Game over!
.
.
.
.
Apa yang mereka cari?
.
.
.
Naruto mengemudikan Kurama dengan hati-hati. Besi dan mesin tua harus diperlakukan dengan hormat bukan? Tujuannya tentu agar dia tidak ngadat lagi. Ponsel Naruto berdering. Akhirnya, orang yang ditunggu Naruto menelpon juga.
"Kapan kau akan merespon cepat?" umpat Naruto tanpa memberi si penelpon kesempatan bicara. "Kau sudah dapat perintahnya?" tanya Naruto menepikam Kurama.
Shisui terkekeh, terdengar suara kunyahan makanan, "tentu saja sudah" ucap Shisui. Kemudian terdengar suara ketikan.
"Dimana mereka?"
"Sabar kawan. Kenapa kau tak tanyakan hal yang sewajarnya saat bertemu teman lama. Apa kabar mungkin?"
Naruto mendengus kesal, ayolah. "Kau tahu Sasuke tidak sabaran"
"Aku tahu itu, dan aku tahu bukan aku yang akan dihajarnya habis-habisan" suara Shisui terdengar mengejek kemudian tertawa lepas. "Apa kau masih tidak ingat siapa Hyuuga itu?"
"Sudah kukatakan aku tak ingat. Nama dan wajahnya begitu samar. Tapi anehnya aku ingat telah memata-matai gadis itu.
Demi Tuhan, Naruto merasa dua waktu telah menghilang darinya. Waktu yang dihabiskannya untuk memata-matai Hyuuga itu dan pernikahan keduanya. Kasus keduanya sama. Naruto tidak ingat nama dan wajah yang samar. "Bisakah kau cepat?" ucap Naruto tidak sabar.
"Oke, kau mulai seperti Sasuke-ayam itu" ucap Shisui.
Shisui, adalah keluarga utama Uchiha namun skandal yang dilakukan ibunya, membuat ibu dan seluruh keluarganya dilemparkan dari ahli waris kerajaan Uchiha yang begitu makmur. Dia masih dianggap rendah namun tak bisa melepas marganya sendiri. Jerat darah Uchiha yang mengalir ditubuhnya tak bisa dilepas begitu saja.
"Lama, dimana dia?"
"Sebentar." ucap Shisui. "Nah mereka baru masuk caffe akatsuki." ucap Shisui.
"Terima kasih"
"Jangan sungkan. Omong-omong sampai kapan kau akan mengabdi pada orang tua busuk itu padahal otakmu berangka diatas 150"
"Apa maksudmu?"
"aku kuliah di universitas tokyo, jika kau ingin tahu" pancing Shisui.
Naruto mematung, oh tidak mungkin! Kilasan masa lalu terlihat jelas dimata Naruto.
Flashback
Diruangan denga arsitektur abad ke 17 dengan kursi beludru yang nyaman ditiduri, tergantung lukisan-lukisan karya pelukis dunia. Tiga tidak harusnya 4 cangkir teh tersaji diatas meja, tapi satu makhluk berdarah Uchiha masih menunggu diluar.
Seragam Naruto penuh dengan tanda tangan teman-teman sekelasnya. Hari perpisahan SMA telah berlalu pagi tadi. Duduk dengan kedua tangan terpaut dan berkeringat dingin. Naruto tidak suka sesi hanya bertiga dengan orang tua asuhnya.
"Naruto," suara bariton penuh wibawa dan kedisiplinan itu memanggil namanya, membuat sekujur tubuh Naruto merinding. "Kau sudah tahu kenapa kami merawatmu selama ini, meski kami tidak tahu asal usulmu" tambahnya.
"Ya, ay- maksudku Fugaku-sama" ucap Naruto tergagap.
"Kami akan mengirim Sasuke belajar di London" ucap Mikoto dengan suara angkuh.
'Cih aku tahu itu' batin Naruto.
"Aku ingin kau bicara padanya, kau tidak bisa ikut dengannya. Bahwa kau akan belajar di jepang." ucap Fugaku, kemudian memijit keningnya. "Kebaikan kami sudah terlalu banyak padamu, sudah saatnya menghentikan ini. Anjing kampung tetaplah anjing kampung meski hidup di dalam istana. Kau mengerti itu?" tambahnya.
"Kami takut kau tak bisa mengembalikan apa yang telah kami berikan padamu" tambah Mikoto mengambil cangkir tehnya.
"Saya mengerti. Terima kasih atas kemurahatian Fugaku dan Mikoto sama" ucap Naruto menahan gelombang amarah karena penghinaan yang langsung ditujukan padanya.
Naruto hidup dari rasa belas kasihan Uchiha dan rengekan Sasuke, kalau saja Sasuke terlahir di keluarga sederhana yang penyayang, Naruto akan hidup bahagia sekali. Tapi kenyataannya tak sama dengan khayalannya selama ini. Harusnya dia mati saja bersama kedua orang tuanya dulu.
"Pergilah. Panggil Shisui" perintah Fugaku.
Naruto memberi hormat dan meninggalkan ruangan itu. Di luar Shisui sedang asyik memainkan permen karetnya. "Sudah? Rasanya seperti masuk Neraka bukan? Sudah bertahun-tahun tapi kau tak juga bisa menerima perlakuan mereka?" ejek Shisui melihat wajah Naruto yang sedang menahan amarah"
"Sialan" umpat Naruto ingin memukul wajah Shisui.
"Kau beruntung bisa lepas dari jerat neraka ini" ucap Shisui menepuk bahu Naruto saat melewati tubuh Naruto.
Rambut raven itu muncul disamping Naruto, "apa kata ayah?" tanya Sasuke dengan semangat.
"Kau akan belajar di London" ucap Naruto masih terpaku. Wajahnya menatap lurus kedepan.
"Bagaimaa denga gadisku?! Dan kau?"
"Mereka menawariku juga, tapi aku lebih suka tinggal di jepang"
"Tidak adil, aku akan minta-"
"Sasuke, pergilah. Mereka butuh isi kepalamu untuk meneruskan kerajaan Uchiha"
"Kalau begitu kau harus melaporkan perkembangan gadisku padaku setiap hari"
Mata Naruto tampak ragu, dan akhirnya menangguk. Keputusan yang kelak akan disesali Naruto.
Ditinggal Sasuke ke Inggris, Naruto berusaha masuk ke universitas ternama dengan nilainya. Nilai yang harus dibawah Sasuke, tidak boleh lebih apalagi menyaingi Sasuke. Pengaruh nama Uchiha memang memuluskannya bisa masuk universitas terbaik, tapi seolah kembali ke masa Sasuke bersamanya. Naruto harus kembali mengalah, Fugaku benar-benar tahu cara bagaimana menjatuhkan manusia sampai ke titik terendahnya.
Kesal dengan berbagai penolakan, akhirnya Naruto kuliah di universitas swasta, di sana dia bertemu dan akhirnya berteman akrab dengan Shikamaru. Sering kali mereka berkeliling kesetiap universitas Ternama untuk menjadi mahasiswa ilegal. Masuk dan ikut belajar padahal bukan mahasiswa disana.
Suatu waktu, universitas yang disusupi Naruto dan Shikamaru mengadakan tes IQ. Mereka sebenarnya berniat kabur, tapi ditahan oleh dosen yang sedang mengajar dikelas yang mereka susupi. "Aku tahu kalian bukan mahasiswa di sini. Jika tidak ingin kulaporkan, ikuti tes ini" bisik sang dosen. Entah apa yang ingin dia ketahui dari Naruto dan Shikamaru.
Flashback off
"Aku tidak tahu apa maksudmu?" ucap Naruto.
"Jangan pura-pura bodoh, otak jeniusmu bisa dengan mudah lepas dari jerat ini"
"Kau melupakan Sasuke, Shisui."
"Ah Sasuke, jenius bodoh lainnya. Sepertinya ada hal lain yang tidak kuketahui"
Klik. Naruto mematikan panggilan Shisui, ya memang dan itulah masalah pelik yang menjeratnya sampai sekarang. Naruto melajukan Kurama lagi menuju caffe akatsuki.
oOo
Hinata world : ON
Aku bersenandung bersama putri kecilku yang nampak bersemangat ikut bernyanyi dalam mobil menuju rumah kecil kami, di atas caffe akatsuki.
"Mama, bolehkah Hima bermain dengan Dei hari ini di taman belakang?" tanya Himawari mendekap mainan barunya dan seolah sedang berfikir akan melakukan apa dengannya hari ini.
"Boleh sayang" ucapku mengelus surai sewarna suraiku itu.
Aku terdiam saat melihat keluar jendela. Segerombolan orang berbaju Hitam memasuki beberapa mobil. Tidak mungkin! Itu adalah keluarga Hyuuga! Kenapa mereka ada disini? Apa mereka telah tahu tentang aku?.
"Mama!" panggil Himawari melihatku hanya diam. "Buka pintunya" rengek Himawari.
"Maaf Hima, kau masuklah duluan. Mama akan melakukan sesuatu dulu" ucapku mencium kening Himawari dan membuka kunci pintu mobil. Himawari berlari senang memasuki caffe dan melewati para Hyuuga yang baru keluar.
"Cepatlah pergi" doaku tak putus-putus.
Cukup lama mereka menunggu, hingga seorang Hyuuga datang dan masuk ke dalam mobil. Satu persatu mobil itu pergi. Mudah sekali menebak keluarga Hyuuga. Mereka memakai lambang phoenix di sebuah kain yang melingkar atau sengaja ditalikan di tangan kanan.
Aku menghembuskan nafas lega, aku tidak menyangka mereka akan memcariku sampai kemari. Oke Hinata, kau bisa memikirkan jalan keluar dari ini semua. Sekarang, dia harus masuk dan membawa belanjaannya.
Aku baru menutup pintu mobil saat sebuah suara membuatku melompat kaget," Ibu Hima?"
Sial malware! Virus! Aku lumpuh tidak bisa memalingkan wajah apalagi berbalik pada Naruto, Aku yakin Naruto yang memanggilku. Aku masih belum siap! Terpaksa menggunakan cara itu. Aku menjilat jempolku dan menggosokannya dibawah mata tempat maskaraku bertengger cantik, membuatnya agak berantakan dan lipstik super red, muach. Voila.
"Ya?" ucapku bebalik dengan mengerahkan seluruh sisa sendi yang mau diajak kompromi.
HINATA WORLD : OFF
"Astaga!" ucap Naruto segera menutup mulutnya. Mata itu tampak kelebihan arang dan bibir yang seperti baru meminum sekantong darah, merah menyilaukan. "Bisakah kita bicara 4 mata?" tambahnya. Mumpung buruannya lepas dan dia melihat ibu Hima, Naruto nekad ingin bertanya siapa ibu Hima ini?
"Aku harus memasukan barang ini dulu ke dalam rumah, silahkan tunggu saja di caffe" ucap Hinata seformal mungkin. Kemudian mendahului Naruto masuk ke dalam caffe.
Naruto berdiri cukup lama di dalam caffe akatsuki, apa yang dicari Hyuuga-Hyuuga itu? Dan kenapa ibu Hima lama sekali?
"Naruto!" panggil suara memuakan Sakura diambang pintu.
Naruto tesenyum kecut, astaga jangan disini, setidaknya jangan disini. Sakura merangkul leher Naruto mesra, bergelayut manja di sana. Kemudian memiringkan kepalanya dan mencium bibir Naruto yang masih terperangah.
Hinata kembali kelantai bawah, tangannya segera memegang dadanya yang berdenyut sakit. Air diwajahnya menetes ke bawah dagunya, Naruto. Kemesraan itu sudah cukup untuk Hinata mengubur setiap centi harapannya yang terasa dikuras habis. Biarlah Himawari mendapat papa baru dan menjah dari hidup Naruto. Selamanya.
Naruto mendorong tubuh Sakura, "diamlah, ada paparazzi diluar. Mereka terus membuntutiku, untung mobil bututmu ada diluar" bisik Sakura kembali bergelayut manja di leher Naruto.
Naruto tersenyum palsu dan memulai aktingnya lagi. Sebagai kambing hitam. Menggiring Sakura duduk dan mengobrol dengan Sakura seolah mereka begitu dekat dan akur.
Hinata bergegas kembali ke atas, membanting pintu kamarnya cukup keras membuat Himawari dan Deidara menatap pintu kamar Hinata heran. Hinata merosot di depan pintu, dia menyesal membantng pintu kamarnya, bisa saja pintunya rusak? Bagaimana kalau Hinata terkunci dikamar ini selamanya?
Bayangan kepelitan itu tidak bisa menggeser adegan ciuman yang dilihatnya barusan.
Hinata harus bagaimana sekarang? Jiwa malaikatnya terus memgatakan untuk menghilang dari dunia Naruto. Membawa Himawari jauh dari sang ayah dan memberinya gambaran ayah baru. Sedangkan jiwa iblisnya begitu tak berkutik sedikitpun.
"Mama, mama kenapa?" teriak Himawari mengedor pintu kamar Hinata.
"Mama baik sayang, hanya sedikit lelah"jawab Hinata menyeka airmatanya denan kasar.
"Mama biar aku ambilkan ocha ya?"
"Jangan!" teriakku membuka pintu kamar.
Himawari masih berdiri didepan pintu dengan wajah kaget, "mama?". Hinata menggendong tubuh Himawari dan tersenyum, "mama baik-baik saja, Hima"
"Mama nangis," ucap Himawari menaruh telunjuknya di pipi Hinata, terlihat jejak airmata di sana yang luput Hinata seka. "Mama jatuh? Hima juga suka nangis kalo jatuh"
Hinata mengangguk dan airmatanya keluar lagi, Hinata jatuh oleh kenyataan. Dikecupnya pelan pipi Himawari, "nee Hima, Hima mau papakan?" tanya Hinata.
"Papa bakal tinggal bareng kita? Tapi Sarada -nee?"
"Bukan papa Naruto, apa Hima mau papa yang lain?"
Himawari menatap Hinata dengan bibir dan alis berkerut. "Hima mau papa Naruto" ucap Himawari. "Mama harus minum ocha Saso"
"Tidak!" ucap Hinata setengah berteriak. "Mama ingin tidur dengan Hima" ucap Hinata lebih lembut melihat Himawari kembali mengerutkan keningnya.
"Mama, Hima sayang mama" ucap Himawari memeluk leher Hinata,
"Hima, bagaimana kalau papa Naruto tidak bisa bersama kita?"
"Pokoknya papa harus bisa!"
oOo
Hinata dusuk didepan PCnya dan mulai sign in kedalam the world. Sudah lama dirinya tak kembali ke game ini. Yah, lupakan dulu senang senangnya dia harus menghubungi Antkiller dulu.
"Ya Hanabi, ada apa?" tanya antkiller duduk disamping avatar Hanabi.
"Aku tidak bisa lagi mengelola caffe akatsuki secara langsung" voice chat Hinata.
"Oh kau buronan Hanabi" tebak Antkiller.
"Begitulah, bisa kau cari manajer baru? Oh mungkin aku harus pindah juga. Aku mencintai rumah ini" keluh Hinata.
"Oh tidak! Baiklah aku akan tetap menjaga atap caffe akatsuki tetap menjadi milikmu sampai kau kembali" ucap Antkiller.
"Ada projek baru?"
"Tumben kau tanya projek? Biasanya kau malas kalau dikasih job sampingan"
"Ada tidak?"
"Weh, kau sedang dalam kondisi buruk rupanya, akan aku kirim via email jobnya"
Klik. Hinata mematikan PCnya tanpa menutup semua aplikasi yang sedang berjalan. Tapi kembali menyalakan PCnya, membuka sebuah game yang dia sembunyikan dari mata tajam Himawari.
Paradise love. Loading..
Terlihat sebuah karakter pria mengenakan setelan jas SMA, pipinya bersemi merah kemudian dibawahnya muncul teks.
Senpai, aku sudah lama suka padamu.. Apakah kau menerima cintaku?
A. Ya, aku juga suka padamu
B. Aku ingin Berteman denganmu dulu
Hinata mengklik pilihan A, kemudian terjadi dialog cukup panjang,
Yaa senpai kau adalah milikku, aku mencintaimu. Maukah kau ikut denganku?
Kemana? Kesuatu tempat menarik.
Hinata melihat dirinya di bawa sang pacar menuju sebuah love hotel. Suara desahan terdengar mengalun dari dalam komputer.
Panas dan di bawah sana Hinata merasakan denyutan liar yang menggairahkan. Dia sedang terangsang atau mungkin membangkitkan gairahnya menuju puncak. Sebelah tangannya menuruni meja, menyelinap kedalam kain yang melekat ditubuhnya. Hinata mendesah perlahan, perutnya bergelenyar aneh.
"Kau tidak mau kubantu sayang?" bisik suara Naruto di telinga Hinata.
"Bisa-bisanya aku memikirkan Naruto dalam imajinasi liarku!" gerutu Hinata merapatkan kedua pahanya.
"Aku bisa dengan mudah mengajakmu kepucak" bisiknya lebih sensual, bibirnya berkecap mengoda. Tangannya bergerak menelusuri kulit tangan Hinata. Posisi Hinata benar-benar tak menguntungkan, dia sekarang duduk dipangkuan Naruto yang terus menaikan gairahnya.
"Kau sudah bahagia dengannya bukan?"
"Tapi kau tak bahagia di sini" ucap Naruto membawa tangannya menelusuri puncak dada Hinata, terasa keras dan kenyal.
Hinata mendesah, Naruto meremas kedua dadanya, merangsangnya dengan ahli. Tangan-tangan nakal itu naik ke leher Hinata dan memiringkan kepala Hinata, mengecap rasa leher Hinata dengan bibir panas miliknya.
"Ah, hentikan" bisik Hinata hampir tak terdengar, tubuhnya bergerak tak nyaman namun terasa nikmat.
"Aku akan memuaskanmu malam ini, maukah kau?"
"Teruskan!" bisik Hinata, nafasnya mulai berat diiringi keringat yang menembus pori-pori kulitnya.
"As you wish, my princess" ucap Naruto mencium sekilas pipi Hinata.
Tangan nakal Naruto bergerak menembus dress gaun malam milik Hinata. "Kau pintar" bisik Naruto mengelus milik Hinata perlahan. Daerah itu sudah tak lagi berpelindung.
Hinata semakin merapatkan pahanya, menekan sensasi gairah dari tangan Naruto yang terus bergerak keluar-masuk, desahannya terus mengalun. "Nggh" desah Hinata dengan tubuh tegang. Naruto baru saja memasukkan dua jarinya secara tiba-tiba.
Perlahan kedua jari itu bergerak meraih titik-titik nikmat dalam diri Hinata, membuat Hinata melambung ke puncak gairah, "aku akan- nggh" Hinata meledak dalam kenikmatan sebelum dirinya menyelesaikan kata-katanya, cairan hangat mengalir bersama akhir kenikmatannya.
Hinata terduduk lemas, tangannya basah, dan pipinya basah. Tidak! Ini bukanlah hal yang benar. Hinata harus menghentikan gairah ini, melupakan perasaan di puncak ini. Kenyataannya Naruto tidak bisa dia sentuh apalagi untuk dijadikan milik Hinata seorang.
Bergegas Hinata menuju kamar mandi, membersihkan sisa orgasmenya sendiri, dia tidak bisa bertemu lagi dengan Naruto, selamanya. Himawari akan bertemu ayahnya jika dia sudah mati kelak. Tidak sekarang, tidak ada yang boleh mengambil putri kecilnya dari pelukannya.
"Aku akan melihat seberapa jauh Hyuuga mengetahui tentangku" ucap Hinata.
Naruto world : ON
Aku masih melihat mereka, Hyuuga itu. Berkeliaran menanyakan dan menunjukan sebuah foto ke orang yang duduk dihadapan para Hyuuga itu. Mereka mengangguk dan mengambil foto itu.
Aku mendekat dengan pura-pura mengambil tempat duduk tak jauh dari meja mereka.
"Aku mau dia kembali hidup-hidup"
"Tapi akan sangat sulit mencari setelah bertahun-tahun bagaimana kalau dia merubah wajahnya?"
"Jika berhasil aku akan menambah uangnya, bagaimana?"
"Ehem" suara nada batuk tertahan disampingku membuatku teralihkan. Surai indigo yang diikat ekor kuda, seragam SMA dan sebuah ponsel dengan silikon pelindumg tokoh anime final fantasy.
Aku teringat seseorang! Pokoknya aku ingat siapa dia? "Ha-hmmp" perkataanku dibungkam Hanabi.
"Sstt jangan panggil namaku di sini" bisik Hinata mengunci leherku. Sekali gerakan dan leherku akan seperti ranting patah.
"B-b-baik" ucapku pelan. "Kenapa kau ada disini?" tanyaku, Hanabi masih sibuk melihat ke meja lain.
"Aku membuntuti pacarku, dan BANG!" teriak Hanabi tertahan, "aku mendapatkannya"
"Deal" ucap Hyuuga itu.
Tak ada yang bersuara, aku ataupun Hanabi. Gadis itu begitu serius melihat ke depan, yah aku juga lihat sepasang muda mudi yang sedang makan siang sembari bercanda.
"Kau tak apa? Kenapa tak putus saja sepertinya mereka sangat cocok" saranku. "Pria di dunia ini tak hanya dia sajakan?"
"Ya kau benar. Aku akan melupakannya dan mencari pengantinya" jawab Hanabi dengan suara yang terdengar datar dan sangat dingin. "Aku pergi, dan tuan zombie terima kasih"
"Oh, ya ya jaa"
Aku melihat Hanabi melewati pintu tanpa menoleh ke belakang, langkahnya terburu-buru dan hampir menabrak pintu dihadapannya.
Aku segera mengambil ponselku dan mengirim pesan pada sasuke. Tidak ada satu menit aku mendapat balasan dari Sasuke, "aku akan menyerahkan tugas selanjutnya pada Shisui."
Hah? Apa? Hanya begitu? Tidak ada kata terima kasih? Gelap sekali.
"Hizashi menginginkan wanita sialan itu hidup-hidup. Ah, kenapa kita harus mencarinya sekarang? Padahal Hyuuga Hanabi sudah mati" keluh salah satu anak buah Hyuuga.
Hyuuga? Hanabi? Aku memejamkan mataku sejenak dan aku merasakan gelombang memory menyerbu dan menyeruak dari dalam otakku sekali lagi.
"Tolong jaga gadisku, namanya Hyuuga Hanabi"
"Sasuke! Kau harus kembali. Gadismu akan dijodohkan dengan orang lain"
"Sasuke aku melihat lebam dimata kirinya dan tangannya seperti terbakar, aku tidak bisa mengerahkan anak buahmu"
"Sasuke apa kau tidak ingin melihatnya lagi!"
"Aku melihatnya terpincang-pincang, Sasuke kembalilah"
"Sasuke! Dia pingsan, aku membawanya ke rumah sakit! Dia mungkin tak akan selamat"
"Sasuke! Sasuke!"
"Sasuke dia... Meninggal"
Aku bernafas dengan cepat, paru-paruku terasa menyempit. Sebagian aku telah ingat. Dimana Sasuke menyuruhku menjaga gadisnya dan saat pemakamannya. Memory ini jauh lebih lengkap, aku yang salah. Ie! Aku sudah melaporkan apapun dan menyuruh Sasuke pulang. Aku segera meninggalkan tempat itu. Tidak mungkin! Aku mengerang kesal, memukul roda kemudi dan menghantamkan kepalaku sendiri ke sana, Bodoh! Bodoh! Sasuke ayam kau bodoh.
Naruto world : OFF
"Hinata! Kenapa kau bisa bertemu dengannya lagi?!" Gerutu Hinata menyendok es krimnya dengan rakus. "Aku sudah mendapatkan izinnya, Naruto. Oh, aku apa aku akan sanggup tak melihatmu lagi seumur hidupku" bisik Hinata.
"Mama, ayo ke kebun binatang" ajak Himawari menaiki kursi makan di samping Hinata.
"Hmmm"
"Kalau Hima sedih, mama suka ajak Hima jalan-jalan. Mama sedang sedihkan? Ayo ke kebun binatang bareng Hima"
Hinata terdiam sejenak, bukan ide yang buruk. Kepalanya mengangguk perlahan, Himawari sampai memekik saking senangnya. Gerbang itu di hiasi patung gajah di samping kanan-kirinya.
"Mama ayo!" teriak Hanabi senang.
"Pelan -pelan Hima! Bukannya mama yang sedang sedih?"
"Eh? Hehe." Himawari segera kembali dan mengandeng tangan Hinata, "ayo, hari ini mama yang tentukan mau lihat apa"
"Sebelum itu, pakai syalnya dulu ya" ucap Hinata sembari berjongkok memasangkan syal merah di leher Himawari.
"Bukankah ini syal yang diberikan papa? Aku mencarinya kemana-mana" ucap Himawari terkejut dan mengosokkan ujung panjangnya ke pipinya.
Bibir Hinata tersenyum kecut. Kebohongan lainnya yang Hinata buat, "nah ayo" ucap Hinata mengandeng tangan mungil itu dan menelusuri setiap sudut kebun binatang.
"Ah cape" ucap keduanya bersamaan dan duduk di salah satu bangku yang disediakan. Hinata teduduk tegap. Tidak mungkin, itu pria kemarin yang disuruh Hyuuga mencarinya. Jadi jelas sudah dia sudah ketahuan.
"Hima bisa belikan mama minum" ucap Hinata.
Himawari segera berlari ke mesin penjual. Hinata segera membuka kotak riasnya. Dengan sangat singkat Hinata berdandan dengan lipstik menyala, pipi tebal bedak dan lensa kontak emerald, tak lupa menyanggul rambutnya dengan jepitan norak.
"Aku tadi melihatnya" ucap mereka tepat di hadapan Hinata yang sedang duduk.
"Sial dia menghilang lagi" gerutu yang lain.
'Kalian fikir akan mudah menemukanku huh? Cih mati saja kalian' batin Hinata.
Himawari menekan minuman favoritnya dan menunggu sesaat, telinganya mendengar suara papanya yang dia ingat baik-baik. "Papa"
"Nah putri Sarada, sekarang ingin kemana?" tanya Naruto pada Sarada yang sedang menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Dress yang digunakan Sarada bergerak gerak mengikuti tubuhnya yang tak mau diam. Dia sedang berfikir, mencoret daftar binatang yang telah dia susunnya dalam otak. "Ayah, harimau dulu atau singa dulu?"
"Hmm bagaimana kalau kita makan dulu"
"Singa atau Harimau?"
"Makan"
"Ayah!" ucap Sarada kesal, pipinya menggembung kesal dengan warna merah.
Naruto tertawa, kemudian mencubit hidung mungil Sarada. "Anak ayah ngambek nih, Sarada belum makankan sejak pagi?"
"Mama bilang harus kurus dan cantik"
"Iya kurus, tapi harus tetep makan, ya"
"Baiklah,"
Botol jus kaleng itu menggelinding nyaring kearah Naruto. Keduanya langsung melihat botol itu, dan tak melihat siapapun di sana.
Himawari berlari sekencangnnya menuju tempat sang mama berada. Papa sudah janji akan membawa Himawari ke kebun binatang, tapi kenapa Sarada-nee yang diajak papa ke sini? Kenapa papa tidak punya waktu untuk Himawari? Kenapa papa tak bisa menepati janjinya. Mama, Hima benci papa!
"Mama!" teriak Himawari langsung mendekap tubuh Hinata yang heran melihat putrinya berlari dengan berurai airmata.
"Hima ada apa? Kenapa kau malah menangis?" tanya Hinata mengelus tubuh putrinya, melihat sekujur tubuh Himawari dan bernafas lega ketika tak mendapati luka di tubuh mungil itu.
"Tadi ada suara Harimau yang mengaum, Hima takut jika harimaunya lepas" ucap Himawari terbata, "mama ayo pulang" pinta Himawari.
"Tapi Hima... Kau suka disini kan?"
"Hima tidak mau kesini lagi. Mama ayo pulang" desak Himawari.
Hinata menggendong tubuh Himawari dan berjalan ke gerbang keluar. "Hima" gumam Naruto melihat Himawari digendong mama Hima keluar kebun binatang. Sekilas tatapan Naruto bertemu dengan tatapan Himawari yang langsung menyembunyikan wajahnya.
"Ayah ayo" ucap Sarada menarik tangan Naruto.
Hinata world : ON
Aku menatap putriku yang terlihat murung sejak kembali dari kebun binatang. Dia duduk diayunan taman belakang dengan wajah sedih.
"Hima sayang, ada apa? Kau terus sedih sejak kembali dari kebun binatang? Apa Hima tak mau cerita sama mama?" tanyaku duduk diayunan sebelahnya.
Himawari hanya menggeleng pelan, "Hima hanya sedih mama" jawabnya.
"Ada yang bisa mama bantu?" tanyaku lagi.
Kembali kepala kecil itu menggeleng, "tidak apa-apa"
Aku malah semakin curiga, sebenarnya ada apa dengan putriku. "Mau ketemu Jin-chan?" usulku.
"Mama! Onii-chan sedang liburan ke hokkaido dengan paman Sai"
Oh ya benar! Aku sampai lupa akan hal itu. Apa-apa yang harus aku lakukan kalau begitu? Suara ponsel mengajakku kembali ke alam nyata, aku segera mengangkat panggilan dari Shino. Aku meminta bantuannya menyelidiki apa yang Hyuuga itu cari.
'Hyuuga itu mencari Hinata.' ucapnya tanpa basa basi.
"Sejauh apa yang mereka tahu?"
'Mereka mencurigaimu sebagai Hinata'
Damn it! Bagaimana ini? Mereka sudah sejauh ini, sial! Bajingan brengsek itu harus dilenyapkan. Aku harus bersiap lebih dulu sebelum mereka sampai padaku.
"Hanabi? Kau oke?" tanya Shino.
'Tidak pernah sebaik ini, ada panggilan lain. Terima kasih informasinya"
'Tidak masalah'
Aku mengangkat panggilan lain dari nomor tak dikenal. "Moshi-moshi?"
oOo
Naruto berjalan ke caffe akatsuki keesokan harinya. Melihat gadis kecilnya berjalan pulang dengan wajah tertunduk. Astaga! Tanpa sadar Naruto mengakui Himawari sebagai anak kandungnya, meski ingatan tentang ibunya begitu samar dan Naruto enggan pusing karena hal itu, ada yang lebih merepotkan dibanding dengan wanita, yaitu Sasuke.
"Hima" panggil Naruto.
Himawari berhenti sejenak mendengar panggilan papanya. Wajahnya sedih, papa hanya sayang Sarada-nee, papa hanya punya waktu buat Sarada-nee, Sarada-nee, Sarada-nee. Himawari benci keduanya.
"Hima, mau ayah traktir minum jus?"
"Aku benci papa!" teriak Himawari.
Tertegun, hanya itu yang bisa dilakukan Naruto. Apa katanya tadi? Benci papa?
"Hima apa yang terjadi?"
"Papa bukan papa Hima lagi!" teriak Himawari sekali lagi sebelum berlari masuk dan mendahului Naruto,
Tanpa ragu Naruto segera berlari mengejar Himawari kedalam caffe, "apa yang kau lakukan pada putriku?" suara dingin menyeruak kedalam telinga Naruto.
Hinata berdiri dihadapan Naruto, keduanya saling bertemu tapi dengan kondisi di luar kendali. "Aku hanya memanggil dan mengajaknya makan siang"
"Tidak ada yang boleh menyakiti putriku" desis Hinata
"Dengarkan dulu aku! Aku tidak melakukan apapun padanya"
"Aku akan beritahu kenyataannya, jadi jangan menemui putriku lagi. Dia hanya putriku, ayahnya sudah mati. Maaf karena dia telah menganggumu"
Naruto hanya mampu menggerakan bibirnya tanpa suara. Ini terlalu mendadak, terlalu tidak masuk akal. Himawari sedang menangis dalam dekapan seorang pelayan yang menatapnya dengan tatapan membunuh.
Naruto fikir Naruto benar-benar ayahnya? Dia bahagia menemukan gadis manis yang menggemaskan, memanggil Naruto dengan sebutan papa. Bercerita, tertawa. Apalagi yang Naruto harapkan? Sebentar lagi, dia akan bebas dan dia memiliki tujuan sekarang. Tujuan untuk memiliki Himawari.
Naruto tidak percaya pada perkataan ibu Himawari, nenek sendiri yang mengatakan Himawari jelas-jelas putrinya. Mata itu terhubung dengan darah Namikaze milik Naruto.
Surai indigo Hinata tergelung rapi di sisi kepalanya, kacamata berbingkai mungil bertenger dimatanya, Naruto masih menatap Hinata, mengingat siapa sebenarnya ibu Himawari ini.
"Ayo Hima, kau tidak boleh ada di rumah hari ini"ajak Hinata meraih tubuh mungil putrinya, dan melesat dengan sedan putihnya meninggalkan caffe akatsuki.
"Maaf Ino merepotkanmu lagi, aku akan menitipkan Himawari di tempatmu" ucap Hinata saat orang yang dihubunginya mengangkat telpon.
'Tidak masalah Hinata. Dia putriku juga' jawab Ino,
Helaan nafas panjang terdengar dari bibir Hinata. Himawari tertidur di samping kursi kemudi. "Apa yang terjadi padamu Hima? Astaga, kenapa ini terjadi padaku! Aku hanya ingin bahagia bersama keluarga kecilku" ucap Hinata.
"Mama?" gumam Himawari saat membuka matanya. Terlihat bangunan yang menjulang tinggi di tepi jalan.
"Kita akan segera pindah kemari, sayang" ucap Hinata. "Kau juga akan sekolah di sana" tunjuk Hinata pada bangunan yang berada tak jauh dari bangunan yang menjulang tinggi itu.
"Onii-chan?"
"Kita akan ke sana sekarang. Mama akan bilang pada jin-kun" jawab Hinata mengelus surai Himawari pelan. "Sekarang hanya akan ada Hima dan mama saja, hanya kita berdua"
oOo
Mobil Hinata berhenti di daerah perumahan elit, sebuah rumah nampak ramai sedang mengadakan pesta di halaman depan, pesta yang di penuhi wanita berbaju terkini dan berhias emas berlian.
"Miss perfect, here come here" teriak seorang dari tempat duduknya.
Pakaian Hinata terlihat paling sederhana, dengam sebuah baju turtle neck dan jeans warna senada, "ada apa dengan pakaianmu, miss?" ucapnya dengan nada mengejek.
"Aku tidak punya persiapan dengan pesta mendadak ini" ucap Hinata santai.
"Oh maafkan aku miss. Aku terlalu mendadak memberi tahumu kemarin? Masih ada 24 jam untuk sekedar membeli baju bermerek."
Bola mata Hinata berputar malas. Dia hanya sedang formalitas semata datang ke pesta ini.
"Lupakan itu, terima kasih atas bantuanmu kepada suamiku. Nikmatilah pestanya sesuka hatimu"
"Kurang ajar!" teriak suara nyaring tak jauh dari Hinata. "Apa kau punya mata?! Ini gaun yang tidak akan pernah kau bisa ganti dengan gajimu, tolol" hinanya lagi.
Tubuh Hinata menyeruak di antara wanita yang menonton pertunjukan si kaya dan si miskin di hadapan mereka. Tentu saja si miskin tidak akan melawan meski harga dirinya dinjak-injak.
"Maaf nyonya"
"Apa kau bilang? Suaramu kurang jelas" ucapnya mendorong kepala si pelayan dengan ujung heels sepatunya.
Bisikan ibu-ibu penggosip mulai santer terdengar di telinga Hinata. Ayolah ini seperti hukum alam memakan dan dimakan.
"Perangainya buruk sekali"
"Dia memang selalu seperti itu"
"Membosankan" ucap Hinata meninggalkan tempat keributan.
"Miss, mau ikut arisan?" tawar si pemilik pesta.
"Ada keributan di sana" ucap Hinata menghampiri mereka.
"Ah, abaikan saja. Dia memang seperti itu. Kalau saja bukan istri kolega suamiku, sudah kuusir dia" ucapnya setengah berbisik.
"Berapa yang harus kuberi?" tanya Hinata duduk di salah satu kursi.
"Masukkan saja namamu" ucapnya.
Mereka terkikik pelan, sembari mengocok tabung berisi nama mereka. "Siapa yang dapat ya?" goda si pengocok tabung.
Terdengar keluhan dan nada semangat merespon kata-kata si pengocok. Sekilas Hinata melihat pemuda yang sedang duduk tak jauh dari meja mereka. Menatap dengan seringai kearah grup arisan. Rambut peraknya tersisir rapi kearah samping, wajahnya tidak bisa di dilang tidak rupawan. Senyuman tersungging dibibirnya kala pemenang telah diumumkan.
"Miss! Miss perfect"
"Hah? Apa?"
"Kau menang,"
"Aku? Lalu apa hadiahnya?"
"Aku" suara pria tepat di telinga Hinata begitu mengoda. Nafas hangatnya menerpa kulit Hinata.
Oh Tuhan, Hinata baru sadar. Ini adalah arisan yang berbeda dari biasanya. Hinata tersenyum kecut, pria itu menempel di samping Hinata sepanjang waktu. "Kau tidak penasaran dengan namaku?" tanyanya menarik pinggang Hinata.
"Oh tidak sama sekali" seru Hinata dengan nada risih.
"Kau sudah memenangkan aku, apa hanya ini yang ingin kau lakukan? Aku akan bersamamu sampai pagi menjelang esok hari"
"Aku hanya kebetulan menang. Aku membebaskanmu hari ini juga"
"Kau wanita yang menarik" bisiknya. "Aku Kakashi, senang bertemu denganmu"
Hinata membebaskan diri dari Kakashi dengan kesal, dia tidak tertarik pada bocah menggelikan ini. Dia tampan, sangat tampan malah, lantas kenapa? Hinata tidak suka padanya. Cara merayunya dan bisikannya yang menggoda.
"Kau keras kepala miss" ucap Kakashi menarik tangan Hinata dan mendaratkan bibirnya di bibir Hinata. Melumat bibir Hinata dengan ahli.
Lutut Hinata terasa lemas, tangan Kakashi melingkar di pinggang Hinata. Menahan tubuh mungil itu agar tidak terjatuh. "Bagaimana?" ucap Kakashi menjauhkan wajahnya.
"Kau sial-nggh" Hinata tak sanggup menahan desahannya saat Kakashi menyerang lehernya. Alih-alih menahannya, tangan itu meremas pantat Hinata.
Mata wanita lapar menghujani mereka yang masih berciuman di tengah pesta. "Kau terlalu berani di tengah pesta seperti ini" ucap Hinata mengalungkan tangannya di leher Kakashi. Jika dia ingin sebuah permainan maka Hinata akan mengikutinya.
"Karena aku tahu kau seorang single mom"
oOo
Apartemen Naruto terletak dikawasan selatan, apartemen sederhana dengan dua kamar. Dengan lelah tangan Naruto memasukan kunci kedalam lubangnya. Terlalu pagi untuk pulang.
Naruto tidak bisa melupakan wajah ibu Himawari. Wajah itu begitu dewasa, tegar dan mengingatkannya pada orang yang baru diingatnya akhir-akhir ini. Pakaian berserakan di lantai. Dua pakaian berbeda jenis, suara deritan ranjang yang menggila.
Pintu kamarnya terbuka perlahan, kamar kedap suara miliknya sangat membantu menghilangkan suara gila di luar sana. Terkejut, Sarada sedang meringkuk diranjang miliknya. Tertidur pulas memeluk teddy bear coklat yang melebihi tinggi badannya sendiri.
"Sayang, apa kau benar-benar tidur?" ucap Naruto membelai surai Sarada pelan.
Sebuah gelengan kecil diberikan Sarada. "Sarada mau tidur sama papa, tapi mama bilang sarada harus tidur sama ayah" ucapnya parau. Sepertinya habis menangis.
"Apa Sarada tidak suka tidur sama ayah?"
"Sarada juga kangen papa"
Naruto berbaring di samping Sarada setelah menyingkirkan teddy bearnya. Sarada segera mendekati Naruto dan bergelung manja. Tangannya memeluk tubuh Naruto, mencegah pria besar ini kabur.
"Sarada, ayah dan papamu cuman satu" bisik Naruto, "dia adalah Sasuke"
"Lalu ayah Naruto siapa Sarada?"
"Hanya seseorang yang sementara menjagamu"
"Tapi Sarada sayang ayah, mama mungkin tidak sayang tapi Sarada..."
"Maukah kau janji sama ayah? Ayahmu dan papamu adalah Sasuke. Kau harus ingat ini kelak"
"Hm?"
'Ingat saja"
Matahari pagi menyelinapkan cahayanya di sela-sela gorden putih kamar Naruto. Membuat Sarada terusik dari tidurnya. Membuka mata perlahan. "Ayah?" panggil Sarada tak mendapati Naruto di sampingnya.
Kaki kecil Sarada berjalan keluar kamar. Semua sudah rapi dan berkilauan. Naruto sedang menyiapkan sarapan dengan apron ungu menempel di setelan kerjanya.
"Nah minum susumu ya Sarada" ucap Naruto menyodorkan gelas di tangannya.
"Mama mana?" tanya Sarada mengucek matanya.
"Sudah berangkat"
"Papa Sasuke?"
"Selamat pagi sayang" ucap Sasuke mencium bibir mungil Sarada dan menggendongnya.
Naruto bersandar di dekat wastafel, melihat ayah dan anak yang akrab itu, wajah Sasuke terlihat memendam sesuatu. Beberapa kali dia terlihat melamun sambil bermain dengan Sarada.
"Oh baiklah aku menyiapkan Sarapan untuk kalian berdua juga" ucap Naruto menaruh piring di atas meja makan.
Keheningan menyapa meja makan, Salah satu peraturan keluarga Uchiha. Tidak boleh ada suara di atas meja makan. Sarada dengan semangat memakan sarapannya, "pelan-pelan sayang" pinta Sasuke mendahului Naruto.
Rasanya ada yang hilang dari diri Naruto sekarang, putri kecilnya yang sesungguhnya. Himawari, nama yang dia suka. Sarada mungkin akan memiliki nama itu, jika Sakura memilih nama darinya. Tunggu, Himawari dan Sarada adalah nama yang dulu menjadi opsi nama Sarada. Apa kebetulan belaka?
"Aku berangkat. Paay papa" teriak Sarada berlari menuju lift menyusul pengasuhnya yang lebih dulu masuk lift.
Pintu tertutup perlahan. Suara benda jatuh dan erangan terdengar dari dalam apartemen Naruto.
Naruto world : ON
Aku menatap nanar Sasuke yang berdiri menjulang di depanku. "Ada apa?" tanyaku berusaha mengabaikan rasa marah akibat pukulan Sasuke yang tiba-tiba.
"Kenapa kau biarkan wanita itu selingkuh?"
Shisui keparat. Dia pasti yang telah mengatakankannya pada Sasuke, "mana kutahu" Sasuke dan rasa cemburu adalah kombinasi yang paling buruk untuk dihadapi.
Sebuah kepalan tangan kembali menghantam tubuhku. "Ck, aku tidak mengerti padamu Sasuke, kau marah saat dia selingkuh dan kau juga marah padaku karena memuaskannya. Lantas apa yang harus kuperbuat agar wanita itu tetap setia padamu? Ie harusnya apa yang kau-"
Lagi aku dihajar Sasuke ayam ini, oke baiklah semua adalah salahku. Mata Sasuke menatap tajam padaku, ingin mengatakan sesuatu tapi tak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. Bibir itu terkatup rapat dan berbunyi dari gesekan gigi-giginya.
"Kau bodoh Sasuke, cepatlah lepaskan aku dari semua ini. Aku akan membayar setiap sen yang kau keluarkan untuk hidupku" ucapku memecah kesunyian.
Sasuke hanya berdehem, "katakan sesuatu!" teriakku tak tahan.
"Tak akan semudah itu, aku tak butuh uangmu" ucap Sasuke datar. "Aku mulai berfikir kalau Sarada bukan putriku"
Aku menerjang Sasuke, dan bersiap menghantamkan kepalan tanganku ke kepalanya. Sadarlah! Sialan sekali Sasuke sampai membawa Sarada di tengah kerumitan hubungan mereka. Aku tidak bisa memukul Sasuke, cih kalau dia terluka maka orang pertama yang dicari Fugaku adalah dirinya.
"Sarada adalah putrimu! Kalau kau sampai meragukannya sekali lagi. Aku pastikan kau tidak akan bertemu dengannya seumur hidupmu" ancamku.
"Dia anakmu kah?"
Aku berdiri dengan amarah yang mencapai kepalaku. Tidak! Aku harus tenang, Sasuke bisa selicik ayahnya, jika aku bilang nama anakku dan Sakura, Sasuke bisa melakukan apapun. Tindakan dan perkataan Sasuke harus dicerna dengan sungguh sungguh.
"Terserah padamu, aku muak padamu" ucapku meninggalkan apartemenku sendiri.
Sakura! Apa yang harus aku lakukan pada wanita itu? Dia tidak tahu keberuntungan menjadi nyonya Uchiha. Kelakuannya semakin menjadi akhir-akhir ini. Bodo amat, aku lebih baik membeli pakaian dulu. Kulihat ada sedikit noda darah pada kemejaku, aku benci bau darah.
Dengan cepat aku memarkir Kurama dan masuk kedalam mall. Tanpa perlu waktu lama aku sudah mendapat pakaian yang aku inginkan. Tak sengaja aku kembali melihat Hyuuga yang sempat aku buntuti kemarin, mereka sepertinya tengah mengikuti seorang gadis, itu Hanabi bukan?
Hanabi berjalan santai, tak menyadari para Hyuuga yang membuntutinya dari belakang. Aku mengikuti mereka hingga Hanabi di pepet di tempat yang cukup sepi.
"Lepaskan! Astaga siapa kalian" teriaknya panik.
"Ikutlah dengan kami. Hanya sebentar, kami tidak akan menyakitimu" ucap salah seorang diantara mereka.
"Siapa kalian!? Aku tidak mau! " ronta Hanabi berusaha melepaskan diri.
Aku segera berlari dan memukul mereka, menarik pergelangan tangan Hanabi dan membawanya berlari. "Ah Tuan Zombie" ucap Hanabi kaget.
"Kau tahu siapa mereka?"
"Siapa?"
"Mereka sedang mencari orang yang mirip denganmu"
"Tidak mungkin!"
Aku mengerem mendadak dan masuk ke dalam gang sempit, aku memeluk tubuh Hanabi erat di depanku dengan nafas terengah. "Semoga kita aman di sini" ucapku tanpa sadar.
Terdengar suara tawa kecil dari bibir Hanabi. Aku mengerutkan kening, kenapa bocah ini malah tertawa?
"Maaf, habis kita seperti sedang main game sih! Namanya run run run"
"Jangan bercanda! Kau dalam bahaya"
Bibir Hanabi mengerucut tajam, kemudian menyeringai, "apa aku ini berbahaya?"
"Bukan kau tapi mereka!" teriakku frustasi.
"Kau sengaja melakukan ini tuan zombie? Astaga kau tinggal bilang jika ingin mendapatkanku"
Astaga! Hanabi terlalu polos untuk ini semua. Aku harus bagaimana?
"Kau menghawatirkan aku atau orang yang mirip denganku?"
"Apa?"
"Hanya bertanya,"
Naruto world : OFF
Hinata tidak bisa membuang waktunya di sini. Naruto merusak hampir semua rencananya. "Kau mau tubuhku? Aku sudah biasa melayani para gamers yang impoten dan berhasil orgasme" ucap Hinata mengangkat rok selututnya.
"Astaga Tuhan! Kau masih kecil Hanabi!" teriak Naruto menahan tangan itu selama mungkin di bawah sana.
"Aku baik-baik saja asal kau mau melepasku" ucap Hinata.
"Mereka jahat Hanabi!"
"Mereka bukan mencariku! Mereka mencari orang yang mirip denganku" ucap Hinata bernada kesal.
"Terserah kau saja, aku tidak tanggung jawab kau ditangkap mereka"
"Tenang saja, orangtuaku akan melapor pada polisi jika itu terjadi" ucap Hinata mendorong tubuh Naruto menjauh, 'maaf. Ini urusanku yang akan aku selesaikan sekarang' batin Hinata berlari menjauh.
Naruto menatap gadis keras kepala itu, kenapa juga dia harus khawatir. Dia sudah Naruto peringat kan? Tapi tubuh Naruto mengikuti gadis itu sampai di luar mall. Hanya memastikan dia pulang dengan selamat.
Brak! Tubuh Hinata di hantam mobil hingga terjerembab ke aspal cukup keras. Naruto merasakan ketegangan dalam dirinya meningkat drastis, "Ha-hanabi!" teriakan Naruto tersangkut dikerongkongannya sendiri. Kakinya kaku, padahal ingin secepatnya membawa gadis itu ke rumah sakit.
Sang pengendara mobil segera keluar bersama rekan-rekannya. Itu Hyuuga! Tubuh Hanabi diseret masuk kedalam bagasi mobil. Dan menghilang di tikungan. Setelah semuanya kembali normal, Naruto baru bisa menggerakan tubuhnya lagi! Hanabi dalam bahaya!
Buk! seluruh pandangan Naruto mengabur, samar terlihta raut wajah Hanabi yang khawatir, dan bibirnya berkata tanpa suara. 'Aku akan baik-baik saja'
.
.
.
,tbc,
.
.
,
Woah masih lama kelarnya.
yang msih ada typo, maaf deh shanaz bukan tuhan. shanaz manusia.. shanaz udah usahain biar ga banyak typo. shanaz stress sendiri kalo baca uploadan "ko bisa masih ada typo sih?"
