"Gin… Gin dan Vodka."
Alis Heiji yang tadinya berkerut karena bingung, mendadak berubah naik. Matanya membelalak sangat lebar. Dengan cepat, ia menoleh pada Gin dan Vodka yang sepertinya masih tidak menyadari keberadaan kami.
Sesaat, aku melihat ketegangan Heiji, tetapi ia sudah bisa mengendalikannya, kurasa. Dalam hal mengendalikan diri dalam kepanikan, Heiji jauh lebih berbakat dibandingkan aku yang masih gemetar saat ini.
Angin berhembus kencang dari pintu yang terbuka sedikit. Gin bergidik pelan menyadari perubahaan udara.
Tiba-tiba, kepalanya mendongak dari koran yang sedang dibacanya. Sorot mata dinginnya langsung tertuju kepada kami. Atau lebih tepatnya kepadaku karena matanya menyipit tajam saat melihat wajahku.
"Kau anak yang berada di kantor Detekif Mouri, kan?" Suara beratnya membelah udara, yang menyebabkan perhatian Vodka beralih dari etalase kepada kami.
Harusnya pertanyaan itu terdengar biasa-biasa saja jika orang lain yang menanyakannya. Tetapi saat Gin yang menanyakannya, rasanya seperti ada sebuah pisau yang mencekat tenggorokkanku.
Tubuhku masih gemetar sedikit, tetapi akhirnya aku berhasil mengatasinya setelah jeda 2 detik dari pertanyaan Gin.
"Ya. Apa kita pernah bertemu?" Tanyaku sok polos.
Aku memasang tampang super polos yang bisa kulakukan. Biasanya, tampang seperti ini mempan untuk mengelabui para polisi di beberapa kasus. Tapi, orang ini adalah Black Oranization, aku ragu mereka mempan dikelabui seperti para polis.
Pikiran itu membuatku bergidik pelan, tetapi aku langsung mengenyahkan pikiran konyol itu.
Aku mendengar Gin mendengus, lalu ia melipat korannya dan melemparkan koran lecek tersebut ke meja terdekat. "Sepertinya begitu. Lupakan sajalah." Gin mengibaskan tangan putihnya ke udara, lalu berdiri dan masuk ke sebuah ruangan di toko tersebut.
Saat Gin meniggalkan ruangan, rasanya atmosfer di ruangan ini terasa lebih ringan.
Sementara fokusku sedari tadi kutujukan kepada Gin, aku tidak menyadari Vodka sedang memperhatikan kami dari tadi. Lalu ia tertawa pelan, lebih terdengar seperti mengejek.
"Hei, kak! Aku tidak menyangka kau segalau itu karena kematian bos. Berapa besar galau mu dalam skala? 10 per 10 kah?" Lalu Vodka berusaha menahan tawa dengan membekap mulutnya.
"Diam kau!" Teriakan Gin menyadarkan Vodka seketika. Dalam sekejap, ia menjadi serius kembali. Lalu ia menolehkan kepalanya kepada kami.
"Hei bocah, ada yang bisa kami bantu? Toko ini masih baru, sehingga obat-obatnya tidak selengkap apotek yang berada di dekat semoga obat yang kalian cari ada disini. Nah, apa yang kalian cari?" Nada bicara Vodka terdengar santai, yang membuatku sedikit was-was.
Heiji dengan cepat mengambil alih percakapan. "Umm, sebenarnya kami disuruh untuk membeli beberapa obat oleh bibi kami, tetapi sialnya kami lupa. Bisakah paman menunggu sebentar sementara kami menghubungi bibi kami?"
Heiji berbohong dengan sangat luwes. Dalam hal berbohong Heiji juga lebih unggul, dan ia bangga oleh fakta tersebut. Kebohongan itu berguna loh, di saat tetentu. Biasanya aku mengejek teorinya, tetapi dalam situasi seperti ini, aku mensyukuri teorinya.
"Ahh, boleh kok. Sembari kalian menunggu, aku akan membereskan toko obat sialan ini. Huh, buat apa sih orang itu mewariskan toko obat butut begini." Vodka menggumam sendiri. 2 kalimat terakhirnya sepertinya lebih ditujukan untuk dirinya sendiri.
Heiji mengambil ponselku dari saku mantelku, lalu memencet pilihan voice recorder. Aku mengerutkan dahiku bingung, tetapi ia hanya berkedip jahil kepadaku.
"Conan-kun, bisa kan kamu meng-LINE bibi? Ponselku kehabisa baterai." Ia kembali berkedip kepadaku. Lalu bagaikan mendapat ilham, aku mengerti apa maksud Heiji sebenarnya.
Aku mengangguk sekali. "Ng, tentu saja."
Aku berpura-pura fokus mengetik pada ponselku. Setelah merasa cukup panjang, aku berhenti berpura-pura dan memanggil Heiji dengan suara yang sengaja ku besarlkan.
"Aku sudah meng-LINE bibi, tinggal menunggu bibi membalasnya saja."
Heiji tersenyum cerah dan dengan tidak kalah kencang suaranya, ia menjawab "Oke!"
Aku menyapu pandanganku mengitari toko obat ini. Toko obat ini sangat berdebu, dengan sarang laba-laba hampir di setiap sudutnya. Lampunya sudah remang-remang, membuat suasana di toko ini menjadi agak horror. Koleksi obatnya tidak terlalu banyak, malah lebih tepatnya sangat sedikit.
"Mmm.. jadi toko obat ini baru dibuka ya?" Heiji bertanya pada Vodka yang sedang asyik membersihkan sarang laba-laba di salah satu sudut. Tanpa menghalihkan pandangan dari sarang laba-laba tersebut, Vodka menjawab."
"Secara teknis sih tidak. Toko ini sudah lama di buka dan sudah lama pula tidak beroperasi. Toko ini milik salah satu kerabat ku, tetapi baru-baru ini meninggal. Dan wasiatnya adalah untuk kembali mengoperasikan toko ini. Aneh kan, heh?" Lalu ia menoleh kepada Heiji dengan ekpresi mengejek.
"Oohh.. berarti toko ini belum lama di buka ya?" Heiji bertanya dengan nada khas anak kecil. Baru 2 minggu tetapi sepertinya ia sudah bisa berkamuflase menggunakan suara anak kecil. Hebat *prok prok*
"Yap. Lebih tepatnya, baru dibuka hari ini. Menyebalkan sekali, saking lamanya toko ini tidak beroperasi, hampir seluruh obat sudah kadaluwarsa sehingga aku harus membuangnya dan memesan yang baru kepada pabrik. Ah, ngomong-ngomong, bibi mu itu sudah membalas LINE mu?" Kali ini Vodka berbicara kepadaku.
Heiji menatapku serius, yang kalau ekspresinya ku artikan sebagai udah-bilang-aja-iya-aku-udah-selesai-tanya-tanya. Dengan sedikit gelagapan, aku menjawab pertanyaan Vodka.
"Ah, baru saja ia menjawabnya. Katanya ia memerlukan obat batuk-pilek dan obat tidur berdosis rendah. Obat yang itu ada?" Aku menjaga nada suaraku agar tetap datar.
Saat aku mendongak untuk melihat ekspresi Vodka, aku melihatnya mengerutkan dahi. Deg. Apa ada yang salah dengan nada suaraku?
"Ada apa paman?" Aku berhati-hati agar sauaraku tidak terdengar gemetar.
"Ah, aku sedang berusaha mengingat dimana letak kedua obat tersebut. Rasanya aku melihatnya tadi. Ah iya! Di bagian sana!" Vodka merasa senang berhasil mengingatnya, lalu dengan langkah sedikit melompat, ia berjalan menuju etalase bagian kanan.
Aku menghela napas lega. Lega karena tidak dicurigai oleh Vodka. Lalu, aku merasakan ada yang mencolek lenganku. Saat aku menoleh, Heiji sudah mengambil ponselku. Ia tersenyum puas karena rencananya untuk mereka percakapannya dengan Vodka berhasil. Ia memencet tombol save lalu mengembalikan ponselku ke tempat semulanya.
"Nah, bocah, ini obat kalian. Totalnya 480 yen." Vodka menyodorkan sebuah kantong plastik kepada kami, yang kutukar dengan uang 500 yen. Dengan cepat, ia memberikan kembalian sebanyak 20 yen.
"Terimakasih sudah berbelanja. Silahkan datang kemari lagi!" Ia tersenyum lebar kepada kami. Aneh rasanya melihat ekspresi senang di wajahnya saat ini karena sebelumnnya aku selalu melihatnya bermuka masam.
Heiji menarik tanganku sangat kencang, yang menyebabkanku sedikit tersentak. Lalu kami berlari keluar dari toko obat itu, yang di sambut oleh terpaan angin dingin yang menusuk kulitku. Aku melirik Heiji yang berlari di sebelahku, lalu agak kaget karena melihat ekspresi bersemangatnya.
"Kok semangat sih? Padahal baru aja ketemu BO"
"Tentu saja! Dengan ini, pertempuran sudah berawal. Yahoooooo!"
Sudah 3 hari berlalu sejak kunjungan kami ke toko obat tersebut. Dan sudah 3 hari pula kami menjadi sangat sibuk.
Sebenarnya bukan kami, tetapi para FBI. Mereka berkumpul di rumahku sejak hari itu yang membuatku rumahku sangat ramai.
Sedangkan tugasku dan Heiji adalah menceritakan kembali keadaan dan situasi toko tersebut. Rasanya kami sudah 20 kali lebih cerita yang sama kepada para FBI.
Shuichi Akai aka Subaru Okiya lah yag terlihat paling bersemangat. Ia merencanakan penyelinapan pada toko tersebut. Ia juga membuat rencana A,B,C dan seterusnya hingga Z.
Sejak hari itu, aku terus menerus menginap di rumah Professor Agasa. Awalnya, Kak Ran menolak karena takut porsi makanku berantakan di rumah Professor. Tetapi setelah kukatakan kalau ada sepupu Haibara yang datang dan membutuhkan teman lelaki, akhirnya Kak Ran mengijinkan. Tapi dengan syarat aku harus menelponnya setiap pagi sebelum berangkat sekolah. Rasanya seperti aku adalah anak gadis remaja yang selalu di khawatirkan oleh ibunya 24/7. Huh.
Aku memencet nomor telpon Kak Ran yang sudah ku hapal di luar kepala, lalu mempelkan ponselku di telinga sambil menunggu telpon tersebut diangkat.
"Halo?"
"Selamat pagi Kak Ran. Lapor, Conan Edogawa akan berangkat sekolah pagi ini. Laporan di terima? Komandan Ran Mouri?" Aku sedikit bergurau kepada Kak Ran.
Aku mendengar Kak Ran tertawa kecil di seberang sana, yang menyebabkanku tersenyum sendiri disini. "Laporan diterima. Conan, kamu nanti pulang kan? Untuk ambil baju ganti?"
"Ah, iya kak."
"Kalau begitu bisa minta tolong? Nanti sore Kazuha datang, tetapi persediaan odol sudah habis. Bisa tolong belikan odol sepulang sekolah sebelum pulang? Aku takut tidak sempat karena nanti sore aku ada latihan karate." Ran menjelaskan panjang lebar.
Aku sedikit tersentak. Kazuha datang. Apa perlu Heiji kuberitahu? Sejak mengecil, Heiji belum pernah sekalipun menghubungi Kazuha. Yah, walaupun aku tahu dia sangat merindukan Kazuha. Lihat saja kelakuannya saat malam minggu, apalagi kalau bukan menatap sendu bulan?
"Halo? Conan-kun? Kau masih disana?"
"Ahh, iya. Nggg, Kak Ran, kalau Nao menginap di rumah boleh tidak. Aku sudah lama tidak bertemu Kak Kazuha, rasanya ingin saja mengobrol dengannya." Aku berbohong. "Kalau aku meninggalkan Nao disini kan, gak enak. Jadi, boleh kan?" Kata-kata ku meluncur dengan sendirinya tanpa bisa ku cegah.
"Tentu saja boleh! Sudah lama aku ingin bertemu dengannya. Sudah dulu ya Conan-kun, sampai jumpa nanti malam. Dan jangan lupa beli odolnya." Klik. Ran memutus sambungan telepon
Aku menutup flip ponselku agak terlalu keras, sehingga Heiji yang berada di sofa ruang tamu rumah Professor menoleh kepadaku. "Ada apa?"
"Nanti malam Kazuha datang." Kataku to the point. Dari sini, aku dapat melihat perubahan sikap tubuhnya. Ia menegang. "L-lalu?"
"Mau menginap di rumah Kak Ran? Untuk melihat Kazuha, tentu saja."
Heiji menunduk menatap lantai. Bimbang. Setelah hening 8 detik, ia menghela napas panjang. Dengan mata terpejam, ia menjawabku.
"Ya, aku ikut."
"Paman, aku pulang." Aku membuka pintu ruangan kantor detektif paman yang hampir setiap saat berantakan.
Di dekat jendela, duduklah Paman Mouri dengan rokok tersulut di mulutnya. Ia mengalihkan pandangannya dari siaran pacuan di televisi untuk melihatku dan Heiji. Kupikir ia akan bertanya siapa bocah hitam di sebelahku, tetapi ia hanya mengangguk dan kembali memusatkan perhatian pada televisinya. Kurasa Kak Ran sudah memberitahukan paman mengenai Nao.
Telepon di meja paman bordering. Paman menggumam tidak jelas sebelum mengangkatnya. Aku dan Heiji duduk di sofa sambil menggigil kedinginan. Aku mendengar suara telepon ditutup dan suara pintu di banting. Tiba-tiba saja paman Mouri sudah berpakaian super rapi muncul di hadapanku. Di sebelahku, Heiji bengong menatapnya.
"Nah, bocah, aku ada pekerjaan. Kalian tunggu disini saja ya. Hmhm inilah resiko menjadi detektif terkenal. Sibuk hampir 24 jam. Hahahaha." Paman Mouri tertawa gila. Kali ini, Heiji meringis.
Masih dengan tawa gilanya, paman Mouri berjalan menuju pintu lalu menutupnya. Lalu kepalanya menyembul masuk kembali. "Pintunya kukunci ya, biar aman." Lalu ia pergi lagi. Dasar aneh.
Aku berjalan menuju toilet untuk buang air kecil lalu keluar dengan cepat. Dari depan toilet, aku melihat Heiji duduk dengan pasrah di sofa. Kutebak, ia sedang grogi abis mau ketemu Kazuha. Aku berjalan menuju tempat cuci tangan dan mencuci tangan dengan bersih. Hehe, gini-gini aku orang yang hijienis loh.
"Conan-kun? Kau ada di dalam? Tolong buka pintunya, aku tidak membawa kunci." Aku mendengar suara kak Ran dari luar pintu. Tetapi karena tanganku sedang basah, aku memberi isyarat menggunakan dagu kepad Heiji untuk membukanya.
Heiji turun dengan pasrah dari sofa, lalu berjalan dengan lambat menuju pintu. Setelah memutar kuncinya sekali, ia membukakan pintu untuk Kak Ran. Baru saja setengah pintu terbuka, ia menjatuhkan tangannya dari kenop pintu. Pintu tersebut membuka dengan sendirinya akibat hembusan angin.
Aku sudah kembali duduk cakep di sofa, dan melihat sosok yang berdiri tepat di depan pintu. Bukan Kak Ran. Kazuha.
Heiji dan Kazuha sama-sama menatap satu sama lain. Ekspresi Kazuha bingung, sedangkan Heiji berdiri lemas di tempatnya.
Rasanya seperti de ja vu. Ingatanku berputar menuju hari pertama pertemuanku dengan Ran. Hampir persis dengan kejadian saat ini.
"Ahh.. ini yang namanya Nao. Ran sudah bercerita banyak tentangmu, katanya kamu sepupunya Ai-chan ya?" Kazuha tersenyum manis kepada Heiji.
"Ah, iya. Ayo masuk, kak. Di depan dingin." Heiji menjawab tanpa menatap Kazuha.
Kazuha menatap Heiji dengan bingung tetapi tetap mengikutinya masuk ke dalam.
"Hai, Conan-kun. Apa kabar?" Kazuha menyapaku dan memberikan high-five.
"Baik sekali! Mana Kak Ran? Rasanya tadi aku mendengar suaranya." Aku celingukan mencari Kak Ran.
"Disini~ Hai Conan. Ah itu Nao-kun. Aku Kak Ran, salam kenal." Ran menjabat tangan Heiji yang lemas. Lalu Ran menatapku. "Tadi aku memungut surat yang berceceran karena tertiup angin. Hei, Kazuha membawa donat dari Osaka loh~" Kak Ran mengacungkan sebuah kotak dan melambai-lambaikannya di udara.
Aku berusaha antusias. "Ah kelihatannya enak! Ayo kita pindahkan ke piring." Aku menarik tangan Kak Ran dan membawanya ke dapur.
Sebenarnya, aku hanya ingin membiarkna Heiji dan Kazuha berduaan. Mungkin itu bisa menenangkan perasaan Heiji. Dan sepertinya usahaku berhasil karena aku mendengar suara percakapan yang samar-samar. Ganbatte Heiji!
Aku mengambil piring dari lemari piring yang letaknya tidak jauh dari sofa. Dari sana, aku mengintip keadaan mereka berdua. Dan hasilnya memuaskan, Kazuha dan Heiji mini sedang asyik mengobrol, dan, yang membuatku senang adalah, keduanya tersenyum.
Aku mempercepat proses pengambilan piring. Saat kakiku sudah hendak meninggalkan tempat itu, aku mendengar perkataan Kazuha yang membuat langkahku batal. Nada suaranya biasa saja tetapi tetap membuatku terkesiap. Aku juga dapat mendengar suara tercekat yang berasal dari Heiji.
Kata-kata Kazuha tergiang-ngiang di telingaku.
"Nao-kun, kamu mirip seperti Heiji Hattori, ya."
To Be Continued~
AUTHOR'S NOTE
UYEAH BO nya udah mulai muncul. Kazuha juga muncul. hihiii
di review, ada yang bilang beda gaya penulisan, hehe keliatan ya?
sebenernya, aku lagi berusaha memperbaiki cara penulisanku. di chapter 1-5, rasanya terlalu singkat jadi kerasa keburu-buru gitu. jadi aku lagi nyoba buat nambahin detail biar gak terkesan keburu-buru. karena aku penulis baru, gaya tulisku masih belom stabil. hiksss gomennnn T^T
menurut kalian gimana?
tapi itu 100% buatanku kok. *kedip kedip* /apasih
ada juga yang saran pertemuan nao sama kazuha. Haha tenang bos, udah kurencanain dari awal kok. yah, walaupun gak persis persis amat sama yang diminta..
udah segitu aja author's note kali ini. kalo kepanjangan mah namanya curhat.
hahaha makasih udah baca cerita akuuuuu ^^
wabyu, -nisnis-
