Tittle: Marriage not dating
Cast: Park Chanyeol (23yo), Byun Baekhyun (22yo) ,Etc.
Genre: Romance, Drama.
Rating: T - M
.
.
Chanyeol yang menjadi CEO di suatu perusahaan dan terkenal akan ke-brengsek-annya, namun apa jadinya bila dia bertemu dengan yeoja mungil yang membawa dampak baik baginya?
.
.
WARNING! GS FOR UKE. NO BASH. NO COPY-PASTE (?). GASUKA LEBIH BAIK GAUSAH BACA.
.
.
~~ HAPPY READING ~~
.
Baekhyun membuang nafas leganya kala melihat eommanimnya sudah terlelap dengan wajah yang sembab. Mungkin, eommanimnya ini terlalu lelah akibat menangis sejak 2 jam yang lalu. Ia sendiri tidak habis pikir oleh sikap Chanyeol yang menurutnya sangat keterlaluan. Dan ia berniat, untuk membicarakan hal ini pada Chanyeol.
"Semangat, Baek!" ujarnya menyemangati diri sendiri, tangannya mengetuk pintu Chanyeol dengan perlahan. Yeah, meskipun ia sudah resmi menjadi 'istri' seorang Park Chanyeol, tetapi tentu ia masih tahu sopan santun.
Baekhyun menatap heran pintu kamar Chanyeol yang tak kunjung di buka. Dan perasaan aneh serta hal buruk menghantui pikirannya. Dengan cukup keberanian, akhirnya ia memutuskan untuk masuk kedalam. Tidak perduli, jika nantinya ia harus di usir oleh namja jangkung tersebut.
"Chanyeol!" pekiknya benar-benar kaget, kala melihat Chanyeol yang tengah terbaring di tempat tidur. Keringat dingin membasahi tubuh namja ini, wajahnya sangat pucat, dan nafasnya memburu seperti menahan sesuatu.
"Astaga! Badanmu panas sekali!" pekiknya lagi saat tangan mungilnya menyentuh dahi Chanyeol. Baekhyun benar-benar panik bukan kepalang, otaknya seakan berhenti untuk berfikir jika dalam situasi seperti ini.
Setelah menemui langkah apa yang harus ia cari, akhirnya ia berlari menuju dapur dengan terpogoh-pogoh. Diambilnya sebuah wadah kecil berisikan air panas dan juga handuk kecil untuk mengompres namja ini. Ia sudah tidak memikirkan penampilannya yang terlihat buruk saat ini.
Baekhyun mengompres dahi Chanyeol dengan sangat telaten. Keringatnya mulai berjatuhan membasahi pelipisnya, nafasnya ikut memburu. "Kenapa kau bisa seperti ini, Yeol?" tanyanya sendiri dengan menatap lekat wajah Chanyeol.
Demi apapun, wajah Chanyeol saat terlelap beribu-ribu kali lebih tampan dari biasanya. Dan naluri 'penguntit setia' nya seakan keluar. Ia dengan beraninya, mengelus pelan pipi tirus Chanyeol. Persetan dengan segalanya, karena ia hanya ingin merasakannya.
"Uh, aku rasa aku mulai gila." ujarnya sendiri dengan pipi yang bersemu. Astaga, di saat situasi seperti ini ia bahkan masih sempat-sempatnya melakukan hal bodoh.
"Ah, lebih baik aku membuatkanmu bubur." ujarnya lagi seolah Chanyeol akan menjawab ucapaannya. Ia berdiri dari duduknya, dan tiba-tiba saja sebuah tangan besar menahannya. Seakan mencegahnya untuk pergi.
Chanyeol setengah sadar saat ini, matanya ia buka perlahan. "Jangan pergi, Irene.." ujarnya dengan sangat lemah.
DEG.
Hati Baekhyun seperti terhujam beribu jarum, nafasnya kembali sesak. Dan airmata nya sudah menumpuk di pelupuk mata sana. "A..ku hanya ingin membuat bubur, tidak akan lama." ujarnya dengan sekuat tenaga menahan itu semua.
Chanyeol menatap Baekhyun yang ia pikir adalah Irene itu, "Kau..menangis?" tanyanya seraya berusaha menghapus jejak cairan bening itu.
Baekhyun menahan tangan besar Chanyeol. "Aku tidak akan lama." ujarnya dan berlari meninggalkan Chanyeol yang masih terpaku.
Chanyeol seakan tersadar begitu saja, yang ia lihat tadi bukanlah Irene, melainkan Baekhyun. Dan hari ini, ia membuat banyak sekali kesalahan pada yeoja mungilnya itu.
.
Baekhyun menyiapkan bubur yang baru saja matang, tangisnya tidak berhenti sejak tadi. Tubuhnya bergetar menahan suara isakan yang keluar. Saat ia rasa sudah selesai, ia membalikan tubuhnya untuk kembali menuju kamar Chanyeol.
"Baekhyunie?" ujar nyonya Park yang terdengar seperti sambaran petir bagi Baekhyun. Ia terkejut bukan main, ia sedang dalam bencana besar saat ini.
"Loh eommanim, ingin kemana? Kenapa rapih sekali?" tanyanya dengan senyum mengembang.
Nyonya Park tidak menjawabnya, ia mendekati tubuh mungil menantunya ini. Dan dengan segera ia memeluk tubuh rengkuh Baekhyun. "Apa Chanyeol menyakitimu?" tanyanya balik, Baekhyun yang tengah di peluk seperti ini kelimpungan. Pasalnya, tangan mungilnya tengah memegang mangkok besar berisikan bubur untuk Chanyeol.
"Tidak eommanim," telak Baekhyun seraya melepaskan pelukan itu.
Nyonya Park menghembuskan nafasnya, "Tidak usah menutupinya seperti itu."
Baekhyun merasakan matanya kembali memanas, "Aku memang tidak apa-apa. Eommanim sendiri ingin kemana?" tanyanya berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Aku harap, kau benar dalam ucapanmu tadi. Eomma ingin pulang. Tidak baik bermalam disini," ujarnya seakan sudah sangat lelah.
Baekhyun mengangguk-anggukan kepalanya, "Baiklah, ayo aku antar kedepan." ujarnya cepat, karena ia harus mengantarkan bubur ini untuk Chanyeol.
"Eomma pulang, titipkan salam eomma untuk Chanyeol. Dan obat untuknya sudah tersedia di dekat pantri." ujarnya dan tersenyum kembali.
Baekhyun terkejut mendengarnya, pasalnya ia sedaritadi berusaha menutupi sakitnya Chanyeol. Tetapi, eommanimnya lagi-lagi mengetahui itu.
"Jaga ia baik-baik, Baekhyun." ujarnya lagi seraya mengusap lengan Baekhyun dan berlalu begitu saja.
Baekhyun menatap kepergian eommanimnya, dan satu hembusan ia keluarkan lagi. Masih ada satu hal lagi yang harus ia selesaikan; memberikan bubur ini untuk Chanyeol.
"Chanyeol apa kau sudah baikan?" ujarnya saat melihat Chanyeol yang tengah setengah duduk. Kepala namja itu disenderkan pada ranjang.
Chanyeol hanya melirik yeoja ini sesaat, ia sama sekali tidak menjawabnya.
"Aku sudah buatkan kau bubur, ayo makan agar kau sembuh." ujar Baekhyun cepat seraya menyodorkan satu suapan ke mulut Chanyeol, berharap namja ini akan menerima suapan itu.
PRANG.
Sebuah tolakan kasar dari tangan Chanyeol, membuat satu mangkuk bubur buatan Baekhyun terhempas begitu saja ke lantai. Bahkan, bubur itu sedikit mengenai pakaian Baekhyun.
"Aku tidak butuh perhatianmu!" bentaknya seraya berlalu keluar apartemen dengan menutup pintu dengan dentuman keras.
Sangat sakit. Yeah, itu yang Baekhyun rasakan saat ini, bahkan jauh lebih sakit dari sebelumnya. "Hiks.. eomma." ujarnya tidak kuat menahan isakannya.
Ia seraya mengambil lap untuk membereskan kekacauan ini, dengan hati-hati ia membereskan pecahan mangkuk itu. Air matanya kembali mengalir dengan deras, dan seluruh tubuhnya bergetar tidak kuat.
BRUK.
Ia terpingsan begitu saja dengan posisi tengah memegang pecahan kaca, dan secara tidak sadar membuat tangannya bersimpuh darah.
.
.
Chanyeol memutuskan kembali menuju apartement setelah ia rasa sudah terlalu lama berjalan-jalan. Ia sendiri keluar apartement tadi hanya untuk mencari udara, ya hitung-hitung menenangkan pikiran kacaunya. Namun, tiba-tiba saja, hatinya terasa sakit seperti baru saja tertusuk benda tajam, dan wajah Baekhyun seakan berputar di pikirannya. Merasa ada yang aneh dengan ini semua, ia berlari untuk mempercepat langkahnya kembali menuju apartemen.
Setelah sampai apartemen, ia mencari Baekhyun di seluruh sudut ruangan, tetapi nihil, Baekhyun tidak ada disana. Dan ia membuka pintu kamarnya dengan frustasi karena tidak menemukan Baekhyun, tetapi sebuah pekikan keras keluar seraya memanggil 'istri' nya ini.
Disana.. Baekhyun, tengah berlumuran darah yang terus saja mengucur. Wajahnya sudah sangat memucat. Dan setengah bajunya ikut memerah akibat rembesan darahnya. Chanyeol berlari dengan cepat, ia merengkuh tubuh mungil Baekhyun. Tanpa ia sadari, air matanya sudah mengalir sejak tadi.
"Baek," ujarnya seraya menggoncangkan tubuh Baekhyun. Ia menghapus air matanya cepat, dan mengambil kunci mobil yang berada di nakas meja.
Chanyeol membawa Baekhyun menuju rumah sakit, dengan paniknya.
.
Chanyeol berjalan berbulak-balik tepat di depan ruang UGD dengan perasaan yang sangat kacau, jantungnya berdebar-debar memikirkan keadaan 'istri' nya saat ini. Ia tidak perduli dengan waktu yang sudah sangat larut malam ini.
Ceklek.
Pintu ruangan itu terbuka, menampilkan dokter dengan bername tag 'Kim Jonmyeon', ia dengan cepat melangkah menuju dokter ini berdiri.
"Apa anda keluarga pasien?" tanyanya menatap Chanyeol saat ini.
Chanyeol mengangguk cepat, "Saya suaminya." Jawabnya dengan lantang.
"Kalau begitu, anda bisa ikut saya." perintah dokter itu yang langsung saja diikuti Chanyeol.
Junmyeon menatap namja tinggi yang tengah berada di hadapannya ini. "Ehem, keadaan istri anda saat ini.. kritis. Ia kekurangan banyak sekali darah. Detak jantungnya juga tidak stabil. Dan kami berharap, keadaannya akan lebih membaik esok." Jelasnya panjang lebar.
Chanyeol menangis kembali, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja dokter ini lontarkan. Semua ini adalah karenanya, kalau saja ia tidak menolak makanan itu, tidak akan menjadi seperti ini. Ya, ini semua sebabnya.
"Ta..pi, istri saya bisa sembuh kan, dok?" tanyanya lagi.
Junmyeon menarik nafasnya perlahan, "Saya tidak bisa menjanjikannya."
Chanyeol seakan tersambar petir saat ini, ia menatap penuh harapan dokter di hadapannya ini. "Saya mohon, selamatkan istri saya! Berapapun biayanya saya akan membayarnya." ujarnya cepat memohon dengan melasnya.
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk istri anda." ujar Junmyeon cepat.
Chanyeol ingin sekali membenturkan kepalanya ke tembok, sungguh ia sangat ceroboh saat ini.
"Jika tidak ada lagi yang ingin di bicarakan, anda bisa mengurus administrasinya sekarang." ujar Junmyeon
Chanyeol dengan cepat menuju administrasi, tidak lupa juga ia mengucapkan terimakasih pada dokter ini.
.
.
Chanyeol memandang yeoja mungil ini penuh harapan, tangannya menggenggam jari-jari mungil yeoja ini, seolah-olah dapat jika ia melakukan itu dapat mentransferkan kekuatannya melalui tangan. Baekhyun, yeoja mungil itu masih terpejam dengan wajah damai. Chanyeol sudah menelfon kedua orang tuanya, dan juga orang tua Baekhyun untuk menyuruhnya datang ke rumah sakit. Tentu, mereka semua menanyakan apa yang terjadi, namun Chanyeol berkata akan menjelaskannya nanti saat mereka tiba.
Chanyeol melirik jam dinding, ini sudah pukul 3 pagi dan ia menatap kembali yeoja mungil di depannya ini. Perasaan bersalah kembali muncul di benaknya.
"Baek.. maafkan aku. Maafkan perasaan egoku selama ini." ujar Chanyeol sesekali mengecup tangan mungil Baekhyun.
Chanyeol yang baru saja mendengar pintu terbuka, segera menolehkan kepalanya menatap siapa yang masuk. Dan benar saja, itu adalah eomma dan juga appa nya.
"Apa yang terjadi pada Baekhyunieku, Chanyeol!?" tanya eommanya dengan nada yang meninggi.
"Kau apakan menantuku ini!?" tanya appanya dengan suara tidak kalah tingginya.
Chanyeol menarik nafasnya, ia mulai menceritakan seluruhnya. Tidak ada satupun yang ia lebihkan atau kurangkan. Baru saja ia berhenti menjelaskan, tetapi satu tamparan keras melayang menuju pipinya. Ia tahu, ia akan mendapatkan 'hadiah' seperti ini dari Appanya.
"Dasar kau, suami tidak berguna! Aku tidak mau tahu, kau harus meminta maaf pada mertuamu nanti dan menjelaskan semuanya!" teriak sang Appa seolah lupa dimana ia berada sekarang. Dan, Tuan Park berlalu keluar, kepalanya sedikit pening memikirkan 'tingkah laku' anaknya yang terlewat brengsek itu.
Nyonya Park menatap kecewa anaknya ini, "Eomma tidak menyangka dengan sikapmu ini." ujarnya seraya mendudukan dirinya di sebrang sana. Ia ikut menjaga Baekhyun.
Chanyeol tahu semua akan kecewa pada dirinya, kepalanya ia tundukan begitu saja, ia tidak berani menatap eommanya, "Maafkan Chanyeol, eomma.."
Nyonya Park tidak menjawabnya, ia sudah terlewat lelah dengan semua ini. Ia hanya bisa pasrah, semoga saja Chanyeol dapat berubah seiring berjalannya waktu.
Suara langkah kaki yang mendekat perlahan mengganggu perhatian keduanya, dan benar saja.. nyonya Byun tengah berjalan mendekat kearah nya. Penampilan sama terlihat buruknya dengan nyonya Park. Yeah, salahkan saja Chanyeol yang memberitahu berita 'buruk' ini saat pukul 3pagi.
"Bagaimana keadaan anakku?" tanya nyonya Byun dengan wajah paniknya.
Chanyeol menceritakan seluruhnya, sama seperti tadi, tidak ada yang ia lebihkan atau kurangkan. Ia terus-menerus mengucapkan kata maaf.
"Hiks.. Baekhyuniee.." isak nyonya Byun seraya mengelus pelan tangan anaknya. Ia sangat kecewa dengan Chanyeol. Ia tidak habis pikir oleh Chanyeol yang bisa-bisanya bersikap seperti ini.
Chanyeol merengkuh tubuh eommanimnya, tangannya seraya mengelus pelan punggung eommanimnya. "Eommanim.. jangan menangis. Maafkan Chanyeol.."
Nyonya Byun terus terisak karena kini anaknya dalam masa kritis nya.
.
.
Jam sudah menunjukan pukul 10 pagi, membuat Irene segera bergegas untuk menuju kantor Chanyeol. Ia memang berniat untuk menemui 'calon suami' nya ini, meski ia sendiri tidak yakin Chanyeol akan datang ke kantor. Pasalnya, ia tahu belakangan ini Chanyeol sedang malas-malasnya untuk pergi ke kantor.
"Irene!?" panggil Jongin penuh dengan kebingungan, kala dirinya melihat Irene tepat di depan pintu masuk kantornya.
Irene tersenyum manisnya, "Hai, Jongin!" sapanya tidak kalah semangat.
Jongin muak sekali mendengar sikap sok manis dan munafik yeoja ini, ia menatap benci yeoja di depannya ini. "Mau apa kau?"
"Tentu saja menemui calon suamiku." ujarnya cepat dengan senyum yang sama sekali tidak luntur sejak tadi.
Jongin benar-benar ingin muntah sekarang mendengar penuturan yeoja 'menjijikan' ini. "Chanyeol, tidak ada. Mungkin ia sedang menikmati masa cutinya dengan istrinya itu." ujar Jongin cepat dan meninggalkan Irene tepat di pintu masuk.
Irene seakan geram dan panas mendengar penuturan Jongin tadi, tanpa menunggu lama ia segera kembali menuju parkiran. Karena ia ingin menuju apartement Chanyeol sekarang.
.
Pintu apartement terbuka dengan otomatis kala Irene memencetkan passwordnya. Ia tersenyum senang karena Chanyeol tidak mengganti password apartement itu.
Ia segera bergegas mencari Chanyeol keseluruh ruangan, namun nihil. Ia sama sekali tidak melihat tanda kehidupan di apartement ini, tidak ada Chanyeol maupun Baekhyun. Tetapi, matanya menangkap sebuah jejak darah yan melangkah keluar kamar Chanyeol. Dengan segera, ia membuka kama itu. Sungguh terkejutnya ia, kala melihat sebuah kekacauan di ruangan ini. Darah yang berceceran tidak menentu terlihat jelas di lantai. Dan sebuah tanda tanya besar menghantui pikirannya.
Ia mengambil telfon genggamnya di tas jenjang nan mewah itu, jari-jarinya dengan cepat menghubungi nomor Chanyeol.
"Nomor yang anda tuju sedang..."
Irene dengan segera membanting telfong genggamnya menuju sofa. Ia sudah sangat lelahnya datang mencari Chanyeol, tetapi Chanyeol sama sekali tidak ada. Dan pikiran buruk tentang namja tinggi itu tercipta, Chanyeol sudah mulai mengabaikannya.
.
.
Jam sudah menunjukan pukul 11pagi, tetapi Chanyeol masih setia menunggu Baekhyun. Yeah, meski ia tengah tertidur saat ini. Ya kalian bayangkan saja, ia baru terlelap saat pukul 6 pagi tadi. Lingkaran matanya bahkan sudah menghintam akibat hal ini. Oh jangan lupakan! Tangannya masih menggenggam erat tangan Baekhyun.
Tanpa ia sadari, Baekhyun perlahan membuka kedua matanya, meski kepalanya masih merasakan pening. Namun ia masih dapat menahannya. Baekhyun kaget bukan main, kala melihat Chanyeol yang tertidur di sampingnya. Bekas air mata namja itu bahkan masih membekas, dan lingkaran matanya terlihat jelas.
Entah kenapa, Baehyun merasa senang akan hal ini. Dan dengan keberanian, ia mengelus rambut surai Chanyeol dengan tangan yang terinfus. Ini yang ia inginkan selama ini, saat membuka kedua matanya yang pertama kali ia lihat adalah Chanyeol. Jika boleh meminta, ia ingin seperti ini secara terus menerus.
Chanyeol perlahan membuka matanya kala ia merasakan sebuah 'usapan' yang sangat lembut pada rambutnya. Ia terbangun dari tidurnya, dan betapa terkejutnya ia saat melihat Baekhyun yang tengah memandangnya dengan wajah polos.
"Chanye..ol" lirih Baekhyun dengan sedikit senyuman menghangatkannya.
Chanyeol mengucek matanya cepat, ia berharap semoga ini bukan mimpi ataupun khayalannya semata. "Baekhyun!?" pekiknya lagi saat ia rasa benar dengan penglihatannya ini.
Baekhyun mengangguk lucu, tanda membenarkan. Dan sangat mengejutkan.. Chanyeol memeluknya dengan erat. Bahkan ia dapat merasakan tetesan air mata suaminya ini yang membasahi bajunya.
"Baekhyun, apa aku tengah bermimpi?" tanya Chanyeol seraya melepaskan pelukan itu.
Baekhyun tersenyum kembali, "Iya ini aku, Chanyeolie.." ujarnya yang terdengar sangat lucu.
Chanyeol memeluk kembali tubuh Baekhyun, tangannya dengan cepat memencet dengan tidak sabarnya bel agar dokter datang.
Tidak butuh waktu lama, dokter itu datang. Disampingnya juga sudah ada suster yang menemaninya.
"Maaf, saya ingin periksa dahulu." ujar dokter bername tag Junmyeon ini mengacaukan acara romantis Chanyeol dan juga Baekhyun. Baekhyun tersenyum kikuk, wajahnya sedikit memerah karena malu.
"Woah daebak! Nyonya Park sungguh wanita kuat. Ia bisa melewati masa kritis ini hanya dalan beberapa jam. Kondisinya saat ini juga mulai membaik. Detak jantungnya sudah kembali normal." ujar Junmyeon saat sudah selesai memeriksanya. Ia berulang kali mengucapkan selamat pada kedua pasang ini.
Chanyeol sendiri juga tidak percaya, Baekhyun bisa memulih dengan waktu sesingkat ini. Padahal beberapa jam yang lalu ia masih terbaring lemah dengan kondisi yang kritis.
Dokter Junmyeon berpamit untuk memeriksa pasiennya yang lain, tidak lupa juga sang suster mengikutinya.
"Terimakasih, Baek.." ujar Chanyeol seraya memeluk kembali tubuh Baekhyun.
Baekhyun melepaskan pelukan itu, ia menatap binggung namja di hadapapnya ini, "Terimakasih untuk apa?" tanyanya membuat Chanyeol gemas.
Chanyeol tersenyum kembali, "Terimakasih karena kau sudah kembali pulih, aku hampir saja di buang ke sungai Han karena hal ini. Dan.. terimakasih juga karena kau tahan dengan sikapku ini." ujar Chanyeol lagi dengan sedikit kekehan di tengah.
Baekhyun mengangguk lucu, "Terimakasih juga karena kau ada disini. Menjagaku." timpal Baekhyun dengan senyuman.
"Maafkan sikapku selama ini ya, sungguh aku bersikap seperti karena perjanjian bodoh yang mau-mau saja aku terima." ujar Chanyeol cepat
Baekhyun senang bukan main, Chanyeol seperti memberinya lampu hijau. "Perjanjian apa?"
"Nanti akan aku jelaskan setelah kau pulang dari sini. Yang terpenting, kau sudah memulih, dan aku senang itu." ujar Chanyeol lagi.
Chup.
Sebuah kecupan Chanyeol berikan untuk tanda terimakasih dan juga maafnya. Namun, kini kecupan itu sudah berubah menjadi lumatan panas. Keduanya mengikuti nalurinya, melakukan hal ini karena kesepakatan.
"Ups.. maaf eomma mengganggu." ujar nyonya Park saat ia baru saja masuk kedalam ruang inap ini. Namun mata indahnya harus melihat ciuman panas anaknya ini.
Chanyeol dan Baekhyun tersadar, dengan cepat keduanya melepaskan perang mendadak itu. Wajah keduanya sontak memerah. Dan dengan cepat mereka memekik. "Yak eomma!"
TBC
HALO SEMUA!
Maaf telat update, ini semua karena hpku yang sialan ini :'v
Oke bayangkan, aku udah ngetik ini kemarin seharian dan udah mengumpulkan/? 3k+ words. Tapi, pas mau di save... AKUN FFN NYA EROR! Sumpah demi apapun, aku nangis gegara beginian. Mana aku lupa copy:') . Dan dengan sabarnya aku kembali ngetik dari awal dengan ide yang setengah inget dan setengah lupa.. *jadi curhat kan wkwk*
.
Btw, gimanaaaa? ngeselin ya? Oh ya perlahan semuanya akan terungkap! Si ceye udah ngasih kode tentang 'perjanjian' entuh, dan mungkin Chapter depan bakal di bahas..
Dan nanti juga bakal di jelasin, kenapa cy suka main perempuan plusssss mabuk2an *asek*
Semuanya bakal teruangkap seiring berjalannya waktu :v aku gatau ini bakal end di chapter kapan. Jadi bagi readers semua, mohoh kesabarannya :v
.
Akhir kata aku ucapkan...
REVIEW AGAIN PLEASEEEEE^^
