanya tak suka pada sifat Natsume yang seenaknya pada Mikan, membuat gadis itu bersedih.

Hotaru mendobrak pintu dengan kasar, mengejutkan Natsume yang berusaha bangun dari tempat tidur untuk mengambil makanan di samping tempat tidurnya, "Imai? Apa yang kau lakukan di sini?"

Pintu terbanting tertutup, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Apa yang kau lakukan pada Mikan sehingga kau membuat dia berwajah sedih seperti itu?" tanyanya tajam.

Mengangkat alis, mengetahui sesuatu bahwa perkataannya membuat gadis itu bersedih. "Aku hanya memintanya untuk keluar saja, dan aku nggak bermaksud membuatnya sedih. Aku akan bilang padanya kalau aku—ugh!" ringis Natsume memegang belakang punggungnya.

Hotaru menghela napas panjang, lega. "Biarkan saja dirimu begitu, Hyuuga. Aku nggak mau kalau dirimu datang ke sini hanya untuk membuat Mikan bersedih saja. Dia itu berbeda denganmu, bodoh."

"Gara-gara kau membuatku begini, aku nggak bisa berada di samping Mikan," dengus Natsume terlanjur tak menyukai sifat dan watak kepribadian gadis di depannya. "Jika aku sudah sembuh, aku pastikan Mikan nggak akan bisa melihatmu lagi."

"Ingat, ya, Hyuuga. Aku kenal dengan Mikan itu sejak kami masih kecil. Kau yang bukan apa-apanya tak pantas melakukan ini padaku. Karena di hatinya ada aku seorang, jadi yang bisa membuatnya menangis cuman aku. Bukan kau!" tunjuk Hotaru mengacungkan senjata bazooka ke arah Natsume.

"Kau ingin menembakku lagi, Imai" geleng Natsume berusaha bangkit dari terpurukkan, membiarkan rasa sakit mengguncang tubuhnya. "Tembak saja, biar kau puas!"

"Dengan senang hati, Hyuuga."

Bunyi suara pelatuk terdengar, Natsume menutup mata menyerahkan dirinya pada maut. Namun, hal itu dibatalkan saat Mikan menerobos masuk, membuka tangannya lebar-lebar agar Hotaru tidak menembak Natsume di kala dirinya sedang kesakitan dan tak berdaya.

"Hentikan, Hotaru! Jangan kau sakiti Natsume!" pinta Mikan terus merentangkan kedua tangannya.

"Minggir, Mikan! Dia nggak pantas kau lindungi. Dia sudah berbohong padamu!" bentak Hotaru berharap Mikan mau menuruti permintaannya.

"Nggak, Hotaru. Aku nggak akan pergi dari sini sebelum kau menurunkan senjatamu darinya!" Mikan melangkahkan kakinya untuk mundur, mendekati Natsume yang memegang punggungnya. "Jika kau masih mengacungkan senjatamu pada Natsume, itu sama saja kau juga membunuhku!"

Kata-kata Mikan membuat dua orang berekspresi datar ini langsung membelalakkan kedua matanya, terkejut. Kalimat Mikan seperti dirinya adalah jiwa Natsume. Inilah bikin Natsume meraih pinggang gadis itu, memeluknya erat. Mikan bingung pada tindakan Natsume, malah merona malu.

"Na-Natsume…"

"Aku akan selalu menjaga Nona. Aku juga akan menyerahkan diriku apabila terjadi pada Nona." Kalimat Natsume benar-benar membuat Mikan memerah semerah tomat atau kepiting baru direbus.

Hotaru menghela napas panjang, menurunkan bazooka-nya. "Sudahlah. Aku malas jika ini masih menyangkut Mikan. Kau menang, Hyuuga." Seringai keji terbaca lagi di bibir tipis Hotaru. "Suatu saat nanti, aku yang akan menang darimu."

"Itu nggak akan terjadi, Imai."

Mikan menolehkan kepala melihat Hotaru lalu ke Natsume, ke Hotaru lagi lalu ke Natsume, sangat bingung pada apa yang dikatakan mereka. Saat menyadari sesuatu, Mikan bangkit dari pelukan Natsume. Pria mata merah itu bingung pada tindakan tiba-tiba calon tunangannya sekaligus Nona-nya.

"Nona?"

"Ah, aku lupa. Aku datang ke sini untuk memanggilmu, Hotaru." Si brunnete menepuk kedua tangannya. "Dia datang, Hotaru." Senyuman Mikan merekah.

"Siapa?" Sipitnya mata ungu Hotaru berarti ingin mengetahui siapa disebut Mikan terutama Natsume juga penasaran. "Apa jangan-jangan…"

"Iya, Hotaru." Mikan berlari ke arah pintu kamar Natsume, membukakan lebar-lebar daun pintu tersebut menampakkan seorang pria berambut pirang, bertubuh tinggi, dan memiliki senyuman indah sama seperti gadis berambut cokelat panjang. "Ruka-pyon datang!"

"Ruka-kun, kau datang?" Senyum sinis Hotaru saat menyapa pria pirang tersebut.

Mata biru langit bertemu mata merah Natsume. Mereka sama-sama terkejut, melebarkan mata masing-masing. Hotaru menyeringai kemenangan. Mikan hanya kebingungan pada tatapan saling pandang memandang dilakukan Natsume dan Ruka.

"Ru-Ruka?"

"Na-Natsume?"

"Eh, kalian saling kenal?" tanya Mikan menatap keduanya bergantian.

Hotaru menatap Natsume, penuh senyuman kejam dan dingin. "Pertempuran baru dimulai, Hyuuga. Kau pasti akan kalah." Didorong tubuh Mikan meninggalkan kedua pria tampan itu di sana. "Ayo, Mikan. Biarkan mereka berbicara satu sama lain. Kita ini hanyalah pengganggu."

"Eh, eh?" bingung Mikan setengah mati, tak tahu persoalan apa yang dimaksud Hotaru dan kedua pria tampan tersebut.

Pintu tertutup memberikan keheningan di dalam kamar Natsume. Pria berambut hitam berantakan dan pria berambut pirang hanya bisa terdiam saja sambil menahan emosi dan menahan untuk melayangkan beberapa pertanyaan di kepala mereka. Namun, Ruka pun akhirnya memulai percakapan.

"Kau jadi pelayan pribadi Sakura?"

"Begitulah," jawab Natsume datar. "Aku sengaja melakukannya untuk mengetahuinya."

"Mengetahui apa?"

"Bahwa gadis itu adalah calon tunangan yang cocok denganku," jawab Natsume lagi.

"Calon tunangan?" kaget Ruka akhirnya berlari ke tempat tidur Natsume, duduk di sana. "Bagaimana bisa, Natsume? Kau punya calon tunangan yang ternyata adalah Sakura?" tanyanya sangat bingung dan juga penasaran.

"Justru aku mau tanya padamu, Ruka. Apa hubunganmu dengan dia dan juga Imai?" tanya Natsume menatap datar sahabat kecilnya.

"Kami berteman baik. Aku dan Sakura adalah saudara ipar yang sebentar lagi kakak-kakak kami akan menikah. Dan Imai…" wajah Ruka memerah merona, Natsume menyeringai.

"Kau menyukainya, ya?"

"I-itu… Anuu…" gagap Ruka menundukkan kepalanya.

"Aku tahu, Ruka." Natsume membaringkan tubuhnya lagi, mengistirahatkan punggungnya lagi kesakitan. "Aku sangat kaget kau datang ke sini."

"Malah aku yang kaget."

Mereka sama-sama tertawa di kamar tidur Natsume. Mikan yang berada di depan pintu kamar Natsume berdiri membatu di sana. Mendengar bahwa Natsume adalah calon tunangannya benar-benar di luar perkiraannya. Dikira pria mata merah tersebut, Mikan betul-betul meninggalkan kamarnya, tapi karena ketidaksukaan Hotaru kepadanya, Mikan justru berada di sana.

Mikan balik badan untuk pergi, terus mencerna apa perkataan Natsume dan Ruka di dalam kamar. Hotaru juga tak berniat mengganggu Mikan. Dia hanya bisa berdiri di sana sambil menyeringai.

"Aku menang, Hyuuga."

Tapi, apakah Hotaru juga tak mendengar apa yang dikatakan Ruka soal pria itu menyukai dirinya? Jika gadis itu cuek dan acuh tak acuh, pasti di pikirannya itu bukan masalah baginya dan itu hanyalah omong kosong belaka. Di pikirannya hanyalah gadis berambut cokelat manis semanis wajahnya dan juga senyumnya.

-TBC-