Tittle : "Ambitious Love"
Chapter : 6/? "Menuju Jepang,Terhambat Kenangan"
Author : otpexperience98
Genre : YAOI,Boys Love,romance,school life.
Rate : M (sesuai alur/plot)
Cast : Xi Luhan,Oh Sehun,Byun Baekhyun,Kim Jongin,Park Chanyeol,etc.
Pair : HUNHAN,KAILU,CHANBAEK,etc,.
Backsound : EXO – El Dorado, Taeyeon – Gemini.
Disclaimer : plot,setting dan hal lainnya dalam fanfic ini murni hasil imajinasi saya. Cast tentunya milik tuhan,bangsa,negara,dan para fansnya(?)
Maaf untuk typo.
(Silahkan cek Q dibawah,jika berkenan. /bow/)
Enjoy,
Otpexperience98
.
.
.
Previous chapter
"Nyonya Kim teman satu fakultasku dulu. Untuk sebuah alasan,mulai hari ini hingga 3 bulan kedepan Jongin akan tinggal bersama kita di rumah ini."
"bolehkah aku tak lagi memanggilmu dengan sebutan senior?"
"ah,lalu kemana saja kau seharian ini? Bahkan tak satupun pesan singkatku yang kau balas."
"a-aku..itu..meninggalkan ponselku di nakas sedari tadi."
"Luhanah..jangan gugup dan takut,aku..tak sama seperti mereka di luar sana."
"astaga,Luhan benar-benar berkencan. Berikan padaku..aku ingin melihat."
"jangan,Baek. Jangan."
"Lu,dia mendekatimu hanya karna keegoisannya semata. Ia sengaja ditunjuk oleh SMU Gyeongsan untuk mengalahkanmu,mengalahkan kita,menjatuhkan harga diri SMU Chungju,tidakkah kau mengerti?"
" terdengar tak asing. Ternyata memang dia,dia si pengganti Kim Minseok."
"Mrs Shin,k-kumohon jelaskan dengan jelas,aku..sungguh tak mengerti."
"Luhan,Sehun bilang ia masih takut untuk mengajakmu berpacaran."
"hey,apa yang kau bilang,hey!Jung Eun Geum!"
"peserta yang akan berangkat ke Jepang dengan score akumulasi berjumlah 500,adalah.."
"Oh Sehun dari SMU Gyeongsan,Seoul."
"Semua terbukti,Luhan."
"hadirin,jangan Lupakan bahwa kami baru menyebutkan satu orang peserta. Langsung saja,peserta selanjutnya dengan jumlah score akumulasi sama, Xi Luhan dari SMU Chungju,Seoul."
"Selamat,Luhanah."
.
.
.
Otpexperience98
Balroom hotel masih terlihat ramai saat panitia selesai mengumumkan peserta yang akan terbang ke Jepang. Masing-masing rombongan sekolah berkumpul untuk memberi anak didiknya selamat dan mungkin juga memberi semangat bagi mereka yang tak lolos.
"selamat Sehun!"
"kau sungguh mebuatku bangga,Sehun."
"hey,berhentilah berbicara seperti orang tua."
"hahaha.." Teman-teman dan guru pembimbing SMU Gyeongsan mengerumuni Sehun dan bersuka cita akan keberhasilannya. Sehun yang juga gembira akan pencapaian yang ia raih membalas semua ucapan selamat tersebut dengan wajah yang ia buat secerah mungkin.
Mimik wajahnya boleh saja gembira,namun Luhan yang mengabaikannya tadi sungguh menapik rasa bahagia di hatinya. Sedari tadi,sejak peserta yang lolos ke Jepang dipersilahkan menuruni podium matanya tak lepas melirik rombongan berseragam coklat caramel di ujung barat ruangan sana.
"Mr Joo,aku izin ke Toilet sebentar." Ia dengan segera berlari ke luar Balroom saat matanya menangkap Luhan yang berjalan menjauhi rombongan SMU Chungju.
Keramaian ternyata hanya terlihat di Balroom hotel saja. Buktinya lorong yang saat ini tengah Sehun lewati terasa amat sunyi dengan penerangan kekuningan khas hotel – hotel bintang lima pada bagian atapnya.
Sehun tak menyangka pemuda semungil Luhan bisa berjalan begitu cepat dan menghilang dari keawasan pandangannya. Ia mulai bingung kemana harus mengikuti Luhan yang tiba-tiba tak terlihat lagi akan berjalan dan menuju kemana.
"hhh..." hembusan nafas mengiringi langkah kaki Sehun. Ia yang pada dasarnya tak tahu seluk beluk Hotel ini masih berakal sehat untuk tidak tersesat.
"lebih baik aku kembali saja,aku akan menghubungi Luhan nanti." Pikirnya. Dan dbalikkannyalah arah berjalannya.
"Hallo?" suara di lorong bagian kanan yang baru saja Sehun lewati mengehentikan langkahnya. Ia seperti mengenal suara yang sepertinya sedang bertelfon tersebut. Langkahnya kembali ia bawa mundur untuk melihat siapa gerangan seseorang itu.
Senyum sehun mengembang saat Luhanlah ternyata pemilik suara tersebut. Kelegaan luar biasa ia rasakan dalam hatinya. Dengan semangat ia berjalan kedepan untuk menemui Luhan yang sedang berdiri membelakanginya.
"Jongin?"
DEG
"darimana..kau mengetahui nomor ponselku?"
"oh?hm..terimakasih." Sehun berhenti melangkah saat mengetahui dengan siapa Luhan bertelfon. Ia sadar mendengar pembicaraan orang lain tanpa izin itu sebuah bentuk kelancangan,namun kakinya enggan untuk berbalik dan tetap berdiri disana,dibelakang Luhan.
"pulang?entahlah,rombogan sekolahku sepertinya akan tiba pukul 5 sore." Sehun masih belum bergeming dari posisi sebelumnya. Seolah – olah menunggu kelanjutan ucapan yang lebih kecil sementara sepertinya disebrang sana-Jongin masih berbicara.
"tidak perlu,kau tak perlu menjemputku,Jongin. Aku akan pulang bersama Sehun." Yang lebih tinggi tersenyum saat mendengar pernyataan Luhan. Bukan,bukannya Sehun merasa menang dari seseorang yang sepertinya mengajak Luhan pulang bersama di sebrang telefon sana. Entahlah,
siapa yang tak senang saat diprioritaskan?
"hm,ta-tapi Jongin-"
"pulanglah bersamaku." Senyum seseorang diruangan itu perlahan hilang.
"ti-tidak,aku akan pulang bersamamu." Luhan meralat ucapannya dengan nada sedikit mendesak pemuda disebrang telfon tersebut untuk pulang bersamanya.
"hm,baiklah. Terimakasih,Jongin." Sehun kembali terseyum. Namun bukan senyum seperti halnya tadi,kali ini berbeda. Tanpa menyempatkan menyapa Luhan ia langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan ke depan,tanpa melirik kembali kebelakang.
TES
Tanpa Sehun sadari,langkah kakinya tersebut terjadi bersamaan dengan menetesnya air mata seseorang yang masih setia menggenggam ponselnya. Tanpa berniat untuk tetap mempertahankan kakinya untuk tetap berdiri,Luhan akhirnya runtuh. Ponsel yang sedari tadi ia genggam tak luput terlepas,dengan terlihatnya notifikasi 'Jongin – Rejected'
TES TES
Air mata Luhan terus menetes dengan intensitas lebih banyak dibandingkan beberapa detik yang lalu. "hhhh...ahh,hiks...hhh hhks" tangisnya-pun pecah.
Tangan berjari lentiknya terkepal,memukul dadanya. Sementara tangisnya belum sekalipun mereda.
"mengapa rasanya sesak sekali hhh,,hkkkss,hhhh..."
"mengapa disaat seperti ini mereka memberitahuku hhhh..hkks"
"aku..."
"aku lebih memilih untuk tidak tahu"
"jika rasanya sesesak ini"
"hhh..hkkss..hh" kulit yang sebelumnya terlihat putih bersih diwajahnya kini berubah memerah. Air matanya terus menetes membasahi pipi dan bulu mata lentiknya. Tangan mungilnya masih setia memukul-mukul dadanya.
Luhan sebenarnya apa penyebab dadanya terasa sesesak ini. Entah karena kebenaran yang baru saja ia dapat, entah ia yang baru saja sengaja membuat Sehun kecewa. Belum pernah ia merasa sesesak ini sejak pertama kali matanya terbuka untuk melihat kehidupan. Namun di tahun ke-17 ini,banyak hal yang tak bisa ia hindari,hingga perasaannya seperti ini.
.
.
Jalanan tak sedikitpun terlihat gulita di hari yang mulai berganti gelap ini. Lampu jalan,lampu kendaraan,berbagai space iklan berukuran besar cukup -bahkan lebih- untuk membuat jalanan benderang dari hulu hingga hilirnya.
Perubahan jadwal di hotel tadi membuat semua rombongan harus pulang sedikit larut. Tak terkecuali rombongan SMU Gyeongsan. Di pukul 7 P.M ini bus oprasional masih sangat ramai dengan nyanyian – nyanyian dan gurauan siswa. Wajah cerah sangat kontras terlihat.
Namun berbeda dengan Subject penyemangat siswa SMU Gyeongsan yang duduk di barisan kursi penumpang paling belakang,Sehun. Ia tampak kurang bersemangat dan memilih untuk melihat jalanan disamping kaca bus.
Sebenarnya bukan sepenuhnya melihat dan memperhatikan apa saja objek di luar sana. ia hanya merasa sedikit lelah. Walaupun tubuh semut berukuran sangat kecil akan tetapi jika terus disakiti ia-pun akan melawan. Begitupun dengan hatinya yang bukan terbuat dari baja.
Si positif terus menyalahkan dirinya sendiri. Dalam hatinya Sehun tak ayal beranggapan sesungguhnya ia-lah yang sesungguhnya egois. Apa salahnya Luhan bertelefon dengan seseorang selain dirinya?lebih jelasnya Kim Jongin,teman serumah Luhan? ia bahkan bukan orang yang membelikan Si sempura itu ponsel.
Namun Sehun tidakklah sesabar itu. karena saat ini inti permasalahan bukan terletak disitu. Jongin bahkan sudah berciuman dengan Luhan. dan pada saat itu Sehun tidak sedikitpun mencoba mengungkitnya,ia diam dan bertingkah seoalah tidak mengetahui apa-apa.
"emm..jadi?apa kau membawanya?maksudku rautan,nona?"
"nona?"
"tidakkah antara pria dan wanita terdapat perbedaan yang sangat signifikan?"
Sehun tersenyum tipis saat memori saat ia dan Luhan berkenalan pertama kali terlintas dalam pikrannya. Ibu Luhan yang begitu dingin,Luhan yang sangat indah saat pertama kali ia menatapnya saat sedang berdo'a,semua menghangatkan hatinya.
Mereka yang hampir berciuman di toilet,tepatnya di hadapan cermin, Sehun semakin tersenyum. Semua sangat indah,saat si mungil bersamanya.
"Oh Sehun!" Sehun menyerngit saat bayangan lain,bayangan yang sangat samar tiba-tiba muncul diotaknya.
"yang terpenting adalah kau sudah menang,Sehun."
"tinggalkan dia!dia tak pantas bersanding bersamamu!"
"Ibu!" kepalanya terasa sangat berat bersamaan dengan bayagan samar itu datang.
"Arrgghhh!" Tangannya meremas rambutnya,seolah menariknya dan menghilangkan sakit menusuk itu.
"Jangan,Sehun!Jangan!" dalam bayangan itu ia melihat dirinya sedang berdiri di tempat tak beratap,diatasnya ia melihat birunya langit tak berawan. Sambil menahan sakit menusuk dikepalanya ia mencoba untuk terus melihat bayangan samar tersebut.
"aarrgghhhh!" kepalanya terasa semakin berat seiring dengan ia yang mencoba melihat bayangan samar yang tiba-tiba muncul di otaknya tersebut. Air matanya tanpa mampu ia tahan mengalir dengan sendirinya seolah ia baru saja mengalami kesakitan emosional yang sangat parah.
Terasa ada sesuatu yang ingin mencoba untuk melepaskan diri,namun disisi lain ia juga merasa ada yang mencoba untuk menahan,mempertahankan sesuatu.
"ia tak boleh berakhir seperti ini!ini bukan salahnya!ia tak tahu apa-apa!"
"istriku!tenanglah!istriku"...
Dua kalimat terakhir terdengar sangat familiar ditelinganya sebelum akhirnya semua terasa sunyi,dan sakit menusuk dikepalanya hilang dengan perlahan. Namun kesedihan jiwa yang baru beberapa saat lalu muncul bersamaan dengan bayangan samar itu sangatlah membekas hingga ke akar,tak menghilang seperti halnya suara dan kesakitannya.
Satu hal,apa yang sebenarnya terjadi?
.
.
"hhhh..." pemuda mungil dengan bulu mata lentik berjalan dengan langkah kecilnya. Sepasang tangannya masih saling bergesekan demi mengilangkan suhu dingin ditubuhnya.
Ia tak menyangka akan sampai disekolah selarut ini,perubahan jadwal karena tambahan acara tadi sebenarnya bukan titik permasalahannya. Ia dengan naluri intuisi kentalnya sudah berhipotesis berapa waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke SMU Chungju.
Bahkan mungkin bukan intuisi lagi. Selama ini intuisinya selalu tepat,apakah tetap pantas disebut intuisi? Namun kali ini,hal sekecil ini,tak mampu ia pecahkan.
Luhan tampaknya melupakan sesuatu –lebih jelasnya belum menyadari. Bahwa segala sesuatu yang terjadi bukanlah hanya bersumber dari teori dan rumus,namun ada hal lain yang ikut berperan didalamnya. Sesuatu yang disebut dengan takdir.
Ponselnya mati. Tampaknya masalah bukan berhenti sampai disini saja. Sampai dirumah nanti ia masih harus menghadapi hardikan orang tuanya karena terlambat.
Trotoar belum sepenuhnya sepi atau mungkin tak akan pernah sepi. Di ibu kota Korea Selatan ini,mustahil transportasi berhenti hanya karena kegelapan malam. Namun bukan sepi seperti itu yang kini Luhan rasakan,jadi..apa?
Luhan menyadari tali sepatunya terlepas dan akan berakibat fatal jika ia membiarkannya. Ia mengehentikan langkahnya dan berjongkok namun tak langsung menalikan tali sepatunya tadi,lampu gapura gedung disebrang jalanan sana menarik perhatiannya.
Gelanggang Olah Raga yang saat itu ia dan pemuda satunya lagi datangi.
Luhan terdiam,tak bergeming dari posisi jongkoknya. Pandangannya berubah sendu.
"keluar kau keparat!"
"lain kali kau harus lebih berhati-hati,Luhan."
"a-apa yang terjadi?Se-sehun?"
CHU~
"a-apapun yang terjadi barusan" "te-terimakasih,Sehun."
TES
Air matanya kembali mengalir sampai kepipinya,bibirnya terkatup rapat tak sedikitpun mengeluarkan suara. Wajahnya yang memerah karena udara dingin semakin memerah.
Dengan perlahan ia bangkit dari posisinya tersebut. Kakinya entah mengapa terasa sangat lemas,ia melanjutkan langkah kecilnya sedikit demi sedikit. Air matanya terus mengalir semakin banyak.
"Luhanah.."
BRUG
Luhan menginjak tali sepatunya yang terlepas. Tangannya menahan berat tubuhnya agar tak terjatuh semakin parah. Kasarnya ubin sudah pasti membuat tangannya terluka.
"hhh..sakit.." tangisannya pecah.
"sakit sekali..hhhh..hiks..hhh"
"Luhan? Luhan!"
"kau baik-baik saja?"
.
.
Pukul 10 P.M
Kediaman Luhan sudah tampak sepi. Tuan dan Nyonya Oh langsung memasuki kamarnya beberapa saat setelah sampai rumah. Sementara penghuni baru di rumah itu belum juga bisa tenang. Luhan yang belum sampai,itu membuatnya gusar.
Jongin telah coba untuk menghubungi Luhan untuk beberapa kali. Namun tak membuahkan hasil. Ponsel Luhan sepertinya mati. Ia ingin menghubungi Sehun untuk memastikan Luhan bersamanya dan baik-baik saja. Akan tetapi ia ingat jelas nomor ponsel Sehun tak ada di list kontaknya.
Tanpa menimbang lebih lama lagi Jongin mengambil mantelnya dan segera keluar dari kediaman keluarga Xi untuk mencari Luhan.
Tempat pertama yang Jongin datangi adalah Sekolahnya,SMU Chungju. tampak sepi dan sunyi,bahkan bus oprasional sekolahpun terlihat sudah terpakir. Itu tandanya rombongan sudah kembali beberapa saat yang lalu. Kemana Luhan?Jongin semakin panik.
Ia berjalan meninggalkan sekolah untuk lanjut mencari pemuda yang perlahan menumbuhkan perasaan dihatinya.
.
Setelah beberapa menit berjalan,Jongin melihat seseorang dengan seragam yang ia kenal seragam SMUnya bersekolah terduduk tepat di trotoar sebrangnya. Dengan hanya sekali melihat ia langsung mengenali siapa pemuda bersurai caramel tersebut.
Luhan.
Yang lebih mungil terlihat kesakitan. Jongin dapat melihat dengan jelas Luhan yang sedang menangis. Jongin seolah mengalami De Javu dengan peristiwa ini.
Mengapa saat aku dibelakangmu kau selalu saja sedang dalam keadaan menyedihkan,Luhan?
"Luhan? Luhan!" Jongin berlari dan dengan segera ikut berjongkok untuk memeriska Luhan.
"kau baik-baik saja?" tangan besarnya refleks memegang pipi kemerahan Luhan. Si sempurna Luhan tampak sangat berantakan. Air mata yang belum mengering,bahkan masih ada yang mengalir. Itu semua berhasil membuat hati Jongin berdenyut.
GREP
Jongin membawa yang lebih mungil kedekapannya. Tangan kirinya mengusap surai Luhan lembut.
"apa sakit?oh?" Jongin bertanya dengan nada lirih.
"..." Luhan diam namun isakannya masih dapat Jongin dengar degan jelas.
"...sakit..."
"ini sungguh sakit.."
"hingga aku ingin mati..sakit sekali..." Luhan berbisik.
Jongin mengerti suasana hati Luhan sedang tidak baik – baik saja. Ia juga mengerti 'sakit' yang Luhan maksud bukanlah 'sakit' secara fisik.
Kedua tangan Jongin memegang pelipis Luhan,dan dengan perlahan ia mengecup dahi Si sempurna dihadapannya. Setelahnya ia kembali membawa Luhan untuk berdiri. Tubuh Luhan terasa sangat ringan,mungkin karena lemas dan kelelahan. Ia berjongkok sampai akhirnya ia menggendong pemuda yang lebih mungil.
"Semua akan baik – baik saja." Jongin berkata sambil melangkah untuk menuju kerumah keluarga Xi.
"semua akan baik – baik saja,Luhanah." Kalimat yang Jongin ucapkan membuat Luhan kembali membawa ingatannya kepada Sehun. Hatinya menghangat saat sehun berkata seperti itu. Luhan mengencangkan pegangannya di leher Jongin tanpa sadar. Kepalanya juga turut ia tempelkan di bahu kanan Jongin dan memejamkan matanya.
"sekarang..sepertinya aku tak lagi menyukaimu."
"bagaimana ini,Luhan?"
"aku..." Jongin berhenti bejalan. Ia menghadapkan kepalanya ke bahu kanannya. Tepat di depan wajah Luhan yang sedang memejamkan matanya.
"kurasa sekarang,"
"aku mulai"
"mencintaimu."
.
.
"apa yang terjadi padanya,Istriku?" tuan Oh yang masih terengah – engah langsung menanyakan kondisi putranya.
"oh?kau sudah pulang?" Nyonya Oh yang tak sadar kehadiran suaminya merasa sedikit terkejut.
"hm,apa yang terjadi padanya?" tuan Oh duduk di pinggiran ranjang putranya,Sehun.
"kurasa ia hanya sedikit kelelahan. Acara tadi sepertinya sangat padat." Tangan lembut nyonya Oh mengusap surai Sehun yang sedang terbaring dan menyingkirkan poni yang menutupi dahinya.
"Luhanah..tunggu." Sehun mengigau.
"oh?kau mendengarnya,Suamiku?"
"anak ini..ck." Tuan Oh terkekeh.
"apa ia sedang bertengkar dengan si cantik Luhan?" Nyonya Oh ikut terkekeh.
"kau baik-baik saja?..maafkan aku perihal teman-temanku tadi,maafkan aku.. tentang pesan lancangku tadi." Sehun masih mengigau.
"kumohon maafkan aku jika aku berbuat salah padamu."
"hiks..hhh..." Sehun mengeluarkan air matanya. Kerigat dingin di pelipisnya terlihat semakin banyak,rambutnya mungkin sudah basah.
"sebaiknya kita tinggalkan Sehun,biarkan ia beristirahat." Tuan Oh mengajak istrinya untuk keluar dari kamar Sehun. Saat selangkah lagi mereka menuju pintu kamar,keduanya diam terkejut saat mendengar igauan Sehun,Putra mereka.
"Yixing...Zhang Yi Xing..."
DEG
Nyonya Oh menggenggam tangan suaminya erat. Begitupun dengan tuan Oh.
"Sehun...Sehunah.." Sehun mengigaukan namanya sendiri.
"Suamiku...A-apa yang terjadi?O-oh?Ba-bagaimana ini?" Nyonya Oh terlihat sangat panik, ia menghadap suaminya,ekspresinya terlihat panik,tubuhnya mulai bergetar seperti ketakutan.
"kita harus membuatnya kembali lupa..oh?ayo..ayo suamiku..ayo!"
"sssttt...tenanglah,kau tidak melupakan apa yang ia katakan dulu kan?" Tuan Oh memeluk Istrinya dan mengusap punggungnya,mencoba menenangkan.
"bagaimana jika ia mengingatnya?ba-bagaimana jika ia.." Nyonya Oh menitikkan air matanya. Sungguh saat ini ia terlihat sangat ketakutan.
"biarlah,biarkanlah..karena ini,mungkin sudah waktunya." Tuan Oh menatap lurus kedepan.
.
.
Keesokan harinya masing – masing sekolah, khusunya SMU Chungju tengah sibuk mempersiapkan segala sesuatu keperluan anak didiknya ke Jepang esok lusa. Dari mulai surat-surat kepentingan administrasi,pasport,bimbingan ekstra ketat,test – test evaluasi,juga fasilitas berupa uang saku. Semua sudah dipersiapkan secara matang.
"Jangan khawatir Nyonya Xi. Kami pastikan Luhan senantiasa selalu sehat disana." Mrs Shin meyakinkan Nyonya Xi.
Saat ini Mrs Shin dan Nyonya Xi sedang berbincang di ruang pertemuan SMU Chungju.
"Sebenarnya aku tidak terlalu mengkhawatirkan keadaan Luhan. Aku yakin anak itu akan baik – baik saja." Nyonya Xi menyesap secangkir teh hangatnya.
"aku tak mengenal kesempatan kedua. Ajang ini harus menjadi ajang kesekian kalinya Luhan menyabet juara." Ia mengalihkan mata dengan pandangan datarnya kepada Mrs Shin.
"Ah..tentu saja Nyonya. Kami sudah melatih Luhan semaksimal mungkin." Mrs Shin meyakinkan kembali.
"Bagus. Jangan biarkan apapun mengganggunya."
"Termasuk teman pria sekaligus rival terberatnya,Oh Sehun."
"ah..jadi itu maksud anda." Mrs Shin tertawa licik.
"untuk yang satu itu..anda juga tak perlu khawatir,Nyonya."
"karena aku..telah memberitahunya sebuah kebenaran." Mrs shin menyenderkan punggungnya dan menghela nafas. Satu sisi bibirnya terangkat kilas.
"lama tak jumpa,tuan muda Oh."
"Luhan adalah bunga,sekaligus aset yang sangat berharga. Jadi..tak mungkin aku mebiarkan lebah sembarangan seperti Oh Sehun.."
"menghisapnya." Nyonya Xi tersenyum tipis saat mendengarnya. Mimik wajahnya tak berubah. Masih saja dingin.
.
.
"Kudengar sistem olimpiade nanti akan sedikit berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya." Mrs Im memberi tahu murid bimbingannya, Xi Luhan dan Byun Baekhyun.
"..." Luhan terdiam,seperti biasa.
"ya,Mrs Im." Baekhyun menjawab.
"baik. Untuk bimbingan jam terakhir ini aku akan mengetest,sebanyak apa pengetahuan kalian di mata pelajaran lain selain Kimia dan Matematika." Mendengar itu,keduanya mengangguk.
"Byun Baekhyun. Saat cangkang telur direndam kedalam larutan cuka selama 24 jam terjadi sebuah reaksi yaitu membran telur tersebut dapat terpisah dari cangkangnya. Mengapa hal ini bisa terjadi?"
"karena ini bukan bidang kalian,aku memberi waktu masing – masing 2 menit untuk memikirkan jawabannya." Mrs Im menjelaskan.
"Baik,Mrs." Baekhyun mulai memikirkan jawabannya.
"Sekarang,Luhan." Luhan mendongak untuk mendengarkan penjelasan yang akan disampaikan.
"silahkan lihat gambar di layar. Disana terdapat gambaran reaksi fusi nuklir di inti matahari." Luhan mengangguk tanda mengerti.
"ada 4 gambaran energi. Yaitu Deutrium,Helium,Tritium,dan Neutron. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud Deutrium dan Tritium dalam gambar ini?"
"silahkan,waktumu 2 menit dari sekarang." Luhanpun mulai menajamkan matanya seperti berusaha mengingat sesuatu.
"baik. Mr Byun silahkan paparkan jawabanmu." Baekhyun dengan segera berdiri dari kursinya.
"jawaban yang saya dapat, sebab terjadinya reaksi tersebut adalah cangkang telur tersusun atas molekul – molekul karbonat. Molekul ini terurai menjadi molekul gas CO2 dan garam yang dasarnya memang mudah larut dalam air."
"inilah yang menyebabkan cangkang telur menjadi rapuh dan telepaslah membran dari cangkangnya." Byun baekhyun menghembuskan nafasnya saat jawaban yang ia susun selesai ia paparkan.
"hm...baik. sesuai. Silahkan duduk." Mrs Im mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Luhan,silahkan." Yang menjadi objek bicaranyapun berdiri dari kursinya.
"setahuku, Deutron adalah hidrogen yang memiliki satu buah neutron. Sementara Tritium adalah hidrogen yang memiliki dua buah Neutron." Luhan tapa basa basi kembali duduk di kursinya.
"..."
"yap,tepat. Tepat sekali. Untuk pertemuan terakhir ini aku cukupkan sampai disini. GoodLuck." Mrs Im meninggalkan ruangan dengan segera selesainya menyemangati kedua murid bimbingannya.
.
"Luhan?apa kau baik – baik saja?" Baekhyun bertanya seraya tangan lentik itu memasukan barangnya kedalam tas.
"..." Luhan terdiam seperti tak menyimak pertanyaan sahabatnya tersebut.
"..." Baekhyun menyerngit.
"Luhan?" Ia berpindah ke hadapan Luhan untuk memastikan ia baik – baik saja.
"oh?Ada apa,baek?" Luhan mulai tersadar.
"apa..kau baik-baik saja?" tangan Baekhyun menempel di kening Luhan memeriksa.
Luhan hanya tersenyum dan mengangguk singkat. Baekhyun menghela nafasnya.
"percayalah. Ini yang terbaik,Lu." Baekhyun menguatkan. Ia paham mengetahui setelah terjadinya peristiwa indah memang menyakitkan. Namun,ia lebih memahami diam dan baik-baik saja tanpa mengetahui setelah terjadinya kenangan lebih menyakitkan.
Sepahit apapun Baekhyun lebih menginginkan sahabatnya ini degan segera terlepas dari Sehun.
.
.
"lalu..apa sekarag Luhan baik – baik saja?"
"aku berbohong jika mengatakan ia baik – baik saja."
Chanyeol dan Baekhyun menyesap jus mangga yang baru saja selesai mereka buat. H-1 sebelum akhirnya esok Chanyeol akan berpisah beberapa pekan dengan kekasihnya Baekhyun. Saat ini Chanyeol meyempatkan diri untuk mengunjungi kediaman Baekhyun.
Sebenarnya beberapa waktu lalu saat Baekhyun pertama kali megajaknya berkunjung,Chanyeol ragu dan sempat menolak secara halus. Bukannya keberatan,hanya saja ia sudah banyak mendengar rumor sikap para orang tua dari anak seperti Baekhyun. Ya,over protecive. Kira – kira seperti itulah yang ia dengar.
Namun dugaannya seratus persen salah. Malam hari setelah Baekhyun mengajaknya berkunjung ada panggilan nomor tak dikenal ke ponselnya. Saat diangkat suara pria paruh bayah yang ternyata ayah kandung kekasihnya sendiri. Mr Byun mendesak dengan nada tegasnya agar Chanyeol mengunjungi anaknya esok dikarenakan ia dan istrinya masih memiliki keperluan pekerjaan yang harus segera diselesaikan.
Chayeol tanpa mampu beralasan lagi akhirnya dengan sepenuh hati menyetujui,dan sampailah pada hari ini.
"aku tak menyangka,anak semuda Oh Sehun bisa melakukan perbuatan sekeji itu. terlabih kepada kekasihnya sendiri." Baekhyun mengalihkan pandangannya ke arah Chanyeol.
"hm,demi nilai dan image." Chanyeol balas menatap kekasihnya.
"..."
"hm,omong – omong berapa lama kau akan berada di Jepang?" Chanyeol hampir saja melupakan pertanyaan yang paling penting.
"uh..sekitar 1 pekan sampai 10 hari."
"kenapa?" Baekhyun bertanya.
"tidakkah..kau merasa itu terlalu lama?" Chanyeol mendekatkan wajahnya.
"hm,tapi mau bagaimana lagi?" Baekhyun setuju.
"aku akan sangat merindukanmu." Chanyeol menempelkan keningnya di kening kekasih mungilnya.
"aku takkan lupa untuk sering – sering menghubungi." Baekhyun dengan yakin ikut menempelkan hidungnya dan hidung Chanyeol.
Mereka berpandangan beberapa lama sampai akhirnya keduanya memejamkan mata masing – masing. Berpangutan lembut,tak dipungkiri keduanya merasa sesuatu mengganjal karena akan tak akan saling bertemu selama beberapa lama.
Digenggamnya tangan dengan jemari lentik Baekhyun oleh tangan besar Chanyeol. Sementara tangan kirinya mengusap punggung Baekhyun. Berpindah ke pipi,kening,telinga,hingga perut.
Baekhyun tak terlalu banyak bereaksi. Mungkin ia menahannya. Hanya sedikit mengeluarkan suara yang menandakan sentuhan – sentuhan ringan kekasihnya berhasil membuatnya nyaman bahkan lebih dari nyaman.
Chanyeol tahu diri untuk tak mebuat kekasihnya kesuitan bernafas. Tanpa diperintahkan ia dengan inisiatif menjauhkan bibirnya. Kedua tangannya ia gunakan untuk mengangkat pinggang Baekhyun berpindah posisi,berpindah ke pangkuannya.
Udara dingin dan perlakuan lembut Chanyeol mebuat Baekhyun memerah. Nafasnya sedikit terengah karena aktivitas manis tadi. Kini mereka saling menatap dalam. Seakan menanamkan hanya lawannya masing – masinglah yang berhak dipandang sedemikian intensnya. Tak mengizinkan keberadaan orang lain selain mereka berdua.
Baekhyun hanya dapat kembali memejamkan matanya rapat dan bersuara aneh tanpa mampu ia tahan saat Chanyeol berbisik lirih dengan suara beratnya tepat ditelinga Baekhyun setelahnya ia mencium dan sekikit berbuat nakal dengan menggigit cupingnya. "Kau..hanya milikku."
"kalau begitu,saat aku kembali nanti..angh!" Baekhyun berteriak kecil saat perbuatan Chanyeol semakin mengejutkannya.
"milikilah aku.."
"seutuhnya."
.
.
Sehun masih terbaring di rangjangnya semenjak kemari ia pingsan di dalam bus oprasional sekolah tempo lalu. Suhu tubuhnya mendadak meningkat,ia demam.
Para guru dan teman – teman Sehun khawatir akan kondisinya sekarang. Karena jadwal kebrangkatan ke Jepang tinggal menunggu Jam. Nyonya Oh dengan setia menunggui Sehun dan terus – menerus mengganti air kompresan putranya itu.
Seulgi tiba satu jam yag lalu untuk menjenguk Sehun. Seulgi sangat telaten membantu Nyonya Oh menyiapkan dan merawat Sehun.
"bibi,apa Oh Se- ah,maksudku Sehun akan baik – baik saja jika dibarangkatkan?" Seulgi bertanya sambil menempelkan tangannya ke dahi Sehun.
"entahlah,aku sangat khawatir." Nyonya oh menjawab dengan nada kelewat panik dan kalut.
"ah,apa Luhan mengetahui ini?"
"sepertinya tidak. Oh ya,aku ingin bertanya kepadamu. Apa Sehun dan Luhan sedang bertengkar?" Seulgi yang memang belum mengetahui apa – apa juga terbingung. Namun kemarin ia mendengar temannya yang juga mengikuti olimpiade bercerita tentang Luhan yang sepertinya bersikap aneh.
"kemarin malam,Sehun terus saja mengigau dan menyebut – nyebut maaf kepada Luhan."
"entahlah bi. Aku akan mencoba menghubungi Luhan. boleh aku pinjam ponsel Sehun sebentar?"
Seulgi mencatat nomor ponsel Luhan. gadis sipit ini semakin merasa aneh saat tidak ada satupun pesan dari Luhan pada Sehun masuk hari ini. Bukankah seharusnya ia khawatir jika situasi sedang seperti ini?
pesan terkirim.
.
.
TUTTT
Jongin membuka matanya saat ponsel disakunya terasa bergetar. Kelas masih ramai karena Mrs Shin sepertinya berhalangan untuk hadir di jam ini.
"hallo?" Jongin menjawab panggilan.
"Kim Jongin?ini aku." Jongin yang hafal siapa yang menelfon langsung duduk dengan tegap dan berbsik kepada teman sekelasnya. Gerak bibirnya mengatakan 'tolong jangan berisik,Mrs Shin menelfon.' Lantas yang lainpun dengan sigap menutup mulut masing – masing.
"ya,Mrs Shin."
"segera ke ruanganku." Telefon berbuni TUT tanda panggilan selesai.
"Kim Jongin,apa yang Mrs shin katakan?" Ketua kelas bertanya.
"entahlah,ia hanya menyuruhku datang ke ruangannya." Jongin menjawab diiringi langkah keluarnya. Namun ia menyempatkan berhenti saat tiba di pintu kelas.
"ah,tolong jangan terlalu berisik. Luhan sedang kurang sehat." Ia berpesan.
"woahh.." Kelas malah semakin riuh saat mereka mendengar betapa perhatiannya Jongin pada Luhan.
Sementara Luhan yang sedang berlatih soal hanya bereaksi seperti biasanya di saat teman sekelas bahkan Baekhyun menggodanya.
Bukannya bagaimana,jujur saja Luhan malah tidak terfokus pada apa yang baru saja terjadi. ia malah sedikit khawatir saat menerima pesan dari nomor tak dikenal yang mengatakan Sehun sedang sakit lumayan parah.
Bahkan bukan hanya mendapat kabar dari pesan tak dikenal itu saja. Mrs shin sebelumnya juga telah memberinya kabar tentang itu. wanita paruh bayah itu sempat menyruh Luhan untuk tetap fokus dan menjadikan ini sebagai peluang baginya.
Ia tak berbohong,ia sungguh khawatir. Apalagi mengingat keberangkatan ke Jepang hanya tinggal menghitung detam jarum jam. Bagaimana jika ia batal mengikuti olimpiade itu? apa pantas,ia menuruti kata – kata Mrs shin tadi?
Kini ia mulai bingung. Apa yang membuat orang – orang menyebutnya Sempurna. Karena bahkan untuk mempertimbangkan sesuatupun ia tak bisa.
.
Sementara Luhan sedang sibuk menimbang,Kim jongin justru sedang berbahagia. Kabar mendadak yan seharusnya menyebalkan malah terasa snagat menyenangkan bagi Jongin.
Ia teringat bahkan snagat jelas ucapan Mrs Shin tadi.
"SMU dari provinsi Goyang tak bisa mengirimkan wakilnya."
"Kim Jongin,Bersiaplah untuk keberangkatanmu ke Jepang."
Ia kembali tersneyum untuk kesekian kalinya saat kembali mengingat apa yang dikatakan Mrs Shin.
"Aku akan bersama dengan Luhan."
"Mr Cho. Aku izin pulang untuk mempersiapkan keperluan keberangkatan ke Jepang."
.
.
Dengan segala kegundahan dan keraguan,pemuda mungil berparas cantik ini terus meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik – baik saja. Ia harus melakukan ini. Harus,tak peduli apa yang terjadi.
Bel kediaman sehun berbunyi.
Nyonya Oh yang sedang duduk di tepi kasur langsung turun ke lantai dasar untuk mengecek siapa yag datang. Senyumnya berkembang antusias saat mengetahui Luhan datang. Dengan segera ia membukakan pintu gerbangnya.
"nak Luhan,apa kabar?" dengan tulus,ia langsung merengkuh Luhan kepelukannya.
"..." Luhan terdiam membeku. Ia mencoba mengingat sudah berama lama kehangatan seperti saat ini ia dapatkan.
"apa kau datang untuk menjenguk Sehun?" kini Nyonya Oh tak lagi memeluk Luhan namun mengusap pipi dan surai Luhan lembut.
"sudah dua malam Sehun mengigau dan menyebutkan namamu. Demamnya juga tak kunjung turun."
DEG
"sudah dua malam Sehun mengigau dan menyebutkan namamu?" obsidian Luhan mulai membening karna tergenangnya air mata.
"ayo,masuklah...temui Sehun." Merekapun memasuki rumah.
.
.
Luhan kini hanya berdua dengan Sehun. Nyonya Oh membiarkan dan memberi kesempatan pada dua sejoli itu.
Luhan hanya terdiam melihat Sehun yang terbaring tak berdaya. Kulit pucatnya semakin terlihat semakin pucat saja. Bibirnya tak lagi merah muda.
Dengan ragu,iapun duduk di sisi ranjang sebelah kanan Sehun. Tangannya tanpa bisa dikendalikan mengusap dahi Sehun sayang. Turun kepipinya yang entah mengapa lebih terlihat lebih tirus daripada sebelumnya.
"mengapa wajah ini..sama sekali tak mencerminkan kau orang yang setega itu?" Luhan bertaya dengan volume yang teramat kecil.
"mengapa wajah ini..membuatku tak yakin kau setega itu?"
"mengapa wajah ini..membuatku kembali goyah?"
"mengapa..oh?mengapa?hhh.." air mata Luhanpun pecah. Ia menelungkupkan tubuhnya dan menempelkan kepalanya pada dada Sehun yang terpejam tak sadar.
"hh...Kau..Kau yang merubah duniaku."
"kau berkata tak ada seorangpun sendiri di dunia ini,begitupun aku."
"tapi..tapi mengapa saat itu kau mebiarkannya sendiri?"
"mengapa kau tega membiarkannya sendiri?"
"apa..."
"apa kau juga akan memberlakukanku sama sepertinya suatu saat nanti?"
Luhan berbicara sambil berurai air mata. Tangisnya semakin histeris,kulitnya memerah,Luhan sangat berantakan saat ini. Beberapa menit ia mempertahankan posisinya. Sudah cukup tenang dirasa ia bangkit dengan teerhuyung,hari sudah petang dan ia harus segera pulang.
Disampirkannya ransel biru muda ke pundaknya,ia melangkah pulang ika saja tangannya tak di genggam seseorang yang ada di ruangan itu.
"jangan pergi.." Luhan terkejut. Suara decitan ranjang menandakan Sehun sedang mencoba untuk bangun dari tidurnya. Luhan panik dan mencoba melepaskan genggaman Sehun.
Sehun yang sedang dalam kondisi lemah tak kuasa untuk menahan pemberontakan Luhan. Dengan sekuat tenaga ia mencoba bangkit, Tuhan sepertinya ikut andil dalam perjuangannya ini dengan sisa tenaga yang ia miliki ia bangkit dan menekan pintu kamarnya mencegah Luhan keluar.
BRAK
Pintu berhasil tertutup kembali. Setelahnya Sehun langsung mengalungan tangannya,memeluk Luhan dari belakang.
"jangan pergi...Luhan."
TES
Air mata keduanya menetes bersamaan. Suara Sehun terdengar sangat parau disamping lirih. Sehun membalikan posisi Luhan yang sedang membelakanginya. Ibu jarinya terangkat menghapus air mata Luhannya.
"kumohon jangan menangis,Lu." Luhan enggan menatap Sehun,ia lebih memilih melihat lantai dibawahnya,sebelum Sehun mengangkat kepalanya untuk mendongak. Air mata Luhan semakin deras menetes saat melihat bagaimana sehun saat ini.
Begitupun dengan Sehun. Sehun perlahan mengecup kening Luhan yag patuh dan tak lagi mecoba menolak. Beberapa menit sampai akhirnya bibir keduanya bersatu. Sehun merasa damai luar biasa saat ia dan Luhan bersatu. Ia merasa dapat kembali bernafas dengan leluasa.
Saat terbaring dan terpejam Sehun snagat menderita. Ia bermimpi aneh,namun semua itu terasa amat nyata. Entah hanya ilusinya atau bukan,setiap mimpi itu datang kepalanya akan terasa amat sakit hingga ia tak mampu membuka matanya.
Saat mimpi itu datang,jiwanya terasa amat bersalah. Seperti mimpi itu mengingatkan Sehun akan kesalahan masa lalunya. Samar,kilat – kilat kesakitan,peristiwa menyeramkan bagi hidupnya,dapat Sehun saksikan dalam mimpinya walau sama sekali tak jelas. Sehun peka,akan pesan – pesan yang tersirat.
Akan apa yang sebenarnya terjadi dalam masa lalunya.
Tentang pemuda persis dirinya,tentang suara – suara memanggil pemuda itu dengan nada ketakutan luar biasa.
"Sehun...jangan,nak. Sehun?"
Suara itu seolah menjadi klimaks jika saja mimpinya menjadi sebuah cerita. Puncak konflik,puncak dari sebuah problematika,yang menusuk siapapun yang membacanya.
Semua kesakitan itu sirna saat ia merasa sentuhan lembut di lehernya. Luhan pelakunya. Sehun membuka matanya terkejut. Kelopak matanya kembali sayu saat Luhan mulai menggerakkan bibirnya. Ia terhanyut.
Entah sadar atau tidak,ia membawa Luhan berpindah ke ranjangnya yang cukup luas. Luhan patuh tak sekalipun melawan. Keduanya berbaring,diiringi kepedihan sekaligus kenikmatan.
Tangan Sehun mengusap pinggang dalam seragam Luhan. bibirnya kini berpindah ke bagian tubuh pemuda cantik dibawahnya. Menyesapnya dengan leluasa,apalagi saat yang lebih mungil mendongakkan kepalanya.
Turun,semakin kebawah hinggan sampai di bagian dada yang masih terbalut seragamnya. Dengan persetujuan yang tak perlu diucapkan,kancing seragam itupun terlepas.
"a-anghh!" Luhan tak menyangka suara juga bisa termasuk organ involunter dalam tubuhnya,bekerja tanpa dikendalikan. Tepat saat perasaan menggelitik itu semakin nyata,lembab indra pengecap pemuda diatasnya didadanya.
"kancingnya terlepas seluruhnya,nikmat semakin terasa. Sehun bukan main memanjakannya.
"Luhan,aku mencintaimu."
Hilang,saat indra tersebut berpindah menyesap pendengarannya. Luhan sadar,sepenuhnya sadar apa yang sedang ia lakukan dan apa yang seharusnya Luhan lakukan. Ia bahkan bergetar saat pengakuan itu sehun lontarkan. Semua terasa membahagiakan jika saja situasinya tidak seperti ini.
"Anghhh,aku..mencintaimu,a-ahh."
"Oh Sehun."
"Kim Jongin." Sangat perih. Pengakuan ini,teramat perih.
Namun,semua berjalan tanpa kuasa ia hindari. Dengan penuh keyakinan,ia mencoba bangkit melawan segala kenikmatan ini.
Ia menarik kepala Sehun dan menempatkan bibirnya sama sepeti yang ia lakukan tadi. Menggoda telinganya,menyesap,membasahi dengan salivanya,lalu..
" terdengar tak asing. Ternyata memang dia,dia si pengganti Kim Minseok."
"Sehun,tolong lupakan apapun tentang kita." Sehun tetap melanjutkan kegiatannya. Ia tak mendengar apa yang Luhan katakan.
"hmm..sshhh..hhh" Luhan mendesah,juga menangis.
"Zhang Yixing. Dua tahun di atasmu,ia sepertimu.. sempurna." Perkataan Mrs shin terus mendengung ditelinganya. Menghalangi Luhan bernikmat dengan pemuda yang mencuri hatinya ini. Sesuai dengan rencana awalnya,ia tak boleh kembali goyah,untuk menyampaikan maksud dan tujuannya. Walau harus dengan sengaja membuat Sehun kecewa untuk kedua kalinya.
"bersikaplah seolah-olah kita tak pernah mengenal." Sehun tampaknya mulai tersadar dengan apa yang Luhan lakukan. Ia mengurangi intensitas kegiatannya dan mencoba menyimak baik – baik.
"hingga aku merasa bersalah,saat 4 hari pengumuman pemenang olimpiade dibacakan sekaligus 3 hari aku menerima kabar,Ibu Yixing tak dapat tertolong, sampai akhirnya Yixing..ia yang akhirnya memilih jalan terakhir,bagi para orang putus asa."
"berhentilah berpura-pura baik."
DEG
Iapun akhirnya mengerti. Ada sesuatu yang tidak baik – baik saja terjadi. Dengan berat hati,ia menyetujui keinginan Luhan. ia ingin mengungkap apa yang sebenarnya terjadi,karena ia yakin Luhan seperti ini sangat berkaitan dengan bayangan semu yang akhir – akhir ini muncul kepermukaan.
Ia menyadari, ia telah melakukan kesalahan yang fatal di masa lalu.
Sehun bangkit,dan turun membawa Luhan.
"baiklah. Baiklah jika itu yang kau inginkan."
"aku...akan bersikap seperti apa yang kau minta." Pandangan mata datar itu tak mampu membuat Luhan takut. Karena yang mungil tau,serapuh apa hati Sehun-nya saat ini.
Bukan ini,bukan ini yang Luhan inginkan. Apa semua ini akan berakhir begitu saja?semua keangan indah antara dirinya dan Sehun akan berakhir seperti ini?apa Sehun menyerah karena apa yang mereka bilang benar adanya? Ia menggelengkan kepalanya.
"ti-tidak. Ka-kau tidak boleh seperti ini. Yakinkan aku,ayo!" ia menggelengkan kepalanya,semakin kencang. Semakin histeris.
"..." Sehun hanya diam.
"ka-kau..tidak mengenal Zhang Yixing,kan?oh?ka-kau.."
"Zhang? Zhang Yi-yixing?" Sehun mengulang pertanyaan Luhan.
"Argghhh!" Sehun meremas rambutn miliknya sendiri dengan keras. Sakit menusuk itu kembali ia rasakan. saat Luhan menyebut nama itu,entah mengapa Sehun kembali merasakan kesakitan itu.
"Se-sehun..."
"Oh Sehun!" Sehun terus seperti itu,menahan sakit menusuk yang kembali datang.
"ibu! Tolong Sehun,Ibu!" Ia melupakan seragam dan tubuhnya yang masih terekspos. Ia melupakan kamar Sehun kedap suara,hingga sampai saat ini Mrs Oh tidak juga datang.
CHU~
Ia menambatkan lengannya di leher Sehun,dan langsung menciumnya. Ia sadar sehun terlihat sangat tenang saat ia mulai menciumnya tadi.
TES TES TES
"Ini yang terakhir,"
"Semua ternyata memang benar,Sehun..."
"Aku kini sudah tau,kau memang melakukannya."
"Selamat tinggal,Sehun.,"
"Aku tak menyangka semua memang berakhir seperti ini."
"Namun,ada perasaan bahagia didadaku.."
"Kini aku sadar,dinamakan apa perasaan yang satu ini,"
"Setidaknya, aku tau."
"Perasaanku,tidaklah bertepuk sebelah tangan."
.
.
.
ToBeContinue
Hallo! Long time no see~ berapa lama saya menghilang?kkk. saya tak bosan dan tak akan pernah bosan untuk meminta maaf atas keterlambatan meng-update & berterimakasih kepada semua pihak yang sudah bersedia membaca,me-review,mem-fav,mem-follow Ambitious Love ini. Kalian semangat saya! /deep bow/
Terlebih kepada reviewers semua,saya sangat berterimakasih dan mengapresiasi kalian. kesibukan saya ternyata sangat susah untuk di ajak berkompromi,jadi untuk menyalurkan hobipun saya harus pintar-pintar mencuri waktu,maafkan saya sekali lagi.
Karena mungkin banyak dari teman-teman yang sudah lupa jalan cerita AL,silahkan untuk membaca dari Chapter awal untuk mendapat feels yang lebih terasa(?) LOL./ini menggelikan/ dan bang!hal menarik yang saya tanyakan kemarin silahkan dinikmati,ampunilah saya jika kurang menarik huhu.
Oh,dan sedikit bocoran saya akan mempublish ff terbaru saya dalam waktu dekat ini,good willing. Kkk.
Finally, review teman-teman semua sangat berharga bagi saya,jika sempat silahkan mereview,ya..sampai jumpa di chapter selanjutnya!~
Q : mana diantara OTP ini yang lebih baik saya pilih untuk FF terbaru nanti?
KAISOO/HUNHAN?CHANBAEK?
