Kesalahan itu dimulai ketika musim panas
Saat matahari bersinar terik
Ketika panas membara
Menjalar
Menguasai hati
Membutakan pikiran
.
.
.
.
.
Kazuma House Production
present...
.
.
.
Summer Fault
® 2014
.
.
.
"Dari siapa?" Lu Han bertanya-tanya sambil memandang sebuah kotak yang terbungkus kertas kado warna biru rapi. Kurir yang mengantar paket tersebut hanya menyerahkan selembar kertas yang harus Lu Han tanda tangani. Lu Han segera membubuhkan tanda tangannya asal-asalan lalu menutup pintu.
Lu Han membawa kotak itu ke kamarnya. Ia duduk di atas karpet putih di kaki ranjang dan mulai membuka perekat di sisi-sisinya. Mata Lu Han membola ketika melihat kardus ponsel keluaran terbaru yang masih tersegel. Ponsel tercanggih saat itu dengan fasilitas kamera depan yang memungkinkan orang melakukan video call. Mamanya tidak mungkin membelikan ini sekalipun Lu Han merengek tujuh hari tujuh malam sambil mogok makan. Ponsel ini terlalu mahal.
Lu Han segera melihat kembali kertas pembungkusnya. Jelas-jelas di sana tertulis namanya dalam hanzi dan tanpa ada guratan yang salah. Tapi, darimana?
Ting Tong! Ting Tong!
"Sebentar!" Lu Han buru-buru memasukkan kertas-kertas yang berceceran ke dalam tempat sampah. Mamanya tidak suka dengan hal-hal yang berantakan, apalagi umur Lu Han sekarang sudah 17 tahun—bahkan minggu depan hampir 18.
Ia berlari menuju pintu. Ia mendapati sosok jangkung berambut pirang sedang berdiri bersama jaket hitamnya. "Kris!" Ia berseru riang. Luhan membuka pintu lebih lebar dan menyingkir ke samping, mempersilahkan Kris masuk.
"Kau sendirian?" tanya Kris seraya melepas mantelnya dan digantung di hanger belakang pintu.
"Ya begitulah. Mama pergi sejak pagi," kata Lu Han sambil menyajikan segelas teh dan setoples cookies. Ia mendudukkan diri di seberang Kris.
Kris menyodorkan sebuah kotak berwarna biru langit yang diikat pita silver. Lu Han terkekeh. "Apa ini? Ulang tahunku masih minggu depan."
Lelaki pirang itu malah mengeleng. "Bukan. Ini untuk kemenanganmu di turnamen kemarin." Ia meraih tangan Lu Han dan meletakkan kadonya di sana. "Aku tidak terima penolakan," ia berkata dengan wajah terlampau dekat dengan Lu Han.
Kris tidak tahu perilakunya membuat jantung Lu Han berpacu cepat. Selalu begini ketika pria keturunan China asal Kanada itu berada di dekatnya. Lu Han tidak mengerti. Baru kali ini ia merasa sebegini gugupnya berdekatan dengan seorang laki-laki. Padahal biasa berdekatan dengan pria tidak akan membuat Lu Han merasa asing dengan dirinya sendiri.
Kata Mama, artinya Lu Han sedang jatuh cinta.
Ya, mungkin benar. Lu Han memang sedang jatuh. Karena rasanya sakit, tapi menyenangkan.
Mata Lu Han berbinar menemukan sepasang sepatu sepak bola berwarna biru-oranye seperti yang pernah ia lihat di majalah. Sepatu model terbaru musim ini. Lu Han tidak bisa menahan dirinya untuk memekik senang. "Darimana kau tahu aku menginginkan ini?" Ia mengangkat sepatunya ke depan wajah, memutar-mutarnya beberapa kali. "Dan lagi, ini ukuran kakiku."
"Benarkah?" tanya Kris tanpa terlihat terkejut sama sekali. Lelaki tampan itu mengulum senyum. "Baguslah kalau begitu."
"Xie xie," ucap Lu Han berulang kali.
Saking semangatnya Lu Han, ia tidak mendengar bunyi pintu yang dibuka. Lu Na baru saja pulang. Ia membawa satu kantung belanjaan di tangan. Lu Na tidak lagi kaget mendapati putrinya bersama Kris di apartemen seperti dulu. Ia sudah cukup mengenal lelaki itu dengan baik.
Lu Na sering mendengar Lu Han membicarakan perihal Kris. Hampir setiap malam Lu Han akan menceritakan detil-detil terkecil tentang Kris tanpa satupun yang terlewat. Dan Lu Na hanya akan mengangguk-angguk dan memperingati Lu Han untuk berhati-hati. Bagaimanapun juga, Lu Han adalah perempuan. Hubungan yang tidak jelas antara dia dan Kris tentu akan lebih merugikan Lu Han.
Lu Na tidak ingin anaknya berakhir seperti dirinya.
"Wah, Kris datang, ya?" katanya membuat Lu Han mengalihkan perhatiannya dari sepatu barunya.
Setelah melepas mantel dan meletakkan belanjaan dapur, Lu Na mendekati mereka. Matanya melihat sepasang sepatu di tangan Lu Han. "Kamu belanja, Lu?" tanyanya.
"Meiyou." Lu Han menggeleng. "Ini dari Kris."
"Serius?" Alis Lu Na naik, berniat menggoda dua muda-mudi yang masih tampak malu-malu. "Memangnya hubungan kalian apa? Pacaran, ya? Kok nggak ngajak Mama makan buat ngerayain?" Lu Na masih ingin menggoda putrinya yang sudah memerah.
"Mama!" Lu Han merajuk. Pipinya merah padam.
Kris tertawa melihat interaksi ibu dan anak yang tersaji live di matanya. Ia iri melihat Lu Han dan ibunya. Bila dibandingkan dengan kehidupannya, hubungan ia dan keluarganya terbilang sangat tidak baik. Tidak ada kehangatan semacam ini di dalamnya.
"Kami hanya teman, Bibi," kata Kris berusaha menolong Lu Han dari bulan-bulanan Lu Na.
Tanpa Kris sadari, hati Lu Han mencelos. Kata teman seolah menjadi senjata paling ampuh untuk memanah balon-balon mimpi yang sudah melayang di atas kepalanya. Lenyap sudah semua imajinasi Lu Han akan Kris. Mereka hanya teman.
"Ya. Kami hanya teman, Mama," kata Lu Han lirih.
.
.
.
.
.
Lu Na melipat kembali surat rumah sakit yang ia terima. Ia menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Sebisa mungkin ia terlihat biasa saja sebelum keluar dari kamarnya. Ia menyimpan kembali kertas itu di dalam lemari.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, Lu Na harus memasak untuk Lu Han dan tentu saja dirinya. Sebagai anak yang tahunya hidup bersama seorang single parent, Lu Han tidak terlalu rewel tentang makanan. Ia makan apa saja yang dibuat Lu Na. Sekalipun itu hanya makanan selamam yang dihangatkan, Lu Han akan tetap memakannya.
Lu Na merebus makaroni di sebuah panci. Di panci lain, ia mulai merebus air. Ia sibuk memotong-motong sosis, kentang, dan ayam. Setelah melihat air bergejolak, ia memasukan bahan-bahan yang sudah ia potong ke dalam air mendidih. Ia mengaduk makaroninya sekilas sebelum menanak nasi.
Tepat ketika jam menunjukkan pukul enam, Lu Han membuka pintu kamar masih berbalut piyama dan mata mengantuk. Ia mendudukkan diri di salah satu kursi meja makan dan kembali menelungkupkan kepala.
"Ya! Xi Lu Han! Cepat mandi sana!" bentak Lu Na dalam bahasa Korea yang sudah dimengerti Lu Han. Lu Na memang membiasakan Lu Han dengan bahasa Korea. Antisipasi bila bertemu BaekBeom, katanya namun tidak ia beritahukan.
"Eung… nanti," kata Lu Han dengan suara serak. Sepertinya ia masih mengantuk. Ia sama sekali tidak takut dengan bentakan Lu Na karena sudah sering ia dengar—hampir setiap pagi malah.
Lu Na tidak tahu darimana asalnya kebiasaan buruk Lu Han yang satu ini. Sepertinya sejak dulu ia selalu bangun pagi. "Kalau kau tidak bangun, kau tidak boleh makan."
"Aku akan makan di luar," kata Lu Han setengah melindur.
Sejak lulus SMA sampai sekarang usianya 22 tahun, Lu Han tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi—hal yang membuat BaekBeom kesal. Ia bergabung dengan squad tim sepak bola nasional wanita China. Sebagai pemain termuda, ia memiliki jadwal latihan paling banyak karena dianggap tidak memiliki pengalaman yang cukup.
Lu Han tidak pernah mempermasalahkan jadwal latihannya yang banyak. Satu-satunya hal yang ia sebalkan adalah kewajiban untuk sampai di tempat latihan jam 8 pagi. Padahal jarak apartemennya sampai tempat latihan sekitar satu jam lebih, itupun kalau tidak macet.
Bekerja sebagai pemain sepak bola membuat Lu Han mendapat penghasilan cukup banyak bagi remaja seusianya. Apalagi kalau mereka memenangkan pertandingan. Hadiahnya bisa berkali-kali lipat dari gaji mereka.
Lu Na tidak kehabisan akal dalam membangunkan Lu Han. "Baiklah. Terserah padamu. Mama tidak mau tahu kalau kau sampai telat lalu dipecat dan jadi gelandangan. Jangan pernah kembali lagi ke rumah ini kalau kau jadi gelandangan."
Setelah diancam begitu, Lu Han akhirnya membuka mata sekalipun terasa berat sekali. "Kenapa Mama baru mengusir aku sekarang? Aku kan memang gelandangan. Gelandang kanan," ia bercanda dan berhasil membuat Lu Na tertawa.
"Sana mandi!" perintahnya lagi. Tanpa harus disuruh lagi, Lu Han segera mengambil handuk dan mandi.
Lu Na melanjutkan kegiatan memasaknya dan membereskan peralatan yang sudah tidak terpakai lagi sebelum melirik kalender. Hari ini hari Rabu, jadwalnya untuk ke rumah sakit. Ia menghela napas dan menyemangati diri bahwa ini baru permulaan.
.
.
.
.
.
Yoora duduk di beranda samping sambil memegang seamplop surat yang masih tersegel rapi. Tulisan tangan yang ditulis rapi dalam tinta bolpoin di depan surat dengan jelas menunjukan nama Byun Baek Beom serta alamatnya sebagai orang yang dituju. Tapi tulisan belakangnya yang membuat Yoora bertanya-tanya.
Surat itu dari Xi Lu Na.
Meski kejadian itu sudah berlalu dua puluh tahun lebih, Yoora tidak mungkin melupakan masalah besar itu begitu saja. Masalah besar yang membuat kehidupan rumah tangganya terasa hampa. Ia akan selalu mengingat siapa itu Lu Na, mantan pacar BaekBeom.
Yoora tidak berani untuk merobek amplopnya dan membaca isinya. Itu hanya akan membuat rumah tangga mereka semakin tidak jelas.
Dari tiap pertanyaan pasti akan selalu ada jawaban. Tinggal bertanya pada siapa dan masalah waktu yang akan menjawab. Karena itulah, Yoora segera mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu kontak di sana.
"Yeoboseyo?" tanyanya.
"Yeoboseyo, ada apa Yoora-ya? Tumben sekali menelfonku. Mencari Junsu?" canda Yoochun di seberang sana.
Yoora tertawa untuk basa-basi. "Tidak, aku memang mencari Yoochun Oppa. Apa Oppa sibuk siang ini? Ada yang ingin aku bicarakan. Berdua saja," bisik Yoora seolah ada yang bisa mendengar percakapan mereka. Padahal di rumah besar itu hanya ada dirinya dan para maid yang takkan peduli.
"Tentang?"
Satu tarikan napas ia ambil. "BaekBeom Oppa," kata Yoora. "Tapi kalau Oppa sibuk, ya tidak apa-apa. Aku akan membicarakannya kapan-kapan."
"Tidak, tidak," sanggah Yoochun. "Aku tidak terlalu sibuk hari ini. Katakan saja di mana kau mau bertemu."
Yoora menghela napas lega. Ia pikir Yoochun tidak akan bisa menemuinya hari ini. Hanya Yoochun satu-satunya orang yang bisa ia andalkan mengenai masalah seperti ini. Pria itu pasti tahu sesuatu. Bohong kalau tidak.
Setelah memutus sambungan. Yoora memanggil Tuan Kang, supir di rumah itu, untuk mengantarnya. Mobil sedan hitam melaju di jalanan ramai Kota Seoul, melewati gedung-gedung pencakar langit. Yoora selalu senang melewati jalanan kota di siang hari entah kenapa.
Mobil itu berhenti di depan sebuah cafe sederhana. Yoora meminta Tuan Kang untuk menunggunya selama ia di dalam. Ia pun melangkah masuk dan mengambil tempat duduk di pojok ruangan. Setelah memesan segelas teh, ia menunggu Yoochun.
"Sudah lama?" tanya lelaki berjas putih yang baru masuk dengan terburu-buru. Ia duduk di sofa seberang Yoora.
"Tidak juga," jawab Yoora, "Oppa mau pesan apa?"
Yoochun menjawab. "Arabica saja."
Yoora melambaikan tangan untuk memanggil seorang pelayan. Kemudian ia mengeluarkan amplop yang tadi pagi ia dapatkan dan diserahkan pada Yoochun. Awalnya namja itu sedikit bingung. Namun begitu matanya mendapati nama Lu Na di sana, napasnya langsung tercekat. Was-was, ia memandang Yoora yang menyeruput teh-nya kalem.
Yoora sadar wajah Yoochun berubah pucat. Pria itu berusaha menyembunyikannya dengan menenggak kopi hitamnya.
Yoora belum mengeluarkan sepata katapun setelahnya, tapi Yoochun sadar betul wanita itu membutuhkan penjelasan tentang Lu Na. Yoochun merenggangkan simpul dasi yang tiba-tiba terasa mencekik leher. Ia mengambil napas sebanyak-banyaknya.
"Jadi... apa ini sudah berlangsung lama?" tanya Yoora tanpa basa-basi.
"Ya," jawab Yoochun sedikit enggan.
Ia terjepit. Di satu sisi, sebagai sahabat, ia ingin melindungi Baekbeom. Tapi bagaimanapun juga, Yoora adalah temannya juga sekaligus istri sah Baekbeom di hadapan khalayak ramai. Wanita ini pantas tahu. Dan dia memang harus tahu segala kebenarannya.
"Sebelumnya aku minta maaf. Ini semua juga salahku," kata Yoochun sambil menunduk bersalah. "Kejadiannya sudah dua puluh tahun lebih. Setelah BaekBeom dan kau diminta menikah, Lu Na menghilang seminggu sebelum pengumuman kelulusan. Dia tidak memberi tahu siapa-siapa. Hilang bagai ditelan angin.
BaekBeom tetap mencarinya sekalipun sudah menikah denganmu. Dan aku sebagai sahabatnya tentu saja membantu. Aku menemukannya tinggal di Beijing sebagai pelayan rumah makan. Aku pun memberitahu BaekBeom mengenai hal ini. Tapi yang tidak kusangka-sangka, dia berniat menikahi Lu Na."
Napas Yoora tercekat, seolah udara-udara di sekitarnya direnggut paksa. Ia meminum tehnya dengan gugup. Tangannya menggenggam tali tasnya erat-erat. Kepalanya terasa berputar. Tapi tidak! Dia tidak akan angkat kaki dari sini sebelum semuanya menjadi jelas. Ia harus bertahan.
"Mereka menikah dan sudah memiliki seorang putri yang usianya lebih tua dua tahun dari Baekhyun. Namanya Lu Han. Tapi sejauh yang aku tahu, anak itu tidak memakai nama Byun," jelas Yoochun panjang.
Yoora berusaha terlihat tetap tenang. "Mereka menikah secara legal?"
Yoochun mengangguk. "Ya. Secara catatan sipil China, mereka terdaftar sebagai suami-istri yang sah. Putri mereka pun sah. Bila BaekBeom memaksa, dia bisa memakaikan nama Byun di depan nama Lu Han. Sayangnya Lu Na tidak mau. Aku tidak tahu apa alasannya."
Yoora bisa merasakan matanya memanas. Air mata sudah siap turun, namun ia memaksakan agar hal itu tidak terjadi. Ia harus tetap kuat. Sejak awal pernikahannya dan BaekBeom memang sudah rapuh, kan? Hal semacam ini harusnya sudah ia sadari sejak dulu.
"Terima kasih," bisik Yoora tidak tahu lagi harus berkata apa. Ia mengambil kembali surat yang ia serahkan ke Yoochun tadi.
"Mengenai surat itu, aku sama sekali tidak tahu." Yoochun benar-benar menyesal. "Aku minta maaf."
Ia menggeleng lemah. "Tidak ada yang salah di sini. Kami hanya ingin mempertahankan milik kami dan Oppa membantu teman Oppa." Yoora tersenyum sambil terus menahan air mata. "Terima kasih sudah meluangkan waktu untukku."
Meski dalam hati masih merasa mengganjal, Yoochun tetap mengangguk. Yoora butuh waktu menerima hal ini. "Kalau begitu, aku pergi dulu. Kurasa kau butuh waktu sendiri. Atau kau ingin bercerita dengan Junsu? Dia selalu ada di rumah."
"Iya," jawab Yoora singkat.
Sepeninggalan Yoochun, Yoora masih berada di café itu. Ia tidak lagi bisa menahan air mata yang kini membentuk aliran sungai di pipi putihnya.
.
.
.
.
.
To Be Continue…
2.113 words
Oh gosh... ini udah lama banget. Maaf ya baru update. Dan entah bagaimana saya yakin kalian sudah lupa dengan FF ini. Kalo boleh ya... baca lagi The Byun biar inget. Hahaha...
Thanks to : ParkHyunHa, fuawaliyaah, chenma, wasastudent, renewtshn, Esther Artemisia, Guest, ladywufan, dan semua yang membaca sekalian. Terima kasih banyak.
Sign,
Uchiha Kazuma Big Tomat
Finished at :
Monday, March 10, 2014
09.39 A.M.
Published at :
Sunday, November 29, 2015
08.41 P.M.
Summer Fault © Kazuma House Production ® 2014
