Bisa dikatakan ini adalah launcingku setelah hiatus sejak lebaran. Apa boleh buat, kondisi sedang tak memungkinkan. Yah, daripada FF ini menjadi ajang curcol buat penulis FF yang belum pantas disebut author ini, sebaiknya kita mulai saja FF ini.

…*…

Disclaimer: Masashi Kishimoto. Masih belum ada yang bisa merebut hak patennya?

Warning: banyak kesalahan dan kacau. All chara in DARK mode. Kurang sadis dan kurang kejam pembunuhannya dan butuh banyak koreksi dari minna-san.

Pair: Untuk awalnya NejiSaku dan GaaHina tapi pair akhirnya NejiHina.

Rated: M untuk Gore bukan untuk lemon.

.

.

.

Normal POV

Neji mencengkram leher pria di hadapannya dengan wajah datar. Dua detik kemudian kepala pria itu sudah menghadap ke arah yang tak mungkin dapat diraih oleh persendian di lehernya. Setelah melemparkan tubuh yang tak lagi bernyawa itu ke lantai, Neji ganti menyerang pria botak berkaca mata hitam yang berdiri gemetaran di hadapannya. Sebuah tendangan keras dihadiahkannya pada pria itu di bagian ubun-ubun, kemudian disusul tusukan mematikan di dada kirinya. Tangan kiri Neji yang menganggur, digunakan pemuda bersurai coklat panjang itu untuk meninju rahang pria yang berusaha menyerangnya dari samping.

Dengan gesit Neji menjauh dari sekerumun pria yang menyerangnya itu. Dihitungnya dalam hati berapa orang yang telah menjadi mayat, delapan orang. Berarti masih ada lima orang lagi yang harus dibereskannya.

Di keluarkannya lima buah jarum beracun yang diberikan Sakura padanya sebelum menjalankan misinya kali ini. Dia tersenyum keji. Dilarikan kakinya mendekati pria yang paling dekat dengannya, pria itu telah mendapatkan beberapa lebam dan luka ditubuhnya. Berterima kasihlah pada kemampuan beladiri yang Neji pelajari dari ayahnya. Dengan luka-luka itu maka pria tersebut tak akan dapat menangkisnya dengan cepat.

Lalu dengan sedikit pengetahuan medis yang diajarkan Sakura dia menancapkan satu jarum beracun itu ke leher sang pria. Cukup untuk membunuhnya dalam waktu dua menit.

Diarahkannya lagi tendangannya ke pinggang pria terdekat. Kali ini dia bersyukur karena telah tak menolak latihan dasar bela diri kungfu yang diajarkan adik kelasnya. Sambil menjadikan pundak pria yang diserangnya itu sebagai tumpuan, dia melakukan salto di udara dan melemparkan empat jarum beracun itu sekaligus.

Masalah pertama selesai.

Tiga belas orang bodyguard yang disiapkan oleh targetnya kali ini memang cukp hebat. Dia sendiri sedikit kewalahan mengatasinya.

Tanpa membuang waktu lagi dia menaiki gedung yang sepintas hanya terlihat sebagai gendung kantoran membosankan itu langsung ke atapnya. Dia tahu jika sang target kini tengah berada di sana sembari menontonnya beraksi melalui monitor yang terhubung dengan seluruh kamera pengawas yang dipasang di gedung ini. Tentu saja di tangan kanannya pasti tergenggam gelas kaca yang berisikan cairan memuakkan itu.

Targetnya kali ini adalah seorang gadis yang sangat berbahaya. Dalam dunia kriminal internasional dia dijuluki sebagai 'The Real Vampire'. Dan tentu saja julukan itu bukan hanya diberikan karena selain menipu para pria muda dengan kecantikan dan kepolosannya, gadis itu juga selalu membunuh korbannya dengan pasak dan meminum darah sang korban hingga habis.

Sangat menjijikkan menurut pandangan Neji.

Dihancurkannya pintu yang menyambungkan atap gedung itu dengan tendangannya, dan dilanjutkannya acara pengejarannya akan sang vampir.

Pembunuh maniak itu memang sangat berbahaya. Dari informasi yang diterimanya, gadis itu meminum darah para pria tersebut karena berfikir jika darah itu akan membuatnya tetap awet muda selamanya.

Tidakkah itu membuatmu teringat akan Elizabeth Bathory?

Dia segera mendobrak pintu terakhir yang menjadi penghalangnya menuju atap gedung kantor yang sepintas terlihat seperti kantor koran interasional tersebut.

Namun dia terpaksa harus mengakui kesalahannya tatkala tak melihat adanya layar ataupun televisi yang diletakkan di atap gedung itu. Tampaknya The Real Vampire sama sekali tak berminat melihat aksinya tadi. Atau mungkin gadis itu sedang melakukan penghematan mengingat mahalnya harga listrik untuk perusahaan.

Pikiran bodoh.

Tetapi kekecewaaannya itu terhapus ketika dia melihat sosok gadis berambut coklat yang sedang menatap langit dari tepian gedung sembari membawa segelas minuman berwarna merah pekat yang tak pantas diminum oleh seorang manusia.

"Ayame," dengus Neji menyebutkan gadis yang memiliki wajah polos bagaikan malaikat tersebut. Dia tersenyum sadis ketika gadis itu memutuskan untuk tak mengacuhkannya dan tetap menatap lagit berbintang di atas sana. "Aku ingin tahu apakah ayahmu yang mendirikan Ichiraku News ini tahu jika putri satu-satunya adalah seorang psikopat gila yang sangat berbahaya."

Gadis itu tertawa lembut. Tawanyapun terdengar sangat polos dan seolah tak memiliki dosa. "Tentu saja dia tahu," jawab gadis itu sambil mengangkat gelas kacanya tinggi-tinggi hingga cahaya bulan purnama menembus kepekatannya. "Karena dia sendirilah orang yang melihat sekaligus merasakan seberapa kejinya aku ketika membunuh," katanya riang tanpa ada rasa bersalah yang terselip. "Sungguh, para polisi itu benar-benar bodoh. Dengan mudahnya mereka percaya jika ayah bunuh diri dengan menceburkan dirinya ke laut bersama mobilnya. Hihihi."

Entah mengapa Neji sedikit merasakan persamaan antara gadis di hadapannya ini dengan Haruno Sakura.

"Kau tampak tenang menghadapi kematianmu, The Real Vampire. Apa kau telah memperhitungkan kedatanganku sebelumnya?" tanya Neji sinis sembari mengeluarkan pisau yang telah terlumuri darah beberapa orang dari dalam jaketnya. "Atau kau memang mengharapkan kematian yang sama sadisnya dengan kematian yang kau rancang terhadap para karyawanmu di seluruh dunia itu, Ayame?"

"Pertanyaan pertama adalah jawaban yang tepat."

Gadis itu adalah iblis yang bersembunyi dalam tubuh malaikat. Dengan mulut manisnya dia bisa dengan mudahnya membujuk seorang pemuda untuk bekerja padanya dan membunuhnya untuk memenuhi hasrat ingin membunuhnya. Lalu dengan manipulasi keadaan yang dilakukannya, dia dapat membuat mata orang lain tak menyadari hubungan sang korban dengan dirinya sendiri sehingga dia dapat lolos dengan mudah.

"Kau benar-benar memuakkan," dengus Neji jijik.

Gadis itu hanya tertawa mendengar pendapat Neji tentang dirinya. Dia membalik tubuhnya dan menuangkan cairan berwarna merah pekat itu ke lantai di sekitarnya. Lalu dengan nada meremehkan dia berkata. "Darah ini tidak enak. Ini tak akan dapat membuatku cantik," dia mengalihkan pandangannya pada Neji dan tersenyum cantik. "Aku suka pria yang keras kepala dan tak tertarik padaku. Mereka memiliki darah yang segar dan sangat nikmat. Kesukaanku. Apa kau tak keberatan jika aku meminta darahmu?" tanyanya polos sambil mengambil sebuah pisau dari balik gaun yang dikenakannya.

Seperti kucing, wanita itu langsung menerjang ke arahnya sambil menghunuskan pisau itu. Namun Neji bukanlah lawan yang mudah ditakhlukkan. Dengan gerakan yang sama gesitnya, dia mengelak.

Sayang sekali ujung pisau wanita itu sempat menggores lengannya.

"Brengsek!" rutuknya memaki diri sendiri.

Wanita bernama Ayame itu hanya berdiri dan memandang pisaunya yang dihiasi beberapa tetes darah Neji. Dia mengangkat pisau itu ke wajahnya dan menjilatnya dengan gaya yang mengerikan. Tampaknya gaya malaikat kini telah meninggalkannya, digantikan oleh gaya iblis yang terlihat sangat jelas.

"Sangat lezat dan segar. Aku suka," katanya puas sambil menjilat habis darah yang ada di pisaunya dengan rakus.

Tak membuang waktu lagi, gadis itu langsung membombardir Neji dengan serangan-serangannya yang berbahaya sehingga membuat pemuda tanpan itu terdesak beberapa kali. Setelah pergulatan yang mengerikan itu terjadi selama beberapa menit, akhirnya dua orang itu kembali mengambil jarak yang cukup jauh.

Neji mencoba menghitung seberapa banyak luka yang ada pada tubuhnya akibat serangan berbahaya gadis itu. Namun dia tak sanggup, terlalu banyak. Luka itu memang hanyalah luka kecil yang tak akan dapat membunuhnya, namun rasa perihnya cukup membuat pemuda itu kehilangan kecepatannya.

Keadaan Ayamepun tak kalah buruknya. Luka yang didapatkannya dari Neji memang lebih sedikit jumlahnya daripada yang dia torehkan pada tubuh pemuda itu, namun kadar kerusakan yang ditimbulkannya jauh lebih tinggi. Dia menarik nafas panjang. Keadaan Neji yang sudah cukup lelah akibat bertarung dengan para bodyguard-nya tadi adalah satu-satunya kesempatan yang dimilikinya untuk menghabisi pemuda itu.

Kembali dia menyerang. Kali ini dia memadukannya dengan tendangan dan pukulan yang meski tak seberapa menyakitkan namun cukup membuat Neji kewalahan.

Tak menyukai keadaannya yang terjepit, Neji mengeluarkan beberapa buah pisau tipis yang diberikan Hinata padanya. Dilemparkannya pisau-pisau tipis itu hingga mengenai lengan dan leher kiri sang gadis. Rasa sakit yang mendadak membuat gadis itu menjauh dan menghentikan serangannya.

"Sudah lelah?" tanya Neji mengejek meski nafasnyapun kini telah tersenggal-senggal.

"Aku akan kembali bugar setelah meminum darahmu, jadi kau tak perlu khawatir, eee… Number Six," katanya sembari menjilati darah Neji yang ada di belatinya.

Neji mengernyitkan alisnya tanda tak mengerti. Jadi wanita ini tahu jika dia datang dari The Emperor? Bagaimana dia bisa tahu jika dia ada dalam daftar Emperor?

'Selama beberapa bulan terakhir ini para target tampaknya sudah diberitahu oleh seseorang mengenai keberadaan mereka dalam daftar Emperor. Itu membuat pekerjaan kita semakin sulit dan kami mencurigai adanya mata-mata yang bersarang dalam tubuh Emperor sendiri. Kami memang sudah menangkapnya dan menghapus ingatannya. Namun daftar yang telah diberikannya pada lawan tak dapat kami ambil kembali. Tapi itu tak masalah kan? Bukankah pekerjaan ini akan terasa lebih menantang jika target yang telah ditetapkan melakukan perlawanan?'

Samar-samar dia mengingat kata-kata yang pernah diucapkan oleh Sakura padanya. Namun pada saat itu dia tak terlalu menganggapnya penting. Toh, dengan berbagai macam keahlian yang diajarkan anggota Emperor lain padanya, dia dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Baru kali ini dia menyesali sikap ketidakpeduliaannya.

"Ini babak terakhir pertarungan kita. Dengan ini akan kita lihat siapakah pemenangnya," koar gadis itu sambari bangkit berdiri.

"Baiklah," Neji menerima tantangan duel hidup mati yang diberikan oleh gadis yang ia yakin usianya tak lebih dari dua puluh tiga tahun itu.

Mereka maju saling menyerbu dengan segala kepercayaan diri yang ada dalah tubuh mereka. Luka-luka semakin banyak terhias di tubuh mereka, namun itu tak membuat mereka memelankan serangan yang mereka lakukan. Entah bagaimana caranya, mereka yakin jika mereka akan tetap baik-baik saja ketika duel ini selesai.

'Lupakan rasa sakit yang kau rasakan, Neji,' Neji terus berusaha mempersuasi dirinya sendiri untuk tak mengurangi intensitas serangannya. 'Sakura akan menyembuhkan luka-luka ini seketika dengan obat aneh buatannya…'

'…jika kau menang dan tetap hidup,' lanjutnya dengan nada pesimis.

Dia menghindari sabetan mematikan Ayame pada lehernya. Dengan segala kelincahan yang dimilikinya dia langsung memberikan pukulan pada dua titik mematikan yang ada di leher wanita itu. Itu cukup untuk membuat gerakannya melambat meski Neji yakin jika wanita itu tak akan dengan mudahnya menghentikan serangannya.

Memanfaatkan celah yang ada, dia menusukkan pisau itu ke jantung sang gadis dan…

…semua selesai.

Satu malam berdarah lagi yang telah dengan sukses Neji lewati. Namun tak seperti malam-malam sebelumnya yang mebuatnya merasa lega sekaligus kosong. Malam ini dia mendapatkan sebuah misteri baru. Misteri yang belum dapat dia pecahkan dengan kemampuannya sendiri saat ini.

"Apa yang sebenarnya akan terjadi setelah ini?"

…*…

Neji duduk di sebuah kursi besar sambil membiarkan Sakura mengomelinya tentang banyaknya luka yang dia dapatkan malam ini. Dia memang tahu jika luka-luka itu dapat membuatnya terkena infeksi. Namun dia tak mau membalas omelan gadis bersurai pink itu jika mengingat kalau lukanya cepat sembuh juga berkat gadis yang sama.

"Jadi, apa yang sebenarnya kau ingin tanyakan?" pertanyaan itu mengakhiri ceramah panjang yang baru saja disampaikannya. Dia duduk di lengan kursi besar Neji sambil memainkan surai-surai coklat pemuda itu.

"Bukan hal yang terlalu penting. Hanya saja aku mulai merasakan ada hal yang aneh pada kalian semua," Neji berkata sembari menepiskan tangan Sakura yang masih asyik bermain dengan rambut panjangnya yang kini terurai bebas. "Hanya saja kalian terasa seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Seolah aku bukan bagian dari kalian."

Sakura hanya tertawa keras mendengar tuduhan dari sang anggota baru. "Kau terlalu paranoid, Six."

"Kau tak berhak mengataiku seperti itu, Sakura. Karena aku juga tahu kau sedang merahasiakan sesuatu dariku."

"A secret makes a women women," jawab Sakura sembari menempelkan jari telunjuknya di bibir dan mengedipkan sebelah matanya. "Itu adalah kata-kata salah seorang tokoh kesukaanku dalam sebuah komik ternama. Ah, maaf. Aku lupa, seorang clever student sepertimu tak mungkin membaca komik ya."

"Jangan berusaha mengalihkan pembicaraan, Sakura…"

"Sebaiknya kau memang mengatakan hal yang sebenarnya Red Joker. Dia perlu tahu apa yang akan dihadapinya di kemudian hari," sebuah suara menginstupsi protes yang Neji lemparkan pada Sakura. Seorang pemuda bersurai merah bata terlihat keluar dari balik rak buku yang ternyata memiliki jalan rahasia. "Karena sekarang, nyawanyalah yang dipertaruhkan."

Sakura memutar matanya malas sambil mendecih kesal pada pemuda itu. "Sabaku Gaara. Number Seven sehebat kau tak sepantasnya memiliki hobi nista semacam menguping pembicaraan orang," sindir Sakura sambil berjalan mendekati sang pemuda minim ekspresi itu. "Dan kurasa, aku tak memiliki kewajiban untuk mendengarkan pendapat anggota yang tak terlalu penting sepertimu. Number Seven."

Gaara tampak tak gentar menghadapi ancaman gadis di hadapannya. Sembari tersenyum mengerikan dia berkata, "Ya, pendapatku memang tak memiliki arti di matamu, Yang termulia Red Joker," jawabnya dengan nada yang sangat tak mengenakkan hati. "Namun kau tak bisa pura-pura tak mendengar pendapat dari Black Joker."

"Bah! Aku lupa jika kau adalah tangan kanan dari Uchiha sialan itu!" gerutu Sakura dengan nada keras sembari menjauh dari Gaara yang masih diam di tempatnya berdiri sembari melemparkan tatapan kemenangan pada sang gadis yang telah membunuh sepupunya. "Katakan apa yang diinginkan Uchiha itu!"

"Mudah saja. Dia ingin Number Six diberi tahu mengenai segala kemungkinan terburuk yang kita hadapi. Termasuk tentang The Chess."

…*…

Hinata duduk di atap bangunan tua bergaya gothic sembari menimang-nimang pisau putih berkilat yang di tangan kanannya. Bulan purnama terlihat bersinar penuh keagungan di langit yang sudah condong ke arah barat, tanda jika pagi akan datang untuk waktu yang tak lama lagi. Disandarkan tubuhnya yang masih lelah menghadapi misi khusus dari Black Joker ke patung singa yang ada di belakangnya.

Bibirnya bergumam pelan. "Gaara lama."

"Menunggu pangeranmu datang, Cinderella?" sebuah suara riang membuat atensi Hinata teralih dari sang purnama. Sosok pemuda pirang dengan senyum ceria yang selalu terpatri di wajahnya tampak berdiri tenang di balik punggung Hinata. "Jangan bilang kau menjatuhkan salah sepatu highheels kesayanganmu itu di lokasi tempat misimu berada dan menginginkan Gaara untuk membawanya kembali padamu untuk memastikan apakah ukurannya cocok atau tidak agar kalian dapat menikah dan hidup bahagia selamanya."

"Kuberi kau satu kalimat, Naruto," jawab Hinata tanpa menengokkan wajahnya ke sosok pemuda pirang di belakangnya. "Jika kau bermimpi, lakukanlah di rumahmu sendiri, di atas ranjang dan di dalam selimut yang tebal dan hangat. Atap gedung ini bukanlah tempat yang cocok untuk kau melakukannya."

"Kupikir itu adalah dua kalimat."

"Terserah," tukas Hinata kesal. "Memangnya siapa yang peduli pada berapa kalimat yang kau ucapkan jika tubuhmu masih terasa mati rasa akibat tugas semena-mena yang diberikan atasan kurang ajar, hah?"

Naruto hanya tertawa mendengar gerutuan Hinata. "Kurasa aku harus benar-benar mencarikan si bungsu Sabaku itu untukmu, Hinata. Kau terlihat benar-benar membutuhkannya untuk mengembalikan moodmu ke dalam keadaan semula."

"Jika kau datang hanya untuk mengejekku, aku sarankan kau pergi saja, Naruto."

Naruto mengacak surai indigo gadis di hadapannya dengan perasaan sayang seorang kakak kepada adiknya. "Aku hanya ingin memastikan keadaanmu. Apalagi tugasmu malam ini cukuplah berat. Mengawasi The Cess. Bahkan aku sendiripun ragu akan menerima tawaran itu jika Black yang memberikannya padaku."

"Aku bukanlah gadis pengecut yang akan melarikan diri dari tugas yang diberikan," jawab Hinata dengan sorot mata tegas. "Akan kubuktikan pada Uchiha sialan itu jika aku bukanlah sampah seperti yang selama ini dikiranya."

"Kata-kata yang bagus. Dan harusnya kakak sepupumu itu juga berlatih mengatakan hal yang sama."

"Apa maksudmu, King?"

Naruto hanya mengangkat bahunya sebagai isyarat bahwa ia tak tahu apa-apa. "Tampaknya para Joker itu senang membuatnya menari di atas tangan mereka. Menyenangkan memang melihat Number Six yang baru itu melakukan segalanya yang diperintahkan Joker. Namun aku yakin kau pasti tak akan menyukainya."

"Akan kuhancurkan mereka jika mereka berani menyakiti Nii-san."

"Wow,wow,wow, simpan dulu semua rutukan dan makianmu, Queen. Aku ada di sini bukan untuk mendengar kau mencurahkan betapa-aku-benci-dengan-duo-joker-sinting-itu," kata Naruto sambil tertawa lebar entah untuk apa. Untuk sikap Hinata yang sangat berbeda dengan aslinya mungkin. "Aku datang membawa berita penting untukmu."

Hinata berdecak tak peduli. "Tampaknya bukan kabar yang baik untukku."

"Aku akan benar-benar mendaftarkanmu dalam tes kemampuan psikis, Hinata. Tampaknya mind reader adalah kemampuan psikis tersembunyimu yang belum terekspos ke dunia luar. Selain mata terkutukmu tentu saja," kata Naruto sambil memamerkan senyum lima jarinya pada Hinata yang mendengus tak suka.

"Yeah, yeah, yeah. Terserah kau sajalah. Lagipula bukankah psikis adalah tema seminar yang kau adakan bulan ini. Aku membaca dari koran jika pihak Amerika dan Rusia sudah bersedia bekerja sama untuk proyek kali ini asalkan mereka bisa mendapatkan dua puluh persen keuntungan dari seluruh pendapatan bersih yang kau dapatkan bukan?" kata Hinata tak peduli sambil memainkan rambut indigonya bosan. "Apa kau tak bosan dengan seminar-seminar konyol semacam itu? Paling-paling nanti kau akan ditipu dengan magnet atau hal-hal semacam itu lagi," ejeknya dengan nada yang menyakitkan telinga.

Namun tampaknya pemuda Namikaze itu tak sakit hati bahkan pemilik surai pirang itu terkekeh mendengar ejekan Hinata. "Andai saja semua nggota Emperor mau berpartisipasi, pasti aku sudah sukses, Hinata."

"Ah, pembicaraan kita melenceng lagi," tukas Hinata kesal. "Sekarang katakan apa yang kau inginkan!"

Si pirang hanya mengernyitkan alis tak mengerti. Bukankah tadi Hinata sendiri yang membelokkan pembicaraan? Mengapa sekarang gadis itu yang kesal pada dirinya? Oh Tuhan, Naruto merasa seharusnya dia megadakan seminar 'Bagaimana Cara Membaca Hati Wanita' bukannya tentang anak berkemampuan psikis.

"Aku tak akan basa-basi lagi. Memang yang akan kukatakan adalah hal yang sangat rumit dan sensitif sehingga tak mudah untuk mengatakannya. Namun aku tak memiliki pilihan lain untuk tak mengatakannya padamu, Hinata. Mudahnya aku bilang kalau…"

Entah untuk keberapa kalinya Hinata merutuki kemampuan public speaking level atas yang dimiliki sahabatnya itu. "Kau mulai bertele-tele lagi, King!"

Naruto berdecak kesal karena kata-katanya dipotong dengan tidak hormat oleh Hinata. Namun dia memutuskan untuk tetap lanjut berkata, "… Black Joker sudah memutuskan untuk menjadikan Number Six sebagai mata-mata untuk The Cess."

…*…

Hinata berlari dengan langkah cepat menuju ruang tempat Black Joker atau yang memiliki nama asli Sasuke Rambut-Pantat-Ayam-Sialan-Brengsek Uchiha biasa melakukan tugas-tugasnya sebagai salah seorang petinggi Emperor.

Emosinya sudah terpancing hingga ke level tertinggi. Dan dia akan menuntut si bungsu Uchiha itu andai saja dia mendapatkan serangan darah tinggi mendadak. Namun sekarang dia sedang tak memperdulikan hipertensi yang sebenarnya tak diidapnya. Satu-satunya yang dia perdulikan saat ini adalah untuk menghajar si brengsek itu saja.

Meski itu adalah sesuatu yang mustahil jika mengingat kemampuannya yang tak seberapa jika dibandingkan dengan sang Uchiha.

Tapi setidaknya dia akan mampu memberikan satu atau dua hajaran di kepala ayam itu seperti yang dihadiahkannya pada Naruto beberapa menit yang lalu.

Apapun yang terjadi nanti, yang jelas dia tak akan membiarkan makhluk menyebalkan seperti Uchiha bungsu itu mempermainkan kehidupan dirinya dan kakaknya dengan sebegitu mudahnya. Dia akan membuat Sasuke Uchiha mengingat kembali jika yang dipermainkannya adalah manusia. Bukan boneka yang tak bernyawa.

Sialnya di depan ruangan sang Black Joker sudah sigap menjaga seorang bodyguard.

"Biarkan aku masuk, Gaara! Aku harus memberi pelajaran pada Uchiha sialan itu!" teriaknya marah tatkala sang kekasih membentangkan tangannya untuk mencegah Hinata masuk ke dalam ruangan sakral tempat pimpinan tertinggi di Emperor itu sedang bicara dengan salah seorang anak buahnya, Number Six.

"Aku tak dapat melakukannya, Queen."

Mendengar jawaban Gaara yang terlalu formal, Hinata memincingkan matanya curiga. "Queen? Cih, jadi ternyata ini memang misi resmi untukmu ya. Harusnya aku tahu betapa liciknya Uchiha. Pemuda itu pasti tahu jika aku tak akan sanggup melawanmu."

Gaara diam tak menanggapi omelan panjang sang kekasih.

"Kumohon biarkanlah aku masuk, kumohon…"

"Ini adalah titah dari Balck Joker. Saya tak dapat melanggarnya meskipun itu demi anda, Queen." Dengan tegas dia menjawab.

"Kumohon Gaara, kumohon!" Hinata merengek dengan segala kemampuan yang dimilikinya. "Aku harus masuk, Gaara. Nyawa kakakku sedang dipertaruhkan di sana!"

Dengan tajam Gaara menatap Hinata. "Maaf, aku tak bisa mengabulkannya."

Geram mendengar jawaban sang kekasih yang dilontarkan dengan nada dan wajah yang amat datar, Hinata menyilangkan tangannya di dada dan tersenyum meremehkan bak seorang bangsawan. 'Jika memang Gaara ingin bermain secara formal. Maka aku akan meladeninya,' itulah isi pikiran sang gadis. "Kau pikir kau ini siapa? Kau hanyalah salah seorang rakyat yang tak beguna dalam Emperor Kingdom! Aku adalah Queen! Ratumu! Berikan jalan untukku! Dan tunjukkan seberapa besar rasa hormatmu atas titahku!"

"Derajat titah Joker jauh berada di atas anda, Queen! Maka sebaiknya anada segera pergi dari sini!"

Hinata tak percaya jika Gaara dapat membentaknya. Sekarang, hilanglah sudah segala keangkuhan yang ditampilkannya unttuk merealisasikan sosok bangsawan semu yang ada di dalam dirinya. "Gaa…Gaara…" katanya tak percaya sembari mundur beberapa langkah untuk mengambil jarak dengan Number Seven itu.

Gaara mendesah panjang. "Mengapa kau sebegitu inginnya masuk, Hinata?"

Mendengar nama aslinya kembali dipanggil oleh Sabaku Gaara membuat Hinata merasa sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Hanya sedikit.

"Nii-san…" lirih Hinata sambil menundukkan wajahnya sedih. "Jika terlalu lama di dalam, Nii-san bisa mati, Gaara."

"Apa Neji Hyuuga sebegitu berharganya untukmu?" tanyanya lagi.

Hinata mengangguk kecil. "Dia kakakku, Gaara…"

"Sebegitu pentingnya hingga kau mengacuhkan nyawamu sendiri?"

"Eh?"

Gaara menggeleng pelan. "Selama ini aku selalu membiarkanmu pergi ke manapun yang kau suka, Hinata. Melakukan apapun yang kau inginkan dan memperoleh apapun yang kau mau. Apapun itu demi kebahagiaanmu. Itu karena aku sangat mencintaimu," gumam Gaara dengan suara yang pelan sehingga Hinata nyaris tak mendengarnya.

"Gaa… Gaara?"

"Alasan itu jugalah yang membuatku menghentikanmu sekarang Hinata," kata Gaara lagi sambil menangkup wajah Hinata dengan kedua tangannya yang lebar. "Kau tak akan kuizinkan masuk ke dalam Hinata."

"Ta…tapi… bagaimana dengan Nii-san?" sikap Hinata yang mudah grogi dan tergagap kembali muncul saat wajah Gaara tinggal berjarak beberapa centimeter darinya.

"Dia akan baik-baik saja selama kau tak masuk ke dalam. Black berkata jika aku sampai membiarkanmu masuk ke dalam maka dia akan membunuhmu bersama dengan Number Six," jawab Gaara sembari terus mendekatkan wajahnya pada Hinata. Melihat wajah cemas gadis di hadapannya masih juga tak menghilang, Gaara kembali berkata, "Percayalah padaku."

Dan kali ini mereka disatukan oleh sebuah ciuman panjang yang panas. Rasa panas dan lembut yang dirasakan Hinata membuat segala sisi gelap yang dimiliki gadis itu meleleh dan melupakan segala kecemasannya. Apapun yang terjadi setidaknya ada Gaara yang selalu siap menemaninya. Dan itu membuatnya merasa tenang.

Tanpa sadar Hinata mengalungkan tangannya pada leher Gaara demi memperdalam ciuman mereka.

…*…

Neji membaca dengan teliti setiap detail job describsion yang didapatkannya dari Black Joker. Dia mengangguk pelan. "Baiklah. Akan kuterima tugas kali ini. Akan kulakukan apapun yang dapat kulakukan untuk menyempurkan misi ini."

"Aku hargai keputusanmu, Six."

Dengan langkah tegap dia berjalan meninggalkan ruangan sang Joker tanpa memberikan salam perpisahan atau semacamnya pada pemuda raven tersebut. Baginya si raven tak pantas diberikan penghormatan sebesar itu. Dia terlalu licik.

Berani-beraninya dia menjadikan Hinata sebagai sandera untuk memaksanya menerima tugas itu! Menjijikkan!

Saat dibukanya pintu ruangan Black Joker, matanya terbelalak melihat pemandangan fulgar di hadapannya. Adik sepupu kesayangannya dicium di depan matanya sendiri! Dan tampaknya sepasang sejoli itu bahkan tak meyadari keberadaannyaI Tidakkah itu terasa amat sangat mengesalkan untuk dirinya?

Ini adalah pemandangan yang sama dengan pemandangan yang dilihatnya di pesta saat pelantikannya dulu, hanya saja jauh lebih panas dan intim sehingga membuat darahnya terasa naik ke kepala.

Satu hal yang dia sayangkan. Kali ini tak ada sepasang tangan berwarna putih susu yang memblokir pengelihatannya.

Baru kali ini Neji merasa benar-benar membutuhkan Sakura dalam hidupnya.

…TBC…

Halo semuanya, apa ada yang sudah menunggu cerita ini? Tidak ada? Ya, sudahlah. Tapi kalau ada, aku minta maaf ya. Kelas XII memang bukan kondisi yang baik untuk tetap eksis menulis FF. Apalagi dengan kondisi keluarga yang sangat menekan.

Eeeee, aku balas PM bagi yang tidak login saja ya...

Psy: aku senang kalau kamu menyukainya ^_^ bukankah image Sakura yang seperti itu juga cocok dengannya?

Syura: Halo juga, Syura. Maaf kalau nggak ada SasuHina ya? Soalnya di sini Hinata benci Sasuke, jadi hintnya paling adalah psico war mereka saja. Gomenasai…. Makasih ya. Tetap baca ya!

Makasih bagi semuanya, untuk yang login akan dibalas lewat PM ya…

Sampai jumpa lagi, mungkin aku akan update sangat lama.

Sayonara!